Masyhudah Rosni
Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 61 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Tingkat Kesejahteraan Keluarga Petani Karet di Desa 7 Wonorejo, Kecamatan Kusan Hulu, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan Wahyu Suprianoor; Usamah Hanafie; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i1.6020

Abstract

Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang selaras, serasi  dan seimbang antara anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.  Indikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan rumah tangga disesuaikan oleh informasi tentang kependudukan, kesehatan dan gizi, pendidikan, ketenagakerjaan, pola konsumsi atau pengeluaran rumah tangga, perumahan dan lingkungan dan sosial lainnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahuitingkat kesejahteraan keluarga petani karet di Desa 7 Wonorejo Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan pengukuran dari BKKBN dan BPS. Pengambilan sampel dilakukan secara sengaja sebanyak 43 orang. Analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan tabel silang dan analisis persentase untuk menjelaskan tingkat kesejahteraan keluarga petani di Desa 7 Wonorejo. Hasil dari penelitian ini berdasarkan indikator BKKBN tingkat kesejahteraan petani karet di Desa 7 Wonorejo berada pada kesejahteraan keluarga tahap III sebanyak 36 orang (83.72%) dan 7 orang (26.28%) berada pada tahap kesejahteraan III+. Berdasarkan  indikator BPS tingkat kesejahteraan petani karet di Desa 7 Wonorejo termasuk kedalam kategori kesejahteraan kriteria tinggi dengan jumlah petani 40 orang dengan persentase 93.02% dan pada kriteria sedang berjumlah 3 orang petani dengan presentase 6.98%
Analisis Biaya, Pendapatan dan Keuntungan Perangkai Bunga Melati (Jasminum sambac) di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar Bastiah Bastiah; Masyhudah Rosni; Yusuf Azis
Frontier Agribisnis Vol 3, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i4.1963

Abstract

Rangkaian bunga melati merupakan salah satu pengolahan hasil dari tanaman hias. Usaha peragkaian bunga melati ini masih merupakan usaha sampingan yang mampu menambah penghasilan masyarakatnya. Kendala utama yang dihadapi dalam kegiatan berproduksinya adalah bunga melati mudah tidak tahan lama atau rusak, berfluktuasinya harga bunga melati yang tergantung musim dan adanya keragaman permintaan produk pada bulan-bulan tertentu serta penggunaan teknologi yang masih sederhana. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar meliputi Desa Bincau, Bincau Muara dan Labuan Tabu yang dimulai dari bulan Maret sampai dengan September 2018. Hasil penelitian menunjukan jenis rangkaian bunga melati dalam penelitian ini adalah jenis rangkaian selendang, adat banjar, adat jawa, adat sunda dan kembang serai. Total biaya dari usaha perangkai bunga melati pada bulan tinggi sebesar Rp 6.966.111,04 dengan rata-rata penerimaan sebesar Rp 12.224.166,67, maka rata-rata pendapatan yang diperoleh perangkai bunga melati adalah sebesar Rp 5.839.622,22 dan keuntungannya sebesar Rp 5.258.055,63. Sedangkan pada bulan sedang besar total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 5.620.188,54 dengan rata-rata penerimaan sebesar Rp 9.353.166,67, maka rata-rata pendapatan yang diperoleh perangkai bunga melati adalah sebesar Rp 4.208.022,22 dan keuntungannya sebesar Rp 2.845.444,79. Pada bulan rendah besar total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 3.930.888,54 dengan rata-rata penerimaan yang diperoleh sebesar Rp 6.776.333,33, maka rata-rata pendapatan yang diperoleh perangkai bunga melati adalah sebesar Rp 3.195.711,11 dan keuntungannya sebesar Rp 2.845.444,79. Kata kunci: biaya, pendapatan, keuntungan, perangkai bunga melati, Jasminum sambac
Analisis Perbandingan Biaya dan Pendapatan Bersih Usahatani Jagung Manis Dengan Jagung Hibrida di Desa Suka Ramah Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut Muhammad Awami Lazuardi; Masyhudah Rosni; Nuri Dewi Yanti
Frontier Agribisnis Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i1.692

Abstract

Jagung adalah salah satu tanaman palawija yang mudah dalam pengelolaan budidayanya. Awalnya produksi jagung dimanfaatkan untuk panganan pokok manusia, ketika industri peternakan berkembang, pemanfaatan jagung bergeser dari pangan manusia ke pakan ternak. Jagung hibrida diketahui mampu menghasilkan produksi yang lebih besar jika dibandingkan dengan jagung manis sehingga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional dan mampu meningkatkan pendapatan petani. Namun sebagian besar petani di Desa Suka Ramah masih enggan melaksanakan usahatani jagung hibrida karena biaya yang lebih besar dan harga yang lebih murah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghitung biaya dan pendapatan bersih jagung manis dan jagung hibrida, untuk membandingkan pendapatan bersih jagung manis dengan jagung hibrida, dan untuk mengetahui permasalahan apa saja yang dihadapi petani dalam usahatani jagung manis dan jagung hibrida di Desa Suka Ramah. Data yang digunakan adalah primer dan sekunder. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode secara survei dan proportional random sampling dengan memilih 46 responden jagung manis dan 14 responden jagung hibrida di Desa Suka Ramah. Analisis yang digunakan yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan dalam satu kali musim tanam, usahatani jagung manis rata–rata biaya total Rp14.677.654/ha (Rp6.381.588/UT) dengan penerimaan Rp27.110.000/ha (Rp11.786.957/UT), pendapatan Rp15.634.411/ha (Rp6.797.570/UT) dan pendapatan bersih Rp12.432.346/ha (Rp5.405.369/UT). Sedangkan usahatani jagung hibrida rata–rata biaya total Rp10.270.972/ha (Rp31.546.555/UT) dengan penerimaan Rp17.693.023/ha (Rp54.342.857/UT), pendapatan Rp9.881.965/ha (Rp30.351.752/UT), dan pendapatan bersih Rp7.422.051/ha (Rp22.796.301/UT). Perbandingan pendapatan bersih usahatani jagung manis dengan jagung hibrida berbeda secara nyata pada tingkat kepercayaan 95%. Permasalahan yang dihadapi petani usahatani jagung yaitu serangan hama babi hutan dan sapi, minimnya modal usahatani jagung, resistensi hama ulat, gulma dan penyakit terhadap pestisida serta kelangkaan pupuk.Kata kunci : biaya, pendapatan bersih, usahatani jagung, jagung manis, jagung hibrida 
Analisis Respon Penawaran Karet Rakyat di Kalimantan Selatan Feri Vega Pratama; Djoko Santoso; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i2.6035

Abstract

Dominasi perkebunan karet rakyat memberikan kontribusi besar dalam perekonomian di Indonesia. Karet merupakan komoditas perkebunan unggulan kedua setelah kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Selatan. Perubahan harga dan luas areal berpengaruh terhadap besaran ouput produksi yang akan mempengaruhi pasokan karet rakyat di Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon penawaran karet rakyat dan elastisitas penawaran karet rakyat melalui prediktor luas areal dan harga. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data time series selama 31 tahun dari tahun 1988 s.d. 2019. Analisis penawaran karet rakyat diketahui dengan variabel luas areal dan harga melalui pendekatan model Nerlove. Hasil analisis menunjukkan nilai adjusted R2 sebesar 0,991523, atau sebesar 99,15% penawaran karet rakyat di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dijelaskan oleh variabel harga karet satu tahun sebelumnya, harga karet dua tahun sebelumnya, harga karet empat tahun sebelumnya, dan luas areal satu tahun sebelumnnya. Bedasarkan uji F semua variabel yang digunakan dalam model secara simultan signifikan. Uji parsial menunjukkan bahwa variabel bebas harga karet satu tahun sebelumnya dan luas wilayah tahun sebelumnya signifikan terhadap penawaran karet rakyat di Provinsi Kalimantan Selatan. Nilai elastisitas penawaran karet rakyat terhadap harga dari model luas areal yang digunakan menggambarkan karet rakyat di Provinsi Kalimantan Selatan bersifat inelastis pada jangka pendek dan jangka panjang. Hal ini menggambarkan bahwa perkebunan karet rakyat kurang responsif dalam menanggapi perubahan harga yang terjadi karena lahan yang dimiliki perkebunan karet rakyat sebagai modal tetap, sehingga tidak mudah bagi perkebunan rakyat untuk merubah lahan yang mereka miliki ketika terjadi kenaikan harga karet.
Analisis Usaha Tani Padi Masyarakat Dayak Pitap dengan Sistem Perladangan Gilir Balik di Desa Langkap Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan Mahmudah Mahmudah; Masyhudah Rosni; Hairi Firmansyah
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10352

Abstract

Pertanian menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat adat. Salah satu daerah di Kalimantan Selatan yang pengelolaan usaha tani masih bergantung pada kondisi alam serta adat budaya turun temurun adalah masyarakat Dayak Pitap di Balangan. Dalam kehidupan masyarakat tanaman padi sangat penting dan dimuliakan, pola pertanian padi dilakukan dengan perladangan gilir balik sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui gambaran seharusnya, biaya, penerimaan, pendapatan, kelayakan serta permasalahan yang dihadapi oleh petani padi perladangan gilir balik. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Langkap Kecamatan Tebing Tinggi pada bulan Juni 2022 hingga Maret 2023. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 20 petani dan dipilih dengan teknik acak sederhana (simple random sampling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses perladangan gilir balik memiliki tahapan yang teratur yaitu batirau, batabas, batabang, manyalukut, manugal, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit dan penyakit, mangatam, aruh bamula, merapai atau bairik, aruh pasid atau aruh babuat dan aruh bawanang. Biaya total yang diperlukan dalam usaha tani padi terdiri dari biaya eksplisit dan biaya implisit yakni sebesar Rp 7.502.569,00/usahatani dan Rp 20.623.500,00/usahatani sehingga diperoleh biaya total sebesar Rp 28.126.069,00/usahatani. Penerimaan usaha tani padi sebesar Rp 28.440.000,00/usahatani. Pendapatan usaha tani padi sebesar Rp 20.937.431,00/usahatani. Berdasarkan perbandingan antara biaya dengan penerimaan diperoleh nilai RCR sebesar 1,01 yang berarti setiap Rp 1 biaya yang dikeluarkan oleh petani akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 1,01 dengan kata lain usaha tani padi dengan perladangan gilir balik ini layak atau menguntungkan untuk diusahakan. Selanjutnya untuk permasalahan yang dihadapi petani yaitu hama dan penyakit, cuaca ekstrem, sengketa lahan dan perembetan saat pembakaran.
Kinerja Kelompok Tani dalam Fungsi Kelompok Tani Sebagai Kelas Belajar di Kelurahan Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru Halim Hidayat; Abdurrahman Abdurrahman; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i1.5958

Abstract

Tingkat kinerja suatu lembaga atau kelompok tani dapat diketahui dengan penilaian kinerjanya. Kemampuan kelompok tani atau gapoktan dalam pemberdayaan anggotanya dapat dilihat dari kinerja kelompok atau gapoktan. Tujuan penelitian mengetahui kinerja kelompok tani dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi kelompok tani dalam pelaksanaan fungsi kelompok tani dalam kelas belajar. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 41 petani dari total populasi 347 petani anggota kelompok tani di kelas belajar. Analisis dilakukan dengan analisis kuantitatif menggunakan statistik deskriptif dan analisis diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan kinerja kelompok tani dalam fungsi kelompok tani sebagai kelas belajar berada pada kategori tinggi dengan persentase 86%. Permasalahan yang dihadapi kelompok tani sebagai kelas belajar, yaitu tingkat kehadiran atau keaktifan dalam musyawarah kelompok tani.
PERANAN KETUA KELOMPOK TANI DALAM MENINGKATKAN FUNGSI KELOMPOK TANI DI KECAMATAN BATU AMPAR KABUPATEN TANAH LAUT Heriyanor Fahmi; Muhammad Fauzi; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i2.620

Abstract

Pembinaan kelompok tani oleh para petugas penyuluh telah banyak dilakukan namun tidak semuanya merata secara optimal, kebanyakan petani masih belum merasa manfaat yang dia dapatkan dalam kegiatan berkelompok. Dampaknya ada kelompok-kelompok tani yang belum efektif atau tidak memiliki aktivitas dalam kelompok. Dengan adanya kelompok tani para petani dapat belajar bersama-sama memecahkan permasalahan yang antara lain berupa sarana produksi, teknis produksi dan pemasaran hasil. Penelitian ini bertujuan pertama untuk mengetahui tingkat fungsi kelompok tani di Kecamatan Batu Ampar, kedua untuk mengetahui tingkat peranan ketua kelompok tani dalam meningkatkan fungsi kelompok tani di Kecamatan Batu Ampar, dan yang ketiga untuk mengetahui hubungan peranan ketua kelompok tani dengan fungsi kelompok tani di Kecamatan Batu Ampar. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Jumlah sampel responden yang diambil adalah 36 orang petani. Berdasarkan hasil yang diperoleh, diketahui bahwa tingkat fungsi kelompok tani di Kecamatan Batu Ampar secara keseluruhan berada pada persentase 91,50% tergolong dalam kategori tinggi, dan peranan ketua kelompok tani di Kecamatan Batu Ampar adalah sebesar 86,99%, Hal ini menunjukkan bahwa skor dari nilai rata-rata peranan ketua kelompok tani termasuk dalam kategori tinggi, serta terdapat hubungan yang signifikan antara peranan ketua kelompok tani dengan fungsi kelompok tani.Kata kunci: fungsi kelompok tani, peranan ketua kelompok tani, hubungan.
Analisis Pendapatan Petani Padi Gogo (Oryza sativa L.) di Lahan Perbukitan Desa Pembakulan Kecamatan Batang Alai Timur Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tino Hartono; Masyhudah Rosni; Umi Salawati
Frontier Agribisnis Vol 3, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i4.1940

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pembakulan Kecamatan Batang Alai Timur Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui biaya usahatani padi gogo, penerimaan, pendapatan, keuntungan, kelayakan serta permasalahan dalam usahatani padi gogo. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan September 2018 sampai dengan April 2019. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan wawancara langsung sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur, dan dinas atau instansi yang terkait dengan penelitian ini yaitu Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Badan Pusat Statistik Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Batang Alai Timur. Hasil penelitian menunjukkan biaya total usahatani padi gogo per usahatani adalah Rp10.028.682,97 sedangkan dalam per hektar adalah Rp4.062.251,47. Penerimaan per usahatani padi gogo adalah Rp20.812.500,00 sedangkan per hektar adalah Rp8.426.113,36 dalam satu kali musim tanam dengan rata-rata luas lahan per usahatani adalah 2,47 ha. Produksi rata-rata per usahatani adalah 3,46 ton sedangkan per hektar adalah 1,41 ton. Pendapatan per usahatani padi gogo adalah Rp16.934.850,00 sedangkan per hektar adalah Rp6.855.419,60. Keuntungan yang didapat per usahatani sebesar Rp10.783.818,00, sedangkan keuntungan per hektar adalah Rp4.363.862,24. Berdasarkan hasil analisis RCR menunjukan bahwa usahatani padi gogo di Desa Pembakulan layak diusahakan. Hal ini dibuktikan dengan nilai RCR yang diperoleh sebesar 2,01 yang berarti setiap biaya satu rupiah diperoleh penerimaan 2,01 Rp.Kata kunci: analisis, biaya, produksi, keuntungan
Analisis Pendapatan Petani Padi Lokal pada Masa Pandemi Covid-19 di Kelurahan Bangkal Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru Sri Wahyuni; Masyhudah Rosni; Mira Yulianti
Frontier Agribisnis Vol 5, No 4 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i4.5978

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya eksplisit, biaya implisit serta biaya total usaha tani padi lokal pada masa pandemi covid-19 di Kelurahan Bangkal Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru, menganalisis penerimaan dan pendapatan petani padi lokal serta mengetahui permasalahan usaha tani padi lokal pada masa pandemi covid-19 di Kelurahan Bangkal Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata luas lahan petani adalah 1.075ha, dengan rata-rata biaya usaha tani terdiri dari biaya eksplisit sebesar Rp 7.038.848,00 per musim tanam per usaha tani rata-rata biaya implisit sebesar Rp 692.241,00. Biaya total usaha tani sebesar Rp 7.731.089,00 per musim tanam per usaha tani. Penerimaan yang didapat dalam usaha tani padi lokal berkisar antara Rp 9.450.000,00 sampai Rp 17.150.000,00 dengan rata-rata sebesar Rp 14.155.690,00 per musim tanam per usaha tani, maka didapat rata-rata pendapatan yang diperoleh petani padi lokal pada masa pandemic covid-19 tersebut sebesar Rp 7.116.842,00 per musim tanam per usaha tani di tahun 2020. Dari hasil penelitian yang dilakukan terdapat permasalahan usaha tani pada masa pandemi covid-19 yaitu sarana produksi usaha tani terhambat, kurangnya tenaga kerja dari luar dan kurangnya kerja sama antar kelompok tani.
Sikap Petani terhadap Benih Unggul Padi Bersertifikat di Desa Saring Sei Binjai Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu Mujerimin Mujerimin; Masyhudah Rosni; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i2.5887

Abstract

Peningkatan produksi padi dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan benih unggul padi bersertifikat. Namun, di lapangan sering ditemukan petani enggan untuk menggunakan benih tersebut dengan berbagai alasan. Tujuan dari penelitian ini antara lain menganalisis sikap petani terhadap benih unggul padi bersertifikat, menganalisis faktor pembentuk sikap, dan hubungan sikap petani dengan faktor pembentuk sikap yang berlokasi di Desa Saring Sei Binjai. Jumlah populasi petani di desa tersebut sebanyak 312 petani, dari jumlah tersebut diambil sebanyak 30 petani dengan teknik acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 56,7% petani memiliki sikap positif dan 43,3% memiliki sikap negatif terhadap benih unggul padi bersertifikat. Pengalaman berusaha tani rata-rata lebih dari 11 tahun. Faktor pembentuk sikap petani yaitu pendidikan formal, yang didominasi oleh lulusan SD. Pendidikan non formal yang dijalani seperti penyuluhan pertanian dan pelatihan masing-masing dilakukan 1 sampai 2 kali  per tahun. Petani memiliki paling tidak 1 orang yang mempengaruhi sikap. Petani rata-rata memiliki 2 media massa yang diakses dengan media yang paling sering digunakan adalah televisi dan brosur. Faktor pembentuk sikap pendidikan formal berhubungan secara signifikan dengan sikap petani terhadap benih unggul padi bersertifikat dengan taraf kepercayaan 95%, sedangkan faktor pembentuk sikap pengalaman berusaha tani, pendidikan nonformal, pengaruh orang lain yang dianggap penting, dan media massa tidak berhubungan secara signifikan pada taraf kepercayaan 95% dengan sikap petani terhadap benih unggul padi bersertifikat.