Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Jenis Kelamin Dan Usia Pasien Positif Covid-19 Dengan Tingkat Kecepatan Konversi Di Kota Padang Tahun 2020 Putri Rizki Fitriani; Andani Eka Putra; Ade Asyari
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 3 No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v3i2.661

Abstract

Latar Belakang: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2), yang dilaporkan pertama kali di Wuhan Tiongkok pada 31 Desember 2019. Pada tanggal 11 Maret 2020, peningkatan jumlah kasus dan mortalitas secara drastis diberbagai negara membuat WHO memutuskan COVID-19 sebagai pandemi global. Setiap hari jumlah kasus baru, sembuh, dan meninggal COVID-19 terus diperbarui. Saat ini, jenis kelamin dan usia merupakan standar data epidemiologi COVID-19 yang ditetapkan di dunia dan dijadikan faktor prognosis dari pasien COVID-19. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan jenis kelamin dan usia pasien positif COVID-19 terhadap tingkat kecepatan konversi di Kota Padang pada tahun 2020. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional menggunakan data retrospektif. Teknik pengambilan sampel adalah proportional stratified random sampling. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang telah mendapatkan 2 kali hasil negatif tes RT-PCR di Kota Padang selama tahun 2020 yang diambil dari master tabel Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai November 2021 dengan jumlah sampel 382 responden. Analisis data yang digunakan berupa analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil: COVID-19 lebih banyak terjadi pada perempuan (52,9%). Kejadian terbanyak COVID-19 dialami oleh kelompok usia 26-45 tahun (43,5%%). Sebagian besar pasien COVID-19 mengalami konversi dalam kurun waktu <15 hari (86,1%). Tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin pasien positif COVID-19 dengan kecepatan konversi (p= 0,454). Tidak terdapat hubungan bermakna antara usia pasien positif COVID-19 dengan kecepatan konversi (p=0,065). Kesimpulan: Jenis kelamin dan usia pada pasien COVID-19 tidak memiliki hubungan bermakna dengan kecepatan konversi.
Modifikasi Diet untuk Penderita Laryngopharyngeal Reflux (LPR) Naura Aqila; Abdiana Abdiana; Ade Asyari
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 3 No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v3i2.857

Abstract

Latar Belakang. Laryngopharyngeal reflux (LPR) merupakan keadaan terjadinya aliran balik isi lambung ke daerah saluran aerodigestif bagian atas yang menyebabkan iritasi dan ketidaknyamanan. Tatalaksana dengan terapi medikamentosa saja tidak cukup jika tidak menghindari faktor resiko lainnya seperti makanan. Oleh karena itu, studi literatur dilakukan untuk mengetahui pilihan makanan yang dianjurkan untuk terapi LPR. Objektif. Mengetahui pilihan makanan pada modifikasi diet rendah asam, diet rendah lemak dan minuman alkali untuk penderita Laryngopharyngeal Reflux (LPR). Metode. Penelitian ini merupakan tinjauan naratif. Pencarian literatur dilakukan melalui 3 sumber basis data yaitu Pubmed, Google Scholar, dan Proquest dalam rentang publikasi dari tahun 2011-2021. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria eligibilitas yang telah ditentukan. Penelitian ini membahas pilihan menu diet rendah asam, diet rendah lemak dan minuman alkali yang disarankan untuk penderita LPR. Hasil. Total 8 studi dimasukkan dalam tinjauan naratif ini. Terapi LPR selain diberikan PPI dosis tinggi dua kali sehari, juga diberikan anjuran modifikasi diet. Modifikasi diet yang diberikan dapat berupa diet rendah asam yaitu menghindari makanan dengan pH asam (pH <5), diet rendah lemak yaitu mengonsumsi lemak 10-25% saja dari kebutuhan total per hari, dan mengonsumsi minuman alkali dengan pH 8 yang terbukti memiliki manfaat dalam perbaikan gejala pasien laryngopharyngeal reflux. Kesimpulan. Pilihan modifikasi diet berupa diet rendah asam, rendah lemak, dan minuman alkali sangat dianjurkan untuk terapi pada penderita Laryngopharyngeal Reflux
Prevalensi biofilm bakteri aerob pada usapan tonsil dengan metode tube pada penderita tonsilitis kronis Ade Asyari; Aci Mayang Sari; Embun Dini; Novialdi Novialdi; Fachzi Fitri; Erly Indrama; Hafni Bachtiar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 49 No. 1 (2019): Volume 49, No. 1 January-June 2019
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v49i1.274

Abstract

Latar belakang: Tonsilitis kronis merupakan salah satu bentuk infeksi yang paling banyak terdapat pada anak-anak maupun dewasa. Kegagalan terapi antibiotika dalam mengeradikasi bakteri penyebab tonsilitis kronis ini masih menjadi perdebatan dan dihubungkan dengan keberadaan biofilm pada tonsil. Biofilm memiliki peran dalam infeksi kronis dan rekurensi dari tonsilitis kronis. Tujuan: Mengetahui gambaran biofilm bakteri aerob pada usapan tonsil dengan metode tube pada penderita tonsilitis kronis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap 96 responden. Setiap sampel dilakukan pemeriksaan swab tonsil dan kultur bakteri aerob kemudian dilanjutkan pemeriksaan biofilm dengan metode tube menggunakan crystal violet (0,1%) dan dibandingkan dengan kontrol. Data dianalisis secara statistik menggunakan komputer serta disajikan dalam bentuk tabel. Hasil: Terdapat 64,7% dari total bakteri pada usapan tonsil mengandung biofilm. Kesimpulan: Lebih dari separuh sampel terdapat biofilm bakteri aerob pada usapan tonsil dengan metode tube pada penderita tonsilitis kronis. Background: Chronic tonsillitis is one of the most common infections in children and adults. Failure of antibiotic therapy in eradicating the bacteria that cause chronic tonsillitis is still being debated and is associated with the presence of biofilm on the tonsils. Biofilms play a role in chronic infections and recurrence of chronic tonsillitis. Purpose: To determine aerobic bacterial biofilm on tonsil swabs with tube method in patients with chronic tonsillitis. Methods: This was a descriptive study conducted on 96 respondents. Each sample underwent tonsillar swab and aerobic bacterial culture, followed by examination of the biofilm with tube method using crystal violet (0.1%) and compared with controls. Data were analyzed statistically using computer program, and presented in a tabular form. Results: There were 64.7% of total bacteria in tonsil swabs containing biofilm. Conclusion: More than half of the whole samples contained aerobic bacterial biofilms on tonsil swabs with tube method in patients with chronic tonsillitis.
The effect of local ketamine infiltration on post tonsillectomy pain scale Ade Asyari; Novialdi Novialdi; Elniza Morina; Rimelda Aquinas; Nasman Puar; Hafni Bachtiar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 50 No. 1 (2020): Volume 50, No. 1 January - June 2020
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v50i1.351

Abstract

Background: Post tonsillectomy pain is one of the surgery side effects that most disturbing for patient’s comfort and will cause dysphagia, low intake, dehydration, secondary infection and bleeding. Ketamine is an anesthetic drug that has strong analgesic effect and easily available in any hospital at relatively cheap price. Objective: To find out the effect of local ketamine infiltration on the post tonsillectomy pain scale. Method: An experimental study during tonsillectomy with a Post Test Control Group on 12 samples without local infiltration of ketamine and 12 samples with local infiltration of ketamine in peritonsillar pillar. The pain was assessed 2 hours and 24 hours post extubation with pain Visual Analog Scale (VAS). Result: The VAS value from patients who were given local infiltration of ketamine in peritonsillar pillar were lower (5.83 ± 0.72 at 2 hours and 2.83 ± 0.58 at 24 hours post extubation) compared to patients without ketamine infiltration (7.83 ± 0.58 at 2 hours and 3.58 ± 0.51 at 24 hours post extubation). The result showed statistically significant difference (p <0.05) at 2 hours and 24 hours post extubation. Conclusion: The VAS score of the ketamine infiltration group is lower at 2 hours and 24 hours post extubation than the group without ketamine infiltration, showing there was a noticeable effect of local ketamine infiltration on the post tonsillectomy pain scale.Keywords : post tonsillectomy pain, ketamine, local infiltration, visual analog scale ABSTRAKLatar belakang: Nyeri pascatonsilektomi adalah salah satu efek samping operasi yang sangat mengganggu kenyamanan pasien, dan dapat menyebabkan gangguan menelan, kurangnya asupan nutrisi, dehidrasi, infeksi sekunder dan perdarahan. Ketamin merupakan obat anestesi yang memiliki efek analgetik yang kuat dan mudah didapatkan di semua tipe rumah sakit dengan harga yang relatif murah. Tujuan: Mengetahui efek pemberian infiltrasi lokal ketamin terhadap skala nyeri pascatonsilektomi. Metode: Penelitian eksperimental dengan desain Post Test Control Group pada 12 sampel tanpa pemberian infiltrasi lokal ketamin dan 12 sampel dengan pemberian infiltrasi lokal ketamin di pilar peritonsil saat tonsilektomi. Dilakukan penilaian nyeri 2 jam dan 24 jam pascaekstubasi menggunakan skala nyeri Visual Analog Scale (VAS). Hasil: Nilai VAS pasien yang diberi infiltrasi lokal ketamin di pilar peritonsil lebih rendah (5,83±0,72 pada 2 jam dan 2,83 ± 0,58 pada 24 jam pascaekstubasi) dibanding tanpa diberi infiltrasi lokal ketamine (7,83 ± 0,58 pada 2 jam dan 3,58± 0,51 pada 24 jam pascaekstubasi), dan bermakna secara statistik (p<0,05) pada kedua penilaian. Kesimpulan: Terdapat efek nyata infiltrasi lokal ketamin terhadap skala nyeri pascatonsilektomi, dimana nilai VAS kelompok yang diberi infiltrasi ketamin lebih rendah, baik pada 2 jam ataupun 24 jam pascaekstubasi dibanding kelompok yang tidak diberi infiltrasi ketamin.
Diagnostic of lingual tonsil hypertrophy with lateral soft tissue cervical X-ray on laryngopharyngeal reflux Ade Asyari; Novialdi -; Bonny Murizky; Wahyu Julianda; Esmaralda Nurul Amany; Tuti Handayani; Hafni Bachtiar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 51 No. 1 (2021): Volume 51, No. 1 January - June 2021
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v51i1.381

Abstract

Background: Lingual tonsil hypertrophy (LTH) evaluation could be performed by flexible fiberoptic laryngoscopy, lateral soft tissue cervical X-ray, CT scan, and magnetic resonance imaging (MRI). Lateral soft tissue cervical X-ray examination is considered as a procedure-of-choice for diagnostic testing of LTH, which, aside from being low cost, the examination could also be conducted in all hospitals and easy to be performed on children. Objective: To compare the lingual tonsil enlargement with examination procedure using lateral soft tissue cervical X-ray as an LTH diagnostic measure compared to the flexible fiberoptic laryngoscopy examination as the gold standard examination. Methods: A retrospective analytic study with cross-sectional design on 30 respondents of laryngopharyngeal reflux (LPR) patients who came for routine ENT physical examination, followed by flexible fiberoptic laryngoscopy examination along with lateral soft tissue cervical X-ray. Results: The sensitivity level of 65.38% was acquired from the statistical tests, along with specificity level of 100%, positive predictive value (PPV) of 100%, and negative predictive value (NPV) of 30.37%. Conclusion: Based on sensitivity and specificity, lateral soft tissue cervical X-ray examination could be used as a diagnostic measure and have an accurate capability to diagnose LTH.ABSTRAK Latar belakang: Evaluasi hipertrofi tonsil lingual (HTL) dapat dilakukan menggunakan laringoskopi serat optik fleksibel, foto Rontgen cervical soft tissue lateral, CT scan, dan magnetic resonance imaging (MRI). Foto Rontgen cervical soft tissue lateral dapat dipertimbangkan sebagai pilihan pemeriksaan diagnostik HTL, karena selain biayanya terjangkau, pemeriksaan ini dapat dilakukan di semua rumah sakit serta mudah dilakukan pada pasien anak. Tujuan: Membandingkan hasil pemeriksaan pembesaran tonsil lingual menggunakan foto Rontgen cervical soft tissue lateral dengan pemeriksaan laringoskopi serat optik fleksibel sebagai pemeriksaan baku emas. Metode: Penelitian analitik retrospektif dengan desain potong lintang pada 30 pasien laryngopharyngeal reflux (LPR) yang dilakukan pemeriksaan fisik THT rutin, diikuti dengan pemeriksaan laringoskopi serat optik fleksibel serta foto Rontgen cervical soft tissue lateral. Hasil: Didapatkan tingkat sensitivitas dari uji statistik sebesar 65,38%, dengan tingkat spesitivitas sebesar 100%, dan didapatkan nilai prediksi positif (NPP) sebesar 100% serta nilai prediksi negatif (NPN) sebesar 30,37%. Kesimpulan: Berdasarkan sensitivitas dan spesifisitas, foto Rontgen cervical soft tissue lateral dapat digunakan sebagai alat diagnostik dan memiliki kemampuan yang akurat dalam diagnosis HTL. Kata kunci: hipertrofi tonsil lingual, laryngopharyngeal reflux, laringoskopi serat optik fleksibel, foto Rontgen cervical soft tissue lateral 
Management of foreign body a fish in orohypopharynx Asyari, Ade; Amany, Esmaralda Nurul
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 52 No. 1 (2022): VOLUME 52, NO. 1 JANUARY - JUNE 2022
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v52i1.452

Abstract

ABSTRACTBackground: Foreign bodies ingestion in children is very common, and most events occur inchildren between 6 months and 3 years. Alive fish foreign body is a rare case that could lead intoupper airway obstruction. The diagnosis was based on history, clinical and examinations. Purpose: Toreport a case and the management of an alive fish as foreign body in orohypopharynx. Case report: A5 years old boy was brought with alive fish as foreign body in the orohypopharynx. The managementwas foreign body extraction and followed by a rigid esophagoscopy procedure. Clinical question:What is the management of a fish as foreign body in orohypopharynx? Method: Evidence basedliterature study of foreign body fish in orohypopharynx. Result: Management of foreign body a fish inorohypophariynx by extraction and rigid esophagoscopy gave a good result. Conclusion: Precisediagnosis and treatment could prevent any complications caused by foreign body a fish inorohypopharynx. It is important to secure the airway, making sure there is no part of the foreign bodyleft and evaluating the esophagus mucosa. If there is any sign of mucosa injury, nasogastric tube isapplied until the injury heals.ABSTRAKLatar belakang: Tertelan benda asing pada anak sangat umum, sering terjadi, dan palingbanyak terjadi pada usia 6 bulan hingga 3 tahun. Benda asing ikan hidup merupakan kasus yangjarang dan dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas atas. Diagnosis berdasarkan anamnesis,pemeriksaan fisik dan radiologi. Tujuan: Melaporkan sebuah kasus tatalaksana benda asing ikanhidup pada orohipofaring. Laporan kasus: Dilaporkan satu kasus seorang anak laki-laki berusia 5tahun dengan benda asing ikan hidup di orohipofaring. Tatalaksana pada kasus ini ialah ekstraksibenda asing dan esofagoskopi kaku. Pertanyaan klinis: Bagaimana tatalaksana kasus benda asingikan di orohipofaring? Metode: Berbasis bukti mengenai benda asing ikan di orohipofaring melaluidatabase Cochrane library, Pubmed Medline, dan pencarian manual. Hasil: Tatalaksana benda asingikan di orohipofaring dengan ekstraksi benda asing dan esofagoskopi kaku memberikan hasil yangbaik. Kesimpulan: Diagnosis dan tatalaksana yang tepat dapat menghindari terjadinya komplikasipada kasus benda asing ikan di orohipofaring. Penting untuk menjaga patensi jalan nafas,memastikan tidak ada bagian dari benda asing yang tertinggal serta mengevaluasi mukosa esofagus.Jika terdapat trauma pada mukosa, pemasangan nasogastric tube dapat dilakukan hingga terjadipenyembuhan luka.
Analysis of bile acid in saliva of patients with laryngopharyngeal reflux and non-laryngopharyngeal reflux Asyari, Ade; Utami, Refi Amalia; Yerizel, Eti; Putra, Andani Eka; Firdawati, Firdawati
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 53 No. 2 (2023): VOLUME 53, NO. 2 JULY - DECEMBER 2023
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v53i2.561

Abstract

ABSTRACT — Background: Laryngopharyngeal reflux (LPR) is the backflow of gastric and or duodenal fluid into the larynx, pharynx, trachea, and bronchi. The prevalence of LPR is difficult to determine due to the limited gold standard and the large variety of LPR symptoms. Damage can occur due to the decrease in pH value and also because of exposure to harmful enzymes in reflux, including bile acid. Purpose : This study was conducted to analyze bile acid levels in the saliva of LPR patient and non LPR subject. Methods:  This study is an observational study with a case-control design. The study was conducted in the ORL-HNS Department of Dr. M. Djamil Hospital, Padang, West Sumatra, Indonesia. The total sample size was 44 people. We enrolled 22 healthy subjects as the control group and 22 patients suspected of having LPR. Result: LPR patients are more common in women than in men, with 12 women and 10 men. Bile acid in the LPR group means of is 25.08±7.67µM, meanwhile, in the healthy group, the mean was 18.99±8.26 µM. There is a statistically significant in the incidence of LPR with the bile acids (p = 0.015) based on t- independent test. Conclusion: Our study confirmed that bile acids in saliva play a major role in diagnosing LPR. 
Otoacoustic emission examination results on down syndrome students Fasya, Haidar Haikal; Lestari, Rahmi; Hafiz, Al; Asyari, Ade; Masnadi, Nice Rachmawati; Ilmiawati, Cimi
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 53 No. 1 (2023): VOLUME 53, NO. 1 JANUARY - JUNE 2023
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v53i1.592

Abstract

Background: Down syndrome (DS) is a genetic disorder that occurs due to an excess of genetic material on chromosome 21. Down syndrome was associated with various congenital abnormalities and dysfunction of several organs, one of which was hearing. DS patients often experience sensorineural hearing loss. Evaluation of sensorineural hearing loss in DS patients could be done in several ways, one of which is the Otoacoustic Emission (OAE) examination. Purpose: This study aimed to describe the results of the OAE examination in elementary school children at special need schools in Padang City in 2022. Methods: This research was a descriptive study, using a cross sectional study design. Data were collected and processed using consecutive sampling technique. The research subjects who met the criteria were 31 samples. Results: The results showed that the majority of DS subjects received “refer” results 25/31 on OAE examination, OAE “refer” results occurred both in one ear or both ears. The “refer” results of the OAE were greater in male DS patients 20/24 than female 5/7 and more common in the 18-21 year old age group. Conclusion: Conclusions based on this study, people with DS are more at risk of having sensorineural hearing loss.
Gambaran Klinikopatologi Karsinoma Laring di Laboatorium Patologi Anatomi RSUP. Dr. M. Djamil Padang Tahun 2018 -2021 Fikri Akbar; Ade Asyari; Netti Suharti
Jurnal Anestesi Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Anestesi: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/anestesi.v3i1.1594

Abstract

Laryngeal carcinoma is a cancer of the larynx that attacks the normal epithelium of the larynx. This carcinoma is the second most common type of head and neck epithelial malignancy in the world and the second most common in the respiratory tract after lung cancer. Carcinoma of the larynx has non-specific clinical manifestations, causing delayed early detection, thus affecting the management and prognosis of patients. This study aimed to determined the frequency distribution of laryngeal carcinoma patients based on gender, age, clinical manifestations, location, histopathological type, degree of differentiation. This research is a categorical descriptive study. The study sample was patients diagnosed by an ENT doctor as a primary malignancy of laryngeal carcinoma with confirmation from histopathological examination.The results of this study showed that the majority of laryngeal carcinoma patients were male (94%), the most age group was 59-65 years old (30.61%), the most common clinical manifestation was hoarseness (42.8%), The most common tumor location was in the glottis (92%), the most common histopathological features were squamous cell carcinoma (98%), and the highest degree of differentiation was moderate differentiation (36.73%). The majority of laryngeal carcinoma patients are men with an age range of 59-65 years. The most clinical manifestations were hoarseness, the most common tumor location was in the glottis, the most histopathological features were squamous cell carcinoma, and the highest degree of differentiation was moderate differentiation.
Karakteristik Pasien Karsinoma Laring di Bagian THT-KL RSUP DR. M. Djamil Padang pada Periode 2018-2020 Sutas, Bima Ferdana; Asyari, Ade; Rasyid, Rosfita
Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 6 (2024): Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Publisher : Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang. Karsinoma laring adalah keganasan kepala dan leher terbanyak kedua. Mayoritas pasien datang pada stadium lanjut dengan keadaan yang buruk sehingga prognosis pasien menjadi lebih buruk. Objektif. Untuk mengetahui karakteristik pasien karsinoma laring di RSUP Dr. M. Djamil Padang Metode. Jenis penilitian ini adalah deskriptif dengan metode total sampling menggunakan data rekam medis pasien karsinoma laring di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2018-2020. Hasil. Total pasien karsinoma laring di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2018-2020 berjumlah 37 orang. Pasien laki-laki (94,6%) lebih banyak dari perempuan (5,4%), rentang umur terbanyak adalah 60-64 tahun (32,4%),faktor risiko yang paling sering ditemukan adalah merokok (83,8%), keluhan utama yang paling sering dikeluhkan adalah sesak nafas (62,1%), gejala klinis paling sering terjadi adalah suara serak (81,1%), glotis (89,1%) adalah lokasi karsinoma laring paling sering muncul, karsinoma laring paling sering terdiagnosis pada stadium IVA 56,7%), karsinoma sel skuamosa (97,3%) adalah jenis histopatologi terbanyak ditemukan, kemoradiasi (35,1%) dan kemoterapi (35,1%) adalah terapi paling sering dilakukan, dan pendarahan (5,4%) adalah komplikasi yang paling sering terjadi. Kesimpulan. Pasien laki-laki menderita karsinoma laring lebih banyak dari perempuan, usia 60-64 tahun adalah kelompok umur terbanyak, merokok adalah faktor risiko ternayak, sesak nafas adalah keluhan utama terbanyak, suara searak adalah gejala klinis terbanyak, glotis adalah lokasi terbanyak, stadium IVA adalah yang terbanyak, kemoradiasi dan kemoterapi adalah terapi ternamyak dilakukan, dan pendarahan adalah komplikasi terbanyak.
Co-Authors Abdiana Abdiana, Abdiana Aci Mayang Sari Adha, Muhammad Rofid Adrial Adrial, Adrial Afdal Afdal, Afdal Afrainin Syah, Nur Al Hafiz Al Hafiz Al Hafiz Ali Djamhuri Amany, Esmaralda Nurul Amri, Siti Salsabilla Andani Eka Putra Arif Fahmi Arni Amir ASRAWATI Asrining Tyas Bestari J Budiman Bestari Jaka Budiman Bestari Jaka Budiman Bonny Murizky Cimi Ilmiawati, Cimi Deni Amri Diflayzer, Diflayzer Dolly Irfandy Dwininta Alfathika Effy Huriati Effy Huriyati Efrida Efrida Efrida Elniza Morina Elniza Morina Embun Dini Erly Indrama Erwi Saswita Esmaralda Nurul Amany Esmaralda Nurul Amany Eti Yerizal Eti Yerizel Faathira, Ken Rabbani Fachzi Fitri Fasya, Haidar Haikal Fika Tri Anggraini Fikri Akbar Firdawati, Firdawati Gestina Aliska Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Harun Harnavi Hendra Permana Jacky Munilson Jacky Munilson Julianda, Wahyu Khairil Faiz Amir Lestari, Rahmi Masnadi, Nice Rachmawati Mizwar, Mizwar Monica, Febrina Nadhirah binti Sa'an Nasman Puar Naura Aqila Netti Suharti Netti Suharti, Netti Nirza Warto Novialdi . Nur Azizah Nur Azizah Octavia, Tri Aryanti Putri Rizki Fitriani Rachmawati, Elvie Zulka Kautzia Rafly, Alifyar Rahmadona Rahmadona Rimelda Aquinas Rita Risandi Rosfita Rasyid Rossy Rosalinda Salim, Aurelia Agantha Saptino Miro Saptino Miro, Saptino Sariwati, Siska Sri Rahma Liza Sukri Rahman Sutas, Bima Ferdana Syandrez Prima Putra Tuti Handayani Tuti Handayani Utami, Refi Amalia Wahyu Julianda Wahyu Julianda Yan Edward Yolazenia Yolazenia Yuniar Lestari