Aryanti Wardiyah, Aryanti
Unknown Affiliation

Published : 46 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : Journal of Public Health Concerns

Penyuluhan kesehatan pentingnya menjaga kesehatan alat reproduksi Wardiyah, Aryanti; Aryanti, Lidya; Marliyana, Marliyana; Oktaliana, Oktaliana; Khoirudin, Parid; Dea, Mutia Ade
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v2i1.172

Abstract

Pendahuluan: Sistem Reroduksi Pria meliputi organ-organ reproduksi, spermatogenesis dan hormon pada pria, Sistem reproduksi wanita meliputi organ reproduksi, oogenesis, hormon pada wanita, fertilisasi, kehamilan, persalinan dan laktasi. Kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistim reproduksi, serta fungsi dan prosesnya. - Remaja atau adolescence, berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti tumbuh ka arah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan hanya kematangan fisik saja, tetapi juga kematangan sosial dan psikologis Tujuan: Responden dapat mengetahui dan memahami tentang pentingnya menjaga kesehatan alat reproduksi Metode: Pelaksanaan metode      yang      digunakan      dalam pengabdian     masyarakat     ini     dilakukan dengan 2 tahap, yaitu pertama mahasiswa profesi ners menjelaskan tentang pentingnya menjaga kesehatan alat reproduksi dan ke dua setelah diberikan penyuluhan manajemen nyeri menggunakan lembar bolak balik, responden diberikan Tanya jawab tentang pentingnya menjaga kesehatan alat reproduksi Hasil: Responden memahami tentang pentingnya menjaga kesehatan alat reproduksi Simpulan: responden dapat mengetahui tentang pentingnya menjaga kesehatan alat reproduksi
Penyuluhan kesehatan tentang bahaya game online Novitasari, Linawati; Wardiyah, Aryanti; Kusumaningsih, Dewi; Setiawati, Setiawati; Gustiani, Dwi; Sartika, Dewi
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v2i2.188

Abstract

Pendahuluan: Perkembangan Game Online sendiri tidak lepas juga dari perkembangan teknologi komputer dan jaringan komputer itu sendiri. Meledaknya game online sendiri merupakan cerminan dari pesatnya jaringan komputer yang dahulunya berskala kecil (Small Local Network) sampai menjadi internet dan terus berkembang sampai sekarang. Game Tujuan: Responden dapat mengetahui dan memahami tentang bahaya game online Metode: Pelaksanaan metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan 2 tahap, yaitu pertama mahasiswa profesi ners menjelaskan tentang bahaya game online dan ke dua setelah diberikan penyuluhan prilaku hidup sehat pasien dengan gangguan ginjal kronik menggunakan lembar bolak balik, responden diberikan tanya jawab tentang prilaku hidup sehat pasien dengan gangguan ginjal kronik. Hasil: Responden memahami tentang bahaya game online. Simpulan: responden dapat mengetahui tentang bahaya game online
Penyuluhan kesehatan tentang gizi seimbang pada bayi dan balita Pribadi, Teguh; Romayati, Umi; Wardiyah, Aryanti; Mu’alifah, Ria; Anjeli, Riri; Ananda, Kiki Erlita
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v3i1.256

Abstract

Introduction: One of the causes of malnutrition and stunting is the behavior and practice of parents in giving food to infants and toddlers that are not good. Good nutritional status of toddlers plays an important role for growth and development, especially during the golden period in the first five years. The results of nutritional status monitoring (PSG) in 2017 in Indonesia showed the prevalence of stunting for toddlers was 27.5%, underweight toddlers 8.0%, very thin toddlers 3.1%, underweight toddlers 22.8% and undernourished toddlers as much as 17.8%. Purpose: To increase mother’s knowledge about the nutritional status of toddlers so that they can reduce the incidence of malnutrition or less than normal toddlers. Method: The method used in this health education is carried out in several stages. The first stage is PSIK students explain about balanced nutrition in infants and toddlers using leaflets and the second after being given public education (respondents) are given a question and answer session about balanced nutrition in infants and toddlers. Results: Respondents (Community) can understand and apply balanced nutrition for infants and toddlers. Conclusion: Respondents (Community) can know and apply the balanced nutrition that should be given to infants and toddlers. Keywords: Balanced Nutrition; Nutritional Status; Toddler Pendahuluan: Salah satu penyebab terjadinya gizi buruk dan stunting yaitu perilaku dan praktek orang tua dalam pemberian makanan pada bayi dan anak yang kurang baik. Status gizi balita yang baik sangat memegang peranan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan terutama pada tahap golden period di lima tahun pertama. Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) pada tahun 2017 di Indonesia menunjukkan prevalensi stunting balita sebesar 27,5%, balita kurus 8,0%, balita sangat kurus 3,1%, balita risiko kurus 22,8% dan balita dengan gizi kurang sebanyak 17,8%. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang status gizi balita sehingga dapat menurunkan kejadian balita gizi buruk atau kurang dari normal. Metode: Metode yang digunakan dalam penyuluhan kesehatan ini yaitu dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahap yang pertama yaitu mahasiswa PSIK menjelaskan tentang gizi seimbang pada bayi dan balita menggunakan lembar leaflet dan yang kedua setelah diberikan penyuluhan, masyarakat (responden) diberikan sesi tanya jawab tentang gizi seimbang pada bayi dan balita. Hasil: Responden (Masyarakat) bisa memahami dan menerapkan tentang gizi seimbang bagi bayi dan balita. Simpulan: Responden (Masyarakat) bisa mengetahui dan menerapkan tentang gizi seimbang yang harus diberikan bagi bayi dan balita.
Pendidikan kesehatan penatalaksanaan tersedak pada keluarga yang memiliki balita di Perumnas Wayhalim Bandar Lampung Lensi, Yufia; Wandini, Riska; Wardiyah, Aryanti
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v3i3.361

Abstract

Background: High risk in toddlers under 5 years old is very high risk for choking. Toddlers will explore and put foreign objects into their mouths so that they can easily choke. The prevalence of choking incidents in the Wayhalim area in 2021 was 67 toddler incidents and 2 toddlers died due to choking. Meanwhile, in 2022, from January to April, the number of choking incidents was 22 cases and 1 case died due to choking. Purpose: To implement interventions and discussions and to increase knowledge of choking management in families with toddlers. Method: This activity was carried out by providing health promotion using lecture techniques. Results: The average pre-intervention knowledge was 40.4% <50.0% lower than post-intervention knowledge of 82.8%>75%. Conclusion: There was an increase before health education was carried out and after health promotion was given. Keywords: Choking; Health Education; Toddlers. Pendahuluan: Risiko tinggi pada anak usia balita kurang 5 tahun sangat berisiko tinggi untuk mengalami tersedak. Balita akan mengeksplorasi dan memasukkan benda-benda asing ke dalam mulutnya sehingga dengan mudah mengalami tersedak. Prevelensi kejadian tersedak di Wilayah Wayhalim pada tahun 2021 sebanyak 67 kejadian balita dan terdapat 2 balita meninggal dunia karena tersedak. Sedangkan pada tahun 2022 terhitung dari bulan Januari sampai bulan April angka kejadian terseak sebanyak 22 kasus dan 1 kasus meninggal disebabkan karena tersedak. Tujuan: Untuk penerapan intervensi dan pembahasan serta dapat meningkatkan pengetahuan tatalaksana tersedak pada keluarga yang memiliki balita. Metode:  Kegiatan ini dilaksanakan dengan diberikan promosi kesehatan menggunakan teknik ceramah. Hasil: Rata-rata pengetahuan pre- intervensi sebesar 40.4% <50.0% lebih rendah dibandingkan pengetahuan post intervensi sebesar 82,8% >75%. Simpulan: Ada peningkatan sebelum dilakaukan pendidikan kesehatan serta setelah diberikan promosi kesehatan.
Pengabdian pada masyarakat persiapan menuju persalinan pada ibu hamil Wardiyah, Aryanti; Adha, Adinda Wulan; Palupi, Antika; Budiarti, Budiarti; Wulandari, Hesti; Pratiwi, Liza Ayu; Nepiana, Nurul; Saputra, Raihan; Hidayat, Taufiq; Kurniawan, Yogi
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v3i4.388

Abstract

Background: Childbirth is the process of expelling a fetus that occurs during pregnancy (37-42 weeks), and is a natural delivery with a posterior presentation of 18 hours without any complications. Purpose: To increase the knowledge and understanding of pregnant women and their families to prepare for childbirth. Method: The implementation of this activity goes through several stages, namely conducting a field survey, holding a meeting with the integrated health post to explain the activities to be carried out, preparing leaflets and posters for outreach media. Results: The initial step before the activity was carried out by the survey team who conducted observations and interviews with the integrated health post, the results of which were obtained from observations and interviews regarding the preparation of childbirth for pregnant women, namely the lack of knowledge and awareness of pregnant women to prepare for childbirth. In accordance with the results of the observation, it was obtained that the provision of health education about childbirth preparation was still poorly known by pregnant women. The implementation was carried out on December 22, 2023 at the Integrated Health Post. during the implementation, pregnant women were given education and presentation of childbirth preparation material. Conclusion: Husband involvement is known to affect pregnancy and childbirth. Husband involvement during pregnancy reduces negative attitudes towards maternal health and significantly reduces the risk of premature birth, low birth weight, and fetal growth retardation. Suggestion: Readers, especially husbands and family members, should know about the preparation of pregnant women before giving birth so that they can face and anticipate any emergencies that may arise during pregnancy. Keywords: Childbirth; Pregnant Women; Preparation. Pendahuluan: Persalinan merupakan proses pengeluaran janin yang terjadi pada masa kehamilan (37- 42 minggu), dan merupakan persalinan alami dengan presentasi posterior 18 jam tanpa adanya komplikasi. Tujuan: Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman ibu hamil dan keluarga untuk mempersiapkan persalinan. Metode: Pelaksanaan kegiatan ini melalui beberapa tahapan yaitu melakukan survey lapangan, mengadakan pertemuan pihak posyandu untuk menjelaskan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, mempersiapkan leaflet dan poster untuk media penyuluhan. Hasil: Langkah awal sebelum kegiatan dilakukan oleh tim survey yang melakukan observasi dan wawancara dengan pihak posyandu yang hasilnya diperoleh dari observasi dan wawancara seputar persiapan persalinan ibu hamil yaitu kurangnya pengetahuan kesadaran ibu hamil untuk mempersiapkan persalinan. Sesuai dengan hasil observasi diperoleh bahwa pemberian penyuluhan kesehatan tentang persiapan persalina masih kurang diketahui oleh ibu hamil. Implementasi telah dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 2023 pada Posyandu. ketika implementasi ibu hamil diberikan edukasi serta pemaparan materi persiapan persalinan. Simpulan: Keterlibatan suami diketahui mempengaruhi kehamilan dan persalinan. Keterlibatan suami selama kehamilan mengurangi sikap negatif terhadap kesehatan ibu dan secara signifikan mengurangi risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan hambatan pertumbuhan janin. Saran: Hendaknya para pembaca khususnya para suami dan anggota keluarga mengetahui persiapan ibu hamil sebelum melahirkan agar dapat menghadapi dan mengantisipasi segala keadaan  darurat yang mungkin timbul pada masa kehamilan.
Pencegahan stunting di Puskesmas Rawat Inap Kemiling Kota Bandar Lampung Wardiyah, Aryanti; Adha, Adinda Wulan; Palupi, Antika; Budiarti, Budiarti; Wulandari, Hesti; Pratiwi, Liza Ayu; Nepiana, Nurul; Saputra, Raihan; Hidayat, Taufiq; Kurniawan, Yogi
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i1.390

Abstract

Background: Stunting is a condition where there is a lack of nutrition which causes the baby to be born earlier than it should be, it can be due to weight, maternal nutrition and fetal growth and development. Purpose: To improve knowledge about stunting prevention at the Kemiling Inpatient Health Center, Bandar Lampung City. Method: The implementation of this activity goes through several stages, namely asking permission from the head of the MBTS room to explain about stunting to the child's parents, providing media that will be used for counseling in the form of leaflets, purchasing tools and materials for implementing counseling activities. Results: The initial step before the activity was carried out by the survey team who conducted observations and interviews with the health center, the results of which were obtained from observations and interviews regarding stunting prevention, namely the lack of parental knowledge about stunting. In accordance with the results of the observation, it was obtained that the provision of health counseling about stunting prevention was still poorly known by parents. The implementation was carried out on January 2, 2024 at the Kemiling Health Center, Bandar Lampung City, when the implementation, parents were given education and presentation of childbirth preparation material. Conclusion: Stunting is a condition of chronic malnutrition due to inadequate nutritional intake and not in accordance with nutritional needs. The main factors causing stunting are: Food intake for survival. Low sanitation and environmental cleanliness can cause infectious diseases that disrupt the digestive tract. The impact of stunting is disruption of social life, disruption of the economy in the community, disruption of health, education and productivity of children in the future. In addition, stunting also results in disruption of gross and fine motor development. Keywords: Prevention; Society; Stunting. Pendahuluan: Stunting adalah kondisi dimana gizi kurang sehingga mengakibatkan bayi lahir lebih awal dari seharusnya, bisa dikarenakan berat badan, gizi ibu dan tumbuh kembang janin. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan stunting di Puskesmas Rawat Inap Kemiling Kota Bandar Lampung. Metode: Pelaksanaan kegiatan ini melalui beberapa tahapan yaitu meminta izin kepada kepala ruang mbts untuk menjelaskan tentang stunting kepada orangtua anak, menyediakan media yang akan digunakan untuk penyuluhan berupa media leaflet, membeli alat dan bahan untuk pelaksanaan kegiatan penyuluhan. Hasil: Langkah awal sebelum kegiatan dilakukan oleh tim survey yang melakukan observasi dan wawancara dengan pihak puskesmas yang hasilnya diperoleh dari observasi dan wawancara seputar pencegahan stunting yaitu kurangnya pengetahuan orangtua tentang stunting. Sesuai dengan hasil observasi diperoleh bahwa pemberian penyuluhan kesehatan tentang pencegahan stunting masih kurang diketahui oleh orangtua.  Implementasi telah dilaksanakan pada tanggal 02 Januari 2024 di Puskesmas Kemiling Kota Bandar Lampung, ketika implementasi  orangtua diberikan edukasi serta pemaparan materi persiapan persalinan. Simpulan: Stunting merupakan kondisi kurang gizi kronis karena asupan gizi yang kurang dan tidak sesuai kebutuhan gizi. Faktor utama penyebab stunting adalah: Asupan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Rendahnya sanitasi dan kebersihan lingkungan dapat menyebabkan penyakit infeksi yang mengganggu saluran pencernaan. Dampak Stunting yaitu terganggunya kehidupan sosial, terganggunya ekonomi di masyarakat, mengganggu kesehatan, Pendidikan dan produktifitas anak dikemudian hari. Selain itu stunting juga mengakibatkan terganggunya perkembangan motorik kasar maupun halus.
Edukasi kejadian anemia pada ibu hamil yang memicu kegawatdaruratan maternal Wardiyah, Aryanti; Chrisanto, Eka Yudha; Zulhaida, Zulhaida; Nadira, Khoirul; Ladin, Juliawan; Sintia, Monica Bela Dwi; Rahmatika, Ida; Anjani, Ni Wayan Oktavia; Putri, Mia; Prayogo, Idfy Dwi; Sari, Yunidha Puspita
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.445

Abstract

Background: Iron requirements increase during pregnancy to meet increased fetoplacental requirements, increase maternal red blood cell mass, and compensate for iron loss during birth. In more than 80% of countries worldwide, the prevalence of anemia during pregnancy exceeds 20% and is considered a major public health problem. Lampung Province, data shows that Bandar Lampung City has the highest number of cases of anemia in pregnant women, namely 1,975 cases (22.50%). Purpose: Increase the knowledge of pregnant and breastfeeding mothers regarding the prevention of anemia that triggers maternal emergencies. Method: The activity was carried out using lecture and presentation methods using leaflet media. Education was given to respondents regarding knowledge about anemia in pregnant and breastfeeding mothers, as well as regarding the prevention of anemia that can cause maternal emergencies. Results: Respondents were very enthusiastic about the material provided. In addition, several respondents who asked questions about the material on preventing anemia and were very interested in knowledge about anemia, none left the room before the community service activity was completed. One of the measures to prevent anemia is to consume foods rich in vitamins and minerals. Conclusion : Counseling activities on anemia can increase knowledge of preventing anemia in pregnant and breastfeeding mothers. Increasing knowledge will greatly help reduce the risk of several complications that endanger pregnant women and fetuses such as abortion, low birth weight and premature birth. So that indirectly it can suppress the occurrence of maternal emergencies. Keywords : Anemia; Education; Pregnant women; Prevention of anemia Pendahuluan: Kebutuhan zat besi meningkat selama kehamilan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan fetoplasenta,  meningkatkan massa sel darah merah ibu, dan  mengkompensasi kehilangan zat besi selama kelahiran. Di lebih dari 80% negara di seluruh dunia, prevalensi anemia selama kehamilan melebihi 20% dan dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama. Provinsi Lampung, data menunjukkan bahwa Kota Bandar Lampung memiliki jumlah kasus anemia ibu hamil tertinggi, yaitu sebanyak 1.975 kasus (22,50%). Tujuan : Meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan ibu menyusui mengenai pencegahan kejadian anemia yang memicu kegawatdaruratan maternal.  Metode: Kegiatan dilaksanakan dengan metode ceramah dan presentasi menggunakan media leaflet.  Edukasi diberikan kepada responden mengenai pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil dan ibu menyusui, serta mengenai pencegahan kejadian anemia yang dapat menjadi penyebab terjadinya kegawatdaruratan maternal. Hasil: Responden sangat berantusias dengan materi yang diberikan. Selain itu, beberapa responden yang memberikan pertanyaan mengenai materi pencegahan anemia dan sangat tertarik dengan pengetahuan tentang anemia, tidak ada yang meninggalkan ruangan sebelum kegiatan pengabdian kepada masyarakat selesai dilakukan. Salah satu tindakan pencegahan anemia adalah dengan mengkonsumsi makanan yang kaya akan vitamin dan mineral.  Simpulan: Kegiatan penyuluhan tentang anemia dapat meningkatkan pengetahuan pencegahan kejadian anemia pada ibu hamil dan ibu menyusui. Dengan meningkatnya pengetahuan akan sangat membantu mengurangi resiko  beberapa komplikasi yang membahayakan ibu hamil dan janin seperti abortus, berat badan lahir rendah dan persalinan prematuritas. Sehingga secara tidak langsung dapat menekan terjadinya kegawatdaruratan maternal.
Edukasi pencegahan tuberculosis (TBC) pada anak di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung Setiawati, Setiawati; Juana, Rika; Alam, Rama Rajasa Ferlanda; Istawala, Anggun; Dhitya, Ray Krisna; Safitri, Hilda Meilinda; Irgi, Muhammad; Saputri, Maida; Muarif, Muhammad Syamsul; Kusumaningsih, Dewi; Wardiyah, Aryanti; Novikasari, Linawati
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.493

Abstract

Background: Tuberculosis can be transmitted to children when active TB sufferers cough, talk, sneeze, sing, or speak without a mask or personal protective equipment. It is estimated that more than 20,000 cases of childhood tuberculosis occur in Indonesia each year. Indonesia is the country with the second highest number of tuberculosis cases in the world after India. Given that this disease is a dangerous disease, there needs to be sufficient public awareness and understanding of this disease. Purpose : Increase public knowledge about preventing TB transmission in children. Method: Implementation of activities using the lecture method, namely presenting material on preventing tuberculosis in children to participants by conducting interactive discussions. Education is also provided by providing instructions on how to prevent tuberculosis transmission in children. The supporting media used are leaflets and banner stands. Results: In this community service activity, most participants were able to answer well and understood the material presented. This program will be continued to find out how successful it is in increasing knowledge and its application in the work area of ​​the Kedaton Health Center, Bandar Lampung City. Participants were also enthusiastic about asking questions about the material provided. Conclusion: Educational activities to prevent TB transmission in children are very effective in increasing parental knowledge in protecting children from the negative impacts of tuberculosis transmission. Keywords: Children; Prevention; Tuberculosis transmission; Tuberculosis. Pendahuluan: Penyakit TBC dapat menular pada anak ketika penderita TBC aktif batuk, berbicara, bersin, bernyanyi, atau berbicara tanpa masker atau alat pelindung diri. Diperkirakan lebih dari 20.000 kasus tuberculosis anak terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus tuberculosis tertinggi kedua di dunia setelah India. Mengingat penyakit ini merupakan penyakit yang berbahaya, maka perlu adanya kesadaran dan pemahaman masyarakat yang cukup terhadap penyakit ini. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan penularan TB pada anak-anak. Metode: Pelaksanaan kegiatan dengan metode ceramah yaitu mempresentasikan materi mengenai pencegahan tuberculosis pada anak kepada para peserta dengan melakukan diskusi interaktif. Edukasi diberikan juga dengan memberikan petunjuk mengenai cara pencegahan penularan tuberculosis pada anak. Dengan media bantu yang digunakan adalah leaflet dan stand banner. Hasil: Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, sebagian besar peserta dapat menjawab dengan baik dan cukup memahami dari materi yang disampaikan. Program ini akan dilanjutkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilannya yang adanya peningkatan pengetahuan dan penerapannya di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung. Peserta juga berantusias melakukan tanya jawab mengenai materi yang diberikan. Simpulan: Kegiatan edukasi pencegahan penularan TB pada anak sangat efektif dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dalam melakukan perlindungan terhadap anak dari dampak buruk penularan tuberculosis.
Efektivitas konsumsi pisang kepok untuk menurunkan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi gestasional Dhitya, Ray Krisna; Wardiyah, Aryanti; Andoko, Andoko
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1501

Abstract

Background: Hypertension, if not treated early, can progress to eclampsia, a leading cause of death. Pregnant women should minimize the need for medication (pharmacological) management as much as possible. One non-pharmacological treatment for lowering blood pressure in pregnant women with gestational hypertension is consuming kepok bananas. Purpose: To educate pregnant women about the effectiveness of consuming kepok bananas (musa acuminata) in lowering blood pressure in gestational hypertension. Method: The study was conducted on two respondents of third trimester pregnant women who experienced gestational hypertension in Way Bungur District, East Lampung Regency, on June 10–12, 2025. Qualitative descriptive research with a case study design aimed to determine the effectiveness of consuming kepok bananas on reducing blood pressure in pregnant women with gestational hypertension. Using a saturated sampling technique, two respondents of third trimester pregnant women who met the inclusion criteria were pregnant women diagnosed with gestational hypertension, willing to be respondents, and domiciled in the study area. Exclusion criteria were pregnant women with other pregnancy complications or unwilling to participate in the study. The intervention carried out was giving 1 kepok banana/day for 3 consecutive days according to the daily potassium needs of pregnant women, which is ±300 mg, while the potassium content in 1 kepok banana reaches ±358 mg. Results: The first respondent (Mrs. E, 28 years old, G1P0A0) complained of frequent dizziness and fatigue. Physical examination showed pale conjunctiva, increased pulse rate, and complaints of headache at the back of the head. The medical history had never experienced hypertension before, but had a diet lacking vegetables and fruit, and rarely rested during the day. The second respondent (Mrs. P, 26 years old, G1P0A0) was at 36 weeks of gestation. The patient complained of blurred vision, often felt weak, and had difficulty sleeping. Physical examination showed unstable blood pressure, normal fetal heart rate, and the patient appeared anxious about facing labor. Data showed that Mrs. E's blood pressure in the pre-test was 160/90 mmHg, in post-test 1 = 150/80 mmHg, in post-test 2 = 130/80 mmHg, and in post-test 3 = 120/80 mmHg. While Mrs. P in pre-test was 170/90 mmHg, in post-test1=150/90 mmHg, in post-test2=160/80 mmHg, and in post-test3=140/90 mmHg. Conclusion: Regular consumption of kepok bananas is effective in lowering blood pressure in pregnant women with gestational hypertension. Providing kepok bananas can be a safe and easy-to-implement non-pharmacological method to help control blood pressure during pregnancy. Suggestion: Healthcare professionals are expected to utilize kepok banana consumption as a supportive intervention in the management of gestational hypertension, accompanied by regular blood pressure monitoring and education about healthy eating habits during pregnancy. Keywords: Blood pressure reduction; Effectiveness; Gestational hypertension; Kepok bananas; Pregnant women Pendahuluan : Hipertensi yang tidak ditangani sedini mungkin akan berlanjut menjadi ekslampsia yang menjadi salah satu penyebab tertinggi kematian. Ibu hamil sebisa mungkin diminimalisir penanganan masalah penatalaksanaan pembelian obat-obatan (farmakologis). Salah satu penanganan non farmakologis untuk menurunkan tekanan darah ibu hamil pada hipertensi gestasional adalah dengan mengonsumsi pisang kepok dalam menurunkan tekanan darah ibu hamil dengan hipertensi gestasional. Tujuan : Untuk memberikan edukasi tentang efektivitas konsumsi pisang kepok (musa acuminata) pada ibu hamil dalam menurunkan tekanan darah pada hipertensi gestasional. Metode: Pengkajian dilakukan pada dua responden ibu hamil trimester III yang mengalami hipertensi gestasional di Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, pada tanggal 10–12 Juni 2025. Penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas konsumsi pisang kepok terhadap penurunan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi gestasional. Dengan teknik sampling jenuh mendapatkan dua responden ibu hamil trimester III yang memenuhi kriteria inklusi yaitu ibu hamil dengan diagnosis hipertensi gestasional, bersedia menjadi responden, dan berdomisili di wilayah penelitian. Kriteria eksklusi adalah ibu hamil dengan komplikasi kehamilan lain atau tidak bersedia mengikuti penelitian. Intervensi yang dilakukan adalah pemberian pisang kepok sebanyak 1 buah/hari selama 3 hari berturut-turut sesuai kebutuhan kalium harian ibu hamil, yaitu ±300 mg, sedangkan kandungan kalium dalam 1 buah pisang kepok mencapai ±358 mg. Hasil : Responden pertama (Ny. E, usia 28 tahun, G1P0A0) dengan keluhan sering pusing dan kelelahan. Pemeriksaan fisik menunjukkan konjungtiva pucat, frekuensi nadi meningkat, serta keluhan nyeri kepala bagian belakang. Riwayat kesehatan belum pernah mengalami hipertensi sebelumnya, namun memiliki pola makan kurang sayur dan buah, serta jarang istirahat siang. Responden kedua (Ny. P, usia 26 tahun, G1P0A0) berada pada usia kehamilan 36 minggu. Pasien mengeluh pandangan kabur, sering merasa lemas, dan kesulitan tidur. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah tidak stabil, denyut jantung janin normal, dan pasien tampak cemas menghadapi persalinan. Data menunjukkan bahwa tekanan darah Ny. E pada pre-test adalah 160/90 mmHg, pada post-test1=150/80 mmHg, pada post-test2=130/80 mmHg, dan pada post-test3=120/80 mmHg. Sedangkan tekanan darah Ny. P pada pre-test adalah 170/90 mmHg, pada post-test1=150/90 mmHg, pada post-test2=160/80 mmHg, dan pada post-test3=140/90 mmHg. Simpulan: Konsumsi pisang kepok secara rutin efektif membantu menurunkan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi gestasional. Pemberian pisang kepok dapat menjadi salah satu metode nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan untuk membantu mengontrol tekanan darah selama kehamilan. Saran: Diharapkan tenaga kesehatan dapat menjadikan konsumsi pisang kepok sebagai intervensi pendukung dalam penatalaksanaan hipertensi gestasional, disertai dengan pemantauan tekanan darah secara berkala dan edukasi mengenai pola makan sehat selama kehamilan.
Pemberian teknik relaksasi nafas dalam untuk menurunkan nyeri pada pasien post operasi sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia Dwiartho, Muhammad Fiqi; Rilyani, Rilyani; Wardiyah, Aryanti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1585

Abstract

Background: The rate of cesarean section (CS) deliveries in Indonesia is increasing and has exceeded the WHO threshold, with a national prevalence of approximately 17.6% and significant regional variation. Most cesarean sections are caused by pregnancy complications such as severe preeclampsia, a leading cause of maternal mortality. Cesarean sections leave scars and acute pain that require pharmacological and non-pharmacological treatment. Deep breathing relaxation techniques have been shown to significantly reduce pain intensity by increasing parasympathetic activity and reducing stress hormones. Deep breathing techniques are simple, economical, and self-administered. This study focused on the effectiveness of this intervention in post-cesarean section patients with preeclampsia. Purpose: To evaluate the effectiveness of deep breathing relaxation techniques as a non-pharmacological intervention to reduce pain intensity in post-cesarean section patients with preeclampsia. Method: The activity was conducted over three days in 2025, taking place at the patient's home in Dusun 3 Batu Menyan, Sukajaya Lempasing Village, Teluk Pandan District, Pesawaran Regency, Lampung. The subjects were two post-cesarean section patients with preeclampsia. Non-pharmacological interventions, including deep breathing relaxation therapy, were performed twice daily (morning and evening), 5–7 times each, for a maximum of 5 minutes per session, for three consecutive days. The pain measurement instrument used the Numerical Rating Scale (NRS), a numerical pain assessment with a range of values ​​from 0 to 10, where 0 = no pain, 1–3 = mild pain, 4–6 = moderate pain, and 7–10 = severe pain. Results: Data obtained showed that the characteristics of participant Mrs. S. is 27 years old, weighs 68 kg, is 156 cm tall, has no history of hypertension, and at the time of examination had a blood pressure of 150/100 mmHg. While the characteristics of participant Mrs. T. are 32 years old, weighs 67 kg, is 161 cm tall, has no history of hypertension, and at the time of examination had a blood pressure of 140/80 mmHg. After three days of deep breathing relaxation technique intervention, pain intensity in Mrs. S decreased from a scale of 5 to 2, and in Mrs. T from a scale of 6 to 3. Conclusion: Deep breathing relaxation techniques have been proven effective in reducing acute pain intensity in post-cesarean section patients with preeclampsia, through routine intervention over three days. This method is safe, practical, and can be independently implemented as a non-pharmacological alternative in post-operative pain management. Suggestion: Healthcare workers need to integrate deep breathing relaxation techniques into post-cesarean section nursing care, especially for patients with preeclampsia, and improve self-education so that this therapy can be consistently continued at home to support recovery without dependence on analgesics. Keywords: Deep breathing relaxation; Pain; Post-cesarean section; Preeclampsia Pendahuluan: Angka persalinan sectio caesarea (SC) di Indonesia meningkat dan telah melampaui ambang WHO, dengan prevalensi nasional sekitar 17.6% dan variasi wilayah yang signifikan. Sebagian sectio caesarea disebabkan oleh komplikasi kehamilan seperti pre-eklampsia berat, yang merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu. Sectio caesarea meninggalkan luka dan nyeri akut yang memerlukan penanganan farmakologis dan nonfarmakologis. Teknik relaksasi napas dalam terbukti menurunkan intensitas nyeri secara signifikan dengan mekanisme peningkatan aktivitas parasimpatik dan pengurangan hormon stres. Teknik napas dalam sederhana, ekonomis, dan dapat dilakukan mandiri, penelitian ini difokuskan pada efektivitas intervensi tersebut pada pasien pasca sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas teknik relaksasi napas dalam sebagai intervensi nonfarmakologis untuk menurunkan intensitas nyeri pada pasien pasca operasi sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia. Metode: Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari pada tahun 2025, bertempat di rumah pasien di Dusun 3 Batu Menyan, Desa Sukajaya Lempasing, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Subjek dalam kegiatan ini adalah dua pasien post operasi sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia. Intervensi nonfarmakologis berupa terapi relaksasi nafas dalam dilakukan dua kali sehari (pagi dan sore), masing-masing sebanyak 5–7 kali atau maksimal 5 menit per sesi, selama tiga hari berturut-turut. Instrumen pengukuran tingkat nyeri menggunakan Numerical Rating Scale (NRS) adalah penilaian nilai nyeri secara numerik dengan rentang nilai 0 sampai dengan 10, dimana dengan kategori nilai 0=tidak merasakan nyeri, nilai 1-3=nyeri ringan, nilai 4-6=nyeri sedang, dan nilai 7-10=nyeri berat. Hasil: Mendapatkan data bahwa karakteristik partisipan Ny.S. adalah berusia 27 tahun, berat badan 68 Kg, tinggi badan 156 cm, tidak memiliki riwayat hipertensi, dan pada waktu pemeriksaan memiliki tekanan darah 150/100 mmHg. Sedangkan karakteristik partisipan Ny.T. adalah berusia 32 tahun, berat badan 67 Kg, tinggi badan 161 cm, tidak memiliki riwayat hipertensi, dan pada waktu pemeriksaan memiliki tekanan darah 140/80 mmHg. Setelah tiga hari intervensi teknik relaksasi napas dalam, intensitas nyeri pada Ny. S menurun dari skala 5 menjadi 2, dan pada Ny. T dari skala 6 menjadi 3. Simpulan: Teknik relaksasi napas dalam terbukti efektif menurunkan intensitas nyeri akut pada pasien pasca operasi sectio caesarea dengan pre-eklampsia, melalui intervensi rutin selama tiga hari. Metode ini aman, praktis, dan dapat diterapkan secara mandiri sebagai alternatif nonfarmakologis dalam manajemen nyeri pasca operasi. Saran: Tenaga kesehatan perlu mengintegrasikan teknik relaksasi napas dalam dalam asuhan keperawatan pasca operasi sectio caesarea, khususnya pada pasien dengan pre-eklampsia, serta meningkatkan edukasi mandiri agar terapi ini dapat dilanjutkan secara konsisten di rumah untuk mendukung pemulihan tanpa ketergantungan pada analgesik.
Co-Authors Adha, Adinda Wulan Agung Budi Setiyawan Agustina, Marlina Alam, Rama Rajasa Ferlanda Amartya, Salsa Anastasya Ananda, Kiki Erlita Andoko Andoko, Andoko Andriyani, Veni Anggara, Respa Agustina Anjani, Ni Wayan Oktavia Anjeli, Riri Aprilia, Hanisa Aprina, Aprina Ariyansyah , Ariyansyah Aryanti, Lidya Budiarti Budiarti, Budiarti Bustami, Anita Cahyanti, Anisa Capilo, Pabio Leo Caristia, Angga Chrisanto, Eka Yudha Crista, Angga Dea, Mutia Ade Dewi Kusumaningsih DEWI SARTIKA Dhitya, Ray Krisna Dora, Miranti Dea Dwiartho, Muhammad Fiqi Eliya, Rahma Elliya, Rahma Epilasari, Epilasari Fachry Abda El Rahman Fadila, Enggar Fitri Julianti Furqoni, Prima Dian Gunawan, M. Ricko Gusleni, Meri Gustiani, Dwi Hesti Wulandari Hikma, Okva Irgi, Muhammad Istawala, Anggun Jamhari Jamhari Juana, Rika Juliawan, Ladin Keswara, Umi Romayati Khairunnisa , Liyana Khoirudin, Parid Ladin, Juliawan Lathifah, Neneng Siti Lensi, Yufia Lestari, Linda Maharani, Erliana Marliyana Marliyana, Marliyana Marzuna, Marzuna Mualifah, Ria Muarif, Muhammad Syamsul Mu’alifah, Ria Nadira, Khoirul Nafisah, Nida Nepiana, Nurul Novikasari, Linawati Novitasari, Linawati Nurfadila, Nima Oktaliana, Oktaliana Palupi, Antika Pratiwi, Liza Ayu Prayogo, Idfy Dwi Putri, Mia Rahayu Rahayu Rahmatika, Ida Ramadhani, Gita Rillyani ., Rillyani Rilyani Rilyani, Rilyani Riska Wandini, Riska Riyanto, Eko Rizka, Mahda Rohmah, Eis Ainun Romayati, Umi Rosa, Destiana Ryalita, Novindri Safitri, Hilda Meilinda Sahara, Amalia Saputra, Raihan Saputri, Maida Sari, nova Nurwinda Sari, Yunidha Puspita Setiawati Setiawati Setiawati Sintia, Monica Bela Dwi Slivia, Eka Sofa, Taufik Surani, Eka Sri Sutiyoko, Adi Suwares, Fara Millinia Syakilah, Siti Teguh Pribadi Trismiyana, Eka utami, deviani Velda, Ines Livia Warzati, Linda Winarno, Rudi Yati Afiyanti Yogi Kurniawan, Yogi Yuhono, Tuwi