Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

FORMULASI DAN UJI ANTIDIARE SEDIAAN PATCH TRANSDERMAL EKSTRAK DAUN SENGGANI (Melastoma malabathricum L.) TERHADAP KELINCI Winata, Hanafis Sastra; Abadi, Hafizhatul; Leny, Leny; Andry, Muhammad; Ngete, Ani Florida; Yudianto, Tri; Nurjanah, Ayu; Pamungkas, Barolym Tri; Gumilar, Roni
AGRIBIOS Vol 22 No 2 (2024): November
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/agribios.v22i2.5494

Abstract

One plant that has been used for traditional medicine with good results is Melastoma (Melastoma malabatricum L.). The plant known as Melastoma has three active compounds: tannins, saponins, and flavonoids. Melastoma leaves work well to cure diarrhoea. Adhesive patches with medication applied topically are called transdermal patches. Melastoma leaf extract transdermal patch formulations were utilised in this study, which employed laboratory experimental techniques. The potential of Melastoma leaf extract transdermal patch preparation formula as an antidiarrheal for rabbits was the subject of the study. Concentrations of extract: 10%, 20%, and 30%. Organoleptic testing, pH tests, weight uniformity tests, moisture tests, thickness tests, and fold resistance tests were the preparatory assessment parameters that were conducted. The characteristics of the antidiarrheal test were timing of diarrhoea occurrences, consistency of the stool, frequency of diarrhoea, and length of diarrhoea, all of which were monitored for six hours. The evaluation of the Melastoma leaf extract transdermal patch formulation demonstrated a significant difference, namely <0.05, according to the results of the ANOVA data analysis. The antidiarrheal test parameters had a significant difference between each concentration, namely <0.05, according to the findings of the ANOVA data analysis. The conclusions was possible to use a transdermal patch formulation of Melastoma leaf extract (Melastoma malabathricum L.) at a 30% concentration to prevent diarrhoea by making stools softer.
Formulasi dan Uji Efektivitas Sediaan Lulur Krim dari Ekstrak Etanol Limbah Kulit Buah Coklat (Theobroma cacao L) Leny, Leny; Chan, Adek; Diana, Vivi Eulis; Syahputri, Susi
Jurnal Pembaruan Kesehatan Indonesia Vol. 1 No. 2 (2024): JULY
Publisher : Kabar Gizi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62358/86xjaf11

Abstract

Tanaman coklat atau biasa disebut kakao (Theobroma cacao L) merupakan salah satu tanaman yang kaya akan senyawa antioksidan, kandungan flavonoid dan polifenol yang dapat dijadikan sumber antioksidan. Tujuan penelitian untuk memanfaatkan limbah kulit buah coklat (Theobroma cacao L.) yang diekstraksi dengan etanol kemudian diformulasikan ke dalam bentuk sediaan lulur krim dan diuji kemampuan melembabkan dan menghilangkan noda pada kulit. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental laboratorium. Sampel dikumpulkan secara purposive yaitu limbah kulit buah coklat (Theobroma cacao L) yang diambil dari kebun coklat yang terletak di desa silo bonto, kec. Silau laut, kab. Asahan. Data yang diperoleh dipenelitian ini adalah peningkatan Moisture dan penurunan Pigmen menggunakan alat skin analyzer. Data yang diperoleh dari hasil penelitian diolah dengan statistik yaitu dengan uji dilanjutkan dengan uji tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan lulur krim bertekstur semi padat, berwarna coklat hingga coklat kehitaman dan beraroma khas coklat. Sediaan memiliki tekstur yang homogen dengan butiran lulur yang tersebar merata, mempunyai pH (6-7) dan tidak mengiritasi kulit sukarelawan. Sediaan lulur krim dengan konsentrasi ekstrak etanol limbah kulit buah coklat (Theobroma cacao L) mampu memberikan efek dalam melembabkan dan menghilangkan noda pada kulit dengan konsentrasi 6%, 9%, dan 12%. Konsentrasi yang paling efektif dalam memberikan efek melembabkan dan menghilangkan noda adalah pada konsentrasi 9%, karena hasil perbandingan antara konsentrasi 9% dengan F0  menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (sig<0,05).
Analisis Perbandingan Perawatan Tali Pusat Menggunakan Kassa Steril dan Dibiarkan Terbuka dengan Lama Lepas Tali Pusat leny, leny; Tirta Anggraini
JURNAL KEBIDANAN AKADEMI KEBIDANAN BUDI MULIA PALEMBANG Vol 13 No 1 (2023): Jurnal Kebidanan : Jurnal Ilmu Kesehatan Budi Mulia
Publisher : STIKes Budi Mulia Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.69 KB) | DOI: 10.35325/kebidanan.v13i1.345

Abstract

Perawatan tali pusat merupakan perawatan bayi baru lahir yang bertujuan mencegah dan mengidentifikasi perdarahan atau infeksi secara dini agar tetap kering dan mencegah terjadinya infeksi. World Health Organisasion (WHO) tahun 2019 jumlah kematian bayi baru pada tahun 2018 berjumlah 18 per 1.000 kelahirah hidup .Tujuan Penelitian Untuk mengetahui analisis perbandingan kassa steril dan dibiarkan terbuka dengan lama lepas tali pusat di Klinik Budi Mulia Medika Tahun 2022 . Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu-ibu yang di rawat inap ke Klinik Budi Mulia Medika Tahun 2023 dari Januari – Maret 2023 sebanyak 60 orang . Sampel dalam penelitian sebanyak 30 orang. Penelitian ini menggunakan desain Quasi Eksperimen dengan variabel bebas (kassa steril dan dibiarkan terbuka) dan variabel terikat( lama lepas tali pusat). Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat dan Bivariat dengan uji-T. Hasil uji statistic dengan menggunakan uji-T didapatkan nilai p value = 0,670 berarti nilai < alpa 0,05 yang artinya tidak ada perbedaan antara perawatan tali pusat menggunakan kassa steril dengan lama lepas tali pusat dan `nilai p value = 0,000 berarti nilai p value> alpa 0,05 disimpulkan bahwa ada perbedaan antara perawatan tali pusat dibiarkan terbuka dengan lama lepas tali pusat dimana di dapatkan bahwa tali pusat yang di biarkan lebih cepat proses penyembuhan di bandingkan dengan dengan yang di berikan kain kassa.
Inovasi Penggunaan Limbah Kulit Nanas (Ananas comosus L) untuk Bedak Tabur dan Bedak Padat yang Ramah Lingkungan Leny, Leny; Nasution, Meiliza Putri; Iskandar, Benni; Sari, Melia
Majalah Farmasetika Vol 10, No 6 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v10i6.67309

Abstract

Nanas merupakan buah yang populer dikalangan masyarakat lokal maupun Internasional karena rasanya enak. Kulit nanas mengandung flavonoid, karotenoid, dan vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan. Cahaya ultraviolet (UV) dapat meningkatkan pembentukan sejumlah senyawa reaktif atau radikal bebas pada kulit sehingga dibutuhkan senyawa dengan kemampuan antioksidan untuk mengurangi efek yang merugikan dari radikal bebas. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental, meliputi penyiapan sampel, pembuatan ekstrak, pembuatan sediaan bedak tabur dan bedak padat dan evaluasi stabilitas fisik sediaan. Analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan menghitung persentase tingkat kesukaan sukarelawan dari data uji hedonik kemudian disajikan dalam bentuk tabulasi dan diagram batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan bedak tabur bertekstur halus, berwarna putih pucat hingga cream tua. Derajat kehalusan berkisar 6,6 , tidak terdapat butiran kasar, tidak menimbulkan iritasi. Hasil uji cycling test menunjukkan sediaan stabil. Pada uji hedonik, F1 merupakan sediaan bedak tabur yang paling disukai dengan persentase sebesar 86,67% karena memiliki tekstur ringan dan mudah diaplikasikan ke kulit. Pada sediaan bedak padat berbentuk compact, berwarna cream hingga coklat, tidak terdapat butiran kasar, tidak menimbulkan iritasi. Namun pada hasil uji cycling test, F0 tidak stabil karena mengalami keretakan. Pada uji hedonik diperoleh sediaan F2 yang paling disukai dengan persentase sebesar 88,33% memiliki warna yang mudah merata ketika diaplikasikan ke kulit. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak etanol limbah kulit nanas dapat diformulasikan kedalam sediaan bedak tabur dan bedak padat dan mempunyai efek sebagai pemberi pigmen warna pada kulit dan mampu menjaga kulit dari paparan sinar UV. 
Pengaruh Ekstrak Daun Nanas Terhadap Pertumbuhann Candida albicans Dan Malassezia furfur Dalam Bentuk Sediaan Shampo Herbal Abadi , Hafizhatul; Khairani , Tetty Noverita; Fitri, Khairani; Diana, Vivi Eulis; Leny, Leny; Hasibuan, Amalia Juliani
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 8 Nomor 4 (2025)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v8i4.1181

Abstract

Background: Dandruff is a common scalp problem often caused by the overgrowth of fungi such as Candida albicans and Malassezia furfur. Pineapple leaves (Ananas comosus (L.) Merr.) are known to contain active antifungal compounds, such as alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins, making them a potential active ingredient for anti-dandruff preparations. Objective: This study aimed to formulate an herbal anti-dandruff shampoo using pineapple leaf ethanol extract and to evaluate its effectiveness in inhibiting the growth of Candida albicans and Malassezia furfur. Methods: This experimental research used the disc diffusion method with PDA and SDA media to test antifungal inhibition. The shampoo preparations were formulated with varying extract concentrations (10%, 20%, 30%). The evaluation of the preparations included organoleptic tests, homogeneity, pH, foam height, viscosity, stability (cycling test), skin irritation, and hedonic tests. Results: The resulting shampoo preparation had a blackish-brown color, liquid form, and a menthol odor. Evaluation results showed the preparation was homogeneous, with pH values (5.0-5.8), foam height, and viscosity meeting the requirements. The preparation was also stable during the cycling test and did not cause irritation. The antifungal activity test showed that increasing the extract concentration increased the inhibitory power. The formula with a 30% concentration (F3) provided the greatest inhibition against Candida albicans (average 15.76 mm) and Malassezia furfur (average 15.9 mm), which is categorized as strong. Conclusion: Pineapple leaf ethanol extract was successfully formulated into an effective herbal anti-dandruff shampoo preparation, with the 30% concentration being the most optimal. It is recommended that further research investigate the antifungal activity of this extract against other types of fungi and in different dosage forms.