Claim Missing Document
Check
Articles

Integrasi Arsitektur Terapeutik dalam Desain Rumah Sakit Jiwa: Studi Kasus di Makassar, Indonesia Nabilah Arbia; Citra Amalia Amal; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.200

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya prevalensi gangguan kesehatan mental di Kota Makassar, Indonesia, menandakan perlunya peningkatan fasilitas layanan kesehatan jiwa yang memadai. Studi ini mengusulkan desain Rumah Sakit Psikiatri di Makassar dengan pendekatan arsitektur terapeutik, yang menekankan pada lingkungan penyembuhan (healing environment), keterhubungan dengan alam (natural connection), dan kenyamanan psikologis (psychological comfort). Metodologi yang digunakan mencakup observasi lapangan, analisis spasial, serta penerapan kerangka deskriptif-analitik untuk mengintegrasikan data empiris dan kebutuhan pengguna. Tapak seluas 4,23 hektar ini ditata secara strategis dalam zona publik, semi-publik, privat, dan servis. Hasil utama menunjukkan integrasi elemen biofilik seperti taman terapeutik, ventilasi alami, dan material sensorik yang mendukung pemulihan mental. Bentuk modular heksagonal serta adaptasi budaya lokal memperkuat penerimaan masyarakat dan keharmonisan spasial. Temuan ini menunjukkan bahwa arsitektur terapeutik dapat secara signifikan mengurangi stres, meningkatkan kepuasan pasien, dan mempercepat proses pemulihan. Studi ini memberikan model replikatif untuk pengembangan fasilitas psikiatri yang berkelanjutan dan berpusat pada manusia di kawasan Indonesia Timur. ABSTRACTThe increasing prevalence of mental health disorders in Makassar, Indonesia, underscores the urgent need for improved psychiatric healthcare facilities. This study proposes a design for a Psychiatric Hospital in Makassar using a therapeutic architecture approach, emphasizing healing environments, natural connection, and psychological comfort. The methodology includes field observation, spatial analysis, and application of descriptive-analytic frameworks to integrate empirical data and user needs. The site spans 4.23 hectares and is strategically zoned into public, semi-public, private, and service areas. Key results demonstrate the integration of biophilic elements such as therapeutic gardens, natural ventilation, and sensory materials that support mental recovery. Hexagonal modular forms and cultural adaptation reinforce community acceptance and spatial harmony. The findings show that therapeutic architecture can significantly reduce stress, enhance patient satisfaction, and improve recovery outcomes. The study contributes a replicable model for sustainable, human-centered psychiatric facilities in Eastern Indonesia.
Arsitektur sebagai Katalis Budaya: Desain Eco-Cultural untuk Pusat Warisan Bugis-Makassar Suaib, Muhammad; Syarif, Muhammad; Paddiyatu, Nurhikmah; Rohana; Yusri, Andi; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.201

Abstract

ABSTRAKKabupaten Gowa merupakan wilayah di Sulawesi Selatan yang kaya akan budaya Bugis-Makassar, namun belum memiliki fasilitas representatif untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal secara berkelanjutan. Studi ini merancang sebuah Pusat Kebudayaan dan Seni Lokal dengan pendekatan eco-cultural yang menggabungkan prinsip keberlanjutan lingkungan dengan pelestarian nilai budaya lokal. Metode yang digunakan meliputi observasi tapak, wawancara, studi literatur, serta analisis sosial dan ekologis sebagai dasar perancangan. Hasil desain menunjukkan integrasi lima prinsip eco-cultural—image of space, environmental knowledge, building image, technologies, dan idealized concept of place—ke dalam bentuk arsitektur yang adaptif terhadap iklim tropis serta simbolik terhadap budaya Bugis-Makassar. Zona fungsional disusun secara fleksibel untuk menunjang aktivitas edukasi, pertunjukan, dan interaksi sosial, sementara bentuk bangunan terinspirasi dari topi Patonro dan kipas tradisional. Desain ini tidak hanya menghasilkan fasilitas budaya yang fungsional dan kontekstual, tetapi juga berfungsi sebagai ruang edukasi dan refleksi ekologis. Dengan demikian, pusat kebudayaan ini berperan penting dalam mendukung kontinuitas budaya dan kesadaran lingkungan masyarakat Gowa, serta menjadi model arsitektur berkelanjutan berbasis lokal di Indonesia. ABSTRACTGowa Regency in South Sulawesi is rich in Bugis-Makassar cultural heritage but lacks a representative facility for the sustainable preservation and development of local culture. This study designs a Local Cultural and Arts Center using an eco-cultural approach that combines environmental sustainability principles with the preservation of local cultural values. The methods used include site observation, interviews, literature studies, and socio-ecological analysis as the foundation for design development. The design results demonstrate the integration of five eco-cultural principles—image of space, environmental knowledge, building image, technologies, and idealized concept of place—into architectural forms that are adaptive to the tropical climate and symbolically reflective of Bugis-Makassar culture. Functional zones are organized flexibly to support educational, performance, and social interaction activities, while the building form is inspired by the traditional Patonro headgear and cultural fan motifs.This design not only provides a functional and contextually relevant cultural facility but also serves as an educational space and ecological reflection. Therefore, the cultural center plays a vital role in supporting cultural continuity and environmental awareness in the Gowa community and serves as a model for locally based sustainable architecture in Indonesia.      
Arsitektur Kolaboratif Biophilic untuk Generasi Z di Kota Tropis: Studi Kasus Kota Makassar Cinta Dwi Andayu; Amalia Amal, Citra; Abdullah, Ashari; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.202

Abstract

ABSTRAKGenerasi Z menghadapi tantangan psikologis dan sosial yang signifikan di lingkungan perkotaan, khususnya yang berkaitan dengan tekanan kesehatan mental yang diperparah oleh saturasi digital dan keterbatasan interaksi sosial yang otentik. Sebagai respons terhadap kondisi ini, studi ini mengusulkan desain Gen-Z Collaboration Center di Kota Makassar, Indonesia, dengan menggunakan prinsip-prinsip arsitektur biophilic. Melalui metode deskriptif kualitatif, penelitian ini mengintegrasikan analisis tapak, kajian pustaka, dan studi kasus komparatif untuk merumuskan desain yang menyatukan fungsionalitas spasial dengan elemen alam. Desain yang dihasilkan terdiri dari tiga zona inti—kesehatan mental, kreativitas, dan kewirausahaan—yang disusun dalam tata ruang radial dan terinspirasi secara simbolik dari tanda baca semicolon. Fitur utama meliputi pencahayaan alami, taman vertikal, fitur air, material organik, serta ruang fleksibel dan adaptif yang mendorong ketahanan emosional, koneksi sosial, dan kehidupan kota yang berkelanjutan. Dengan menerapkan pola desain biophilic dari Terrapin Bright Green, pusat ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang kolaboratif, tetapi juga sebagai ekosistem penyembuhan dalam konteks urban. Penelitian ini berkontribusi terhadap praktik desain perkotaan dengan menawarkan model arsitektur publik yang berpusat pada generasi muda, berkelanjutan, dan responsif secara psikologis di kota-kota tropis. ABSTRACTGeneration Z faces significant psychological and social challenges in urban environments, particularly related to mental health stressors exacerbated by digital saturation and limited authentic social interaction. In response, this study proposes the design of a Gen-Z Collaboration Center in Makassar, Indonesia, using biophilic architectural principles. Employing a qualitative descriptive methodology, the study integrates site analysis, literature review, and comparative case studies to formulate a design that merges spatial functionality with natural elements. The resulting design consists of three core zones—mental wellness, creativity, and entrepreneurship—structured through a radial layout and symbolically inspired by the semicolon. Key features include natural lighting, vertical gardens, water features, organic materials, and flexible, adaptive spaces that promote emotional resilience, social connection, and sustainable urban living. By applying Terrapin Bright Green's biophilic design patterns, the center serves not only as a collaborative environment but also as a healing urban ecosystem. This research contributes to urban design practices by offering a youth-centered, sustainable, and psychologically responsive public architecture model for tropical cities.
Integrasi Alam dalam Desain Pesisir: Pendekatan Biomimikri pada Oceanarium Hamid, Hamza; Amalia Amal, Citra; Abdullah, Ashari; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.203

Abstract

ABSTRAKStudi ini mengeksplorasi penerapan pendekatan biomimikri dalam desain arsitektur Oceanarium di Kota Makassar, sebuah kota pesisir dengan keanekaragaman hayati laut yang signifikan. Terletak pada pertemuan antara pariwisata, pendidikan, dan konservasi, Oceanarium ini bertujuan merespons degradasi ekologi dan minimnya fasilitas edukasi kelautan yang terintegrasi. Dengan mengambil inspirasi dari bentuk-bentuk alami seperti terumbu karang dan gelombang laut, desain ini menggabungkan geometris yang mengalir, material transparan, dan program spasial adaptif untuk mendorong integrasi lingkungan dan pengalaman imersif bagi pengguna. Secara metodologis, penelitian ini menggabungkan analisis tapak, kajian literatur, studi banding kasus internasional, dan sketsa konseptual untuk merumuskan strategi desain yang kontekstual. Bangunan dirancang dengan zona-zona fungsional seperti area publik, edukasi, rekreasi, dan konservasi, yang dihubungkan melalui sirkulasi pengunjung menyerupai arus laut. Prinsip biomimikri diterapkan untuk meningkatkan kenyamanan termal, ventilasi alami, dan ketahanan lingkungan. Hasil menunjukkan bahwa biomimikri meningkatkan kinerja arsitektur baik secara estetika maupun fungsional. Pendekatan ini memfasilitasi praktik bangunan berkelanjutan, mendorong keterlibatan publik, dan selaras dengan konteks budaya serta ekologi lokal. Oceanarium ini tampil bukan hanya sebagai landmark arsitektur ikonik, tetapi juga sebagai laboratorium hidup untuk edukasi kelautan dan pelestarian lingkungan. ABSTRACTThis study explores the application of biomimicry in the architectural design of an Oceanarium in Makassar City, a coastal metropolis with significant marine biodiversity. Positioned at the intersection of tourism, education, and conservation, the Oceanarium aims to respond to ecological degradation and the lack of integrated marine educational facilities. Drawing inspiration from natural forms such as coral reefs and ocean waves, the design incorporates fluid geometries, transparent materials, and adaptive spatial programming to promote environmental integration and user immersion. Methodologically, the research integrates site analysis, literature review, comparative international case studies, and conceptual sketching to formulate a contextual design strategy. The building features multiple zones, including public, educational, recreational, and conservation areas, connected through a visitor circulation system that mimics ocean currents. Biomimetic principles are applied to enhance thermal comfort, natural ventilation, and environmental resilience. The results indicate that biomimicry enhances architectural performance both aesthetically and functionally. It facilitates sustainable building practices, fosters public engagement, and aligns with local cultural and ecological contexts. The Oceanarium emerges as not only an iconic architectural landmark but also a living laboratory for marine education and environmental stewardship.      
Integrasi Alam, Budaya, dan Ekonomi Kreatif: Studi Perancangan Creative Hub Biofilik di Wilayah Semi-Perkotaan Ayuda, Andi Rezky; Latif, Sahabuddin; Amal, Citra Amalia
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.204

Abstract

ABSTRAKCreative Hub yang dirancang dengan pendekatan arsitektur biofilik di Kabupaten Luwu menjawab kebutuhan mendesak akan ruang kolaboratif untuk mendukung ekonomi kreatif lokal. Proyek ini merespons kurangnya infrastruktur yang memadai untuk kegiatan edukasi, produksi, dan interaksi budaya, khususnya bagi pelaku UMKM dan komunitas kreatif. Lokasi yang dipilih secara strategis di Kota Belopa memungkinkan integrasi optimal dengan fungsi-fungsi perkotaan yang sudah ada. Metodologi desain menggabungkan analisis spasial, partisipasi komunitas, dan prinsip-prinsip biofilik, sehingga menghasilkan konsep yang menekankan pada pencahayaan alami, ventilasi, vegetasi, dan identitas budaya. Fasilitas utama mencakup ruang kerja bersama (co-working space), galeri seni, amfiteater, bengkel kreatif (workshop), dan taman edukasi, yang tersebar dalam zona-zona fungsional yang jelas. Massa bangunan mengadopsi bentuk organik yang mencerminkan topografi lokal serta mendukung praktik berkelanjutan seperti pemanenan air hujan dan atap hijau. Hasil perancangan menunjukkan bahwa Creative Hub biofilik ini meningkatkan kesejahteraan pengguna, mendorong kreativitas, dan mempromosikan inklusi sosial. Ia tidak hanya menjadi wadah fisik bagi pengembangan seni dan kewirausahaan, tetapi juga menjadi landmark ekologis dan kultural yang memperkuat identitas kawasan Luwu. Rancangan ini menawarkan model yang dapat direplikasi dalam mengintegrasikan keberlanjutan, warisan budaya, dan keterlibatan komunitas dalam perencanaan infrastruktur kreatif. ABSTRACTThe Creative Hub designed using a biophilic architectural approach in Luwu Regency addresses the urgent need for collaborative spaces to support the local creative economy. The project responds to the lack of adequate infrastructure for education, production, and cultural interaction, especially for small businesses and creative communities. The selected site, strategically located in Belopa, allows optimal integration with existing urban functions. The design methodology integrates spatial analysis, community participation, and biophilic principles, resulting in a concept that emphasizes natural light, ventilation, greenery, and cultural identity. Key facilities include co-working spaces, art galleries, an amphitheater, workshops, and educational gardens, distributed across clearly defined functional zones. The massing adopts organic forms that reflect the region’s topography and support sustainable practices such as rainwater harvesting and green roofs. Results show that the biophilic Creative Hub enhances user well-being, fosters creativity, and promotes social inclusion. It serves not only as a physical platform for artistic and entrepreneurial development but also as an ecological and cultural landmark that strengthens the regional identity of Luwu. The design offers a replicable model for integrating sustainability, cultural heritage, and community engagement into creative infrastructure planning.      
Pengembangan Pototipe Sistem Monitoring Level Air Berbasis NodeMCU Ahmad, Asman; Adriani; Lateko, Andi Halik; Latif, Sahabuddin
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/m70fp109

Abstract

ABSTRAK: Sistem Penelitian ini menyajikan pengembangan prototipe sistem pemantauan ketinggian air berbasis NodeMCU V3 dan sensor ultrasonik yang terintegrasi dengan platform Blynk IoT untuk pemantauan secara real-time. Sistem ini dirancang untuk mengatasi ketidakefisienan sistem monitoring manual di wilayah rawan banjir dengan menyediakan data ketinggian air secara akurat dan peringatan langsung melalui aplikasi seluler. NodeMCU V3 dipilih karena desainnya yang ringkas, biaya rendah, dan konektivitas Wi-Fi yang terintegrasi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu memantau level air dengan akurasi tinggi (±1 cm) dan mengirimkan peringatan dalam hitungan detik ketika ambang batas terlampaui. Selain itu, sistem beroperasi secara andal selama masa uji coba dua minggu berturut-turut dengan tingkat ketersediaan (uptime) di atas 95%. Meskipun sistem ini menawarkan sejumlah keunggulan seperti biaya implementasi rendah dan kemudahan integrasi, terdapat keterbatasan berupa ketergantungan pada koneksi internet yang stabil serta kebutuhan pemeliharaan berkala. Penelitian ini memberikan kontribusi pada bidang teknik lingkungan dengan menyediakan alat monitoring berbasis IoT yang skalabel dan mudah diakses. Pengembangan lanjutan dapat mencakup integrasi sensor tambahan dan fitur kendali otomatis untuk mendukung manajemen sumber daya air yang lebih adaptif.KATA KUNCIPemantauan Level Air, NodeMCU V3, Sensor Ultrasonik, Blynk, Sistem IoT. ABSTRACT: This study presents the development of a water level monitoring system prototype based on NodeMCU V3 and ultrasonic sensors, integrated with the Blynk IoT platform for real-time monitoring. Designed to address the inefficiency of manual monitoring systems in flood-prone regions, the system provides accurate, real-time water level data and immediate alerts via a mobile application. The NodeMCU V3 was selected for its compact design, low cost, and integrated Wi-Fi connectivity. The testing phase demonstrated that the system could monitor water levels with high accuracy (±1 cm) and deliver alerts within seconds when thresholds were exceeded. Furthermore, the system operated reliably over a continuous two-week trial, with a system uptime above 95%. While the system offers key benefits such as low implementation cost and ease of integration, limitations include dependency on stable internet connectivity and the need for periodic maintenance. This work contributes to the field of environmental engineering by providing a scalable and accessible IoT-based monitoring tool. Future developments may include integration with additional sensors and control features to support automated water resource management. Keywords:Water level monitoring, NodeMCU V3, ultrasonic sensor, IoT, Blynk.
Desain Rumah Sakit Kanker Berbasis Healing Environment sebagai Pendekatan Arsitektur Humanis di Kota Makassar Mansyur, Taufik; Latif, Sahabuddin; Syahruddin, A. Syahriyunita; Amal, Citra Amalia; Amin, Siti Fuadillah Alhumairah; Paddiyatu, Nurhikmah; taufik, opi
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/kt42nm82

Abstract

ABSTRAK: Rumah sakit khusus kanker karsinoma di Kota Makassar merupakan bangunan yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker di Kota Makassar. Tingginya angka kejadian kanker karsinoma di Kota Makassar dan terbatasnya fasilitas khusus yang menangani kasus penyakit ini. Tujuan dari penelitian ini adalah terciptanya rumah sakit khusus kanker karsinoma yang menerapkan pendekatan Healing Environment untuk meningkatkan kualitas hidup terhadap pasien, menciptakan lingkungan yang tenang, nyaman, serta mendukung proses penyembuhan. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur dan analisis kebutuhan pasien, mencari data pasien yang terkait dengan kanker karsinoma sebelumnya dengan rentang waktu lima tahun dan menghitung jumlah pengguna rumah sakit ke depannya. Hasil dari penelitian ini adalah terciptanya sebuah desain rumah sakit yang memadukan elemen-elemen Healing Environment, seperti taman interior dan eksterior, pencahayaan alami, serta teknologi yang mendukung proses penyembuhan dan pengobatan. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, menyediakan fasilitas pengobatan yang memadai, dan menjadi contoh bagi rumah sakit lain dalam menerapkan pendekatan Healing Environment. Kata Kunci: Rumah Sakit Kanker, Healing Environment, Kanker Karsinoma, Kota Makassar. ABSTRACT: The cancer carcinoma specialized hospital in Makassar City is a building designed to improve the quality of life for cancer patients in Makassar City. The high incidence rate of carcinoma cancer in Makassar City and the limited specialized facilities addressing this disease are the main concerns. The aim of this research is to create a specialized carcinoma cancer hospital that applies the Healing Environment approach to enhance the quality of life for patients, creating a calm, comfortable environment that supports the healing process. The research methods used include literature study and patient needs analysis, gathering data on patients related to carcinoma cancer from the previous five years, and estimating the future number of hospital users. The result of this study is the creation of a hospital design that integrates elements of Healing Environment, such as interior and exterior gardens, natural lighting, and technology that supports the healing and treatment process. This research is expected to improve the quality of life for patients, provide adequate treatment facilities, and serve as a model for other hospitals in implementing the Healing Environment approach. Keyworsds: Cancer Hospital, Healing Environment, Cancer Carcinoma, Makassar City.  
Sistem Ventilasi Alami Satu Sisi pada Kamar Kos dengan Metode Computational Fluid Dynamics (CFD) Latif, Sahabuddin
Jurnal Permukiman Vol 15 No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2020.15.95-106

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi eksisting dan strategi perbaikan sistem ventilasi kamar kos yang mempunyai bukaan ventilasi hanya pada satu sisi dinding untuk mendapatkan distribusi aliran udara optimum dalam ruangan. Penelitian menggunakan metode survei dan eksperimen, analisis dengan metode simulasi komputer. Parameter input dalam simulasi diperoleh melalui pengukuran di lapangan berupa dimensi geometri kamar kos, letak dan luas bukaan ventilasi, serta parameter iklim mikro. Simulasi dilakukan pada kondisi eksisting dan strategi terhadap letak serta rasio bukaan. Perlakuan terhadap kecepatan angin untuk input adalah 0,25 m/det, 0,5 m/det, 0,75 m/det dan 1,00 m/det. Hasil riset menunjukkan bahwa sistem ventilasi eksisting kamar kos berkinerja buruk karena temperatur dalam ruangan dapat mencapai 7 °C diatas temperatur luar. Peningkatan rasio bukaan menjadi 20,26% dari luas lantai, dengan rincian 11,77% bukaan ventilasi atas, dan 8,45% bukaan ventilasi bawah, mengakibatkan distribusi aliran udara meningkat, ventilasi silang terjadi dengan inlet pada bukaan bawah dan outlet pada bukaan atas, efeknya temperatur ruangan dapat diturunkan terutama pada kecepatan angin inlet diatas 0,25 m/det.
Harmonizing Islamic Values with Modern Urban Design: Privacy, Technology, and Cultural Preservation in Southeast Asian Architecture Latif, Sahabuddin
Journal of Islamic Architecture Vol 8, No 4 (2025): Journal of Islamic Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, UIN Maliki Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jia.v8i4.31860

Abstract

Rapid urbanization in predominantly Muslim regions of Southeast Asia has significantly altered architectural design, shifting from privacy-oriented spatial layouts—such as courtyards and mashrabiyas—to open-plan urban models. This study examines the integration of Islamic values, particularly privacy and culturally sensitive spatial organization, into contemporary urban planning. By conducting a narrative literature review (NLR) of academic research, policy documents, and case studies, this research explores the impact of modernization on privacy considerations within Islamic architecture. The findings reveal the dual impact of surveillance technologies and smart systems, which enhance security but also pose risks to privacy. This study highlights the tension between privacy-conscious spatial organization and the increasing presence of digital monitoring systems in urban settings. The proposed framework promotes a balanced approach through zoning strategies, community engagement, and sustainable architectural solutions that preserve cultural identity while accommodating modernization. By integrating established privacy-oriented design principles with contemporary urban planning, this research provides valuable insights for policymakers and architects in designing inclusive and socially responsive environments. However, as this study relies on secondary sources, future research should incorporate empirical studies, including fieldwork and community engagement, to develop context-specific strategies. Comparative analyses across diverse socio-political settings will further clarify how different urban policies support or challenge the preservation of Islamic architectural values in contemporary cityscapes.
Co-Authors A. Amin, Siti Fuadillah A. Syahriyunita Syahruddin A., Siti Fadillah A.Amin, Siti Fuadillah Abdullah, Ashari Ade Mawardi Syamsuddin Adriani Ahmad Ahmad Ahmad Syukur Ahmad, Andi Firman Ahmad, Asman Ahmad, Imelda Aisyah Ayu Andira Alkatiri Akbar, Muhammad Fauzan Aldhy Renaldi Alif Bastian Alma Widiyanti Amal, Citra Amalia Amalia, Andi Annisa Amelia, Yuyun Amin, Siti Faudillah Alhumairah Andi Annisa Amalia Andi Sulfajri Andi Syahriyunita Andi Syahriyunita Syahruddin Andi Syahriyunita Syahruddin Andi Syahruyinita Andi Yusri Andi Yusri Andi Yusri andi Yusri Anti, Suriyanti Aris Sakkar Dollah Ashari Abdullah Ashari Abdullah Asriadi Asriadi Ayuda, Andi Rezky Baharsin, Syamsir Aman Baharuddin Hamzah Baharuddin Hamzah Bastian, Alif Cinnong, Ahmad A. Cinta Dwi Andayu Dollah, Aris Sakkar Fahmi, Ridwan Fahrul, Ahmad Fath, Raja Fauzan Hamdi, Fauzan Hamid, Hamza Hamzah Yunus Hasra, Mila Karmila Ibrahim Salam Idrus, Irnawaty Ihsan Ihsan Ihsan Ihsan Imam Rusydi Yulyadiputra Imelda Ahmad Irlan Nurasyid Irwandi Irwandi Irwandi Irwandi Ismail Ibrahim Julianto Widayat Kadir, Sania Ramadhani Khilda Wildana Nur Khilda Wildana Nur Lateko, Andi Halik Mansyur, Taufik Muh. Arif Muh. Arif Muh. Ilmiansah Muh. Rizal Syahdan Muhammad Aldi Muhammad Aldi, Muhammad Muhammad Ardi Bennu Muhammad Artha Tiranda Muhammad Fikri Muhammad Ilham Muhammad Ilham Muhammad Sofyan Muhammad Sofyan Muhammad Syarif Muhammad Syarif, Muhammad Mursyid Mustafa Musa, Reski Vendi Mustafa, Mursyid Mutiah, Uryun Nabilah Arbia Nana Rohana, Nana Nini Apriani Rumata Nur Hikmah Paddiyatu NUR, KHILDA WILDANA Nurhikma Paddiyatu Nurhikmah Paddiyatu Nurhikmah Paddiyatu Nurleha Syam Paddiyatu, Nurhikma Paddiyatu, Nurhikmah R. Rusli Rahmah, Berkah Fadhila Rahmat Sopianto Raja Fath Ramadhan, Afif Alfatwa Ramadhan, Moh. Faried Ramli Rahim Rasma Warni Rasmawarni Rasmawarni Rasmawarni, Rasmawarni Renaldi, Aldhy Reski Vendi Musa Ridwan Fahmi Rohana ROHANA ROHANA Rohana Rohana Rosady Mulyadi Rosady Mulyadi Rosady Mulyadi Rosady Mulyadi Rusli Rusli Salam, Ibrahim Salmiah Zainuddin Sari, Nirma Mawar Sembiring, Rinawati Siti Fadillah A. Sopianto, Rahmat Sri Wahyuni Suaib, Muhammad Sulfajri, Andi Sumarni Baking Supardi Jaya Tammeng Suriyanti Anti Syaharuddin, A. Syahriyunita Syahdan, Muh. Rizal Syahriyunita, Andi Syahruddin, A. Syahriyunita Syahruddin, Andi Syahriyunita Syahruyinita, Andi Syam, Nurleha Syukur, Ahmad Tajuddin, Hafizh Tammeng, Supardi Jaya taufik, opi Tiranda, Muhammad Artha Warni, Rasma Widiyanti, Alma Wiwi Herawati Wiwik Wahidah Osman Wiwik Wahidah Osman Yulyadiputra, Imam Rusydi Yunus, Hamzah Yusri, Andi Yusriadi Yusriadi Yusriadi Yusriadi Zainuddin, Salmiah