Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Aktivitas Kombinasi Ekstrak Daun Kopi Robusta (Coffea Canephora Pierre Ex A.Froehner) Dan Daun Kemangi (Ocimum X Africanum Lour) Terhadap Pertumbuhan Jamur Candida Albicans Mida Pratiwi; Wina Safutri; Diah Kartika Putri; Rahmat Rizky Prayogo
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2628

Abstract

Iklim tropis Indonesia mendukung pertumbuhan jamur seperti Candida albicans, penyebab kandidiasis yang umum menyerang kulit, mulut, dan area genital. Terapi azol efektif, namun berisiko menimbulkan efek samping, seperti masalah pencernaan dan potensi abnormalitas di enzim hati. Sebagai alternatif, digunakan bahan alami seperti Daun Kopi Robusta (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) dan Daun Kemangi (Ocimum x africanum Lour), sehingga taraf risiko cenderung lebih kecil. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antijamur kombinasi ekstrak kedua tanaman terhadap Candida albicans, meliputi identifikasi senyawa aktif, analisis aktivitas, dan efektivitas kombinasi. Penelitian dilakukan secara in vitro dengan rancangan post test only control group menggunakan metode difusi cakram. Data dianalisis secara statistik menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, rata-rata zona hambat diperoleh ialah P1 (50%:50%) sebesar 7,76 mm, P2 (75%:25%) sebesar 10,1 mm, dan P3 (25%:75%) sebesar 5,12 mm. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p < 0,001), dan uji Tukey HSD menunjukkan perbedaan signifikan hanya antara P2 dan P3 (p = 0,009). Hasil uji aktivitas menunjukkan bahwa kombinasi daun kopi robusta dan daun kemangi dengan konsentrasi P1 (50%:50%), P2 (75%:25%), dan P3 (25%:75%) dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans, yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat. Zona hambat terbaik terdapat pada P2 dengan zona hambat sebesar 10,1 mm.
Uji Aktivitas Kombinasi Ekstrak Lengkuas Merah (Alpinia Purpurata (Vieill.) K.Schum) Dan Daun Kemangi (Ocimum X Africanum Lour) Terhadap Pertumbuhan Jamur Candida Albicans Wina Safutri; Diah Kartika Putri; Vicko Suswidiantoro; Miko Nanda Kusuma
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2630

Abstract

Penyakit menular menjadi masalah serius yang dapat ditularkan oleh manusia dan hewan. Jamur ini dapat menyebabkan infeksi seperti kandidiasis yang mengenai kuku, kulit, paru-paru, mulut dan vagina. Pengobatan dengan menggunakan obat antijamur sintetis dapat menyebabkan jamur menjadi resisten. Maka diperlukan alternatif pengobatan antijamur yang terbuat dari bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis skrining fitokimia pada ekstrak lengkuas merah (Alpinia purpurata (Vieill.) K.Schum) dan daun kemangi (Ocimum x africanum Lour) dan menganalisis efektivitas kombinasi ekstrak lengkuas merah (Alpinia purpurata (Vieill.) K.Schum) dan daun kemangi (Ocimum x africanum Lour) terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans. Penelitian ini dilakukan uji daya hambat dengan variasi konsentrasi PI 30%:5%, PII 15%:7,5%, dan PIII 45%:2,5%. Hasil penelitian uji skrining fitokimia pada lengkuas merah (Alpinia purpurata (Vieill.) K.Schum) dan daun kemangi (Ocimum x africanum Lour) didapatkan hasil bahwa ekstrak positif menagandung saponin, tanin, alkaloid, dan flavonoid sedangkan pada senyawa steroid didapatkan hasil negatif. Hasil uji aktivitas antijamur pada konsentrasi 30%:5% sebesar 8,35 mm, konsentrasi 15%:7,5% sebesar 6,64 mm, dan konsentrasi 45%:2,5% sebesar 7,30 mm. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antijamur yang dianalisis dengan menggunakan uji One Way ANOVA dan didapatkan hasil nilai sig >0,05 yaitu 0,955 yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok uji. Dari hasil uji dapat disimpulkan bahwa PI dengan konsntrasi 30%:5% merupakan konsentasi paling efektif dalam mengambat jamur Candida albicans.
Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Lotion Dari Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus altilis) Sebagai Antioksidan Nurul Fatonah; Riza Dwiningrum; Wina Safutri; Afi Sania Rosanti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2826

Abstract

Radikal bebas yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. Kerusakan pada kulit akibat radikal bebas dapat dihambat oleh senyawa antioksidan. Untuk menjaga kesehatan kulit dapat dilakukan dengan menggunakan produk kosmetik salah satunya lotion yang dapat menangkal radikal bebas. Daun sukun ( Artocarpus altilis) diketahui mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, tanin, flavonoid, steroid, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis formula dan evaluasi sediaan lotion dari ekstrak daun sukun ( Artocarpus altilis) sebagai antioksidan. Metode penelitian ini secara kuantitatif dengan model penelitian eksperimental. Analisis data dilakukan dengan Microsoft Excel dan SPSS uji One Way ANOVA. Hasil dari penelitian ini adalah sediaan lotion ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) pada F1(6%), F2 (8%) dan F3 (10%) memenuhi persyaratan uji evaluasi fisik, yaitu organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas, tipe emulsi, dan uji stabilitas dengan metode Cycling Test , yang menunjukkan bahwa formula ketiga stabil secara karakteristik fisik. Nilai IC 50 pada F1 (6%) sebesar 37,73 ppm, F2 (8%) sebesar 36,46 ppm, dan F3 (10%) sebesar 32,72 ppm, formula ketiga memiliki kategori aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Berdasarkan uji statistik One Way ANOVA dan uji lanjut Post Hoc Tukey , terdapat perbedaan signifikan antar rumus terhadap nilai IC 50 dengan nilai p-value <0,05. Kesimpulan dari penelitian ini sediaan lotion dari ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) dapat berfungsi sebagai antioksidan untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas dan F3 (10%) merupakan formula terbaik. Kata Kunci: Antioksidan, daun sukun, DPPH, lotion evaluasi, Radikal bebas Radikal bebas yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan kulit. Kerusakan tersebut dapat dicegah dengan senyawa antioksidan. Untuk menjaga kesehatan kulit, produk kosmetik seperti losion dapat digunakan untuk menangkal radikal bebas. Daun sukun (Artocarpus altilis) diketahui mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, tanin, flavonoid, steroid, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis formula dan evaluasi sediaan losion berbahan ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) sebagai antioksidan. Metode penelitian ini bersifat kuantitatif dengan model penelitian eksperimental. Analisis data dilakukan menggunakan Microsoft Excel dan SPSS dengan uji One Way ANOVA. Hasil penelitian ini adalah sediaan losion ekstrak daun sukun ( Artocarpus altilis) pada F1(6%), F2 (8%) dan F3 (10%) memenuhi syarat uji evaluasi fisik yaitu organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas, jenis emulsi, dan uji stabilitas menggunakan metode Cycling Test yang menunjukkan bahwa ketiga formula stabil secara fisik. Nilai IC 50 untuk F1 (6%) sebesar 37,73 ppm, F2 (8%) sebesar 36,46 ppm, dan F3 (10%) sebesar 32,72 ppm. Ketiga formulasi tersebut dikategorikan memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat. Berdasarkan uji statistik One Way ANOVA dan uji lanjut Post Hoc Tukey terdapat perbedaan yang signifikan antar formula pada nilai IC 50 dengan p-value < 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sediaan lotion dari ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) dapat berfungsi sebagai antioksidan untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas dan F3 (10%) merupakan formula terbaik. Kata kunci: Antioksidan, daun sukun, DPPH, evaluasi losion, radikal bebas
Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Lotion Dari Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus altilis) Sebagai Antioksidan Nurul Fatonah; Riza Dwiningrum; Wina Safutri; Afi Sania Rosanti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2829

Abstract

Radikal bebas yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. Kerusakan pada kulit akibat radikal bebas dapat dihambat oleh senyawa antioksidan. Untuk menjaga kesehatan kulit dapat dilakukan dengan menggunakan produk kosmetik salah satunya lotion yang dapat menangkal radikal bebas. Daun sukun (Artocarpus altilis) diketahui mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, tanin, flavonoid, steroid, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis formula dan evaluasi sediaan lotion dari ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) sebagai antioksidan. Metode penelitian ini secara kuantitatif dengan model penelitian eksperimental. Analisis data dilakukan dengan Microsoft Excel dan SPSS uji One Way ANOVA. Hasil dari penelitian ini adalah sediaan lotion ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) pada F1(6%), F2 (8%) dan F3 (10%) memenuhi persyaratan uji evaluasi fisik, yaitu organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas, tipe emulsi, dan uji stabilitas dengan metode Cycling Test, yang menunjukkan bahwa ketiga formula stabil secara karakteristik fisik. Nilai IC50 pada F1 (6%) sebesar 37,73 ppm, F2 (8%) sebesar 36,46 ppm, dan F3 (10%) sebesar 32,72 ppm, ketiga formula memiliki kategori aktivitas antioksidan sangat kuat. Berdasarkan uji statistik One Way ANOVA dan uji lanjut Post Hoc Tukey, terdapat perbedaan signifikan antar formula terhadap nilai IC50 dengan nilai p-value <0,05. Kesimpulan dari penelitian ini sediaan lotion dari ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) dapat berfungsi sebagai antioksidan untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas dan F3 (10%) merupakan formula terbaik. Keywords: Antioksidan, daun sukun, DPPH, evaluasi lotion, Radikal bebas Excessive free radicals can cause skin damage. Such damage can be prevented by antioxidant compounds. To maintain healthy skin, cosmetic products such as lotions can be used to counteract free radicals. Breadfruit leaves (Artocarpus atlitis) It is known to contain active compounds such as alkaloids, tannins, flavonoids, steroids, and saponins, which have the potential to act as antioxidants that can ward off free radicals. This study aims to analyze the formula and evaluation of lotion preparations made from breadfruit leaf extract (Artocarpus altilis) as an antioxidant. This research method is quantitative with an experimental research model. Data analysis was carried out using Microsoft Excel and SPSS test One Way ANOVA. The results of this study are the preparation of breadfruit leaf extract lotion (Artocarpus altilis) in F1(6%), F2 (8%) and F3 (10%) fulfilled the physical evaluation test requirements, namely organoleptic, homogeneity, pH, spreadability, adhesive power, viscosity, emulsion type, and stability test using the method Cycling Test, which shows that the three formula are physically stable. The IC50 value for F1 (6%) was 37.73 ppm, F2 (8%) was 36.46 ppm, and F3 (10%) was 32.72 ppm. All three formulations were categorized as having very strong antioxidant activity. Based on statistical tests One Way ANOVA and further testing Post Hoc Tukey, there is a significant difference between formula on IC50 value with p-value <0.05. The conclusion of this study is that the lotion preparation from breadfruit leaf extract (Artocarpus altilis) can function as an antioxidant to protect the skin from damage caused by free radicals and F3 (10%) is the best formula. Keywords: Antioxidant , breadfruit leaf, DPPH, lotion evaluation, free radicals
Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Rawat Inap Dengan Infeksi Saluran Kemih (ISK) Di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Dengan Metode Gyssens Tahun 2023-2024 Mida Pratiwi; Nuriyanto Nuriyanto; Wina Safutri; Dhea Amanda Firly
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3031

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan infeksi yang terjadi akibat masuknya mikroorganisme, seperti bakteri atau virus, ke dalam saluran kemih, dengan gejala seperti nyeri saat berkemih, demam, dan nyeri di area pinggang. Kasus ISK di Indonesia mengalami peningkatan mencapai 5-15%. Antibiotik menjadi terapi utama dalam pengobatan ISK, tetapi penggunaan yang tidak rasional dapat menyebabkan resistensi dan meningkatkan biaya pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas antibiotik pada pasien Infeksi Saluran Kemih (ISK). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif secara retrospektif dengan teknik total sampling. Sampel penelitian ini adalah pasien rawat inap dengan infeksi saluran kemih berusia ≥18-65 tahun yang menerima terapi antibiotik pada tahun 2023-2024. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat rasional pada pasien ISK sebanyak 20 pasien (71,42%). Ketidakrasional terdapat pada kategori IIA (tidak tepat dosis) sebanyak 3 pasien (10,71%) dan kategori IVA (terdapat antibiotik lebih efektif) sebanyak 5 pasien (17,85%). Kesimpulan pada penelitian ini adalah penggunaan antibiotik pada pasien ISK di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung sebagian besar telah dilakukan secara rasional, sehingga dapat membantu dalam mengurangi kejadian resistensi antibiotik.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Tingkat Kepatuhan Terhadap Penggunaan Obat Antihipertensi Di Puskesmas Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Turisma Alfi Arizona; Riza Dwiningrum; Vicko Suswidiantoro; Wina Safutri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3058

Abstract

Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan dan penyebab kematian utama di negara maju maupun negara berkembang. Penyakit hipertensi tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol melalui pengobatan dan perubahan gaya hidup. Tingkat pengetahuan penyakit hipertensi yang baik akan berpengaruh pada sikap kepatuhan penggunaan obat. Pemilihan lokasi penelitian di Puskesmas Sukoharjo didasarkan pada tingginya jumlah kasus hipertensi yang tercatat setiap tahun serta masih rendahnya tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani terapi obat, sehingga wilayah ini dianggap representatif untuk mengevaluasi keterkaitan antara pengetahuan dan kepatuhan pasien hipertensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Sukoharjo Kabupaten Pringsewu. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan pengambilan data menggunakan kuesioner pengetahuan HFQ (Hypertension Fact Quisionnare) menghasilkan kategori sedang (64%) dan kuesioner kepatuhan MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale) menghasilkan kategori sedang (64%) dengan besar sampel 100 responden. Hasil analisis hubungan antara variabel tingkat pengetahuan terhadap tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi didapatkan dengan nilai p value 0,068 yang menunjukkan tidak adanya hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Sukoharjo Kabupaten Pringsewu. Kata Kunci: Hipertensi, Pengetahuan, Kepatuhan, Penggunaan Obat Hypertension remains a significant health problem and is a leading cause of death in both developed and developing countries. Although hypertension cannot be cured, it can be controlled through medication and lifestyle changes. A good level of knowledge about hypertension can influence patients' adherence to antihypertensive medication. Sukoharjo Public Health Center was chosen as the research site due to its high number of hypertension cases reported annually and the observed low adherence among patients in undergoing treatment, making it a representative location to evaluate the correlation between patients’ knowledge and adherence. The aim of this study was to determine the relationship between the level of knowledge and the level of adherence to antihypertensive drug use at Sukoharjo Public Health Center, Pringsewu Regency in. This research used a cross-sectional design, with data collected using the Hypertension Fact Questionnaire (HFQ) to assess knowledge resulting in a moderate category (64%) and the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) resulting in a moderate category (64%) to measure medication adherence with a sample size of 100 respondents. The relationship analysis between knowledge and adherence levels showed a p-value of 0.068, indicating that there was no significant correlation between knowledge level and adherence to antihypertensive drug use. The conclusion of this study is that there is no significant relationship between knowledge and adherence to antihypertensive medication among patients at Sukoharjo Public Health Center, Pringsewu Regency in. Keywords: Hypertension, Knowledge, Adherence, Drug Use
Studi Etnomedisin Tumbuhan Berkhasiat Sebagai Obat Hipertensi Di Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran Dian Ratnasari; Wina Safutri; Riza Dwiningrum; Annajim Daskar
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3220

Abstract

Etnomedisin merupakan salah satu pendekatan yang dapat dimanfaatkan untuk menggali penggunaan tumbuhan yang memiliki khasiat obat, sehingga dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan obat baru, etnomedisin bertujuan mengungkap pengetahuan masyarakat mengenai cara-cara menjaga kesehatan dan mencegah berbagai jenis penyakit, termasuk salah satunya adalah hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pemanfaatan tumbuhan sebagai obat pada penyakit hipertensi di Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran. Metode penelitian menggunakan metode wawancara dengan tekhnik pengambilan sampel snowball sampling. Sampel penelitian adalah masyarakat Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran dengan jumlah 38 responden. Hasil penelitian didapatkan tumbuhan yang digunakan sebagai obat untuk penyakit hipertensi ada 16 jenis spesies tumbuhan. Bagian tanaman yang digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu bagian daun 77%, akar 2%, rimpang (11%), batang (4%), buah (5%), dan umbi (2%). Pengolahan tanaman yang digunakan yaitu dengan cara direbus (38%), diblender (6%), dibakar (1%), dan dikunyah (8%). Kata Kunci: Etnomedisin, Tumbuhan Berkhasiat, Obat Hipertensi Ethnomedicine is an approach that can be utilized to explore the use of medicinal plants, serving as an initial step in the development of new drugs. Ethnomedicine aims to uncover local knowledge regarding ways to maintain health and prevent various diseases, including hypertension. The purpose of this study was to describe the use of plants as traditional remedies for hypertension in Negeri Katon Subdistrict of Pesawaran Regency. The research employed an interview method with a snowball sampling technique. The study sample consisted of 38 respondents from the local community. The results showed that 16 plant species were used to treat hypertension. The plant parts utilized by the community included leaves (77%), roots (2%), rhizomes (11%), stems (4%), fruits (5%), and tubers (2%). The methods of preparation included boiling (38%), blending (6%), roasting (1%), and chewing (8%). Keywords: Ethnomedicine, Medicinal Plants, Hypertension Treatment
Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Blush On Cream Kombinasi Ekstrak Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Dan Umbi Wortel (Daucus carota L.) Riza Dwiningum; Mida Pratiwi; Wina Safutri; Rinda Agustin
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3227

Abstract

The cosmetic industry in Indonesia continues to grow rapidly, particularly in products like blush on, which are used to enhance facial appearance. However, the use of synthetic colorants such as rhodamine B in cosmetics poses health risks, and is therefore prohibited by BPOM. As a safer alternative, natural colorants are used, such as extracts of roselle petals (Hibiscus sabdariffa L.) and carrot tubers (Daucus carota L.), which provide both coloring effects and antioxidant benefits due to their β-carotene content. This research aims to formulate and evaluate blush on cream made with these natural colorants. It is an experimental laboratory study that evaluates the physical characteristics and user preferences for blush on cream formulations using a combination of roselle and carrot extracts. Three formulas were developed with a constant roselle extract concentration of 0.5% and varying carrot extract concentrations of 10% (F1), 30% (F2), and 50% (F3). Evaluations included organoleptic properties, pH, homogeneity, viscosity, spreadability, adhesiveness, pigment stability, product stability, protection ability, and hedonic tests. The results showed that the colors produced were peach, orange-red, and bright orange, depending on the carrot concentration. All formulas met the standard requirements across the tested parameters. Formula 2 is the most optimal and generally preferred overall, as it has a balanced aroma, an appealing color, and a soft texture. In the preference test, it showed the best blush-on cream results from the combination of roselle extract and varying concentrations of carrot.
Formulasi Dan Uji Mutu Fisik Sediaan Gel Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum Basilicum L) Sebagai Anti Bakteri Staphylococcus Aureus Riza Dwiningrum; Wina Safutri; Dela Maya Fitria
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3359

Abstract

Penyakit infeksi salah satu penyebab kematian paling umum yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri Staphylococcus aureus. Pengobatan penyakit infeksi dapat dengan pemberian antibiotik, namun penggunaan antibiotik yang irasional dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Penggunaan obat-obatan bahan alami lebih aman dalam pengobatan penyakit infeksi, salah satu tanaman obat adalah daun kemangi yang dibuat dalam bentuk gel karena merupakan sediaan topikal yang dapat langsung diaplikasikan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menegetahui aktivitas sediaan gel ekstrak daun kemangi dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan metode difusi cakram. Hasil evaluasi mutu fisik ketiga formulasi sudah memenuhi standar sediaan gel, namun pada uji homogenitas formulasi 1 menunjukkan bahwa sediaan tidak homogen. Hasil aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak daun kemangi formulasi 1 dengan konsentrasi 15% didapatkan nilai rata-rata sebesar 2,70 mm yang dikategorikan lemah. Formulasi 2 dengan konsentrasi 30% sebesar 2,79 mm yang dikategorikan lemah dan formulasi 3 dengan konsentrasi 45% sebesar 2,90 yang dikategorikan lemah. Hasil uji ANOVA didapatkan nilai sig <0,001 yang dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan dari kelompok uji. Uji lanjutan dilakukan dengan menggunakan uji tukey untuk mengetahui kelompok mana yang mempunyai perbedaan yang bermakna. Ketiga formulasi dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan pada uji lanjutan menggunakan uji tukey terdapat perbedaan yang bermakna antara kontrol negatif dengan kontrol positif, FI, FII, dan FIII, kontrol positif dengan FI, FII, dan FIII.
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN LIP BALM DARI EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa x paradisiaca L.) Rismayanti Carla Putri; Riza Dwiningrum; Yurike Elanda; Wina Safutri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3415

Abstract

Kulit pisang kepok (Musa x paradisiaca L.) diketahui mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan vitamin C yang berpotensi sebagai antioksidan sekaligus pelembap alami. Namun, pemanfaatannya dalam sediaan kosmetik, khususnya lip balm, masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan lip balm dengan variasi konsentrasi ekstrak kulit pisang kepok (5%, 10%, dan 15%) serta mengevaluasi mutu fisik, keamanan, dan efektivitasnya sebagai pelembap bibir. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi etanol dengan rendemen sebesar 6%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya kandungan flavonoid, tanin, saponin, dan vitamin C. Formula lip balm kemudian diuji mutu fisiknya meliputi organoleptis, homogenitas, dan pH, serta dilakukan uji iritasi pada kulit dan uji kelembaban bibir dengan bantuan alat skin analyzer terhadap 10 panelis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua formula memiliki bentuk semi padat dengan warna kecokelatan yang semakin pekat seiring meningkatnya konsentrasi ekstrak, bersifat homogen, dan memiliki pH dalam rentang aman (5–7). Uji iritasi memperlihatkan tidak adanya reaksi pada semua formula (skor 0), sehingga dinyatakan aman digunakan. Uji kelembaban menunjukkan peningkatan kadar air bibir secara signifikan (p < 0,001) Dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit pisang kepok berhasil diformulasikan menjadi lip balm dengan mutu fisik yang baik, aman digunakan, serta efektif sebagai pelembap bibir. Penelitian ini juga menunjukkan potensi pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai bahan kosmetik alami yang bernilai tambah.
Co-Authors Adi Saputra Adinda Shofa Hermalia Hermalia Afi Sania Rosanti Afi Sania Rosanti Agustina, Mela Ahmad Sutomo Aini, Sarifatul Amanda Tirtasena Amilia Rusda Andika Wahyu Saputra Anggista Putri, Nopi Annajim Daskar Artadevy, Nadhila Fahira Arum Vika Sari Atika Nabila, Novrillia Audya Zahra Aulika Lestari, Fina Aurelia, Tessa Aurelia Ayu Chandra, Ananda Bayu Satriawan, Ahmad Damayanti Abdul Karim, Dewi Daskar, Annajim Dela Maya Fitria Desni Sagita, Yona Dhea Amanda Firly Diah Kartika Diah Kartika Putri Dian Ratnasari Dila Cindy Reptiana Dina Rahmawati Dinda Naziah Dwi Oktarosada Elsya Azis Suryani Eva Nurul Baity Fachry Abda El Rahman Fadia Zahra, Alya Faizal, Doni Fani Rahmawati Haikal Fadhila Haikal Nur Islam Hammami, Akmal Hazballah Asy Syifa Hotimah, Etika Khusnul Iga Mayola Pisacha Indah Safitri Juliatika Kurniawati Kartika Putri, Diah Katika Putri, Diah Kiki Ariska kurniati, nova Lestari, Fina Aulika Lintang Sevira Malahatu Zalfa, Aisyah Mayola Pisacha, Iga Meiliya Areza Mela Annisa Mela Kurniasari Mida Pratiwi Mida Pratiwi Mida Pratiwi Miftah Khoirun Nissa Miftausakina, Taufiki Miko Nanda Kusuma Muji Lestari Nanggroe Logawan Nopi Anggista Putri Noventy Ratna Sari Novi Ana Nurlaili Nur Aminudin Nurazizah, Amalia Siti Nuriyanto Nuriyanto Nurul Fatonah Pisacha, Iga Mayola Pratama, Dimas Feriza Pratama Purwanti, Etik Putri, Diah Karika Putri, Diah Kartika Putri, Elsa Claudia Rahadiyanto, Kemas Ya'Kub Rahmat Rizky Prayogo Riesce Octa Verantika Riki Renaldo Rinda Agustin Rismawan, Iqfan Adi Rismayanti Carla Putri Riza Dwiningrum Riza Dwiningrum Riza Dwiningrum, Riza Riza Dwiningum Rolinia Dina Marsela Rosanti, Afi Sania Sari, Yuhana Satriawan, Ahmad Bayu Silvi Alfiani Siti Maesaroh Siti Rahmawati Sumiyati Sunariyah Suswidiantoro, Vicko Syaifurrahman, Amir Tanoehardjo, Fransisca Srioetami Taufiki Miftausakina trijayanti, mesi Tundjung Tripeni Handayani Tundjung Tripeni Handayani, Tundjung Tripeni Turisma Alfi Arizona Vanesa Dwi Cahyani Vicko Suswidiantoro Vicko Suswidiantro Winabila, Putri Windi Lestari, Nita Wulan Cahya Indah Yamsi Nurfala Yurike Elanda Zulkifli Zulkifli