Claim Missing Document
Check
Articles

The effect of local ketamine infiltration on post tonsillectomy pain scale Ade Asyari; Novialdi Novialdi; Elniza Morina; Rimelda Aquinas; Nasman Puar; Hafni Bachtiar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 50, No 1 (2020): Volume 50, No. 1 January - June 2020
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.333 KB) | DOI: 10.32637/orli.v50i1.351

Abstract

Background: Post tonsillectomy pain is one of the surgery side effects that most disturbing for patient’s comfort and will cause dysphagia, low intake, dehydration, secondary infection and bleeding. Ketamine is an anesthetic drug that has strong analgesic effect and easily available in any hospital at relatively cheap price. Objective: To find out the effect of local ketamine infiltration on the post tonsillectomy pain scale. Method: An experimental study during tonsillectomy with a Post Test Control Group on 12 samples without local infiltration of ketamine and 12 samples with local infiltration of ketamine in peritonsillar pillar. The pain was assessed 2 hours and 24 hours post extubation with pain Visual Analog Scale (VAS). Result: The VAS value from patients who were given local infiltration of ketamine in peritonsillar pillar were lower (5.83 ± 0.72 at 2 hours and 2.83 ± 0.58 at 24 hours post extubation) compared to patients without ketamine infiltration (7.83 ± 0.58 at 2 hours and 3.58 ± 0.51 at 24 hours post extubation). The result showed statistically significant difference (p <0.05) at 2 hours and 24 hours post extubation. Conclusion: The VAS score of the ketamine infiltration group is lower at 2 hours and 24 hours post extubation than the group without ketamine infiltration, showing there was a noticeable effect of local ketamine infiltration on the post tonsillectomy pain scale.Keywords : post tonsillectomy pain, ketamine, local infiltration, visual analog scale ABSTRAKLatar belakang: Nyeri pascatonsilektomi adalah salah satu efek samping operasi yang sangat mengganggu kenyamanan pasien, dan dapat menyebabkan gangguan menelan, kurangnya asupan nutrisi, dehidrasi, infeksi sekunder dan perdarahan. Ketamin merupakan obat anestesi yang memiliki efek analgetik yang kuat dan mudah didapatkan di semua tipe rumah sakit dengan harga yang relatif murah. Tujuan: Mengetahui efek pemberian infiltrasi lokal ketamin terhadap skala nyeri pascatonsilektomi. Metode: Penelitian eksperimental dengan desain Post Test Control Group pada 12 sampel tanpa pemberian infiltrasi lokal ketamin dan 12 sampel dengan pemberian infiltrasi lokal ketamin di pilar peritonsil saat tonsilektomi. Dilakukan penilaian nyeri 2 jam dan 24 jam pascaekstubasi menggunakan skala nyeri Visual Analog Scale (VAS). Hasil: Nilai VAS pasien yang diberi infiltrasi lokal ketamin di pilar peritonsil lebih rendah (5,83±0,72 pada 2 jam dan 2,83 ± 0,58 pada 24 jam pascaekstubasi) dibanding tanpa diberi infiltrasi lokal ketamine (7,83 ± 0,58 pada 2 jam dan 3,58± 0,51 pada 24 jam pascaekstubasi), dan bermakna secara statistik (p<0,05) pada kedua penilaian. Kesimpulan: Terdapat efek nyata infiltrasi lokal ketamin terhadap skala nyeri pascatonsilektomi, dimana nilai VAS kelompok yang diberi infiltrasi ketamin lebih rendah, baik pada 2 jam ataupun 24 jam pascaekstubasi dibanding kelompok yang tidak diberi infiltrasi ketamin.
Deteksi pepsin pada saliva pasien refluks laringofaring Ade Asyari; Deni Amri; Novialdi Novialdi; Fachzi Fitri; Eti Yerizal; Hafni Bachtiar; Elvie Zulka Kautzia Rachmawati
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 1 (2018): Volume 48, No. 1 January - June 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.994 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i1.257

Abstract

Latar belakang: Refluks laringofaring (RLF) didefinisikan sebagai aliran balik cairan lambungke daerah laring dan faring, sehingga berkontak dengan saluran pencernaan dan pernapasan bagian atasyang menyebabkan keluhan suara serak, batuk, sensasi globus, throat clearing, dan post nasal drip. RLFmemberikan dampak negatif terhadap kualitas hidup terutama fungsi fisik dan emosi. Diagnosis RLFditegakkan dengan mengetahui riwayat penyakit, gejala klinis, pemeriksaan laringoskopi, serta menentukanadanya aliran balik cairan lambung ke laringofaring. Pemeriksaan ambulatory 24 hours double-probepHmetri merupakan baku emas untuk diagnosis RLF, tetapi pemeriksaan ini masih belum ideal. Salahsatu cara untuk menentukan RLF saat ini adalah dengan menentukan keberadaan pepsin pada laring danfaring, menggunakan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Hal ini berdasarkan faktabahwa pepsin hanya dihasilkan pada lambung. Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien, gambaran refluxsymptom index (RSI), gambaran reflux finding score (RFS) dan mengetahui kadar pepsin pada salivapasien RLF. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mengetahui gambaran hasilpemeriksaan RSI, RFS, dan kadar pepsin dalam saliva pasien RLF dengan metode ELISA di bagian TelingaHidung Tenggorok-Bedah Kepala dan Leher Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang, mulai Januari–Oktober2015. Hasil: Dari 30 responden yang terdiri dari perempuan 23 orang (76,7%), dan laki-laki 7 orang(23,3%), didapatkan kelompok usia terbanyak 48-57 tahun (40%), dengan rata-rata usia 47,2+12,06 tahun.Nilai rerata RSI 18,53+4,46, nilai rerata RFS 11,47+2,50, dan pada semua sampel didapatkan pepsin (+)dengan nilai rerata kadar pepsin dalam saliva responden 2,75+1,23 ng/ml. Kesimpulan: Pepsin terdeteksipada semua sampel saliva responden RLF. ABSTRACTBackground: Laryngopharyngeal reflux (LPR) is defined as the backflow of gastric contents intolarynx and pharynx areas, making contacts with upper digestive and respiratory tracks causing hoarseness,cough, globus sensation, throat clearing and post nasal drip. LPR has a negative impact on quality oflife. LPR diagnosis is confirmed by disease history, clinical symptoms, laryngoscopy examination andthe backflow of gastric fluid into laryngopharynx. Ambulatory examination of 24 hours double-probepHmetry is the gold standard for LPR diagnosis, although it is not yet ideal. To detect the presence ofpepsin in the larynx and pharynx using ELISA is now being used to determine LPR, based on the fact thatpepsin is only produced in the stomach. Purpose: To investigate patient characteristics, reflux symptomindex (RSI) and reflux finding score (RFS) descriptions, and pepsin level in the saliva of LPR patients.Methods: A descriptive research to describe RSI, RFS, and levels of pepsin in the saliva of LPR patientsusing ELISA at the Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Departement of Dr. M. Djamil Hospital,Padang, from January-October 2015. Results: Thirty respondents consisted of 23 females (76.7%),and 7 males (23.3%), revealed the largest age group was 48-57 years (40%), with an average age of 47.2+12.06 years. The average value of RSI 18.53+4.46, the average value of RFS 11.47+2.50, andpepsin result (+) in all samples, with an average value of pepsin level in respondents’ saliva 2.75+1.23ng ml. Conclusion: Pepsin was detected in all samples of LPR patients’ saliva.
DIAGNOSIS AND MANAGEMENT OF A FISH BONE FOREIGN BODY AT ESOPHAGEAL INTROITUS WITH AND WITHOUT RETROPHARYNGEAL ABSCESS Ade Asyari; Novialdi Novialdi; Fachzi Fitri; Yolazenia Yolazenia
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.69 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i3.p238-247.2015

Abstract

AbstrakBenda asing yang tertelan merupakan kegawatdaruratan di bidang telinga hidung tenggorok (THT). Tulang ikan merupakan salah satu benda asing di tenggorok yang banyak ditemukan. Abses retrofaring merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat tersangkut benda asing ini. Foto polos leher posisi lateral perlu dilakukan untuk kecurigaan adanya lesi di daerah faring. Pasien dengan gejala menetap harus dievaluasi dengan endoskopi, walaupun pada pemeriksaan radiologi tidak tampak. Benda asing harus segera dikeluarkan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Abses retrofaring diterapi dengan medikamentosa dan drainase pus. Jika terdapat benda asing harus dikeluarkan. Dilaporkan dua kasus benda asing tulang ikan di introitus esofagus. Kasus pertama pada seorang pasien laki-laki umur 42 tahun tanpa abses retrofaring dan kasus kedua pada anak laki-laki berusia 8 tahun dengan abses retrofaring. Tulang ikan terlihat pada ronsen foto leher jaringan lunak posisi lateral. Pada kedua pasien dilakukan esofagoskopi untuk mengambil tulang ikannya dan pada pasien kedua dengan abses retrofaring, absesnya sudah pecah dan pus didrainase dikombinasikan dengan pemberian antibiotik intravena.AbstractForeign body ingestion is an emergency in otorhinolaryngology. One of the most common ingested foreign body is a fish bone. Retropharyngeal abscess is well-documented complication from foreign body ingestion. The soft tissue neck radiograph lateral position is the most significant radiologic examination performed in a patient with a suspected pharyngeal lesion. In patient with persistent symptoms should be evaluated with endoscopy, although radiological examination was negative. We have to extract foreign body immediately to prevent further complication. Retropharyngeal abscess should be treated with medical and drainage of pus. If there is a foreign body must be removed. Two cases of a fish bone foreign body at esophageal introitus was reported. First case in 42 year-old male without retropharyngeal abscess and second case in 8 year-old boy with retropharyngeal abscess. Fish bones were seen from lateral neck soft tissue x-ray. Esophagoscopy were performed to removed fish bones and in the second patient, the abscess had ruptured and the pus was drainage as the treatment combined with intravenous antibiotic.
Disfonia akibat polip pita suara Ade Asyari; Novialdi Novialdi; Fachzi Fitri; Nur Azizah
Majalah Kedokteran Andalas Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v40.i1.p52-63.2017

Abstract

Disfonia merupakan gejala utama disebabkan adanya kelainan pada pita suara. Kelainan bisa berupa lesi jinak seperti polip pita suara, sering terjadi karena fonotrauma yang disebabkan vocal abuse. Polip pita suara yang tidak hilang dengan terapi konservatif maka pembedahan merupakan pilihan terapi. Tujuan: Memahami penyebab dan penanganan yang tepat pasien dengan disfonia.  Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus polip pita suara kanan pada seorang perempuan usia 30 tahun dengan keluhan utama disfonia. Disfonia pada pasien membaik setelah dilakukan terapi pembedahan. Kesimpulan: Polip pita suara merupakan salah satu lesi jinak dengan keluhan utama disfonia. Disfonia karena polip pita suara umumnya membaik setelah polip diangkat.
Hubungan gangguan pendengaran dengan penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut Ade Asyari; Hendra Permana; Al Hafiz; Rossy Rosalinda
Majalah Kedokteran Andalas Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.57 KB) | DOI: 10.25077/mka.v43.i1.p8-14.2020

Abstract

Tujuan: Mengetahui hubungan antara gangguan pendengaran dengan penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut. Metode: Menggunakan metode studi potong lintang pada kelompok usia lanjut yang menghuni panti sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu di Batusangkar dari bulan Juli sampai September 2017. Terdapat 38 orang usia lanjut lebih dari 60 tahun yang masing-masingnya dilakukan pemeriksaan fungsi kognitif dengan Mini Mental State Examination (MMSE) dan pemeriksaan fungsi pendengaran dengan Oto Acoustic Emission (OAE). Data kemudian dianalisis dengan Fisher Exact Test dimana nilai p<0,05 dianggap bermakna. Hasil: Didapatkan median umur 71 tahun (60-86 tahun), jenis kelamin laki-laki sebanyak 76,3%, fungsi kognitif terganggu sebanyak 68,4% dan pendengaran terganggu sebanyak 68,4%. Simpulan: Terdapat hubungan antara gangguan pendengaran dengan fungsi kognitif pada usia lanjut. 
PENGARUH SEPTOPLASTI TERHADAP SUMBATAN HIDUNG Bestari J Budiman; Effy Huriati; Hafni Bachtiar; Ade Asyari
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.452 KB) | DOI: 10.22338/mka.v37.i2.p107-114.2014

Abstract

AbstrakGejala sumbatan hidung meskipun bukan suatu gejala penyakit yang berat, tetapi dapat menurunkan kualitas hidup dan aktivitas penderita. Salah satu penyebabnya adalah deviasi septum nasi. Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk mendiagnosis dan mengevaluasi gejala sumbatan hidung, diantaranya adalah Nasal Inspiratory Peak Flowmeter (NIPF). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh septoplasti terhadap sumbatan hidung pada deviasi septum dengan pemeriksaan NIPF. Metode penelitian ini adalah eksperimental studi dengan teknik pre dan post-test design untuk mengetahui gambaran hasil NIPF pada penderita deviasi septum nasi dengan sumbatan hidung. Pengukuran NIPF dilakukan sebelum operasi, minggu ke-2, ke-4 dan ke-6 setelah operasi. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 11 pasien (93%) dari 12 pasien secara subyektif mengalami perbaikan sumbatan hidung. Terdapat perubahan sumbatan hidung yang bermakna pada minggu ke-4 (p=0,01), dan ke-6 (p=0,01). Kesimpulan penelitian ini adalah septoplasti dapat memperbaiki sumbatan hidung pada deviasi septum nasi.AbstractEven though nasal congestion is not a severe symptom, it can reduce quality of life and patient’s activities. One of the causes of nasal congestion is septal deviation. Diagnostic test that could be used to evaluate nasal congestion is Nasal Inspiratory Peak Flowmeter (NIPF). The objective of this study was to measure the effect of septoplasty to nasal congestion caused by septal deviation with NIPF examination. This research was experimental study by pre and post-test design to evaluate NIPF of patients with nasal congestion due to septal deviation. NIPF was measured before operation surgery, second week, fourth week and sixth week after surgery. The result showed that there were 11 patients (93%) of 12 patients with decreased of nasal congestion subjectively. There were significant decrease of nasal congestion at fourth week (p=0.01) and sixth week (p=0.01). The conclusion of this study is septoplasty can reduce nasal congestion on septal deviation.
Foreign body a fish in orohypopharynx with complication vocal cord paralysis Ade Asyari; Novialdi Novialdi; Nur Azizah
Majalah Kedokteran Andalas Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v41.i1.p32-39.2018

Abstract

Introduction: Foreign body a fish in oro-hypopharynx is a rare case and require rapid diagnosis and immediate treatment to prevent complication. There are some complications that can occur, such as upper airway obstruction, perforation of the pharyngeal wall, vocal cord paralysis, pneumomediastinum, and emphysema. Vocal cord paralysis is rare complication caused by a foreign body in the pharynx. The management for pharyngeal foreign bodies is the extraction of a foreign body with Magill forceps, direct laryngoscopy, and rigid endoscopy. Tracheostomy should be performed if endotracheal intubation could not be done or failed to be performed. Objective: Understanding diagnosis and management of patient foreign body a fish in an oro-hypopharynx. Case report: Reported a case, male 40 years old, with diagnosis foreign body a fish in oro-hypopharynx with complication unilateral vocal cord paralysis. The Foreign body was extracted using Magill forceps and rigid esophagoscopy with tracheostomy preparation if endotracheal intubation was failed to perform. Conclusion: Foreign body a fish in oro-hypopharynx is a rare case. Precise diagnosis and treatment are very important to prevent complication. Vocal cord paralysis is a rare complication caused by a foreign body in oro-hypopharynx.
Management of foreign body a fish in orohypopharynx Ade Asyari; Esmaralda Nurul Amany
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 52, No 1 (2022): VOLUME 52, NO. 1 JANUARY - JUNE 2022
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v52i1.452

Abstract

ABSTRACTBackground: Foreign bodies ingestion in children is very common, and most events occur inchildren between 6 months and 3 years. Alive fish foreign body is a rare case that could lead intoupper airway obstruction. The diagnosis was based on history, clinical and examinations. Purpose: Toreport a case and the management of an alive fish as foreign body in orohypopharynx. Case report: A5 years old boy was brought with alive fish as foreign body in the orohypopharynx. The managementwas foreign body extraction and followed by a rigid esophagoscopy procedure. Clinical question:What is the management of a fish as foreign body in orohypopharynx? Method: Evidence basedliterature study of foreign body fish in orohypopharynx. Result: Management of foreign body a fish inorohypophariynx by extraction and rigid esophagoscopy gave a good result. Conclusion: Precisediagnosis and treatment could prevent any complications caused by foreign body a fish inorohypopharynx. It is important to secure the airway, making sure there is no part of the foreign bodyleft and evaluating the esophagus mucosa. If there is any sign of mucosa injury, nasogastric tube isapplied until the injury heals.ABSTRAKLatar belakang: Tertelan benda asing pada anak sangat umum, sering terjadi, dan palingbanyak terjadi pada usia 6 bulan hingga 3 tahun. Benda asing ikan hidup merupakan kasus yangjarang dan dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas atas. Diagnosis berdasarkan anamnesis,pemeriksaan fisik dan radiologi. Tujuan: Melaporkan sebuah kasus tatalaksana benda asing ikanhidup pada orohipofaring. Laporan kasus: Dilaporkan satu kasus seorang anak laki-laki berusia 5tahun dengan benda asing ikan hidup di orohipofaring. Tatalaksana pada kasus ini ialah ekstraksibenda asing dan esofagoskopi kaku. Pertanyaan klinis: Bagaimana tatalaksana kasus benda asingikan di orohipofaring? Metode: Berbasis bukti mengenai benda asing ikan di orohipofaring melaluidatabase Cochrane library, Pubmed Medline, dan pencarian manual. Hasil: Tatalaksana benda asingikan di orohipofaring dengan ekstraksi benda asing dan esofagoskopi kaku memberikan hasil yangbaik. Kesimpulan: Diagnosis dan tatalaksana yang tepat dapat menghindari terjadinya komplikasipada kasus benda asing ikan di orohipofaring. Penting untuk menjaga patensi jalan nafas,memastikan tidak ada bagian dari benda asing yang tertinggal serta mengevaluasi mukosa esofagus.Jika terdapat trauma pada mukosa, pemasangan nasogastric tube dapat dilakukan hingga terjadipenyembuhan luka.
Gambaran Pasien Laryngopharyngeal Reflux di Bagian Poliklinik THT-KL RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2017. Nadhirah binti Sa'an; Ade Asyari; Fachzi Fitri
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 1 No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1469.084 KB) | DOI: 10.25077/jikesi.v1i2.47

Abstract

Abstrak Latar Belakang. Laryngopharyngeal reflux (LPR) adalah aliran balik cairan lambung ke laring, faring, trakea dan bronkus. Objektif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pasien dengan LPR di bagian Poliklinik THT-KL RSUP Dr. M. Djamil, Padang periode 2017. Metode. Jenis penelitian ini adalah merupakan deskriptif retrospektif yang menggunakan data sekunder diambil dari rekam medis pasien LPR di Poliklinik THT-KL RSUP Dr. M. Djamil, Padang periode 2017. Sampel pada penelitian ini diambil dengan teknik total sampling, dimana didapatkan populasi pasien dengan LPR sebanyak 89 orang yaitu 20% daripada jumlah pasien di Sub Bagian Laringofaring. Hasil. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa terdapat 83 orang pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan dimasukkan ke dalam penelitian. Frekuensi kasus LPR lebih tinggi pada jenis kelamin perempuan sebanyak 55 orang (66,27%) berbanding laki-laki sebanyak 28 orang (33,73%) dengan rasio 2:1. Kelompok usia terbanyak pasien LPR pada penelitian ini adalah 46-55 tahun sebanyak 32 orang (38,55%), dengan rata-rata usia pasien adalah 49,30±12,12 tahun. Gejala terbanyak yang dikeluhkan pasien adalah sensasi mengganjal di tenggorok / globus pharyngeus (78,31%). Sementara pilihan pengobatan yang paling banyak diresepkan adalah Lansoprazol (93,98%). Kesimpulan. Dapat disimpulkan bahwa jumlah pasien LPR adalah sebanyak 20% dari seluruh pasien Sub Bagian Laringofaring. Kata Kunci: LPR, Gejala, Pengobatan Abstract Background. Laryngopharyngeal reflux (LPR) is the backflow of gastric fluid into the larynx, pharynx, trachea and bronchi. Objectives. This study aims to see the pattern of patients with LPR in the Polyclinic of ENT-HN Department at Dr. M. Djamil Hospital, Padang in 2017 period. Method. This type of research was a retrospective descriptive which using secondary data taken from the medical record of LPR patients at the Polyclinic of ENT-HN Department at Dr. M. Djamil Hospital, Padang period 2017. The sample in this study was taken by total sampling technique, which obtained 89 patients of LPR as the population that represented 20% of patients in the sub-section of laryngopharynx. Results.The results showed 83 patients who met the inclusion criteria and were included in the study. The cases of LPR was higher in female as many as 55 people (66,27%) compared to men as many as 28 people (33,73%) with a ratio of 2:1. The largest age group of LPR patients in this study was 46-55 years as many as 32 people (38,55%), with the average age of patients was 49,30 ± 12,12 years. The most symptoms complained were the sensation of lump in the throat / globus pharyngeus (78,31%). While the most prescribed medicine options are Lansoprazole (93,98%). Conclusion. It can be concluded that the number of LPR patients is as much as 20% of all Laryngopharyngeal Sub Division patients. Keywords: LPR, Symptoms, Medicines.
Hubungan Tekanan Darah dengan Volume Perdarahan Intraserebral Berdasarkan Hasil CT Scan Kepala Sri Rahma Liza; Tuti Handayani; Ade Asyari
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 2 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.448 KB) | DOI: 10.25077/jikesi.v2i2.463

Abstract

Latar Belakang. Perdarahan intraserebral merupakan subtipe stroke hemoragik yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan. Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor yang menyebabkan besarnya volume perdarahan intraserebral. Objektif. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan tekanan darah saat masuk rumah sakit dengan volume perdarahan intraserebral pada pasien stroke hemoragik berdasarkan hasil CT scan kepala. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 35 orang. Sampel penelitian adalah pasien yang didiagnosis perdarahan intraserebral stroke hemoragik berdasarkan hasil CT scan kepala di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian dilaksanakan pada November – Desember 2020. Analisis data menggunakan analisis bivariat dengan uji korelasi Fisher’s Exact Test. Hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar pasien dengan tekanan darah tinggi (77,1%) dan volume perdarahan terbanyak yaitu >30 mL (62,9%). Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tekanan darah dengan volume perdarahan intraserebral dengan nilai p=0,032. Kesimpulan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan tekanan darah dengan volume perdarahan intraserebral. Kata kunci: Tekanan Darah, Perdarahan Intraserebral, Volume Perdarahan, CT Scan.
Co-Authors Abdiana Abdiana, Abdiana Aci Mayang Sari Adha, Muhammad Rofid Adrial Adrial, Adrial Afdal Afdal, Afdal Afrainin Syah, Nur Al Hafiz Al Hafiz Al Hafiz Ali Djamhuri Amany, Esmaralda Nurul Amri, Siti Salsabilla Andani Eka Putra Arif Fahmi Arni Amir ASRAWATI Asrining Tyas Bestari J Budiman Bestari Jaka Budiman Bestari Jaka Budiman Bonny Murizky Cimi Ilmiawati, Cimi Deni Amri Diflayzer, Diflayzer Dolly Irfandy Dwininta Alfathika Effy Huriati Effy Huriyati Efrida Efrida Efrida Elniza Morina Elniza Morina Embun Dini Erly Indrama Erwi Saswita Esmaralda Nurul Amany Esmaralda Nurul Amany Eti Yerizal Eti Yerizel Faathira, Ken Rabbani Fachzi Fitri Fasya, Haidar Haikal Fika Tri Anggraini Fikri Akbar Firdawati, Firdawati Gestina Aliska Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Harun Harnavi Hendra Permana Jacky Munilson Jacky Munilson Julianda, Wahyu Khairil Faiz Amir Lestari, Rahmi Masnadi, Nice Rachmawati Mizwar, Mizwar Monica, Febrina Nadhirah binti Sa'an Nasman Puar Naura Aqila Netti Suharti Netti Suharti, Netti Nirza Warto Novialdi . Nur Azizah Nur Azizah Octavia, Tri Aryanti Putri Rizki Fitriani Rachmawati, Elvie Zulka Kautzia Rafly, Alifyar Rahmadona Rahmadona Rimelda Aquinas Rita Risandi Rosfita Rasyid Rossy Rosalinda Salim, Aurelia Agantha Saptino Miro Saptino Miro, Saptino Sariwati, Siska Sri Rahma Liza Sukri Rahman Sutas, Bima Ferdana Syandrez Prima Putra Tuti Handayani Tuti Handayani Utami, Refi Amalia Wahyu Julianda Wahyu Julianda Yan Edward Yolazenia Yolazenia Yuniar Lestari