ANTONIUS PETRUS RUMENGAN
Department Of Marine Science, Faculty Of Fisheries And Marine Science, Universitas Sam Ratulangi. Jl. Kampus UNSRAT Bahu, Manado 95115, North Sulawesi, Indonesia

Published : 59 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN SIMPANAN KARBON PADA BIOMASSA MANGROVE DI PESISIR DESA TATENGESAN KECAMATAN PUSOMAEN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA PROVINSI SULAWESI UTARA Tirsa Lumbu; Antonius P. Rumengan; Carolus P. Paruntu; Suria Darwisito; Medy Ompi; Stephanus Mandagi
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.55001

Abstract

Mangroves are referred to as coastal forests or brackish forests, coastal forests which mean forests that live in coastal areas (coastal) which are influenced by tidal areas and coastal land. Mangroves have an important role in the absorption and storage of carbon, the amount of carbon contained in a tree is influenced by the ability of the tree to absorb carbon from the environment by the process of photosynthesis or known as the sequestration process. The purpose of this study was to identify the types of mangroves on the coast of Tatengesan and determine the carbon storage in the biomass of mangrove trees on the coast of Tatengesan. Data collection on mangrove tree vegetation was carried out in 3 transects, on the left, right and middle of the mangrove ecosystem on the Tatengesan coast. The transects were drawn perpendicular from the sea to the coast according to the thickness of the mangroves at the site. One transect has three quadrants, with a size of 10 m x 10 m. For how it works, the transect is pulled 100 m from the sea to the beach, then the quadrants are measured 10 m x 10 m using a plastic rope as a marker, and the quadrant positions are placed randomly and for 25 m intervals. The results of this study provide information that there are 3 types of mangroves, namely Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, and Bruguiera gymnorhiza, the value of mangrove biomass content ranges from 69.2 - 118.61 tons/ha, and the value of carbon storage in mangrove biomass. ranged from 32.52 to 55.75 tons/ha. Future research is expected to obtain time series data on the amount of carbon stored in a certain time period. Keywords: Biomass, carbon, mangrove, Tatengesan ABSTRAK Mangrove disebut sebagai hutan pantai atau hutan payau, hutan pantai yang berarti hutan yang hidup di daerah pantai (pesisir) yang dipengaruhi oleh daerah pasang surut air laut dan daratan pesisir. Mangrove memiliki peranan penting dalam hal penyerapan dan penyimpanan karbon, besarnya kandungan karbon yang terdapat dalam satu pohon dipengaruhi oleh kemampuan pohon tersebut untuk menyerap karbon dari lingkungan dengan proses fotosintesis atau yang dikenal dengan proses sequestration. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis mangrove di pesisir Tatengesan dan mengetahui simpanan karbon pada biomassa pohon mangrove di pesisir Tatengesan. Pengambilan data pada vegetasi pohon mangrove dilakukan sebanyak 3 transek, pada bagian kiri, kanan dan tengah ekosistem man grove di pesisir Tatengesan. Transek ditarik tegak lurus dari arah laut ke pantai sesuai ketebalan mangrove di lokasi. Satu transek terdapat tiga kuadran, dengan ukuran 10 m x 10 m. Untuk cara kerjanya, transek ditarik sejauh 100 m dari laut ke pantai, kemudian kuadran diukur 10 m x 10 m dengan menggunakan tali plastik sebagai penanda, dan untuk posisi kuadran diletakkan acak dan untuk intervalnya 25 m. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa jenis-jenis mangrove ditemukan sebanyak 3 jenis, yaitu Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Bruguiera gymnorhiza, nilai kandungan biomassa mangrove berkisar antara 69,2 – 118,61 ton/ha, dan nilai simpanan karbon pada biomassa mangrove berkisar antara 32,52 – 55,75 ton/ha. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk memperoleh data time series jumlah simpanan karbon dalam suatu periode waktu tertentu. Kata kunci: Biomassa, karbon, mangrove, Tatengesan
PROFIL PERTUMBUHAN MIKROALGA Chlorella vulgaris PADA MEDIA KW21 Stefano Juliander Suwarsono; Kurniati Kemer; Antonius Rumengan; Hermanto Manengkey; Natalie Rumampuk; Jane Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 1 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.1.2024.55072

Abstract

Microalgae are microscopic organisms found in both freshwater and seawater. These organisms lack roots, stems, and leaves but are capable of performing photosynthesis to produce their own food. One type of microalga is Chlorella vulgaris, which belongs to the class Chlorophyceae. Chlorella Vulgaris can be cultivated as a natural feed for fish, clams, and shrimp. The aim of this research is to analyze the growth profile of Chlorella vulgaris cultivated in Kw21 media. Observations were conducted by counting the cell density of C. vulgaris from the adaptation phase to the death phase in three identical sample containers. This observation process was carried out daily at the same time and repeated three times. The cell density of Chlorella vulgaris in the exponential phase on the 11th day for sample A was 114.6 x 10⁴cells/ml, for sample B on the 10th day was 118.6 x 10⁴ cells/ml, and for sample C on the 7th day was 116.3 x 10⁴ cells/ml. Keywords: Growth, Chlorella vulgaris, Microalgae, KW21 Media ABSTRAK Mikroalga adalah organisme mikroskopis yang ditemukan di air tawar maupun air laut. Mikroalga ini tidak memiliki akar, batang dan daun. Namun mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan sendiri. Salah satu jenis mikroalga adalah Chlorella vulgaris yang tergolong dalam kelas Chlorophyceae. Mikroalga ini, dapat dibudidayakan sebagai pakan alami pada ikan, kerang dan udang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis profil pertumbuhan mikroalga Chlorella vulgaris yang dikultivasi dalam media Kw21. Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah kepadatan sel mikroalga C. vulgaris mulai dari fase adaptasi sampai fase kematian dari 3 wadah sampel yang sama. Proses pengamatan ini dilakukan setiap hari di jam yang sama dan dengan tiga kali pengulangan. Jumlah kepadatan sel mikroalga C. vulgaris pada fase eksponensial di hari ke-11 pada sampel A yaitu 114,6 x10⁴sel/ml pada sampel B di hari ke-10 yaitu 118,6 x10⁴sel/ml, dan pada sampel C di hari ke-7 yaitu 116,3 x10⁴sel/ml. Kata Kunci: Pertumbuhan, Chlorella vulgaris, Mikroalga, Media KW21
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA PONTO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Khusnul Hotimah; Calvyn F.A. Sondak; Sandra O. Tilaar; Billy T. Wagey; Antonius P. Rumengan; Desy M.H. Mantiri
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.2.2024.57803

Abstract

Hutan mangrove sangat penting untuk kehidupan biota dan lingkungan sekitarnya. Ekosistem mangrove terletak di seluruh kepulauan Indonesia. Desa Ponto merupakan daerah yang juga memiliki keanekaragaman mangrove yang cukup tinggi. Penelitian dilaksanakan di Desa Ponto Jaga Tiga Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara dengan titik koordinat transek 1(1o39’45.54”U, 124o55’18.79”T), 2(1o39’26.96”U, 124o55’9.74”T),3(1o38’53.’93”U, 124o55’3.39”T), tujuan penelitian untuk mengetahui Struktur Komunitas Mangrove di Desa Ponto Jaga Tiga Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Setiap lokasi ditarik (line transect) sepanjang 100m dan diletakan 5 kuadran dari darat ke laut. Kuadran berukuran 10m x 10m, jarak antar kuadran 10m. Studi menemukan 6 spesies mangrove yaitu Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Brugueira gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, Rhizophora mucronata, dan Avicennia alba. Nilai kerapatan tertinggi ditemukan jenis R.apiculata dan nilai kerapatan terendah yaitu X.granatum. Nilai frekuensi jenis tertinggi R.mucronata dan R.apiculata, frekuensi jenis terendah yaitu X.granatum. Nilai penutupan jenis tertinggi yaitu R.mucronata dan terendah jenis X.granatum. Indeks nilai penting tertinggi jenis R.mucronata. Indeks keanekaragaman rata-rata dengan nilai 1,02 termasuk kategori sedang. Nilai keseragaman sebesar 0,62 dengan indeks dominasi yaitu 0,81. Kata Kunci: Mangrove, Struktur Komunitas, Desa Ponto
INDEKS DIMENSI DAN INDEKS NILAI PENTING LAMUN DI PERAIRAN DARUNU, KECAMATAN WORI, SULAWESI UTARA Lidya Magdalena; Desy M. H. Mantiri; Antonius P Rumengan; , Esther D. Angkouw; Kakaskasen A. Roeroe
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.2.2024.58031

Abstract

Ekosistem pesisir yang mampu menyerap dan menyimpan karbon yang baik adalah salah satunya ekosistem padang lamun. Perairan Darunu, Kecamatan Wori, Sulawesi Utara merupakan salah satu daya tarik wisata dan memiliki ekosistem lamun yang baik. Namun sampai saat ini belum ada informasi atau laporan mengenai padang lamun yang ada di Perairan Darunu, oleh karena itu tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis lamun, mengetahui nilai indeks dimensi lamun (IDLn) dan indeks nilai penting (INP) lamun di Perairan Darunu. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pegambilan data dilakukan secara langsung menggunakan metode garis transek. Lamun yang ditemukan di Perairan Darunu sebanyak 6 jenis yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halophila ovalis, Halodule phinifolia, dan Syringodium isoetifolium. Nilai indeks dimensi lamun (IDLn) sebesar 0,5m² dipengaruhi oleh jarak ekosistem lamun dari pemukiman penduduk. INP dipengaruhi oleh kerapatan jenis dan kerapatan relatif, frekuensi jenis dan frekuensi relatif, penutupan jenis dan penutupan relatif. INP tertinggi di Stasiun 1 pada jenis T. hemprichii dengan nilai 124.680% dan INP terendah pada jenis H. phinifolia di Stasiun 3 dengan nilai 5,968%. Kata Kunci: Indeks Dimensi Lamun, Indeks Nilai Penting, Ekosistem Lamun, Perairan Darunu, Sulawesi Utara
Estimation of Carbon Stock in Mangrove Communities in Budo Village, Wori District, North Minahasa Regency Ruru, Ricky Andreas; Rumengan, Antonius Petrus; Paransa, Darus Sa'adah Johanis; Paruntu, Carolus Paulus; Bara, Robert Antonius; Rondonuwu, Ari B.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 1 (2023): ISSUE JANUARY-JUNE 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i1.43629

Abstract

Mangrove is an ecosystem consisting of a collection of trees and grows in the area around the coastline, living in conditions influenced by tides, muddy and sandy sediments. Has an important function in the effort to absorb carbon levels through the photosynthesis process which is better than other forest vegetation. The purpose of this study, namely to identify mangrove species, examine vegetation and determine the value of biomass and estimated carbon stock in Budo Village, Wori District, North Minahasa Regency, North Sulawesi. Data collection in this study used the line transect method with the transect position being on the left, middle and right of the mangrove ecosystem of Budo Village which was pulled along 100 meters per transect, then the quadrants were measured 10 m x 10 m using raffia rope to limit each quadrant with an interval of 10 m. m and the distance between transects is about 50 m. Based on the results of the study, found 4 types of mangroves, namely: Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, and Bruguiera gymnorrhyza. The highest density values and relative density of species were on transect 3 with a value of 900 trees/ha and 86.53% by Rhizophora apiculata. The species frequency and relative species frequency were highest in each transect owned by Rhizophora apiculata with values of 0.8 and 55.66%, respectively. The highest species cover was Rhizophora apiculata with a value of 2.56 cm/m with a relative species cover of 72.21%. The highest important value index was Rhizophora apiculata on transect 3 with a value of 214.31%. The highest biomass content was on transect 3 with a value of 592.27 tons/ha. The highest carbon content is on transect 3 with a value of 55.67 tons/ha.
Sponge Diversity in Kinamang Beach Area Malalayang District Manado City Musak, Putra; Sumilat, Deiske Adeliene; Schaduw, Joshian Nicolas William; Rumengan, Antonius Petrus; Angkouw , Esther Dellayani; Undap , Suzanne Lydia
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 2 (2023): ISSUE JULY-DECEMBER 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i2.48599

Abstract

Spons are primitive living settled animals that are filter feeders. These animals are commonly found in tropical and subtropical waters, ranging from the intertidal zone to the subtidal. The aim of this study is to know the diversity of species and the content of bioactive sponges. Sponge data collection: ecological index, species composition, and density of sponge as well as knowledge of the study of bioactive sponge using the library study of the research carried out and using the scientific article of the last 10 years, from 2013 to 2023. The study used the transect belt method that has been modified. From the use of the method, 17 Families were obtained, 48 individuals at a depth of 7 m and 118 individuals at 14 m. Based on the results of this study showed that the index of diversity obtained from the analysis results belonged to the average in 7 m and 14 m. Distribution patterns obtained from data analysis results obtain the distribution pattern at a depth of 7 m grouping 5 families, uniform 5 families, and random 1 family. At a depth of 14 m, the most spread pattern is the uniform spread of 10 families, and the spread model groups 4 families. The index of diversity obtained from the results of data analysis is high (stable). The composition of the species obtained from the results of the analysis showed the highest species of sponges at a depth of 7 m was 33.33%, the highest species at a deep of 14 m is 33.90%, and the composition type of the lowest sponge depth 7 m is 0%, the lower species on a deep 14 m was 11.86%. The highest value of spongy density at a depth of 7 meters is 2.44 ind/m² and the lowest is 0.15 ind/m², whereas, at depths of 14 meters, the highest values are 3.16 ind/m² and lower is 0.08 ind/m² and a library study of the bioactive content received 27 articles related to the family obtaining at the research site and in teluk manado. Keywords: Diversity, Sponge, Kinamang Beach, Bioactive Content Abstrak  Spons merupakan hewan primitif yang hidup menetap yang bersifat filter feeder (menyaring). Hewan ini sangat umum dijumpai di perairan tropis dan sub tropis, sebarannya mulai dari zona intertidal hingga zona subtidal. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui keanekaragaman jenis dan kandungan bioaktif spons. Pengambilan data spons : indeks ekologi, komposisi jenis dan kepadatan spons serta mengetahui kajian mengenai bioaktif spons dengan menggunakan studi pustaka dari penelitian yang telah dilakukan dan menggunakan artikel ilmiah 10 tahun terakhir tahun 2013 sampai 2023. Penelitian ini menggunakan metode belt transek yang telah dimodifikasi. Dari pengunaan metode tersebut diperoleh 17 Famili, 48 individu pada kedalaman 7 m dan 118 individu pada kedalaman 14 m. Berdasarkan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman yang diperoleh dari hasil analisis tergolong sedang pada kedalam 7 m dan 14 m. Pola Sebaran yang diperoleh dari hasil analisis data didapatkan pola sebaran pada kedalaman 7 m pola sebaran mengelompok 5 famili, pola sebaran seragam 5 famili,dan pola sebaran acak 1 famili. Sedangkan pada kedalaman 14 m pola sebaran terbanyak yaitu, pola sebaran seragam 10 famili, dan pola sebaran mengelompok 4 famili. Indeks keseragaman yang diperoleh dari hasil analisis data yaitu tergolong tinggi (stabil). Komposisi jenis yang diperoleh dari hasil analisis menunjukkan jenis spons tertinggi pada kedalaman 7 m yaitu 33,33 %, jenis spons tertinggi pada kedalaman 14 m yaitu 33,90 %, dan komposisi jenis spons terendah kedalaman 7 m yaitu 0 %,jenis spons terendah pada kedalaman 14 m yaitu 11,86 %. Nilai kepadatan spons tertinggi pada kedalaman 7 m yaitu 2,44 ind/m² dan terendah yaitu 0,15 ind/m², sedangkan pada kedalaman 14 meter dengan nilai tertinggi yaitu 3,16 ind/m² dan terendah yaitu 0,08 ind/m² dan studi pustaka mengenai kandungan bioaktif yang didapatkan 27 artikel yang berkaitan dengan famili yang didapatkan di lokasi penelitian dan di teluk manado. Kata Kunci: Keanekaragaman, Spons, Pantai Kinamang, Kandungan Bioaktif
The Suitability Index of Mangrove Tourism in the Coastal Area around Budo Village, Wori Sub-District, North Minahasa Regency for Marine Ecotourism Tambunan, Rose Agustin; Rumengan, Antonius Petrus; Paruntu, Carolus Paulus; Rampengan, Royke M.; Ompi, Medy; Rompas, Rizald Max
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 2 (2023): ISSUE JULY-DECEMBER 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i2.50039

Abstract

The purpose of this study was to analyze the tourism suitability index and the carrying capacity of the mangrove ecotourism area in Budo Village, Wori District, North Minahasa Regency. The research method used was a cruising survey method using line transects and visual method which were carried out on three transects to obtain mangrove bio-ecological parameter values, namely thickness, species, density, biota objects associated with mangroves, and sea tides. The results showed that the mangrove thickness values ​​on transects 1-3 were 157 m, 138 m, and 135 m respectively, with an average value of 143.3 m; a number of mangrove species, namely 6 species (Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Avicennia marina, and Nypa fruticans); mangrove density values ​​on transects 1-3, respectively 10.2 ind/100 m2, 11.8 ind/100 m2 and 6.2 ind/100 m2, with an average value of 9.4 ind/100 m2; mangrove association biota objects in transects 1-3, including fishes, shrimps, crabs, mollusks, birds and reptiles; and the average tidal value is as high as 2 m. The average value of the tourism suitability index was 54.6% with the conditionally appropriate category on all transects; and the carrying capacity of the mangrove tourism area was 116 people/day, with an operational time of 14 hours/day. Further research requires a sustainability analysis to produce efficient and effective programs for the development of mangrove ecotourism in Budo Village. Keywords: Area carrying capacity, Budo Village, Ecotourism, Tourism suitability index, Mangrove Abstrak Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis indeks kesesuaian wisata dan daya dukung kawasan ekowisata mangrove Desa Budo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei jelajah dengan menggunakan line transect dan metode visual pada tiga transek untuk memperoleh nilai-nilai parameter bio-ekologi mangrove, yaitu ketebalan, jenis, kerapatan jenis, objek biota asosiasi mangrove, dan pasang surut air laut. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai ketebalan mangrove pada transek 1-3, masing-masing adalah 157 m, 138 m, dan 135 m, dengan nilai rata-ratanya 143,3 m; jumlah jenis mangrove 6 spesies (Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Avicennia marina dan Nypa fruticans); nilai kerapatan mangrove pada transek 1-3, masing-masing adalah 10,2 ind/100 m2, 11,8 ind/100 m2 dan 6,2 ind/100 m2, dengan nilai rata-ratanya 9,4 ind/100 m2; objek biota asosiasi mangrove pada  transek 1-3 meliputi ikan, udang, kepiting, moluska, burung, dan reptil; dan nilai rata-rata pasang surut air laut setinggi 2 m;  nilai rata-rata Indeks kesesuaian wisata sebesar 54,6 % dengan kategori “sesuai bersyarat” pada semua transek; dan daya dukung kawasan wisata mangrove Desa Budo adalah 116 orang/hari dengan waktu operasional 14 jam/hari. Penelitian selanjutnya diperlukan analisis keberlanjutan untuk menghasilkan program-program yang efisien dan efektif dalam rangka pengembangan ekowisata mangrove Desa Budo. Kata kunci: Daya dukung kawasan, Desa Budo, Ekowisata, Indeks kesesuaian wisata, Mangrove
Strategy for Sustainable Use of Mangrove Ecosystem In Coastal Tatengesan, Southeast Minahasa Regency Pamungkas, Yogo; Paruntu, Carolus Paulus; Rumengan, Antonius Petrus; Manembu, Indri Shelovita; Sondak, Calvyn Fredrik Aldus; Ginting, Elvy Like
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.51570

Abstract

The mangrove ecosystem area in the coastal area of Tatengesan Village, Pusomaen District, Southeast Minahasa Regency has been developed as a mangrove ecotourism area which has been managed by Village-Owned Enterprises (BUMD) since January 2019 with assistance from the Mandiri Rural National Community Empowerment Program (PNPM) team. The development of this mangrove ecotourism activity was stopped for a moment due to the impact of the COVID-19 pandemic, but currently, COVID-19 cases are considered endemic so this mangrove ecotourism activity will be developed again. This research aims to formulate some strategies for the sustainable use of the mangrove ecosystem on the Tatengesan coast, Southeast Minahasa Regency. This research lasted for 5 months, from September 2022 - February 2023. This research used descriptive qualitative methods with survey technique, i.e., in-depth direct interviews with resource persons (respondents). The formulation of priority strategies (key success factors) was analyzed using S.W.O.T and strategy choice analysis. This research produced 9 (nine) priority strategies as academic texts, which can be recommended to governments related to the marine and fisheries sector as elements of public policy-making officials. Keywords: Tatengesan village, mangrove ecotourism, sustainable use, priority strategies. Abstrak Kawasan ekosistem mangrove di wilayah pesisir Desa Tatengesan, Kecamatan Pusomaen, Kabupaten Minahasa Tenggara dikembangkan sebagai kawasan ekowisata mangrove yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMD) sejak Januari 2019 dengan pendampingan oleh tim Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan.  Kegiatan ekowisata mangrove ini pengembangannya terhenti sejenak dikarenakan adanya dampak pandemi Covid-19, namun saat ini kasus Covid-19 sudah dianggap endemi sehingga kegiatan ekowisata mangrove ini akan dikembangkan kembali.  Tujuan penelitian ini yaitu merumuskan strategi pemanfaatan berkelanjutan ekosistem mangrove ke arah berkelanjutan di pesisir Tatengesan Kabupaten Minahasa Tenggara.  Riset ini berlangsung selama 5 bulan, dari September 2022 - Februari 2023.  Riset ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik survei, yaitu wawancara langsung secara mendalam (in-depth interview) kepada narasumber (responden).  Perumusan strategi prioritas (faktor kunci keberhasilan) di analisis dengan menggunakan S.W.O.T dan analisis pilihan strategi.  Penelitian ini menghasilkan 9 (sembilan) strategi prioritas sebagai naskah akademik, yang dapat direkomendasikan kepada pemerintah terkait pada sektor kelautan dan perikanan sebagai unsur pejabat pembuat kebijakan publik. Kata kunci: Desa Tatengesan, ekowisata mangrove, pemanfaatan berkelanjutan, strategi prioritas.
Suitability Index and Supporting Capacity of Mangrove Ecotourism in Darunu Mangrove Park Wori District North Minahasa Regency Gultom, Fernando; Paruntu, Carolus Paulus; Rumengan, Antonius Petrus; Rumampuk, Natalie D. C.; Paransa, Darus S. J.; Ompi, Medy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.54566

Abstract

The purpose of the study was to determine the type of mangrove, mangrove density, mangrove thickness, tides, associated biota objects, tourism suitability index, and carrying capacity of the Darunu mangrove tourism area.  The research period is October-December 2023.  The research methods used are cruising survey for mangrove species, line transect for mangrove density, remote sensing for mangrove thickness, and visualization for associated biota objects.  Data analysis for the tourism suitability index (IKW) and area carrying capacity (DDK) is guided by the provisions of Yulianda (2019).  The IKW value is 2.0 with the appropriate category and the DDK value is 25 people per day.  The size of the DDK value of the mangrove tourism area depends on two main factors, namely the length of tracking and the length of operating time.  The greater the value of tracking length and the length of operating time, the greater the DDK value, conversely the smaller the value of tracking length and the length of operating time, the smaller the DDK value.  As a recommendation to the village government to be able to extend the tracking distance by utilizing the mangrove spaces that are still available, in addition to the tourist period can be extended with adequate facilities such as electricity, lighting, etc. so that the value of DDK can still be achieved as much as possible to increase the economic income of the village community while still paying attention to environmental sustainability.  Furthermore, community participation to preserve this mangrove forest area is needed for the sustainability of ecotourism-based mangrove tourism at Darunu Mangrove Park. Keywords: Area carrying capacity, Darunu Mangrove Park, Ecotourism, Mangrove, Tourism suitability index. Abstrak Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis mangrove, kerapatan mangrove, ketebalan mangrove, pasang surut air laut, objek biota asosiasi, indeks kesesuaian wisata dan daya dukung kawasan wisata Darunu Mangrove Park.  Periode penelitian yaitu Oktober-Desember 2023.  Metode penelitian yang digunakan yaitu survey jelajah untuk jenis mangrove, transek garis untuk kerapatan mangrove, penginderaan jauh untuk ketebalan mangrove, visualisasi untuk objek biota asosiasi.  Analisis data untuk indeks kesesuaian wisata (IKW) dan daya dukung kawasan (DDK) berpedoman pada ketentuan dari Yulianda (2019).  Nilai IKW sebesar 2,0 dengan kategori sesuai dan nilai DDK sebanyak 25 orang per hari.  Besar kecilnya nilai DDK kawasan wisata mangrove tergantung pada dua faktor utama, yaitu panjang tracking dan lamanya waktu operasi. Semakin besar nilai panjang tracking dan lamanya waktu operasi, maka semakin besar pula nilai DDK tersebut, sebaliknya semakin kecil nilai panjang tracking dan lamanya waktu operasi maka semakin kecil nilai DDK tersebut.  Sebagai rekomendasi kepada pemerintah desa untuk dapat memperpanjang jarak tracking dengan memanfaatkan ruang-ruang mangrove yang masih tersedia, disamping itu periode waktu wisata dapat diperpanjang dengan dilengkapi fasilitas yang memadai seperti listrik, penerangan, dan lain-lain, agar nilai DDK masih dapat dicapai semaksimal mungkin dalam rangka peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat desa dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungannya. Selanjutnya peran serta masyarakat untuk menjaga kelestarian kawasan hutan mangrove ini sangat dibutuhkan demi keberlanjutan wisata mangrove berbasis ekowisata di Darunu Mangrove Park. Kata kunci: Daya dukung kawasan, Darunu Mangrove Park, Ekowisata, Indeks kesesuaian wisata, Mangrove.
Study of the Potential and Development of a Mangrove Ecosystem Based on Ecotourism in Pinasungkulan Village, Minahasa Regency Bonde, Alis Febri; Boneka, Farnis B. Boneka; Schaduw, Joshian N. W.; Makapedua, Daisy Monica; Rumengan, Antonius Petrus; Manoppo, Victoria E. N.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.57782

Abstract

This research aims to describe the ecological, socio-economic, institutional, and infrastructural conditions. Primary data collection was carried out through direct observation in the field, measuring the potential of mangrove forests, observing biota, and conducting direct interviews with local communities and relevant stakeholders. Secondary data collection was conducted by gathering documents from previous studies/research, legislation, and other supporting data. Four types of mangroves were found: Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, and Avicennia marina. The highest species density was Rhizophora apiculata with 6.56 individuals/m², the highest species frequency was 1 for Rhizophora apiculata, the highest species coverage value was Sonneratia alba at 34.02, and the highest Importance Value Index (IVI) was Rhizophora apiculata at point 3 with a value of 226.98. The mangrove diversity index (H') was 2.66, indicating a moderate category and the highest evenness index was at point 2, with a value of 0.92. The Mangrove Tourism Suitability Index (IKW) value was 2.36, indicating a Suitable category. The mangrove area in Pinasungkulan Village can accommodate a 350 square meter mangrove tracking area. The Area Carrying Capacity (DDK) is 56 people per day, with an operational time of 8 working hours per day. The study on community perceptions regarding the benefits of the mangrove ecosystem and its potential to be developed as an ecotourism destination is very positive, and it is expected that this can improve the community's welfare in Pinasungkulan Village. Keywords: ecotourism, mangroves, carrying capacity, suitability, Pinasungkulan Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kondisi ekologi, sosial ekonomi, kelembagaan dan infrastruktur. Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengamatan langsung (observasi) di lapangan, melalui pengukuran potensi hutan mangrove, pengamatan biota dan wawancara langsung dengan masyarakat lokal dan pihak terkait. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen hasil studi/penelitian, peraturan perundang-undangan dan data pendukung lainnya. Terdapat 4 jenis mangrove yang ditemukan yaitu Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba dan Avicennia marina. Nilai kerapatan jenis tertinggi adalah Rhizophora apiculata yaitu 6,56 individu/m², frekuensi jenis tertinggi adalah 1 pada jenis Rhizophora apiculata, nilai penutupan jenis tertinggi Sonneratia alba yaitu 34,02, Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi jenis Rhizophora apiculata di titik 3 dengan nilai 226,98, indeks keanekaragaman mangrove H’= 2,66 dengan kategori sedang, indeks kemerataan tertinggi pada titik 2 yaitu 0,92. Nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) mangrove 2,36, menunjukkan kategori Sesuai. Kawasan mangrove Desa Pinasungkulan dapat dibangun tracking mangrove seluas 350 meter². Daya Dukung Kawasan (DDK) adalah 56 orang/hari dengan waktu operasional 8 jam kerja per hari. Kajian persepsi masyarakat tentang manfaat ekosistem mangrove dan potensinya untuk dikembangkan sebagai tujuan ekowisata sangat baik sehingga diharapkan hal tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Pinasungkulan. Kata kunci: ekowisata, mangrove, daya dukung, kesesuaian, pinasungkulan
Co-Authors , Esther D. Angkouw Adnan S Wantasen Agung Windarto Ajrin Y Nusi Andika Muhammad Andreas Marbun Angkouw , Esther Dellayani Ari B Rondonuwu Ari B. Rondonuwu Ari Berty Rondonuwu Bella R. Lelewa Billy J. Kepel Billy T. Wagey Billy Th Wagey Billy Wagey Billy Wagey Bonde, Alis Febri Boneka, Farnis B. Boneka Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Calvyn F.A Sondak Carolus P Paruntu Carolus P Paruntu Carolus P Paruntu Carolus P. Paruntu CAROLUS PAULUS PARUNTU Carolus Paulus Paruntu Carolus Paulus Paruntu Chatrien A. L. Sinjal Christian Palit Christine Kondoy Christine Kondoy Cosme B. De C. Da Costa Cristio Singon Daisy Monica Makapedua Darus S. Paransa DARUS SAADAH JOHANIS PARANSA Dedy Octavian Siahaan, Dedy Octavian Deiske A. Sumilat Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Deiske. A. Sumilat Deislie R. H. Kumampung DESY MARIA HELENA MANTIRI Dias Diasasthisa Eko S Wibowo ELVI SISKA MANDIANGAN Elvy Ginting Elvy L. Ginting, Elvy L. Elvy Like Ginting Erlangga, Muhammad Erly Y Kaligis Erly Y. Kaligis Esry T Opa Esther D. Angkouw Farnis B Boneka Farnis B Boneka Farnis B. Boneka Farnis B. Boneka Fernando Gultom, Fernando Firdaut Ismail Fitje Losung Frans Lumuindong George L Pandeirot Gerardus M Tiolong Ginting, Elvy Like Grathia Charity Grevo S. Gerung Gustaf N. Mamangkey Hariyani Sambali Hengky J Sinjal Hermanto Manengkey Hermanto W.K. Manengkey Inayah Inayah Indri Manembu Indri S Manembu Indri S. Manembu Inneke Rumengan Irmalita Tahir James J.H Paulus Jane Mamuaja Jans Lalita Johan Tumiwa Joice R.T.S.L Rimper Joice R.T.S.L. Rimper Joshian N. W. Schaduw Joshian N.W. Schaduw Joshian N.W. Schaduw Joshua W.T. Mailoor Joudy Sangari Khristin I. F. Kondoy, Khristin I. F. Khusnul Hotimah Kurnia Kemer, Kurnia Kurniati Kemer Kurniati Kemer Kurniati Kemer Laurentius Th X Lalamentik Lidya Magdalena Luturkey, Maureen Fenesya Mahmud, Maudy Rusmini Mandei, Kania F.A. Mantiri, Desy M. H Maykel R Munaimbala Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi Meiske Salaki Mikhael A Maramis Muhammad Zhaqif Ambarak Musak, Putra N Gustaf Mamangkey N. Gustaf F. Mamangkey Najamuddin N Natalie D Rumampuk Natalie D. C. Rumampuk Natalie Rumampuk Nebuchadnezzar Akbar Nego E. Bataragoa Noldy G F Mamangkey Noldy G.F Mamangkey Noviantika Rumengan Nurdin Jusuf Olivio E. De Jesus Soares Paraeng, Pricilia Paransa, Darus Sa'adah Johanis Paulus, James Ping A. Angmalisang Ping Astony Angmalisang Ping Astony Angmalisang Puasa, Elsian Putra Musak Rangan, Jety Remy E. P Mangindaan Renaldy Alexander Marpaung Rene Charles Kepel, Rene Charles Reynaldo Mangore Rignolda Djamaluddin Rignolda Djamaludin Rizald Max Rompas, Rizald Max Robert A. B. Tangkery Robert A. Bara Roeroe, Kakaskasen Andreas Romario Pohos Rosita Lintang Royke M. Rampengan Royke M. Rampengan Rumampuk, Natalie Detty C. Runtuwene, Heard C.C. Ruru, Ricky Andreas Rustam Effendi Paembonan Sandra O. Tilaar Sandra Tilaar Sandra Tilaar Sanjay Gagu Sarif Hidayat Sarifudin Tidore Silvester B Pratasik Siolimbona, Abdul Ajiz Stefano Juliander Suwarsono Stenly Wullur Stephanus Mandagi Stevania M Runtuwene Sumilat, Deiske Adeleine Suria Darwasito Suria Darwisito Suria Darwisito Surya Darwisito Suzanne L. Undap Tambunan, Rose Agustin Tidore, Fadli Tirsa Lumbu Trezya Pangemanan Undap , Suzanne Lydia Veibe Warouw Veibe Warouw Veibe Warouw Verisandria, Rio Victoria E. N. Manoppo Victoria EN Manopo Vildo Kasenda Vinsensius V. Makawaehe Wendy Alexander Tanod Werianty Liony Zeak Winda Mercedes Mingkid Yogo Pamungkas, Yogo Zulhan A Harahap