This research aims to analyze the criticism of tradition in the novel Serat Prabangkara. This research is a qualitative descriptive study using a literary anthropology approach. The data source for this research is the novel Serat Prabangkara by Ki Padmasusastra accessed through sastra.org. This research data consists of dialogue, narrative, cultural symbols, and criticism of tradition expressed in the story. The research data collection technique was carried out through reading and note-taking techniques. The research data were analyzed using literary anthropology techniques developed by Endraswara. The results of the study show that the novel Serat Prabangkara depicts a critique of Javanese traditions and socio-cultural structures that are hierarchical and patriarchal. This critique is manifested through the conflict between personal love and restrictive social norms, especially in the issue of inter-class marriage between Prabangkara and Rara Apyu. Prabangkara and Rara Apyu's actions in daring to defy traditional norms indicate resistance to a social system that restricts freedom and gender equality. Rara Apyu goes beyond the boundaries of traditional women's roles by disguising herself as a man and leading a kingdom, marking a form of resistance to rigid gender constructions. The novel Serat Prabangkara is a social reflection that criticizes norms that are no longer relevant and calls for change in valuing freedom and equality. The results of this research can enrich literary and cultural studies and provide new insights regarding the role of literature as a medium for reflection and criticism of tradition. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kritik tradisi dalam novel Serat Prabangkara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan antropologi sastra. Sumber data penelitian ini adalah novel Serat Prabangkara karya Ki Padmasusastra yang diakses melalui sastra.org. Data penelitian ini berupa dialog, narasi, simbol-simbol budaya, dan kritik tradisi yang diungkapkan dalam cerita. Teknik pengumpulan data penelitian ini dilakukan melalui teknik baca dan catat. Data penelitian dianalisis menggunakan teknik antropologi sastra yang dikembangkan oleh Endraswara. Hasil penelitian menunjukan bahwa novel Serat Prabangkara menggambarkan kritik terhadap tradisi dan struktur sosial budaya Jawa yang bersifat hierarkis dan patriarkal. Kritik tersebut diwujudkan melalui konflik antara cinta pribadi dan norma sosial yang mengekang terutama dalam persoalan pernikahan lintas kelas antara Prabangkara dan Rara Apyu. Tindakan Prabangkara dan Rara Apyu yang berani menentang norma tradisional menunjukkan adanya perlawanan terhadap sistem sosial yang mengekang kebebasan dan kesetaraan gender. Rara Apyu melampaui batasan peran perempuan tradisional dengan menyamar sebagai laki-laki dan memimpin sebuah kerajaan yang menandai bentuk resistensi terhadap konstruksi gender yang kaku. Novel Serat Prabangkara menjadi refleksi sosial yang mengkritik norma-norma yang tidak lagi relevan dan menyerukan perubahan dalam menghargai kebebasan dan kesetaraan. Hasil penelitian ini dapat memperkaya kajian sastra dan budaya serta memberikan wawasan baru terkait peran sastra sebagai media refleksi dan kritik tradisi.