Claim Missing Document
Check
Articles

Causative Agent Vibriosis dari Kerapu Bebebk (Cromileptis altivelis ) : 2. Kakarkterisasi secara Molekuler Berbasis 16 S rDNA Sarjito Sarjito
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.663 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.4.229-235

Abstract

Ikan Kerapu Bebek (Cromileptis altivelis) sakit diperoleh dari keramba jaring apung di Karimunjawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji causative agent utama vibriosis pada ikan kerapu bebek  (C. altivelis) dari  karamba jaring apung di perairan Karimun Jawa.  Sebanyak tujuh isolat vibrio diisolasi dari bagian luka maupun ginjal kerapu bebek sakit yang menunjukkan gejala vibriosis.  Hasil uji postulat koch dan pathogenisitasnya dari enam isolat,  diperoleh bahwa tiga isolat (isolat  JT 07; JT 10 dan JT 20 ) yang mengakibatkan 100% dan merupakan agensia penyebab utama vibriosis pada ikan Kerapu Bebek . Oleh karena itu,  pada penelitian ini hanya tiga isolat ini yang akan dilakukan uji selanjutnya. Teknik  molekuler gen 16S rDNA (amplifikasi 16S DNA ribosom) digunakan untuk karakterisasi ketiga causative agent utama secara komprehensif. Berdasarkan analisis sekuen gen 16S rDNA, data menunjukkan bahwa isolat JT 07 memiliki kekerabatan terdekat dengan Vibrio olivaceus (99%); isolat JT 10 dengan  V. damsella (99%)  dan isolat JT 20  dengan  V. alginolyticus  (98%). Kata kunci:  causative agent, Vibriosis,  molekuler,  Kerapu bebekMoribound Humpbeck Grouper fish (Cromileptis altivelis) was taken from the cages of Karimunjawa. The research aim was to find out the main causative agent of vibriosis on humpbeck grouper (C. altivelis)  from Karimunjawa waters. Seven  isolates of Vibrio were isolated from external wound and kidney of the humpbeck grouper fish (C. altivelis) which showed the clinical signs of vibriosis. Based on the koch postulate and pathogenecity test results indicated that three vibrios  (isolate JT 07; JT 10 and JT 20 ) act as a main causative agents of vibriosis which caused mortality of  100% to E. fuscogutatus.  Because of highest mortality as pathogenicity indicator, the three isolates were continued to investigate. A complementary molecular techniques of 16S rDNA genes (amplified 16S ribosomal DNA) was used to give a comprehensive characterization of these isolates.  On the basis of the results of sequen analysis, our data showed that JT 07; JT 10 and JT 20 isolates were closely related to Vibrio olivaceus (99.0%); V. damsella (99%)  and  V. alginolyticus  (98%) respectively.. Key Words : Causative agent, Vibriosis, molecular,  humpbeck grouper  
Pemanfaatan Fenomena Pertumbuhan Compensatory pada Budidaya Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) A. Santoso; Ali Djunaedi; Sarjito Sarjito
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.196 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.121-126

Abstract

Penelitian dilakukan untuk melihat fenomena pertumbuhan compensatory pada pemeliharaan ikan nila merah (O. niloticus). Penelitian skala laboratorium dilakukan dari pertengahan Agustus sampai pertengahan Oktober 2001, di hatchery Ilmu Kelautan FPK Undip, Teluk Awur, Jepara. Benih ikan nila merah (berat rata­rata 37,74±1,16 gr) yang berasal dari Balai Benih Ikan yang sebelumnya diaklimatisasikan pada kondisi laut dipelihara dalam bak-bak percobaan (kepadatan 5 ekor/m3). Masing-masing bak percobaan berlsi 12 ekor ikan. Perlakuan pemuasaan diberikan dengan 3 kali pengulangan selama satu bulan percobaan, yaitu: ikan diberi pakan setiap hari (A/kontrol): ikan diberi pakan selama 6 hari diikuti pemuasaan 1 hari (B): ikan diberi pakan selama 5 hari diikuti pemuasaan 2 hari (C); ikan diberi pakan selama 4 hari diikuti pemuasaan 3 hari (D). Pakan diberikan 2x sehari sebanyak 5% dari biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan pada semua perlakuan mengalami pertumbuhan, sebagai berikut, 7,42 gr/minggu (A), 7,18 gr/minggu (B), 3.44 gr/minggu (e), dan 5,34 gr/minggu (D). Meskipun tingkat pertumbuhan berbeda, tetapi secara statistik tidak ada perbedaan dalam tingkat pertumbuhannya. Hasil ini menunjukkan telah terjadi pertumbuhan compensatory. dan kemungkinan adanya penghematan pakan sebesar 14 - 43%.Kata kunci: nila merah, pertumbuhan ompensatory, tingkat pertumbuhan  The experiment was done to investigate compensatory phenomenon on the of red tilapia (O. niloticus). The experiment was prepared and commenced from the mid of A ugust to the the mid of October 2001 at the hatchery of Marine Science, Undip, In Teluk Awur Jepara, under the laboratory condition. Red tilapias of mean weight of 37.74 g ÷SD 1.16 obtained from the Hatchery were acclimated in seawater conditions. The fish were cultured in the tanks with a density of 5 fish/m3 (12 fish/tank). The treatments were feeding dally (A/control): fish fed 6 days-a day unfed (B),·fish fed 5 days-2 days unfed (C): and fish fed 4 days-3 days unfed (D). Feeding frequency was twice a day with 5% of the biomass. The results showed that all of the fish at the different treatment tended to grows: and the growth rates were A)7.42 g/week, B)7.18 g/week. C)3.44 g/week and D)5.34 g/week. Satistically, however there was no significant difference of the growth rate among the fish (Ancova). The results also suggested that the compensatory growth occurred, and there was a possibility to save the foods about 14 to 43%.Keywords: red tilapia, compensatory growth, growth rate
PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN LELE(Clarias gariepinus, Burchel) YANG DIBUDIDAYAKAN SECARA SUPERINTENSIF MELALUI APLIKASI SISTEM IMTA DENGAN CACING Tubifex DI BOYOLALI Growth Performances of Catfish (Clarias gariepinus, Burchel) cultivated superintensif through Application of IMTA with Tubifex worm System in Boyolali Sri Hastuti; Subandiyono Subandiyono; Sarjito Sarjito
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 12, No 1 (2016): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.347 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.12.1.30-34

Abstract

 Usaha  budidaya ikan di Boyolali mampu memberikan pendapatan dari usaha budidaya lele dengan hasil yang menjajikan. Usaha lele tersebut mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga sebesar 54% hingga 100%. Nilai R/C rasio lebih besar 1, yang berarti  bahwa usaha tani budidaya ikan lele tersebut efisien dan layak untuk dikembangkan. Ketenaran Kabupaten Boyolali akan hasil budidaya ikan lele yang menjajikan secara ekonomi telah memacu penduduknya untuk memproduksi ikan lele.Hasil produksi ikan lele di Boyolali secara nyata dipengaruhin oleh variabel luas lahan dan variabel benih lele.Oleh karena itu, keterbatasan lahan yang dimiliki oleh para usahatani Sumber Rejeki tersebut menjadi permasalahan yang perlu dipecahkan.Untuk memaksimumkan produksi lele dengan lahan terbatas tersebut dapat dilakukan dengan teknologi IMTA (Integrated Multi TrophicAquaculture). Teknologi ini menggabung ikan lele dengan cacing tubifec, sehingga akan menghasilkan ikan lele dan tubifek.Namun kegiatan budidaya sistem IMTA yang menggabungkan antara ikan lele dengan cacing Tubifek masih tergolong belum pernah dilakuakan oleh para petani.Sistem IMTA ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu (1) meningkatkan efisiensi input dan output yang menghasilkan kenaikan nilai ekonomis, karena dihasilkan ikan lele dan cacing tubifek. (2) memperbaiki atau meminimalisir limbah buangan kegiatan budidaya ikan, (3) meningkatkan kemanfaatan limbah kegiatan budidaya ikan yang potensial sebagai pupuk organik untuk proses produksi Tubifec.  Benih lele berukuran bobot 1,5±0,1 g dipelihara dengan kepadatan 500 ekor per meter persegi.  Selama pemeliharaan 3 bulan, ikan diberi pakan pelet komersial untuk lele secara ad satiationdengan frekwensi dua kali sehari.  Pada bagian atas kolam dilengkapi dengan talang bertingkat sebagai tempat pemeliharaan tubifec.  Air dari kolam dipompa ke atas talang atau wadah cacing tubifec.  Hasil pemeliharan diperoleh ikan lele dengan pertumbuhan relatif sebesar 72,96 g% perhari dan angka kelngsungan hidup mencapai 96,66% dan nilai FCR sebesar 1.  Selama satu bulan, Tubifec mengalami pertumbuhan sebesar 66,66%     Fish farming in Boyolali are able to provide income from catfish culture with promising results. The catfish effort to contribute to the household income by 54% to 100%.  Rated R / C ratio is greater than 1, which means that the catfish farming are efficient and feasible to develop.  The Boyolali was known as location of catfish production and  that will be farmed economically promising has spurred citizens to produce catfish.  The production of catfish in Boyolali significantly was affectedby land area and seed catfishvariable.  Therefore, the limited land owned by the farmers “Sumber Rejeki” isa problem that needs to be solved. To maximize the production of catfish with limited space can be done throughIMTAtechnology (Integrated Multi TrophicAquaculture). This technology merge catfish with tubifex worms, so it will produce catfish and tubifex. However, farming activities with IMTA system that combines catfish with worms tubifex still relatively rare by farmers.   IMTA system has several advantages, (1) improve the efficiency of inputs and outputs that result in increased economic value, as produced catfish and worm tubifex. (2) correct or minimize waste from fish farming activities, (3) increase the utilization of the fish farming waste as an organic fertilizer for the tubifex production process.  Sized catfish seed weight of 1.5±0.1 g maintained at densities of 500 individuals per square meter. During the three-month rearing time, fish fed a commercial pellet for catfish ad satiation with a frequency of twice a day.At the top of the catfish pondwas put the equipment with arranged adouble level drine pipe as a tubifec pond culture. The water from the catfish pond is pumped to the top drine pipe or worm tubifecrearing tank. Results of the catfish farming wtih IMTA system were relative growth rate of catfish i.e. 72.96 g% daily and survival rate  reached 96.66% and FCR value is 1. During one month, tubifex grow were66.66% 
SELEKTIF BAKTERI YANG BERASOSIASI DENGAN KEMATIAN IKAN NILA (Oreochromus niloticus) DI KABUPATEN MAGELANG (Bacterial Selective Associated with Tilapia (Oreochromus niloticus) Mortality in Magelang Regency ) Sarjito Sarjito; Monica Nanda; Sulisyaningrum Sulisyaningrum; Alfabetian Harjuno Condro Haditomo; Desrina Desrina; Slamet Budi Prayitno
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 17, No 1 (2021): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.17.1.%p

Abstract

Kematian ikan nila  yang terjadi karena wabah penyakit  di Kabupaten Magelang mencapai kisaran 40 - 75 % pada bulan Juni – September 2019, mengakibatkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji gejala klinis, dan bakteri yang berasosiasi dengan kematian ikan nila tersebut.  Metode studi kasus konfirmatori dengan purposive sampling diaplikasikan. Duapuluh tiga ikan nila sakit panjang 8,87 ± 0,61cm diperoleh dari kolam pembesaran di Desa Keji, Kecamatan Muntilan dan Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, sebagai sampel.  Isolasi bakteri dilakukan dengan metode gores pada media TSA dan GSP. Hasil isolasi dari keduapuluh tiga ikan sampel diperoleh 43 isolat bakteri murni. Berdasarkan karakter morfologi, media isolasi, bentuk dan warna dan karakter serta asal koloni, dari 44 isolat bakteri tersebut terseleksi 6 isolat (SN03, SN26,  SN48, SN51 , SN66 dan SN77)  untuk dilakukan uji selanjutnya yaitu uji postulat Koch dan karakterisasi secara biokimia dengan API KIT Vitek 2 Compact.  Gejala klinis yang terdeteksi pada ikan sampel dan ikan uji adalah pergerakan ikan pasif dan berenang di permukaan air, sirip geripis, luka pada tubuh, insang pucat, bercak merah pada tubuh, exopthalmia dan produksi lendir berlebih serta organ dalam yang memucat. Uji postulat Koch diperoleh bahwa keenam isolat bakteri menyebabkan ikan uji sakit dengan mortalitas berkisar antara 46,6 - 96,6%.  Hasil karakterisasi diperoleh bahwa keenam selektif bakteri yang berasosiasi dengan kematian ikan nila di kabupaten Magelang adalah Aeromonas hydrophila (SN 03), Streptococcus agalactiae (SN 26), Aeromonas sobria (SN 48), Pseudomonas putida (SN 51), Pseudomonas aeruginosa (SN 66) dan Aeromonas caviae (SN 77). Mortality of Tilapia (Oreochromis niloticus) due to disease outbreaks in Magelang Regency reached 40 - 75% from June - November 2019, resulting in economic losses of farmer. This study aims were to determine the clinical symptoms and bacteria associated with tilapia mortality.  A confirmatory case study method with purposive sampling was applied. Twenty-three sick tilapia fish with a length of 8.87 ± 0.61 cm were obtained from grow out  pond in Keji Village, Muntilan District and Pabelan Village, Mungkid District, Magelang District, as samples. Bacteria isolation was carried out by scratch method on TSA and GSP media. The isolation from twenty-three fish samples resulted on 43 bacterial isolates.  Based on morphological characters, isolation media, shape and color as well as sources and character colony of 44 isolates, they were selected into 6 isolates (SN03, SN26, SN48, SN51, SN66 and SN77) for further testing, i.e: the Koch postulate test and biochemical characterization using Vitek 2 Compact. API KIT.  The clinical symptoms detected in the samples and test fish were fish that moved passively and swam on the surface of the water, wrinkled fins, wounds on the body, pale gills, red spots on the body, exopthalmia and excess mucus production and pale internal organs.  The Koch postulate test result showed that the six selected bacterial caused the test fish to be sick with a mortality ranging from 46.6-96.6%. The characterization of the selective bacteria associated with tilapia mortality in Magelang Regency, namely:  SN03, SN26, SN48, SN51, SN66 and SN77 were Aeromonas hydrophila (97%); Streptococcus agalactiae (98%), Aeromonas sobria (96%) Pseudomonas putida (96%); Pseudomonas aeruginosa (96%) and Aeromonas caviae (98%) respectively. 
POTENSI EPIBIOTIK CAMPURAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) DAN TEMULAWAK (Curcuma zanthorrhiza) PADA PAKAN UNTUK MENGATASI INFEKSI Aeromonas hydrophila PADA IKAN LELE (Clarias gariepinus) Sarjito - Sarjito; Slamet Budi Prayitno; Nida Qolbi Salma Rochani; Alfabetian Harjuno Condro Haditomo; Rosa Amalia; Desrina Desrina
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.814 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.16.1.51-58

Abstract

Salah satu permasalahan pada budidaya ikan lele adalah Aeromonasis yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila. Berbagai upaya pencegahan dan pengobatan telah dilakukan dengan menggunakan bahan kimia maupun herbal. Bahan herbal, berupa epibiotik (tunggal maupun campuran) digunakan oleh pembudidaya untuk pencegahan dan pengobatan penyakit ini, karena mudah diperoleh, murah dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan campuran epibiotik, ekstrak daun binahong dan temulawak pada pakan terhadap profil darah dan kelulushidupan ikan lele yang diinfeksi A. hydrophila. Metoda yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (6 perlakuan dan 3 ulangan). Seratus delapan puluh ikan lele uji dengan panjang 7-9 cm yang dipelihara pada akuarium berisi air 10 L.  Dosis campuran epibiotik, esktrak daun binahong dan temulawak menggunakan perbandingan untuk perlakuan A (0%:0%), B (100%:0%), C (75%:25%), D (50%:50%), E (25%:75%) dan F (0%:100%) dengan dosis dasar 2500 ppm untuk ekstrak daun binahong dan 900 ppm untuk temulawak. Campuran epibiotik tersebut ditambahkan pada pakan komersil sebagai pakan uji dengan metode spray. Pakan uji diberikan selama 14 hari, kemudian pada hari kelimabelas ikan uji diinjeksi A. hydrophila secara intramuscular dengan konsentrasi 106 CFU/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis ikan lele yang terinfeksi A. hydrophila adalah nafsu makan rendah, bercak merah, luka, haemorhagi serta warna tubuh memucat.  Penambahan campuran epiobiotik ekstrak daun binahong dan temulawak berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap profil darah dan kelulushidupan ikan uji pasca perlakuan dan pasca infeksi. Campuran epibiotik D mampu melawan infeksi A.hydrophilla pada C. gariepinus dengan tingkat kelulushidupan tertinggi (90±17%). One of the problems in catfish culture was aeromonasis that was caused by Aeromonas hydrophila. The prevention and threatment of this disease have been carried out with using chemichal substance and an epibiotics from eco-friendly herbal plant extracts. Epibiotics, such as binahong leaves and curcuma extracts had been applicated by farmers to threat this disease because of it’s cheap and easy to get it. The aims of this study was to evaluate the effect of mixture binahong leaves and curcuma extracts in feed on blood profile and survival rate of catfish infected A. hydrophila. The method of research used was Completely Randomized Design, consisted of 6 treatments and 3 replications. The catfish used was 180 fishes with length of 7-9 cm that were cultured in aquarium with 10L waters. The basic dosage of binahong leaves and curcuma extracts used was 2500 ppm and 900 ppm with the ratio of treatment A (0%:0%), B (100%:0%), C (75%:25%), D (50%:50%), E (25%:75%), and F (0%:100%). The mix extract was added to the commercial feed as a feed test with spray methods. The treatment feed was given for 14 days and on the next day was done infected A. hydrophila intramusculary with density of 106 CFU/mL. The result showed that catfish infected A. hydrophila had low appetite, redness, ulcer, and hemorhagic, pale body. Feeding with the treatment feed showed the significant result on catfish’s blood profile and survival rate post-treatments and post-infection  (p<0.05). Treatment D showed the best result on survival rate (90±17%).
EFEK EKSTRAK KULIT BATANG KELOR (Moringa oleifera Lam) PADA STATUS KESEHATAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) YANG DIINFEKSI Aeromonas hydrophila Sarjito Sarjito; Fifiana Zulaekah; Alfabetian Condro Haditomo; Desrina Desrina; Restiana Wisnu Ariyati; Slamet Budi Prayitno
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 2 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.16.2.%p

Abstract

Ikan mas banyak dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomis penting. Serangan penyakit bercak merah (Motile Aeromonas Septicemia)   masih merupakan kendala dalam budidaya ikan tersebut.  Penyakit ini disebabkan oleh bakteri genus Aeromonas, antara lain  Aeromonas hydrophila.  Untuk mengatasi infeksi bakteri tersebut dimungkinkan untuk menggunakan bahan herbal.  Kulit batang kelor merupakan bahan herbal yang berpotensi sebagai antibakteri.  Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh  ekstrak kulit batang kelor terhadap status kesehatan dan kelulushidupan  ikan mas yang diinfeksi  A. hydrophila.   Ikan uji  yang digunakan adalah 120 ekor dengan rata-rata bobot 13,58 ± 2,83 g dan rata - rata panjang 9,93± 0,72 cm yang di infeksi A. hydrophila sebanyak 0,1 mL secara intramuscular dengan kepadatan bakteri 107 CFU/mL. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap 4 perlakuan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah perendaman ekstrak kulit batang kelor dengan konsentrasi 0 mg/L ( perlakuan A), 1000 mg/L (perlakuan B ), 2000 mg/L (perlakuan C ) dan 3000 mg/L (perlakuan D).  Metode perendaman yang digunakan adalah  long bath selama 2 jam.  Perendaman dilakukan setelah gejala klinis dari infeksi A. hydrophila muncul.  Data status kesehatan yang diamati meliputi kelulushidupan, eritrosit, leukosit dan hematokrit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman ekstrak kulit batang kelor berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan,  eritrosit, leukosit dan hemoglobin  ikan mas (P<0,05), tetapi tidak berpengaruh pada hematokrit (p>0.05).  Kosentrasi  ekstrak kulit batang kelor  1000 - 3000 mg/L dapat digunakan untuk mengobati ikan mas yang terinfeksi bakteri A. hydrophila. Kelulushidupan tertinggi  83,3± 5,77% dicapai pada perendaman 3000 mg/L. Oleh karena itu perendaman ekstrak kulit batang kelor dengan konsentrasi ini dapat digunakan untuk meningkatkan kelulushidupan  ikan mas yang terinfeksi A.hydrophila. Carp is a  freshwater fish with high economic value that is commonly cultivated. One of the constraints in the cultivation is disease outbreaks cause by Aeromonas hidrophila. Moringa is a plant that has a potential antibacterial agent. Its skin stem can be used as antibacterial agent for Aeromonas hydrophila. This research was aimed to observe the performance of moringa skin stem extract to infected carps according to their survival rate and blood profile. Randomized experimental design was implemented to 120 fishes with average weight 13.59 ± 2.83 g and treated in 4 treatments and 3 replicates. The moringa skin stem extract were A (0 mg / L), B (1000 mg / L), C (2000 mg / L) and D (3000 mg /L) and immersed for 2 hours. Experimental carps were infected with 0.1 mL A. hidrophila at concentration of 107 CFU/mL pour to treatment until appeared clinical sign. The result showed that moringa stem skin extract immersion significantly (P<0.05) improved the survival rate and blood profile, such as leucocytes of experimental carps. The moringa skin stem extract at 1000 mg/L demonstrated the best performance on the survival rate of infected experimental carps (83,3± 5,77%) 
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA NILA SALIN (Oreochromis niloticus) DI PERTAMBAKAN KECAMATAN TAYU (Analysis On Land Suitability Cultivation Of Saline Tilapia (Oreochromis niloticus) at The Pond in Tayu District) Sri Nurchayati; Haeruddin Haeruddin; Fajar Basuki; Sarjito Sarjito
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 17, No 4 (2021): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.17.4.224-233

Abstract

Nila salin (Oreochromis niloticus) adalah ikan nila yang dibudidayakan pada perairan payau dengan memanfaatkan sifat euryhaline (dapat mentoleransi perubahan salinitas dengan rentang yang lebar). Ikan ini mampu tumbuh dan berkembangbiak pada salinitas 0 – 20 ppt dan masih dapat hidup pada salinitas 35 ppt. Keunggulan ikan nila adalah pertumbuhan cepat, mudah berkembangbiak, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Pembudidaya ikan di Kecamatan Tayu Kabupaten Pati mulai mencoba budidaya nila salin karena kegagalan dalam budidaya udang. Lahan yang digunakan untuk budidaya nila salin di Kecamatan Tayu pada tahun 2015 seluas 2 Ha dan meningkat menjadi 582 Ha pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lahan budidaya nila salin di Pertambakan Kecamatan Tayu. Metode yang digunakan adalah metode survei. Analisis kesesuaian lahan dilakukan dengan metode matcing untuk mendapatkan kelas kesesuaian lahan. Hasil analisis kesesuaian lahan tambak ikan nila di lokasi penelitian digolongkan pada tingkat kesesuaian kelas S3 (sesuai marginal) dengan nilai rata-rata 72,6 %. Faktor pembatas yang perlu menjadi perhatian serius adalah fluktuasi Oksigen terlarut, potensial redoks dan TSS. Saline tilapia (Oreochromis niloticus) is a tilapia fish that is cultivated in brackish waters by utilizing its euryhaline properties (it can tolerate a wide range of changes in salinity). This fish is able to grow and reproduce at a salinity of 0 – 20 ppt and can still live at a salinity of 35 ppt.. The advantages of tilapia are fast growth, easy to breed, and easy to adapt to the environment. Fish cultivators in Tayu District, Pati Regency, started trying saline tilapia cultivation due to failures in shrimp cultivation. The land used for saline tilapia cultivation in Tayu District in 2015 was 2 hectares and increased to 582 hectares in 2018. This study aims to analyze the suitability of saline tilapia cultivation land in Tambakan, Tayu District. The method used is a case study survey method. Land suitability analysis was carried out using the matching method to obtain land suitability classes. The results of the suitability analysis of tilapia ponds in the research location were classified at the level of suitability for S3 class (marginally appropriate) with an average value of 72.6%. Limiting factors that need serious attention are fluctuations in dissolved oxygen, redox potential and TSS.
Pengaruh Penambahan Asam Amino Lisin pada Pakan Komersil terhadap Efisiensi Pemanfaatan Pakan, Pertumbuhan, dan Kelulushidupan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Diana Rachmawati; Sarjito Sarjito; Panji Yusroni Anwar; Seto Windarto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 3 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i3.9183

Abstract

Reducing feed cost in the vaname (Litopenaeus vannamei) cultivation can be achieved by increasing quality of commercial feed. To increase the feed quality is by adding lysine amino acid, because lysine is one of the amino acids  that can boost fish growth, in turn it can shorten the cultivation cycle. The objectives of the study were to analyze effects and optimum dosages of lysine addition in the feed on feed efficiency utilization, growth and survival rate of vaname shrimp (L. vannamei). The study used shrimp juveniles with the average size of 3±0,09 g/shrimp.  Test feed in the study was a commercial feed in the form of pellets that was enriched with lysine (L-lysine HCl).  The amount of lysine was appropriated to the treatment dosages, namelys 0%/kg feed (A); 0,75 %/kg feed (B); 1,5%/kg feed (C); 2,25%/kg feed (D) and 3%/kg feed (E). Feeding the shrimp was based on fixed feeding rate as much as 10% of biomass weight per day and given 4 (four) times a day.  The results whow that the addition of lysine in the feed significantly (P<0,01) affected on the SGR, EPP, FCR, and PER; otherwise, it did not significantly affect on the survival rate of vaname shrimp.  Meanwhile, the optimum dosages of lysine amino acids added into the feed were 2,33%, 2,39%, 2,37%, and 2,09% for SGR, EPP, FCR, and PER respectively.  Those dosages resulted in the maxium values of  4,72%/day,  81,35%,  1,23, and 2,57 for SGR, EPP, FCR, and PER respectively.   Penurunan biaya operasional pakan dalam siklus kegiatan budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas pakan komersial.  Penambahan asam amino lisin pada pakan komersial dilakukan untuk meningkatkan kualitas pakan, dikarena lisin merupakan salah satu asam amino dapat mempercepat pertumbuhan sehingga memperpendek masa produksi kultivan yang dibudidayakan. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh dan dosis optimum penambahan lisin pada pakan komersil terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan, dan kelulushidupan udang vaname (L. vannamei). Penelitian ini menggunakan juvenile udang vaname berukuran 3±0,09 g/ekor. Pakan uji dalam penelitian ini adalah pakan komersil berbentuk pellet yang ditambahkan lisin (L-lysine HCl) sesuai dosis tiap perlakuan yaitu 0%/kg pakan (A); 0,75 %/kg pakan (B); 1,5%/kg pakan (C); 2,25%/kg pakan (D) dan 3%/kg pakan (E). Pakan uji diberikan dengan metode fix feeding rate sebanyak 10%/bobot biomassa/hari dan frekuensi pakan yang diberikan sebanyak 4 kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan lisin pada pakan komersial berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap SGR, EPP, FCR, dan PER akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan udang vaneme. Dosis optimal asam amino lisin dalam pakan komersial udang vaname untuk SGR sebesar 2,33%, EPP sebesar 2,39%, FCR sebesar  2,37% dan PER  sebesar 2,09% menghasilkan SGR maksimal sebesar 4,72%/hari,  EPP maksimal sebesar 81,35%,   FCR maksimal sebesar 1,23, dan  PER maksimal sebesar 2,57.
PENGARUH EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP TINGKAT PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI Vibrio harveyi DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA SALIN (Oreochromis niloticus) Raynol Simorangkir; Sarjito Sarjito; Alfabetian Harjuno Condro Haditomo
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 4, No 2 (2020): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v4i2.4576

Abstract

Vibrio harveyi merupakan salah satu agen pembawa penyakit vibriosis yang menjadi penyebab kematian masal dalam budidaya ikan bersalinitas baik pembenihan maupun pembesaran. Bawang putih (Allium sativum) sebagai salah satu tanaman obat terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap spektrum luas bakteri Gram positif maupun Gram negatif, sehingga berpotensi dijadikan antibiotik alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan  ekstrak bawang putih (A. sativum) pada pakan terhadap kelulushidupan ikan nila salin (Oreochromis niloticus) yang diinfeksi oleh bakteri V.harveyi. Penelitian dilakukan dengan metode eksperiman menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Parameter yang diamati yaitu kelulushidupan (survival rate/SR), total leukosit, dan gejala klinis secara morfologi ikan nila salin yang diinfeksi bakteri V.harveyi. Total ikan uji sebanyak 120 ekor dengan panjang rata-rata ± 10 cm. Perlakuan yang diberikan yaitu A (0 ppm), B (50 ppm), C (100 ppm), dan D (150 ppm) didapat berdasarkan hasil uji pendahuluan berupa uji zona hambat. Pergantian air dilakukan setiap 3 kali sehari  sebanyak 30% dari air pemeliharaan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak bawang puith berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan (p<0,05). Perlakuan D (150 ppm) menunjukkan kelangsungan hidup tertinggi (68,15%), diikuti perlakuan C (66,67%), B (62,96%) dan A (48,15%). Konsentrasi terbaik ditunjukkan oleh perlakuan D yaitu 150 ppm.
GROWTH OF SEAWEED Gracilaria verrucosa CULTURED ON DIFFERENT INITIAL WEIGHT WITH LONGLINE METHODS IN KARIMUNJAWA WATERS TITIK SUSILOWATI; DICKY HARWANTO; CHONDRORESMI BANOR FAWWAZ; ALFABETIAN HARJUNO CONDRO HADITOMO; SARJITO SARJITO
Scripta Biologica Vol 6, No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1019.551 KB) | DOI: 10.20884/1.sb.2018.5.4.1120

Abstract

One factor that can optimize seaweed production is determining the initial weight of planting. However, planting seaweed in open waters is very vulnerable to aggregation from herbivorous fish. This study aims to determine the best initial weight for the growth of G. verrucosa, which is cultivated in net cage by the longline method. Net cages, made of nylon, are applied as protection for G. verrucosa from aggregation of herbivorous fish. This research was conducted in Karimunjawa waters, Jepara Regency, Central Java, for 42 days. The experimental design used was Randomized Block Design (RBD), with three treatments and four replications each. The treatment was different initial planting weights of 25, 50, and 75 g. The observed variables included culture techniques, relative growth rates, specific growth rates, and water quality. The analysis showed that the different initial weight was very significant (P <0.01) on the growth of G. verrucosa. Treatment with an initial weight of 25 g gave the best relative growth rate (2.07±0.25%.d-1), and the best specific growth rate (1.48±0.13%.d-1). Furthermore, this study was able to prove that the use of a net planting cage on a seaweed hanger can avoid aggregation of herbivorous fish, which is indicated by the growth of G. verrucosa.
Co-Authors - Aminah - Desrina, - - Istikhanah - Susanti, - - Triyaningsih A. Harjuno Condro Haditomo A. Santoso Adhi Kurniawan Adi Santoso Afifah, Roidah Nur Agatya Sara Ardiantami, Agatya Sara Agil Setya Utomo, Agil Setya Agus Dwi Anggono Agus Pranoto Syah, Agus Pranoto Agus Yulianto Aji, Nisa Pamesty Rahma Alfabetian Condro Haditomo Alfabetian Harjuna Condro Haditomo Alfabetian Harjuno Condro Haditomo Alfia Magfirona Alfiyani, Lina Ali Djunaedi Amalia, Ayu Rizki Amanda Mega Putri, Amanda Mega ANGELA MARIANA LUSIASTUTI Anggoro, Agung Doni Anggun Putriani Situmorang, Anggun Putriani Aninditia Sabdaningsih Anisa Dwiaryani Latifah Annisa Oktafianti Nurlatifah, Annisa Oktafianti Aprilia Dwi Indriani Arifin Arifin Arum Almuaromah, Dita Asep Akmal Aonullah Astri Pujiati Aulia Resty Wijayanti Aulia, Annisa Syahida Ayi Santika Ayu Wulandari Bosma, Roel Bosma, Roel H. Briliani Ayu Wardani Budi Setiawan Buyung Junaidin, Buyung Caesa, Genio Chairulina Pitrianingsih CHONDRORESMI BANOR FAWWAZ Chyntia Arindita Dani Indrarini David Panca Wijaya, David Panca Desrina Desrina Dewi Nurhayati Dhani Mutiari Dian Ratna Sari Dian Wijayanto Diana Chilmawati Diana Chilmawati Diana Rachmawati Dicky Harwanto Ditha Cahyaningrum Ditha Febriana Dewanti Nineung Edward Raharja, Edward Endah Setyowati Eni Ashfa Ashofa Ervia Yudiati Fajar Basuki Famelia Meta Putri Fandy Malik Muhammad, Fandy Malik Fatian, Adella Spextania Ferdian Bagus Feriandika Fifiana Zulaekah Fitriadi, Ren Gina Saptiani Haeruddin Haeruddin Hasna, Salma Khoironnida Hasyim Asyari Ika Puspitasari Indah Febry Hastari Intan Eska Amalia Syahida Istiyanto Samidjan Jery, Jery Johannes Hutabarat Jokosisworo Jokosisworo Kewa, Kristofora Karolina Khuzaimah, Ima Siti Kurniawan Kurniawan Laksono Trisnantoro Lestari Lakhsmi Widowati Lilik Maslukah Lilik Setiyaningsih Linuwih Aluh Prastiti Lukman Anugrah Agung Lukman Lukman Marwenni Siregar, Marwenni Milza Apriliani, Milza Mita Umiliana, Mita Monica Nanda Muchtar muchtar Muhammad Burhan Mukhlisin, Latutik Nailil Muna Nida Qolbi Salma Rochani Noor Alis Setiyadi Nur Aklis Nur Annisa Nuri Nia Yanti, Nuri Nia Nurul Hidayati Ocky Karna Radjasa Panji Yusroni Anwar Prabowo, Anggit Bayu Pramudita Apriliyanti Prayitno, S. Budi Pungki Nanda Pratama Purwanto Purwanto Pusaka, Semerdanta R. Dewi Dharina Nurjannah Rahman, Nuril Endi Rahmawati, Amelia Rahmi Gusti Darma Raynol Simorangkir Rensiga Rintan Bunga Sari Restiana Ariyati Restiana Wisnu Ariyati Rini, Endah Setyo Ristiawan Agung Nugroho Rohita Sari Rosa Amalia Rosalina Safitri Rusydina Qamarul Salikin S. Budi Prayitno Sahala Hutabarat Sarastiti, Siwi Schrama, Johan Sekar Ayu Chairunnisa Seto Windarto Setyo Putro Rahmanto Setyowati, Suryaning Siti Nurjanah Siti Ziyadaturrohmah Siwi Hartanti Slamet B Prayitno slamet budi prayitno Slamet Budi Prayitno Soedibya, Petrus Hary Tjahja Sri Hastuti Sri Hastuti Sri Nurchayati Sri Nuryati Sri Rejeki Subagiyo Subagiyo Subandiyono Subandiyono Subroto Subroto Sulisyaningrum Sulisyaningrum Sumini Sumini, Sumini Suminto , Suminto - Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suradi Wijaya Saputra Tita Elfitasari Titik Susilowati Tri Mulyadi Trienes, Yoni W. Widiatmoko Wiji Utami, Wiji Wijianto Wijianto Wisnu Widyantoro Wiyadi Yelliana Fatmawati Suwarno Yohanes Kristiawan Artanto