Claim Missing Document
Check
Articles

PENETAPAN KAWASAN BERSEJARAH SEBAGAI SEBUAH USAHA PELESTARIAN Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.21.1.1-8

Abstract

ABSTRAK.  Sebuah Kawasan bersejarah yang memiliki nilai sejarah dan berkarakter akan menjadi lebih signifikan jika telah ditetapkan sebagai sebuah Kawasan bersejarah secara hukum baik dengan ketetapan tingkat lokal, nasional maupun internasional. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam mengenai apa itu penetapan Kawasan bersejarah dan bagaimana manfaatnya bagi masyarakat khususnya dan negara umumnya. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode eksploratif dengan pembahasan menggunakan pendekatan deskriptif naratif. Narasi hasil yang dipaparkan dalam artikel ini adalah bagaimana manfaat penetapan Kawasan bersejarah menjadi signifikan ketika dikaitkan dengan identitas sebuah bangsa umumnya dan sebuah kota khususnya. Kata Kunci: Kawasan bersejarah, pelestarian, penetapan, identitas ABSTRACT. A historic area with historical value and character will be more significant if legally designated as a historical area with local, national, or international regulations. This paper aims to examine more deeply what the designation of a historical site is and how it benefits the community in particular and the country in general. The method used in this study is an explorative method with a discussion using a descriptive narrative approach. The final result presented in this article is how the benefits of establishing a historic area become significant when associated with the identity of a nation in general and a city in particular. Keywords: historical site, preservation, designation, identity
KAJIAN POLA PERMUKIMAN DUSUN NGIBIKAN YOGYAKARTA DIKAITKAN DENGAN PERILAKU MASYARAKATNYA Alreiga Referendiza Wiraprama; Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.13.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Pola permukiman masyarakat desa biasanya dipengaruhi oleh lokasi desa, iklim, serta adat budaya desa tersebut. Di antara adat budaya yang ada, beberapa di antaranya telah melekat kedalam diri masyarakat desa sehinggga membuat sebuah kebiasaan dan perilaku yang tercermin dari bagaimana cara mereka bersosialisasi terhadap sesama. Di sebuah dusun yang terletak di desa Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, kehidupan bermasyarakat dan gotong royong yang turun temurun menjadi sebuah budaya dan kebiasaan dari masyarakat telah membawa dusun ini bangkit dari keterpurukan atas terjadinya bencana gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006. Tak hanya itu, berkat gotong royong dan kerja keras masyarakat membangun desanya kembali, desa ini berhasil masuk dalam nominasi Aga Khan Award pada tahun 2010 di Doha, India. Tentunya atas prakarsa arsitek senior, Eko Prawoto, yang telah menggerakkan hati masyarakat dan membuatkan sebuah desain yang unik untuk merekonstruksi kembali desa itu. Desa ini bernama dusun Ngibikan. Desa yang memiliki warisan leluhur yang tetap dijaga baik, warisan yang membuat desa ini mendapatkan predikat sebagai desa yang memiliki konsep Arsitektur Komunitas di dalamnya, yaitu konsep dimana pembangunan desa berbasis pada kebutuhan dan keinginan komunitas/ masyarakatnya, hal tersebut dikenal dengan warisan hidup bergotong royong. Perilaku masyarakat yang membentuk suatu pola permukiman pedesaan yang indah dan nyaman untuk dihuni.Kata kunci: pola permukiman, dusun ngibikan, perilaku masyarakat ABSTRACT. This research is aimed to analize the relation between patterns of settlement with the behavior of the community within the settlement. A case study of Ngibikan village has been conducted as a significant village within Yogyakarta city which had been destroyed by earthquake in 2006. This village has been nominated in Aga Khan Award 2010 in Doha, India, as a village that known well as a village which had been built by community participation or gotong royong’s concept. This village has a well maintaned heritage, that makes this village has been regarded as a village with a concept of community architecture within it. This concept known as a concept of a rural development based on the needs and desires of the community/ society by implementing the concept of community participation or gotong royong. By applying this concept, hopefully could create a settlement for the community which is comfort and livable.Keywords: pattern of settlement, Ngibikan village, community’s behaviour
HERMENETIK SEBAGAI DISKURSUS DALAM ARSITEKTUR Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.2.105-112

Abstract

ABSTRAK.  Dalam sebuah penelitian, dikenal secara umum dua buah metode, yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif. Pada implementasinya, penelitian arsitektur lebih menitikberatkan dengan menggunakan metode kualitatif karena fokus pada obyek penelitiannya lebih kepada penafsiran dan opini akan obyek tersebut. Subyektifitas sangat dirasakan lebih tinggi daripada tingkat obyektifitas pada sebuah penelitian kualitatif, namun tidak menutup kemungkinan bahwa obyektifitas dalam sebuah penelitian kualitatif juga dapat dicapai dengan dasar teori yang cukup kuat sebagai pendukungnya. Tulisan ini merupakan sebuah ulasan mengenai bagaimana ilmu hermenetik atau penafsiran dapat digunakan dalam sebuah penelitian arsitektur. Berbagai teori mengenai hermenetik dituangkan dalam tulisan ini sebagai sebuah diskursus. Tulisan ini juga merupakan bagian dari penelitian yang sedang dilakukan oleh penulis untuk mendukung metode penelitian yang akan dipilih dalam penelitian bidang arsitektur. Tulisan ini juga akan menjawab bagaimana hermenetik dapat digunakan dalam sebuah penelitian arsitektur. Dengan memaparkan ilmu hermenetik dalam tulisan ini, maka dapat diambil sebuah pelajaran tentang bagaimana langkah-langkah serta tahapan dalam menerapkan hermenetik pada penelitian arsitektur.  Kata Kunci: hermenetik, penelitian, arsitektur ABSTRACT. Generally, there is two methods of research, quantitative and qualitative method. In the implementation of the architectural study, a qualitative approach has been used frequently and familiarly, because in architectural research usually focused on interpreting and giving an opinion of something, in this case, an object of the study. And for the result, the subjectivity of architectural research is high compared with the objectivity, but it is not possible to have an objective result in architectural research.  This article is a review of how the extent to which hermeneutic could be used in architectural research, and how the extent to which hermeneutic has a role in architectural discourse. Some theories of hermeneutic will be discussed in this paper as a discourse. This paper is also a part of research that still ongoing to support the method of the study that will be conducted by the researcher in architectural research. By describing this hermeneutic method in this paper, the researcher could underline the lesson about how are the steps and processes in the application of hermeneutic in architectural research.  Keywords: hermeneutics, research, architecture
AN OPTIMALIZATION OF NATURAL LIGHTING BY APPLYING AUTOMATIC LIGHTING USING MOTION SENSOR AND LUX SENSOR FOR HISTORICAL OLD BUILDINGS Saeful Bahri; Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.2.131-140

Abstract

ABSTRACT One of the problems that occurs within city centres, particularly within capital cities, is the existence of many historical old buildings. Historical old buildings within city centres, that have abandoned for years because of their condition, suffer from a lack of utilities, infrastructure and facilities [2][3]. These conditions occur because of low levels of maintenance arising as a consequence of a lack of finance of the owner of a building, be they government or private sector. To solve the problem of abandoned historical old buildings, the concept of adaptive reuse can be adopted and applied. This concept of adaptive reuse may continously cover the cost of building maintenance. The adaptive reuse concept usually covers the interior of a building and its utilities, though the need for utilities depends on the function of a building [4]. By adopting a concept of adaptive reuse, new building functions will be designed as the needs and demand of the market dictate, and which is appropriate for feasibility study. One utility element that has to be designed for historical old buildings is the provision of lighting within a building. To minimize the cost of building maintenance, one of the solutions is to optimize natural lighting and to minimize the use of artificial lighting such as lamps. This paper will discuss the extent to which artificial lighting can be minimized by using automatic lighting; the automatic lighting types discussed in this paper are lighting controlled by motion sensor and lux sensor.Keywords: Natural lighting, automatic lighting, motion sensor, lux sensor, historical old buildingsABSTRAK Salah satu permasalahan yang muncul dalam sebuah kota metropolitan, khususnya sebuah ibukota adalah keberadaan dari banyaknya bangunan-bangunan tua bersejarah. Bangunan-bangunan tua bersejarah dalam sebuah kota besar terutama yang diabaikan selama bertahun-tahun biasanya disebabkan karena kondisinya yang menua, minimnya utilitas bangunan, infrastruktur bangunan dan juga fasilitas-fasilitas yang mendukungnya [2][3]. Kondisi ini muncul karena rendahnya tingkat pemeliharaan yang biasanya muncul sebagai akibat dan konsekuensi karena minimnya dana anggaran dari pihak pemilik bangunan baik pemerintah daerah, pusat maupun sector swasta. Untuk mengatasi masalah ini, konsep adaptive reuse dapat diadopsi dan diaplikasikan pada kawasan yang memiliki bangunan-bangunan tua bersejarah ini. Konsep adaptive reuse dapat secara berkelanjutan memenuhi dan mengatasi permasalahan pemeliharaan bangunan dalam hal finansial. Konsep ini biasanya meliputi ruang dalam bangunan dan utilitas yang ada di dalam bangunan tersebut tergantung dari kebutuhan dan fungsi dari bangunan yang akan diaplikasikan konsep tersebut [4]. Dengan mengadopsi konsep adaptive reuse, fungsi bangunan baru dapat direncanakan sesuai kebutuhan dan permintaan pasar sehingga sesuai dengan studi kelayakan yang dilakukan. Salah satu elemen utilitas bangunan yang dapat dirancang untuk bangunan-bangunan tua bersejarah adalah kebutuhan pencahayaan di dalam sebuah bangunan. Untuk meminimalisir biaya pemeliharaan bangunan, salah satu solusinya adalah dengan mengoptimalkan pencahayaan alami dan meminimalisir penggunaan cahaya buatan seperti lampu. Tulisan ini akan mendiskusikan seberapa jauh pencahayaan buatan dapat diminimalisir dengan menggunakan pencahayaan otomatis, dimana dalam tulisan ini akan dibahas mengenai control pencahayaan dengan menggunakan motion sensor atau sensor gerak dan lux sensor atau sensor cahaya.Kata Kunci: pencahayaan alami, pencahayaan otomatis, motion sensor, lux sensor, bangunan tua bersejarah
BENANG MERAH ANTARA DISAIN DAN POLA TATA RUANG RUMAH TAHAN GEMPA NGIBIKAN YOGYAKARTA TERHADAP PERILAKU PENGHUNINYA Ahmad Mubarak Djuha; ari widyati purwantiasning
NALARs Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Pada tahun 2006 silam, Yogyakarta luluh lantak oleh bencana alam yang begitu dashyat yaitu bencana gempa bumi. Sebagian besar kota Yogyakarta terutama desa-desa di pinggiran kota Yogyakarta dan sekitarnya ikut merasakan bencana ini. Kehancuran bangunan-bangunan dan desa-desa di Yogyakarta juga terjadi di salah satu desa di daerah Bantul. Dusun Ngibikan nama desanya, dan dampak bencana tersebut dirasakan mendalam bagi masyarakat dusun ini. Dusun yang terletak di Kelurahan Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul ini terletak sekitar 10 km dari pusat gempa sehingga tidak dapat dihindari sebagian rumah warga desa sudah rata dengan tanah dan rumah yang masih berdiripun sudah rusak parah. Dengan kondisi tersebut, muncul inisiatif akan salah satu bentuk keprihatinan dan kepedulian seorang arsitek Eko Prawoto yang mengajak masyarakat Ngibikan bersama-sama membangun kembali desanya dengan dipimpin oleh pemimpin masyarakat Pak Maryono. Dalam penelitian ini, peneliti mengangkat masalah bagaimana keterkaitan antara rumah tahan gempa Ngibikan yang didesain Eko Prawoto terhadap perilaku masyarakat Ngibikan pasca gempa  Rumah lama berbentuk limasan direkonstruksi menjadi rumah baru dengan modifikasi inovatif yang dirancang agar tahan dari  gempa bumi.  Beberapa rumah dibangun tetap berada pada setting layout rumah yang lama, tujuannya untuk mempertahankan kebutuhan ruang seperti yang pernah ada sebelumnya. Proses rekontruksi tersebut melalui bentukan arsitekturnya dan perubahan fisik bangunan sedikitnya  telah merubah karakteristik lingkungan  Desa Ngibikan.  Secara tidak langsung perubahan tersebut dapat mempengaruhi kegiatan/ aktifitas, perilaku dan psikologi masyarakatnya. ABSTRACT. This research is aimed to analize the relation between design and pattern of spaces within house with the behavior of the community within the settlement. A case study of Ngibikan village has been conducted as a significant village within Yogyakarta city which had been destroyed by earthquake in 2006. This village has been nominated in Aga Khan Award 2010 in Doha, India, as a village that known well as a village which had been built by community participation or gotong royong’s concept. This village has a well maintained heritage, that makes this village has been regarded as a village with a concept of community architecture within it. This concept known as a concept of a rural development based on the needs and desires of the community/ society by implementing the concept of community participation or gotong royong. By applying this concept, hopefully could create a settlement for the community which is comfort and livable. Former house with pyramid shape had been reconstructed to be a new house with an innovative modification which had been designed to resistant with earthquake. Some houses had been built by remaining the old setting layout house, in order to maintain the need of space. The reconstruction processes through the formation of architectural and physical change of the houses at least have changed the characteristic of the environment of Ngibikan Village. Indirectly, those changes may affect the activities, behavior and psychological of the community.
TINJAUAN KRITIS: RESTORASI MINOR DAN MAYOR PADA HUNIAN TRADISIONAL CAGAR BUDAYA DI INDONESIA STUDI KASUS RUMAH TUO KAMPAI NAN PANJANG DAN RUMAH WAE REBO Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.19.1.9-18

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah tinjauan kritis tentang penerapan restorasi minor dan mayor pada hunian tradisional terutama yang ditetapkan menjadi cagar budaya di Indonesia. Studi kasus yang terpilih untuk diulas dalam tulisan ini adalah Rumah Tuo Kampai Nan Panjang yang terdapat di Sumatera Barat dan Rumah Wae Rebo yang terdapat di Flores. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk dapat memahami lebih dalam tentang praktek kegiatan restorasi baik minor dan mayor terutama pada bangunan cagar budaya, dimana dalam hal ini difokuskan pada bangunan hunian tradisional. Metode yang digunakan dalam tinjauan kritis ini adalah kualitatif naratif deskriptif, dimana penulis memaparkan secara deskriptif kedua studi kasus dengan mengacu pada panduan Undang-Undang Cagar Budaya Indonesia No. 10 Tahun 2011 dan panduan prinsip-prinsip konservasi cagar budaya di Cina yang dianggap memiliki similaritas dalam penerapannya. Kata Kunci: restorasi minor, restorasi mayor, cagar budaya, Rumah Tuo Kampai Nan Panjang, Rumah Wae Rebo
ANALISA KAWASAN BOAT QUAY BERDASARKAN TEORI KEVIN LYNCH Ari Widyati Purwantiasning; ari Hadi weepee; Nurhidayah Komala Nurhidayah
NALARs Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.12.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kawasan Boat Quay di Singapura berdasarkan Teori Citra Kota yang dikenal sebagai Teori Kevin Lynch. Penelitian ini dilatarbelakangi untuk memberikan pemahaman akan teori yang ada dengan fakta yang ada di lapangan. Penelitian ini merupakan salah satu hasil dari rangkaian perjalanan Studi Ekskursi Mahasiswa Arsitektur Universitas Muhammadiyah Jakarta yang dilaksanakan di Singapura pada bulan September 2011 yang lalu. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengedepankan data-data primer sebagai data utama dengan survei ke lokasi dan menganalisa langsung data-data yang ada berdasarkan Teori Kevin Lynch.  Kata kunci: kawasan, Boat Quay, teori Kevin Lynch ABSTRACT. This research is aimed to analize area of Boat Quay in Singapore based on the theory of the image of the city which known as the theory of Kevin Lynch. This research is motivated to provide an understanding of existing theories with the facts in real world. This research is a result of Student Excursion Study Trip series of Architecture Department University of Muhammadiyah Jakarta which has been completed in Singapore last September 2011. The method of the research is a qualitative descriptive method which underlined primary datas as main datas by doing some direct survey to the designated areas in Boat Quat Singapore. Afterward, the collected datas will be analyzed directly based on the Theory of Kevin Lynch. Keywords: district, Boat Quay, Kevin Lynch    
BENANG MERAH TERBENTUKNYA POLA PERMUKIMAN DAN POLA HUNIAN DESA BALI MULA DIKAITKAN DENGAN ASPEK SOSIAL, EKONOMI DAN BUDAYA STUDI KASUS: DESA PAKRAMAN JULAH, KECAMATAN TEJAKULA, BALI Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.1.11-20

Abstract

ABSTRAK.  Desa Pakraman Julah merupakan salah satu desa adat tertua di Bali, desa ini sudah ada pada tahun caka 844 pada masa pemerintahan Sang Ratu Sri Ugrasena di Bali. Desa Pakraman Julah ini tepatnya terletak di Kecamatan Tejakula, Bali. Desa ini mempunyai keunikan tersendiri, dari adat istiadat, kebudayaan dan juga arsitektur yang dimilikinya seperti pola permukiman dan pola huniannya. Penelitian ini mengangkat permasalahan mengenai sejauh mana aspek sosial, ekonomi dan budaya mempengaruhi dan berkaitan erat dengan terbentuknya pola permukiman dan pola hunian di Desa Pakraman  Julah ini. Pola permukiman pada Desa Pakraman Julah ini terbentuk karena didasari oleh adanya konsep “Nyegara Gunung”, yang ada di dalam adat istiadat dan filsafat masyarakat Bali. Di dalam filosofi Bali “Nyegara Gunung” adalah bahwa elemen antara laut dan gunung tidak dapat dipisahkan, dan menjadi satu kesatuan yang sejajar dan saling mendukung satu sama lainnya. Sementara itu pola hunian yang ada di dalam masyarakat Desa Pakraman Julah terbentuk karena adanya konsep “Rwa Bhineda” yaitu dua elemen/ hal yang bertentangan seperti: luan-teben; sakral-profan, hulu-hilir; utara-selatan; positif-negatif; dan sebagainya. Pola permukiman dan pola hunian yang terbentuk di dalam kehidupan masyarakat Desa Pakraman Julah maupun desa adat lainnya di Bali, tentunya secara tidak langsung di pengaruhi oleh aspek sosial, ekonomi dan budaya yang dimiliki oleh masyarakat tersebut. Di dalam penelitian inilah akan dikaji lebih dalam mengenai kaitan dan hubungan timbal balik antara terbentuknya pola permukiman dan pola hunian di Desa Pakraman Julah ini dengan aspek sosial, ekonomi, dan budayanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif komparatif yang mengedepankan pendekatan deduktif dalam analisis pembahasannya.Kata Kunci: pola permukiman, pola hunian, aspek sosial, aspek ekonomi, aspek budaya ABSTRACT.  Desa Pakraman Julah is one of the old traditional villages in Bali. This village has existed since 844 year of caka, during the reign of Queen Sri Urgrasena in Bali. Pakraman Julah Village is precisely located in Tejakula District, Bali. This village has its own uniqueness, from customs, culture and also its architecture such as the pattern of settlements and patterns of the dwelling. This study raises the issue of the extent to which social, economic and cultural aspects affect and is closely related to the formation of settlement patterns and patterns of the dwelling in this Pakraman Julah Village. The pattern of settlement in Pakraman Julah Village is formed because it is based on the concept of "Nyegara Gunung", which is in the customs and philosophy of Balinese society. In the Balinese philosophy "Nyegara Gunung" is that the elements between sea and mountain cannot be separated, and become a unity parallel and mutually supportive of each other. Meanwhile, the pattern of occupancy that existed in the community of Pakraman Julah Village was formed because of the concept of "Rwa Bhineda" ie two elements/ contradictory things such as luan-teben (outside-inside); sacred-profane, upstream-downstream; north-south; positive-negative; etc. The pattern of settlements and pattern of the dwelling that formed in the life of the community of Pakraman Julah Village and other traditional villages in Bali, of course, indirectly influenced by social, economic and cultural aspects of the community. In this research will be studied more deeply about the relationship and reciprocal relationship between the formation of settlement patterns and pattern of the dwelling in this Pakraman Julah Village with the social, economic, and cultural aspects. This study uses a qualitative comparative method that puts forward the deductive approach in the analysis of the discussion.Keywords: pattern of settlement, pattern of dwelling, social aspects, economic aspects, cultural aspects
Konversi Bangunan Tua Sebagai Salah Satu Aplikasi Konsep Konservasi Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.8.2.%p

Abstract

Not Available
KONSEP RUANG TERBUKA SEBAGAI ELEMEN ARSITEKTUR KOTA Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.9.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Tulisan ini akan memaparkan tentang bagaimana konsep ruang terbuka diaplikasikan dalam perencanaan sehingga fungsinya sebagai elemen arsitektur kota dapat terasa keberadaannya. Ruang terbuka sebagai elemen arsitektur kota mempunyai beberapa fungsi dari mulai fungsi sosial, kultural maupun ekonomi. Beberapa dampak akibat pergeseran fungsi terbuka juga dirasakan, dari mulai beralihnya fungsi pedestrian menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima, sampai dengan menjadi jalur sirkulasi kendaraan bermotor.   Kata kunci: ruang terbuka, elemen arsitektur  ABSTRACT. This paper will explain about how extend to which an open space will be applied in planning, thus its function as architecture element of city will be existed. Open spaces as architecture element of city have some functions from social, cultural, and economic function. Some effects have been determined from transformation of open spaces, for example the function of pedestrian as public market, as well as the change of pedestrian function to sirculation for vehicle.     Keywords: open space, architecture element
Co-Authors Aditya Wicaksono Agam Didik Ramadhan AGAM DIDIK Ramadhan Ahmad Azis Mulyantoro Ahmad Mubarak Djuha Ahmad Mubarak Djuha Ahmad Mubarak Djuha Ahmad Yusuf Aisy, Karlina Rohadatul Al-Amin, Roby Alief Muzakkii Saliim Pertama Alreiga Referendiza Wiraprama Alreiga Referendiza Wiraprama, Alreiga Referendiza Andiani Imantaka Andik Krisdianto Andrea Gina Karima Angel Palastri Anggana Fitri Satwikasari Anggana Fitri Satwikasari Anggana Fitri Satwikasari Anggoro Cipto Ismoyo anisa Anisa Anisa Anisa Anisa Anisa Anisa Anisa Anisa Anisa Anisa Annisa Shafa Kamila ari Hadi weepee ari Hadi weepee, ari Hadi Asa Aulia Asep Septian Ashadi Astriani Putri Wulandari Aulia widya Chandra Aulia Widya Chandra Bella Mareta Thania Buana, Muhammad Cakra Cahyo Abdi Rasid Cahyo Agung Nugroho Dedi Hantono Dedi Hantono Dedi Hantono Dedi Hantono Dedi hantono, Dedi Dimas Bayu Bintoro Dinda Wahyuning Hati Dwi Andika Agusliyanto Erlangga, Agus EVI PUSPITASARI PUSPITASARI Fadwah Maghfurah Faiz Al Farisi Fajar, Putra Fajar, Putra Fajar Faridzal Faridzal Farrel Ghifari Fauzi Firdaus Ferdianto Yanu Suprihatin Finta Lissimia Finta Lissimia Finta Lissimia, Finta Firdaus, Lutpi Alfian Ghifari, Farrel Ghiffari Goldra Putra N Ghulam Akhmad Al Faqi Giriana, Dewinta Firda Halim Saputra Halimah, Hana Handri Saputra HANIFIANTO, RIFQI Hermawan, Adi Hibatullah, Helmi Bariq Hilman Fadhillah Himawan, Muchamad Taufiqur IBRAHIM, SHAFA ARMELIA Ilfaya Ilham Burhanudin Ilham Pane Ivan Junanda Izzat Fadhlur Rahman Junaedi Junaedi kartika dwi cahyanti Kintan Gumanti Artha Kurnia, Yudi kus yusron hanif Lily Mauliani Lily Mauliani Lily Mauliani Luqmanul Hakim Lutfi Prayogi Lutfi Prayogi Lutfi Prayogi Lutfi Prayogi Lutfi Prayogi Lutfi Prayogi Lutfi Prayogi, Lutfi Meisanti, Meisanti Mohammad Baskoro Muhammad Akbar Rafsyanjani Muhammad Alwan Rosyadi Muhammad Alwan Rosyadi Muhammad Cakra Buana Muhammad Faiz Akmal Muhammad Ibnu Fachry Muhammad Rizky Saputra Muhammad Syafrizal Faqih Muhammad, Nurhuda Ali Musthapha, Zainal Mustofa Sakhid Nasir Ali Ridho Nurhidayah Komala Nurhidayah Nurhidayah Komala Nurhidayah, Nurhidayah Komala Nursandi, Izwan Ariq Nusyawal, Muhammad Fikri Pane, Ilham paramita rusadi Pratama, Anggi Putra Priambudi Dwi Prasetyo Priambudi Dwi Prasetyo Purnama, Dinar Agung Putra Fajar PUTRI, ALIFVIA MALINDA Putri, Shely Pratiwi Sanjaya Rafsyanjani, Muhammad Akbar Ramadhan, Agam Didik Ratna Dewi Nur'aini Retdia Sofiana Rudy Thalib Rustama Fasda Bimaktumaru Saeful Bahri Saputra, Muhammad Rizky Sari Hibatunnisa Fadhilah Satrio Aji Nugroho Prasetya Satrio Wibowo Sejati Pertiwi, Dewi Milenia Zhasmin Septiawan, Wawan Setiawan, Sandy Shely Pratiwi Sanjaya Putri Sidabutar, Yuanita F D Sri Indriani Solehah Suranta Ginting Syah, Ervin Taufik Hidayat Thania, Bella Mareta Tiara Amelia Tiara, Naria Vidalia Tri Kusumawati Ully Irma Maulina Hanafiah Vivaldi Rizqi Hisyam Vivaldi Rizqi Hisyam Wafirul Aqli Wardany, Mutia Setya Wawan Gunawan Yandri, Sepli Yeptadian Sari Yeptadian Sari Yoyok - Agustina Yudi Kurnia Zelly Rinaldi