Claim Missing Document
Check
Articles

Sensori Integrasi: Dasar dan Efektivitas Terapi Elina Waiman; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hartono Gunardi; Rini Sekartini; Bernie Endyarni
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.129-36

Abstract

Terapi sensori integrasi, sebagai bentuk terapi okupasi, mulai populer diberikan untuk tata laksana anak dengan berbagai gangguan perkembangan, belajar, maupun perilaku. Namun dasar teori, bentuk gangguan pemrosesan sensori, dan efektivitas terapi umumnya belum diketahui secara luas di kalangan dokter spesialis anak. Bukti sahih tentang manfaat terapi sensori integrasi untuk tata laksana anak dengan gangguan spesifik memungkinkan aplikasi dan pemberian edukasi pada keluarga pasien secara lebih optimal.
Penilaian Perkembangan Anak Usia 0-36 bulan menggunakan Metode Capute Scales Martin Hertanto; Nahla Shihab; Maelissa P. Ririmasse; Nashrul Ihsan; Maulina Rachmasari; M. Triadi Wijaya; Melyarna Putri; Rini Sekartini; Corrie Wawolumaja
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.912 KB) | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.130-5

Abstract

Latar belakang. Proses pertumbuhan dan perkembangan anak amatlah penting. Mengetahui secara dini gangguan perkembangan diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih baik. Berbagai metode untuk mendeteksi gangguan perkembangan pada anak, antara lain metode Capute Scales (CAT/CLAMS) adalah uji tapis spesifik menilai kemampuan komunikasi dan fungsi kognitif untuk anak berusia 0-36 bulan.Tujuan. Mengetahui hubungan antara beberapa faktor risiko terjadinya gangguan perkembangan dengan status perkembangan anak usia 0-36 bulan.Metode. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang. Pemeriksaan dilakukan terhadap 75 anak di RW 03, Kelurahan Pulo Gadung menggunakan skrining CAT/CLAMS dan pertanyaan tersebut diajukan kepada ibu. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling.Hasil. Diperoleh status perkembangan normal sebesar 84%, suspek gangguan perkembangan 13,3%, gangguan komunikasi 3%, dan tidak ditemukan subjek yang mengalami retardasi mental. Sejumlah faktor risiko yang diteliti adalah jenis kelamin, pemberian ASI eksklusif, urutan anak, usia ibu saat hamil, pendidikan ibu atau pengasuh, jumlah anak, jumlah penghasilan keluarga dan bentuk keluarga. Secara statistik tidak ada faktor risiko yang bermakna.Kesimpulan. Jenis kelamin laki-laki, tidak mendapat ASI eksklusif, ibu dengan tingkat pendidikan tinggi, jumlah anak lebih dari dua, bentuk keluarga inti mempunyai kecenderungan lebih besar menderita status perkembangan yang tidak normal. Namun tidak dapat dibuktikan hubungan bermakna secara statistik antara faktor-faktor yang diteliti dengan status perkembangan anak.
Gangguan Perilaku Pasien Diabetes Melitus tipe-1 di Poliklinik Endokrinologi Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Lily Rahmawati; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hartono Gunardi; Rini Sekartini; Jose RL. Batubara; Aman B. Pulungan
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.243 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.264-9

Abstract

Latar belakang. Diabetes melitus tipe-1 (DM tipe-1) merupakan penyakit kronis yang dapat mempengaruhiemosi dan perilaku anak dan remaja. Pasien mengalami tekanan yang berhubungan dengan bagaimanamengontrol metabolik dan tumbuh kembang yang sedang berlangsung.Tujuan. Mengetahui gangguan perilaku pasien DM tipe-1 dan faktor-faktor yang berhubungan dengangangguan perilaku.Metode. Penelitian dilakukan secara potong lintang pada bulan Agustus 2006 di poliklinik EndokrinologiDepartemen IKA FKUI RSCM. Subjek penelitian adalah pasien DM tipe-1 umur 4-18 tahun yang diambilsecara purposive sampling. Sumber data diperoleh dari orangtua/ wali responden dengan wawancaraterpimpin, menggunakan Pediatric Symptom Check List-17 (PSC-17) dan Kuesioner Masalah MentalEmosional (KMME).Hasil. Prevalensi gangguan perilaku pasien DM tipe-1 dijumpai kemungkinan gangguan psikososial 45,8%,paling banyak adalah gangguan internalisasi (33,3%). Kemungkinan gangguan mental emosional 41,7%.Lama sakit lebih dari 5 tahun dan pernah mengalami komplikasi memiliki risiko lebih besar mengalamigangguan mental emosional.Kesimpulan. Kemungkinan gangguan perilaku pada diabetes tipe-1 45,8%. Skrining gangguan perilakupada pasien DM tipe-1 perlu dilakukan secara rutin di pusat pelayanan kesehatan sehingga dapat segeradievaluasi lebih lanjut. 
Penapisan Perkembangan Anak Usia 6 Bulan – 3 Tahun dengan Uji Tapis Perkembangan Denver II Robert Sinto; Salma Oktaria; Sarah Listyo Astuti; Siti Mirdhatillah; Rini Sekartini; Corrie Wawolumaya
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.348-53

Abstract

Latar belakang. Beberapa penelitian di Indonesia mendeteksi gangguan perkembangan pada anak usia pra sekolah12,8%-28,5%. Perkembangan anak berhubungan dengan banyak faktor, satu sama lain saling terkait, sehinggasulit dilihat apakah memang benar ada hubungan antara tiap faktor risiko dengan gangguan perkembangan.Tujuan. Mengetahui hubungan antara beberapa faktor risiko terjadinya gangguan perkembangan padaanak usia prasekolah.Metode. Penelitian cross sectional pada 120 ibu dan anak yang berusia 6 bulan – 3 tahun di RumahSusun Budha Tzu Chi, Jakarta Barat. Pengambilan sampel secara total sampling pada bulan Januari 2007,data primer dari kuesioner dan hasil uji tapis perkembangan dengan metode Denver II.Hasil penelitian. Sebagian besar berusia reproduksi sehat (77,5%), berpendidikan rendah (68,3%),memiliki jumlah anak hidup kurang atau sama dengan dua (67,1%). Sebagian besar anak berjenis kelaminperempuan (51,7%), tidak mendapat ASI eksklusif (72,5%), berat lahir lebih besar dari 2500 gram (90,8%),dan mendapat stimulasi cukup (53,3%). Pada uji tapis perkembangan dengan Denver II didapatkan hasil65,8% normal, 25% keterlambatan, dan 9,2% tidak dapat diuji. Terdapat hubungan yang bermaknaantara kualitas dan kuantitas stimulasi dengan hasil uji tapis perkembangan Denver II (p = 0,033).Kesimpulan. Subjek yang termasuk kategori suspek mengalami gangguan perkembangan pada pemeriksaanuji tapis Denver II 25%. Terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas dan kuantitas stimulasi denganhasil uji tapis perkembangan Denver II 
Pengetahuan Sikap, dan Perilaku Ibu Terhadap Sirkumsisi pada Anak Perempuan Dian Milasari; Dyah Tunjungsari; Elisa Harlean; Erick Wonggokusuma; Faisal Adam; Henry Riyanto; Rini Sekartini; Corry Wawolumaya
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.57 KB) | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.242-5

Abstract

Latar belakang. Situasi mengenai pola sirkumsisi (sunat) perempuan di Indonesia masih belum banyak diketahui, sehingga mengakibatkan kurang pengetahuan masyarakat Indonesia. Beberapa tahun terakhir WHO telah menyatakan menentang segala bentuk medikalisasi sirkumsisi perempuan.Tujuan. Mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu mengenai sirkumsisi pada perempuan di Jakarta.Metode. Desain penelitian cross-sectional dengan menggunakan metode convenient sampling. Data diperoleh dari kuesioner yang diisi sendiri oleh para ibu (self administered questionnaire).Hasil. Hampir seluruh responden melakukan sirkumsisi pada anak perempuan mereka 97,2% dari 106 orang responden. Agama merupakan alasan utama melakukan sirkumsisi 61,2%. Surat edaran dari Departemen Kesehatan RI mengenai larangan bagi tenaga medis untuk melakukan sirkumsisi pada anak perempuan tidak diketahui oleh sebagian besar responden (83%). Orang tua atau teman menjadi sumber yang paling berkesan untuk melakukan sirkumsisi 34%. Sedangkan dari tenaga medis, informasi yang paling berkesan datang dari perawat atau bidan 21,7%. Sebagian besar sirkumsisi dilakukan pada usia di bawah 5 tahun. Bidan merupakan pelaku sirkumsisi pada sebagian besar anak 73,9%. Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan rendah (87,7%), sikap kurang (90,6%), dan perilaku kurang (78,3%).Kesimpulan. Hampir seluruh anak perempuan responden disirkumsisi (97,1%). Mayoritas responden memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang kurang mengenai sirkumsisi pada anak perempuan (87,7%, 90,6%, dan 78,3%). Sirkumsisi dilakukan seluruhnya pada usia di bawah 5 tahun, terutama karena alasan agama. Pelaku sunat pada anak perempuan adalah bidan. Delapanpuluhtiga persen responden tidak mengetahui tentang surat edaran Departemen Kesehatan mengenai larangan medikalisasi sunat pada perempuan.
Intervensi Sleep Hygiene pada Anak Usia Sekolah dengan Gangguan Tidur: Sebuah Penelitian Awal Eva Devita Harmoniati; Rini Sekartini; Hartono Gunardi
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.93-9

Abstract

Latar belakang. Gangguan tidur adalah kondisi yang ditandai dengan gangguan jumlah, kualitas, atau waktu tidur. Dampak gangguan tidur adalah gangguan belajar, memori, mood, perilaku, dan atensi.Tujuan. Mengetahui prevalensi, gambaran gangguan tidur, pengaruh intervensi sleep hygiene pada keluhan mengantuk, mood, kesulitan bangun, durasi tidur, nilai SDSC dan PDSS.Metode. Penelitian quasi eksperimental di SDN di Jakarta Pusat pada bulan Mei-Juni 2015. Skrining dan evaluasi pasca intervensi sleep hygiene selama 8 minggu menggunakan sleep disturbance scale for children (SDSC) dan pediatric daytime sleepiness scale (PDSS).Hasil. Prevalensi gangguan tidur 25,1%, terdiri atas disorder of initiating and maintaining sleep (DIMS) 61,5%, sleep wake transition disorder (SWTD) 61,5%, disorder of excessive somnolence (DOES) 55,4%, dan disorder of arousal (DA) 51,5%. Setelah intervensi dilaporkan perbaikan mengantuk, mood, kesulitan bangun pagi, nilai SDSC pre dan pasca intervensi (p<0,001).Kesimpulan. Dampak intervensi sleep hygiene yaitu perbaikan mengantuk, mood, kesulitan bangun pagi, serta perbedaan bermakna nilai SDSC pre dan pasca intervensi. 
Gangguan Tidur pada Anak Usia Bawah Tiga Tahun di Lima Kota di Indonesia Rini Sekartini; Nuri Purwito Adi
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.188-93

Abstract

Latar belakang. Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk tumbuh kembangoptimal bagi seorang anak. Pola tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktorinternal pada diri anak dan faktor lingkungan fisik. Gangguan tidur dapat menyebabkanmasalah perilaku, emosi, menyebabkan mengantuk pada siang hari, dan dapatmempengaruhi konsentrasi belajar serta daya ingat anak.Tujuan. Mengetahui prevalensi gangguan tidur pada anak usia bawah tiga tahunmenggunakan kuesioner BISQ serta hubungan antara faktor sosiodemografi dengangangguan tidur.Metoda. Penelitian ini dilakukan terhadap 385 anak usia bawah 3 tahun di 5 kota diIndonesia. Sejak Januari – Juni 2005. Sampel diperoleh secara consecutive sampling.Merupakan studi analitik seksi silang, menggunakan metode wawancara terpimpindengan kuesioner yang telah diuji coba dan formulir Brief Infant Sleep Questionnaire(BISQ). Definisi gangguan tidur bila ditemukan satu atau lebih kondisi seperti lamatidur malam kurang dari 9 jam, terbangun pada malam hari lebih dari 3 kali dan lamaterbangun pada malam hari lebih dari 1 jam. Data diolah dan dianalisis dengan programSPSS 11, uji Chi-Square, Fisher’s Exact test dan Mann-Whitney U. Hubungan bermaknasecara statistik bila ditemukan nilai p < 0.005.Hasil. Prevalensi gangguan tidur ditemukan pada 44,2% dari 385 subyek terdiri dari198 anak laki-laki dan 187 anak perempuan. Rata-rata usia anak 12 bulan. Tingkatpendidikan orangtua sebagian besar tingkat pendidikan sedang, dengan 66,5% masukdalam katagori tingkat pendapatan rendah. Sebagian besar anak (43,1%) tidur padaposisi telentang, tidur bersama orangtua di tempat tidur yang sama (bed sharing)ditemukan pada 73,5% dan co-sleeping ditemukan pada 18,7%. Dalam cara menidurkananak 56,1% tertidur ketika disusui, dan dari uji statistik didapatkan hubungan bermaknaantara tertidur ketika disusui dengan gangguan tidur. Ditemukan pula hubunganbermakna antara jumlah waktu tidur siang dan waktu mulai tidur malam dengangangguan tidur. Sedangkan faktor sosiodemografi tidak berhubungan bermakna dengangangguan tidur. Meskipun demikian 42,3% orangtua beranggapan bahwa gangguantidur pada anak bukan merupakan suatu masalah.Kesimpulan. Prevalensi gangguan tidur pada anak bawah 3 tahun ditemukan pada44,2% kasus yang diteliti dengan rata-rata usia anak 12 bulan. Ditemukan hubunganbermakna secara statistik antara tertidur ketika disusui dan jumlah waktu tidur siangserta waktu mulai tidur malam dengan gangguan tidur. Tidak ditemukan hubunganbermakna secara statistik antara faktor sosiodemografi dan gangguan tidur. PerangkatBISQ dapat merupakan salah satu alat untuk skrining gangguan tidur pada anak.Prevalensi gangguan tidur yang tinggi dan perhatian orangtua yang kurang terhadapmasalah ini, perlu dilakukan penyebaran informasi dan penyuluhan kepada orang tuatentang manfaat tidur dan dampak yang ditimbulkan dari gangguan tidur.
Hubungan antara Prestasi Belajar pada Anak dengan Gangguan Tidur di SDN 03 Pondok Cina Depok Nuri Indahwati; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.175-81

Abstract

Latar belakang. Prevalensi gangguan tidur pada anak terbanyak terjadi pada anak usia sekolah. Di Indonesia, prevalensi gangguan tidur pada anak tergolong cukup tinggi, tetapi kesadaran orang tua masih rendah. Gangguan tidur pada anak dapat berdampak pada prestasi belajar anak.Tujuan. Mengetahui hubungan antara gangguan tidur dan faktor sosiodemografi dengan prestasi belajar anak usia sekolah.Metode. Studi potong lintang dilakukan pada Oktober 2015-September 2016 terhadap anak berusia 7-12 tahun di SDN 03 Pondok Cina, Depok. Orang tua anak mengisi kuesioner sosiodemografi dan kuesioner sleep disturbance scale for children. Prestasi belajar didapat dari nilai rapor mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).Hasil. Sejumlah 154 subjek melengkapi kuesioner dan didapatkan prevalensi gangguan tidur 44,8%, dengan jenis terbanyak gangguan transisi tidur-bangun (50,6%). Gangguan tidur berhubungan dengan prestasi belajar yang rendah pada pelajaran Matematika (p=0,006) dan nilai rata-rata Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA (p=0,025). Faktor sosiodemografi yaitu usia anak, jenis kelamin, usia ibu, pendidikan terakhir ibu, pekerjaan ibu, pendapatan ayah, pendapatan ibu, dan bentuk keluarga berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.Kesimpulan. Gangguan tidur dan beberapa faktor sosiodemografi berhubungan dengan prestasi belajar anak usia sekolah.
Stimulation and cognitive function in short-stature preschoolers Ika Citra Dewi; Rini Sekartini; Hartono Gunardi; Asrawati Nurdin
Paediatrica Indonesiana Vol 61 No 2 (2021): March 2021
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi61.2.2021.74-81

Abstract

Background Normal-height children generally have better cognitive function than growth-stunted, short-stature children. Children’s cognitive function reportedly improves with stimulation. However, a correlation between stimulation and cognitive function in children with a history of short stature remains unclear. Objective To assess correlation between stimulation and cognitive function in normal-height vs. short-stature preschool children. Methods A cross-sectional study with consecutive sampling was performed in four sub-district areas in Jakarta. Preschool-aged children and their primary caregivers from previous studies on short stature were eligible for inclusion. An Indonesian version of a questionnaire was used to assess stimulation. A psychologist assessed verbal IQ (VIQ), performance IQ (PIQ), and full-scale IQ (FSIQ) with the Indonesian version of the Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI). Data were analyzed using Pearson’s correlation and Chi-square tests, and P values <0.05 were considered to be significant. Results Of 62 subjects, 64.5% had normal height and 35.5% had short stature. Both normal-height and short-stature children had similar IQ outcome and history of stimulation. The stimulation was significantly correlated with FSIQ in normal-height children (r= 0.316; P=0.047), but not short-stature children (r=0.049; P=0.828). However, the percentage differences in VIQ, PIQ, and FSIQ between normal-height and short-stature children were not significant (P=0.409, 0.119 and 0.877, respectively). Conclusion There is a significant correlation between stimulation and IQ in normal-height children. Short-stature preschoolers were not worse in terms of IQ than normal-height preschoolers. Parents and caregivers should be encouraged to provide regular and adequate stimulation to their young children.
Autism spectrum disorder screening in children aged 16-30 months using the Modified Checklist for Autism in Toddlers-Revised (M-CHAT-R) Clarissa Josephine Aditya; Jenni Kim Dahliana; Ariani Dewi Widodo; Rini Sekartini
Paediatrica Indonesiana Vol 61 No 5 (2021): September 2021
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi61.5.2021.247-52

Abstract

Background Autism spectrum disorder (ASD) is a complex neurodevelopmental disorder with a global prevalence of 7.6 in 1,000 children. The Modified Checklist for Autism in Toddlers - Revised (M-CHAT-R) is one of many screening tools for ASD. It is fast, easy to use, and has been translated and validated in the Indonesian language. Objective To determine the prevalence of ASD in Indonesia and its risk factors. Methods A cross-sectional study was conducted from March to October 2020. In the first protocol (March to July 2020), 219 children aged 16-30 months from 20 hospital walk-in clinics in five districts of Jakarta were included. Subjects’ parents filled out the M-CHAT-R questionnaire during their visit. A series of questions were asked to provide information about probable risk factors associated with ASD: gender, family history of ASD, preterm birth, low birth weight (LBW), and history of seizures. The second protocol (August to October 2020) was completed by parents via an online form, where 746 children aged 16-30 months were enrolled. Therefore, a total of 965 subjects were eligible for statistical analysis. Results Of 965 subjects, 56.58% were males. Subjects’ mean of age was 22.59 (SD 4.15) months. M-CHAT-R screening showed that 34 (3.52%) subjects were at high risk of developing ASD. Only male gender was significantly associated with ASD. Conclusion We screened for ASD in healthy 16-30-month-old Indonesian children. The rate of high-risk M-CHAT-R score was 3.52%. Male gender was a significant risk factor for high-risk M-CHAT-R results.
Co-Authors Abdul Latief Adam Adam Adantio Rashid Santoso Aditya, Clarissa J. Ahmad Suryawan Aman B. Pulungan Amin Soebandrio Andintia Aisyah Santoso Andy Martahan Andreas Angela BM Tulaar Anindya, Isti Ari Prayitno Ari Prayogo Aria Kekalih Ariani Dewi Widodo Ariyanto, Ibnu Agus Armeilia, Rilie Asmoko Resta Asrawati Nurdin Astri Adelia Astri Dewina Bambang Tridjaja AAP, Bambang Tridjaja Basrowi, Ray Wagiu Batubara, Jose Benjamin Ngatio Bernie Endyarni Medise Bintang Pratiwi Cathrine Cathrine Chandra, Dian Novita Christine Natalita Clarissa Josephine Aditya Corrie Wawolumaja Corrie Wawolumaya Corry Wawolumaya Corry Wawolumaya Darmawan, Anthony C. Dian Kusumadewi Dian Milasari Diana Adriani Banunaek Dwi Putro Widodo Dyah Tunjungsari Eleonora Mitaning Christy Elina Waiman Elisa Harlean Erick Wonggokusuma Eva Devita Harmoniati Evan Regar Faisal Adam Fathan, Fariz Dwi Ghifari Nurullah Gunawan, Talitha Dinda Hannisa Rizka Setiawati Hardiono Poesponegoro Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Helda Helda Helda Khusun Henry Riyanto Herwanto Herwanto Hesti Lestari Hesti Lestari Hindra Irawan Satari Ika Citra Dewi Ikhsan Johnson Imam D Imam N Irene Audrey Davalynn Pane Irene Yuniar, Irene Jeane Roos Ticoalu Jenni Kim Dahliana Jose RL Batubara Jusuf Kristianto Kartjito, Melissa Stephanie Levina Chandra Khoe Lily Rahmawati Listya Tresnanti Mirtha M. Triadi Wijaya Maelissa P. Ririmasse Martin Hertanto Maulina Rachmasari Medise, Bernie E. Melyarna Putri MF Conny Tanjung Mirtha, Listya T. Munasir, Zakiuddin Nadya, Ruth Nahla Shihab Nashrul Ihsan Ninik Mudjihartini Nurdina, Nazlah Nuri Indahwati Nuri Purwito Adi Nycane Nycane oedjatmiko oedjatmiko Oktarina, Molly Dumakuri Olfriani, Ciho Pasiak, Taufiq Fredrik Praevilia M Salendu Pramesthi, Indriya Laras Prastya, Reza Wahyu Dwi Pustika Amalia Wahidiyat, Pustika Amalia R.A. Deta Hanifah Ranto, Huminsa Ratna Djuwita Ray Wagiu Basrowi Retnaningdyah, Windri Ria Andreinie Rini Andriani Rini Mulia Sari Rismala Dewi Robert Sinto Ronny Suwento, Ronny Salma Oktaria Salsabila Yasmine Dyahputri Salsabila Yasmine Dyahputri Saptawati Bardosono Sarah Listyo Astuti Sari, Novika Purnama Siti Mirdhatillah Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Sri Hartati R. Suradijono Sri Sukmaniah Sudung O Pardede, Sudung O Sukamto Koesnoe Sundjaya, Tonny Surapsari, Juwalita Suzy Maria Tazkya Amany Thjin Wiguna Tjhin Wiguna Triatmoko, Barkah Trinovita Andraini Tutik Ernawati Wahyuni Indawati, Wahyuni Wangke, Lydia Wasito, Erika Widjaja, Melanie William Cheng Wirahmadi, Angga Yoga Devaera Yulianti Wibowo Yuliarti, Klara Yusra Zakiudin Munasir