Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

Konstruksi Fatherhood Dalam Film 27 Steps Of May Rifki Zamzam Mustafa; Aquarini Priyatna; Ari J. Adipurwawidjana
Metahumaniora Vol 12, No 1 (2022): METAHUMANIORA, APRIL 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i1.34410

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan penggambaran konstruksi kompleks peran bapak (fatherhood) dalam film 27 Steps of May. Film ini memperlihatkan peran bapak (fatherhood) yang dikonstruksi secara kompleks dalam kontinum gender (maskulinitas dan femininitas) melalui teknik kamera dan mise-en-scene. Kompleksitas fatherhood ditemukan dalam tokoh Bapak, melalui adegan-adegan yang memperlihatkan aktivitas serta perannya sebagai orang tua tunggal bagi May yang dianalisis melalui konsep fatherhood menurut Donaldson dikaitkan dengan konsep hegemoni maskulinitas yang ditawarkan oleh Connell dan kajian film menurut Turner. Penggambaran-penggambaran interaksi yang minim dialog antara Bapak dan May, pekerjaan Bapak dan interaksinya dengan tokoh Kurir dan Pesulap menjadi indikator-indikator yang berperan dalam mengonstruksi fatherhood. Melalui pembacaan ketat yang diterapkan dalam kajian ini, dapat ditemukan bahwa penggambaran peran Bapak dalam film ini tidak semata-mata menampilkan bapak sebagai pihak sentral dalam keluarga, namun juga sebagai pihak yang bergantung pada pihak lain khususnya dalam ranah emosional. Fatherhood juga diperlihatkan sebagai bentuk perlintasan antara peran gender maskulin dan feminin, yang merupakan reaksi terhadap hegemoni maskulinitas sebagai bentuk upaya pengikisan peran bapak yang dominan dalam suatu keluarga.
MITOS DAN REPRESENTASI DEWI SRI DALAM RITUAL SINOMAN UPACARA ADAT MAPAG SRI DI DESA SLANGIT KABUPATEN CIREBON: KAJIAN SEMIOTIKA Faza Fauzan Azhima; Aquarini Priyatna; Teddi Muhtadin
Metahumaniora Vol 10, No 2 (2020): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i2.25733

Abstract

Artikel ini memaparkan kegiatan upacara adat Mapag Sri dengan berfokus pada mitos dan representasi Dewi Sri dalam ritual sinoman pada upacara adat tersebut. Dengan menggunakan kajian semiotika penelitian ini membahas mitos dan makna dari ritual upacara adat Mapag Sri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data-data hasil wawancara dan observasi lapangan. Hasilnya didapatkan bahwa Dewi Sri yang direpresentasikan sebagai perempuan yang disimbolkan juga pada tanaman padi mengindikasikan bahwa upacara adat Mapag Sri merupakan penghormatan kepada perempuan dan kepada padi sebagai hasil panen. Upacara adat ini juga menunjukan hubungan antara perempuan dengan alam. Perempuan berperan signifikan dalam ritual upacara adat ini seperti yang terlihat pada kegiatan sinoman yang merupakan salah satu rangkaian pokok dari upacara adat Mapag Sri. Sinoman merupakan representasi dan analogi dari pola siklus kehidupan manusia, tempat awal dan akhir kehidupan manusia merupakan tempat yang sama yakni di akhirat. Upacara adat ini dilangsungkan setiap tahun untuk menyambut masa panen padi dapat diargumentasikan sebagai sebuah representasi dari kearifan lokal yang bersifat ekologi karena kegiatan ini berfokus pada partisipasi dan kedekatan masyarakat dengan alam, terutama dalam konteks ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan. Kata kunci: upacara adat, Mapag Sri, sinoman, Dewi Sri, semiotika
LESBIANISME DALAM NOVEL TEMPURUNG KARYA OKA RUSMINI Aida Anwariyatul Fuadah; Aquarini Priyatna; Amaliatun Saleha
Metahumaniora Vol 11, No 2 (2021): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i2.34027

Abstract

Oka Rusmini dikenal sebagai penulis perempuan yang konsisten menulis tentang perempuan dengan latar belakang budaya Bali. Pada setiap novelnya, selain menghadirkan tokoh perempuan heteroseksual, Rusmini juga menampilkan tokoh lesbian, misalnya dalam novel Tempurung. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan representasi lesbianisme dalam novel Tempurung karya Oka Rusmini dengan mengaplikaskan teori lesbian yang ditawarkan oleh Teresa De Lauretis (1993) dan Adrienne Rich (2019). Kajian ini juga menggunakan teori subplot lesbian dari Mentxaka (2013) dan diksi bahasa perempuan dari Robin Lakoff. Metode penelitian dalam artikel ini yaitu lesbian literature studies. Secara narasi, lesbianisme ditampilkan melalui tokoh perempuan yang memiliki relasi buruk dengan laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lesbianisme ditampilkan sebagai perlawanan dominasi laki-laki melalui hubungan antarperempuan dan penggunaan diksi tokoh perempuan. Selain itu, lesbianisme juga meresistensi ideologi heteronormativitas melalui subplot lesbian, suara tokoh lesbian dan penggambaran tokoh lesbian sebagai “liyan” yang menakutkan. Penggambaran lesbianisme tersebut disebabkan karena ketakutan akan kemandirian lesbian yang berarti ancaman atas heteronormativitas.  Kata kunci: Lesbianisme; Perempuan Bali; Novel Tempurung; Representasi Lesbian; Sastra Lesbian.
AGAMA DAN IRONI DALAM FILM HIJAB KARYA HANUNG BRAMANTYO Lilis Suryani; Aquarini Priyatna; Ari J. Adipurwawidjana
Metahumaniora Vol 11, No 3 (2021): METAHUMANIORA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i3.34675

Abstract

AbstrakFilm Hijab (2015) karya Hanung Bramantyo menyajikan kisah tentang proses pembuatan film oleh tokoh Chucky. Film Chucky itu sendiri merekam kisah empat tokoh perempuan yang bercerita tentang alasan mereka berhijab dan pengalaman hidupnya. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan agama dan ironi yang ditampilkan baik dalam film Hanung maupun film Chucky. Film Hijab menunjukkan bagaimana Hanung dalam filmnya menyampaikan isu religius yang punya kesadaranbahwa filmnya akan menuai kontroversi jika membahas isu religiositas. Film Hijab ini tampaknya dibuat sebagai respons terhadap kontroversi yang sebelumnya diakibatkan oleh film yang dibuatnya. Dengan demikian, film ini merupakan film tentang permasalahan film, atau metafilm. Metafilm ini beroperasi dengan peranti ironi yang merupakan elemen penting dalam struktur genre komedi. Jadi bukan hanya agama yang dikomedikan sebagai alternatif pandangan supaya bisa dinegosiasi tetapi pembuatan film pun dinegosiasikan. Hanung sadar ada polemik bahwa setiap membuat film religius sering menuai kontroversi, tetapi Hanung tetap menunjukkan di dalam filmnya. Hanung menunjukkannya dengan metafilm yang diwakili oleh tokoh Chucky sebagai sutradara. Ironi menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan antartokoh, pembaca dan penonton. Kesenjangan itu membuat adanya ruang negosiasi dan menciptakan aspek humor dalam komedi. Agama dan film dikomedikan untuk membuka ruang pandangan alternatif. Kata kunci: Hanung Bramantyo, agama, ironi AbstractThe film Hijab (2015) by Hanung Bramantyo presents a story about the making of a film that directed by Chucky. Chucky's film itself records the story of four female characters who tell their reasons for wearing the hijab, and how they experiencing life. This paper aims to show how the religion and the irony that be shown in both the Hanung and Chucky films. The Hijab film itself shows how Hanung in his film conveys religious issues which was generate controversy if it discusses the issue of religiosity. This Hijab film seems to be made to responsed the controversy that previously caused by the film he made.  Thus, this film is a film that shown us about the problem of making a film, or a metafilm.  This metafilm operates by the device of irony which is an important element in the structure of the comedy genre.  So it was not only religion that was being made as a comedy which shown us an alternative point of view so that it can be negotiated, but filmmaking itself is also being negotiated. Hanung is aware that there is a polemic if he makes a religious film, he often gets controversy, but still Hanung shows it in his film. Hanung shows it by a metafilm that be represented by Chucky's character as the director. The Irony shows that there is a knowledge gap between characters, readers and viewers.  The gap itself creates a space for negotiation and creates an aspect of humor in comedy.  Religion in the film itself was comedic that open space for alternative views. Keywords:Hanung Bramantyo, religi , irony
THE AMBIVALENT PORTRAYAL OF THE ECOFEMINIST MOVEMENT IN TANAH IBU KAMI (2020) Zhafirah, Faizzah Shabrina; Priyatna, Aquarini; Adipurwawidjana, Ari Jogaiswara
Metahumaniora Vol 13, No 3 (2023): METAHUMANIORA, DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i3.48736

Abstract

Tanah Ibu Kami (2020), a documentary film produced by The Gecko Project and Mongabay, published on YouTube, follows the travels of journalist Febriana Firdaus to four rural areas in Indonesia where she meets Sukinah from Kendeng, Central Java; Lodia Oematan and Aleta Baun from Mollo, East Nusa Tenggara; Eva Bande from Banggai, Central Sulawesi; and Farwiza from Banda Aceh, Aceh. The film portrays these women leading socio-ecological movements that fight for their rights along with their land rights, as they face the risks of violence, imprisonment, and judgment from large corporations and patriarchal customs and beliefs. Placing the documentary within the ecofeminist framework, exemplified by Warren (2000) and Shiva and Mies (2018), I would like to show how the documentary portrays the state and the cultural institutions having control over women and nature. In its narrative method, the film tends to look at the environmentalism done by women as something to be highlighted not because of its substantial aspects but more as a valorized act because of its masculine attributes. Thus, while the film glorifies women as empowered environmentalists with the ability to exert agency, the structure of and behind the film is based on patriarchal assumptions.
KINGSTON’S THE WOMAN WARRIOR AND CHINA MEN: GENDERED CONSTRUCTION OF ABJECT THROUGH GHOSTS Yovela, Stasya; Priyatna, Aquarini; Prabasmoro, Tisna
Metahumaniora Vol 14, No 2 (2024): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v14i2.54308

Abstract

The autobiographical works by Maxine Hong Kingston, The Woman Warrior: Memoirs of a Girlhood Among Ghosts (1989) and China Men (1989), portray a gendered construction of the abject through the ghosts of Kingston’s deceased family members in the novels. As Chinese descendants, the family should uphold a tradition of honoring their dead, feeding them food, and remembering them. However, Kingston’s family in the novels rejects their ghosts instead because the dead are thought to bring shame and discomfort to the family, who are now living as Americans. We see such ambiguity where the ghosts are simultaneously seen as part of the family yet also discomforting as related to the abject. By utilizing the framework of feminist narratology and theories of abjection, we see that the family abjects them by forgetting and not acknowledging them. These ghosts are part of the family but simultaneously expelled as the abject. However, despite all of the ghosts being the abject, we argue that their individual abjections vary based on their gender where the female ghosts and male ghosts are abjected differently. We argue that the abject constructed through the female ghosts is portrayed as disobedient, disturbing borders, and traumatic, whereas through the male ghosts is portrayed as passively expelled from a place of power and silenced. Despite all of the deceased being treated as outcasts, we see that the deceased women are able to reclaim subjectivity through their abjection, whereas the abjection from the male ghosts reflects ambiguity.
ALIENATED FEMALE ANGLO-IRISH YOUTH IN ELIZABETH BOWEN’S THE LAST SEPTEMBER Nita, Ida Ayu Eka Vania Cahya; Priyatna, Aquarini; Adipurwawidjana, Ari Jogaiswara
Metahumaniora Vol 15, No 1 (2025): METAHUMANIORA, APRIL 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v15i1.60769

Abstract

Elizabeth Bowen’s The Last September (1929), a novel about an Anglo-Irish gentry family in Danielstown, Cork in the middle of the war for Irish independence from England, portrays the fate of the youths of the Anglo-Irish. By referring to Warhol’s feminist narratological approach, this research aims to display the portrayal of Lois Farquar’s as a representation of a female member of the Anglo-Irish society. The Last September, as a modernist novel, portrays Lois’s gendered experience through actions, dialogue and narrations. Lois Farquar, teenage protagonist of the novel, is depicted to be grappling with her own struggle with self-realization and the expectations set by her Anglo-Irish family. Lois’s struggle with her identity is, in part, a consequence of the repression and alienation she and fellow members of the Anglo-Irish society experience, stunting the development of Lois’s identity and agency. Thus, we propose that the novel, with its modernist narrative that centers around female Anglo-Irish interiority, presents Lois, and the youths of the Anglo-Irish, as aliens frozen in time, lacking the ability to inherit their legacy or undergo transformation.
Co-Authors Aceng Abdullah Aceng Abdullah Acep Iwan Saidi Adi Kurniawan Adipurwawidjana, Ari J Adji, Muhammad Ageza, Gorivana Aida Anwariyatul Fuadah Aksa, Yati Amalia, Sira Kamila Dewanti Amaliatun Saleha Anastasia Dewi Wulandari Anastasia Dewi Wulandari Ani Rostiyati Aprilia, Nurul Hanifa Ari J. Adipurwawidjana Ari J. Adipurwawidjana Ari Jogaiswara Adipurwawidjana Arining Wibowo Asep Yusup Hudayat Cece Sobarna Cece Sobarna Dadan Suwarna Dade Mahzumi Dade Mahzumi, Dade Darmawan, Adam Dessyratna Putry Dimas Yudhistira Dimas Yudhistira, Dimas Dzulfikar Al-anbiya Eka Ayu Wahyuni Ekaning Krisnawati Endah Istiqomah Apriliani Ezzah Fathinah Fauziah Ismi Desiana Faza Fauzan Azhima Gian Nova Sudrajat Nur Hanifah Puji Utami Hary Ganjar Budiman Hazbini, Hazbini Heri Isnaini Hermawati, Diyana Mareta Hilda Septriani Ikeh, Tri Sulapmi Dolina Indrawan Dwisetya Suhendi, Indrawan Dwisetya Indriyani Rachman Jordy Satria Widodo Lilis Suryani Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu Lina Meilinawati Rahayu, Lina Meilinawati Lina Meilinawati, Lina Luqman, Arief Mecca, Ali Mega Subekti Mia Dwianna Widyaningtyas Mori, Alifa Syauqina Muhamad Adji Muhtadin, Teddi Mulyadi, R.M Mumuh Muhsin Zakaria Nisa'ul Fithri Mardani Shihab Nita, Ida Ayu Eka Vania Cahya Novia Nurul Ulfah Nurhayati, Nita Nurullah, Maria Fiducia Permata, Denti Primiani, Nurrahma Probowati, Andarini Rani R. M. Mulyadi R. M. Mulyadi R.M. Mulyadi R.M. Mulyadi Raden Mohamad Herdian Bhakti Raden Muhammad Mulyadi Rahayu, Lina Meilinawati Rani, Seni Melia Rasus Budhyono Renti Mahkota Resa Restu Pauji Ridwan, Muhammad Fauzi Rifki Zamzam Mustafa Rifki Zamzam Mustaffa Rikma Dewi, Nenden Rojak, Mohamad Abdul Rosyidah Antoni, Cheryl Desyanti Safrina Noorman, Safrina Sartika Sari Siti Karlinah Sri Rijati Wardiani syukur, andi abd khaliq Teddi Muhtadin Tisna Prabasmoro Tri Sulapmi Dolina Ikeh Wibowo, Arining wibowo, arining Yovela, Stasya Yuris Fahman Zaidan Zhafirah, Faizzah Shabrina