Claim Missing Document
Check
Articles

ASAS RECHTSSICHERHEIT DAN TRANSPARANSI DALAM EQUITY CROWDFUNDING: ANALISIS PELANGGARAN PRINSIP KETERBUKAAN OLEH EMITEN DI PASAR MODAL INDONESIA I Made Yonathan Hadi Sanjaya; I Gusti Ngurah Parikesit Widiatedja
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 03 Maret (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengelaborasi asas rechtssicherheit dalam menghadapi pelanggaran terhadap prinsip keterbukaan pada skema pendanaan untuk bisnis kecil atau yang disebut dengan equity crowdfunding yang dilakukan oleh emiten dalam kegiatan pasar modal di Indonesia. Studi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif, dengan didukung beberapa Metode pendekatan dalam penelitian ini yaitu Pendekatan Perundang-undangan (Statute Approach), analisis (analitycal approach) dan Pendekatan Konseptual (Conceptual Aprroach). Adapun hasil kajian terhadap penelitian ini bahwa pentingnya prinsip keterbukaan dalam equity crowdfunding (ECF) tidak dapat dikesampingkan, mengingat peran vitalnya dalam memastikan keadilan dan kepercayaan dalam sistem perdagangan efek. Meskipun ECF menawarkan akses pendanaan yang lebih mudah, tanpa prinsip keterbukaan yang kuat, risiko penipuan dan manipulasi informasi meningkat, mengancam investor dan kepastian hukum. Oleh karena itu, revisi terhadap Undang-Undang Pasar Modal dan peraturan terkait ECF sangat diperlukan untuk menguatkan keterbukaan dalam investasi ini. OJK memiliki peran penting dalam pengawasan dan penegakan sanksi, sementara perlunya penerapan sanksi yang lebih tegas terhadap pelanggaran keterbukaan adalah langkah yang krusial untuk menjaga integritas pasar modal Indonesia.
LEGALISASI PERNIKAHAN SESAMA JENIS DI THAILAND DALAM PERSPEKTIF HUKUM HAK ASASI MANUSIA INTERNASIONAL Virginia Dillys Kurniawan; I Gusti Ngurah Parikesit Widiatedja
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 4 No. 4 (2026): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi April
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/1jx48803

Abstract

Tujuan dari adanya penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaturan legalisasi pernikahan sesama jenis yang sudah disahkan di Thailand, serta menilai kesesuaiannya dengan prinsip hukum hak asasi manusia internasional, dengan mempertimbangkan aspek norma, budaya, dan agama. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan kualitatif melalui kajian perundang-undangan internasional, pendekatan konseptual, serta analisis komparatif terhadap instrumen hukum internasional. Data dalam penelitian ini diperoleh dari studi literatur secara komprehensif, dan didukung oleh analisis data primer yang didapatkan dari hasil wawancara dengan narasumber terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya undang-undang legalisasi pernikahan sesama jenis di Thailand sudah disahkan, hal ini dapat menegakkan hak-hak dari para kaum LGBT di Thailand dari segi hukum hak asasi internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legalisasi pernikahan sesama jenis di Thailand pada tahun 2025 merupakan langkah progresif dalam menjamin kesetaraan hak bagi kelompok LGBT melalui pengakuan hukum serta pemberian hak yang setara, termasuk waris, adopsi, dan akses layanan. Dari perspektif hukum hak asasi manusia internasional, regulasi ini sejalan dengan prinsip kesetaraan dan non-diskriminasi sebagaimana diatur dalam DUHAM dan ICCPR. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan sosial-budaya, sehingga diperlukan harmonisasi antara hukum dan nilai masyarakat agar perlindungan HAM dapat berjalan efektif.
Trade Liberalization, Domestic Trade Policies and the Failure of Reducing Poverty: The Case of Indonesia I Gusti Ngurah Parikesit Widiatedja
Sociological Jurisprudence Journal Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/scj.4.1.2289.6-12

Abstract

The existence of international trade has provided important benefits for reducing poverty. Many countries then have concluded trade agreements, to reach this goal by committing trade liberalization. The relatively high number of poverty has raised some concerns, questioning the effectiveness of trade liberalization. Putting Indonesia as a case study, this article weighs the role of trade liberalization and domestic trade policies in reducing poverty. This article argues that the existence of domestic trade policies is more significant than trade liberalization. The unfair practices, corruption, and the overwhelming spirit of national interest that colour domestic trade policies, contribute to the failure of reducing poverty instead of trade liberalization.
The Rise of Centralistic Governance in Spatial Planning in Indonesia and Australia: A Comparative Study Widiatedja, I Gusti Ngurah Parikesit; Qadam Shah, Mohammad; Sudiarawan, Kadek Agus; Yogantara, Pande
BESTUUR Vol 11, No 1 (2023): Bestuur
Publisher : Administrative Law Departement Faculty of Law Universitas Sebelas Mare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/bestuur.v11i1.70120

Abstract

Since the Reformation, spatial planning governance has moved away from authoritarianism toward a more democratic style of government. However, the current Job Creation Regulation has heralded the return of the centralistic governance in spatial planning. Surprisingly, Australia is also experiencing this trend. This study will look at how the centralistic phase of spatial planning was implemented in Indonesia and Australia. By using a normative method, the results reveal that the spirit of centralization is obvious in the Job Creation Regulation. The central government has a dominating role in the implementation of spatial planning. It also controls the issuing of detailed plan. Because of the need to produce a digital map, the central government now has a power over the granting of spatial planning permission. In Australia, the local government evaluates and decides on the vast majority of planning applications. A countervailing tendency, nevertheless, has seen state governments take on some of the planning and decision-making duties once exercised by local governments. The state minister and development assessment panels are now responsible for authorization of significant projects. This pattern appears to depoliticize and simplify the application process for development projects, especially when those projects have financial advantages.
CAN INDONESIA INVOKE PUBLIC MORALS EXCEPTION UNDER THE WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO) FOR PROHIBITING CROSS-BORDER GAMBLING? Widiatedja, I Gusti Ngurah Parikesit
Yustisia Vol 7, No 2: August 2018
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v7i2.19914

Abstract

Under the WTO, Indonesia is obliged to liberalize its markets through establishing the schedule that comprise a list of services that can be either opened or closed to foreign suppliers.  However, Indonesia’s schedule is vague as to whether gambling services are closed to foreign suppliers. Through this loophole, the practice of cross-border gambling services has been rampant, resulting in some consequences, especially those related to money laundering and underage gambling. Tackling this problem, Indonesia could apply public morals exception that allows member states to impose trade prohibition. By using public morals exception that was applied in some WTO cases, this article explores the way in which Indonesia could justify prohibiting cross-border gambling services. This article claims that Indonesia has a justification to impose public morals exception under the WTO to prohibit cross-border gambling services within its territory because the prohibition would be designed to protect public morals; it would be necessary to protect public morals; and the prohibition would equally apply  to both foreign and local suppliers in cross-border gambling services in Indonesia.
Co-Authors Adyt Dimas Prasaja Utama Anak Agung Ayu Mirah Kartini Irawan Astari, Ramadhan Bagus Made Bama Anandika Berata Cahaya, Bunga Lily Dewi, Ni Luh Putu Ratih Sukma Dewi, Ni Luh Sri Mahendra Dharma Bakti, I Gede Alvin Dwi Atmaja, Bima Kumara Elizabeth Sefanya Roulina Fayza Bratanova Soebroto Horatius, Bryan Regis I Dewa Gede Palguna I Gede Pasek Eka Wisanjaya I Gede Putu Putra Wibawa I Gust i Ngurah Wairocana I Gusti Agung Ngurah Dwija Iswara Aditya Ningrat I Gusti Ayu Putri Kartika, I Gusti Ayu I Made Budi Arsika I Made Yonathan Hadi Sanjaya I Nyoman Suyatna I WAYAN WINDIA Ida Bagus Erwin Ranawijaya Ida Bagus Wyasa Putra Ika Widi Astuti, Ika Widi Jati, Gusti Bagus Krisna Arum Jesica Winanda Leksono Putri Jessi Grasiela Putri Bengngu Kadek Agus Sudiarawan Kadek Nicky Novita Kayla Nixie Salsabil Halim Kent Revelino Chandra Komang Eky Saputra Laksmi, Ni Putu Ayu Utari Luh Putu Gita Dharmaningtyas Made Gde Subha Karma Resen Made Suksma Prijandhini Devi Salain Mohammad Qadam Shah Nadine Arieta Ravinka Nadirsyah Hosen Naufal Nafie Ramadhan Ni Gusti Ayu Dyah Satyawati Ni Gusti Ayu Dyah Satyawati Ni Putu Ari Putri Pertiwi Ni Putu Devy Handayani Pratiwi, Agustina Ni Made Ayu Darma Priskila, Jennifer Gracia Purwani, Sagung Putri ME Putra, I Made Agus Sunadi Putu Gede Arya Sumertayasa Putu Tantry Octaviani Putu Tuni Cakabawa Landra Qadam Shah, Mohammad Qadam Shah, Muhammad R. Caesalino Wahyu Putra R.A. Tuty Kuswardhani Ramaputra, Gede Angga Wirabhuwana Rosariani, Putu Eka Savitri, Pande Luh Made Devi Shah, Mohammad Qadam Shara, Made Cinthya Puspita Stephanie Maarty K Satyarini Venditha Velicia Virginia Dillys Kurniawan Yogantara, Pande