p-Index From 2021 - 2026
3.531
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Humaniora Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya Jurnal Pendidikan Vokasi Cakrawala Pendidikan Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan DIKSI Litera Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni Journal of Education and Learning (EduLearn) Journal on Mathematics Education (JME) Harmonia: Journal of Research and Education Jurnal Filsafat Journal on Mathematics Education (JME) Ar-Raniry, International Journal of Islamic Studies LingTera Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan KEMBARA Wawasan : Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya The Journal of Educational Development Al Ishlah Jurnal Pendidikan Panggung Jurnal Filsafat Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series Cakrawala Indonesia English Focus: Journal of English Language Education Budapest International Research and Critics in Linguistics and Education Journal (Birle Journal) Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Britain International for Linguistics, Arts and Education Journal (BIoLAE Journal) The Journal of English Language Teaching, Literature, and Applied Linguistics (JELA) Jurnal Kajian Seni Mamangan Social Science Journal Studies in English Language and Education Proceeding of International Conference on Science, Education, and Technology Jurnal Nusantara Raya Panggung Literature and Literacy Journal on Mathematics Education Disastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Cakrawala Pendidikan

MENYAMBUT PENDIDIKAN HUMANIORA : BEBERAPA CATATAN TENTANG SASTRA DAN PENGAJARANNYA Suminto A. Sayuti
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN, EDISI 1,1984,TH.IV
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.394 KB) | DOI: 10.21831/cp.v1i1.7454

Abstract

Di antara kita sering timbul pernyataan-pernyataan yang bernada sumbang serta agak meremehkan dan mengejek bahwa karya sastra hanyalah merupakan hasil angan-angan dan khayalan para sastrawan; para sastrawan yang dinilai tidak mermpunyai pekerjaan, kecuali hanya melamun, berkhayal. Dengan demikian bagi mereka yang melecehkan sastra, hasil kerja para sastrawan tersebut tentu saja tidaklah realistik, bahkan sama sekali tidak menggambarkan kehidupan sehari-hari yang sesungguhnya. Anggapan seperti itu bertambah parah manakala ditambah dengan pembicaraan tentang seniman (inklusif sastrawannya), yang dibayangkan sebagai profil atau figur seorang tokoh yang serba 'kumal' dan 'jorok', yang hidup tanpa aturan dan seenak perut sendiri, yang hanya sibuk lalu-Ialang ke sana ke mari atau bergerombol dengan sesamanya sambil mengobrol 'menunggu datangnya ilham'. Oleh karena itu, sering timbul pula pertanyaan-pertanyaan seperti; Apakah kita perlu membaca karya sastra, bahkan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh? Apakah hal itu bukan merupakan pekerjaan yang sia-sia belaka, yang tidak bermanfaat dan hanya memboroskan waktu tanpa hasil apa pun? Bukanlah sebiji novel hanya pantas dibaca mana kala kita duduk di halte menunggu bis datang, atau dalam kereta api jarak jauh, atau di ruang antre dokter untuk menunggu giliran dipanggil ? Dst. dst. Semen tara itu, di pihak yang lain timbul pula anggapan yang kuat bahwa seorang pembaca karya sastra yang 'dewasa' akan menernukan kebahagiaan tersendiri manakala membaca karya sastra. Bukankah karya sastra memberikan kenikmatan tersendiri itu? Bukankah yang kita kejar dalam hidup ini adalah kebahagiaan dan kenikmatan itu, dan sastra menyediakannya? Betapa bodoh orang yang berpendapat bahwa sastra itu tidak bermanfaat. Mukti Ali, bekas menteri agama kita, pernah bilang bahwa hidup tanpa seni adalah kasar, dan sastra itu termasuk seni. Dengan demikian, sastra dapat mernperhalus perilaku kita dalam kehidupan. Mengapa demikian? Sebab sastra merangsang kita untuk lebih memahami dan menghayati kehidupan yang hanya sejenak ini. Sastra tidak pernah atau bukan merumuskan kehidupan, dan juga tidak mengabstraksikannya, akan teeapi menampilkan kehidupan itu sendiri kepda kita. Kehidupan yang imajinatif, tapi bukan khayalan.
ASPEK DEVIATIF DALAM SAJAK INDONESIA Suminto A. Sayuti
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN, EDISI 3,1983,TH.III
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4575.666 KB) | DOI: 10.21831/cp.v3i3.7562

Abstract

Tujuan pengajaran sastra di sekolah dan terutama di perguruan tinggi pada akhirnya harus ditekankan pada kemampuan siswa atau mahasiswa untuk menapresiasi sastra. Untuk mencapai tujuan itu sistem pengajaran tidak cukup hanya secara teoritis dan historis. Kedua hal tersebut memang penting, namun bukan satu-satunya cara yang harus ditempuh. Keduanya barulah merupakan modal dasar untuk mencapai tujuan berikutnya, yaitu daya menapresiasi sastra. Itulah sebabnya dalam pengajaran sastra pemberian bahan yang bersifat membantu atau sarana untuk keperluan apresiasi.Pengajaran sastra yang berkadar apresiatif di samping hal pemilihan bahan tidak semata-mata bersifat teoritis dan historis, harus senantiasa melibatkan mhasiswa untuk berlatih dan bergaul secara langsung dengan karya sastra. Akan tetapi, hal itu belum dilaksanakan sebagaimana mestinya karena berbagai alasan, antara lain kurangnya kemampuan para pengajar sastra itu sendiri
Critical thinking among fourth grade elementary students: a gender perspective Sekar Purbarini Kawuryan; Suminto A. Sayuti; Aman Aman
Jurnal Cakrawala Pendidikan Vol 41, No 1 (2022): Cakrawala Pendidikan (February 2022)
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v41i1.44322

Abstract

Student intelligence in general is not distinguished by gender. However, some results of cognitive ability tests found these differences. The purpose of this study was to identify the critical thinking skills of fourth grade elementary school students based on gender. The critical thinking indicator refers to the Cornell Critical Thinking Test Level X. The selection of participants was carried out with consideration because the researcher had obtained permission from the principal of SDN Giwangan, parents, and had received approval from students so they were willing to be studied (convenience sampling). The sample consisted of 28 males and 17 females (N = 45). Data were analyzed using percentage, mean, standard deviation, range, and t-test. The findings show statistically significant differences in the mean critical thinking scores between male and female. The results of the study have implications for elementary school teachers who facilitate the learning process to develop critical thinking skills by applying different learning experiences. Teachers can follow up by considering differences in learning experiences based on the scope of the subject matter, the sequence of skills that are trained on students, and various choices of learning activities that develop critical thinking skills.