Claim Missing Document
Check
Articles

Freeze-Dried Phycocyanin Microcapsules: Effect of Maltodextrin-Soy Protein Ratios on Encapsulation Efficiency and Particle Properties Siti Aisiyah; Ira Juliani Anwar; Dian Marlina; Ana Indrayati; Desi Purwaningsih
Advance Sustainable Science Engineering and Technology Vol. 8 No. 3 (2026): May - July
Publisher : Science and Technology Research Centre Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v8i3.2759

Abstract

Natural pigments such as phycocyanin are highly sensitive to environmental conditions and therefore require stabilization to broaden their applications in functional products. This study aimed to evaluate the effect of varying ratios of maltodextrin and soy protein isolate (SPI) on the physical properties and encapsulation performance of freeze-dried phycocyanin microcapsules. Phycocyanin was extracted using phosphate buffer and encapsulated in three formulations with different maltodextrin–SPI proportions. The obtained microcapsules were characterized using UV–Vis spectrophotometry and particle size analysis (PSA) to determine encapsulation efficiency (EE), yield, moisture content, purity index, and particle size distribution. All experiments were performed in triplicate (n = 3), and data were analyzed using one-way ANOVA (p < 0.05). The formulation with a higher proportion of maltodextrin exhibited the best performance, achieving high EE (≈96%), low moisture content, and uniform particle size. These findings highlight that optimizing biopolymer combinations can enhance the quality and stability of phycocyanin microcapsules, demonstrating potential applications in functional food and pharmaceutical formulations.
Cross-Sectional Study: Psychosocial Factors and Blood Pressure Abnormalities Among Students of the Faculty of Economics and Business, UPN Veteran Jakarta Sheren Aurellia; Maria, Ima; Desi Purwaningsih; Marlina Dewiastuti
Jambi Medical Journal : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 14 No. 1 (2026): JAMBI MEDICAL JOURNAL: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jmj.v14i1.59227

Abstract

Background: Hypertension and prehypertension affect 10% and 14% of adolescents and young adults globally. Among university students, psychosocial stress, sleep disturbances, depression, anxiety, and caffeine consumption may synergistically trigger endothelial dysfunction and neurohumoral activation, serving as early predictors of hypertension. This study assessed the association between psychosocial factors (stress, anxiety, depression, sleep quality) and caffeine consumption with blood pressure among students of the Faculty of Economics and Business, UPN "Veteran" Jakarta, class of 2024. Method: A cross-sectional design was used, with a total population of 1,204 students, from which 66 respondents were selected via simple random sampling. Univariable and bivariable analyses were performed. Result: No significant associations were found between depression, anxiety, sleep quality, stress, caffeine intake, and blood pressure (p > 0.05), possibly due to cardiovascular homeostasis mechanisms that remain optimal in young adults, as well as chronic caffeine exposure containing bioactive compounds with antihypertensive properties that help maintain stable blood pressure. Conclusion: Depression, anxiety, stress, sleep quality, and caffeine consumption did not significantly affect blood pressure among these students. Continued monitoring of mental health and stress management by both students and institutions is recommended as part of long-term preventive strategies.
Hubungan Anemia Pada Kehamilan Trimester Pertama dengan Berat Badan Lahir Rendah di Rumah Sakit Rujukan Urban Tahun 2024 – 2025 Natasya Alya Chaerunisa; Adi Sukrisno; Desi Purwaningsih; Fachri Razi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60941

Abstract

Berat badan lahir rendah (BBLR) masih menjadi masalah kesehatan yang berkontribusi terhadap meningkatnya angka kesakitan dan kematian neonatal. Salah satu faktor yang berperan adalah anemia pada ibu hamil, yang dapat menurunkan kemampuan darah membawa oksigen sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di RS Rujukan Urban. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh dari rekam medis 234 ibu dan bayi yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Status anemia ditentukan berdasarkan kadar hemoglobin, sedangkan BBLR berdasarkan berat badan lahir. Analisis menggunakan uji Chi-Square dan Prevalence Ratio (PR) dengan p<0,05. Sebanyak 54 ibu (23,1%) mengalami anemia dan 87 bayi (37,2%) lahir dengan BBLR. Ibu anemia lebih banyak melahirkan bayi BBLR (74,1%) dibandingkan ibu tanpa anemia (26,1%). Terdapat hubungan bermakna antara anemia pada ibu hamil dan kejadian BBLR (p<0,001), dengan PR 2,837 (95% CI: 2,118–3,799). Disimpulkan bahwa anemia pada ibu hamil berhubungan signifikan dengan kejadian BBLR di RS Pelni. Pencegahan anemia melalui pemantauan hemoglobin rutin, suplementasi zat besi, dan optimalisasi pelayanan antenatal diperlukan untuk menurunkan risiko BBLR.
Edukasi Cara Konsumsi Obat Antituberkulosis pada Pasien di Rumah Sakit X Ikhsan Budi; Desi Purwaningsih; Uta Provinsiana Sukmara; Seftiwan Pratami Djasfar; Dara Juliana; Wilfadri Putra Jonesti
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34697/jai.v6i3.4230

Abstract

Tuberkulosis memerlukan pengobatan dengan obat antituberkulosis (OAT) secara teratur dan sesuai regimen. Pemahaman pasien mengenai cara konsumsi obat merupakan bagian penting dalam mendukung kesinambungan pengobatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi langsung dan mengevaluasi pemahaman pasien mengenai cara konsumsi OAT yang benar. Kegiatan dilaksanakan di Poliklinik Paru dan ruang rawat inap paru Rumah Sakit X pada Juli 2026. Peserta berjumlah 15 pasien yang sedang menjalani pengobatan tuberkulosis. Edukasi diberikan secara langsung dan individual dengan materi meliputi konsumsi OAT sesuai dosis, frekuensi, waktu, dan lama pengobatan yang ditetapkan tenaga kesehatan; pentingnya tidak menghentikan obat tanpa instruksi; serta pelaporan keluhan atau efek samping kepada petugas kesehatan. Pemahaman dievaluasi segera setelah edukasi menggunakan metode menjelaskan kembali (teach-back). Pasien dinyatakan paham apabila mampu menjelaskan kembali cara konsumsi OAT sesuai regimen yang diterimanya dengan benar. Peserta terdiri atas 8 laki-laki (53,3%) dan 7 perempuan (46,7%). Sebanyak 10 pasien (66,7%) berusia 18–45 tahun dan 5 pasien (33,3%) berusia lebih dari 45 tahun. Seluruh pasien (15 orang; 100%) mampu menjelaskan kembali cara konsumsi OAT dengan benar. Edukasi individual disertai evaluasi teach-back dapat diterapkan sebagai metode sederhana untuk memastikan pemahaman segera pasien. Evaluasi berulang tetap diperlukan untuk menilai retensi pengetahuan, kepatuhan, dan hasil pengobatan dalam jangka panjang.
Comparing Conventional and Modern Methods for The Phycocyanin Extraction from Spirullina sp Dian Marlina; Desi Purwaningsih; Reny Pratiwi; Ryan Werytama Saputra; Widiastuti Setyaningsih; Supriyono Supriyono
Advance Sustainable Science Engineering and Technology Vol. 6 No. 3 (2024): May - July
Publisher : Science and Technology Research Centre Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v6i3.907

Abstract

Spirulina platensis, a blue-green algae abundant in tropical regions, is rich in minerals, vitamins, fibers, and pigments, with low nucleic acid content. It has unique chromoproteins called phycobiliproteins, notably phycocyanin, used in various applications. This study aims to optimize phycocyanin extraction using different solvents (distilled water and sodium phosphate buffer pH 6.7) and methods (freeze-thaw and sonication). Spirulina platensis biomass was extracted in both solvents, then some of them was freeze for 24 and 48 hours followed by thawing overnight. The other was sonicated for 2.5 minutes, 50 Hz then soaked for 1, 2, and 3 hours. All of the samples were centrifuged at 6000 rpm for 10 minutes and the absorbance was measured using a UV-Vis spectrophotometer at wavelengths of 280, 620, and 650 nm. with freeze-thawing for 48 hours yielded the highest phycocyanin concentration (0.55%), with a yield of 11.07 and purity of 0.21. Sonication improved phycocyanin concentration, yield, and purity significantly, yielding 1.108, 25.85, and 0.26, respectively.
Edukasi Faktor Resiko Penyakit Paru Obstruktif Kronik pada Pasien di RS X Ikhsan Budi; Desi Purwaningsih; Seftiwan Pratami Djasfar; Wilfadri Putra Jonesti; Dara Juliana
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesosi Vol. 8 No. 1 (2025): Januari: Jurnal Abdimas Kesosi
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kesetiakawanan Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/abdimas.v8i1.261

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronis atau PPOK merupakan penyakit peradangan yang bisa terjadi dalam jangka waktu yang lama atau kronik. Banyaknya angka mortalitas yang terjadi di seluruh dunia disebabkan oleh berbagai penyakit yang berbahaya. PPOK menjadi salah satu penyakit yang menjadi penyebab utama banyaknya angka kematian di dunia. Salah satu penyebab utama terjadinya penyakit PPOK adalah terkenanya paparan asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun perokok pasif. Pemberian edukasi tentang bahaya kebiasaan merokok diperlukan agar masyarakat lebih menyadari tentang akibat bahaya yang timbul dari asap rokok yang sering dianggap aman dan tidak memiliki bahaya untuk kesehatan. Kegiatan dilakukan pada bulan Desember 2024 di salah satu RS swasta di Tangerang dengan metode pengisian kuesioner oleh pasien dan dilanjutkan dengan pemberian edukasi mengenai faktor risiko PPOK, Kuesioner yang dibagikan terdiri dari lima bagian yaitu identitas diri pasien perokok, riwayat perokok, lingkungan, riwayat Kesehatan pasien, dan edukasi pasien terkait bahaya merokok. Peserta yang mengikuti kegiatan pengabdian ini secara keseluruhan berjenis kelamin laki-laki, dengan rentang usia 21-72 tahun, dan 66.67% merupakan perokok aktif, sedangkan 33.37% merupakan perokok pasif karena mereka tinggal dan sering bersinggungan dengan para perokok aktif. Asap rokok dari perokok aktif dan pasif menjadi penyebab utama terjadinya PPOK. Dari hasil pengabdian ini dapat disimpulkan bahwa PPOK sangat beresiko terjadi pada laki-laki, lansia, dan perokok aktif yang bisa menyerang paru-paru dan menyebabkan kematian.
EDUKASI FAKTOR RISIKO ASMA EKSASERBASI BERAT PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT X Ikhsan Budi; Desi Purwaningsih; Seftiwan Pratami Djasfar; Dara Juliana; Wilfadri Putra Jonesti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesosi Vol. 8 No. 2 (2025): Juli: Jurnal Abdimas KESOSI
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kesetiakawanan Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/abdimas.v8i2.303

Abstract

Asma merupakan salah satu masalah kesehatan global yang menyerang sekitar 300 juta orang dan menyebabkan ribuan kematian setiap harinya, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Di Indonesia, asma memiliki prevalensi tinggi dengan dampak signifikan terhadap kualitas hidup dan angka kematian. Salah satu kondisi yang berisiko tinggi menyebabkan kematian adalah eksaserbasi berat asma, yang dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti infeksi saluran napas, paparan polusi, alergi, serta ketidakpatuhan terhadap pengobatan. Kurangnya pengetahuan pasien tentang faktor risiko ini berkontribusi terhadap tingginya angka kekambuhan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Rumah Sakit X dengan tujuan memberikan edukasi kepada pasien asma mengenai faktor risiko eksaserbasi berat dan upaya pencegahannya. Metode yang digunakan meliputi edukasi langsung kepada pasien dan keluarga pasien serta survei untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal pasien. Hasil menunjukkan bahwa hanya 22,22% responden mengetahui faktor risiko eksaserbasi, yang semuanya adalah pasien dengan riwayat asma lebih dari lima tahun. Edukasi ini meningkatkan pemahaman pasien terhadap pengelolaan asma dan pentingnya penghindaran faktor risiko, yang diharapkan dapat menurunkan angka eksaserbasi berat, memperbaiki kualitas hidup, dan menurunkan angka kematian akibat asma.