Claim Missing Document
Check
Articles

Aktivitas Minyak Atsiri Bunga Lili (Lilium auratum) terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa Saftia Aryzki; Dwi Rizki Febrianti
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.13837

Abstract

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas aeruginosa menjadi salah satu penyebab penyakit nosokomial. Potensi bahan alam seperti bunga lili belum banyak digali, komponen minyak atsiri bunga lili memiliki kandungan benzaldehid, linalol, simen, borneol dan osimen yang dapat bereaksi dengan komponen dinding sel bakteri yang menyebabkan kerusakan dinding sel bakteri. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui potensi minyak atsiri bunga lili (Lilium auratum) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa dengan seri konsentrasi 12 μL, 25 μL, 50 μL menggunakan metode sumuran. Hasil uji didapatkan minyak atsiri bunga lili mampu menghambat bakteri dengan rata-rata zona hambat pada masing-masing minyak atsiri pada 12 µl sebesar 3,025 mm dengan kategori aktivitas rendah pada volume 25 µl sebesar 8,675 mm dengan kategori aktivitas sedang, dan pada volume 50 µl sebesar 13,018 mm dengan kategori kuat. Kata Kunci: Minyak Atsiri, Lilium auratum, Pseudomonas aeruginosa, Zona Hambat, Metode Sumuran Infections caused by the bacterium Pseudomonas aeruginosa are one of the causes of nosocomial diseases. The potential of natural materials such as lilies has not been explored much, the components of lili essential oil contain benzaldehyde, linalol, cement, borneol and osimen which can react with bacterial cell wall components causing damage to bacterial cell walls. The purpose of this study was to determine the potential of lili (Lilium auratum) essential oil in inhibiting the growth of Pseudomonas aeruginosa bacteria with a concentration series of 12 L, 25 L, 50 L using the disc method. The test results showed that lili essential oil was able to inhibit bacteria with an average inhibition zone of each essential oil at 12 l of 3.025 mm with a low activity category at a volume of 25 l of 8.675 mm with a moderate activity category, and a volume of 50 l of 13,018 mm with strong category. 
Tingkat Pengetahuan Terhadap Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Di RT. 02/RW.01 Di Desa Tumbang Mahuroi Proditus Arif; Rahmadani Rahmadani; Rohama Rohama; Saftia Aryzki
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 4 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i4.1046

Abstract

Pendahuluan : Pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan antibiotik merupakan faktor penting dalam mencegah penyalahgunaan obat dan resistensi bakteri. Tujuan : Untuk menganalisis tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotik dan hubungannya dengan perilaku penggunaan antibiotik di Desa Tumbang Mahuroi RT.2, Kabupaten Gunung Mas. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 39 responden dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur karakteristik demografis, tingkat pengetahuan, dan perilaku penggunaan antibiotik. Hasil : Analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang penggunaan antibiotik, yaitu sebanyak 33 orang (84,62%), sedangkan 6 orang (15,38%) memiliki tingkat pengetahuan tidak baik. Meskipun demikian, masih ditemukan kekeliruan pada aspek penting seperti indikasi penggunaan, aturan konsumsi, penyimpanan sisa obat, dan risiko resistensi antibiotik, sehingga edukasi berkelanjutan tetap diperlukan, mayoritas berada pada kelompok usia 16–28 tahun (51,28%), dengan distribusi jenis kelamin yang relatif seimbang antara perempuan (51,28%) dan laki-laki (48,72%). Sebagian besar responden berpendidikan SMA (48,72%) dan bekerja sebagai petani serta pelajar/mahasiswa (masing-masing 28,21%). Faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan turut memengaruhi akses informasi serta pemahaman terkait penggunaan antibiotik. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi Square menunjukkan nilai p = 0,003 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku penggunaan antibiotik. Kesimpulan : Semakin baik tingkat pengetahuan seseorang, semakin rasional penggunaan antibiotik yang dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan strategi edukasi kesehatan yang berkelanjutan dan sesuai dengan karakteristik masyarakat untuk meningkatkan penggunaan antibiotik yang tepat dan mencegah resistensi.
Tingkat Pengetahuan dan Sikap Pasien Terhadap Penggunaan Sunscreen di Klinik Kecantikan DMR Gatot Subroto Banjarmasin Dwi Ramadhayanti; Saftia Aryzki; Erlina Syamsu; Setia Budi
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1112

Abstract

Pendahuluan: Paparan sinar ultraviolet (UV) merupakan faktor resiko utama terjadinya gangguan kulit, terutama di negara tropis seperti di Indonesia. Penggunaan sunscreen merupakan salah satu upaya penting untuk melindungi kulit dari dampak sinar matahari, namun efektivitasnya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan sikap terhadap penggunaannya. Faktanya, masih terdapat pasien yang belum memiliki tingkat pengetahuan dan sikap yang optimal terkait penggunaan sunscreen yang benar. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap pasien terhadap penggunaan sunscreen di Klinik Kecantikan DMR Gatot Subroto Banjarmasin. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 69 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling melalui penyebaran kuesioner. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada pada kategori kurang sebanyak 50,7%, kategori cukup  30,4% dan kategori baik 18,8%. Sikap responden terhadap penggunaan sunscreen berada pada kategori negatif sebesar 56,5%, sedangkan sikap positif sebesar 43,5%. Simpulan: Pada penelitian ini, pasien di Klinik Kecantikan DMR Gatot Subroto Banjarmasin memiliki tingkat pengetahuan yang kurang dan sikap yang negatif terhadap penggunaan sunscreen.
Analisis Tingkat Kepatuhan Obat Hipertensi Pada Pasien Prolanis Di UPTD Puskesmas Menteng Kota Palangka Raya Roslyn Djumala; Kunti Nastiti; Erlina Syamsu; Saftia Aryzki
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1249

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi adalah suatu kondisi medis di mana tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg secara konsisten. Hipertensi merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit kardiovaskular, seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang diinisiasi oleh BPJS Kesehatan merupakan upaya promotif dan preventif dalam menangani penyakit kronis seperti hipertensi. Tujuan: Untuk mengetahui analisis tingkat kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di UPTD Puskesmas Menteng, Kota Palangka Raya. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif dan pendekatan cross sectional pada 50 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Analisa data menggunakan uji chi-square. Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik, diperoleh nilai p = 0,004 (p < 0,05) pada variabel umur. Kemudian pada variabel pekerjaan didapatkan nilai p = 0,008 (p < 0,05). Pada variabel pendidikan didapatkan nilai p = 0,017 (p < 0,05) dan pada variabel jenis kelamin didapatkan nilai p = 0,001 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan dari umur, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan juga jenis kelamin terhadap kepatuhan minum obat. Simpulan: Terdapat hubungan antara umur, pekerjaan, pendidikan, dan jenis kelamin terhadap kepatuhan minum obat dan sebagian besar pasien prolanis memiliki tingkat kepatuhan minum obat pada kategori sedang.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Tifoid Rawat Inap di Rumah Sakit Ulin Banjarmasin dengan Metode Gyssens dan ATC/DDD Antung Sinta Dewi; Saftia Aryzki; Kunti Nastiti
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 4 No. 12 (2025): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Desember 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v4i12.5021

Abstract

Typhoid is a gastrointestinal infection caused by Salmonella typhi. The disease is transmitted through contaminated food and beverages and can spread from infected individuals. Symptoms typically appear 1–3 weeks after exposure and include high fever, malaise, headache, constipation, diarrhea, and enlargement of the liver and spleen. At a hospital in South Kalimantan in 2022, 80% on cases of typhoid treatment can use antibiotics. One study showed resistance of salmonella typhi to antibiotics such as ampicillin, amoxicillin, and chloramphenicol. To evaluate the use of antibiotics both quantitatively using the ATC/DDD methods and qualitatively using the Gyssens methods for hospitalized typhoid patients at Ulin Regional Hospital, Banjarmasin, in 2024. This study uses quantitative data with the Gyssens method and qualitative data with the ATC/DDD method in typhoid patients. The research was conducted over one month, from June to July 2025, at Ulin Hospital Banjarmasin the Sample 7. Quantitative evaluation showed a total of 488,93 DDD/100 patient-days with DU 90% analysis. Qualitative evaluation using the Gyssens method indicated that 71.42% of antibiotic use was rational. Ampicillin was categorized as IVa (1 patient), a combination of Metronidazole, Ceftazidime, and Cefixime was categorized as IVa (1 patient), and five patients receiving combination therapy fell under category 0 (rational). The majority of antibiotic use was considered rational. Antibiotic use in hospitalized typhoid patients at Ulin General Hospital Banjarmasin in 2024 was largely rational.
Peningkatan Pengetahuan Kader Kesehatan Tentang Batuk Pilek Di Desa Sungai Rangas Ulu Mustaqimah Mustaqimah; Rina Saputri; Novita Yanti; Salwa Nur Ilahiya; Saftia Aryzki; Ali Rakhman Hakim; Malisa Ariani
Majalah Cendekia Mengabdi Vol 4 No 1 (2026): Majalah Cendekia Mengabdi
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/mcm.v4i1.1021

Abstract

Batuk pilek adalah infeksi virus yang menyerang saluran pernafasan bagian atas disertai dengan timbulnya gejala hidung tersumbat, keluarnya ingus, batuk sering disertai dengan demam dan sakit kepala. Pengobatan untuk batuk pilek hanya terbatas pada penanganan gejalanya saja tanpa membunuh virus penyebabnya. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penanganan penyakit batuk pilek sering terjadi, seperti menggunakan obat dengan indikasi dan gejala yang tidak tepat, sehingga kader kesehatan diperlukan untuk mengetahui pengetahuan tentang penyakit batuk pilek. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan di Desa Sungai Rangas Ulu tentang penyakit batuk pilek. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah dalam bentuk penyuluhan serta diskusi dengan para kader kesehatan. Media yang digunakan berupa leaflet dan power point yang berisikan tentang penyakit batuk pilek. Evaluasi untuk menilai pengetahuan kader melalui kuesioner pre-test dan post-test. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di Desa Sungai Rangas Ulu, dapat dilihat bahwa pengetahuan kader kesehatan mengalami peningkatan sebesar 67%, konsisten sebesar 11%, dan mengalami penurunan sebesar 22%. Faktor yang mempengaruhi terjadinya penurunan pengetahuan antara lain bisa terjadi karena kurangnya perhatian dari kader kesehatan pada saat pemberian materi atau dikarenakan metode penyampaian tim yang tidak efektif. Kesimpulan dari hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatnya pengetahuan dan pemahaman kader kesehatan di Desa Sungai Rangas Ulu mengenai batuk pilek dengan cara pemberian materi dan diskusi berupa tanya jawab secara langsung.
Aktivitas Antioksidan Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. F.) Nees) dan Daun Meniran (Phyllanthus niruni L.): Antioxidant Activity of the Combination of Ethanol Extract of Sambiloto Leaves (Andrographis paniculata (Burm. F.) Nees) and Meniran Leaves (Phyllanthus niruni L.) Melinda Dian Puspita; Kunti Nastiti; Saftia Aryzki; Rohama Rohama
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.12003

Abstract

Gaya hidup yang tidak sehat dan lingkungan yang buruk dapat mengakibatkan kekebalan tubuh tidak mampu menghadapi radikal bebas yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Oleh karena itu maka diperlukannya suatu antioksidan untuk menangkalnya, antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat dan mecegah terjadinya radikal bebas yang masuk dalam tubuh. Contoh tanaman obat tradisional di Indonesia yang memiliki aktivitas antioksidan adalah tanaman sambiloto dan tanaman meniran. Kedua tanaman tersebut jika dikombinasikan mempunyai potensi farmakologi yang lebih besar dan saling melengkapi. Untuk mengetahui aktivitas antioksidan yang paling optimal pada kombinasi ekstrak daun sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. F.) Nees.) dan daun meniran (Phyllanthus niruri L.). Penelitian dilakukan di Labolatorium Kimia Universitas Sari Mulia, pada bulan November 2023-Juli 2024. Dilakukan pengumpulan duan sambiloto dan daun meniran, pembuatan ekstrak kental, kemudian setelah itu dilakukan skrining Fitokimia dengan reaksi warna dan dilanjutkan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH pada ekstrak tunggal dan perbandingan ekstrak kombinasi 1:1; 1:2 dan 1:3. Data di analisis dengan menggunakan One Way ANOVA. Nilai aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak daun sambiloto dan daun meniran yg paling optimal terletak pada perbandingan sambiloto: meniran (1:2) dengan hasil nilai IC50 6,19 ppm. Nilai aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak daun sambiloto dan daun meniran yg paling optimal terletak pada perbandingan sambiloto: meniran (1:2) dengan hasil nilai IC50 6,19 ppm.
MONITORING EFEK SAMPING OBAT TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS PEKAUMAN KOTA BANJARMASIN Fifi Alayda Azzahra; Darini Kurniawati; Erlina Syamsu; Saftia Aryzki
JFM (Jurnal Farmasi Malahayati) Vol 9, No 2 (2026)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v9i2.26438

Abstract

ABSTRAK  Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatanutama di Indonesia yang disebabkan oleh Mycobacteriumtuberculosis. Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin merupakan puskesmas dengan jumlahkasus TB terbanyak di kota tersebut, sehingga risiko kejadian efek sampingobat (ESO) juga tinggi. Penggunaan obat anti tuberkulosis dalamjangka panjangberpotensi menimbulkan ESO, sehingga monitoring perlu dilakukan untukmenjamin keamanan pasien.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kejadianefeksamping obat pada pasien TB yang menjalani pengobatan di PuskesmasPekauman Kota Banjarmasin.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif denganrancangan crosssectional. Sampel dipilih menggunakan teknik purposivesampling, dengan jumlah responden sebanyak 33 pasien TB. Data diperolehmelalui wawancara menggunakan lembar observasional serta rekammedis pasien.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada pada usiaproduktif (25–35 tahun). Dari 33 responden, efek samping yang paling seringterjadi adalah perubahan warna urin (66,66%), diikuti gatal (42,42%), mual (18,18%), nyeri persendian dan batuk (masing-masing 12,12%), pusing (9,9%), muntah (6,6%), dan pilek (3,3%).Simpulan: Monitoring efek samping obat TB menunjukkan sebagian besar pasien mengalami ESO dengan gejala dominan berupa perubahan warna urin dan gatal. Monitoring berkelanjutan perlu dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan keselamatan pasien.
Evaluasi Pemberian Informasi Obat (PIO) Tenaga Kefarmasian di Puskesmas Halong Haji Ida Nurlihayati; Saftia Aryzki; Yusuf Anggoro Mukti; Rina Saputri
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1798

Abstract

Pendahuluan: Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan bagian penting dari pelayanan kefarmasian di puskesmas yang bertujuan menjamin penggunaan obat yang aman, rasional, dan efektif. Puskesmas rawat inap memiliki peran strategis dalam pemberian PIO karena melayani pasien rawat jalan maupun rawat inap dengan karakteristik yang beragam. Oleh karena itu, evaluasi pelaksanaan PIO perlu dilakukan untuk menilai mutu pelayanan kefarmasian dan keselamatan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan Pelayanan Informasi Obat (PIO) di Puskesmas Rawat Inap Halong. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan data dilakukan pada Januari 2026 di Puskesmas Halong dengan melibatkan 97 pasien dan 5 tenaga kefarmasian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, wawancara terstruktur, dan observasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa PIO di Puskesmas Halong telah dilaksanakan sesuai standar Permenkes Nomor 74 Tahun 2016  mayoritas pasien menerima informasi dasar obat seperti nama, indikasi/kegunaan, dosis, cara penggunaan, dan tindakan bila lupa minum obat, dengan persentase 100% (kategori sangat baik). Informasi efek samping obat diterima 81,44% pasien (kategori baik), cara penyimpanan 70,10% (baik), dan interaksi obat/makanan/obat lain 64,95% (cukup). Kompetensi tenaga kefarmasian berada pada kategori baik hingga sangat baik komunikasi dengan pasien, memastikan pemahaman, dan sikap profesional, sebagian tenaga belum mengikuti pelatihan atau seminar terkait PIO. Sarana dan prasarana ruang konseling, meja pelayanan, media edukasi, dan alat komunikasi tersedia dan memadai, namun leaflet sebagai media cetak belum tersedia, sehingga memengaruhi waktu konseling. Kesimpulan: PIO di Puskesmas Halong telah berjalan sesuai standar, efektif dalam menyampaikan informasi dasar obat, namun memerlukan peningkatan melalui penyediaan media cetak dan strategi konseling tambahan agar seluruh informasi obat dapat diterima secara lengkap oleh pasien.
Co-Authors Abdi, Muhammad Mahendra Agenia Rahman Aisyah, Noor Ali Rakhman Hakim Ana Khumaira Sari Anna Khumaira Sari Ansori Rahman Antung Sinta Dewi Aryzki, Saftia Ayu Safitri Ayuchecaria, Noverda Darini Kurniawati Darini Kurniawati Desy Agustina Desy Hereyanti Diah A Puspandari Dwi Ramadhayanti Dyah Sri Wulandari Dyan Fitri Nugraha Eka Kumalasari Eka Rahmadhania Erlina Syamsu Erlina Syamsu Erna Prihandiwati Fahma Lailani Febrianti, Dwi Rizki Febrianti, Dwi Rizki Fifi Alayda Azzahra Gamaliana, Dian Yunita Gandys Hartaningroom Gina Aima Putri Haji Ida Nurlihayati Hidayatun Nisa, Hidayatun Indah Fitri Ramadhani Isnani Yuliana Ita Feteriah Iwan Yuwindry Karani Karani Kunti Nastiti Kurniawati, Darini Leonov Rianto Malahayati, Siti Malisa Ariani Maudy Namirah Raudatullis Wanda Melinda Dian Puspita Melviani Melviani Melviani Melviani Mochammad Maulidie Alfiannor Saputera Muhamma Rizki Ikhsan Mustaqimah Mustaqimah Novi Damayanti Novita Yanti Nungky Yulia Nurul Shadika Khairunnisa Proditus Arif Putra, Aditya Maulana Perdana Putri Vidiasari Darsono, Putri Vidiasari Rahmadani Rahmadani Rakhmadhan Niah Ratu Mouly Noor Rina Saputri Riza Alfian Riza Alfian Riza Alfian Rohama Rohama Ronal Manurung Roslyn Djumala Saftia Aryzki Saftia Aryzki Saftia Aryzki Saftia Aryzki Salwa Nur Ilahiya Setia Budi Setia Budi Setia D. R. Riadi Shela Puzi Dina Shinta Rahmawati Siska Musiam Siti Mutaharah Subhannur Rahman Susanto, Yugo Tri M Andayani Wahyu Nugroho Wahyu Nugroho Wahyuni, Amaliyah Yanti Yesika Yesika Yusuf Anggoro Mukti