Claim Missing Document
Check
Articles

TOKSISITAS DAN IMUNOGENISITAS PRODUK EKSTRASELULER Mycobacterium fortuitum PADA IKAN GURAME (Osphronemus gouramy) Siti Fatimah; Agustin Indrawati; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3808.455 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.231-241

Abstract

Mycobacterium fortuitum merupakan bakteri patogen dengan kejadian penyakit bersifat kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat toksisitas dan imunogenisitas produk ekstraseluler M. fortuitum pada ikan gurame. Pengujian toksisitas dilakukan pada ikan dengan bobot 15 g yang diinjeksi secara intraperitoneal (i.p) dengan konsentrasi ECP berbeda yaitu 7,15 μg/ikan; 14,3 μg/ikan; 28,6 μg/ikan; 57,2 μg/ikan; sedangkan kontrol dengan menggunakan PBS. Pengujian imunogenisitas dilakukan dengan menggunakan ikan seberat 25-30 g. Ikan dibagi dalam tiga perlakuan yaitu: ECP dengan Freund Incomplete Adjuvant (FIA), ECP, dan kontrol (sauthon broth). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ECP M. fortuitum hingga konsentrasi 57,2 μg/ikan tidak toksik pada ikan gurame. Sementara, tingkat imunogenisitas menunjukkan bahwa ikan yang diinjeksi dengan ECP ditambah FIA dan ECP saja memiliki respons imun non-spesifik dan spesifik yang lebih tinggi dan berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa ECP M. fortuitum bersifat imunogenik pada ikan gurame sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai vaksin guna penanggulangan mycobacteriosis.
Sintesis antigen AFB1-BSA dan konjugasi antibodi anti AFB1-BSA dengan nanopartikel emas sebagai pereaksi imunostrip Ita Krissanti; Agustin Indrawati; Romsyah Maryam
ARSHI Veterinary Letters Vol. 4 No. 4 (2020): ARSHI Veterinary Letters - November 2020
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.4.4.77-78

Abstract

Aflatoksin B1 (AFB1) often contaminates a great variety of foods and animal feeds that will be dangerous if con-sumed by humans or animals. Rapid detection techniques that can be used in the field is really needed to monitor AFB1 contamination. The aims of this study were to perform synthesis of AFB1-BSA antigen and conjugation of antibody against AFB1-BSA to gold nanoparticle as immunostrip-test reagents. The AFB1-CMO was identified on TLC and AFB1-BSA was characterized using SDS PAGE. The AFB1-CMO formation indicated as a blue spot at 0.45 retention factor (Rf) on TLC and the AFB1-BSA antigen revealed as a single band protein at about 72 kDa molecular weight on the SDS PAGE. Conjugation of antibody against AFB1-BSA to gold nanoparticle resulted in the formation of red-dish purple compound which can be used for the detection of AFB1 on immunostrip. The optimum composition achieved in concentration of AFB1-BSA 1-1.5 mg/ml, IgG anti rabbit 0.1 mg/ml, and antibody against AFB1-BSA-gold nanoparticle conjugate in 0.5x0.5 cm² area characterized by the establishment of two reddish purple lines in the test and control zone.
Lobomikosis pada lumba lumba hidung botol Tursiop aduncus Agustin Indrawati; Lee Xia Meen
ARSHI Veterinary Letters Vol. 4 No. 3 (2020): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2020
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.4.3.43-44

Abstract

Lobomikosis merupakan penyakit yang menyerang bagian kulit yang disebabkan oleh Lacazia loboi (yeast-like organism) dari ordo Onygenales. Tulisan ini melaporkan seekor lumba-lumba hidung botol Indo Pasifik Tursiop aduncus jantan berumur 14 tahun yang mengalami kelainan pada kulit berupa nodul-nodul ulseratif menyerupai ringworm pada sirip ekor. Gejala yang ditimbulkan dengan cepat menyebar dan gejala pada permukaan kulit mengalami penggabungan nodul yang menyerupai bunga dan disertai adanya perdarahan. Pemeriksaan laboratorium ditemukan bentukan sel khamir dan bentuk unisel. Pengobatan dilakukan dengan menggunakan antifungal ketoconazole 200 mg (mycoral®) dan ketoconazole cream 2% selama 30 hari. Pengobatan lain yang digunakan adalah antihistamin Homochlorcyclizine HCl 20 mg (Homoclomin®) dan antibiotika Quinolone 500 mg (Ciproxin®) untuk mengobati infeksi sekunder akibat bakteri. Lumba-lumba hidung botol Indo Pasifik dinyatakan sembuh dengan menghilangnya nodul ulseratif dari sirip ekor setelah 30 hari pengobatan
Deteksi Gen Penyandi Resistansi Tetracycline dan Plasmid Mediated Quinolones pada Salmonella Ayam di Bandung dan Purwakarta Leila Nur Azizah; Agustin Indrawati; I Wayan Teguh Wibawan
Jurnal Veteriner Vol 23 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.554 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2022.23.1.55

Abstract

This study aimed to identify genes encoding tetracycline and plasmid-mediated quinolones resistance to Salmonella spp from Poultry Farm in Bandung and Purwakarta, West Java. A total of 70 samples were collected from poultry farm In Bandung and Purwakarta, West Java. All isolates were test by selective media (SSA) and confirmation Salmonella with PCR. Thirty three isolate positive from selective media Salmonella Shigella Agar (SSA) and 21 isolat was confirmed as Salmonella spp by PCR. Twenty one isolate isolated were tested for tetracycline, doxycicline,, nalidixic acid, oxytetracycline, enrofloxacyn using disk diffusion method. TE-resistant were screened for presence of tet(A) and tet(B) genes by single polymerase chain reaction (PCR). The qnr(A), qnr(B) and qnr(S) genes were detected by multiplex PCR in quinolone resistant Salmonella isolates. The result of antibiotic sensitivity test showed that resistance to ampicillin (95.2%), tetracycline (100%), oxytetracycline (95.2%), nalidixic acid (90.4%), eritromisin (85.7%), enrofloxacin (76.2%), Gentamisin 47.6%, chloramphenicol (38.1%). The distribution of antibiotics-resistance genes in the Salmonella isolates included ampC (95.2%), tet(A)(61.9%), tet(B)(38.1%), qnr(A)(28.5%), qnr(B)(14.3%) and qnr(S)(23.8%).This study shows that a few pathogens of Salmonella are resistant to ampicillin, tetracycline , and quinolone. The tet and qnr genes are responsible for this resistance among Salmonella in Bandung and Purwakarta, West Java Indonesia was high.
Kelimpahan Fungi Kelas Dothideomycetes Pada Lumba-lumba Hidung Botol (Tursiops aduncus) Kurnia Tiara Aulia; Agustin Indrawati; Safika
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.2.148-156

Abstract

Mamalia laut memainkan peran ekologis penting di lautan, dan menjadi prioritas global karena kepekaan terhadap perubahan lingkungan. Lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) merupakan salah satu mamalia laut yang tersebar luas di Indonesia. Informasi mengenai mikrobioma masih sangat sedikit diketahui, terutama informasi mengenai mikrobioma fungi. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kelimpahan fungi kelas Dothideomycetes pada saluran pencernaan khususnya usus lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) dengan menggunakan Platform Next Generation Sequencing (NGS). Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 6 genera dari 4 ordo yang yang meliputi Neodevriesia, Altenaria, Stemphylium, Phaeophleospora, Diplodia dan Venturia. Kelompok Neodevriesia adalah yang paling mendominasi sebesar 62%, diikuti Alternaria 16% dan Phaeophleospora 14%. Fungi yang tidak teridentifikasi mencapai 5%. Kelimpahan fungi pada usus lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) diasumsikan memiliki korelasi dengan lingkungan dan makanan lumba-lumba pada pusat konservasi.
Korelasi Virulen gelE dan Pembentukan Biofilm pada Isolat Enterococcus faecalis yang Diisolasi dari Ayam Pedaging Sucitya Purnama; Agustin Indrawati; I Wayan Teguh Wibawan; Rifky Rizkiantino
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.2.157-163

Abstract

Enterococcus faecalis merupakan patogen oportunistik yang membentuk biofilm dengan menghasilkan gen virulen seperti gelE. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keberadaan gelE dan mengkaji korelasinya terhadap pembentukan biofilm pada isolat E. faecalis asal ayam. Sampel yang digunakan sebanyak 60 sampel arsip usap kloaka ayam. Isolasi dan identifikasi bakteri menggunakan media agar selektif diferensial KF Streptococcus. Konfirmasi molekuler menggunakan gen spesifik Efac untuk bakteri E. faecalis dan gen gelE untuk deteksi gen virulen gelatinase. Uji biofilm menggunakan teknik spektrofotometer pada densitas optik 630 nm. Data dianalisis secara kuantitatif menggunakan uji chi-square dengan nilai P < 0,05 dianggap signifikan secara statistik. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri terhadap 60 sampel arsip asal ayam pedaging yang digunakan dalam studi sebanyak 21 isolat positif terkonfirmasi secara molekuler sebagai bakteri E. faecalis dan memiliki gen virulen gelE. Pada uji biofilm terdapat sebanyak 20 isolat (95,23%) positif kuat (OD630 > 0,130) dan 1 (4,76%) positif lemah (0,065 < OD630 ≤ 0,130) dengan nilai P < 0,05 atau memiliki korelasi secara statistik antara keberadaan gen gelE dengan pembentukan biofilm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gen virulen gelE telah ditemukan pada 21 isolat E. faecalis dan 95,23% mampu membentuk biofilm dengan intensitas positif kuat.
DETEKSI MOLEKULER DAN KERAGAMAN VIRUS NEWCASTLE DISEASE PADA AYAM KAMPUNG DI WILAYAH ACEH Darniati D; Surachmi Setiyaningsih; Agustin Indrawati
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.562 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i2.2841

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi keberadaan virus Newcastle disease (VND) dan mengkaji keragaman dari virus terisolasi. Sampel penelitian berupa usapan kloaka dan orofaring dari 177 ekor ayam kampung yang diambil dari unggas pekarangan dan pasar unggas di 12 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Penapisan virus dilakukan pada sampel pool dengan real-time reverse transcriptation-polymerase chain reaction (rRT-PCR) dengan target gen matriks. Inokulasi 309 sampel representasi 157 ayam asal pool positif matriks pada telur ayam berembrio spesifik pathogen free (SPF) menghasilkan 69 isolat yang berasal dari 51 ekor ayam. Sebagian besar (45,09%)ayam mengeluarkan virus melalui orofaring, 25,39% melalui kloaka dan orofaring, serta 19,61% melalui kloaka. Karakterisasi keragaman isolat dilakukan dengan uji hemagglutination inhibition (HI) menggunakan serum Komarov dan Hitchner B1, rRT-PCR gen fusi dan uji elusi. Adanya keragaman epitop permukaan virus ditunjukkan dengan titer HI yang bervariasi antar isolat, perbedaan mencapai 4 log dengan serum Komarov, dan 3 log dengan B1. Sebagian besar isolat mempunyai afinitas yang lebih tinggi terhadap serum Komarov yang mengindikasikan kecenderungan kepada galur virulen. Penentuan patogenisitas menggunakan rRT-PCR menunjukkan 73,95% isolat termasuk ke dalam galur virulen (mesogenik/velogenik), sementara dari uji elusi menunjukkan 72,46% isolat termasuk galur velogenik, 20,29% mesogenik dan 7,25% dari galur lentogenik.
Bacterial Identification of Ornamental Betta Fish (Betta splendens) Safika Safika; Nazmi Zahir B. Mohd Zaini; Usamah Afif; Agustin Indrawati; Rahmat Hidayat; Titiek Sunartatie
Jurnal Medika Veterinaria Vol 17, No 1 (2023): J.Med.Vet
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v17i1.29323

Abstract

Betta fish (Betta splendens) are one of the most popular ornamental fish due to their gorgeous colors and various shapes. This study aimed to find pathogenic bacteria in betta fish (Betta splendens) in fish farm in Bogor. Body swabs were collected from four decorative betta fish, and from tank water. Two of the fish were dead and two of which were exhibiting symptoms of disease. Bacterial isolation was performed on multiple agar media, and bacteria were identified based on the growth characteristics of the colonies, Gram staining, and biochemical testing. The results of the analysis revealed the presence of 16 bacterial isolates, including Edwardsiella sp., Escherichia coli, and Vibrio sp. from dead fish, whereas Citrobacter sp, Providencia sp, and Vibrio sp were detected in diseased fish. In aquarium water, Escherichia coli, Citrobacter sp Proteus sp and Providencia sp. were detected. Betta fish are susceptible to suffer from diseases if the water quality is low since maintaining and enhancing the health of betta fish is highly dependent on water quality.
Study of Risk Level Death Based on Clinical Symptoms in Cases of Canine Leptosprirosis in Jakarta, Depok and South Tangerang: Data from January-August 2020 Ambar Retnowati; Agustin Indrawati; Upik Kesumawati; Safika Safika; Pratitis S Wibowo; Susan M Noor; Uus Saepuloh
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 3 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.79400

Abstract

Leptospirosis is a zoonotic disease caused by bacteria Leptospira sp. which causes infection in animals and humans. Dogs infected with leptospirosis showed symptoms such as anorexia, fever, vomiting, weakness, diarrhea and often experience yellowing of the eye area and mucosa around the mouth (icteric) with fatal systemic complications and multi-organ dysfunction, especially in the kidneys and liver. Leptospirosis is an endemic disease in Jakarta. This study aims to identify risk factors that can contribute to canine mortality based on early clinical symptoms that are found when the dog is in an animal health service facility such as a veterinary clinic, veterinary hospital, or independent practice veterinarian. Method was used in this study is clinical manifestations and laboratory examinations and medical records of dogs with suspected leptospirosis. Criteria inclusions were based on aspects of the clinical symptoms of dogs in and around Jakarta. Analysis data used the chi-square with confidence of interval (CI) 95%. Dogs used during the study had ages for puppies (less than 1 year) totaling 13 or 32.50%, for adult dogs over 1 year amounted to 27 or 67.50%, 80% male dogs and 20% female. with 80% maintenance system not housed by the owner. And the conclusion is risk factors for clinical symptoms such as myalgia, symptomatic vomiting of the pulmonary area or shortness of breath and abdominal pain, conjunctival suffusion, anorexia and diarrhea contributed to the high mortality rate leptospirosis during study in dogs 2020.
Deteksi Pola Resistansi dan Gen Penyandi Resistansi Antibiotik pada Escherichia coli Asal Peternakan Babi di Kabupaten Badung Provinsi Bali Ardiana Ardiana; Agustin Indrawati; Ni Luh Putu I Ika Mayasari
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.303

Abstract

Resistansi antimikrob merupakan masalah kesehatan global. Antimikrob termasuk antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi pada manusia dan hewan. Penyalahgunaan antibiotik dapat menyebabkan resistansi dan pengobatan menjadi tidak efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi Escherichia coli (E. coli) dari hewan, manusia dan lingkungan di peternakan babi di Kabupaten Badung Provinsi Bali, serta menentukan pola resistansi dan gen resistansi antibiotik. Sampel diambil dari 12 peternakan babi yang berdekatan dengan total 24 sampel feses babi, 24 sampel swab tangan pekerja kandang, dan 12 sampel limbah air. Escherichia coli diisolasi menggunakan MacConkey Agar, pewarnaan Gram, IMViC (Indole, Methyl Red, Voges Proskauer, Citrate) dan dikonfirmasi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Uji kerentanan terhadap 11 antibiotik menggunakan metode difusi cakram. Deteksi gen resistansi antibiotik dengan PCR untuk gen blaTEM, ampC, ermB, strA, tetA, dan sul1. Hasil menunjukkan 100% (24/24) E. coli diisolasi dari feses, 16,7% (4/24) dari swab, dan 100% (12/12) dari limbah air. Pola resistansi antibiotik menunjukkan bahwa resistansi tertinggi terhadap eritromisin, diikuti oleh amoksisilin dan ampisilin, tetrasiklin, streptomisin dan trimetropim-sulfmetokzasol, serta 14 isolat dikategorikan Multidrug Resistant (MDR). Gen resistansi yang dideteksi dari E. coli pada manusia, hewan dan lingkungan adalah blaTEM, ampC, strA, tetA dan sul1, sementara ermB tidak terdeteksi. Berdasarkan hasil penelitian, pemberian antibiotik eritromisin, amoksisilin, ampisilin, tetrasiklin, streptomisin dan trimetropim-sulfmetokzasol sebaiknya diganti dengan antibiotik jenis lain. Adanya gen resistansi yang berasal dari sampel feses babi, swab tangan dan limbah air mengindikasikan terjadinya penyebaran resistansi antibiotik pada manusia, hewan dan lingkungan.
Co-Authors . Darniati Aditya Primawidyawan Afifah Nurhasanah Afiff , Usamah agrita, tri wera Agus Sjahrurachman Ambar Retnowati Ambar Retnowati Andre, Daniel Latief Angela Mariana Lusiastuti ANGELA MARIANA LUSIASTUTI ANGELA MARIANA LUSIASTUTI Apris Beniawan Ardiana Ardiana Arum, Diah Sekar Bayu Febram Prasetyo Betty Ernawati Damiana Rita Ekastuti Darniati D, Darniati Denny Widaya Lukman Destri Prameswari, Alvira Diah Nugrahani Pristihadi Diah Sekar Arum Dwi Endrawati Edi Purwanto Elmanaviean Elsharkawy, Sara Eni Kusumaningtyas Erdina Pangestika Erin Kurnianingtyas Fachriyan H Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fadlilah, Ulfi Nurul Fera Ibrabim Guntari Titik Mulyani Hadri Latif Hamdika Yenri Handayani Halik Handina Rakhmawati HELGA SEEGER Hendarko, Sriani Hendry, Altaff Hermana, Nabila Swarna Puspa Herwin Pisestiyani I Wayan T. Wibawan I wayan Teguh Wibawan Idwan Sudirman Ita Krissanti Jefri Naldi Jeni Maharani Julia Rosmaya Riasari Kuntum Khoirani Kurnia Tiara Aulia Lee Xia Meen Leila Nur Aziah Leila Nur Azizah Lila Gardenia Maharani, Jeni Mangaraja Pidoli Tampubolon Mardiastuti Mardiastuti MICHAEL ZSCHÖCK Mira Mawardi Mirnawati Bachrun Sudarwanto Mirnawati Sudarwanto Muh Ramadhan Nabila Swarna Puspa Hermana Nabila Swarna Puspa Hermana Nafiqoh, Nunak Naldi, Jefri Nauval Firdana, Chorrysa Navasuriya Radha Krisnan Nazmi Zahir B. Mohd Zaini Ni Luh Putu Ika Mayasari Ni Luh Putu Ika Mayasari Nining Arini Novita, Hessy Nurhasanah, Afifah Nurul Fadillah Nurul fadillah, Nurul Oktaviani, Dian Okti Nadia Poetri Penataseputro, Tanjung Permana, Nadine Hanifa Pratitis S Wibowo Pratitis S Wibowo Rahman, Muhammad Luthfi Rahmat Hidayat Rahmat Hidayat Raihan, Muhammad Ammar Ramadhaniah, Vetty Reinilda Alwina Retno D. Soejoedono Retno Damajanti Retno Damayanti Soejoedono Rifky Danial Rifky Rizkiantino Risqika Aqla Velayati Romsyah Maryam Rudramurti, Win Satya Rukmi, M.G. Isworo Ryan Septa Kurnia Safika S, Safika Sapto Andriyono Sartika Juwita Seruni Agistiana Setiadi Setiadi Siti Fatimah Siti Gusti Ningrum, Siti Gusti Siti Nur Jannah Sucitya Purnama Suhartila Suhartila Suherman . Surachmi Setiyaningsih Susan M Noor Susan M Noor Susanti, Wiwik Susanto Nugroho Syahidah, Dewi Teguh Budipitojo Titiek Sunartatie Titis Wulandari Tri Wiyoko Trioso Purnawarman Triwardhani Cahyaningsih Ulfi Nurul Fadlilah Uni Purwaningsih Uni Purwaningsih Upik Kesumawati Hadi Usama Affif Usamah Afif Utami, Dian Maulia Uus Saepuloh Velayati, Risqika Aqla Wattiheluw, Muhammad Subhan Yan Evan Yan, Teo Qin Yenri, Hamdika Yuda Heru Fibrianto