Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor-Faktor Protektif Dalam Menangguhkan Rencana Bunuh Diri (Studi Fenomenologi Pada Penyintas) Roshinta Erezka; Ninil Elfira; Azmatul Khairiah Sari
Empowerment Counseling Journal Vol. 1 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Program Studi Bimbingan Konseling, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/empowermentcounselingjournal.v1i2.10303

Abstract

Suicide is an unresolved global crisis. Trends indicate that suicides are increasingly being committed by adolescents, with over 51% of suicides occurring in those under 45. Previous research has noted that individuals who have attempted suicide have a negative and pessimistic outlook on life. This study aims to describe the meaning of individuals' experiences in postponing suicide. Suicide attempters were selected through snowball sampling. Data collection was conducted through phenomenological interviews and participant observation. Data analysis used descriptive phenomenological analysis to elicit the essence of suicidal experiences into phenomenological themes. This study identified three themes that can facilitate suicidal ideation: spirituality, family and hope. The implication of this research is that suicide prevention efforts can consider these findings as protective factors for individuals at risk of suicide and build support networks for suicide survivors.
Prevention of Stunting among Pregnant Women through Mindfulness Training and Health Education in Solok District Yarmis Syukur; Ade Herdian Putra; Triave Nuzila Zahri; Azmatul Khairiah Sari
Jurnal Aplikasi IPTEK Indonesia Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/4.111148

Abstract

This Community Service (PkM) activity aims to reduce the birth rate of stunted babies in Nagari Kinari, Bukit Sundi District, Solok Regency, through mindfulness training and health education for pregnant women. Stunting is a serious health problem affecting children's physical and cognitive development. One of the main causes of stunting is stress in pregnant women, which impacts fetal development. Mindfulness training was introduced to help pregnant women manage stress, thus creating a healthier environment for fetal growth. This activity was carried out for two days on August 3-4, 2024, in Nagari Kinari, involving 30 pregnant women as participants. The program included health counseling, mindfulness practice sessions, discussions, and consultations with health workers. The program results showed a significant decrease in participants' stress levels and increased knowledge about pregnancy health and the importance of stress management. The mindfulness therapy taught proved effective and can be applied by the participants in their daily lives. In conclusion, this training contributes to efforts to prevent the birth of stunted babies. It is expected to be a model intervention applied in other areas with similar problems.
The Problem of Misconceptions about Guidance and Counseling Globally Rahmi Dwi Febriani; Triyono Triyono; Puji Gusri Handayani; Triave Nuzila Zahri; Azmatul Khairiah Sari
Jurnal Counseling Care Vol 8, No 1 (2024): Jurnal Counseling Care, [Terakreditasi Sinta 3] No: 156/C/C3/KPT/2026
Publisher : Universitas PGRI SUMATERA BARAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jcc.2024.v8i1.7864

Abstract

Counseling is a service provided by professional staff to individuals or groups for the development of effective daily living. However, the phenomenon that occurs in the field is that the implementation of Guidance and Counseling in schools is carried out with an unclear pattern, the lack of clarity on the pattern that must be implemented has an impact on the bad image of guidance and counseling, giving rise to misconceptions about the implementation of counseling guidance. The emergence of negative perceptions regarding the implementation of Guidance Counseling, various criticisms emerged as a form of disappointment with the counselor's performance, resulting in misunderstandings. Misconceptions are defined as understandings that conflict with the concepts put forward by experts. So, the aim of the research is to describe the problem of misconceptions about guidance and counseling. This type of research is a literature study. by searching, studying and analyzing theoretical references relevant to the problems found. The literature review method is a series of activities related to library data collection methods, reading and recording and managing research materials. Other problems that often cause misconceptions about counseling guidance in schools are: (1) counseling guidance teachers are often seen as school police, (2) counseling guidance is often thought of as a medium for giving advice, (3) counseling guidance is thought to only deal with cases of problematic students. , (4) guidance and counseling teachers must be more active in dealing with student problems, and (5) the profession as a guidance and counseling teacher can be done by anyone
Peningkatan kompetensi guru BK dalam pengembangan modul Konseling KREIN-MKP untuk pencegahan kekerasan seksual di SMK Padang Yeni Karneli; Nilma Zola; Azmatul Khairiah Sari; Arief Hakim Iskandar; Miftahul Jannah
Lentera Negeri Vol. 6 No. 1 (2025): Lentera Negeri
Publisher : Indonesian Institute For Counseling, Education and Therapy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/991610

Abstract

Kekerasan seksual di lingkungan sekolah merupakan isu krusial yang mengancam keselamatan dan perkambangan psikologis siswa, khususnya di Tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Guru Bimbingan dan Konseling (BK) memegang peranan penting dalam Upaya pencegahan melalui layanan konseling yang sistematis dan responsif. Namun, masih banyak guru BK yang belum memiliki keterampilan dalam Menyusun modul konseling yang kreatif dan berbasis pendekatan ilmiah. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan guru BK dalam menyusun modul konseling kreatif dan inovatif berbasis pendekatan Modifikasi Kognitif Perilaku (KREIN-MKP) guna mencegah kekerasan seksual di sekolah. Metode yang digunakan adalah pelatihan dan yang terdiri dari sembilan tahap, dimulai dari survei kebutuhan hingga evaluasi dan publikasi hasil kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan guru BK dalam Menyusun modul yang sesui dengan karakteristik siswa. Produk akhir berupa modul konseling KREIN-MKP dapat digunakan sebagai acuan layanan dasar dan responsive dalam menghadapi isu kekerasan seksual.
Pelatihan peningkatan keterampilan guru bimbingan dan konseling membuat modul Konseling KREIN-MKP pada Kurikulum Merdeka di SMK Yeni Karneli; Azmatul Khairiah Sari; Miftahul Jannah
Lentera Negeri Vol. 6 No. 1 (2025): Lentera Negeri
Publisher : Indonesian Institute For Counseling, Education and Therapy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/991620

Abstract

Guru Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran penting dalam membantu siswa mengatasi permasalahan personal, sosial, dan akademik. Namun, masih banyak guru BK yang belum memiliki keterampilan dalam menyusun modul ajar berbasis pendekatan konseling modifikasi kognitif perilaku (KREIN-MKP). Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan guru BK dalam menyusun modul konseling kreatif dan inovatif sesuai Kurikulum Merdeka di SMK Kota Padang. Metode yang digunakan berupa pelatihan (workshop) yang meliputi ceramah, diskusi, praktik, dan asistensi, dengan peserta guru BK anggota MGBK SMK se-Kota Padang. Hasil evaluasi menunjukkan 73,3% peserta menilai materi relevan dengan tugas sehari-hari, 70% menyatakan penyampaian mudah dipahami, 60% menilai pembuatan modul dapat dilakukan dengan mudah, dan 80% menyatakan workshop perlu dilanjutkan. Secara keseluruhan, kegiatan ini efektif meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan guru BK dalam menyusun modul berbasis KREIN-MKP yang dapat digunakan sebagai pedoman layanan konseling untuk pencegahan permasalahan siswa serta mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
Perbedaan Optimisme Mahasiswa Baru ditinjau dari Jalur Masuk Perguruan Tinggi Rayat Ginting; Nurfarhanah Nurfarhanah; Azmatul Khairiah Sari; Miftahul Fikri; Lisa Putriani
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v6i4.1471

Abstract

Optimisme merupakan kecenderungan berpikir mengenai pemicu suatu peristiwa dan bagaimana seseorang menjelaskan peristiwa yang menyenangkan ataupun kurang menyenangkan. Saat memasuki dunia perkuliahan, mahasiswa akan mengikuti berbagai tes masuk perguruan tinggi diantara SNBP, SNBT, dan Mandiri dimana pada tes ini akan memberikan pengalaman bagi mahasiswa sehingga mendorong motivasi dan optimisme diri. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif dengan jenis penelitian kuantitatif komparatif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa FIP UNP Angkatan 2024. Penentuan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling dengan sampel sebanyak 317 siswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) tingkat optimisme mahasiswa baru FIP UNP Angkatan 2024 berada pada kategori baik dengan persentase 79,6%, (2) optimisme mahasiswa baru pada jalur masuk SNBP pada kategori cukup baik dengan persentase 72,3%, jalur SNBT pada kategori baik dengan persentase 55,7%, serta jalur masuk Mandiri pada kategori baik dengan persentase 79,6%, (3) terdapat perbedaan yang signifikan optimisme mahasiswa ditinjau dari jalur masuk perguruan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, konselor dapat memberikan layanan informasi dengan tema menghadapi dunia perkuliahan, layanan konseling individual, dan layanan bimbingan kelompok dengan topik tugas mengenai menghadapi tantangan di perkuliahan dan pentingnya pola pikir positif dalam menjalani perkuliahan.
GAMBARAN PERAN BYSTANDER DALAM PERILAKU BULLYING: STUDY DESKRIPTIF PADA SISWA MTS Reyhani Lady Mauna; Yeni Karneli; Miftahul Fikri; Azmatul Khairiah Sari
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 03 (2026): Volume 12 No. 3, September 2026 Now Available
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i03.17984

Abstract

Bullying in schools involved bystanders whose responses could influence whether bullying continued or stopped. This study aimed to describe the roles of bystanders in bullying behavior among students at MTsN 1 Padang. A quantitative descriptive design was employed. The population consisted of 352 students, and 194 students were selected using proportionate stratified random sampling. Data were collected using a bystander role scale that measured four dimensions: assistant, reinforcer, outsider, and defender. The data were analyzed using descriptive statistics. The findings showed that the defender role was the most dominant, followed by outsider, reinforcer, and assistant. Most students tended to protect victims when witnessing bullying incidents. These findings provide a basis for guidance and counseling teachers to develop programs that strengthen prosocial behavior and encourage students to take positive action in bullying situations.
HUBUNGAN ANTARA KECANDUAN SMARTPHONE DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA SISWA SMP Aninda Azhara; Dina Sukma; Indah Sukmawati; Azmatul Khairiah Sari
Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling Vol 16, No 1 (2026): Al Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/al-irsyad.v16i1.28466

Abstract

Smartphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan siswa saat ini. Namun, penggunaan smartphone secara berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap diri sendiri maupun interaksi sosial. Di lain sisi, Kecerdasan emosional berperan penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat, menyelesaikan konflik secara positif, serta menyesuaikan diri ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kecanduan smartphone dengan kecerdasan emosional pada siswa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini berjumlah 642 siswa, dan sampel sebanyak 246 siswa dipilih menggunakan teknik stratifed random sampling berdasarkan rumus Slovin dengan toleransi kesalahan 5%. Data dikumpulkan melalui skala kecanduan smartphone dan skala kecerdasan emosional yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif dan signifikan antara kecanduan smartphone  dan kecerdasan emosional dengan nilai korelasi Pearson sebesar r = -0,149 dan signifikansi p= 0,020 (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kecanduan smartphone siswa, maka semakin rendah tingkat kecerdasan emosional yang dimilikinya.
Peningkatan Kompetensi Guru melalui Pembelajaran Mindful, Meaningful, dan Joyful Berbasis Kurikulum 2025 Yanti Fitria; Yullys Helsa; Bayu Rachman; Azmatul Khairiah Sari; Vivi Efrianova
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026): Edisi November 2026
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v7i3.730

Abstract

Pembelajaran di sekolah dasar masih banyak didominasi pendekatan konvensional sehingga siswa belum sepenuhnya memperoleh pengalaman belajar yang bermakna, sadar, dan menyenangkan. Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kompetensi guru sesuai tuntutan Kurikulum Nasional 2025. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan keterampilan guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning. Program dilaksanakan di SDN 04 Lembah Melintang dengan melibatkan 28 guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG). Metode kegiatan meliputi seminar penguatan konsep, pelatihan penyusunan desain pembelajaran, dan workshop pengembangan bahan ajar yang dilaksanakan secara bertahap dengan evaluasi awal, proses, dan akhir. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan nilai rata-rata kemampuan guru dari 68% pada awal pelatihan menjadi 73% pada tahap pertama dan 82% pada evaluasi akhir. Selain meningkat secara kuantitatif, guru juga menunjukkan perubahan pada praktik mengajar dengan mulai menerapkan pembelajaran yang lebih kreatif, partisipatif, dan berpusat pada siswa. Dengan demikian, kegiatan ini berhasil mencapai tujuan dan memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan profesionalisme guru serta penguatan implementasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan kurikulum modern di sekolah dasar.
Mahasiswi dan rokok: tren sikap positif yang mengejutkan Dzi Ulya Fadhila; Rezki Hariko; Nurfarhanah Nurfarhanah; Azmatul Khairiah Sari
Counseling and Humanities Review Vol 6, No 1 (2026): Counseling and Humanities Review
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/0001429chr2026

Abstract

Perilaku merokok pada perempuan menjadi perhatian ketika ditemukan mahasiswi perokok merupakan calon pendidik. Calon pendidik diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap mahasiswi terhadap perilaku merokok secara umum berdasarkan aspek kognisi, afeksi, dan konasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Populasi penelitian adalah mahasiswi aktif jurusan kependidikan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang sebanyak 2.667 orang. Sampel penelitian berjumlah 340 orang dengan penarikan sampel menggunakan propotional random sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala sikap terhadap perilaku merokok. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji t satu sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) sikap mahasiswi terhadap perilaku merokok secara umum berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase capaian skor sebesar 54,71%. (2) Sikap kognisi berada pada kategori tinggi dengan mean 55,66, sikap afeksi berada pada kategori tinggi dengan mean 54,87, dan sikap konasi berada pada kategori tinggi dengan mean 51,21. (3) Hasil uji t satu sampel menunjukkan bahwa sikap mahasiswi terhadap perilaku merokok secara umum maupun pada aspek kognisi, afeksi, dan konasi berbeda secara signifikan dari mean hipotetik. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun perilaku merokok masih ditemukan pada sebagian mahasiswi, secara umum mahasiswi memiliki sikap yang cenderung menolak dan tidak mendukung perilaku merokok. Sikap positif dalam penelitian ini dimaknai sebagai kecenderungan terhadap penolakan perilaku merokok, bukan sebagai dukungan terhadap perilaku tersebut. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi penguatan layanan bimbingan dan konseling serta edukasi mengenai perilaku merokok pada calon pendidik.