Claim Missing Document
Check
Articles

EFFECTIVENESS OF SUPRAZYGOMATIC MAXILLARY BLOCK SUPPLEMENTATION IN GENERAL ANESTHESIA FOR MIDFACIAL SURGERY Hengky, Hengky; Parami, Pontisomaya; Aribawa, I Gusti Ngurah Mahaalit; Widnyana, I Made Gede; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.42890

Abstract

Operasi midfasial sering menimbulkan nyeri hebat yang dapat mempengaruhi durasi perawatan pascaoperasi. Opioid tetap menjadi standar utama dalam mengelola nyeri akut pascaoperasi, namun penggunaannya terkait dengan efek samping seperti mual, muntah, sedasi, dan risiko komplikasi pernapasan. Oleh karena itu, blok saraf regional seperti Suprazygomatic Maxillary Block (SMB) menawarkan alternatif untuk mengurangi dosis opioid dan efek sampingnya, mendukung konsep Enhanced Recovery After Surgery (ERAS). Penelitian ini merupakan uji coba terkontrol secara acak, single-blind, dan dilakukan di satu lokasi dengan 40 sampel yang dibagi menjadi dua kelompok: Kelompok P1 (anestesi umum dengan SMB menggunakan 5 ml ropivakain 0,375%) dan Kelompok P2 (anestesi umum tanpa SMB). Parameter yang dianalisis meliputi kebutuhan fentanyl intraoperatif, waktu pemberian analgesik penyelamat pertama, total kebutuhan opioid dalam 24 jam, kejadian mual dan muntah, serta kualitas pemulihan pascaoperasi (QoR-40), menggunakan SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan fentanyl intraoperatif lebih rendah pada Kelompok P1 (2,10 mcg/kgBB vs. 2,61 mcg/kgBB, p<0,001). Waktu pemberian analgesik penyelamat pertama lebih lama pada Kelompok P1 (13 jam vs. 2 jam, p=0,004), dan total kebutuhan opioid dalam 24 jam lebih rendah (0 mcg vs. 180 mcg, p<0,001). Kelompok P2 memiliki risiko mual dan muntah yang lebih tinggi (RR 2,54, p=0,004) dan skor QoR-40 pascaoperasi yang lebih rendah (198 vs. 162, p<0,001). Kesimpulannya, suplementasi SMB secara efektif mengurangi kebutuhan opioid intra dan pascaoperasi, menunda waktu pemberian analgesik penyelamat pertama, serta menurunkan risiko mual dan muntah pascaoperasi.
COMPARISON OF CONTINUOUS SUPRAINGUINAL FASCIA ILIACA COMPARTMENT BLOCK (S-FICB) WITH CONTINUOUS EPIDURAL IN PATIENTS UNDERGOING CEPHALOMEDULLARY NAILING SURGERY Riko, Riko; Aribawa, I Gusti Ngurah Mahaalit; Widnyana, I Made Gede; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.42923

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas analgesia pascaoperasi, kadar inflamasi, stabilitas hemodinamik, dan kualitas pemulihan pada pasien yang menjalani operasi cephalomedullary nailing dengan menggunakan analgesia terkendali pasien (patient-controlled analgesia atau PCA) berupa blok suprainguinal fascia iliaca compartment block (S-FICB) dan blok epidural kontinu. Penelitian ini merupakan uji klinis komparatif dengan desain single-blind yang melibatkan 46 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, dan secara acak dibagi menjadi dua kelompok: kelompok S-FICB dan kelompok epidural. Setelah operasi dengan anestesi spinal, kelompok S-FICB menerima bolus interfascial hydrodissection sebanyak 30 ml ropivakain 0,2%, sementara kelompok epidural menerima bolus awal ropivakain 0,2% sebanyak 10 ml. Infus ropivakain 0,2% kemudian diberikan secara kontinu dengan laju 2 ml/jam selama 24 jam melalui kateter.Kadar Interleukin-6 diukur sebelum dan 24 jam setelah operasi. Kualitas pemulihan pascaoperasi dievaluasi menggunakan skor QoR-40. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam kualitas analgesia pascaoperasi antara kedua kelompok. Namun, penurunan kadar Interleukin-6 secara signifikan lebih besar pada kelompok S-FICB. Ketidakstabilan hemodinamik lebih sering terjadi pada kelompok epidural. Selain itu, skor median total QoR-40 pada 24 jam menunjukkan bahwa kelompok S-FICB memiliki kualitas pemulihan yang lebih baik. Sebagai kesimpulan, S-FICB memberikan analgesia yang sebanding dengan epidural, namun lebih efektif dalam menurunkan kadar Interleukin-6, meningkatkan stabilitas hemodinamik, dan memperbaiki kualitas pemulihan pascaoperasi.
THE COMPARISON OF ATRACURIUM DOSES IN PRODUCING INTUBATION QUALITY, ONSET, DURATION OF MUSCLE RELAXATION IN SURGERIES WITH GENERAL ANESTHESIA Suastika, I Gede Juli; Jeanne, Bianca; Sidemen, IGP Sukrana; Hartawan, IGAG Utara; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Widnyana, I Made Gede; Suarjaya, I Putu Pramana; Dewi, I Dewa Ayu Mas Shintya; Putra, Kadek Agus Heryana; Aryasa EM, Tjahya
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.50077

Abstract

Relaksan otot secara rutin digunakan selama anestesi umum untuk memfasilitasi intubasi endotrakeal dan mempertahankan kondisi kerja bedah yang optimal. Atracurium merupakan alternatif yang banyak digunakan dibandingkan rokuronium dan paling sering digunakan dalam anestesi umum untuk memfasilitasi intubasi endotrakeal serta memberikan relaksasi otot rangka selama ventilasi atau ventilasi mekanis. Pemberian atracurium dalam dosis tinggi yaitu 1 mg/kgBB (4ED95) dibandingkan dengan dosis umum 0,5 mg/kgBB (2ED95) dapat memberikan waktu onset intubasi yang lebih cepat, durasi kerja obat yang lebih lama, kualitas intubasi yang lebih baik, serta kondisi hemodinamik yang cukup stabil. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni yang dilakukan di ruang operasi Bedah Sentral sebuah rumah sakit pendidikan, dimulai pada Juli 2024 hingga jumlah sampel penelitian terpenuhi. Populasi penelitian adalah pasien berusia 18–65 tahun yang akan menjalani operasi elektif dengan anestesi umum menggunakan laringoskopi intubasi endotrakeal. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS versi 26, termasuk uji normalitas Shapiro-Wilk, uji Chi-square, dan uji berpasangan. Jumlah total subjek dalam penelitian ini adalah 38 pasien ASA I dan ASA II yang menjalani intubasi endotrakeal. Rerata waktu onset obat pada kelompok perlakuan adalah 133,21 ± 7,86 detik dan pada kelompok kontrol adalah 230,05 ± 33,45 detik. Rerata durasi kerja obat pada kelompok kasus adalah 72,95 ± 8,50 menit, sedangkan pada kelompok kontrol adalah 34,00 ± 5,42 menit. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada stabilitas hemodinamik dan denyut nadi selama proses intubasi yang baik pada kedua kelompok. Kualitas intubasi sangat baik ditemukan pada 19 pasien (100%) di kelompok perlakuan dibandingkan dengan 4 pasien (21,1%) di kelompok kontrol.
Awake Intubation in Patient with Superoanterior Mediastinal Mass and Superior Vena Cava Syndrome (SVCS): A Case Report Ery Oktadiputra; I Putu Fajar Narakusuma; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p05

Abstract

Superior vena cava syndrome (SVCS) with airway compression is challenging in anesthesia management. We report the case of a 69-year-old man with a superoanterior mediastinal mass and grade 3 SVCS who underwent Video-Assisted Thoracoscopic Surgery (VATS) with awake intubation using a double lumen tube (DLT) and videolaryngoscope. Awake intubation was chosen as the safest anesthesia technique where patients still breathe spontaneously without experiencing the effects of deep sedation. The combination of 4% lidocaine nebulization, oropharyngeal lidocaine spray, and dexmedetomidine infusion (0.5 μg/kg bolus over 10 minutes followed by 0.3-0.6 μg/kg/hour during surgery) in this patient, successfully maintained spontaneous ventilation without hemodynamic complications. The use of nebulized lidocaine, lidocaine spray, and dexmedetomidine as intubation facilities showed excellent effectiveness by maintaining the patient's spontaneous breathing, increasing the pain threshold, suppressing the nausea-vomiting reflex, and providing comfort in the form of mild sedation during awake intubation. This approach emphasizes the importance of topical anesthesia and selective sedation in high-risk patients with airway difficulties.
Managemen Anestesi pada Congenital Diapragmatic Hernia dengan Ventrikel Septal Defek dan Atrium Septal Defek pada Pasien Pediatrik : Laporan Kasus Mauritius Septa; Adinda Putra Pradhana; I Putu Kurniyanta; Ketut Wibawa Nada; Novandi Kurniawan; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p06

Abstract

Congenital diaphragmatic hernia (CDH) merupakan kelainan kongenital pada diafragma yang terjadi pada pediatri. Insiden terjadinya hernia tipe Borchdalek lebih sering terjadi pada sisi kiri dari pada sisi kanan. Penyulit lain pada CDH adalah hipoplasia paru, hipertensi paru dan kelainan pada jantung. Pada kasus ini kami mendiskusikan bayi 12 hari dengan kelainan CDH sisi kanan dengan kelainan jantung berupa ventrikel septal defek (VSD) dan atrium septal defek (ASD) yang dilakukan operasi laparotomi hernia. Manajemen anestesi pada pasien ini menggunakan  inhalasi sevoflurane, fentanil, volume tidal rendah, obat inotropik dengan kondisi hemodinamik yang stabil selama pembedahan. Kami melaporkan management anestesi dengan  sevoflurane yang dikombinasi dengan volume tidal rendah dan inotropik dobutamine pada operasi congenital diaphragmatic herdia dengan VSD dan ASD membantu dalam keberhasilan intraoperatif. Setelah operasi, pasien dilakukan perawatan di NICU untuk  perawatan secara ketat.
External Oblique Intercostal Plane Block (EOIPB) sebagai Tambahan Analgesia Multimodal Pasca Laparoskopi Kolesistektomi: Tinjauan Naratif David Rendra Mahardika; Made Agus Kresna Sucandra; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p07

Abstract

Pendahuluan: Nyeri pascaoperasi, terutama setelah kolesistektomi laparoskopi, adalah masalah signifikan yang meningkatkan morbiditas dan memperpanjang masa rawat inap. Penanganan nyeri sering kali melibatkan opioid sistemik yang memiliki efek samping merugikan. Oleh karena itu, pendekatan analgesia alternatif yang minim opioid sangat dibutuhkan. Tinjauan naratif ini bertujuan mengevaluasi efektivitas External Oblique Intercostal Plane Block (EOIPB) sebagai tambahan analgesia multimodal pasca kolesistektomi laparoskopi, berfokus pada kualitas analgesia, pemulihan pasien, dan respons inflamasi sistemik. Metode: Tinjauan naratif ini didasarkan pada penelusuran literatur terstruktur dari PubMed, Scopus, ScienceDirect, Cochrane Library, dan Google Scholar. Pencarian menggunakan kombinasi kata kunci seperti "external oblique intercostal plane block", "laparoscopic cholecystectomy", "postoperative pain", "quality of recovery", "neutrophil to lymphocyte ratio", dan "platelet to lymphocyte ratio". Publikasi dibatasi pada tahun 2019–2024, berbahasa Inggris atau Indonesia. Kriteria inklusi meliputi studi primer peer-reviewed (RCT, kohort, observasional) yang mengevaluasi EOIPB atau blok interfasial sebanding, serta melaporkan skor nyeri pascaoperasi, konsumsi opioid, skor quality of recovery (QoR-15), dan/atau nilai neutrophil to lymphocyte ratio (NLR) / platelet to lymphocyte ratio (PLR). Hasil: EOIPB secara konsisten memperpanjang durasi analgesia, menurunkan intensitas nyeri dengan skor visual analog scale (VAS), dan mengurangi konsumsi opioid pascaoperasi secara signifikan. Studi juga menunjukkan profil keamanan EOIPB yang baik dengan insiden efek samping minimal. Bupivakain, agen anestesi lokal yang umum digunakan, tidak hanya memblok transmisi nyeri tetapi juga menunjukkan sifat anti-inflamasi. Meskipun demikian, terdapat heterogenitas dalam teknik dan jenis anestesi yang digunakan antar studi. Kesimpulan: EOIPB adalah teknik blok interfasial yang efektif dan aman untuk manajemen nyeri pasca kolesistektomi laparoskopi, memberikan analgesia yang lebih baik dan mengurangi kebutuhan opioid. Namun, masih diperlukan penelitian lanjutan berskala besar, terstandarisasi, dan multicenter untuk memperkuat bukti ilmiah dan mengevaluasi dampak jangka panjangnya.
Efektivitas Blok Nervus Maksilaris Suprazigomatika pada Pasien Miastenia Gravis yang Menjalani Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) Kadek Agus Heryana Putra; Lesmana, Pita Mora; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.422

Abstract

Pendahuluan: Secara global, prevalensi dan insidensi miastenia gravis meningkat, dengan tingkatinsidensi 5,3 orang per juta dan prevalensi 77,7 orang per juta. Dengan meningkatnya prevalensi,penting bagi seorang anestesiolog untuk mengetahui patofisiologi dan komplikasinya, terutamakrisis miastenia. Salah satu pencetus terjadinya krisis adalah berupa nyeri pascaoperasi. Padakasus ini, kami memilih teknik pembiusan tanpa pelumpuh otot dan teknik blok nervus maksilarissuprazigomatika sebagai teknik analgetik pascaoperasi pasien miastenia yang menjalani functionalendoscopic sinus surgery (FESS).Deskripsi Kasus: Pasien perempuan usia 32 tahun didiagnosis pansinusitis dan riwayat miasteniagravis terkontrol dengan terapi direncanakan menjalani FESS bilateral. Induksi dilakukan dengankombinasi agen anestesi sevofluran dan propofol serta analgetik fentanyl. Sebelum ekstubasi,pasien diberikan blok maksilaris dengan pendekatan suprazigomatik menggunakan bupivakain0,25% sebanyak 5 ml pada masing-masing sisi. Ekstubasi dilakukan berdasarkan penilaian kekuatanotot menggunakan Train of Four (TOF). Pasien berhasil diekstubasi tanpa komplikasi, dengan nilaiNumeric Rating Scale (NRS) 0/10 pada 48 jam pascaoperasi.Simpulan: Kombinasi sevofluran dan propofol dengan blok maksilaris pendekatan suprazigomatikefektif untuk manajemen anestesi dan nyeri akut pascaoperasi pada pasien miastenia yang menjalaniFESS.
Anestesi SAYGO untuk Intubasi Sadar Selama Tiroidektomi dan Sternotomi: Laporan Kasus Sidabutar, Beny Pratama; Ra Ratumasa, Marilaeta Cindryani; Tjokorda Gde Agung Senapathi; Labobar, Otniel Adrians
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.443

Abstract

Pendahuluan: Teknik anestesi Spray-As-You-Go (SAYGO) merupakan metode terstruktur yang efektif dalam menangani intubasi sadar pada pasien dengan jalan napas sulit. Deskripsi Kasus: Laporan ini menyajikan kasus seorang wanita berusia 59 tahun dengan tiroid multinodular retrosternal (MNT) besar yang menyebabkan kompresi dan deviasi trakea. Dalam kasus ini, dilakukan intubasi fiberoptik terjaga menggunakan teknik SAYGO, dengan pendekatan kombinasi anestesi topikal lidokain, sedasi deksmedetomidin, dan oksigenasi adekuat. Prosedur diawali dengan nebulisasi lidokain, diikuti dengan penyemprotan lidokain intratrakeal 2% selama proses intubasi fiberoptik, kemudian dilanjutkan dengan induksi anestesi umum menggunakan propofol dan atrakurium setelah intubasi berhasil. Simpulan: Teknik SAYGO terbukti mampu menjaga kenyamanan pasien, mempertahankan patensi jalan napas, dan meminimalkan fluktuasi hemodinamik, sehingga meningkatkan tingkat keberhasilan dan keselamatan intubasi. Pendekatan ini sangat bermanfaat terutama pada kasus dengan kompresi trakea akibat massa tiroid atau mediastinum, karena mampu menurunkan risiko komplikasi dan meningkatkan keberhasilan prosedur.
Opioid-Free Anesthesia as a Part of Multimodal Anesthesia Approach in Modified Radical Mastectomy: A Case Report Togi Stanislaus Patrick; Sinardja, Cynthia Dewi; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Ra Ratumasa, Marilaeta Cindryani
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.445

Abstract

Introduction: The shift towards opioid-free anesthesia (OFA) reflects a growing effort to enhance patient safety and reduce opioid-related adverse effects, particularly in oncology surgeries such as modified radical mastectomy (MRM). Case Description: We describe the anesthetic management of a 51-year-old female with infiltrating ductal carcinoma of the left breast who underwent MRM under an opioid-free anesthetic protocol. Induction was performed with propofol via target-controlled infusion (TCI), followed by intraoperative dexmedetomidine infusion for sedation and analgesia. An ultrasound-guided erector spinae plane (ESP) block at the T5 level was performed with 0.375% ropivacaine and dexamethasone to provide regional analgesia. Intraoperative hemodynamics remained stable, no rescue opioids were required, and blood loss was minimal. Postoperative pain control was achieved with a low-dose dexmedetomidine infusion, intravenous ketorolac, and oral paracetamol. The patient reported minimal pain (NRS 0–1/10), had no nausea, vomiting, or respiratory depression, and recovered uneventfully. Conclusion: OFA offers oncological advantages by preserving immune function and reducing tumor- promoting factors, making it a promising alternative in cancer surgery. This report supports the feasibility and benefits of OFA in major breast cancer procedures, underscoring its role in enhancing recovery and potentially improving long-term oncologic outcomes.
Ultrasound-Guided Neuraxial Precision in a High-Risk Adolescent Parturient: Navigating Anesthetic Management in the Confluence of Nephrotic Syndrome, Diastolic Heart Failure, and Anasarca Made Bagus Cahya Maha Putra; Tjokorda Gde Agung Senapathi; I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 10 No. 1 (2026): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v10i1.1480

Abstract

Background: Anesthetic management for cesarean delivery in parturients with concurrent nephrotic syndrome and decompensated heart failure presents a profound clinical challenge. Severe anasarca can obliterate anatomical landmarks, while complex cardiorenal pathophysiology creates a state of extreme hemodynamic fragility. This case report describes a systematic, ultrasound-guided approach to overcome these obstacles. Case presentation: A 15-year-old primigravida at 33 weeks gestation, with new-onset nephrotic syndrome and decompensated heart failure (NYHA Class III), required an emergency cesarean section. Clinical examination revealed severe anasarca, rendering lumbar spinal landmarks impalpable. A systematic pre-procedural lumbar ultrasound examination was performed using a low-frequency curvilinear transducer. This allowed for precise identification of the L3-L4 interspace and an accurate skin-to-dura depth measurement of 4.6 cm. A single-attempt subarachnoid block was successfully performed with a reduced dose (10 mg) of hyperbaric bupivacaine. An adequate T4 sensory block was achieved for surgery. The patient remained remarkably hemodynamically stable throughout the procedure, with no episodes of hypotension requiring vasopressor support. A healthy infant was delivered, and both maternal and neonatal outcomes were excellent. Conclusion: This case demonstrates that a systematic pre-procedural ultrasound protocol is an indispensable tool for enhancing the safety and success of neuraxial anesthesia in high-risk obstetric patients. By enabling precise anatomical localization and informed dose reduction, it mitigates procedural risk and supports hemodynamic stability in the face of distorted anatomy and severe cardiorenal comorbidities.
Co-Authors A A Gde Putra Semara Jaya Adi, Made Septyana Parama Adinda Putra Pradhana Adistaya, Anak Agung Gde Agung Albert Albert Anak Agung Gde Agung Adistaya Andi Irawan Andi Kusuma Wijaya, Andi Anggreni, Anak Agung Ayu Aprilnita, Aida Aryasa EM, Tjahya Aryawangsa, Anak Agung Ngurah Astawa N. M., Astawa N. Astawa P., Astawa Astuti, Mira Kusuma Astuti, Mira Kusuma Bayu Saputra, Ida Bagus Prema Satia Bora, Fivilia Anjelina Brillyan Jehosua Toar Budiadnyana, I Made Pasek Budiarta, Gede Cahyono, Ardy Wibowo Christopher Ryalino Christopher, Michael Cindryani Ra Ratumasa, Marilaeta Cung Flavyanto, Eugenius Silvester Cynthia Dewi Sinardja D.H., Asterina David Rendra Mahardika Dewa Ayu Mas Shintya Dewi Dewi, Dewa Ayu Mas Shintya Dewi, I Dewa Ayu Mas Shintya Doddy Setiawan Ekaputra Ekaputra, Ekaputra Elisma Nainggolan, Elisma EM, Tjahya Ariyasa EM, Tjahya Aryasa Emkel Perangin Angin, Emkel Eric Makmur, Eric Ery Oktadiputra Estrada, Ronald Eugenia, Michelle Ferry, Ferdinand Gede Semarawima, Gede Gede Wirya Kusuma Duarsa Giovanni, Malvin Hadiwijono, Vanessa Juventia Hartanto, Wijaya Hartawan , I.G.A.G. Utara Hartawan, IGAG Utara Hengky Hengky, Hengky Humianto, Michael I Dewa Made Sukrama I Gede Budiarta I Gede Prima Julianto I Gusti Agung Gede Utara Hartawan I Gusti Ayu Putri Purwanthi I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa I Ketut Sinardja I Ketut Wibawa Nada I Made Agus Kresna Sucandra I Made Bakta I Made Darma Junaedi, I Made I Made Gede Widnyana I Made Prema Putra I Made Subagiartha I Made Wiryana, I Made I Putu Agus Surya Panji I Putu Fajar Narakusuma I Wayan Aryabiantara, I Wayan I Wayan Suranadi Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan IGNA Putra Arimbawa, IGNA Putra Jayantha Ananda, I Gusti Ngurah Bagus Jeanne, Bianca Jhoni Pardomuan Pasaribu Jimmy Wongkar Johanes, Kevin Paul Junaedi, I Made Darma Kadek Agus Heryana Putra Kadek Agus Heryana Putra, Kadek Agus Kamaswari, Ida Ayu Dwi Kenzi, Ignatio Armando Ketut Semara Jaya, Ketut Semara Ketut Wibawa Nada Ketut Yudi Arparitna, Ketut Yudi Komang Ady Widayana Komang Alit Artha Wiguna Komang Alit Artha Wiguna Kurnia, Prajnaariayi Prawira Kurniajaya, I Gusti Agung Made Wibisana Kurniyanta, I P Kurniyanta, I Putu Kusuma, Oscar Indra Labobar, Otniel Adrians Labobar, Otniel Andrians Leo, Joseph Nelson Lesmana, Pita Mora Leton, Yohanes PT Made Agus Kresna Sucandra Made Agus Kresna Sucandra, Made Agus Kresna Made Bagus Cahya Maha Putra Made Widnyana Made Wiryana Marilaeta Cindryani Marilaeta Cindryani Lolobali, Marilaeta Cindryani Marilaeta Cindryani, Marilaeta Marting, Millenia Mauritius Septa Murti, Dede Taruna Kreisnna Nada, I Ketut Wibawa Nandaswari, Ni Made Nilam Narakusuma, I Putu Fajar Ni Nyoman Sri Budayanti Ni Putu Novita Pradnyani, Ni Putu Novandi Kurniawan Pande Nyoman Kurniasari, Pande Panji, I PAS Patricia, Yoshie Pontisomaya Parami Pramana, Putu Bagus Gin Gin Pranoto, Theodorus Pascalis Yullie Pratana, Yolanda Jenny Putu Agus Surya Panji Putu Gede Ary Sanjaya Putu Herdita Sudiantara, Putu Herdita Putu Kurniyanta Putu Pramana Suarjaya Ra Ratumasa, Marilaeta Cindryani Raka-Sudewi A. A. Rasyid, Rifqi Taufiq Ratumasa, Marilaeta Cindryani Ra Reynaldi Reiky Hadiwijaya Riko Riko Santo, Budi Saputra, Darmawan Jaya Satoto D., Satoto Satria Pinanditas S Sidabutar, Beny Pratama Sidemen, I Gusti Ayu Eka Para Santi Sidemen, I.G.P.Sukrana Sidemen, IGP Sukrana Sonni Soetjipto, Sonni Sri Maliawan Stefanus Taofik stefanus taofik, stefanus Suarjaya, I PP Suastika, I Gede Juli Sucandra, I Made Agus Kresna Sucandra, I MK Sudiantara, Putu Herdit Sumanti, Alan F. A. Sunanda Naibaho Sunto, Sunto Suranadi , I Wayan Suryadi N. T., Suryadi N. Suryana, I Ketut Syamsuddin, Johanis Bosco Troy Tanuwijaya, Tommy M Tirta, Ian Tjahya Aryasa Tjahya Aryasa Tjahya Aryasa E M Tjokorda Gde Bagus Mahadewa Togi Stanislaus Patrick Virayanti, Luh Putu Diah W. A., W. Wardani, Dinar Kusuma Welly, Julian Widnyana, I MG Widyana, I Made Gede Wirananggala, Nyoman Bendhesa Wiranata, Jeremia Alvian Wiryana M., Wiryana Yadikusumo, Andrian Yustisia, Putu Ngurah Krisna Denta