Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Islamization of Science in Raji Al-Faruqi’s Thought, between The Fundamentalism Reflection and Construction of New Epistemological Knowledge Badarussyamsi, Badarussyamsi
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i1.225

Abstract

This article discusses more deeply and presents an exploration of the study of Ismail Raji al-Faruqi with his knowledge of the Islamization paradigm. This exploration is important considering that there are assessments that have not positioned al-Faruqi proportionally, for example al-Faruqi's ideas are considered as a general characteristic of religious fundamentalism, or as a representation of a marginal culture. The main problem to be answered is whether the idea of the Islamization of knowledge is a pure scientific project or is it only a theological response of religious fundamentalism? As a literature study, this article conducts an in-depth study of al-Faruqi's work, especially on the Islamization of knowledge. As for analyzing it, I use theories of knowledge paradigms or theories about the basics of knowledge. The research findings show that although it has religious content, al-Faruqi's idea of the Islamization of knowledge cannot be categorized as a representation of theological expression of religious fundamentalism. In contrast, al-Faruqi has academically designed a notion of knowledge as a critique of previous knowledge. In constructing his knowledge, al-Faruqi has fulfilled philosophical stages such as determining the object of study as the basis of his ontological study, and determining the framework of study as his epistemological basis. However, al-Faruqi's efforts still require follow-up from later scientists so that the idea of the Islamization of knowledge is truly realized to the fullest. Artikel ini mendiskusikan lebih dalam dan menyuguhkan eksplorasi kajian tentang Ismail Raji al-Faruqi dengan paradigma Islamisasi pengetahuannya. Eksplorasi ini penting mengingat adanya penilaian yang belum memposisikan al-Faruqi secara proporsional, misalnya gagasan al-Faruqi dinilai sebagai karakter umum fundamentalisme agama, ataupun merupakan representasi dari kultur yang marjinal. Masalah utama yang diangkat adalah apakah gagasan Islamisasi pengetahuan merupakan proyek ilmu pengetahuan murni ataukah hanya sebatas respon teologis dari fundamentalisme keagamaan? Sebagai sebuah penelitian literatur, artikel ini melakukan kajian mendalam terhadap karya al-Faruqi khususnya tentang Islamisasi pengetahuan. Adapun untuk menganalisisnya, saya menggunakan teori-teori paradigma pengetahuan ataupun teori tentang dasar-dasar pengetahuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun memiliki muatan keagamaan, gagasan Islamisasi pengetahuan al-Faruqi tidak dapat dikategorikan sebagai representasi dari ekspresi teologi fundamentalisme agama. Sebaliknya, al-Faruqi secara akademis telah merancang sebuah gagasan pengetahuan sebagai kritik dari pengetauan sebelumnya. Dalam mengkonstruksi pengetahuannya, al-Faruqi telah memenuhi tahapan-tahapan filosofis seperti penentuan objek kajian sebagai basis kajian ontologisnya, serta penentuan kerangka kajian sebagai basis epistemologisnya. Namun, upaya al-Faruqi masih memerlukan tindak lanjut dari ilmuan setelahnya agar gagasan Islamisasi pengetahuan ini benar-benar terealisasi secara maksimal.
DIALEKTIKA TAWASSUL DALAM TAFSIR NUSANTARA (TAFSIR AL-AZHAR DAN TAFSIR AL-IBRĪZ) Munawaroh, Nur ‘Azima; Badarussyamsi, Badarussyamsi; Arifullah, Mohd.
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 4 (2026): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Juni 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i4.1347

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis dialektika penafsiran konsep tawassul dalam Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir al-Ibrīz karya KH. Bisri Musthofa. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan kepustakaan, memanfaatkan kedua tafsir sebagai data primer dan literatur pendukung sebagai data sekunder. Populasi penelitian mencakup seluruh penafsiran tawassul, dengan sampel purposif pada ayat-ayat kunci seperti QS. al-Mā’idah [5]: 35 dan QS. al-Zumar [39]: 3. Instrumen penelitian berupa studi literatur, catatan kritis, dan analisis dokumen, dianalisis melalui content analysis interpretatif, komparatif, dan dialektik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hamka menekankan paradigma normatif–purifikatif dengan relasi langsung hamba–Tuhan melalui ketakwaan, amal saleh, dan jihad sosial tanpa mediator personal, sedangkan Bisri Musthofa menempuh paradigma tradisional–praktis yang mengakomodasi praktik tawassul melalui perantaraan spiritual dengan tetap menegaskan prinsip tauhid dan kekuasaan mutlak Allah. Perbedaan ini dipengaruhi oleh latar pendidikan, jaringan intelektual, orientasi gerakan, dan basis sosial audiens. Sintesis dialektis kedua tafsir menegaskan bahwa tawassul merupakan praktik spiritual yang sah sepanjang orientasi hati tetap tertuju kepada Allah, mencerminkan dua wajah Islam Nusantara reformis-modernis dan tradisional-pesantren yang bersatu pada prinsip tauhid dan kemurnian agama.