Claim Missing Document
Check
Articles

The Function of Humanist Expressive Speech Acts of Public Figures in the Covid-19 Outbreak Areni Yulitawati Supriyono; Ida Zulaeha; Tommi Yuniawan; Carolina Sasabone
Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 13 No. 3 (2024): December 2024
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study is to analyze the function of expressive humanist speech of public figures in the Covid-19 outbreak on YouTube. The research method used is descriptive qualitative. The sources of research data are the speech acts of public figures during the Covid-19 outbreak on YouTube. The data used is the speech acts of public figures who allegedly contained humanist expressive speech during the Covid-19 outbreak. The results of this study show that from sixteen transcriptions of videos of public figures during the Covid-19 pandemic on YouTube, 123 expressive humanist speech acts were found. A total of 15 expressive speech functions can be analyzed from this data. These functions include saying congratulations, gratitude, sympathy, praise, apologize, criticize, suggest, blame, educate, complain, disappoint, motivate, hope, empathize, and be grateful. The tendency of expressive humanist speech of public figures based on the percentage of frequency, 20% motivating, 18% educating, and 11% sympathetic. The other speech functions are at a percentage below 10%. Public figures have a role in disseminating information and need to be careful so as not to cause social conflict. The function of speech to motivate, educate, and be sympathetic is a function of speech that can be used by public figures in delivering information so that misunderstandings do not occur.
Analisis Bahasa dalam Buku Pengayaan Digital Literasi Bermuatan Eco Green untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama Sumirah Sumirah; Ida Zulaeha; Hari Bakti Mardikantoro; Haryadi Haryadi
SAWERIGADING Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i1.1567

Abstract

This study aims to analyze the linguistic characteristics in digital literacy enrichment books with eco green content for junior high school students. The main focus of the research is how language is used contextually, transformatively, and interactively to build environmental awareness and improve students' literacy skills. This research used a qualitative approach with content analysis method. Data collection techniques included document analysis of digital books, observation of students' interaction with interactive features, and structured interviews with teachers and linguists. The data were analysed through three stages: text identification based on environmental themes, categorization into three linguistic approaches, and evaluation of language effectiveness through source triangulation. The results showed that the selection of specific diction, imperative sentence structure, and integration of digital features such as video tutorials and interactive infographics were able to connect environmental concepts with students' real actions. Language in the book does not only function as a conveyor of information, but also as an instrument of identity formation, active participation, and transformation of learning into meaningful social practices. This research confirms the important role of language in creating holistic and sustainability-oriented digital literacy media. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kebahasaan dalam buku pengayaan digital literasi yang bermuatan eco green untuk siswa Sekolah Menengah Pertama. Fokus utama penelitian adalah bagaimana bahasa digunakan secara kontekstual, transformasional, dan interaktif untuk membangun kesadaran lingkungan serta meningkatkan keterampilan literasi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten. Teknik pengumpulan data meliputi analisis dokumen terhadap buku digital, observasi interaksi siswa dengan fitur interaktif, serta wawancara terstruktur dengan guru dan ahli linguistik. Data dianalisis melalui tiga tahap: identifikasi teks berdasarkan tema lingkungan, kategorisasi ke dalam tiga pendekatan kebahasaan, dan evaluasi efektivitas bahasa melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan diksi spesifik, struktur kalimat imperatif, dan integrasi fitur digital seperti video tutorial dan infografis interaktif mampu menghubungkan konsep lingkungan dengan tindakan nyata siswa. Bahasa dalam buku tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan identitas, partisipasi aktif, dan transformasi pembelajaran menjadi praktik sosial yang bermakna. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran bahasa dalam menciptakan media literasi digital yang holistik dan berorientasi pada keberlanjutan
Asesmen Pembelajaran IPAS Berbasis Kecakapan Abad Ke-21 Guru-Guru SMP/MTs Sarwi Sarwi; Sri Wardani; Ida Zulaeha; Eko Handoyo; Bayu Tri Prasojo; Ainin Trifilia Mukhoiriyah; Yeti Tiara; Hermin Nurhayati
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Vol. 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Dharma Samakta Edukhatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61142/psnpm.v1.86

Abstract

Pada abad 21 ini, guru dituntut dapat menerapkan Kurikulum 2013 revisi dan Kurikulum Merdeka Belajar, termasuk menyusun asesmen kompetensi berbasis kecakapan abad-21 khusus 4 C’s. Guru masih mengalami kesulitan dalam menyusun instrumen asesmen yang mengukur kemampuan berpikir kritis, keterampilan elaborasi, dan pemecahan masalah. Metode penelitian survey kuantitatif dengan dengan desain expost-facto, dengan tujuan mengungkap tanggapan dan kemampuan umum guru SMP/MTs dalam menyusun asesmen pembelajaran IPAS berbasis kecakapan abad ke-21. Subjek penelitian adalah 30 guru IPAS SMP/MTs di Kota Semarang teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data adalah kuesioner, tes, dan proyek. Teknik analisis data menggunakan uji N-Gain, deskriptif persentase, dan analisis kualitatif. Hasil penelitian: 1) tanggapan responden sangat baik mencapai 99% dari peserta, dan 2) peningkatan pemahaman umum responden terhadap materi dengan N-Gain sebesar 0,67 (skala 0-1) dan 3) penguasaan membuat asesmen berbentuk proyek 82 (skala 0-100) kategori baik. Simpulan adalah peningkatan pemahaman guru cukup dan penguasaan bentuk proyek dalam kategori baik.
Penggunaan Bahasa Persuasif dalam Buku Pengayaan Digital Literasi: Pendekatan Retorika terhadap Tema Eco Green Sumirah Sumirah; Ida Zulaeha; Hari Bakti Mardikantoro; Haryadi Haryadi
Aksara Vol 37, No 1 (2025): AKSARA, EDISI JUNI 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i1.4801.68-76

Abstract

This study analyzes the use of persuasive language in eco-green literacy digital enrichment books for junior high school students through a rhetorical approach. By combining critical discourse analysis (CDA) and classical rhetorical theory (pathos, logos, ethos), this study identifies effective linguistic strategies in conveying environmental messages. The research method uses a descriptive qualitative approach with a case study design. Data collection techniques include: (1) document analysis of 15 eco green digital books for junior high schools, (2) in-depth interviews with 12 students and 8 teachers, (3) participatory observation during the implementation of teaching materials for 3 months, and (4) focus group discussions (FGD) with linguistics and environmental education experts. Data analysis was carried out through triangulation of methods using the Miles & Huberman model (data reduction, data display, verification) combined with Aristotle's rhetorical analysis framework and thematic coding techniques to identify linguistic persuasive patterns. The results of the study show that the combination of emotional narrative (pathos), scientific facts (logos), and source credibility (ethos) successfully builds students' ecological awareness, improves conceptual understanding, and encourages real action. Concrete examples such as the story "The Magic Switch in Class 7A", metaphors ("The Earth is our home"), and calls to action ("Turn off the lights!") have proven effective in creating emotional engagement and behavior change. These findings reinforce the theory of the Elaboration Likelihood Model (Petty & Cacioppo, 1986) and provide practical recommendations for digital teaching material developers: integration of holistic rhetorical strategies, emphasis on empirical experience, and adaptive content design for the digital native generation. This research contributes to strengthening environmental literacy through a linguistic-rhetorical approach that is relevant to the challenges of 21st century education.  AbstrakPenelitian ini menganalisis penggunaan bahasa persuasif dalam buku pengayaan digital literasi bertema eco green untuk siswa SMP melalui pendekatan retorika. Dengan menggabungkan analisis wacana kritis (CDA) dan teori retorika klasik (pathos, logos, ethos), studi ini mengidentifikasi strategi linguistik yang efektif dalam menyampaikan pesan lingkungan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi: (1) analisis dokumen terhadap 15 buku digital eco green untuk SMP, (2) wawancara mendalam dengan 12 siswa dan 8 guru, (3) observasi partisipatif selama implementasi bahan ajar selama 3 bulan, dan (4) focus group discussion (FGD) dengan ahli linguistik dan pendidikan lingkungan. Analisis data dilakukan melalui triangulasi metode menggunakan model Miles & Huberman (reduksi data, display data, verifikasi) yang dikombinasikan dengan framework analisis retorika Aristoteles dan teknik coding tematik untuk mengidentifikasi pola persuasif linguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi narasi emosional (pathos), fakta ilmiah (logos), dan kredibilitas sumber (ethos) berhasil membangun kesadaran ekologis siswa, meningkatkan pemahaman konseptual, serta mendorong aksi nyata. Contoh konkret seperti cerita "Saklar Ajaib di Kelas 7A", metafora ("Bumi adalah rumah kita"), dan call to action ("Matikan lampu!") terbukti efektif menciptakan emotional engagement dan perubahan perilaku. Temuan ini memperkuat teori Elaboration Likelihood Model (Petty & Cacioppo, 1986) sekaligus memberikan rekomendasi praktis bagi pengembang bahan ajar digital: integrasi strategi retorika yang holistik, penekanan pada pengalaman empiris, dan desain konten yang adaptif bagi generasi digital native. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan literasi lingkungan melalui pendekatan linguistik-retoris yang relevan dengan tantangan pendidikan abad ke-21.