Claim Missing Document
Check
Articles

Awake Intubation in Patient with Superoanterior Mediastinal Mass and Superior Vena Cava Syndrome (SVCS): A Case Report Ery Oktadiputra; I Putu Fajar Narakusuma; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p05

Abstract

Superior vena cava syndrome (SVCS) with airway compression is challenging in anesthesia management. We report the case of a 69-year-old man with a superoanterior mediastinal mass and grade 3 SVCS who underwent Video-Assisted Thoracoscopic Surgery (VATS) with awake intubation using a double lumen tube (DLT) and videolaryngoscope. Awake intubation was chosen as the safest anesthesia technique where patients still breathe spontaneously without experiencing the effects of deep sedation. The combination of 4% lidocaine nebulization, oropharyngeal lidocaine spray, and dexmedetomidine infusion (0.5 μg/kg bolus over 10 minutes followed by 0.3-0.6 μg/kg/hour during surgery) in this patient, successfully maintained spontaneous ventilation without hemodynamic complications. The use of nebulized lidocaine, lidocaine spray, and dexmedetomidine as intubation facilities showed excellent effectiveness by maintaining the patient's spontaneous breathing, increasing the pain threshold, suppressing the nausea-vomiting reflex, and providing comfort in the form of mild sedation during awake intubation. This approach emphasizes the importance of topical anesthesia and selective sedation in high-risk patients with airway difficulties.
Managemen Anestesi pada Congenital Diapragmatic Hernia dengan Ventrikel Septal Defek dan Atrium Septal Defek pada Pasien Pediatrik : Laporan Kasus Mauritius Septa; Adinda Putra Pradhana; I Putu Kurniyanta; Ketut Wibawa Nada; Novandi Kurniawan; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p06

Abstract

Congenital diaphragmatic hernia (CDH) merupakan kelainan kongenital pada diafragma yang terjadi pada pediatri. Insiden terjadinya hernia tipe Borchdalek lebih sering terjadi pada sisi kiri dari pada sisi kanan. Penyulit lain pada CDH adalah hipoplasia paru, hipertensi paru dan kelainan pada jantung. Pada kasus ini kami mendiskusikan bayi 12 hari dengan kelainan CDH sisi kanan dengan kelainan jantung berupa ventrikel septal defek (VSD) dan atrium septal defek (ASD) yang dilakukan operasi laparotomi hernia. Manajemen anestesi pada pasien ini menggunakan  inhalasi sevoflurane, fentanil, volume tidal rendah, obat inotropik dengan kondisi hemodinamik yang stabil selama pembedahan. Kami melaporkan management anestesi dengan  sevoflurane yang dikombinasi dengan volume tidal rendah dan inotropik dobutamine pada operasi congenital diaphragmatic herdia dengan VSD dan ASD membantu dalam keberhasilan intraoperatif. Setelah operasi, pasien dilakukan perawatan di NICU untuk  perawatan secara ketat.
External Oblique Intercostal Plane Block (EOIPB) sebagai Tambahan Analgesia Multimodal Pasca Laparoskopi Kolesistektomi: Tinjauan Naratif David Rendra Mahardika; Made Agus Kresna Sucandra; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p07

Abstract

Pendahuluan: Nyeri pascaoperasi, terutama setelah kolesistektomi laparoskopi, adalah masalah signifikan yang meningkatkan morbiditas dan memperpanjang masa rawat inap. Penanganan nyeri sering kali melibatkan opioid sistemik yang memiliki efek samping merugikan. Oleh karena itu, pendekatan analgesia alternatif yang minim opioid sangat dibutuhkan. Tinjauan naratif ini bertujuan mengevaluasi efektivitas External Oblique Intercostal Plane Block (EOIPB) sebagai tambahan analgesia multimodal pasca kolesistektomi laparoskopi, berfokus pada kualitas analgesia, pemulihan pasien, dan respons inflamasi sistemik. Metode: Tinjauan naratif ini didasarkan pada penelusuran literatur terstruktur dari PubMed, Scopus, ScienceDirect, Cochrane Library, dan Google Scholar. Pencarian menggunakan kombinasi kata kunci seperti "external oblique intercostal plane block", "laparoscopic cholecystectomy", "postoperative pain", "quality of recovery", "neutrophil to lymphocyte ratio", dan "platelet to lymphocyte ratio". Publikasi dibatasi pada tahun 2019–2024, berbahasa Inggris atau Indonesia. Kriteria inklusi meliputi studi primer peer-reviewed (RCT, kohort, observasional) yang mengevaluasi EOIPB atau blok interfasial sebanding, serta melaporkan skor nyeri pascaoperasi, konsumsi opioid, skor quality of recovery (QoR-15), dan/atau nilai neutrophil to lymphocyte ratio (NLR) / platelet to lymphocyte ratio (PLR). Hasil: EOIPB secara konsisten memperpanjang durasi analgesia, menurunkan intensitas nyeri dengan skor visual analog scale (VAS), dan mengurangi konsumsi opioid pascaoperasi secara signifikan. Studi juga menunjukkan profil keamanan EOIPB yang baik dengan insiden efek samping minimal. Bupivakain, agen anestesi lokal yang umum digunakan, tidak hanya memblok transmisi nyeri tetapi juga menunjukkan sifat anti-inflamasi. Meskipun demikian, terdapat heterogenitas dalam teknik dan jenis anestesi yang digunakan antar studi. Kesimpulan: EOIPB adalah teknik blok interfasial yang efektif dan aman untuk manajemen nyeri pasca kolesistektomi laparoskopi, memberikan analgesia yang lebih baik dan mengurangi kebutuhan opioid. Namun, masih diperlukan penelitian lanjutan berskala besar, terstandarisasi, dan multicenter untuk memperkuat bukti ilmiah dan mengevaluasi dampak jangka panjangnya.
RENAL RESISTIVE INDEX (RRI) GUIDED BY ULTRASOUND (USG) AS A DIAGNOSTIC PREDICTOR OF ACUTE KIDNEY INJURY IN SEPSIS PATIENTS Satria Pinanditas S; Putu Agus Surya Panji; I Made Gede Widnyana; I Wayan Suranadi; Tjahya Aryasa EM; I Made Agus Kresna Sucandra; Made Wiryana; Tjokorda Gde Agung Senapathi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27245

Abstract

This study is an observational analytical study with a cross-sectional design conducted in the intensive care unit of RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah from January 2024 until completion. The study population consisted of patients aged 18-65 years who met the criteria for sepsis diagnosis without chronic kidney disease. Data analysis was performed using SPSS version 26, including descriptive analysis, ROC curve, diagnostic test, and correlation analysis. The mean RRI at 0 hours was ±SB 0.78±0.68 cm/s for the AKI group and ±SB 0.60±0.08 cm/s for the non-AKI group. The mean RRI at 6 hours was ±SB 0.77±0.65 cm/s for the AKI group and ±SB 0.60±0.08 cm/s for the non-AKI group. The cut-off point for RRI at 0 hours was ?0.70 cm/s, with a sensitivity of 84.6%, specificity of 88.9%, accuracy of 86.4%, PPV of 91.7%, and NPV of 80%, with a relative risk of AKI of 4.58 times (95% CI 1.89-11.10; P<0.001). Meanwhile, for RRI at 6 hours, the cut-off point was also ?0.70 cm/s, with a sensitivity of 88.5%, specificity of 88.9%, accuracy of 88.6%, PPV of 92%, NPV of 84.2%, and a relative risk of AKI of 5.83 times (95% CI 2.05-16.56; P<0.001). The correlation coefficient between RRI at 0 hours and serum creatinine was r=0.380, p=0.011, while for RRI at 6 hours, it was r=0.393, p=0.008. RRI at 0 hours showed a correlation with urine production with r=-0.428, p=0.004, while for RRI at 6 hours, it was r=-0.540, p<0.001. In conclusion, RRI guided by ultrasound is a good diagnostic predictor for acute kidney injury in sepsis.
EFFECTIVENESS OF BILATERAL ERECTOR SPINAE PLANE BLOCK VERSUS TRANSVERSUS ABDOMINIS PLANE AS ANALGESIA AFTER GYNECOLOGIC LAPAROTOMY Anak Agung Gde Agung Adistaya; Tjahya Aryasa E M; I Gede Budiarta; I Made Gede Widnyana; I Wayan Aryabiantara; IGAG Utara Hartawan; Made Wiryana; Tjokorda Gde Agung Senapathi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27247

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas blok ESP dan TAP terhadap durasi efek analgesik pasca operasi, nyeri pasca operasi, total konsumsi opioid pasca operasi, dan perubahan dalam nilai Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR) sebelum dan sesudah operasi laparatomi ginekologi. Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni (eksperimental sejati). Desain penelitian yang digunakan adalah uji acak tunggal tersamar. Subjek penelitian adalah pasien berusia 18-65 tahun yang menjalani operasi laparatomi ginekologi di ruang operasi Instalasi Bedah Pusat. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS versi 26 termasuk analisis deskriptif dan uji perbandingan rata-rata menggunakan uji t independen. Blok ESP memiliki durasi analgesik yang lebih lama dengan rata-rata 6.13 ± 3.30 jam sedangkan TAP memiliki durasi analgesia sebesar 3.93 ± 1.98 jam, dengan perbedaan rata-rata sebesar 2.18 jam (IK 95% 0.22-4.15 jam; p = 0.030). Terdapat perbedaan pada skala VAS pada 6, 12, 24, dan 48 jam dengan hasil ESP lebih rendah dari TAP. Rata-rata kebutuhan morfin pada blok ESP adalah 1.62 ± 0.71 mg dan kelompok TAP dengan total kebutuhan rata-rata ± SB 3.31 ± 1.74 mg, perbedaan yang diperoleh adalah 1.68 mg (IK95% 0.72-2.64 mg; p = 0.001). Hasil perbedaan nilai perubahan NLR antara sebelum dan sesudah operasi antara blok ESP bilateral dan TAP ditemukan memiliki perbedaan yang signifikan dengan perbedaan rata-rata sebesar 0.36 (IK 95% 0.04-0.69; P=0.029). Kesimpulan dari penelitian ini adalah blok ESP memiliki efektivitas yang lebih baik dibandingkan dengan blok TAP sebagai analgesia setelah operasi laparatomi ginekologi.
THE EFFECTIVENESS OF GREATER AURICULAR NERVE (GAN) BLOCK USING ISOBARIC ROPIVACAINE AS AN ANALGESIC ADJUVANT AS COMPARED TO INTRAVENOUS OPIOID AS ANALGESIA FOR MIDDLE EAR SURGERY Tirta, Ian; Widnyana, I Made Gede; Sinardja, Cynthia Dewi; Putra, Kadek Agus Heryana; Parami, Pontisomaya; Suarjaya, I Putu Pramana; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas Blok Saraf Aurikular Besar menggunakan ropivakain isobarik terhadap jumlah penggunaan opioid selama dan setelah operasi, penilaian hemodinamik, intensitas nyeri, dan penilaian respons mual dan muntah post-operatif. Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni (eksperimental sejati). Desain penelitian yang digunakan adalah uji acak terkontrol buta tunggal (RCT). Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 48 pasien berusia di atas 18 tahun hingga 65 tahun yang menjalani operasi telinga bagian tengah-bagian dalam di Rumah Sakit Prof IGNG Ngoerah, Denpasar. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 26 untuk uji t-tidak tergantung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fentanyl P1 adalah 77,08 ± 32,90 mg dan P0 adalah 97,92 ± 37,53 mg, p = 0,003. Kebutuhan morfin ditemukan dalam 3 jam, P1 adalah 0,58 ± 0,77 mg dan P0 ditemukan menjadi 1,04 ± 0,69 mg, p < 0,001. Kebutuhan morfin 6 P1 adalah 0,79 ± 0,72 mg dan P0 ditemukan menjadi 2,63 ± 1,27 mg, p < 0,001. Kebutuhan morfin selama 24 jam P1 adalah 1,50 ± 1,14 mg dan P0 ditemukan menjadi 3,92 ± 1,66 mg, p < 0,001. Intensitas nyeri ditemukan lebih rendah pada 3, 6, 12, 18, dan 24 jam pada P1 (p <0,05). Perbaikan hemodinamik > 20% pada P0 ditemukan pada 15, 30, 60, dan 120 menit, sedangkan kelompok P1 ditemukan stabil (p <0,001). Skor mual dan muntah selama 24 jam P1 adalah 1,92 ± 1,01 dan P0 adalah 2,75 ± 1,03, p = 0,007.
THE EFFECTIVENESS OF POSTOPERATIVE PERICAPSULAR NERVE GROUP ANALGESIA BLOCK IN PATIENTS UNDERGOING TOTAL HIP REPLACEMENT WITH REGIONAL ANESTHESIA SUBARACHNOID BLOCK I Gede Prima Julianto; I Made Gede Widnyana; Kadek Agus Heryana Putra; I Ketut Wibawa Nada; I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa; Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan; Made Wiryana; Tjokorda Gde Agung Senapathi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27258

Abstract

Penggunaan blok saraf kelompok perikapsular (PENG) dapat menjadi alternatif analgesia post-operatif yang efektif untuk Penggantian Sendi Panggul Total, dengan komplikasi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas analgesia blok PENG terhadap tingkat nyeri, jumlah konsumsi opioid dalam 24, 48, dan 72 jam serta analgesia post-operatif THR di Rumah Sakit Prof. Dr. I. G. N. G. Ngoerah Denpasar. Penelitian ini adalah studi eksperimental dengan desain uji acak terkontrol buta tunggal yang dilakukan di ruang operasi Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Prof. Dr. I. G. N. G Ngoerah, Denpasar. Uji perbandingan rata-rata menggunakan uji Mann-Whitney jika distribusi data tidak normal. Seluruh proses analisis data di atas menggunakan perangkat lunak statistik SPSS 26. Ada 48 subjek yang menjalani THR dan dibagi menjadi 2 kelompok. Ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok-kelompok tersebut. Berdasarkan hasil analisis non-parametrik, NRS saat istirahat dan bergerak di kelompok perlakuan lebih rendah daripada kontrol dengan nilai p <0,001. Jumlah opioid yang diperoleh memiliki nilai p <0,001 dalam 24 jam pertama, 48 jam, dan 72 jam. Durasi efek ditemukan lebih lama pada kelompok PENG dibandingkan dengan kontrol (p <0,001). Pemberian blok PENG selama prosedur THR menghasilkan NRS yang lebih rendah pada 24 jam, penggunaan opioid yang lebih rendah pada 24 jam, 48 jam, dan 72 jam pascaoperatif, dan durasi efek bebas nyeri yang lebih lama.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANALGESIA PASCAOPERASI BLOK SUBKOSTAL TRANSVERSUS ABDOMINIS (STA) DENGAN OPIOID INTRAVENA PADA PASIEN OPERASI LAPAROSKOPI KOLESISTEKTOMI DI RSUP PROF. DR. I.G.N.G. NGOERAH DENPASAR Wardani, Dinar Kusuma; Sidemen, I.G.P.Sukrana; Hartawan , I.G.A.G. Utara; Widnyana, I Made Gede; Parami, Pontisomaya; EM, Tjahya Aryasa; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27260

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedakan efektivitas antara blok STA dengan opioid intravena sebagai analgesia pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar. Penelitian ini merupakan sebuah uji coba prospektif, acak, terkendali dan single-centered. Sebanyak 60 subjek pasien yang menjalani tindakan operasi laparoskopi dibagi menjadi 2 kelompok denganpemberian tindakan STA dan tanpa STA. Analisis data dillakukan dengan bantuan SPSS versi 36 meliputi uji Chi Square, independent t tets dan Mann Whitney. Hasil penelitian bahwa Blok STA pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi memiliki intensitas nyeri dengan NRS pada jam ke 6, 12 dan 24 lebih rendah dibandingkan dengan yang hanya mendapatkan opioid intravena dengan nilai p<0,001. Blok STA memiliki total waktu pemberian analgesik rescue pertama 6,67±2,39 jam dan tanpa STA 1,87±0,81 jam dengan perbedaan 4,80 jam (IK95% 3,87-5,72; p<0,001). Blok STA memiliki jumlah muntah dalam 24 jam dengan rerata 0,50±0,97 kali dan tanpa STA 3,27±1,79 kali dengan perbedaan 2,76 kali (IK95% 2,01-3,51; p<0,001). Blok STA memiliki hasil NLR dengan rerata 2,52±1,71 dan tanpa STA 4,64±2,90 dengan perbedaan 2,12 (IK95% 0,89-3,35; p=0,001). Nilai NLR antara sebelum dan sesudah kelompok STA menurun sebesar 1,27±2,64 sedangkan kelompok tanpa STA meningkat rerata 1,33±1,87 dengan perbedaan 2,61 (IK 1,43-3,80; P<0,001). Tindakan blok STA dapat menurunkan efek nyeri, mual-muntah dan durasi analgetik lebih panjang dengan nilai NLR lebih rendah pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi dibandingkan dengan tanpa STA.
COMPARISON OF SEVOFLURANE WITH PROPOFOL ON THE INCIDENCE OF EMERGENCE AGITATION AFTER GENERAL ANAESTHESIA IN PAEDIATRIC PATIENTS UNDERGOING LAPARATOMY SURGERY AT RSUP PROF. DR. I. G. N. G. NGOERAH Giovanni, Malvin; Suarjaya, I Putu Pramana; Kurniyanta, I Putu; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Suranadi , I Wayan; Widyana, I Made Gede; Putra, Kadek Agus Heryana
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27269

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa perbandingan antara penggunaan sevofluran dan propofol sebagai obat pemeliharaan anestesi dapat mengurangi insiden AK pada pasien pediatrik yang menjalani operasi laparotomi di RS PROF. Dr. I.G.N.G. Ngoerah. Penelitian ini adalah studi kohort prospektif yang dilakukan pada 84 pasien berusia 3-12 tahun dengan ASA I-II yang menjalani operasi laparotomi. Semua pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima pemeliharaan anestesi dengan sevofluran dan kelompok yang menerima pemeliharaan anestesi dengan propofol. Setelah anestesi dari awal ekstubasi hingga 1 jam di ruang pemulihan, pasien diperiksa dan dicatat apakah terjadi AK menggunakan Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED) dan tingkat keparahannya. Jika skornya > 12, pasien diindikasikan mengalami AK. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbandingan penggunaan obat pemeliharaan anestesi menggunakan propofol dan sevofluran terhadap insiden AK dan ditemukan bahwa 21,4% dari kelompok yang menggunakan propofol mengalami AK, dan 59,5% dari kelompok yang menggunakan sevofluran mengalami AK, nilai p <0,001 dengan OR 5,392; 95% CI [2.06 - 14.09]. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa semakin muda usia meningkatkan risiko insiden AK dibandingkan dengan anak-anak yang lebih tua. Propofol secara signifikan mengurangi insiden Agitasi Kebangkitan (AK) dibandingkan dengan sevofluran pada pasien pediatrik yang menjalani operasi laparotomi di RS PROF. Dr. I. G. N. G. Ngoerah.
AWAKE FIBEROPTIC INTUBATION WITH SAYGO APPROACH ON A PATIENT WITH SEVERE ANTERIOR MENTOSTERNAL CONTRACTURE (ONAH TYPE III) UNDERGOING RECONSTRUCTION SURGERY Ferry, Ferdinand; Labobar, Otniel Adrians; Ratumasa, Marilaeta Cindryani Ra; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.30091

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas teknik intubasi fiberoptik pada pasien terjaga (Awake Fiberoptic Intubation, AFOI) dalam manajemen jalan napas pada pasien dengan kontraktur leher parah akibat jaringan parut pasca luka bakar. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif untuk menggambarkan secara rinci manajemen anestesi dan intervensi bedah pada pasien dengan kontraktur leher parah akibat jaringan parut pasca luka bakar. Subjek penelitian adalah pria berusia 35 tahun dengan riwayat luka bakar yang menyebabkan kontraktur leher dan deformitas sekunder pada wajah. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan fisik, evaluasi radiografi, dan penilaian menggunakan kriteria seperti MOANS, LEMON, RODS, dan SMART untuk menilai tantangan yang dihadapi pasien. Data terkait manajemen anestesi, proses intubasi, dan intervensi bedah dicatat secara rinci selama operasi, termasuk tanda vital, pemberian obat, dan hasil intraoperatif. Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan kondisi klinis pasien sebelum dan sesudah intervensi, serta untuk mengevaluasi efektivitas prosedur anestesi dan bedah yang dilakukan. Hasil analisis akan disajikan dalam bentuk naratif, didukung oleh gambar klinis preoperatif, evaluasi radiografi, dan hasil postoperatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa berbagai tes dapat memprediksi jalan napas sulit, dan kasus ini dapat dikelola sesuai pedoman ASA. Teknik AFOI, yang mencakup premedikasi, anestesi lokal, dan sedasi, memiliki tingkat keberhasilan tinggi dan risiko komplikasi rendah. Topikalisasi yang tepat dan infus dexmedetomidine efektif menumpulkan refleks jalan napas dan menjaga stabilitas hemodinamik. Dalam kasus ini, AFOI berhasil dilakukan melalui lubang hidung kiri dengan pasien tetap tenang, terjaga, dan kooperatif.
Co-Authors A A Gde Putra Semara Jaya Adi, Made Septyana Parama Adinda Putra Pradhana Anak Agung Gde Agung Adistaya Andi Irawan Andi Kusuma Wijaya, Andi Anggreni, Anak Agung Ayu Aprilnita, Aida Aryasa EM, Tjahya Astawa N. M., Astawa N. Astawa P., Astawa Astuti, Mira Kusuma Astuti, Mira Kusuma Bayu Saputra, Ida Bagus Prema Satia Brillyan Jehosua Toar Budiadnyana, I Made Pasek Budiarta, Gede Cahyono, Ardy Wibowo Christopher Ryalino Christopher, Michael Cindryani Ra Ratumasa, Marilaeta Cung Flavyanto, Eugenius Silvester Cynthia Dewi Sinardja D.H., Asterina David Rendra Mahardika Dewa Ayu Mas Shintya Dewi Dewi, Dewa Ayu Mas Shintya Dewi, I Dewa Ayu Mas Shintya Doddy Setiawan Ekaputra Ekaputra, Ekaputra Elisma Nainggolan, Elisma EM, Tjahya Aryasa Emkel Perangin Angin, Emkel Eric Makmur, Eric Ery Oktadiputra Estrada, Ronald Eugenia, Michelle Ferry, Ferdinand Gede Semarawima, Gede Gede Wirya Kusuma Duarsa Giovanni, Malvin Hadiwijono, Vanessa Juventia Hartanto, Wijaya Hartawan , I.G.A.G. Utara Hartawan, IGAG Utara Hengky Hengky, Hengky Humianto, Michael I Dewa Made Sukrama I Gede Budiarta I Gede Prima Julianto I Gusti Agung Gede Utara Hartawan I Gusti Ayu Putri Purwanthi I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa I Ketut Sinardja I Ketut Wibawa Nada I Made Agus Kresna Sucandra I Made Bakta I Made Darma Junaedi, I Made I Made Gede Widnyana I Made Prema Putra I Made Subagiartha I Made Wiryana, I Made I Putu Agus Surya Panji I Putu Fajar Narakusuma I Wayan Aryabiantara, I Wayan I Wayan Suranadi Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan IGNA Putra Arimbawa, IGNA Putra Jayantha Ananda, I Gusti Ngurah Bagus Jeanne, Bianca Jhoni Pardomuan Pasaribu Jimmy Wongkar Johanes, Kevin Paul Junaedi, I Made Darma Kadek Agus Heryana Putra Kadek Agus Heryana Putra, Kadek Agus Kamaswari, Ida Ayu Dwi Kenzi, Ignatio Armando Ketut Semara Jaya, Ketut Semara Ketut Wibawa Nada Ketut Yudi Arparitna, Ketut Yudi Komang Ady Widayana Komang Alit Artha Wiguna Komang Alit Artha Wiguna Kurnia, Prajnaariayi Prawira Kurniajaya, I Gusti Agung Made Wibisana Kurniyanta, I P Kurniyanta, I Putu Kusuma, Oscar Indra Labobar, Otniel Adrians Leo, Joseph Nelson Lesmana, Pita Mora Leton, Yohanes PT Made Agus Kresna Sucandra Made Agus Kresna Sucandra, Made Agus Kresna Made Bagus Cahya Maha Putra Made Widnyana Made Wiryana Marilaeta Cindryani Marilaeta Cindryani Lolobali, Marilaeta Cindryani Marilaeta Cindryani, Marilaeta Marting, Millenia Mauritius Septa Murti, Dede Taruna Kreisnna Nada, I Ketut Wibawa Nandaswari, Ni Made Nilam Narakusuma, I Putu Fajar Ni Nyoman Sri Budayanti Ni Putu Novita Pradnyani, Ni Putu Novandi Kurniawan Pande Nyoman Kurniasari, Pande Panji, I PAS Patricia, Yoshie Pontisomaya Parami Pramana, Putu Bagus Gin Gin Pranoto, Theodorus Pascalis Yullie Pratana, Yolanda Jenny Putu Agus Surya Panji Putu Gede Ary Sanjaya Putu Herdita Sudiantara, Putu Herdita Putu Kurniyanta Putu Pramana Suarjaya Raka-Sudewi A. A. Ratumasa, Marilaeta Cindryani Ra Reynaldi Reiky Hadiwijaya Riko Riko Santo, Budi Saputra, Darmawan Jaya Satoto D., Satoto Satria Pinanditas S Sidabutar, Beny Pratama Sidemen, I Gusti Ayu Eka Para Santi Sidemen, I.G.P.Sukrana Sidemen, IGP Sukrana Sonni Soetjipto, Sonni Sri Maliawan Stefanus Taofik stefanus taofik, stefanus Suarjaya, I PP Suastika, I Gede Juli Sucandra, I Made Agus Kresna Sucandra, I MK Sumanti, Alan F. A. Sunanda Naibaho Sunto, Sunto Suranadi , I Wayan Suryadi N. T., Suryadi N. Suryana, I Ketut Syamsuddin, Johanis Bosco Troy Tanuwijaya, Tommy M Tirta, Ian Tjahya Aryasa Tjahya Aryasa Tjahya Aryasa E M Tjokorda Gde Bagus Mahadewa Virayanti, Luh Putu Diah W. A., W. Wardani, Dinar Kusuma Welly, Julian Widnyana, I MG Widyana, I Made Gede Wiranata, Jeremia Alvian Wiryana M., Wiryana Yadikusumo, Andrian Yustisia, Putu Ngurah Krisna Denta