Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

The impact of Caesarean delivery mode towards brain and neurodevelopment among children Tjhin Wiguna; Levina Chandra Khoe
World Nutrition Journal Vol. 4 No. S2 (2020)
Publisher : Indonesian Nutrition Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25220/WNJ.V04.S2.0005

Abstract

In regards to the rising rate of Caesarean birth globally, there is concern about the risk of Caesarean birth in children. However, the effect of Caesarean delivery towards the child brain and neurodevelopment is not well understood. We reviewed articles from online database with topics related to the relation between caesarean delivery mode and brain development/neurodevelopment/behaviour and emotional development. Several studies discussed how birth mode could affect brain structural connectivity through neural and hormone changes. Some studies also assessed possible effect on child’s psychological development.  The result showed differences in child’s brain development between caesarean and natural delivery in the early life, but not in the long run. Additionally, no significant association between birth mode and emotional problem.
Hubungan antara Kadar Seng dalam Serum dengan Fungsi Eksekutif pada Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) Rivo Mario Warouw Lintuuran; Tjhin Wiguna; Nurmiati Amir; Agung Kusumawardhani
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.58 KB) | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.285-91

Abstract

Latar belakang. Belum ada hubungan yang jelas antara kadar seng serum dengan gangguan fungsi eksekutif pada anak dengan GPPH.Tujuan. Mengidentifikasi perbedaan rerata kadar seng dalam serum anak GPPH dengan gangguan dan tanpa gangguan fungsi eksekutif, anak non-GPPH, serta mendapatkan korelasi antara kadar seng dalam serum dengan fungsi eksekutif.Metode. Penelitian potong-lintang yang disertai dengan kelompok kontrol. Dari dua sekolah dasar di Jakarta, secara acak diambil 90 anak sebagai subjek penelitian yang terbagi dalam 3 kelompok, yaitu anak GPPH dengan gangguan (n=30) dan tanpa gangguan (n=30) fungsi eksekutif, serta non-GPPH (n=30). Kadar seng serum diperiksa dengan metode ICP-MS di Laboratorium Prodia Jakarta. Fungsi eksekutif didapatkan melalui kuesioner BRIEF versi Bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan SPPS for Windows versi 20.Hasil. Dari seluruh subjek penelitian, 75% mengalami defisiensi seng. Kadar seng tidak normal terdapat pada 60% anak GPPH dengan gangguan fungsi eksekutif. Rerata serum seng pada kelompok anak GPPH dengan gangguan dan tanpa gangguan fungsi eksekutif, serta non-GPPH berturut-turut 59,40, 55,36, dan 52,93 μg/dL. Tidak dijumpai perbedaan rerata seng di antara tiga kelompok tersebut (p=0,119). Koefisien korelasi antara kadar seng serum dengan fungsi eksekutif adalah r=0,128.Kesimpulan. Kadar seng serum diduga tidak berhubungan secara langsung dengan gangguan fungsi eksekutif, tetapi lebih berhubungan dengan gejala klinis GPPH yang menyerupai beberapa gejala gangguan fungsi eksekutif
Perundungan-siber (Cyberbullying) serta Masalah Emosi dan Perilaku pada Pelajar Usia 12-15 Tahun di Jakarta Pusat Bonny Tjongjono; Hartono Gunardi; Sudung O. Pardede; Tjhin Wiguna
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.301 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.342-8

Abstract

Latar belakang. Internet dan media sosial memberikan banyak kemudahan hidup, namun juga berpotensi untuk disalahgunakan, misalnya untuk perundungan-siber. Perundungan-siber memiliki efek negatif terhadap kesehatan fisik, psikologis, dan sosial pelaku maupun korbannya. Tujuan. Mengidentifikasi karakteristik perundungan-siber serta masalah emosi dan perilaku pelajar usia 12-15 tahun di Jakarta Pusat.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada pelajar usia 12-15 tahun pada satu SMP di Jakarta Pusat. Perundungan-siber dinilai dengan kuesioner perundungan-siber Hinduja dan Patchin, yang telah diterjemahkan dan divalidasi dengan Cronbach’s α=0,72. Masalah emosi dan perilaku ditapis dengan menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ).Hasil. Dari 274 pelajar yang berpartisipasi dalam penelitian ini, prevalens perundungan-siber adalah 48,2% (korban 11%, pelaku 14,2%, korban sekaligus pelaku 23%). Jenis perundungan-siber tersering yang dialami korban adalah tidak dihargai oleh orang lain (83,3%), disinggung-singgung oleh orang lain (80%), dan diacuhkan oleh orang lain (73,3%). Chat room di Line (60%) dan Instagram (60%), merupakan media sosial tersering yang digunakan. Teman sebaya laki-laki merupakan pelaku tersering (66,7%). Masalah hubungan dengan teman sebaya merupakan masalah emosi dan perilaku yang paling sering dialami oleh korban (10,2%), pelaku (13,5%), dan korban sekaligus pelaku (20,4%).Kesimpulan. Perundungan-siber merupakan suatu fenomena yang sering dijumpai pada pelajar usia 12-15 tahun di sebuah SMP di Jakarta Pusat. Masalah tersebut memerlukan perhatian yang lebih serius dari orangtua, guru dan tenaga kesehatan.
Gangguan Memori Kerja pada Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas: Suatu Studi Komparatif Evi Evi; Fransiska Kaligis; Tjhin Wiguna; Anak Agung Ayu Agung Kusumawardhani
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.88-94

Abstract

Latar belakang. Penelitian menunjukkan memori kerja merupakan prediktor kapasitas belajar yang lebih bermakna daripada intelligence quotient (IQ). Bila fungsi ini terganggu, anak dapat mengalami kesulitan belajar. Studi melaporkan gangguan memori kerja banyak ditemukan pada gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data proporsi gangguan memori kerja pada anak GPPH dan perbandingan dengan anak tanpa GPPH. Data ini diharapkan dapat menjadi data dasar bagi pengembangan intervensi selanjutnya.Metode. Penelitian ini dilakukan dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode randomized sampling. Instrumen Working Memory Rating Scale (WMRS) yang telah divalidasi dalam Bahasa Indonesia oleh Wiguna, dkk. (2012) digunakan untuk menentukan ada tidaknya defisit memori kerja. Hasil. Proporsi gangguan memori kerja pada kelompok anak dengan GPPH berbeda bermakna dibandingkan kelompok anak tanpa GPPH (44% vs 0%, p<0,05). Pada uji analisis, didapatkan prevalence ratio (PR) 40,4 (95% IK 2,22 - 738,01), artinya anak dengan GPPH berisiko mengalami gangguan memori kerja 40,4 kali lebih besar dibandingkan anak tanpa GPPH. Kesimpulan. Gangguan memori kerja lebih banyak ditemukan pada anak dengan GPPH. Pemeriksaan memori kerja pada anak dengan GPPH diperlukan untuk mengantisipasi kesulitan belajar yang mungkin timbul. Intervensi tambahan dapat dipertimbangkan untuk memperbaiki gangguan memori kerja pada anak dengan GPPH.
Hubungan Rerata Kadar Feritin dalam Serum dengan Gejala Klinik Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas Berdasarkan Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktif Indonesia (SPPAHI) Citra Fitri Agustina; Martina Wiwie Setiawan Nasrun; Tjhin Wiguna; Ika Widyawati
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.173-7

Abstract

Latar belakang. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) merupakan gangguan psikiatrik paling banyak pada anak, dengan prevalensi 26,2% di Jakarta. Serum feritin, diduga, memengaruhi patofisiologi GPPH terkait dengan aktivitas dopaminergik.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar feritin dengan gejala klinis GPPH serta mengetahui adakah perbedaan kadar feritin pada anak GPPH dan bukan GPPH.Metode. Desain penelitian potong lintang, membandingkan 47 anak GPPH dan 47 anak sehat sebagai kontrol yang berusia 7-12 tahun (usia rerata 9,09± 1,29). Uji korelasi Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan kadar feritin dengan gejala klinis GPPH. Pemeriksaan serum feritin menggunakan metode Electrochemiluminescent Immuno Assay (ECLIA). Diagnosis GPPH ditegakkan dengan MINI KID, sedangkan gejala klinis GPPH dinilai berdasarkan Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktif Indonesia (SPPAHI).Hasil. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara kadar feritin dengan gejala klinis GPPH, koefisien korelasi 0,108 (p>0,05). Rerata kadar feritin anak GPPH adalah 38,7 ng/mL (median), yang tidak berbeda bermakna dengan kontrol (median 28 ng/mL).Kesimpulan. Tidak terbukti adanya hubungan antara feritin dengan gejala klinis GPPH. Masih diperlukan studi lebih lanjut untuk melihat peran feritin melalui dopamin pada GPPH.
The Importance of Parent – Infant Bonding towards Infant Mood Regulation Tjhin Wiguna
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.478-84

Abstract

Bonding atau ikatan emosi antara orangtua dan anak usia di bawah tiga tahun ( anak usia batita) merupakan suatu ikatan timbalbalik yang sangat penting bagi tumbuh kembang seorang anak. Teori yang berkaitan dengan bonding ini sudah dijelaskan sejakbeberapa dekade yang lalu namun peran dalam praktik klinik masih dirasakan terbatas. Bonding sudah mulai terbentuk sejak bayidalam kandungan dan berlangsung terus sampai beberapa tahun kemudian. Oleh karena itu setiap gangguan yang terjadi sejak masakandungan sampai dengan lahirnya anak dapat mengganggu proses keseimbangan ikatan orangtua – anak usia batita ini, sehinggaberdampak dalam proses perkembangan dan regulasi emosi anak. Klaus dan Kennell menyatakan bahwa ikatan antara ibu – anak usiabatita ini dapat berlangsung optimal jika bayi dan ibu dipersatukan sedini mungkin segera setelah lahir. Disregulasi mood pada anakusia batita merupakan salah satu contoh adanya gangguan keseimbangan ikatan ibu – anak usia batita; kondisi tersebut membuatanak usia batita mengalami kesulitan dalam menyesuaikan dirinya terhadap berbagai jenis perasaan dan rangsangan yang berkaitandengan pengalaman emosionalnya, terutama dalam kaitan dengan pengalaman emosional yang bersifat negatif. Disregulasi mood yangtidak tertangani cenderung membuat pertumbuhan bayi terganggu dan dapat berdampak terhadap terjadi nya ganggal tumbuh darianak tersebut, dan tentunya juga mengakibatkan terganggunya perkembangan anak. Oleh karena itu, deteksi dini dari permasalahanikatan ibu – anak usia batita ini sangat penting dikenali sehingga intervensi dini dapat diberikan dalam usaha untuk mencapaipertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal serta perbaikan derajat kesehatan ibu pada umumnya terutama dalam kaitandengan kesehatan jiwa ibu.
Gambaran Bullying dan Hubungannya dengan Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak Sekolah Dasar Soedjatmiko Soedjatmiko; Waldi Nurhamzah; Anastasia Maureen; Tjhin Wiguna
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.174-80

Abstract

Latar belakang. Prevalensi bullying pada anak SD di Indonesia belum diketahui.Tujuan. Mengetahui gambaran dan prevalensi bullying, pemahaman pelajar mengenai istilah bullying, hubungan antara status bullying dengan masalah emosi, dan perilaku serta prestasi akademis.Metode. Penelitian potong lintang dengan subyek pelajar SD kelas V usia 9-11 tahun di SDN Cikini 02 Pagi dan SDS Tunas Bangsa pada bulan Oktober 2011. Bullying dinilai menggunakan Olweus Bully/Victim Questionnaire yang dimodifikasi, sedangkan masalah emosi dan perilaku dideteksi menggunakan self-report Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Prestasi akademis dinilai berdasarkan nilai rapor tengah semester.Hasil. Penelitian dilakukan pada 76 subyek dan didapatkan prevalensi bullying 89,5%. Tidak terdapat perbedaan jenis kelamin pada subyek yang terlibat dalam bullying. Sebagian besar subyek yang terlibat bullying berusia >9 tahun. Subyek dengan status sosio-ekonomi rendah cenderung menjadi korban, sedangkan subyek dengan status sosio-ekonomi menengah dan tinggi cenderung menjadi korban sekaligus pelaku. Tipe bullying tersering adalah fisik. Pelaku bullying terbanyak adalah teman sebaya. Bullying paling sering terjadi di ruang kelas pada waktu istirahat sekolah. Dampak bullying jangka pendek tersering yang dialami korban adalah perasaan sedih. Sebagian besar korban melaporkan bullying yang dialaminya kepada orang lain. Hanya 22% subyek yang mengetahui istilah bullying dengan tepat. Tidak didapatkan hubungan antara status bullying dengan masalah emosi dan perilaku maupun prestasi akademis.Kesimpulan. Prevalensi bullying pada murid kelas V SDN Cikini 02 Pagi dan SDS Tunas Bangsa 89,5%. Pemahaman tentang istilah bullying pada anak SD di Jakarta Pusat rendah. Tidak didapatkan hubungan antara status bullying dengan masalah emosi dan perilaku maupun prestasi akademis.
Uji Diagnostik Working Memory Rating Scale (WMRS) versi Bahasa Indonesia dan Proporsi Anak Sekolah Dasar dengan Kesulitan Belajar GDQ'HÀVLWWorking Memorydi Jakarta Tjhin Wiguna; Noorhana Setyawati WR; Fransiska Kaligis
Sari Pediatri Vol 14, No 3 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.3.2012.191-7

Abstract

Latar belakang.Kesulitan belajar merupakan masalah tersering ditemukan pada anak dan remaja. Penelitian terakhir menunjukkan hubungan antara kesulitan belajar dan defisit working memory, namun sampai saat ini penentuan defisit working memorymasih sulit dilakukan. Tujuan.Mendapatkan alat ukur working memoryyang sahih dan andal bagi guru di sekolah dasar dalam Bahasa Indonesia. Di samping itu, penelitian kami juga bermaksud mengidentifikasi besar proporsi anak dengan kesulitan belajar dan defisit working memorydi Jakarta. Metode.Penelitian uji diagnostik dan potong lintang; (1) uji diagnostik working memory rating scale (WMRS) versi Bahasa Indonesia. Sembilanpuluh sembilan anak dari 5 sekolah dasar yang dipilih secara acak proporsional; (2) Studi potong lintang untuk mendapatkan proporsi anak dengan kesulitan belajar yang disertai dan tanpa disertai defisit working memorydi wilayah Jakarta. Empatratus duapuluh tiga anak dari 27 sekolah dasar di Jakarta yang dipilih secara acak proporsional. Hasil.Titik potong WMRS versi Bahasa Indonesia pada kelompok usia 6–9 tahun, T score> 60 adalah 20 danT score>70 adalah 30 (sensitivitas 0,161 dan spesifisitas 0,674). Pada kelompok usia 10–12 tahun, T score>60 adalah 29 dan T score>70 adalah 42 (sensitivitas 0,186 dan spesifisitas 0,929). Dari 423 anak usia sekolah dasar dengan usia rerata 9,34 (1,78) yang diikutsertakan, didapat 104 (24,6%) anak yang mengalami kesulitan belajar. Usia rerata anak dengan kesulitan belajar 9,58 (1,76). Proporsi anak sekolah dasar yang mengalami kesulitan belajar murni dengan defisit workingmemory 8,04% dengan usia rerata 9,82 (1,79). Kesimpulan.Working memory rating scale(WMRS) versi Bahasa Indonesia spesifik dalam menilai defisit working memorypada anak sekolah dasar dengan kesulitan belajar. Proporsi kesulitan belajar pada anak sekolah dasar dan defisit working memorycukup besar dan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar kualitas anak dapat ditingkatkan
Gambaran Masalah Psikososial pada Remaja dengan Thalassemia Mayor dan Diabetes Mellitus Tipe-1 Bernie Endyarni Medise; Naela Fadhila; Tjhin Wiguna; Zakiudin Munasir; Jose R.L Batubara; Pustika Amalia Wahidiyat; H.F. Wulandari; Rosalina Dewi Roeslani
Sari Pediatri Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.2.2020.83-91

Abstract

Latar belakang. Thalassemia dan diabetes mellitus tipe-1 (DM tipe-1) merupakan penyakit kronik yang banyak didapatkan pada anak dan remaja di Indonesia. Adanya penyakit kronik pada remaja dapat berisiko meningkatkan terjadinya masalah psikososial 2-6 kali dibandingkan populasi sehat. Masalah psikososial pada remaja sulit dikenali sehingga perlu dilakukan evaluasi secara rutin. The strengths and difficulties questionnaire (SDQ) adalah instrumen yang praktis dan mudah digunakan untuk mendeteksi masalah tersebut. Tujuan. Mengetahui besaran masalah psikososial pada remaja dengan penyakit kronik di RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Metode. Desain potong lintang pada 140 remaja (100 thalassemia mayor dan 40 DM tipe-1), usia 10-18 tahun. Subyek diminta untuk mengisi kuesioner SDQ (laporan mandiri). Hasil. Prevalensi total skor abnormal pada remaja thalassemia mayor adalah 8%, dan DM tipe-1 adalah 15%. Tidak ada skor abnormal pada aspek perilaku pro-sosial kedua penyakit, dan aspek hubungan dengan teman sebaya DM tipe-1. Tidak didapatkan perbedaan bermakna antara diagnosis penyakit, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan subyek pasien DM terhadap luaran hasil SDQ. Kesimpulan. Masalah psikososial lebih banyak didapatkan pada remaja DM tipe-1 dibandingkan thalassemia mayor.
Hubungan Antara Rerata Kadar Seng dalam Serum dengan Gejala Klinis Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas pada Anak Berdasarkan Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktif Indonesia Rininta Mardiani; Nurmiati Amir; Tjhin Wiguna
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.559 KB) | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.17-21

Abstract

Latar belakang. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) merupakan salah satu gangguan jiwa yang dijumpai pada anak. Terdapat tiga tipe gejala utama GPPH, yaitu kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Hingga saat ini, belum dapat disimpulkan penyebab pasti terjadinya GPPH. Namun, hasil berbagai penelitian menunjukkan adanya kaitan dengan nutrisi, yaitu adanya defisiensi seng.Tujuan. Mengetahui perbedaan rerata antara kadar seng dalam serum pada anak dengan GPPH dibandingkan dengan kelompok kontrol anak sehat dan mengetahui hubungan antara rerata kadar seng dalam serum dengan gejala klinis pada anak dengan GPPH.Metode. Desain penelitian pendekatan metode potong lintang dengan kontrol anak sehat. Penelitian dilakukan di SDN 01 Pagi Kampung Melayu, Jakarta Timur, pada bulan Mei – Juni 2013. Jumlah sampel pada masing-masing kelompok yaitu 42.Hasil. Didapatkan nilai tengah kadar seng dalam serum untuk kelompok anak GPPH 52,50 μg/L dan kadar seng dalam serum untuk kelompok anak sehat 51,50 μg/L. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara kedua nilai tengah kadar seng dalam serum antara kelompok anak yang menderita GPPH dengan anak sehat. Tidak ada hubungan bermakna antara rerata kadar seng dalam darah dengan gejala klinis GPPH.Kesimpulan. Tidak didapatkan perbedaan rerata kadar seng dalam darah antara kelompok anak GPPH dibandingkan dengan anak sehat, dan tidak didapatkan hubungan kadar seng dalam darah pada anak GPPH dengan gejala klinis GPPH yang dinilai berdasarkan Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktivitas Indonesia (SPPAHI).
Co-Authors A.A.A.A Kusumawardhani Ade Rachmat Yudianto Aditya Wardhana Agung Kusumawardhani Agung Muhammad Rheza Alida R. Harahap Amin Soebandrio Anak Agung Ayu Agung Kusumawardhani Anastasia Maureen Andika Widianti Andy Darma Anggono, Rendi F. Anindya, Isti Ardani, Yanuar Aria Kekalih Basrowi, Ray Wagiu Batubara, Jose Bernie Endyarni Medise Bonny Tjongjono Budi Sampurna Christa Pamela Christian, Hans Christy Venada Citra Fitri Agustina Dharma Asih, Ni Ketut Susila Dian R. Sawitri, Dian R. Dina Muktiarti, Dina E. Mudjaddid A. Siswanto Deddy N.W.Achadiono Hamzah Shatri Em Yunir, Em Erika Wasito Eva Suryani Evi Evi Evi Evi Firdaus, Karina Fransiscus D. Suyatna Fransiska Kaligis H.F. Wulandari Hartono Gunardi Heri Wibowo Ibnu Agus Ariyanto Ika Widyawati Imran Pambudi Inne Yuliawati Irawan Mangunatmadja Irene Yuniar, Irene Irmia Kusumadewi Ismail, Raden Ismail, Raden Irawati Jubilate Edward Iruanto Tambun Julianti Julianti, Julianti Juwalita Surapsari Kartjito, Melissa Stephanie Katarina, Matilda Kristiana Siste Kurniasanti, Kristiana Kurniasanti, Kristiana Siste Kusuma Minayati Levina Chandra Khoe Listya Tresnanti Mirtha Luh Nyoman Alit Aryani Mahaputra Mahaputra, Mahaputra Malik, Khamelia Martina Wiwie Setiawan Nasrun Martina Wiwiek Nasrun Masyur, Muhtaruddin Melissa Stephanie Kartjito Munar Lubis Munasir, Zakiudin Muzal Kadim Myron L. Belfer Naela Fadhila Noorhana Setyawati WR Nurmiati Amir Nurmiati Amir Oktarina, Molly Dumakuri Osi Kusuma Sari Pasiak, Taufiq Fredrik Paul Samuel Kris Manengkei Petrin Redayani Lukman Pratiwi Assandi Pustika Amalia Wahidiyat Putra, Anggi A. Raharjanti, Natalia Widiasih Ray Wagiu Basrowi Ricardo, William Rini Sekartini Rininta Mardiani Rismala Dewi Rivo Mario Warouw Lintuuran Rosalina Dewi Roeslani, Rosalina Dewi Sabarinah Prasetyo Sabrina Tan Safira A Tjandrasari Sari, Novika Purnama Sarwono, Sugeng J. Sasanto Wibisono Sekarpramita Darmaputri Soedjatmiko Subekti, Imam Sudigdo Sastroasmoro Sudung O Pardede, Sudung O Sukamto Koesnoe Sulaiman Yusuf Surapsari, Juwalita Sylvia D Elvira Taufiq Fredrik Pasiak Tonny Sundjaya Tribowo Tuahta Ginting Wafa Sofia Fitri Wahyu Damayanti Waldi Nurhamzah Wasito, Erika Widura Imam Mustopo Winanda, Rizki Aniza Windy Atika Hapsari Wira Febrisandi Irsan Wiwie, Martina Yudith Setiati Ermaya Yunita Arihandayani Yusri Dianne Jurnalis