Claim Missing Document
Check
Articles

Nutrient Intake Profile Among Children Aged 6–24 Months in Indonesia: A Descriptive Analysis Nurdina, Nazlah; Chandra, Dian Novita; Mudjihartini, Ninik; Sekartini, Rini
World Nutrition Journal Vol. 9 No. S1 (2025): Vol. 9 No. S1 (2025): Selected conference proceedings of the Nutri Symposium 2
Publisher : Indonesian Nutrition Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25220/WNJ.V09.S1.0024

Abstract

Background: Adequate nutrient intake in early childhood is critical for growth, cognitive development, and immune function. The first two years of life are a sensitive period where nutritional deficiencies may lead to long-term consequences. However, many children in low- and middle-income countries fail to meet dietary needs due to limited diversity and poor feeding practices. Objectives: To describe the intake of energy, macronutrients, and key micronutrients among Indonesian children aged 6–24 months
KUALITAS TIDUR PADA BAYI USIA 6-9 BULAN DI JAKARTA Herwanto, Herwanto; Sekartini, Rini; Batubara, Jose; Yusra; Kekalih, Aria; Lestari, Hesti; Andraini, Trinovita
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i1.35276

Abstract

Gangguan tidur dapat memengaruhi kondisi kesehatan seorang bayi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang memengaruhi kualitas tidur bayi usia 6-9 bulan di Jakarta dengan menggunakan kuesioner Brief Infant Sleep Questionnaire-Revised (BISQ-R). Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan pendekatan deskriptif analitik, data didapatkan melalui kuesioner BISQ-R untuk menilai kualitas tidur bayi berdasarkan pola tidur bayi, persepsi orang tua, dan kebiasaan pada orang tua yang terkait dengan tidur pada Bayi. Data dianalisis untuk mengidentifikasi faktor yang memengaruhi kualitas tidur bayi dan hubungan antar variabel. Sebanyak 88 subjek, yang terdiri dari 33 bayi perempuan dan 55 bayi laki-laki dengan rata-rata usia 7,76 bulan, terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas bayi memiliki kualitas tidur yang tergolong menengah serta menunjukkan bahwa faktor "jumlah waktu terbangun di malam hari" memiliki korelasi negatif yang signifikan terhadap kualitas tidur bayi (r = -0,258, p = 0,015), menunjukkan bahwa semakin sering bayi terbangun pada malam hari, semakin berkurang kualitas tidurnya. Kebiasaan orangtua merespons kebutuhan tidur dan tempat tidur bayi juga turut memengaruhi kualitas tidur. Penelitian ini menunjukkan pentingnya mengurangi frekuensi bayi terbangun di malam hari untuk meningkatkan kualitas tidurnya serta perlunya menjaga konsistensi rutinitas tidur dan menciptakan lingkungan tidur yang mendukung guna memastikan kualitas tidur bayi yang optimal.
Peran Screen Time pada Kesiapan Bersekolah Anak Usia Prasekolah Fathan, Fariz Dwi; Sekartini, Rini
Sari Pediatri Vol 25, No 6 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.6.2024.349-55

Abstract

Latar belakang. Kesiapan bersekolah merupakan hal yang sangat penting karena berpengaruh positif terhadap kemampuan anak untuk lulus dari sekolah dasar. Salah satu faktor yang memengaruhi kesiapan bersekolah adalah screen time. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat asosiasi antara peningkatan screen time dan kesiapan bersekolah anak. Tujuan. Penelitian ini betujuan untuk menentukan hubungan antara screen time dan kesiapan bersekolah pada anak usia prasekolah.Metode. Desain penelitian potong lintang digunakan pada siswa Taman Kanak-kanak Negeri Menteng 01 dan Negeri Cilacap untuk mencari hubungan antara kedua variabel. Penelitian dilakukan dengan membandingkan jumlah screen time subjek per hari menggunakan kuesioner Small Q (Surveillance of digital media habits in early childhood questionnaire) dengan hasil pemeriksaan kesiapan bersekolah anak menggunakan kuesioner Brigance Early Childhood Screens III untuk anak 3-5 tahun.Hasil. Penelitian ini memperoleh 69 subjek, 16 subjek berusia empat tahun (23,18%) dan 53 subjek berusia lima tahun (76,81%), 33 orang subjek berkelamin laki-laki (47,82%) dan orang subjek 36 berkelamin perempuan (52,17%). Mayoritas memiliki orang tua dengan pendidikan terakhir SMA (50,84%) dan S1 (30,5%). Hasil menunjukkan bahwa 37 dari 69 subjek memiliki screen time yang lebih (53,62%) dan 19 dari 69 subjek belum siap bersekolah (27,53%). Hasil analisis hubungan antara screen time terhadap kesiapan bersekolah tidak menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik (p=0,328).Kesimpulan. Screen time tidak berhubungan langsung dengan kesiapan bersekolah pada anak usia prasekolah karena masih terdapat banyak faktor lainnya yang turut berperan dalam kesiapan bersekolah.
Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Kesiapan Bersekolah pada Anak Usia Prasekolah Prastya, Reza Wahyu Dwi; Sekartini, Rini
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.297-304

Abstract

Latar belakang. Usia prasekolah merupakan masa yang sangat penting dalam perkembangan anak. Keterlambatan perkembangan umumnya terjadi pada masa prasekolah dan dialami oleh 10-15% anak prasekolah. Gangguan perkembangan pada anak prasekolah membuat anak memiliki performa lebih rendah dari temannya yang dapat memengaruhi kesiapan bersekolah. Penelitian kesiapan bersekolah pada anak usia prasekolah masih terbatas di Indonesia. Pola asuh orang tua dapat memengaruhi kesiapan bersekolah. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran kesiapan bersekolah, gambaran pola asuh orang tua, dan hubungan antara pola asuh orang tua dengan kesiapan bersekolah pada anak usia prasekolah. Metode. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Data kesiapan bersekolah diperoleh melalui kuesioner BRIGANCE Early Childhood Screens III dan pola asuh orang tua melalui kuesioner Parenting Styles and Dimension Questionnaire. Penelitian dilaksanakan di Taman Kanak- kanak Negeri Menteng 01 dan Negeri Cilacap, Jakarta. Penelitian ini melibatkan 18 anak (23,7%) berusia empat tahun dan 58 anak (76,3%) berusia 5 tahun dengan mayoritas anak perempuan. Hasil. Hasil skrining menunjukkan bahwa 20 anak (26,3%) tidak siap masuk sekolah. Rerata usia ibu adalah 34,92 tahun dan usia ayah 37,48 tahun. Pola asuh orang tua yang umum diterapkan adalah otoritatif (86,8%), diikuti permisif (11,8%), dan otoriter (1,3%). Temuan menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola asuh dan kesiapan bersekolah (p<0,001). Pola asuh permisif lebih umum diterapkan pada anak laki-laki, sedangkan anak perempuan lebih sering dididik dengan pola asuh otoritatif. Pola asuh otoriter ditemukan pada keluarga dengan kondisi sosial ekonomi yang lebih rendah. Kesimpulan. Pola asuh dan kesiapan bersekolah memiliki hubungan signifikan secara statistik. Anak yang dididik dengan pola asuh otoritatif memiliki tingkat kesiapan sekolah yang lebih tinggi.
The Importance of Iron To Support Optimum Cognitive Development Sekartini, Rini
World Nutrition Journal Vol. 5 No. S1 (2021): Special Issue : The role and importance of iron
Publisher : Indonesian Nutrition Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25220/WNJ.V05.S1.0004

Abstract

The fetal brain anatomy development starts during the last trimester of pregnancy and continue in early months of life. This critical process makes it vulnerable to insufficient nutrition, while brain growth continues into adulthood, micronutrient status can affect functioning beyond childhood. Iron is an important nutrient for the production and growth of cells in the immune and neural systems. Iron deficiency (ID) is the most common nutrient deficiency in the world, affecting about half of all pregnant women and their offspring. Iron deficiency anemia has long been believed to have an effect on the central nervous system. Iron deficiency in late trimester and in newborn leads to abnormal cognitive function and emotional control that may continue in adulthood. In summary, despite some evidence that iron supplementation enhances cognitive performance. Evidence of the role of iron in brain development and the effect of iron deficiency or iron supplementation on early development is uncertain.
Experts’ Opinion on Immunity and Nutrition to Support Key Cognitive Functions Sekartini, Rini; Surapsari, Juwalita; Oktarina, Molly Dumakuri; Wiguna, Tjhin; Pasiak, Taufiq Fredrik; Basrowi, Ray Wagiu; Kartjito, Melissa Stephanie; Wasito, Erika
World Nutrition Journal Vol. 6 No. S2 (2023): Special Issue : expert perspectives on the interconnections between immunity,
Publisher : Indonesian Nutrition Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25220/WNJ.V06.S2.0001

Abstract

The interaction of micronutrients and macronutrients has been shown to have a significant impact on children's cognitive development. Furthermore, proper nutrition helps a child's immune system avoid infection and disease, which can impair nutrient absorption and lead to deficiency. Microbiotas in the gut play critical roles in body physiology, including nutrient absorption, infection resistance and immune system development. Furthermore, it is known that the gut microbiota influences immune cell maturation. Finally, these three factors are thought to influence neurogenesis and cognitive development. A virtual meeting was held with five invited experts to gain a better understanding of the relationship between nutritional factors, the immune system and cognitive development.
Immunity as key factors that influence cognitive development on children Oktarina, Molly Dumakuri; Sekartini, Rini; Wasito, Erika; Kartjito, Melissa Stephanie
World Nutrition Journal Vol. 6 No. S2 (2023): Special Issue : expert perspectives on the interconnections between immunity,
Publisher : Indonesian Nutrition Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25220/WNJ.V06.S2.0003

Abstract

Immune cells in the central nervous system (CNS) of the fetus are essential for normal neurodevelopment. Innate immunity-related molecules, including cytokines, toll-like receptors and complement family, are known to be expressed in the brain. Microglia, macrophage-like immune cells that reside in the brain and spinal cord, constitute 80% of all immune cells in the brain, making them the most abundant immune cell type. Acquired immunity-related molecules, such as major histocompatibility complex and antibody receptor, are also known to be expressed in the brain. In addition to this, research has demonstrated that they play important functions in the development of the brain. Neurodevelopmental diseases, including schizophrenia, autism spectrum disorders, autism-like obsessive-compulsive behaviours and social impairment, are characterized by a disruption of a wide variety of processes in the developing brain that depend on the normal function of microglia. Enteric infections and malnutrition in the first two years of life are linked to later cognitive impairment. Multiple studies have shown that bacterial and viral illnesses have direct or indirect impacts on cognitive performance in children. The immune system is in constant communication with the central nervous system and participates in the control of behaviour and a range of other essential neurological activities throughout the lifespan.
Biomarker Inflamasi (IL1?, IL6, TNF?, CRP) dan Mikronutrien (Zat Besi, Seng) pada Anak dengan Stunting Usia 6-59 Bulan: Sub Analisis SEANUTS II Ranto, Huminsa; Yuliarti, Klara; Munasir, Zakiuddin; Gunardi, Hartono; Wahidiyat, Pustika Amalia; Satari, Hindra Irawan; Sekartini, Rini
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.316-22

Abstract

Latar belakang. Stunting memengaruhi 19,8% anak Indonesia usia di bawah lima tahun, menurut Survei Status Gizi Nasional tahun 2024. Sitokin proinflamasi (IL-1?, IL-6, TNF-?) dan defisiensi mikronutrien (zat besi, seng) diduga berperan dalam terjadinya stunting, terutama di negara berpendapatan menegah ke bawah, karena perannya dalam penghambat pertumbuhan tulang dan fungsi imun.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan kadar sitokin proinflamasi, C-reactive protein (CRP), zat besi, dan seng dengan status stunting pada anak Indonesia usia 6-59 bulan.Metode. Data dikumpulkan dari sampel darah 100 anak Indonesia usia 6–59 bulan, dengan analisis statistik menggunakan uji chi-square, uji t, atau uji Mann-Whitney (p<0,05 dianggap bermakna).Hasil. Dari 100 subjek, 49 mengalami stunting dan 51 memiliki status gizi normal. Tingkat pendidikan dan pendapatan orang tua lebih rendah pada kelompok stunting (masing-masing p=0,019 dan p<0,001). Kadar median sitokin (IL-1?: p=0,344; IL-6: p=0,121; TNF-?: p=0,213), CRP (p=0,320), serta kadar mikronutrien (feritin: p=0,087; seng: p=1,000) tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara kedua kelompok. Kesimpulan. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara sitokin proinflamasi dan defisiensi mikronutrien yang diteliti dengan kejadian stunting, kemungkinan karena ukuran sampel yang terbatas dan bias perkotaan. Faktor sosial ekonomi berpengaruh signifikan terhadap stunting. Diperlukan penelitian longitudinal dengan sampel yang lebih besar untuk memperjelas hubungan tersebut.
Status Nutrisi dan Gangguan Tidur pada Anak Indonesia Alim, Edward Goei; Sekartini, Rini
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.361-70

Abstract

Latar belakang. Nutrisi dan tidur sangat memengaruhi kesehatan maupun tumbuh kembang anak. Prevalens stunting nasional Indonesia tahun 2023 (21,5%) masih di atas target pemerintah (14%) dan prevalens gangguan tidur anak menurut beberapa studi cukup tinggi (31%-75,6%). Beberapa studi mengaitkan status nutrisi yang tidak normal dengan gangguan tidur yang lebih tinggi, tetapi penelitian yang sudah ada belum dilakukan dalam skala nasional, cakupan usianya sempit, dan hasilnya bervariasi.Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara status nutrisi dan gangguan tidur pada anak Indonesia usia 6 bulan sampai 12 tahun.Metode. Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan metode potong lintang (cross-sectional) menggunakan data sekunder dari studi South East Asian Nutrition Surveys II (SEANUTS II) yang diambil tahun 2019-2020. Subjek penelitian ini adalah anak usia 6 bulan sampai 12 tahun di 46 kabupaten dari 34 provinsi Indonesia. Penilaian status nutrisi menggunakan pengukuran dan skor z indeks antropometri berat badan terhadap umur (BB/U), indeks tinggi badan terhadap umur (TB/U), dan indeks berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB), dan indeks massa tubuh terhadap usia (IMT/U) sedangkan penilaian gangguan tidur menggunakan Brief Infant Sleep Questionnaire (BISQ) dan Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC).Hasil. Besar sampel yang diinklusi adalah 3463 anak. Jumlah anak dengan status nutrisi tidak normal adalah 35,4% (n=1227). Kategori status nutrisi tidak normal dengan persentase total terbesar adalah pendek (stunted), yaitu 21,4% (n=741). Persentase gangguan tidur subjek sebesar 23% (n=485) pada usia <5 tahun dan 40,3% (n=546%) pada usia ?5 tahun, dengan total 29,8% (n=1031). Analisis bivariat melalui uji Chi-Square tidak menunjukkan hubungan signifikan antara status nutrisi dan gangguan tidur, baik pada usia 0,5-2,9 tahun (p=0,312) dan 3-12,9 tahun (p=0,142).Kesimpulan. Status nutrisi tidak normal dan gangguan tidur ditemukan cukup tinggi, tetapi tidak ditemukan hubungan statistik yang signifikan antara status nutrisi dan gangguan tidur pada anak Indonesia usia 6 bulan sampai 12 tahun.
Soy Isolate Protein Formula: the usage beyond allergy indication Zakiudin Munasir; Rini Sekartini
World Nutrition Journal Vol. 4 No. S1 (2020): Special Issue : Soy Plant-based and Fiber in Children’s Gut Health, Growth & D
Publisher : Indonesian Nutrition Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25220/WNJ.V04.S1.0005

Abstract

The usage of soy isolate protein formula for infants was recommended by Indonesian Pediatrics Association (IDAI) through the recommendation of Cow’s Milk Protein Allergy (CMPA) management in 2014. Soy Infant Formula (SIF) has been being used for Infants with Cow’s Milk Protein Allergy (CMPA) as well as for several other related medical indications such as post diarrhea lactose intolerance, galactosemia and primary lactase deficiency1. At early stage of soy formula, it had several deficiencies, infant acceptability, growth, and incomparable with milk-base formula. Current SIF is made from soy protein isolate that contain 2,2 – 2,6 g of protein per 100 calories, it is higher than milk-based formula and both showed same growth and development in Infants2. It contains different fibers, phytate, digestibility, protease inhibitor and proteins. SIF is easily digestible and contain high amino acid content fortified with L-methionine, L-carnitine and taurine. High content of phytate is overcome with zinc and iron fortification as well as increased levels of calcium and phosphor3. American Academy of Pediatrics recommends isolated soy protein-based formulas as a safe and effective alternative for providing appropriate nutrition for normal growth and development for term infants whose nutritional needs are not being met from maternal breast milk or cow’s milk-based formulas3,4.
Co-Authors Abdul Latief Adam Adam Adantio Rashid Santoso Aditya, Clarissa J. Ahmad Suryawan Alim, Edward Goei Aman B. Pulungan Amin Soebandrio Andintia Aisyah Santoso Andy Martahan Andreas Angela BM Tulaar Anindya, Isti Ari Prayitno Ari Prayogo Aria Kekalih Ariani Dewi Widodo Ariyanto, Ibnu Agus Armeilia, Rilie Asmoko Resta Asrawati Nurdin Astri Adelia Astri Dewina Bambang Tridjaja AAP, Bambang Tridjaja Basrowi, Ray Wagiu Batubara, Jose Benjamin Ngatio Bernie Endyarni Medise Bintang Pratiwi Cathrine Cathrine Chandra, Dian Novita Christine Natalita Clarissa Josephine Aditya Corrie Wawolumaja Corrie Wawolumaya Corry Wawolumaya Corry Wawolumaya Darmawan, Anthony C. Dian Kusumadewi Dian Milasari Diana Adriani Banunaek Dwi Putro Widodo Dyah Tunjungsari Eleonora Mitaning Christy Elina Waiman Elisa Harlean Erick Wonggokusuma Eva Devita Harmoniati Evan Regar Faisal Adam Fathan, Fariz Dwi Ghifari Nurullah Gunawan, Talitha Dinda Hannisa Rizka Setiawati Hardiono Poesponegoro Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Helda Helda Henry Riyanto Herwanto Herwanto Hesti Lestari Hesti Lestari Hindra Irawan Satari Ika Citra Dewi Ikhsan Johnson Imam D Imam N Irene Audrey Davalynn Pane Irene Yuniar, Irene Jeane Roos Ticoalu Jenni Kim Dahliana Jose RL Batubara Jusuf Kristianto Kartjito, Melissa Stephanie Levina Chandra Khoe Lily Rahmawati Listya Tresnanti Mirtha M. Triadi Wijaya Maelissa P. Ririmasse Martin Hertanto Maulina Rachmasari Medise, Bernie E. Melyarna Putri MF Conny Tanjung Mirtha, Listya T. Munasir, Zakiuddin Nadya, Ruth Nahla Shihab Nashrul Ihsan Ninik Mudjihartini Nurdina, Nazlah Nuri Indahwati Nuri Purwito Adi Nycane Nycane oedjatmiko oedjatmiko Oktarina, Molly Dumakuri Olfriani, Ciho Pasiak, Taufiq Fredrik Praevilia M Salendu Prastya, Reza Wahyu Dwi Pustika Amalia Wahidiyat, Pustika Amalia R.A. Deta Hanifah Ranto, Huminsa Ratna Djuwita Ray Wagiu Basrowi Retnaningdyah, Windri Ria Andreinie Rini Andriani Rini Mulia Sari Rismala Dewi Robert Sinto Ronny Suwento, Ronny Salma Oktaria Salsabila Yasmine Dyahputri Salsabila Yasmine Dyahputri Saptawati Bardosono Sarah Listyo Astuti Sari, Novika Purnama Siti Mirdhatillah Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Sri Hartati R. Suradijono Sri Sukmaniah Sudung O Pardede, Sudung O Sukamto Koesnoe Surapsari, Juwalita Suzy Maria Tazkya Amany Thjin Wiguna Tjhin Wiguna Trinovita Andraini Tutik Ernawati Wahyuni Indawati, Wahyuni Wangke, Lydia Wasito, Erika Widjaja, Melanie William Cheng Wirahmadi, Angga Yoga Devaera Yulianti Wibowo Yuliarti, Klara Yusra Zakiudin Munasir