Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH PERBEDAAN PENAMBAHAN TEPUNG UBI JALAR KUNING (Ipomoea batatas L) DAN DAGING IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) TERHADAP NILAI GIZI DAN SENSORIK BISKUIT Lestari, Yuyun Dwi; Ansharullah, Ansharullah; Isamu, Kobajashi T
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 6, No 6 (2021): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.246 KB) | DOI: 10.33772/jstp.v6i6.22855

Abstract

ABSTRACTThe aim of the study was to determine the effect yellow sweet potato flour (Ipomoea batatas L) and skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) addition on the nutritional and sensory values of biscuit products. This research was conducted using a completely randomized design (CRD) method with various formulation treatments, namely K0 (100% wheat flour), K1 (75% yellow sweet potato flour: 5% fish meat: 20% wheat flour), K2 (70% yellow sweet potato flour: 10% fish meat: 20% wheat flour), K3 (65% yellow sweet potato flour: 15% fish meat: 20% wheat flour), and K4 (60% yellow sweet potato flour: 20% fish meat: 20% wheat flour). The data were analyzed using analysis of variance, with further testing using Duncan's multiple range test (DMRT) at a 95% confidence level. The results show that the K1 treatment was the most preferred treatment by the panelists with hedonic rating scores of color, aroma, taste, and texture reached 4.34 (like), 4.16 (like), 4.13 (like), and 4.09 (like), respectively. Nutritional value analysis of the selected K1 biscuit products shows that it contained 6.87% water, 2.83% ash, 26.17% fat, 6.58% protein, and 57.83% carbohydrates. The biscuit product with the addition of yellow sweet potato flour and skipjack fish meat met the national standard for fat and protein contents. Keyword: Biscuit, yellow sweet potato flour, skipjack meatABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan penambahan tepung ubi jalar kuning (Ipomoea batatas L) dan daging ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) terhadap nilai gizi dan sensorik produk biskuit. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan berbagai perlakuan formulasi, yaitu K0 (Tepung terigu 100%), K1 (Tepung ubi jalar kuning 75% : daging ikan 5% : tepung terigu 20%), K2 (Tepung ubi jalar kuning 70% : daging ikan 10% : tepung terigu 20%), K3 (Tepung ubi jalar kuning 65% : daging ikan 15% : tepung terigu 20%), K4 (Tepung ubi jalar kuning 60% : daging ikan 20% : tepung terigu 20%). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam (analysis of varian), dengan uji lanjut menggunakan duncan’s multiple range test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakukan K1 merupakan perlakuan yang paling disukai oleh panelis dengan skor penilain hedonik warna 4,34 (suka), aroma 4,16 (suka), rasa 4,13 (suka) dan tekstur 4,09 (suka). Analisis nilai gizi produk biskuit terpilih K1 meliputi kadar air (6,87),abu (2,83), lemak (26,17), protein (6,58) dan karbohidrat (57,83). Berdasarkan standar mutu SNI biskuit, bahwa produk biskuit penambahan tepung ubi jalar kuning dan daging ikan cakalang sudah memenuhi standar mutu SNI untuk kadar lemak dan kadar protein.Kata kunci: Biskuit,ubi jalar kuning, daging ikan cakalang lumat
KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK DAN PROKSIMAT MIE BASAH DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TERIPANG PASIR (Holothuria scabra) Vatma, Ona Sri; Ansharullah, Ansharullah; Asnani, Asnani
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 6, No 6 (2021): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.387 KB) | DOI: 10.33772/jstp.v6i6.22858

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the effect of the addition of sea cucumber flour on the organoleptic and proximate characteristics of wet noodles. This study consisted of four treatments, namely without the addition of sand sea cucumber flour (T0), the addition of 5% sea cucumber flour (T1), the addition of 10% sea cucumber flour (T2), and the addition of 15% sea cucumber flour (T3). The analyzed parameters were organoleptic and physicochemical values. This study used a completely randomized design (CRD). Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) and continued with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at a 95% confidence level. The results show that the effect of adding sand sea cucumber flour had a very significant effect on organoleptic assessment in T1 treatment (95% wheat flour: 5% sea cucumber flour) with preference scores of color, aroma, taste, and texture reached 4.03 (like), 4.06 (like), 3.91 (like), and 4.06 (like). Proximate analysis of the best treatment shows that it contained 50.12% water, 1.18% ash, 0.20% fat, 7.23% protein, and 41.75% carbohydrate. The results show that the product met the standard of SNI 01-2987-1992 for ash, fat, and protein contents. Keywords: Sea Cucumber, Wet NoodlesABSTRAKTujuan penelitian ini untuk menentukan pengaruh penambahan tepung teripang pasir terhadap karakteristik organoleptik dan proksimat mie basah. Penelitian ini terdiri dari empat perlakuan yaitu tanpa penambahan tepung teripang pasir (T0), penambahan tepung teripang pasir 5% (T1), penambahan tepung teripang pasir 10% (T2), dan penambahan tepung teripang pasir 15% (T3), lalu dianalisis terhadap nilai organoleptik dan fisikokimia. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data di analisis menggunakan Analysis of Varian (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh penambahan tepung teripang pasir berpengaruh sangat nyata terhadap penilaian organoleptik pada perlakuan T1 (tepung terigu 95% : tepung teripang pasir 5%) sebesar warna 4.03 (suka), aroma 4.06 (suka), rasa 3.91 (suka), dan tekstur 4.06 (suka). Analisis proksimat perlakuan terbaik diperoleh nilai kadar air 50.12%, kadar abu 1.18%, kadar lemak 0.20%, kadar protein 7.23% dan kadar karbohidrat 41.75%. Berdasarkan hasil penelitian nilai kadar abu, kadar lemak, dan kadar protein telah memenuhi SNI 01-2987-1992.Kata kunci: Teripang Pasir, Mie Basah
PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG UBI JALAR KUNING (Ipomoea batatas L) DAN TEPUNG WORTEL (Daucus carota L) TERHADAP KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK DAN NILAI GIZI BISKUIT Fatmasari, Fatmasari; Ansharullah, Ansharullah; L, Mariani
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 6, No 6 (2021): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.192 KB) | DOI: 10.33772/jstp.v6i6.22809

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to determine the effect of yellow sweet potato flour and carrot flour substitution on the organoleptic characteristics and nutritional value of biscuits. This study used a completely randomized design (CRD) with five treatments K0 (0% yellow sweet potato flour: 0% carrot flour: 100% wheat flour), K1 (75% yellow sweet potato flour: 5% carrot flour: 20% wheat flour ), K2 (70% yellow sweet potato flour: 10% carrot flour: 20% wheat flour), K3 (65% yellow sweet potato flour: 15% carrot flour: 20% wheat flour), and K4 (60% yellow sweet potato flour: 20% carrot flour: 20% wheat flour). Data were analyzed using analysis of variances (ANOVA). The results show that the substitution treatment of yellow sweet potato flour and carrot flour had a very significant effect on the organoleptic improvement of color, aroma, and taste. The most preferred treatment was the K1 treatment with preference values of color, aroma, texture, and taste reached 4.12 (very like), 4.40 (very like), 3.95 (like), and 4.07 (very like), respectively. The selected treatment had 4.66% water, 2.16% ash, 15.91% fat, 5.44% protein, 71.83% carbohydrate, and 2.15 mg/g β- carotene. Based on the SNI 01-2973-1992 standard, the yellow sweet potato flour and carrot flour biscuit products met the quality standards on water, fat, and carbohydrate contents.Keywords: yellow sweet potato flour, carrot flour, wheat flour, biscuits.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh substitusi tepung ubi jalar kuning dan tepung wortel terhadap karakteristik organoleptik dan nilai gizi biskuit. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan K0 (Tepung ubi jalar kuning 0% : tepung wortel 0% : Tepung terigu 100%), K1 (Tepung ubi jalar kuning 75% : tepung wortel 5% : tepung terigu 20%), K2 (Tepung ubi jalar kuning 70% : tepung wortel 10% : tepung terigu 20%), K3 (Tepung ubi jalar kuning 65% : tepung wortel 15% : tepung terigu 20%), K4 (Tepung ubi jalar kuning 60% : tepung wortel 20% : tepung terigu 20%).. Data dianalisis menggunakan analysis of variances (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan substitusi tepung ubi jalar kuning dan tepung wortel berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan organoleptik warna, aroma dan rasa. Perlakuan terpilih diperoleh dari perlakuan K1 dengan nilai kesukaan terhadap warna sebesar 4,12 (sangat suka), aroma sebesar 4,40 (sangat suka), tekstur sebesar 3,95 (suka) dan rasa sebesar 4,07 (sangat suka). Perlakuan terpilih memiliki nilai kimia biskuit yaitu kadar air sebesar 4,66%, kadar abu sebesar 2,16%, kadar lemak sebesar 15,91%, kadar protein sebesar 5,44%, kadar karbohidrat sebesar 71,83% dan kadar β-karoten sebesar 2,15 mg/g. Berdasarkan standar mutu SNI 01-2973-1992 bahwa produk biskuit tepung ubi jalar kuning dan tepung wortel telah memenuhi standar mutu SNI pada kadar air, kadar lemak dan kadar karbohidrat.Kata kunci: tepung ubi jalar kuning, tepung wortel, tepung terigu, biskuit.
Application of Appropriate Technology in Integrated Coconut Processing in Lambangi Village, South Konawe, through Regional Partnership Program Ansharullah ansharullah; Muhammad Natsir; Sitti Aida Adha Taridala; Abdul Kasim; Sriyana Herman; Sri Damayanti
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi STIKES Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1076.788 KB) | DOI: 10.35311/jmpm.v2i2.38

Abstract

Kelapa merupakan komoditas andalan masyarakat di Desa Lambangi, Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Namun, potensi komoditas ini belum memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Di sisi lain, dengan penerapan teknologi pengolahan kelapa secara terpadu dapat dihasilkan berbagai produk yang memiliki nilai tambah dari sisi ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, seperti VCO, nata de coco, asap cair, dan produk kerajinan kreatif berbasis kelapa. Oleh karena itu, Program Kemitraan Wilayah (PKW) ini bertujuan untuk mengadvokasi pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk mewujudkan potensi ekonomi tersebut, melalui penerapan teknologi yang terintegrasi dan tepat guna. Program ini dilaksanakan dengan model peningkatan kapasitas wirausaha, alih teknologi, dan penerapan teknologi tepat guna. Hasil yang dicapai menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan yang signifikan dari pemerintah dan masyarakat dalam hal pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan komoditas kelapa ini. Nilai tambah ekonomi dari komoditas ini, termasuk potensi ketersediaan lapangan kerja dari komoditas ini juga meningkat signifikan. Dampak positif dari kegiatan ini adalah meningkatnya kesadaran Pemerintah Daerah, dan karenanya telah memberikan dukungan keuangan formal melalui perencanaan dan penganggaran dalam program-program mereka. Dampak positif yang diharapkan adalah mengubah kondisi Desa Lambangi menjadi desa yang mandiri secara ekonomi, sesuai dengan arahan Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional.
FORMULASI PEMBUATAN BISKUIT BERBASIS TEPUNG KOMPOSIT SAGU (Metroxylon sp.) DAN TEPUNG IKAN TERI (Stolephorus commersonii) Nur Asyik; Ansharullah Ansarullah; Halida Rusdin
BioWallacea : Jurnal Penelitian Biologi (Journal of Biological Research) Vol 5, No 1 (2018): Sains & Biodiversitas Wallacea
Publisher : University of Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.764 KB) | DOI: 10.33772/biowallacea.v5i1.4589

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh formulasi tepung komposit sagu dan tepung ikan teri terhadap sifat organoleptik biskuit. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu menggunakan lima perlakuan formulasi sebagai berikut : B0 (tepung sagu 0% : tepung ikan teri 0% : tepung terigu 100%), B1 (tepung sagu 70% : tepung ikan teri 10% : tepung terigu 20%), B2 (tepung sagu 60% : tepung ikan teri 20% : tepung terigu 20%), B3 (tepung sagu 50% : tepung ikan teri 30% : tepung terigu 20%), dan B4 (tepung sagu 40% : tepung ikan teri 40% : tepung terigu 20%).  Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga didapatkan 20 unit percobaan.  Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA). Apabila diperoleh penilaian organoleptik yang berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji Duncan’s, pada taraf kepercayaan 95% (α = 0,05). Variabel pengamatan  meliputi uji organoleptik (warna, tekstur, aroma dan rasa) dengan menggunakan 15 orang  panelis.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan formulasi tepung komposit sagu dan tepung ikan teri memberikan pengaruh sangat nyata terhadap penilaian organoleptik warna, tekstur, aroma dan rasa biskuit.  Produk biskuit yang disukai panelis (perlakuan terbaik) terdapat pada perlakuan B1 (tepung sagu 70% : tepung ikan teri 10% : tepung terigu 20%) dengan skor organoleptik warna 3,00 (agak suka), organoleptik tekstur 3,45 (agak suka), organoleptik  aroma 3,08 (agak suka) dan organoleptik rasa 2,83 (agak suka). Kata kunci : Tepung sagu, tepung ikan teri, biskuit, formulasi dan sifat organoleptik ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the effect of sago composite flour and anchovy flour formulations on the organoleptic properties of biscuits. The study used a Completly Randomized Design (CRD) using five treatment formulations as follow: B0 (0% sago flour : 0% anchovy flour : 100% wheat flour), B1 (70% sago flour : 10% anchovy flour : 20% wheat flour), B2 (60% sago flour: 20% anchovy flour : 20% wheat flour), B3 (50% sago flour : 30% anchovy flour : 20% wheat flour), and B4 (40% sago flour: 40% anchovy flour : 20% wheat flour). Each treatment was repeated four times to get 20 units of experiment. The observed data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) with Duncan’s post hoc test at 95% confidence interval (α = 0,05). Observation variables consisted of organoleptic test (color, texture, flavor and taste) using 15 panelists. The results showed that treatment of sago composite flour and anchovy flour formulations had a significant effect on organoleptic assessment of color, texture, aroma and taste of biscuits. The preferred biscuit product (best treatment) was found in B1 treatment (70% sour flour : 10% anchovy flour : 20% wheat flour) with score of organoleptic color is 3,00 (rather like), organoleptic texture is  3,45 (rather like), organoleptic aroma is 3.08 (rather like) and organoleptic taste is 2.83 (rather like). Keywords: Sago flour, fish meal, biscuit, formulation and organoleptic properties.
Training and Mentoring in the Application of Appropriate Technology in Integrated Coconut Processing in Lambangi Village, South Konawe, through the Regional Partnership Program Ansharullah ansharullah; Muhammad Natsir; Sitti Aida Adha Taridala; Abdul Kasim; La Ode Liaumin Azim; Sri Damayanti
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022): Jurnal Mandala pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi STIKES Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.798 KB) | DOI: 10.35311/jmpm.v3i2.120

Abstract

Kelapa merupakan komoditas andalan masyarakat di Desa Lambangi, Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Namun, potensi komoditas ini belum memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Di sisi lain, dengan penerapan teknologi pengolahan kelapa secara terpadu dapat dihasilkan berbagai produk yang memiliki nilai tambah dari sisi ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, seperti VCO, nata de coco, asap cair, dan produk kerajinan kreatif berbasis kelapa. Oleh karena itu, Program Kemitraan Wilayah (PKW) ini bertujuan untuk mengadvokasi pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk mewujudkan potensi ekonomi tersebut, melalui penerapan teknologi yang terintegrasi dan tepat guna. Program ini dilaksanakan dengan model peningkatan kapasitas wirausaha, alih teknologi, dan penerapan teknologi tepat guna. Hasil yang dicapai menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan yang signifikan dari pemerintah dan masyarakat dalam hal pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan komoditas kelapa ini. Nilai tambah ekonomi dari komoditas ini, termasuk potensi ketersediaan lapangan kerja dari komoditas ini juga meningkat signifikan. Dampak positif dari kegiatan ini adalah meningkatnya kesadaran Pemerintah Daerah, dan karenanya telah memberikan dukungan keuangan formal melalui perencanaan dan penganggaran dalam program-program mereka.  Dampak positif  yang diharapkan adalah mengubah kondisi Desa Lambangi menjadi desa yang mandiri secara ekonomi, sesuai dengan arahan Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional.
BIMBINGAN TEKNIS PRODUKSI GULA CAIR BERBASIS SAGU DAN BER-ANTIOKSIDAN DAN ZAT BESI YANG TINGGI PADA PENGOLAH SAGU DI MORAMO, SULAWESI TENGGARA Jurnal Pepadu; Ansharullah Ansharullah; Muhammad Natsir; Tamrin Tamrin; Sitti Aida Adha Taridala
Jurnal Pepadu Vol 3 No 1 (2022): Jurnal PEPADU
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v3i1.2295

Abstract

Desa Lamokula Kabupaten Konawe Selatan merupakan salah satu sentra produksi sagu. Mitra pengolah sagu di daerah ini adalah Kelompok Usaha Bio Sagu Sejahtera, yang menjalankan usahanya sejak 10 tahun terakhir. Namun demikian, kondisi usahanya masih sangat sederhana, sehingga kualitas sagu yang dihasilkan masih rendah, pemasarannya terbatas, dan nilai jual ekonominya juga rendah. Oleh karena itu, Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengolah sagu tentang upaya diversifikasi produk dari tepung sagu segar menjadi gula cair yang mengandung antioksidan dan zat besi yang tinggi, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan nilai jualnya. Metode yang digunakan adalah dengan: sosialisasi kegiatan PKM pada kelompok usaha pengolah sagu, penyusunan rencana kegiatan, bimbingan teknis produksi dan manajemen usaha gula cair berbasis sagu, dan pendampingan dan pengawasan selama dan sesudah kegiatan PKM berlangsung. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa: masyarakat pengolah sagu di lokasi ini secara umum dan mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan telah memahami manfaat diversifikasi produk primer sagu terhadap peningkatan nilai tambah; mitra pengolah sagu lebih menyadari bahwa proses penanganan pasca panen dan pengolahan sagu yang baik akan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan; dan pengetahuan dan keterampilan dalam pembuatan gula cair ber-antioksidan dan mengandung zat besi tinggi dari mitra juga meningkat. Kegiatan ini masih memerlukan keberlanjutan sehingga dapat berproduksi secara komersial.
Pengaruh Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa Oleifera) Terhadap Kualitas Fisikokimia dan Organoleptik Roti Tawar Berbasis Terigu dan Sagu (Metroxylon sp.). Kadir, Kadir; Ansharullah, Ansharullah; Faradilla, RH Fitri
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 7, No 2 (2022): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.198 KB) | DOI: 10.33772/jstp.v7i2.25169

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of adding Moringa leaf flour to the organoleptic characteristics, nutritional contents, and antioxidant activity of wheat and sago-based bread. This study used a completely randomized design (CRD) with the formulations of flour, sago flour, and moringa leaf flour (89:10:1), (88:10:2), (87:10:3), and (86:10:4. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and continued with Duncan's multiple range test (DMRT) at a 95% confidence level (α=0.05). Meanwhile, the comparison analysis of control and selected treatment was done using the t-test. The results show that the addition of Moringa leaf flour had a very significant effect (P<0.01) on the increase in organoleptic tests of color, aroma, texture, taste, and overall. The most preferred bread based on organoleptic assessment was the D1 treatment (89% wheat: 10% sago: 1% Moringa leaf flour) with organoleptic assessment scores of color, aroma, texture, taste, and overall reached 3.92 (like), 3.61 (like), 3.84 (like), 3.77 (like), and 3.76 (like), respectively. The proximate values of the selected bread show that it contained 35.46 (% wt) water, 9.98 (% wt) protein, 4.16 (% wt) fat, and 48.5 (% wt) carbohydrates. The antioxidant activity value of D1 bread was 55.20% and the best IC50 value was 95.68 ppm. The results show that the bread made with the addition of Moringa leaf flour and sago flour was accepted (preferred) by panelists and had water, protein, fat, and carbohydrate contents that met the national standard. Keywords: Bread, Wheat Flour, Sago Flour, Moringa Leaf Flour. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh penambahan tepung daun kelor terhadap nilai organoleptik, nilai gizi dan aktivitas antioksidan roti tawar berbasis terigu dan sagu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan menggunakan formulasi terigu, sagu dan tepung daun kelor (89:10:1), (88:10:2), (87:10:3), (86:10:4). Data dianalisis menggunakan analysis of varian (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji duncan’s multiple range test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95 % (α=0,05), sedangkan untuk analisis perbandingan roti tawar kontrol dan perlakuan terpilih menggunakan uji (T-Tests). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung daun kelor berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap peningkatan uji organoleptik warna, aroma, tekstur, rasa dan keseluruhan (overall). Roti tawar terpilih berdasarkan penilaian organoleptik terdapat pada perlakuan D1 (89 % terigu : 10 % sagu: 1 % tepung daun kelor) dengan skor penilaian terhadap karakteristik organoleptik warna 3,92 (suka), aroma 3,61 (suka), tekstur 3,84 (suka), rasa 3,77 (suka) dan overall 3,76 (suka). Nilai proksimat dari produk roti tawar terpilih meliputi kadar air 35,46 (% bb), kadar protein 9,98 (% bb), kadar lemak 4,16 (% bb) dan kadar karbohidrat 48,5 (% bb). Nilai aktivitas antioksidan roti tawar D1 sebesar 55,20 % dan nilai IC50 terbaik sebesar 95,68 ppm. Berdasarkan hasil penelitian produk roti tawar dengan penambahan tepung daun kelor dan sagu dapat diterima (disukai) oleh panelis dan memiliki kadar air, kadar protein, kadar lemak dan kadar karbohidrat yang telah memenuhi standar SNI. Kata kunci: Roti Tawar, Tepung terigu, Tepung sagu, Tepung Daun Kelor.
MODIFIKASI DAN KARAKTERISASI TEPUNG UMBI UWI PUTIH (Discorea Alata) TERMODIFIKASI HMT (HEAT MOISTURE TREATMENT) Ongga, Sarfin; Ansharullah, Ansharullah; Hermanto, Hermanto
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 7, No 4 (2022): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.005 KB) | DOI: 10.33772/jstp.v7i4.27494

Abstract

ABSTRACTThis study aims to determine the effect of HMT (Heat Moisture Treatment) treatment on physical properties, modified white matter characterization, and the effect of HMT (Heat Moisture Treatment) on the proximate value of modified Dioscorea alata flour. This study used a completely randomized design (CRD) with nine treatments (temperature: hours), namely T1L1 (80: 3), T1L2 (80: 6), T1L3 (80: 9), T2L1 (85: 3), T2L2 (85: 6), T2L3 (85: 9), T3L1 (90: 3), T3L2 (90: 6), and T3L3 (90: 9), where the best treatment is obtained in the treatment of T3L1 (temperature 900C and duration of heating 3 hours). The results showed that the modification of the selected forage contained in the treatment of T3L1 (900C temperature and duration of heating 3 hours) had a very significant effect on the value of physical properties and the characteristic value of white tuber flour. The results showed the best treatment of modified T3L1 Dioscorea alata flour products (temperature 900c and length of exposure for 3 hours) with average physical values of viscosity, swelling power, and solubility of 22.47 cP, 5.08 g / g, 0.85%. As well as the analysis of the proximate value of Dioscorea alata flour including water content, ash content, fat content, protein content, and carbohydrate content of 5.38% (wb), 1.19% (db), 0.29% (db), 7.47% (db) and 85.67% bk. Based on the research results, the modified Dioscorea alata flour with a temperature of 90oC and a heating time of 3 hours (T3L1) conforms to SNI standards for water and protein content. Keywords: The tuber is white, Flour characterization, HMT (Heat moisture treatment)ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan HMT (Heat Moisture Treatment) terhadap karakteristik fisik dan nilai proksimat tepung uwi putih termodifikasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 9 perlakuan suhu lama proses HMT ( jam) yaitu T1L1 (80 : 3), T1L2 (80 : 6), T1L3 (80 : 9), T2L1 (85 : 3), T2L2 (85 : 6), T2L3 (85: 9), T3L1 (90 : 3), T3L2 (90 : 6), dan T3L3 (90 : 9). Hasil penelitian menunjukan bahwa pada modifikasi HMT yang terpilih terdapat pada perlakuan T3L1 (suhu 900C dan lama pemanasan 3 jam) berpengaruh sangat nyata terhadap nilai sifat fisik dan nilai karakteristik tepung umbi uwi putih. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa perlakuan terbaik produk tepung umbi uwi putih termodifikasi T3L1 (suhu 900c dan lama pemansan 3 jam) dengan rata-rata nilai karakteristik fisik berturut-turut viskositas, swelling power, solubility sebesar 22,47 cP, 5,08 g/g, 0,85%. Serta analisis nilai proksimat tepung umbi uwi putih berturut-turut meliputi kadar air, abu, lemak, protein, karbohidrat sebesar 5,38 %bb, 1,19 %bk, 0,29 %bk, 7,47 %bk, dan 85,67 %bk. Berdasarkan hasil penelitian tepung umbi uwi putih termodifikasi HMT dengan suhu 90oC dan lama pemanasan 3 jam (T3L1) telah memenuhi standar SNI pada kadar air dan kadar protein tepung.Kata kunci: Uwi putih, karakterisasi tepung, HMT
PENGARUH FORMULASI TEPUNG TALAS (Colocasia esculenta (L.) Schott), TEPUNG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) DAN PISANG SUSU (Musa acuminata) TERHADAP PENILAIAN ORGANOLEPTIK DAN KANDUNGAN GIZI BANANA BARS Paramita Idris, Sindy Pratna; Ansharullah, Ansharullah; Baco, Abdu Rahman; Wahyuni, Sri
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 7, No 5 (2022): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jstp.v7i5.28400

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of taro flour, kidney bean flour, and banana formulation on the organoleptic characteristics of banana bars. This study used a completely randomized design (CRD) with four formulations of banana, taro tuber flour, and kidney bean flour, which were B1 (50:5:45), B2 (50:10:40), B3 (50:15:35), and B4 (50:20: 30). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and continued with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at a 95% confidence level. The results show that the taro flour, kidney bean flour, and banana formulations increased color, aroma, and overall preference but decreased the texture and taste. The treatment had a very significant effect on the color and a significant effect on the aroma but no significant effect on the texture, taste, and overall preference of banana bars. Based on the organoleptic assessment, the best treatment was obtained by the B4 formulation with 20% taro flour, 30% kidney bean flour, and 50% banana with average assessment scores of color, aroma, taste, texture, and overall reaching 3.73 (like), 3.90 (like), 3.63 (like), 3.66 (like), and 3.80 (like), respectively. The proximate values of the selected banana bar show that it contained 16.28 (%ww) water, 4.71 (%dw) ash, 20.00 (%dw) protein, 36.88 (%dw) fat, and 38.40 (%dw) carbohydrates. The nutritional content of selected banana bars is better than commercial products. However, the carbohydrate content is lower than commercial products, and both meet emergency food standards. Keyword : banana bars, organoleptic, kidney bean flour , taro flour ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh formulasi tepung umbi talas dan kacang merah terhadap karakteristik organoleptik banana bars . Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan formulasi pisang, tepung umbi talas dan tepung kacang merah (50:5:45), (50:10:40), (50:15:35), (50:20:30). Data dianalisis menggunakan Analysis Of Varian (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi tepung talas, tepung kacang merah, dan pisang susu, terjadi peningkatan pada warna, aroma dan over all, dan terjadi penurunan pada tekstur dan rasa. Berpengaruh sangat nyata terhadap penilaian organleptik warna banana bars dan berperngaruh nyata terhadap penilaian organoleptik aroma banana bars namun berpengaruh tidak nyata terhadap penilaian organoleptik tekstur, rasa dan over all banana bars. Berdasarkan Penilain organoleptik perlakuan terbaik formulasi pembuatan banana bars ialah B4 dengan formulasi talas 20 %, kacang merah 30 % dan pisang 50% dengan skor penilaian terhadap karakteristik organoleptik warna 3,73 (suka), aroma 3,90 (suka), rasa 3,63 (suka), tekstur 3,66 (suka) dan over all 3,80 (suka). Nilai proksimat dari produk banana bars terpilih meliputi: kadar air 16,28 (%bb), kadar abu 4,71 (%bk), kadar protein 20,00 (%bk), kadar lemak 36,88 (%bk) dan kadar karbohidrat 38,40 (%bk). Kandungan gizi banana bars terpilih lebih baik dibandingkan bars komersil namun, kadar karbohidrat lebih rendah dibandingkan bar komersil dan keduanya telah memenuhi standar pangan darurat. Kata kunci: banana bars, organoleptik, tepung talas, tepung kacang merah
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Aan Wilhan Juliatmaja ABDU RAHMAN BACO, ABDU RAHMAN Abdul Kasim Abdul Kasim Abdul Madiki Achmad Noerkhaerin Putra ADRIANI ADRIANI Afa, Musadia Agusriyadin, Agusriyadin Ainun, Poppy alim, Usman Amelda Amelda Aminah Sagista Amirudin, Adinda Oktavia Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Anas, Adnan Andi Bahrun andi Dahlan ANDI KHAERUNI Anggraini, Sinta Angri, Evi Yuningsih Annisah Amaliah Aretzy, Alfia Asnani Asnani Asniar Asniar Aspira, Aspira Asranudin Asranudin, Asranudin Asri, Ahmad Aulia, Alung Magfira Auliana, Rana Ayunir, Maysuci Azhar Bafadal Budiarti, Asri Eka cengceng, cengceng Cerlyn, Cerlyn Damayanti, Rusna DEWI SARTIKA Dila, Muhammad Efendi, Sarina Elfira Hamidsu Erni Erni Erviani, Uni Fatmasari Fatmasari Fazira, Rahmi Febrianti Febrianti Fikram Firoh, Aji Mustaq Frisandi, Angga Angrullah Gata, Getwin Gusnawati, Gusnawati Haerul, Andi Haider, Mohamad Hajiana, Hajiana Halida Rusdin HALIMATUSSADIYAH -, HALIMATUSSADIYAH Hamzah, Hidayat Eka Putra Hardianti Hardianti, Hardianti Hariati, N Harsyam, Diah Islamyati Hasriamin, Hasriamin Hayastika, Hayastika Helviani, Helviani Herman, Sriyana Hermanto Hermanto Hidayati Hidayati Holuke, Solodius HS, Gusnawati Husni, Ratu Asri Octavianny Ibrahim, Moh Nuh Ibrahim, Moh. Nuh Indriany, Iin Trisni Irianto, Fitri Amelia Irmawati Irmawati Isamu, Kobajashi T Isamu, Kobajashi Togo Jamhari Jamhari jufri, Nurnashriana Jurnal Pepadu Kadir Kadir Kusumawati, Resky La Aba La Aba La Karimuna La Ode Liaumin Azim La Ode Nafiu La Rianda Lakawa, Stefiana Yunisa Lestari, Mawadda Sri Lestari, Wa Ode Mazwin Lestari, Yuyun Dwi Majido, Rusni Mariani L Marsuki Iswandi Mashuni Mashuni Maslin, Shintya MAULIDIYAH -, MAULIDIYAH Mekuo, Febrianto Nur Meliani, Sri Minaula, Magnalia Miranti, Misra mondo, Firdawati Muh Syukri Sadimantara, Muh Syukri Muh. Obi Kasmin Muhammad Agus Muljanto Muhammad Natsir Muhammad Natsir Muhammad Natsir Muhammad Natsir Muhammad Nurdin Muhammad Nurdin Muhtar Amin Musfiroh, Dinda Aisyah Musrin Musrin Muzuni, Muzuni nufusi, hayatun Nur Asyik Nur Asyik, Nur Nur Muhammad Abdillah Saenuddin Nur Salam Nurlin Nurlin, Nurlin Nursafani, Nursafani Nursalam Nursalam Nursalam, Nursalam Nurwahida Nurwahida, Nurwahida Oktaviani, Endang Ongga, Sarfin Paramita Idris, Sindy Pratna Patadjai, Andi Besse Pratiwi, Ariana R, St Rahmi Radhiansyah, Muhammad Rahayu Rahayu Rahayu, Dwi Novita Rahman, Siti Ayu Rahman, Wasti La Ramadhani, Dwirizqa Tiara Rani, Wa rekapangan, Asfianty Reski Awaliah, Reski Restu Libriani RH. Fitri Faradilla RH. Fitri Faradilla Rina Pratiwi Pudja I. A Rinda, Rinda Risman Risman Rosnavin, Rosnavin Rosniatin, Rosniatin Rustan, Novani Dwiyanti S Siswanto Sadimantara, Muhammad Syukri sadimantara, muhammad syukri Saenuddin, Nur Muhammad Abdillah Safitri, Febriani Safitri, Neli Elika Sain Salin, Emilia Samsia, Samsia Santi, Resy Maya Saputra, Ipran Saputra, Zaldi Dwi Sari J, Yesti Sari, Alan Mayang Sari, Elvina Sari, Lilis Ratna Sarina, Wa Ode Sarinah, Sitti Sarma, Irfan Santosa Sartia Sartina, Sartina Satriadin, Satriadin Sitti Aida Adha Taridala Sitti Aida Adha Taridala Sri Damayanti Sri Rejeki Sri Rejeki SrI Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sumarni Sumarni Susanto, Eki Tri Suwarjoyowirayatno, Suwarjoyowirayatno Tambunan, Kartini Tamrin Tamrin Tamrin Tamrin Tamrin Tamrin Tamrin Tamrin Tamrin Taridala, Aisyah Ainun Mataomehe Taswin Taufiq R, Muhammad Umar, Muhammad Isfan Utami, Andi Pratiwi Vatma, Ona Sri Wahab, Djukrana Widyanti, Andi Wiranty, Effy yanti, Lilma Yuda Arjawa, I Made Adi Yuli Purbaningsih Yundari, Yundari Yuningsih Angri, Evi Alva Yuningsih, Salmawati Yunita, Selvi Yuspitasari, Gian Zarnila, Zarnila