p-Index From 2021 - 2026
5.588
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia BULETIN OSEANOGRAFI MARINA Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Jurnal Ilmu Lingkungan Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan QUALITY Jurnal Pangan dan Agroindustri agriTECH Civis: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Omni-Akuatika Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Squalen Bulletin of Marine and Fisheries Postharvest and Biotechnology Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING) JURNAL MUQODDIMAH : Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Journal of English for Academic and Specific Purposes (JEASP) IRJE (Indonesian Research Journal in Education) Literasi : Jurnal Ilmu Pendidikan Civilla : Jurnal Teknik Sipil Universitas Islam Lamongan PENA AKUATIKA : JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN Sustainable: Jurnal Kajian Mutu Pendidikan Jurnal Komposit : Jurnal Ilmu-Ilmu Teknik Sipil Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Jurnal Pendidikan PKn Indo-MathEdu Intellectuals Journal Jurnal Talenta Sipil Jurnal Karya Abdi Masyarakat Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner International Journal of Islamic Thought and Humanities Indonesian Journal of Education (INJOE) Jurnal Edukasi Pengabdian Masyarakat: EDUABDIMAS Pijar : Jurnal Penelitian Bidang Pendidikan dan Pembelajaran Jurnal Inovasi Global RAFAHIYA Journal of Islamic Economics Civic-Culture: Jurnal Ilmu Pendidikan PKn dan Sosial Budaya
Claim Missing Document
Check
Articles

KARAKTERISTIK DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EDIBLE FILM DARI REFINED CARAGEENAN DENGAN PENAMBAHAN MINYAK ATSIRI LENGKUAS MERAH (Alpinia purpurata) Sholehah, Meivi Mar’atus; Ma'ruf, Widodo Farid; Romadhon, Romadhon
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 3 (2016): Wisuda Periode Bulan Agustus 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.649 KB)

Abstract

Edible film merupakan jenis pengemas makanan yang berbentuk lembaran tipis atau film yang dapat dicerna oleh tubuh. Edible film yang dibuat dari refined carageenan mempunyai karakteristik yang rapuh. Oleh karena itu, ditambahkan minyak atsiri Lengkuas merah (A. purpurata) untuk memperbaiki karakteristik dari refined carrageenan, minyak atsiri Lengkuas merah (A. purpurata) juga sebagai antibakteri alami. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah refined carageenan dan minyak atsiri Lengkuas merah. Penelitian ini menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan perbedaan konsentrasi minyak atsiri yaitu 0%, 0,1%, 0,5% dan 1% (b/v) dengan 3 kali pengulangan. Parameter pengujian adalah uji kuat tarik, laju transmisi uap air, persen pemanjangan dan uji antibakteri. Bakteri uji yang digunakan adalah Eschericia coli dan Staphylococcus aureus bakteri ini mewakili dari gram positif dan gram negatif. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi berbeda nyata (p <0,05) terhadap uji kuat tarik, laju transmisi uap air, uji antibakteri tetapi tidak untuk uji persen pemanjangan. Edible film refined carageenan dengan perbedaan konsentrasi minyak atsiri terbaik pada konsentrasi 1% dengan kriteria mutu : Uji kuat tarik 28,39 MPa, uji laju trasmisi uap air 3,71 g/(m2.24Jam), Persen Pemanjangan 13,95%. Penambahan minyak atsiri 0,1% dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan S. aureus.
PENGARUH TRANSGLUTAMINASE TERHADAP MUTU EDIBLE FILM GELATIN KULIT IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcalifer) Salimah, Tutuk; Ma'ruf, Widodo Farid; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.64 KB)

Abstract

Plastik merupakan pengemas makanan yang berpotensi menyebabkan keracunan bila digunakan pada makanan, sehingga diperlukan bahan kemasan yang aman apabila dikonsumsi oleh manusia yaitu edible film. Edible film yang terbuat dari protein mempunyai sifat hidrofilik sehingga dapat menyerap sejumlah air pada RH tinggi. Penggunaan transglutaminase membantu memperbaiki kualitas edible film. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan transglutaminase terhadap nilai permeabilitas uap air, kadar air, ketebalan, persen pemanjangan, kekuatan tarik, dan kelarutan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelatin, transglutaminase, dan gliserol. Metode penelitian bersifat experimental laboratories dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan perbedaan konsentrasi transglutaminase (0,2%; 0,4%; 0,6%) serta kontrol dengan pengulangan 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANOVA, jika hasil Fhitung ≥ Ftabel maka dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan transglutaminase dapat menurunkan permeabilitas uap air dan kadar air, serta meningkatkan ketebalan, kekuatan tarik, dan persen pemanjangan. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan transglutaminase dibandingkan tanpa penambahan transglutaminase dapat merubah nilai permeabilitas uap air 0,775 -1,13  (g.m-1.s-1.pa-1), kadar air 13,45 - 15,26 (%), ketebalan 0,081 – 0,107 (mm), persen pemanjangan 14,13 – 79,67 (%), kekuatan tarik 5,18 – 39,71 (MPa). Plastic are food packaging that potentially causes toxicity when it is used in food, so we need packaging materials which is safe when consumed by humans being, one of them is edible film. Edible film is made from proteins which have hydrophilic properties so it can be absorbed a certain amount of water at high RH. The used of transglutaminase help to improve the quality of edible film. The aimed of this study was to determine the effect of transglutaminase on water vapor permeability value, moisture content, thickness, percent elongation, tensile strength, and solubility. The materials used in this study were gelatin, transglutaminase, and glycerol. The researched method was experimental laboratories used completely randomized design (CRD), which consists of 3 different treatments of transglutaminase concentration (0.2%; 0.4%; 0.6%) and control in triplicates. Data were analyzed using ANOVA, if the result Fcount ≥ Ftable then the treatment performed by Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that the addition of transglutaminase decrease the water vapor permeability and water content, as well as increasing the thickness, tensile strength, and percent elongation. The research showed that the addition of transglutaminase compared to without transglutaminase indicates changes on water vapor permeability values 0,775 to 1,13 (g.m-1.s-1.pa-1), the water content of 13,45 to 15,26 (% ), thickness 0,081 to 0,107 (mm), percent elongation 14,13 to 79,67 (%), tensile strength 5,18 to 39,71 (MPa).
EFEKTIVITAS LARUTAN ALGINAT DALAM MENURUNKAN KANDUNGAN LOGAM BERAT KADMIUM PADA DAGING KERANG HIJAU (Perna viridis) Chotimah, Siti Nur; Riyadi, Putut Har; Romadhon, Romadhon
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 4 (2016): Wisuda Periode Bulan Oktober 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.776 KB)

Abstract

Kerang hijau merupakan salah satu hasil laut yang banyak dikonsumsi masyarakat dan memiliki sifat menetap (filter feeders). Cara hidup dari kerang hijau yang menetap menyebabkan banyaknya kandungan logam berat yang terdapat dalam tubuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan lama perendaman (15, 30 dan 45 Menit) daging kerang hijau dalam larutan alginat 4,0% terhadap pengurangan kadar kadmium, kadar protein, kadar air, pH dan nilai organoleptik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan perlakuan lama waktu perendaman daging kerang hijau (0, 15, 30 dan 45 menit)  dan larutan alginat 4,0% dengan pengulangan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama perendaman dalam larutan alginat memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap kadar cadmium, penurunan kadar protein, dan kenaikan kadar air. Namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap nilai pH. Hasil uji organoleptik memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap rasa dan tekstur, namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kenampakan dan bau. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman selama 30 menit dan konsentrasi larutan alginat 4,0% pada kerang hijau merupakan pengaruh perlakuan yang paling efektif untuk kualitas organoleptik kerang hijau.
PENGARUH EDIBLE COATING NATRIUM ALGINAT DALAM MENGHAMBAT KEMUNDURAN MUTU DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus) SELAMA PENYIMPANAN SUHU RENDAH Herbowo, Muhammad Seno; Riyadi, Putut Har; Romadhon, Romadhon
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 3 (2016): Wisuda Periode Bulan Agustus 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.349 KB)

Abstract

Rajungan (P. pelagicus) merupakan komoditi perikanan yang  mudah rusak. Alginat termasuk kelompok hidrokoloid, memiliki potensi sebagai edible coating pada produk pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian edible coating natrium alginat terhadap lama simpan daging rajungan pada suhu rendah, serta konsentrasi edible coating natrium alginat terbaik. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah natrium alginat, gliserol, CaCl, dan daging rajungan. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories, menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Faktor pertama konsentrasi edible coating natrium alginat (0%; 1,5%; 2% dan 2,5%) dan Faktor kedua lama penyimpanan (hari ke-0, 1, 2, 3, dan 4). Data nilai uji organoleptik dianalisis dengan uji Kruskal Wallis, dan uji total plate count (TPC), TVBN, protein, dan kadar air dianalisis menggunakan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya interaksi antara konsentrasi edible coating natrium alginat dan lama penyimpanan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai TPC, TVBN, protein, dan kadar air. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai selang kepercayaan organoleptik terbaik pada konsentrasi natrium alginat 2% berkisar antara 7,008 ≤ µ ≤ 7,325, logaritma TPC berkisar antara 3,74 – 4,76 cfu/g; nilai TVBN berkisar antara 11,59 – 18,30 mg/100g; nilai kadar protein berkisar antara 16,29% – 13,88%; nilai kadar air antara 77,59% - 77,99%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa edible coating natrium alginat berpengaruh dalam mempertahankan mutu daging rajungan selama penyimpanan suhu rendah. Edible coating natrium alginat 2% merupakan konsentrasi terbaik, mampu mempertahankan mutu daging rajungan hingga hari ke 4.
Aktivitas Antibakteri dari Beberapa Tingkatan Mutu Terasi Udang Rebon Romadhon Romadhon; Laras Rianingsih; Apri Dwi Anggo
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 21 No 1 (2018): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 21(1)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.876 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v21i1.21263

Abstract

Terasi merupakan produk fermentasi ikan atau udang berbentuk pasta padat yang diolah secara tradisional. Bakteri asam laktat dapat diisolasi dari produk terasi dan menghasilkan senyawa antibakteri yaitu bakteriosin. Bakteriosin sebagai pengawet makanan memiliki kelebihan antara lain: dapat mengalami degradasi oleh enzim proteolitik dalam pencernaan manusia sehingga tidak membahayakan untuk kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan menentukan komposisi kimia dan aktivitas antibakteri bakteriosin asam laktat yang diisolasi dari bebrapa tingkatan mutu terasi rebon. Analisis menggunakan terasi grade 1, grade 2, grade 3, yang ditentukan oleh perbandingan rebon dan bahan tambahan pada proses pembuatannya. Hasil isolasi bakteri asam laktat diperoleh 549 isolat sedangkan isolat BAL yang menghasilkan bakteriosin diperoleh 18 isolat. Bakteriosin dari BAL yang diisolasi dari terasi dapat menghambat ketiga jenis bakteri patogen dan pembusuk yaitu Eschericia coli, Vibrio parahaemiliticus, dan Staphylococcus aureus. Bakteriosin dari isolat BAL yang dapat menghambat bakteri patogen dan pembusuk  yang terbaik yaitu terasi grade 1. Kualitas terasi terbaik pada grade 1 dengan kadar protein 42,78±1,28a, lemak 5,33±0,53a, asam glutamat.40,50±0,06a.
The Difference Characteristicsof Collagen from Tilapia (Oreochromis niloticus) Bone, Skin, and Scales Romadhon Romadhon; Yudhomenggolo Sastro Darmanto; Retno Ayu Kurniasih
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 22 No 2 (2019): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1370.544 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v22i2.28832

Abstract

Tilapia (Oreochromis niloticus) is one of the main commodities of freshwater fish in Indonesia. Mostly, tilapia is exported in the form of fillets which produce residual processing including bobe, skin, and scales which can reach 50 to 70% of the total weight of fish. The aimed of this study was to extract and characterize collagen from bone, skin, and scales of tilapia. The research method used a Completely Randomized Design (CRD) by treating the different types of collagen raw materials, namely bone, skin, and scales of tilapia. The results showed that the type of raw material affected the yield, water content, color, and pH (p<0.05). The collagen yield in this study was 0.53% (bone), 0.63% (scales) and 0.94% (skin). The small amount of amendment was caused by the concentration of acetic acid being too low. the smallest water content in tilapia fish collagen 2.17%; the best brightness of collagen in fish bones 76.91%; the value of the largest degree of white on fish scales 75.95%; pH content close to neutral fish collagen scales 6.49; Morphological results of collagen produced using SEM, the presence of pores seen in the collagen of tilapia fish due to the space between the collagen fibers while. Collagen from the skin and scales has the same morphology, which is shaped in small squares and smooth surface without pores
Quality Improvement of Catfish Floss (Clarias gariepinus) Through Oil Reduction Technology with Spinner and Press Tools Romadhon Romadhon; Ulfah Amalia; Apri Dwi Anggo
Journal Omni-Akuatika Vol 15, No 2 (2019): Omni-Akuatika November
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.985 KB) | DOI: 10.20884/1.oa.2019.15.2.629

Abstract

The nutritional content of catfish allows this freshwater fish to be processed into a variety of products, one of which is fish floss. Fish floss is a product that is popular among the people so that many use it for sale and increase income. However, unfortunately many fish floss products that are of poor quality, for example, oil appeared in the packaging which consequently makes the fish floss products quickly rancid. The purpose of this study was to determine the optimal shelf life of floss catfish with the best quality. The experimental laboratories of this study was divided into three treatments: spinnered, pressed and combination of spinnered and pressed. The quality of fish floss were observed every 12 days for 48 days.The results showed that there were significantly effect of floss catfish with different treatments of oil reduction. The best quality of floss catfish was achieved at 36 days storaging, with an average value of water content 4.99%, 28.39% of protein content, 9.15% of fat content, 4.99 meq kg-1 of peroxide value and total plate count 6.9 x 10-3 cfu g-1.
Pengaruh Suhu Wet Rendering yang Berbeda terhadap Karakteristik Ekstrak Kasar Minyak Ikan Lele (Clarias sp.) Magdalena Januasni Jati Martins; Lukita Purnamayati; Romadhon Romadhon
agriTECH Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.201 KB) | DOI: 10.22146/agritech.49875

Abstract

Pengolahan minyak isi perut ikan lele dapat meningkatkan nilai ekonomi limbah ikan lele. Wet rendering merupakan metode yang sering digunakan untuk mengekstrak minyak ikan. Metode ini menggunakan panas dan air untuk membantu proses ekstraksi. Perlakuan suhu bertujuan untuk menggumpalkan protein dan merusak membran sel sehingga minyak dapat terekstrak keluar. Adanya air memudahkan pemisahan karena minyak yang terekstrak akan mengapung pada permukaan. Penggunaan suhu ekstraksi berpengaruh terhadap kualitas minyak ikan yang dihasilkan. Suhu ekstraksi yang tinggi menyebabkan penurunan kualitas minyak akibat terjadinya reaksi oksidasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu ekstraksi wet rendering terhadap karakteristik ekstrak kasar minyak isi perut ikan lele dan mengetahui suhu ekstraksi optimum berdasarkan karakteristik ekstrak minyak isi perut ikan lele yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor yaitu perbedaan suhu ekstraksi wet rendering (80°C, 90°C dan 100°C) dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu ekstraksi menghasilkan minyak isi perut ikan lele dengan rendemen yang semakin meningkat. Namun, kualitas minyak ikan semakin menurun yang ditunjukkan dengan meningkatnya asam lemak bebas dan angka peroksida, yang berakibat pada penurunan nilai organoleptik, perubahan profil asam lemak dan slip melting point. Suhu 100°C merupakan suhu ekstraksi terbaik dengan nilai organoleptik 7,87; rendemen 8,57%; slip melting point 37,53˚C; bilangan iod 16,01%; total SFA 42,9%; MUFA 31,8%; PUFA 11,51%; angka asam lemak bebas 2,00%; kadar air 0,56%; dan bilangan peroksida 7,26 meq/kg.
Karakteristik Darah Mimi (Tachypleus gigas) sebagai Pendeteksi Bakteri Kontaminan Penghasil Endotoksin Pada Produk Perikanan Romadhon Romadhon; Selamet Suharto; Sumardianto Sumardianto
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.721 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i1.19037

Abstract

Kepiting tapal kuda atau mimi lan mintuno atau belangkas (suku Limulidae) mencakup empat jenis hewan beruas (Artropoda) yang menghuni perairan dangkal wilayah payau dan kawasan mangrove. Mimi merupakan salah satu sumberdaya genetika yang dilindungi. Mimi juga memiliki karakteristik tersendiri dalam darahnya. Umumnya hewan darat maupun laut memiliki darah berwarna merah. Namun, darah pada mimi berwarna biru. Pada (Tachypleus gigas) memiliki ekstrak darah kemungkinan mengandung senyawa antibakteri. Tujuan memisahkan dan mengkarakterisasi darah limulus dan menskrining hasil pemisahan darah dengan bakteri patogen. Hasil Penelitian 10 ekor mimi yaitu 165,72 ml. Setelah disentrifuse dihasilkan supernatan  90,633 ml dan  23,304 pelet. Hasil analisis fitokimia banyak dihasilkan pada supernatan terutama alkaloid, fenol, tannin, alkaloid. Berdasarkan skrining dengan bakteri patogen tidak dihasilkan zona hambat karena pengenceran terlalu kecil. Horseshoe crab or mimi lan mintuno or trim (Limulidae tribe) includes four types of extending animals (Artropoda) that inhabit the shallow waters of the brackish area and the mangrove area. Mimi is one of the protected genetic resources. Mimi also has its own characteristics in the blood. Generally land and sea animals have red blood. However, the blood on the mimi is blue. In (Tachypleus gigas) has Limulus Amebosit Lysate blood extract (LAL). The purpose of separating and characterizing blood limulus and screening the results of blood separation with pathogenic bacteria. Research result of 10 tail Limulus sp that is 165,72 ml. After centrifugation, the supernatant produced 90,633 ml and 23,304 pellets. The result of phytochemical analysis is mostly produced on supernatant especially alkaloid, phenol, tannin, alkaloid. Screening with pathogenic bacteria does not result in inhibit zone because dilution is too small.
APLIKASI ES CURAI DARI MESIN PENGHANCUR ES PADA KUALITAS PROTEIN DAGING KERANG REBUS (Anadara granosa) (The Application of ice crusher from designing machine in protein quality shellfish meat steamed (Anadara granosa) Romadhon Romadhon; Tri Winarni Agustini; Selamet Suharto; Y.S. Darmanto; Ahmad Suhaeli Fahmi
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 13, No 2 (2018): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.789 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.13.2.89-93

Abstract

Kandungan protein Kerang Anadara granosacukup tinggi sehingga rentan sekali mengalami pembusukan. Kendala yang dihadapi dalam penggunaan es adalah bentuk es. Penggunaan bongkahan es yang besar dan kasar serta tajam akan menyebabkan kerusakan fisik. Alternatif yang dapat diterapkan adalah Alat pemecah es . Penelitian ini bertujuan  mengamati kualitas  dan kerusakan protein selama pendinginan dengan membandingkan es curai yang dihancurkan manual dan es curai hasil dari mesin penghancur es. Metode yang dilakukan dengan Pengesan daging kerang dengan es yang dihancurkan manual dengan es hasil mesin penghancur.Sampel disimpan selama 6 hari dan diamati kandungan protein dan TVB-N setiap 3 hari sekali. Rancangan Percobaan menggunakan rancangan faktorial dengan 2 faktor yaitu es yang dihancurkan secara manual dan dihancurkan mesin penghancur es. Hasil dari penelitian ini didapatkan kandungan protein kerang tanpa pengesan dari hari ke-0 14.04±0,71 %; dan hari ke-6 9.27±0.17%. Kandungan protein kerang yang diberi es balok yang dihancurkan secara manual hari ke-0 14,23±0,46%; dan hari ke-6 11,68±0,40%. Kerang yang menggunakan es curai hasil mesin penghancur es hari ke-0 adalah 13,91±0,68%; dan hari ke-6 yaitu 14,28±0,63%. Hasil kandungan TVB-N kerang tanpa pengesan dari hari ke-0 13.11±0,29 mgN/100g; dan hari ke-6 64,97±0.61mgN/100g. Kerang yang diberi es balok yang dihancurkan secara manual hari ke-0 13,00±0,48 mgN/100g; dan  hari ke-6 23,28±0,53 mgN/100g. Kerang menggunakan es curai hasil mesin penghancur es hari ke-0 adalah 13,21±0,66 mgN/100g; dan hari ke-6 yaitu 19.72±0,49 mgN/100g. Protein content Anadara granosa shells are high enough to be prone to decay. The obstacle faced in the use of ice is the form of ice. The use of large, rough and sharp blocks of ice will cause physical damage. The applicable alternative is the Ice Breaker. This study aims to observe the quality and deterioration of proteins during cooling by comparing the manually destroyed ice cubes and ice cultivated from ice-breaking machines. The method is done with the Order of shellfish with the ice that is destroyed manually with ice crushing machine. Samples are stored for 6 days, and observed the content of protein and TVB-N every 3 days. The experimental design used a factorial design with 2 factors: manually destroyed ice and crushed ice crusher. The results of this study found the content of shell protein without impressive from day-0 14.04 ± 0.71%; and 6th day 9.27 ± 0.17%. The content of shellfish protein given ice beam which was manually destroyed on day 0 14.23 ± 0.46%; and the 6th day 11.68 ± 0.40%. The shell that used ice cubes from the 0 th day crusher was 13.91 ± 0.68%; and the 6th day is 14.28 ± 0.63%. Results of TVB-N content of shellfish without impression from day 0 13.11 ± 0.29 mgN / 100g; and day 6 64,97 ± 0.61mgN / 100g. Shellfish with ice blocks manually destroyed on day 0 13.00 ± 0.48 mgN / 100g; and day 6 23.28 ± 0.53 mgN / 100g. The shells using ice cubes from the 0 th day crusher were 13.21 ± 0.66 mgN / 100g; and day 6 is 19.72 ± 0.49 mgN / 100g. 
Co-Authors - Sumardianto A Nova Zulfahmi A Suhaeli Fahmi Abidin, Habibah Agus Sabdono Agus Triyanto Aisyah Ayu Hidayati, Aisyah Ayu Anjar Setyaji apri dwi anggo Apri Dwi Anggo Aryandi Faddilah Nurwin Aslan Aslan, Aslan Aulia Nissa Rifani, Aulia Nissa Badarussyamsi, Badarussyamsi Basyrowi Arbi Bhala, Dolorestin Monika Cancerizky Trigutomo Radityo Choirul Anam AM Diponegoro Danuar Adi Nugroho Darmanto, Y.S Desya Anjani Hardjata Diah Putri Herawati Diah Rosita, Pramita Dianita Cahyaningrum, Dianita Dinaryadi, Rico Djoko Rahardjo Edy Gardjito, Edy Ege, Emanuel Budi Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahya Dewi Elistia, Elistia Fadhil, M. Fara Sabilla Ulfa Fatin Hidayati Frisilia Nadhira Rimadhini Fronthea Swastawati Gerda Vernia Bali Ulina, Gerda Vernia Bali Gobai, Yulian Hartantyo, Sugeng Dwi Hasan Asari Hauzan Arifin, Muhammad Herbowo, Muhammad Seno Hidayati, Fatin Hilda Rizkyah Fauzy, Hilda Rizkyah Ima Wijayanti Indriani , Noor Desyta Insani Artati Zendrato Ismi Lailani Syarafina Iswahyudi , Didik Iswahyudi, Didik Jevika Dwitasari Rochminta Kukuh Widijatmoko, Engelbertus Laras Guntur Santika Laras Rianingsih Lukita Purnamayati Luthfiyatul Habibah Nurlisa Ma'ruf, Widodo Farid Magdalena Januasni Jati Martins Manik, Gheta Olivia Marita Dwi Romawati Maulina Tiara Megawati Meisya Asri Widiyanti Mohamad Syahri Muhammad Luthfi Fadhli Mujiwati, Yuniar Mukhlis Fathurrohman Mukti Nur Hamidah Muryaning Charimah, Intan Muthomimah, Muthomimah Nabillah Pinka Almira Dhinendra Nangus, Yasinta Minoya Sari Ngatmin Novita Dinny Pratiwi, Novita Dinny Novita Nur Wahyuni Novy Yuliyanti Nur Fadilah Nurbani Yusuf Prasetyo Wibowo, Arif Prastika Anadia Putri Puguh Udiarta Putri Mudianingrum, Tasya Putri, Sefti Maulana Putut Har Riyadi Ramadhanti, Bella Widya Refki Saputra, Refki Retno Ayu Kurniasih Rifki Prayoga Aditia Rofi Rifki Ghazali Rose Fitria Lutfiana Ryan Ariefta Said Nabil Amanullah Sarwono Azmi Syahbuddin Sebastian Margino Selamet Suharto Selamet Suharto Septian, Rizky Bagus Setyo Adi Nugroho Shara Harumarani, Shara Sholehah, Meivi Mar’atus Siswanto, Arik Siti Khamidah Siti Nur Chotimah SITI RACHMAWATI Sitompul, Ryan Slamet Suharto, Slamet Sofinadya, Diba Sony Susanto Sri Redjeki Subagiyo Subagiyo Subagyo Subagyo Susanti Susanti Suseno, Bella Nindita Maharani Suwarno Suwarno Syarifah Mumtazah Titi Surti Toyib, Ahmad Tri Winarni Agustini Tutuk Salimah, Tutuk Ulfah Amalia Ulfah Amalia Utari, Kurnia Suci Tri Viola Niraputri Wajiadmoko, Engelbertus Kukuh Widijatmoko , Engelbertus Kukuh Widijatmoko, Engelbertus Kukuh Widodo Farid Ma’ruf y S Darmanto Y.S. Darmanto Y.S. Darmanto YS Darmanto Yudhomenggolo Sastro Darmanto Yudhomenggolo Sastro Darmanto Yulius Rustan Effendi Zuhriyah, Luluk Masruroh