Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Integration of Local Culture in the Learning Process at Madrasah: A Sociological Analysis Ibrahim Ibrahim; Syamsu A. Kamaruddin; Abdul Majid; Idham Idham; Abdullah Azzam Bishri; Adul Leesen
International Journal of Social Learning (IJSL) Vol. 6 No. 2 (2026): April
Publisher : Indonesian Journal Publisher in cooperation with Indonesian Social Studies Association (APRIPSI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/ijsl.v6i2.556

Abstract

This study is motivated by the need to preserve local cultural values within modern educational settings, particularly the Bugis–Makassar values of siri’ (self-worth), pesse (empathy), sipakatau (humanizing one another), and sipakainge’ (mutual reminder). These values are considered essential for strengthening students’ character and fostering harmonious social interaction in schools. This research aims to analyze how Bugis–Makassar cultural values are integrated into the learning process at Madrasah Aliyah Swasta Darud Da'wah Wal-Irsyad (MAS-DDI) Baru-Baru Tanga Pangkep. A qualitative approach was employed with participants including the principal, Islamic Education teachers, Guidance and Counseling teachers, Islamic Cultural History teachers, and students from grades XI and XII. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and documentation, and validated using data triangulation. The findings reveal that cultural values are integrated into both formal and non-formal learning through contextual, collaborative, and reflective strategies. These practices contribute to character development, enhanced learning motivation, and the strengthening of students’ cultural identity.
Pengaruh Konservasi Sosial dan Biodiversitas Terhadap Kesehatan Masyarakat Adat Suku Kajang: The Influence of Social Conservation and Biodiversity on the Health of Indigenous Kajang Tribe Communities Ibrahim Sudirman; Syamsu A. Kamaruddin; Arlin Adam; Andi Ihsan
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 4: APRIL 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v7i4.4573

Abstract

Biodiversitas, singkatan dari biological diversity, merujuk pada keanekaragaman hayati di planet kita, mulai dari tingkat genetik hingga ekosistem. Ini mencakup proses-proses evolusi, ekologi, dan budaya yang menjadi dasar kehidupan. Dengan kata lain, biodiversitas adalah ragam kehidupan yang meliputi tumbuhan, hewan, dan ekosistem di seluruh Dunia. Konservasi biodiversitas merupakan usaha untuk menjaga dan merawat keanekaragaman hayati di bumi kita. Ini mencakup rangkaian langkah yang disusun untuk menjaga agar spesies-spesies tanaman dan hewan serta lingkungan hidup mereka tetap lestari, terhindar dari punah. Fokus utamanya adalah memastikan kelangsungan hidup dan fungsi ekologis dari ragam kehidupan ini bagi generasi mendatang. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik penentuan dan pengambilan sasaran informan dilakukan dengan teknik purposive sampling. Maksudnya, penentuan sampel informan ditentukan dengan sengaja berdasarkan kriteria masyarakat Kajang Dalam yang bertempat tinggal di dalam Kawasan Adat Ammatoa maupun di luar Kawasan Adat Ammatoa. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tahap reduksi data, penyajian data, serta verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Praktek pengelolaan hutan berbasis pasang di Kajang menjadi fenomena menarik. Pasang mengajarkan untuk menjaga hutan sebagai sumber kehidupan dan penyangga ekosistem, yang tercermin dalam pandangan Ammatoa. Bagi mereka, kerusakan hutan berarti kerusakan bagi kehidupan mereka, sehingga mereka sangat berkomitmen untuk tidak merusak hutan atau mengambil kayunya. Komunitas Ammatoa membagi wilayah mereka menjadi wilayah lindung yang tidak boleh disentuh dan wilayah yang dapat dimanfaatkan. Dampak dari kelestarian tersebut adalah Pepohonan dan vegetasi di hutan dapat bertindak sebagai penyaring alami untuk polusi udara. Peningkatan kesehatan pada masyarakat adat kajang timbul karena Interaksi dengan alam, seperti berjalan-jalan di hutan atau duduk di bawah pohon, dapat menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol dalam tubuh. Menyatu dengan alam dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, meningkatkan produksi sel-sel pembunuh alami yang membantu melawan infeksi dan penyakit.
Pengakuan Sosial dan Ketidaksetaraan Kesehatan: Analisis Malnutrisi Melalui Lensa Teori Axel Honneth : Social Recognition and Health Disparities: Exploring Malnutrition through Axel Honneth’s Theoretical Lens Irviani Anwar Ibrahim; Syamsu A. Kamaruddin; Arlin Adam
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 4: APRIL 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v7i4.4682

Abstract

Kesehatan masyarakat adalah isu penting yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketidaksetaraan sosial. Salah satu bentuk ketidaksetaraan kesehatan yang sering terjadi adalah masalah malnutrisi. Dalam kajian ini, kami akan menggunakan pendekatan teoritis Axel Honneth tentang pengakuan sosial untuk menganalisis hubungan antara pengakuan sosial dan ketidaksetaraan kesehatan, khususnya dalam konteks malnutrisi. Melalui tinjauan literatur yang komprehensif, kami akan menyajikan temuan-temuan terkini dalam bidang ini dan mendiskusikan implikasinya. Tujuan Penelitian tulisan ini adalah Mengidentifikasi Hubungan Antara Pengakuan Sosial dan Malnutrisi, Menganalisis Faktor-faktor Pengakuan Sosial yang Berkontribusi pada Ketidaksetaraan Kesehatan, dan Mengevaluasi Implikasi Teori Axel Honneth dalam Merancang Intervensi Kesehatan yang Holistik. Metode yaitu menggunakan pendekatan literature review. Hasil literature review tulisan ini adalah dengan merangkum pemahaman konseptual dari teori Axel Honneth, intervensi kesehatan dapat dirancang dengan pendekatan yang lebih holistik, mempertimbangkan aspek-aspek pengakuan sosial dan keadilan yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan individu, terutama dalam konteks malnutrisi.
Implications of the Free Curriculum and PMM Digitalization Policy on the Decline of Teacher and Student Quality (A Study using Max Horkheimer's Critical Social Theory Approach) Ibrahim Sudirman; Syamsu A. Kamaruddin; Arlin Adam
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) Vol. 6 No. 2: April 2024 - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v6i2.4782

Abstract

This study aims to gather information on the decline in the quality of teachers and students as a result of the Free Curriculum policy, using Max Horkheimer's critical social theory approach. The methodology employed is qualitative descriptive, which will elaborate on data through descriptive statements. Data is obtained through a literature review of previous studies and informants who have implemented this Free Curriculum policy.The findings of this research indicate that the Free Curriculum is part of modernity in the educational aspect. Modernity is a state where all traditionally oriented societal systems are released into an order that implies rationality. The essence of modernization fundamentally encourages embracing change towards improvement in line with the capacity of the surrounding community conditions. Differentiated learning poses new problems and burdens for teachers due to time constraints. The standards to be achieved become biased and unclear. The impact of this policy is that students experience a decline in the quality of understanding the material because it is challenging to meet achievement standards maximally due to diversity in potential and interests. Teachers are not maximally able to provide standardized teaching but are more focused on organizing and designing strategies for this diversity.The role of teachers as facilitators allows limited room to maximize the inculcation of values. Discrimination against teachers through the "teacher mover" program resulting from the Free Curriculum policy has an impact on the opportunities provided, creating discrimination and generating barriers and comparisons between participating and non-participating teachers.