Claim Missing Document
Check
Articles

Found 238 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Pengaruh Intensitas Menonton Televisi dan Pendampingan Orangtua dalam Menonton Televisi Terhadap Kedisiplinan Belajar Donik Agus Setiyanto; Nurist Surayya Ulfa; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.777 KB)

Abstract

Televisi sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat sekarang ini, hal ini terlihat dari jumlah pengguna televisi yang selalu meningkat setiap tahunnya. Kedisiplinan belajar anak dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan pendampingan orangtua yang baik dalam menonton televisi yang berperan besar didalam lingkungan keluarga juga memiliki peran dalam membentuk perilaku dan sikap anak untuk disiplin belajar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas menonton televisi dan pendampingan orangtua dalam menonton televisi terhadap kedisiplinan belajar. Dasar pemikiran yang digunakan adalah displacement effect theory dan Parental mediation. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling. Sampel penelitian adalah anak berusia 12 – 14 tahun, dengan jumlah sebesar 138 siswa di SMP Negeri 5 Purwodadi.Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana dengan bantuan SPSS 22. Uji hipotesis antara intensitas menonton televisi menunjukkan hasil yang sangat signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 dan berpengaruh negatif terhadap kedisiplinan belajar. Sedangkan variabel pendampingan orang tua dalam menonton televisi menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 dan memiliki pengaruh yang positif terhadap kedisiplinan belajar. Kesimpulan dari uji hipotesis ini adalah semakin rendah intensitas menonton televisi maka semakin tinggi kedisiplinan belajar dan semakin tinggi pendampingan orangtua maka kedisiplinan belajar akan semakin tinggi.Saran yang dapat diberikan adalah orang tua sebagai pendidik di rumah sebaiknya mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan atau aktivitas lain yang lebih positif dan bermanfaat seperti berolahraga, berinteraksi dengan teman sebaya dilingkungannya dan belajar sehingga dapat mengurangi intensitas menonton televisi.
Hubungan antara Terpaan Berita Negatif BPJS Kesehatan di Media Massa dan Intensitas Komunikasi Word of Mouth di Masyarakat dengan Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada Kualitas Pelayanan BPJS Kesehatan Fatma Izzatussayidati; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.034 KB)

Abstract

The efforts that made by the government to resolve the problem of health in Indonesia is not easy because it often gets negative news in various mass media, the news is a bit influential on the level of public confidence to BPJS Health Care's service quality that shown through the many circulation of negative word of mouth. The purpose of this research is to determine the relationship between news exposure and word of mouth intensity with the level of public confidence in BPJS Health Care's service quality. Sampling in this research is purposive sampling. The population in this study were all society in Semarang City who had seen, heard or read negative news about BPJS Health Care and ever talked about service quality of BPJS Health Care. The number of samples researched as many as 100 respondents.Based on the hypothesis conducted using data anlysis Pearson correlation analysis. The results showed that there was a negative correlation between news exposure in mass media and the level of public confidence in BPJS Health Care’s service quality starter with significance value 0,025 (<0,05). The results showed a negative relationship between the news exposure in mass media with the level of public confidence in BPJS Health Care's service quality with a significance value of 0.025 (<0.05) and Pearson correlation value of -0.224. Furthermore, Pearson's correlation test of word of mouth intensity and level of public confidence in BPJS Health Care's service quality showed a negative relationship with significance value of 0.000 (<0.001) and correlation value of -0.426. This means that the more intense word of mouth in society then the public confidence in BPJS Health Care's service quality will be lower. The suggestion that given is to build relationships with the mass media so that the negative issues can be confirmed in advance and not become a bad word of mouth in society.
Karya Bidang Jurnalistik Feature Program Acara “TOKOH” di Stasiun Cakra Semarang TV Aditia Nurul Huda; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.966 KB)

Abstract

Setiap stasiun televisi di Indonesia saat ini sedang bersaing ketat dalam meraih perhatian pemirsa. Untuk menghadapi persaingan, televisi memproduksi tayangan yang berbeda, dinamis, dan disukai para penonton. Program berita feature adalah salah satu program kreatif yang bisa menarik perhatian dan tidak membosankan untuk ditonton. Feature sebagai program reportase yang dikemas secara mendalam dan luas disertai sedikit sentuhan aspek human interest. Konsep feature ini disesuaikan dengan program acara “TOKOH” yang sudah ada di Cakra Semarang TV namun ada yang berbeda sebagai tambahan yaitu penambahan voxpop dari orang terdekat dan liputan profil. Ada 6 episode yang ditayangkan yaitu “Sastrawan Muda Berbakat”, “Ibu Anak Jalanan”, “Kyai Penjaga Makam”, “Tangan Kedua”, “Metode Belajar Berbahasa Melalui Bawah Sadar”, “Pembudidaya BuLe (Jambu dan Lele)”. Pembagian tugas dalam tim ini mendapat peran sebagai produser, juru kamera, dan editor.Setelah melalui proses pra produksi, proses produksi, dan paska produksi, karya ditayangkan di stasiun Cakra Semarang TV setiap hari senin pukul 18.00 WIB, dari tanggal 9 Juni 2014 sampai dengan 21 Juli 2014 dengan satu kali penayangan ulang episode 1 karena kesalahan teknis dari pihak Cakra Semarang TV. Melalui tayangan ini diharapkan dapat menjadikan tayangan ini sebagai media untuk mengedukasi masyarakat.Kata kunci : feature,human interest,Tokoh
Hubungan Intensitas Menonton Youtube Beauty Vlogger dan Persepsi Mengenai Kredibilitas Beauty Vlogger dengan Perilaku menggunakan Makeup oleh Remaja Asri Aulia Rachmawati; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.193 KB)

Abstract

Makeup trends in Indonesia are developing through beauty vlogger content, which is mostly watched by teenagers. Teenagers tend to always follow the latest makeup trends to look beautiful. This is done because teenagers want to be like what the model they see, both the style of makeup and using various beauty products. Teen makeup behavior was allegedly a result of several factors such as the intensity of watching beauty vloggers on YouTube and one's perception of the credibility of beauty vloggers. This research aims to explain the intesity relationship of wathcing youtube beauty vlogger and perception regarding the credibility of the beauty vlogger with the behavior of using makeup by teenegers. The theory used is social learning theory and source credibility theory. The sample technique this research is using the non probability sampling with purposive sampling method. The number of sample is 60 people with criteria of female adolencests aged 13-18 years, watching the beauty vlogger and domiciled in the city of Semarang. The data analysis is using Pearson’s Correlation. The first hypothesis testing result showed there is no correlation between the intensity of wathcing youtube beauty vlogger with the behavior of using makeup by teenagers, with significance value of 0,404. The second hypothesis testing result showed there is correlation between perception on the credibility of the beauty vlogger with the behavior of using makeup by teenagers, with a value 0,002 of significance and 0,396 of correlation coefficient. With this result, further research is recommended using other variables, such as peergroup communication intensity or social status variables. Teen audiences are also expected to filter and be selective with all the information conveyed by beauty vloggers regarding the use of makeup.
PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM KERAGAMAN BAHASA KOMUNIKASI MASA KINI DONNA RADITA MERITSEBA; Turnomo Rahardjo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM KERAGAMANBAHASA KOMUNIKASI MASA KINIAbstrakBerkurangnya masyarakat keturunan Jawa sebagai penutur bahasa Jawa terutama padaanak menjadi latar belakang dalam penelitian ini. Apalagi dengan beragam bahasakomunikasi masa kini yang dinilai lebih penting untuk dikuasai. Masalah yang timbuladalah mengenai bagaimana penggunaan bahasa Jawa pada anak di keluarga Jawa dalamkeragaman bahasa komunikasi masa kini serta mengapa hal itu dapat terjadi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan bahasa yangditerapkan oleh orang tua kepada anak di keluarga Jawa. Kapan dan kepada siapa anakmenggunakan pilihan bahasa mereka tersebut. Selain itu, bertujuan pula untukmengetahui alasan orang tua keturunan Jawa dalam menentukan pilihan bahasa yangdiajarkan kepada anak dari beragam bahasa komunikasi masa kini.Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan kajiansosiolinguistik dalam tradisi sosiokultural yang membantu menjelaskan mengenaipenggunaan bahasa. Penelitian etnografi komunikasi ini menggunakan paradigmainterpretif dengan menggunakan metode analisis fenomenologi. Subjek penelitian adalahkeluarga Jawa status sosial atas hingga bawah agar mendapatkan variasi hasil penelitian.Hasil penelitian menunjukkan adanya penggunaan bahasa Jawa yang tidak lagisempurna pada anak karena adanya upaya alih kode dari ragam bahasa yangdikuasainya. Keluarga sebagai tempat anak dalam menerapkan bahasa Jawa sudah tidaklagi mengutamakan bahasa Jawa sebagai bahasa keluarga. Orang tua justru merasa lebihpenting mengajarkan anak mengenai bahasa asing. Keluarga Jawa lebih mementingkanagar anak dapat menerapkan bahasa komunikasi yang banyak digunakan di masyarakatluas. Hal itu terjadi di seluruh lapisan keluarga, baik yang terjadi di keluarga sosialekonomi atas, menengah, maupun bawah.Kata kunci : sosiolinguistik, keluarga Jawa, komunikasi budayaJAVANESE LANGUAGE USE IN DIVERSITY OFCOMMUNICATION LANGUAGES AT PRESENTAbstractJavanese language speakers is reduced, especially children. This is the background ofthis research. Communication languages of the present more important to use. Theproblem is how to use the Javanese language to children in Javanese families in diversityof communication languages at present and why it can happen.The purpose of this study is to investigate the use of language that applied byparents to children in their family. When and to whom their children use choice of thelanguage. In addition, the aim is also to find out why parents of Javanese determiningthe choice of language to be taught for children from diverse of communicationlanguages today.Efforts to answer the problems and goals of research done in the tradition ofsociocultural, sociolinguistic study can helps to explain the use of language. Thiscommunication ethnographic research using interpretive paradigm withphenomenological analysis in the method. Subjects were Javanese family in social statustop to bottom in order to get a variety of results.The results showed the use of the Java language is no longer perfect in childrendue to the efforts of code switching from diversity of languages mastered. Family as aarea where children can applying the Java language, is no longer prioritizing the Javalanguage as a family language. Parents feel more important to teach children aboutforeign languages. Using communication languages which also used in many peoplemore important. So, that is happen in all of Javanese families.Key words : sociolinguistic, Javanese families, cultural communicationPENDAHULUANKebudayaan Jawa merupakan kebudayaan yang dianut oleh masyarakat Jawa. BahasaJawa sebagai salah satu wujud budaya dari suku bangsa Jawa. Suku bangsa Jawamenggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Namun pada masa kini,penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi sehari-hari dinilai sudah mulaiberkurang, terutama komunikasi pada anak.Seperti pada pengalaman yang ditulis oleh Sutardi MS Dihardjo dalam artikel diMajalah Nusa Indah, ia menuliskan, sekitar tahun ’70-an, ’80-an, ketika ia masih anakanakatau remaja, para orang tua yang mempunyai kedudukan, meskipun tidak begitutinggi, misalnya PNS tidak harus golongan tiga atau empat, perangkat desa, atau guru,yang sering disebut sebagai priyayi (dalam pengertian orang awam), dapat dipastikanmereka akan mengajari putra-putrinya berbicara dengan bahasa krama yang halusdisertai sikap yang hormat dan sopan santun kepada orang tua. Tetapi yang terjadisekarang di tahun dua ribuan, mengajari anak berbahasa Jawa, menggunakan bahasakrama halus dianggap kuno, tidak demokratis, menghambat keberanian dan kreatifitas.Para priyayi kelahiran di atas tahun ’60-an, lebih bangga anak-anaknya tidak bisaberbahasa Jawa, tapi selalu berbahasa Indonesia kalau ditanya. Apalagi kalau anak-anakmereka dapat menghafal hitungan one, two, three, four (satu, dua, tiga, empat dalambahasa Inggris), mereka akan lebih bangga lagi. Meskipun mereka masih bertuturdengan bahasa Jawa kalau berbicara antara suami istri atau dengan orang-orang yangsebaya dan lebih tua. Ironisnya kakek dan neneknya pun ikut-ikutan berbicara denganbahasa Indonesia kepada cucu-cucunya yang baru belajar bicara. Akibatnya anak-anakmengalami gagap bahasa. Anak-anak tahu apa maksudnya kalau orang tua berbicaradengan sesamanya menggunakan bahasa Jawa, tetapi mereka tidak dapat menjawabdengan bahasa Jawa kalau ditanya. Apalagi kalau harus berbicara, bercerita, ataumenjelaskan dengan bahasa Jawa.Keberadaan sebuah bahasa lokal atau bahasa daerah sangat erat denganeksistensi suku bangsa yang melahirkan dan menggunakan bahasa tersebut. Bahasamenjadi unsur pendukung utama tradisi dan adat istiadat. Bahasa juga menjadi unsurpembentuk sastra, seni, kebudayaan, hingga peradaban sebuah suku bangsa. Bahasadaerah dipergunakan dalam berbagai upacara adat, bahkan dalam percakapan seharihari.Kelestarian, perkembangan, dan pertumbuhan bahasa daerah sangat tergantungdari komitmen para penutur atau pengguna bahasa tersebut untuk senantiasa secarasukarela mempergunakan bahasanya dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Jikapenutur suatu bahasa daerah masih berjumlah banyak, dan merekapun menurunkanbahasa daerah yang dikuasainya kepada anak-anak dan generasi remaja, makakelestarian bahasa yang bersangkutan akan lebih terjamin dalam jangka panjang.Sebaliknya, jikalau penutur suatu bahasa daerah semakin berkurang dan tidak ada upayaregenerasi kepada generai muda, maka sangat besar kemungkinan secara perlahan-lahanakan terjadi gejala degradasi bahasa yang mengarah kepada musnahnya suatu bahasa.Orang tua pasti akan memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknyatermasuk agar anaknya dapat berkomunikasi dengan beragam bahasa komunikasi masakini apalagi untuk menguasai bahasa asing. Meskipun demikian, sebuah keluargadimana anak-anak tinggal bersama orang tua keturunan Jawa, dalam interaksi yangterjadi antara mereka masih ada kemungkinan penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasadaerah maupun bahasa nasional dan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari mereka.Sehingga akan mengakibatkan penggunaan bahasa komunikasi yang variatif pula padabahasa komunikasi sehari-hari anak di keluarga Jawa.Penelitian ini bermaksud merumuskan masalah, yaitu bagaimana penggunaanbahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari pada anak di keluarga Jawa dalam keragamanbahasa komunikasi masa kini serta mengapa hal itu terjadi. Sesuai dengan permasalahantersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan bahasa yangdiajarkan oleh orang tua kepada anak di keluarga Jawa sebagai bahasa komunikasisehari-hari, untuk mengetahui kapan dan kepada siapa anak dari keluarga Jawamenggunakan pilihan bahasa komunikasi sehari-hari, serta untuk mengetahui alasanorang tua keturunan Jawa dalam menentukan pilihan bahasa sehari-hari yang diajarkankepada anak dari beragam bahasa komunikasi masa kini.ISIPenelitian mengenai penggunaan bahasa Jawa dalam keragaman bahasa komunikasimasa kini ini menggunakan paradigma interpretif. Penelitian interpretif tidakmenempatkan objektivitas sebagai hal terpenting, melainkan mengakui bahwa demimemperoleh pemahaman mendalam, maka subjektivitas para pelaku harus digalisedalam mungkin hal ini memungkinkan terjadinya trade‐off antara objektivitas dankedalaman temuan penelitian (Efferin,2004 dalam Chariri, 2009:5). Teori yangdigunakan berfokus pada masalah-masalah budaya, sehingga ada pertalian tradisi-tradisiyang dihadirkan. Meskipun ada bantahan bahwa teori yang digunakan merupakan tradisisemiotik, hanya dapat dikatakan bahwa teori-teori ini adalah tradisi sosiokultural.Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat tidak harus menggunakan bahasauntuk berkomunikasi agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan dalam kehidupansosial dan kultural. Bahasa menghubungkan semua manusia dalam hubungan sosial(identitas sosial dan kultural, interaksi, pergaulan, sosialisasi, pertukaran kepentingansosial, stereotip, dan jarak sosial), kultural (proses belajar dan mengajar nilai-nilaikehidupan), ekonomi (pertukaran barang dan jasa), psikologi (sosial) seperti persepsi(sosial), perubahan sikap, stimulus dan respons, dan atribusi. Bahasa memainkanperanan dalam interaksi antara stimulus dan respons. Inilah kegunaaan bahasa sebagaialat komunikasi (Liliweri, 2011 :339).Perbedaan-perbedaan suku bangsa, bahasa, agama, dan adat istiadat sering kalidisebut sebagai ciri masyarakat multikultural atau masyarakat majemuk (Tim Sosiologi,2006: 119). Secara sosiolinguistik, masyarakat Indonesia mempergunakan tidak hanyasebuah bahasa, tetapi paling sedikit dua bahasa, yaitu bahasa ibu dan bahasa nasional.Pada umumnya pemakai bahasa di Indonesia menguasai bahasa ibu sebelum mereka itumenguasai bahasa Indonesia (Samsuri, 1978:54).Salah satu warisan budaya Jawa adalah bahasa, dimana bahasa Jawa sebagaibahasa daerah menjadi media dalam menjalin hubungan sosial diantara mereka. Dalammasyarakat mana pun keluarga adalah jembatan antara individu dan budayanya.Kelompok keluarga terdekat dan jaring-jaring kekeluargaan yang lebih luas bagi tiaptiappribadi tersebut memberikan corak dasar bagi hubungan sosial dengan seisi dunia(Geertz, 1985:150).Etika adalah bagian dari falsafah aksiologi. Oleh karena hidup itu harusberhubungan dengan orang lain, agar hidup memenuhi fungsinya, maka dibingkaidengan etika. Etika tersebut meliputi segala hal, mulai dari manusia Jawa sebagaianggota keluarga, masyarakat, dan negara. Etika sosial setiap strata sosial memiliki etikayang berbeda. Perbedaan ini didasarkan pada “unen-unen” negara mawa tata, desamawa cara, artinya masing-masing tempat memiliki etika yang berbeda-beda. Etika inimenyangkut sikap, tingkah laku, etika bahasa, dan etika pertemuan. Etika sosialbiasanya berbentuk anjuran-anjuran dan larangan-larangan untuk bersikap dan berbuatsesuatu (Endraswara, 2010:138).Sosiolinguistik atau kajian bahasa dan budaya temasuk dalam tradisisosiokultural. Hal yang penting dalam tradisi ini adalah bahwa manusia menggunakanbahasa secara berbeda dalam kelompok budaya dan kelompok sosial yang berbeda.Bahasa, seperti yang digunakan sehari-hari, merupakan permainan bahasa karenamanusia mengikuti aturan-aturan dalam mengerjakan sesuatu melalui bahasa (Littlejohn& Foss, 2009:67). Sosiolinguistik interaksional terutama menyangkut bagaimana latarbelakang pengetahuan dan pengalaman dari para pelaku sosial berfungsi sebagai sumberdaya dalam interaksi tertentu (Littlejohn & Foss, 2009: 903).Penggunaan bahasa merupakan fenomena sosial yang melekat pada kehidupanmanusia. Dengan kata lain, ketika seseorang berkomunikasi secara lisan maupun tertulismaka dari situlah dapat diketahui siapakah dia sebenarnya, darimana dilahirkan dandibesarkan, termasuk asal-usul ras dan etnis, apakah seorang perempuan atau laki-laki,tingkat pendidikan, profesi, dan fungsi. Bahasa menunjukkan identitas seseorang(Liliweri, 2011:363). Konsep-konsep dasar sosiolinguistik diantaranya mengenai bahasaucapan komunitas, bahasa dan prestise, jaringan sosial, bahasa internal versus bahasaeksternal, bahasa dan perbedaan kelas, kode bahasa sosial, deviasi bahasa, bahasa dankelompok umur, bahasa dan perbedaan geografi, serta bahasa dan gender (2011:364).Menurut Hipotesis Sapir-Whorf, sebenarnya setiap bahasa menunjukkan suatudunia simbolik yang khas, yang melukiskan realitas pikiran, pengalaman batin, dankebutuhan pemakainya. Jadi bahasa yang berbeda sebenarnya mempengaruhipemakainya untuk berpikir, melihat lingkungan, dan alam semesta di sekitarnya dengancara yang berbeda pula (Littlejohn, 2009:449). Salah satu cara menggambarkan dimanaperbedaan bahasa melukiskan perbedaan budaya, Basil Bernstein, dalam serangkaiankajian sastra tentang sosiologi bahasa, menemukan perbedaan penting dalampenggunaan bahasa di antara kelas sosial. Teori Basil Bernstein tentang kode-kode rumitdan terbatas menunjukkan bagaimana susunan bahasa yang digunakan dalampembicaraan sehari-hari mencerminkan dan membentuk asumsi-asumsi dari sebuahkelompok sosial. Asumsi dasar dari teori ini adalah bahwa hubungan yang dijalin dalamsebuah kelompok sosial memengaruhi tindak tutur yang digunakan oleh kelompoktersebut. Terkadang, susunan tindak tutur yang digunakan oleh sebuah kelompokmembuat banyak hal yang berbeda menjadi relevan atau signifikan (Littlejohn, 2009:450).Kelas sosial dan pekerjaan adalah tanda-tanda linguistik yang paling pentingyang ditemukan dalam hampir setiap masyarakat. Kelas sosial menentukan pula kelasbahasa yang mereka gunakan (Liliweri, 2011:366). Dalam Teori Aturan dijelaskanmengenai peraturan-peraturan yang dimiliki suatu keluarga dapat membentuk polakomunikasi keluarga tersebut. Peran membimbing perilaku, hal ini sebagai bentukaturan komunikasi tentang bagaimana kita berkomunikasi dengan berbagai anggotakeluarga (Le Poire, 2006:79). Aturan-aturan ini dapat berupa eksplisit atau implisit.Aturan eksplisit dalam sebuah keluarga bersifat terbuka, tegas, jelas dan mudahdipahami. Aturan-aturan eksplisit dinyatakan dengan jelas dan dipahami secara baik.Sedangkan aturan implisit lebih halus dan dipahami dengan cara-cara tertentu. Peraturanjelas dan dapat dipahami dengan sendirinya (Le Poire, 2006:80).PENUTUPBahasa Jawa sebagai bahasa identitas keluarga Jawa tidak lagi digunakan secara intensif,terutama yang terjadi dalam komunikasi pada anak. Dengan adanya beragam bahasakomunikasi masa kini, orang tua lebih mementingkan untuk membiasakan kepada anakmengenai bahasa tersebut. Diantaranya, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yangbanyak digunakan oleh masyarakat luas dalam satu negara. Selain itu, orang tuaberusaha untuk mengajarkan bahasa asing yang dinilai lebih penting untuk dikuasai olehanak. Dalam keluarga Jawa ini, bahasa Arab dan bahasa Inggris dipilih orang tua untukdiajarkan kepada anak dan kemudian dibiasakan untuk diterapkan sebagai bahasakomunikasi sehari-hari.Orang tua dalam keluarga Jawa ini membebaskan terhadap bahasa komunikasiyang digunakan oleh anak-anak mereka. Orang tua tidak lagi mengharuskan anak untukmenguasai bahasa komunikasi tertentu, apalagi menggunakan bahasa Jawa secarasempuna. Bahasa yang digunakan oleh anak merupakan bahasa yang juga digunakanoleh masyarakat luas, sehingga anak tidak merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengansiapapun dan dalam situasi apapun. Anak tidak perlu memikirkan kepatutan bahasakomunikasi karena dapat digunakan kepada siapapun lawan bicara dan dalam situasiformal maupun non formal. Akibatnya, bahasa Jawa sebagai bahasa identitas budayaJawa tidak lagi diprioritaskan dalam penggunaannya oleh para generasi muda.Keluarga Jawa tidak lagi menerapkan bahasa Jawa secara sempurna. BahasaJawa terlalu sulit untuk dipelajari dengan berbagai tingkatan bahasanya. Orang tuamenganggap bahasa Indonesia lebih tepat digunakan dalam komunikasi sehari-hari.Selain itu, orang tua lebih mengutamakan mengajari anak dengan bahasa asing.Penggunaan bahasa Arab bertujuan agar anak lebih memahami agamanya serta bahasaInggris untuk lebih membuka wawasan dan memperluas ilmu pengetahuan. Denganbahasa Arab yang diterapkan oleh keluarga Jawa, maka keluarga lebih menjunjungtinggi nilai agama dibandingkan nilai budaya, sedangkan penerapan bahasa Inggris lebihmencerminkan keluarga modern yang mengikuti perkembangan zaman.Penelitian ini bukan hanya menggunakan pendekatan etnografi, melainkan jugamembutuhkan pendekatan fenomenologi dalam hal menjelaskan hasil penelitian. Hal inidilakukan untuk memperoleh data yang lebih utuh dalam pandangan peneliti terhadapobjek penelitian melalui pendekatan etnografi. Serta menganalisis hasil penelitian secaralebih sistematis melalui pendekatan fenomenologi. Etnografi adalah pendekatan dimanapeneliti berinteraksi langsung dengan masyarakat sosial penelitian, yang dapat dilakukanmelalui interaksi dan observasi langsung seperti wawancara formal (Moustakas,1994:27).Etnografi komunikasi adalah metode aplikasi etnografi sederhana dalam polakomunikasi sebuah kelompok. Etnografi komunikasi melihat pada pola komunikasi yangdigunakan oleh sebuah kelompok; mengartikan semua kegiatan komunikasi ini adauntuk kelompok; kapan dan di mana anggota kelompok menggunakan semua kegiatanini; bagaimana praktik komunikasi menciptakan sebuah komunitas; dan keragaman kodeyang digunakan oleh sebuah kelompok. Semua isu ini membutuhkan sebuah pendekatanfenomenologis, tetapi hasilnya sangat berorientasi sosial budaya, sehingga etnografikomunikasi mencampurkan kedua tradisi tersebut (Littlejohn & Foss, 2009: 460).Keluarga Jawa dapat menanamkan identitas budaya Jawa, salah satunyamengenai bahasa. Keluarga sebagai tempat penerapan awal pada anak untuk melakukankomunikasi secara verbal. Komunikasi verbal berkaitan erat dengan penggunaan bahasasebagai media komunikasi. Dengan adanya perkembangan zaman, penggunaan bahasadaerah yaitu bahasa Jawa sudah mengalami pergeseran dengan beralihnya keluargauntuk membiasakan berbahasa nasional dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa Indonesiadigunakan sebagai bahasa komunikasi karena digunakan oleh masyarakat dalam wilayahsecara luas, dalam satu negara. Keluarga Jawa merasa lebih setara ketika menggunakanbahasa Indonesia dengan siapapun lawan bicara mereka. Pada akhirnya, perkembanganzaman membawa keragaman bahasa pada keluarga Jawa. Bukan hanya bahasa Jawasebagai bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, melainkan adapula penambahan bahasa asing sebagai bahasa komunikasi yang penting untuk dikuasai.DAFTAR PUSTAKAChariri, Anis . 2009 . Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitatif . WorkshopPenelitian Kuantitatif dan Kualitatif Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro .31 Juli-1 Agustus 2009Endraswara, Suwardi . 2010 . Falsafah Hidup Jawa . Yogyakarta : Penerbit CakrawalaGeertz, Hildred . 1983 . Keluarga Jawa . Jakarta : Grafiti PersLe Poire, Beth A . 2006 . Family Communication: Nurturing and Control in a ChangingWorld . California : Sage PublicationLiliweri, Alo . 2011 . Komunikasi Serba Ada Serba Makna . Jakarta : Kencana PrenadaMedia GroupLittlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss . 2009 . Teori Komunikasi . Jakarta : SalembaHumanikaMoustakas, Clark . 1994 . Phenomenological Research Method . California : SagePublicationsNusa Indah . 2012 . Semarang : Tim Penggerak PKK Prov Jawa Tengah Bank BPDJatengSamsuri . 1978 . Analisa Bahasa Memahami Bahasa Secara Ilmiah . Jakarta : ErlanggaTim Sosiologi . 2006 . Sosiologi 2: Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat . Jakarta :Yudhistirahttp://bahasa.kompasiana.com/2012/09/25/bahasa-indonesia-dan-bahasa-daerah-496 640.html, diakses 7 April 2013 pukul 10.40 WIB
STRATEGIC COMMUNICATION MUSEUM KERETA API AMBARAWA MANAJER KEUANGAN DAN AKUNTANSI Taufik Reza Ardianto; Djoko Setyabudi; M Bayu Widagdo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Museum is no longer become the main option by the public to visit. Museum regardedas a boring place when its compared with natural tourist attraction. Visitors could get alot of things at Ambarawa Train Museum, which is one of the three largest trainmuseum in the world. Because of their lack of knowledge, the number of visitors of thismuseum practically very small. For that, this activities carried out.Finance and Accounting Division is a field that manage the financial activities ofStrategic Communication Ambarawa Train Museum. This division is responsible fortransparency, clarity and neatness of the financial statements. Successful performance ofthis division is when the financial account balance from pre, during until post-event, thesmooth of cash flows and all the needs can be fulfilled.Some plans didn’t run properly due to some emerging issues. In the midst of theemergence of the issues, finance and accounting managers are able to develop atransparent and reliable (accountable) finance management. Activities that is not muchcontribute to the objectives of this series of activities, reduced or eliminated altogether.The problems such as delays and uncertainties can be solved by the finance andaccounting manager.Although this activity was in the absence or shortage of funds in the beginning, awhole activities can still be carried out. Until the end of this activities, finance andaccounting managers successfully carry out their duties. Evidenced by the balanced ofbalance sheet and all the needs can be met that make all the activities implemented. Thissuccess is the result of cooperation and coordination with all team members in orderwith all its limitations, and any problems encountered, the main purpose of thisactivities still achieved.
LAPORAN EVENT MARCOMM TOURING MERDEKA YZF R-25 (Jabatan Marketing Communication) Farisa Dian Utami; Djoko Setyabudi; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.813 KB)

Abstract

PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), yang merupakan perusahaan otomotif asal Jepang meluncurkan produk terbaru yaitu YZFR-25. Sebagai salah satu wujud apresiasi YIMM terhadap konsumennya, YIMM membuat rangkaian event berupa touring dan launching yang bernama Touring Merdeka YZF R-25. Event ini melibatkan 20 konsumen indent online terpilih untuk touring dari Bali ke Solo dengan YZF R-25 secara gratis. Tujuan diselenggarakan rangkaian event tersebut adalah untuk menjaga konsistensi komunikasi dengan para konsumen dan memberi pengalaman langsung kepada masyarakat terhadap YZF R-25.Tujuan dari event ini tercapai karena rangkaian acara “Touring Merdeka YZF R-25” merupakan alat marketing yang efektif karena fokus pada pengalaman konsumen (experimental) dan mendorong terjadinya proses konsumsi secara emosional dan rasional.Di dalam rangkaian acara “Touring Merdeka YZF R-25” keterlibatan konsumen indent online yang merupakan riders selama touring sangat berpengaruh, karena kesan dan penilaian mereka terhadap acara dan YZF R-25 dapat mempengaruhi pandangan dari calon konsumen mengenai YZF R-25. Selain itu, adanya test ride di area launching YZF R-25 juga sangat efektif untuk mendorong calon konsumen untuk memutuskan pembelian. Tak sekedar mendapatkan pengetahuan produk dari sales promotion, tetapi melalui test ride calon konsumen juga dapat merasakan langsung performa dari YZF R-25 sehingga dapat meyakinkan calon konsumen untuk memutuskan pembelian.Kata kunci : event, marketing, promotion.
Hubungan Antara Intensitas Menonton Tayangan Sinetron Kekerasan di Televisi dan Pola Komunikasi Keluarga dengan Tingkat Agresivitas oleh Anak Pungkas Dwitanto; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 9, No 4: Oktober 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the relationship between the intensity of watching violent soap operas on television and family communication patterns with the level of aggressiveness by children. This research uses explanatory quantitative method. The data collection technique used is non-probability sampling with a sample of 50 respondents. The theory used in this research is social learning and relationship schemes in the family. Hypothesis testing using Kendall's Tau_b analysis and Chi-Square Tests. The results of the hypothesis test show that the significance value for the variable intensity of watching violent soap operas on television is 0.278, which means that there is a relationship between the intensity of watching violent soap operas on television (X1) and the level of aggressiveness by children (Y). Meanwhile, the results of the hypothesis test for the family communication pattern variable show that the significance value is 0.000, which means that there is a relationship between the parent's communication pattern (X2) and the child's level of aggressiveness (Y).
Hubungan Terpaan Pemberitaan Korupsi di Televisi dan Pernyataan Presiden SBY di Televisi dengan Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada Pemerintah LISTIANTO HINDRA PRAMONO; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.938 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Dewasa ini pers Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa dalam mengekspresikan kebebasan. Fenomena itu ditandai dengan munculnya media baru baik cetak maupun elektronik dengan berbagai kemasan dan segmen. Keberanian pers dalam mengkritik penguasa juga menjadi ciri baru pers Indonesia. Hal ini juga terlihat akhir-akhir ini ketika pers berani mengungkapkan kasus-kasus korupsi maupun skandal-skandal yang diduga melibatkan beberapa pejabat publik, menteri, anggota dewan sampai ketua partai, baik yang dilakukan sendiri maupun secara “berjamaah”, dari tingkat paling atas sampai ke tingkat paling bawah.Melalui peran media, kini kasus-kasus tersebut dapat diketahui oleh masyarakat luas. Media sekarang berani membongkar kompleksitas kasus korupsi dengan mencoba mengungkap keganjilan-keganjilan yang terjadi melalui liputan, tayangan, dan investigasi sendiri secara mendalam, sehingga pemberitaan yang disajikan terkadang kritis terhadap pemerintah. Dengan gencarnya pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi di televisi yang semakin hari semakin marak, kredibilitas pemerintahan SBY benar-benar diuji. Hal tersebut sebenarnya bisa mengindikasikan seberapa seriuskah pemerintahan SBY jilid II ini dalam memberantas kasus-kasus korupsi. Selain itu, yang menarik dari kebebasan pers yang selama ini dinikmati, adalah tak luputnya sang kepala negara menjadi isu dan pemberitaan yang panas, seperti pernyataan-pernyataan SBY yang dimuat di media. Melalui media, pernyataan-pernyataan SBY ketika menyampaikan pidato di depan umum, terkadang di tanggapi beragam oleh media (dalam hal ini media televisi yang paling gencar).Menurut data yang dikutip dari detiknews.com (27/6/2011), riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 2011, kepuasan publik atas kinerja Presiden SBY terus merosot. Menurut lembaga survey tersebut salah satu penyebabnya adalah sikap reaktif SBY jika sedang diserang isu di mana SBY menyampaikan kegelisahannya dengan curhat di depan publik. Selama ini, suka atau tidak suka, media televisi sebagai “opinion leader” telah membentuk interpretasi berdasarkan pandangannya bahwa pernyataan-pernyataan SBY tersebut merupakan “cuhat/curahan hati sang presiden”. Media menjustifikasi SBY sebagai “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, dan berbagai sebutan yang dapat melemahkan citra SBY.Namun, di Istana Negara pada Senin (8/10) malam, melalui pidatonya Presiden SBY menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam bersikap. SBY yang kerap dianggap absen ketika terjadi konflik, kali ini hadir di saat kekisruhan antara KPK dan Polri semakin memanas. Pangkal persoalannya adalah ketika pemberitaan kasus korupsi simulator SIM ditubuh POLRI mulai melebar dan menjadi isu panas serta memunculkan istilah “Cicak vs Buaya Jilid II” dalam berbagai pemberitaan hingga menyulut pertikaian antara KPK dan POLRI.Sontak peristiwa tersebut juga diliput berbagai media termasuk televisi, bahkan berbagai stasiun televisi seperti Metro TV, TV One, TVRI menayangkan pidato tersebut secara penuh dan langsung. Pernyataan Presiden SBY tersebut memang ditunggu-tunggu. Banyak kalangan yang meminta agar konflik yang melanda dua institusi penegak hukum tersebut harus segera diakhiri dan presiden menepati janjinya untuk buka suara dalam menyelesaikan konflik ini. Dalam pidatonya tersebut Presiden SBY menyampaikan Lima Keputusan (solusi) Presiden soal konflik Polri dan KPK. Setelah pidato tersebut banyak kalangan dan masyarakat yang mengapresiasi/memuji substansi pidato tersebut, mereka menilai pidato tersebut cukup tegas. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi dan menimbulkan opini publik serta persepsi yang berbeda-beda dari para audiensnya.Penelitian ini hanya untuk menguji hipotesis di mana diasumsikan sementara bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Namun tidak untuk mengetahui efektivitas atau pengaruh dari ketiga variabel di atas. Pembatasan penelitian kali ini hanya dilakukan terhadap masyarakat yang pernah terterpa pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi (dalam hal ini tentang pernyataan presiden SBY dalam menengahi konflik KPK-POLRI pada tanggal 8 Oktober 2012), serta yang telah berusia 18 tahun ke atas. Diharapkan pada pembahasan kita dapat mengetahui hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.PEMBAHASANTerdapat beberapa teori yang mendasari dari terbentuknya hipotesis di atas, yaitu:McQuail (1987: 263) menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan oleh berita sendiri adalah kebanyakan efek yang ditimbulkannya berupa tambahan pengetahuan tentang informasi faktual berjangka waktu pendek; barangkali juga pembentukan cara pandang terhadap gambarandunia dan masyarakat yang berjangka waktu panjang, serta kerangka berfikir untuk menafsirkan makna pelbagai peristiwa. Berita memiliki kecenderungan yang normatif dan dirancang atau didayagunakan untuk membentuk dan menunjang nilai-nilai dan pandangan tertentuMenurut teori hierarki efek (Liliweri, 1991:39) secara umum terdapat tiga efek dari komunikasi massa, yaitu: (a) efek kognitif, pesan komunikasi massa mengakibatkan khalayak berubah dalam hal pengetahuan, pandangan, dan pendapat terhadap sesuatu yang diperolehnya; (b) efek afektif, di mana pesan komunikasi massa mengakibatkan berubahnya perasaan tertentu dari khalayak. Orang dapat menjadi lebih marah dan berkurang rasa tidak senangnya terhadap sesuatu akibat membaca surat kabar, mendengarkan radio, atau menonton televisi; (c) efek konatif, akibat pesan komunikasi massa mengakibatkan orang mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.Sedangkan terpaan sendiri, menurut pendapat Shore (Kriyantono, 2006: 204-205), lebih dari sekedar mengakses media. terpaan tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisik cukup dekat dengan kehadiran media massa, akan tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbuka terhadap pesan-pesan media massa tersebut. Terpaan merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut yang dapat terjadi pada tingkat individu maupun kelompok.Menurut Baldoni (Kaban, 2009:51) keberhasilan seorang pemimpin, termasuk presiden, sesungguhnya sangat ditentukan oleh kepiawaiannya berkomunikasi, karena melalui komunikasi, pemimpin membangun trust (kepercayaan) kepada rakyat atau pengikutnya. Pernyataan-pernyataan Presiden SBY yang dikutip oleh media tersebut adalah bagian dari naskah/teks pidatonya sebagai kepala negara, di mana pidato sendiri dapat digolongkan sebagai sebuah retorika politik. Heryanto dan Zarkasy dalam bukunya Public Relations Politik (2012:118) mendefinisikan retorika politik sebagai seni berbicara pada khalayak politik dalam upaya mempengaruhi khalayak tersebut agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh komunikator politik.Secara konseptual, ketiga variabel pada penelitan ini memiliki definisi sebagai berikut:1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiKemampuan seseorang untuk menceritakan/menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi tersebut setelah mereka melakukan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan pemberitaan tentang korupsi di televisi.2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiKhalayak, dalam hal ini masyarakat, menonton televisi kemudian terkena terpaan pernyataan Presiden SBY sehingga mereka mampu untuk menceritakan/menjelaskan kembali pesan-pesan yang terkandung dalam terpaan pernyataan tersebut.3. Tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintahAdalah penilaian masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY dalam menerapkan dan menjalankan sejumlah program aksi prioritas yang merupakan rumusan dan penjabaran yang lebih operasional dari Visi dan Misi pemerintah 2009-2014.Dalam penelitian ini, terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mencari tahu varibel terpaan pemberitaan korupsi di televisi, pernyataan Presiden SBY di televisi, dan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiMerupakan kemampuan khalayak menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi. Variabel ini diukur dengan melihat seberapa jauh pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap kasus-kasus korupsi yang diberitakan di televisi.Tolok ukur:a. pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi :- Korupsi Al Qur’an- Korupsi Sport Centre Hambalang- Korupsi Simulator SIM- Korupsi Suap Bupati Buol- Korupsi Wisma Atlet di Palembangb. siapa pelaku dan siapa saja yang terlibat2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiTerpaan pernyataan Presiden SBY di televisi diukur dengan indikator:Pengetahuan responden/khalayak mengenai pemberitaan tentang pernyataan pernyataan SBY. Tolok ukurnya adalah khalayak/masyarakat mengetahui dan bisa menerangkan kembali isi pesan pernyataan Presiden SBY di televisi, pada pernyataan SBY tentang konflik KPK-POLRI.3. Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada PemeritahVariabel ini diukur dengan indikator:Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam menerapkan dan menjalankan :a. Program Aksi Perbaikan dan Pelaksanaan Tata Kelola Pemerintahan yang BaikTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pengawasan kinerja dan dampak reformasi, termasuk pemberantasan korupsi dan penerapan disiplin dan hukuman yang tegas bagi pelanggaran sumpah jabatan, aturan, disiplin, dan etika kerja birokrasi. (Misalnya: Pemerintah dalam hal ini Presiden SBY berani menegur bahkan mencopot pejabat yang melanggar sumpah jabatan /termasuk terlibat korupsi).2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas layanan pemerintahan dengan perumusan standar pelayanan minimum yang diketahui masyarakat beserta pemantauan pelaksanaannya oleh masyarakat (misalnya: perekrutan pegawai/tender sampai pengangkatan pejabat struktural dalam sebuah lembaga/ departemen/pemerintah daerah dilaksanakan secara transparan dan akuntabel sehingga dapat dipantau masyrakat luas).b. Program aksi Penegakan HukumTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam memperbaiki law enforcement (misal: memperbaiki mutu dan integritas aparat penegak hukum baik di Kepolisian, Kejaksaan maupun Pengadilan)2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meninjau ulang dan memperbaiki peraturan yang menyangkut penegakan hukum termasuk pengaturan hak-hak polisi, peraturan-peraturan pelaporan, dan aturan pelayanan dari aparat penegak hukum. (misal: membuat aturan main/peraturan perundang-undangan yang tegas termasuk terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh oknum penegak hukum serta memberi jaminan kepastian hukum dan keadilan bagi semua)3) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pencegahan dan penindakan korupsi secara konsisten dan tanpa tebang pilih.Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji hipotesis mengenai hubungan kausal antar variabel yang diteliti, yaitu hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi (X1) dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (X2) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang pernah melihat pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 40 orang, dengan teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling (metode tak acak) dengan proses sampling purposif. Sampling purposif adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti. Teknik ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian.Digunakan analisis yang bersifat kuantitatif untuk menguji hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (variable X) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (variabel Y). Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan uji statistik yang menggunakan analisis koefisien korelasi dan konkordansi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).Hasil dari penelitian ini, menyatakan bahwa terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik di mana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,805 dan koefisien korelasi sebesar -0,037. Oleh karena sig sebesar 0,805 > 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menolak hipotesis alternatif (Ha) dan menerima hipotesis nol (Ho). Pernyataan presiden SBY di televisi ternyata berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini berdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,050 dan koefisien korelasi sebesar -0,294. Oleh karena sig sebesar 0,050 = 0,05 (tidak lebih besar dari 0,05); maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima hipotesis alternatif (Ha) dan menolak hipotesis nol (Ho). Sedangkan apabila ketiganya dikaitkan dengan uji Konkordansi Kendall ternyata hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah,Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.Berdasarkan uji statistik didapati bahwa ternyata tidak terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, hal ini bisa dijelaskan dengan menggunakan teori perbedaan-perbedaan individu mengenai pengaruh komunikasi massa (the individual differences theory of mass communication effect), di mana menurut teori ini bahwa tiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaannya maupun nilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasi massa juga berbeda (Liliweri, 1991:106). Bahkan menurut De Fleur (Liliweri, 1991:105) menambahkan bahwa setiap individu memilki kepribadian masing-masing yang akan mempengaruhi juga perilaku mereka dalam menanggapi sesuatu.Setelah dilakukan pencarian dan pengolahan data, diperoleh hasil bahwa terdapat kecenderungan hubungan negatif antara terpaan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hasil tersebut cukup beralasan karena meskipun dalam kenyataannya banyak kalangan yang menilai pidato SBY kali ini cukup baik (karena dari poin-poin yang disampaikan SBY yang berpihak pada keinginan publik dan media), namun timing/waktu SBY yang tidak cepat (terkesan terlambat) dalam memberikan pernyataan dalam menengahi konflik KPK-POLRI, membuat persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintah menjadi negatif. Seperti yang dingkapkan Priyatno Harsasto, Pengajar Universitas Diponegoro, Semarang dalam tanggapannya mengenai konflik KPK-Polri terkait kasus simulator SIM ini, bahwa menurutnya keterlambatan dalam mengambil keputusan, hanya akan menimbulkan kesan bahwa Presiden kurang berpihak pada upaya pemberantasan korupsi. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambat).Artinya ada penanganan manajemen krisis yang lamban oleh pemerintah. Kekisruhan hukum dan politik dalam kasus KPK-POLRI “jilid II” dengan mempertontonkan dramaturgi sosok penguasa dan penegak hukum yang saling antagonistik di ruang publik melalui media inijustru semakin memberikan banyak pengetahuan masyarakat akan apa yang sebenarnya terjadi pada kasus tersebut. Pemberitan tersebut menjadi isu panas, dan selalu menempati menu pemberitaan utama media dalam waktu yang cukup lama (frekuensi penayangan/pembahasan yang sering). Dengan berlarut-larutnya konflik pada akhirnya justru semakin meneguhkan kesan kekurangseriusan pemerintah dalam menangani kasus korupsi.Hal tersebut sesungguhnya juga tak bisa dilepaskan dari citra/image negatif SBY yang selama ini melekat pada dirinya. Melalui media, SBY memang sering digambarkan sebagai seorang presiden yang “peragu”, “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, “mementingkan pencitraan” dan berbagai sebutan minor lainnya. Hal ini sebenarnya menyiratkan bahwa komunikasi politik yang dilakukan SBY melalui pidato/pernyataannya di media mengalami apa yang disebut oleh Liliweri (1991:27) sebagai hambatan prasangka. Menurut Rose (Liliweri, 1991:27) prasangka merupakan suatu sikap dari seseorang yang mencurigai orang lain dengan membanding-bandingkannya dengan diri sendiri atau orang lain yang lain yang mengarah kepada suatu perasaan yang negatif. Kalau saja hal ini terjadi maka setiap pesan yang disampaikan oleh seseorang, ataupun komunikator dalam komunikasi tidak dipercayai karena penerima telah mempunyai sikap apriori terlebih dahulu.Melalui hasil pencarian dan pengolahan data dalam penelitian ini ternyata membuktikan bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, namun begitu arah hubungan pada variabel terpaaan pernyataan presiden SBY dan tingkat kepercayaan memiliki arah kecenderungan hubungan negatif. Kedua variabel tersebut merupakan faktor yang mendorong rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan SBY kali ini, yaitu dalam menjalankan visi misi seperti yang diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranya mewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Rakhmat (2001:130) menyatakan bahwa ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya, yaitu: menerima, empati dan kejujuran.Masyarakat menilai bahwa pemerintahan SBY tidak memiliki ketiga hal tersebut, melalui gencarnya pemberitaan tentang korupsi menandakan bahwa tidak adanya kejujuran dalam penyelenggaraan pemerintahan, serta keseriusan dalam memberantas praktek-praktek korupsi. Selain itu pidato/pernyataan-pernyataan SBY selama ini (yaitu pernyataan SBY tentang konflikKPK-POLRI) yang merupakan bentuk empati terhadap keinginan masyarakat di mana pernyataan SBY dalam pidato ini sesungguhnya merupakan bentuk komitmen pemerintahan SBY Jilid II ini dalam upaya pemberantasan korupsi, karena poin-poin dalam pidato tersebut sesungguhnya mencerminkan keberpihakan SBY pada keinginan masyarakat, namun ternyata juga tak diterima dengan baik oleh masyarakat.PENUTUP1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.2. Terdapat hubungan negatif antara pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.SARAN1. Media massa dapat berperan penting dalam membongkar korupsi, dalam keadaan seperti ini media diharapkan dapat menjadi fasilitas penyampaian informasi serta menegakkan transparansi. Karena jika kurang adanya transparansi, hal ini akan menyebabkan buruknya kinerja aparat pemerintah dan penyebab maraknya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Untuk itu media massa dalam hal ini televisi diharapkan mampu memberikan informasi yang objektif, faktual dan tanpa bertendensi, maka check and rechek, akurasi, keberimbangan dan independensi harus selalu dilakukan semua perusahaan media massa (televisi) di Indonesia dalam sebuah produksi pemberitaan termasuk menyangkut sebuah opini dan perspektif atas suatu kasus. Selain itu dengan semakin banyak publikasi dan pemberitaan tersebut nantinya diharapkan akan memberikan beban bagi pemerintah untuk membuktikan itikadnya.2. Bagi presiden SBY disarankan untuk perlu memperbaiki citra/kredibilitasnya, yaitu dengan lebih membuktikan keseriusanya pada masyarakat dalam melaksanakan visi misi pemerintahannya yang dulu diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranyamewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Perlu juga dicatat bahwa bebagai strategi komunikasi politik dalam rangka untuk meningkatkan citra akan sia-sia jika tidak disertai dengan kinerja nyata dari pemerintah. Dalam kaitannya dengan kegiatan komunikasi politik terutama berkaitan dengan pidato di depan umum/media, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tindakan retorika tidak hanya cukup berbekal argumen yang meyakinkan belaka melainkan juga harus mampu menampilkan sosok komunikator sebagai komunikator yang kredibel dan terpercaya.3. Pemerintah dalam hal ini presiden SBY harus cepat dalam mengambil keputusan, termasuk dalam memberikan pernyataan melalui pidato dengan tujuan memberikan penjelasan kepada publik sekaligus sebagai instruksi bagi penanganan kasus tersebut. Hal ini didasarkan pada kasus korupsi Simulator SIM yang berujung pada konflik KPK-POLRI serta kaitannya dengan pidato/pernyataan SBY terkait konflik tersebut, ini membuktikan bahwa krisis yang berlarut-larut justru akan menjadi bahan konsumsi/sorotan publik melalui media massa, sehingga akan berpengaruh terhadap kredibilitas pemerintah di mata masyarakat, untuk itu perlu adanya manajemen krisis yang tepat dan cepat dari pemerintah dalam hal ini presiden selaku pimpinan.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi dan Komunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha IlmuFahmi, A. Alatas. 1997. Bersama Televisi Merenda Wajah Bangsa. Jakarta: YPKMDHamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: GranitHeryanto, Gun Gun dan Irwa Zarkasy. 2012. Public Relations Politik. Bogor: Ghalia IndonesiaKartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar MajuKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLiliweri, Alo.1991. Memahami Peran Komunikasi dalam Masyarakat. Bandung: Citra Aditya BaktiLuwarso,Lukas dkk. 2004. Media dan Pemilu 2004. Jakarta: SEAPAMcQuail, Denis.1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : ErlanggaMuhtadi, Asep Saeful. 2008. Komunikasi Politik Indonesia: Dinamika Islam Politik Pasca-Orde Baru. Bandung: Remaja RosdakaryaMulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa : Kontroversi, Teori dan Aplikasi. Bandung : Widya PadjajaranNugroho D, Riant. 2004. Komunikasi Pemerintahan. Jakarta: Elex Media KomputindoNurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : CespurRakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja RosdakaryaSamsuri. 2004. Media dan Transparansi. Jakarta: SEAPASeverin, Werner J. dan James W. Tankard Jr. 2005. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Jakarta: KencanaSingarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3SSudibyo, Agus. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta : LKISSuparmo, Ludwig. 2011. Crisis Management dan Public Relations. Jakarta: IndeksSuwardi, Harsono dan Sasa Djuarsa Sandjaja dan Setio Budi (eds). 2002. Politik, Demokrasi dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Galang PressWest, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi Edisi 3 Buku 2. Jakarta : Salemba HumanikaWinarni. 2003. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM PressWiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : GrasindoLain-LainKaban, Ramon, “Komunikasi Politik Presiden RI: Dari Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono (Perspektif Karakteristik Tokoh)”. Observasi, vol. 7, No.2, tahun 2009, hal. 60Kompas, Minggu 24 Januari 2010. Berita Menggeser Sinetron.http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/kpk-vs-polri-pidato-sby-banjir-pujian-maupun-sindiranhttp://jambi.tribunnews.com/m/index.php/2012/10/04/koruptor-makan-uang-negara-rp-122-triliun-satu-semesterhttp://m.antaranews.comberita-fokushttp://mediacenter.kpu.go.id/images/mediacenter/VISI_/VISI_MISI_SBY-Boediono__ FINAL__ke_KPU_25_Mei_2009__A4_.pdfhttp://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/07/22/132616/Nazaruddin-Muncul-di-Metro-TVhttp://nasional.kompas.com/read/2012/10/06/2020573/Abraham.Berharap.Presiden.Selesaikan.Konflik.KPK-Polrihttp://nasional.kompas.com/read/2009/07/23/18004364/SBY-Boediono.Menang.60.80. Persenhttp://news.detik.com/read/2011/06/27/113024/1669317/10/sby-diminta-stop-curhat-dan-politik-pencitraanhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/065802/2057818/10/sby-pantas-menuai-pujian?nd771108bcjhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/060346/2057812/10/icw-pidato-sby-sudah-tegas-pelaksanaannya-harus-dikawal-bersama?nd771108bcjhttp://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468071/pemberantasan-korupsi-di indonesia-peringkat-2-dari-bawahhttp://politik.kompasiana.com /2011/01/25/paradoks-komunikasi-sby/http://pustakawan.pnri.go.id/uploads/media/5/APLIKASIFILSAFATDALAMILMUKOMUNIKASI.dochttp://www.antaranews.com/berita/1295860097/pakar-media-berlebihan-soal-pernyataan-presidenhttp://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/10/kpk-vs-polri-pidato-sby-dinilai-terlalu-berhati-hati/http://www.indonesiafinancetoday.com/read/13548/Berita-Nazaruddin-Dorong-Pertum buhan-Pemirsa-TV-di-Juli-Agustushttp://www.kpi.go.id/component/content/article/14-dalam-negeri-umum/30399-partai-demokrat-adukan-tv-one-dan-metro -tv-ke-kpihttp://www.metrotvnews.comreadnewsprograms2012061512932121Kegalauan-Yudhoyono-.htmhttp//www.metrotvnews.com/readnews/2012031885449SBY-Ada-Gerakan-Aneh-untukJatuhkan-Pemerintah1http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambathttp://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/09/12/lrevtp-perkara-korupsi-di-indonesia-mencapai-1018-kasushttp://www.tempo.co/read/news/2009/07/22/078188554/SBY-Pidato-Saya-Dipelintir-dan-Diputarbalikanhttp://www.youtube.com/watch?v=qikfqfktb-8http://video.tvonenews.tv/arsip/view/62583/2012/10/07/ketua_kpk_berharap_presiden_turun_tangan_dalam_konflik_kpk _dan_ polri.tvOnehttp://video.tvonenews.tv/arsip/view/62639/2012/10/08/pidato_presiden_ri_terkait_kisruh_polri_dan_kpk.tvOne
Co-Creation dengan Komunitas Bike to Work Indonesia Sebagai Strategi Komunikasi Pemasaran Polygon Muhamy Akbar Iedani; Djoko Setyabudi; Nurist Surraya Ulfa; Tandiyo Pradekso; Eka Ardianto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.238 KB)

Abstract

Konsumen yang aktif berkomunitas memiliki kecenderungan untuk secara aktif mencari informasi, membagikannya, serta saling mempengaruhi antar anggota komunitas. Selain itu konsumen yang saling terhubung secara aktif meningkatkan nilai produk yang mereka konsumsi, sehingga perusahaan harus memberikan ruang gerak lebih luas bagi komunitas dalam proses penciptaan ide, aktifitas promosi, merek, atau produk bersama mereka dalam rangka meningkatkan loyalitas konsumen, mengurangi resiko kegagalan produk, mengurangi biaya promosi, dan menjaga stabilitas keuangan perusahaanatau yang disebut dengan istilah co-creationseperti yang dilakukan oleh produsen sepeda Polygo n dan komunitas Bike to Work Indonesia. Kolaborasi yang dilakukan Polygon dan Bike to Work merupakan salah satu contoh impelementasi strategi co-creationdengan pendekatan penciptaan produk. Tujuan penelitian iniadalah untuk mendeskripsikan implementasi co-creationsebagai strategi komunikasi pemasaran Polygon dengan komunitas Bike to Work Indonesia. Penelitian ini menggunakan konsep Consumunity Marketing (Ardianto dan Soehadi, 2013), Brand Co-creation(Hatch dan Schultz, 2010), DART Model in Co-creation(Prahalad dan Ramaswamy, 2004), Co-creationof Value (Ardianto dan Soehadi, 2013), dan Engagement in Co-creation(Smith dan Zook, 2011). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi partisipan serta analisis data menggunakan grounded theoryHasil penelitian menunjukkan bahwa engagementmerupakan langkah awal dalam melakukan co-creationsekaligus sebagai faktor utama dalam proses tersebut. Faktor pendukung co-creationberupa kesamaan nilai dan pesan, adanya dialog, transparansi, akses, dan pengelolaan resiko. Proses co-creationharus berlanjut pada proses co-communicationuntuk mengkomunikasikan hasil co-creationkepada khalayak luas (pasar) sehingga tujuan dari co-creationdapat tercapai. Semua proses awal co-creationhingga keberlangsungannya tersaji dalam model co-creation. Kata kunci: komunikasi pemasaran, konsumen, komunitas, engagement, co-creation
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Bagoes Widjanarko Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo Nur Suyanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu widagdo Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurul Hasfi Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Trixie Salawati Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti