Claim Missing Document
Check
Articles

Pengembangan Produk Snack Bar Berprotein Tinggi untuk Mendukung Pendidikan Keolahragaan: Kajian Kadar Protein dan Kekerasan Berbasis Tempe dan Kacang Yianarfa, Efina Rifi; Kurnia, Pramudya; Kisnawati, Sudrajah Warajati
Instructional Development Journal Vol 8, No 2 (2025): IDJ
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/idj.v8i2.37386

Abstract

Snack Bar merupakan camilan padat energi atau protein yang terbuat dari berbagai bahan makanan yang dipadatkan dalam bentuk batang, bahan-bahan yang digunakan biasanya berupa kacang-kacangan, buah-buahan, dan sereal. Snack bar memiliki peran penting dalam mencukupi kebutuhan zat gizi serta meningkatkan performa bagi seorang atlet. Kekurangan snack bar yang ada saat ini ada pada sumber protein yang digunakan masih sangat terbatas, sehingga perlu pengembangan formula snack bar dengan mengunakan sumber protein yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar protein dan kekerasan pada snack bar tinggi energi untuk atlet dengan bahan dasar kacang merah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga dengan perlakuan berdasarkan formulasi tempe dan kacang merah. Pada penelitian yang telah dilakukan, formulasi snack bar berbahan dasar tempe dan kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) sebanyak formula A 75:75, formula B 100:50 dan formula C 125:25. Kadar protein dianalis dengan menggunakan metode Kjeldahl dan uji kekerasan menggunakan Texture Analyzer. Hasil uji protein perlakuan C menunjukan kadar protein tertinggi dengan rata-rata 20,49%, perlakuan B dengan rata-rata 18,61% dan sampel dengan kadar protein terendah adalah perlakuan A yaitu 15,49%. Hasil dianalisis dengan menggunakan Welch ANOVA bahwa terdapat perbedaan rata-rata kandungan protein yang signifikan (Sig. 0,11 > 0,05). Hasil uji kekerasan menunjukkan hasil rata rata pada formula A 5319g, formula B 5360g dan formula C 5388g. Hasil dianalisis dengan menggunakan Kruskal-Wallis bahwa diantara ke tiga perlakuan tidak didapatkan perbedaan signifikan (Asymp. Sig. 0,779 > 0,05).
Perbedaan indeks berat badan menurut tinggi badan sebelum dan sesudah pemberian makanan tambahan balita underweight Anggraeni, Mulia; Rakhma, Luluk Ria; Kisnawaty, Sudrajah Warajati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1205

Abstract

Background: Nutritional problems in toddlers, particularly underweight, remain a public health challenge in Indonesia. This condition can be influenced by consumption patterns, infections, and indirect factors, such as food access, parenting, sanitation, and health services. Furthermore, mothers' low nutritional knowledge also contributes to children's nutritional status. Lack of supplementary feeding programs is a major factor in the high rates of stunting and wasting in Indonesia. Continuous improvement in the distribution, education, and supervision of supplementary feeding programs is crucial to producing a healthier and more productive generation. Purpose: To determine the difference in body mass index according to height before and after the supplementary feeding programs to underweight infants. Method: A quantitative study using a quasi-experimental method was conducted at the Mojolaban Community Health Center, Sukoharjo, in April 2025. The independent variable was supplementary feeding program, while the dependent variable was weight-for-height. The sampling technique used total sampling, resulting in a sample size of 104 participants based on inclusion and exclusion criteria. Data analysis was performed using univariate analysis in the form of frequency distribution and bivariate analysis using the Wilcoxon test. Results: The mean ± SD of BB/TB Before was −1.7±0.7, with a range of values between −4.90 and −0.30. The mean BB/TB after intervention was −1.69 ± 0.7, with a range of values between −4.76 and 0.28. The Wilcoxon test results showed a p-value of 0.015, indicating a statistically significant difference between BB/TB before and after the supplementary feeding program implementation. Conclusion: Supplementary feeding program for 30 days has been shown to have a significant effect on improving the nutritional status of underweight infants. There was an increase in the Z-score for weight-for-height and the proportion of infants with normal nutritional status, indicating that supplementary feeding program intervention is effective in improving the nutritional status of infants.   Keywords: Body Weight Index; Height; Supplementary Feeding; Toddler; Underweight.   Pendahuluan: Masalah gizi pada balita, khususnya underweight, masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh pola konsumsi, infeksi, dan faktor tidak langsung, seperti akses pangan, pola asuh, sanitasi, serta layanan kesehatan. Selain itu, rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi juga berkontribusi terhadap status gizi anak. Kurangnya pemberian makanan tambahan (PMT) menjadi faktor utama tingginya angka stunting dan wasting di Indonesia. Perbaikan distribusi, edukasi, dan pengawasan program PMT secara berkelanjutan sangat diperlukan untuk menghasilkan generasi yang lebih sehat dan produktif. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) sebelum dan sesudah pemberian makanan tambahan (PMT) pada balita underweight. Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode quasi eksperimental, dilaksanakan di Puskesmas Mojolaban, Sukoharjo pada bulan April 2025. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT), sedangkan variabel dependen adalah berat badan menurut tinggi badan. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, didapatkan jumlah sampel sebanyak 104 partisipan. Analisis data yang digunakan adalah univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Nilai rata-rata (Mean±SD) BB/TB sebelum adalah −1.7±0.7, dengan rentang nilai antara −4.90 hingga −0.30. Nilai rata-rata BB/TB sesudah adalah −1.69±0.7, dengan rentang nilai antara −4.76 hingga 0.28. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p-value sebesar 0.015, yang mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara BB/TB sebelum dan sesudah pemberian PMT. Simpulan: PMT selama 30 hari terbukti berpengaruh signifikan terhadap perbaikan status gizi balita underweight. Terdapat peningkatan nilai Z-score BB/TB dan proporsi balita dengan status gizi normal, yang menunjukkan bahwa intervensi PMT efektif dalam meningkatkan status gizi balita.   Kata Kunci: Balita; Indeks Berat Badan; Makanan Tambahan; Tinggi Badan; Underweight.
Analisis efektivitas pemberian makanan tambahan terhadap indeks bb/u balita underweight Desiana, Zahra Ratnawati; Rakhma, Luluk Ria; Kisnawaty , Sudrajah Warajati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1211

Abstract

Background: Nutritional issues related to underweight remain a public health issue that impacts child growth and development. Supplemental feeding is one intervention taken to address underweight, particularly in early childhood, who are in a critical growth phase. The prevalence of underweight children in Indonesia reached 17.1%, while in Central Java the figure was 17.6% in 2022. In Sukoharjo Regency, the prevalence of underweight was recorded at 11.8%, with 228 cases reported in the Mojolaban Community Health Center area. This situation indicates the need for intervention to address the nutritional challenges faced by children. Purpose:  To analyze the effectiveness of supplementary feeding on the weight/age index of underweight toddlers. Method: A quasi-experimental study involving 100 underweight toddlers aged 12–60 months. Sampling was carried out through random sampling at the integrated service post within the Mojolaban Community Health Center area. Weight measurements were carried out using a digital scale specifically for children with an accuracy of 0.1 kg. The data obtained were analyzed using a weight-for-age (BW/A) z-score based on WHO guidelines. Normality testing was performed using the Shapiro-Wilk method, while differences were assessed using the Wilcoxon Signed Ranks Test with a significance level of p < 0.05. Results: There was an increase in BW/A in early childhood after a month-long (30-day) supplementary feeding intervention program. Children with normal nutritional status experienced an increase from 9.6% to 19.2%, while those in the severely malnourished category decreased from 14.4% to 10.6%. The nutritional status of underweight toddlers also decreased from 76% to 70.2%. Statistical analysis using the Wilcoxon Signed Ranks Test showed a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference between BW/A values ​​before and after the supplementary feeding program. Conclusion: Supplemental feeding has an impact on the nutritional status of underweight toddlers, although the impact is not optimal and has not reached all targets equally. This supplemental nutrition intervention has the potential to increase its effectiveness through improvements in timing, quality, and family involvement in its implementation. Suggestion: Future research is recommended to extend the supplemental feeding period to observe the medium-term effects on the nutritional status of toddlers. Furthermore, a more in-depth review is needed, incorporating other variables, such as health background, eating habits, and environmental conditions that may influence nutritional status.   Keywords: Supplemental; Toddlers; Underweight; Weight/Age Index.   Pendahuluan: Masalah gizi terkait underweight masih tetap menjadi isu kesehatan masyarakat yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah salah satu langkah intervensi yang diambil untuk menangani masalah underweight, khususnya pada anak usia dini yang berada dalam fase pertumbuhan penting. Angka prevalensi anak underweight di Indonesia mencapai 17.1%, sementara di Jawa Tengah angkanya sebesar 17.6% pada tahun 2022. Di Kabupaten Sukoharjo, prevalensi underweight tercatat sebesar 11.8%, dengan 228 kasus yang dilaporkan di area Puskesmas Mojolaban. Situasi ini menandakan perlunya intervensi untuk menyelesaikan masalah gizi yang dihadapi oleh anak-anak. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas pemberian makanan tambahan terhadap indeks bb/u balita underweight. Metode: Penelitian kuasi eksperimen yang melibatkan 100 balita underweight berusia 12–60 bulan. Pengambilan sampel melalui random sampling di posyandu wilayah kerja Puskesmas Mojolaban. pengukuran berat badan menggunakan timbangan digital khusus anak dengan tingkat akurasi 0.1 kg. Data yang diperoleh dianalisis dengan z-score berat badan menurut umur (BB/U) berdasarkan pedoman dari WHO. Pengujian normalitas dilakukan menggunakan metode Shapiro-Wilk, sedangkan perbedaan data diuji menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test dengan tingkat signifikansi p < 0.05. Hasil: Adanya peningkatan berat badan berdasarkan usia (BB/U) pada anak-anak usia dini setelah program intervensi PMT selama sebulan (30 hari). Anak-anak dengan status gizi normal mengalami kenaikan dari 9.6% menjadi 19.2%, sedangkan kategori gizi sangat kurang mengalami penurunan dari 14.4% menjadi 10.6%. Status gizi balita gizi kurang juga turun dari 76% menjadi 70.2%. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan nilai p = 0.000 (p < 0.05), sehingga adanya perbedaan signifikan antara nilai BB/U sebelum dan sesudah program PMT dilaksanakan. Simpulan: Pemberian makanan tambahan (PMT) memengaruhi perubahan status gizi balita underweight, meskipun dampaknya belum optimal dan belum menjangkau semua sasaran secara merata. Intervensi gizi tambahan ini memiliki potensi untuk meningkatkan efektivitasnya melalui perbaikan dalam waktu, kualitas, dan keterlibatan keluarga dalam pelaksanaanya. Saran: Penelitian selanjutnya dianjurkan untuk memperpanjang periode PMT, sehingga dapat mengamati efek dalam jangka menengah pada status gizi anak balita. Selain itu, diperlukan tinjauan yang lebih mendalam dengan memasukkan variabel lain, seperti latar belakang kesehatan, kebiasaan makan, dan kondisi lingkungan yang bisa berpengaruh pada status gizi.   Kata Kunci: Balita; Indeks BB/U; Pemberian Makanan Tambahan (PMT); Underweight.
Hubungan kepatuhan konsumsi pemberian makanan tambahan (PMT) dengan status gizi berat badan menurut umur (BB/U) pada balita underweight Wilujeng, Sindy; Rakhma, Luluk Ria; Kisnawaty, Sudrajah Warajati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1244

Abstract

Background: Nutritional problems in children under five, particularly underweight cases, remain a major public health challenge in Indonesia with significant impacts on child development. In 2019, the prevalence of underweight (weight-for-age) among children under five in Indonesia reached 17.1%, while in Sukoharjo Regency it was recorded at 11.8%. Compliance with the supplementary feeding program is an important strategy to address this issue. Purpose: To analyze the relationship between compliance with consumption of supplementary feeding and nutritional status (W/A) in underweight toddlers. Method: A cross-sectional design was used, involving 104 underweight children under five from a total population of 228, selected by simple random sampling. Primary data were collected through interviews with parents, while secondary data were obtained from Mojolaban Health Center. Body weight was measured using a digital scale and calculated into weight-for-age Z-scores (W/A), while compliance was assessed using weekly comstock monitoring. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of p < 0.05. Results: The majority of mothers were aged 26–35 years (69.2%), unemployed (73.1%), had incomes above the minimum wage (52.9%), and had a high school education (57.7%). Compliance with supplementary feeding was low (17.3%). After the intervention, 60.6% of toddlers gained weight and 19.3% had normal nutritional status, but statistical analysis (p=0.101) showed no significant relationship between compliance with supplementary feeding and nutritional status. Conclusion: There was no significant relationship between compliance with supplementary feeding and nutritional status (weight-for-age) in underweight toddlers. Suggestion: The quality of additional food consumed, frequency of illness, and daily food consumption are several other factors that can influence the nutritional status of toddlers and need to be included in further research.   Keywords: Adherence; Nutritional Status; Supplementary Feeding; Underweight.   Pendahuluan: Masalah gizi pada balita, khususnya kasus underweight, masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia dengan dampak signifikan terhadap perkembangan anak. Pada tahun 2019, prevalensi balita underweight (berat badan menurut umur) di Indonesia mencapai 17.1%, sementara di Kabupaten Sukoharjo tercatat sebesar 11.8%. Kepatuhan terhadap program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) menjadi strategi penting untuk mengatasi masalah ini. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan kepatuhan konsumsi PMT dan status gizi (BB/U) pada balita underweight. Metode: Penelitian dengan desain cross-sectional yang melibatkan 104 balita underweight dari populasi 228, dipilih secara simple random sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara orang tua, sedangkan data sekunder dari Puskesmas Mojolaban. Berat badan diukur dengan timbangan digital dan dihitung Z-score BB/U, kepatuhan dinilai dari comstock mingguan. Analisis menggunakan uji Chi-Square dengan p < 0.05. Hasil: Mayoritas ibu berusia 26–35 tahun (69.2%), tidak bekerja (73.1%), berpendapatan di atas UMR (52.9%), dan berpendidikan SMA (57.7%). Tingkat kepatuhan konsumsi PMT rendah (17.3%). Setelah intervensi, 60.6% balita naik berat badan dan 19.3% berstatus gizi normal, namun uji statistik (p=0.101) menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara kepatuhan PMT dan status gizi. Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan mengonsumsi PMT dengan status gizi berat badan menurut umur (BB/U) pada balita underweight. Saran: Kualitas makanan tambahan yang dikonsumsi, frekuensi sakit, dan konsumsi makanan sehari-hari merupakan beberapa faktor lain yang dapat memengaruhi status gizi balita dan perlu diikutsertakan dalam penelitian selanjutnya. Kata Kunci: Kepatuhan; Pemberian Makanan Tambahan (PMT); Status Gizi; Underweight.
Analisis Antosianin dan Aktivitas Antioksidan Kue Apem Komposit Ubi Jalar Ungu dan Jagung Metode pH Diferensial dan DPPHdan DPPH Sya'roni, Alfina Fauzia; Kurnia, Pramudya; Kisnawaty, Sudrajah Warajati
Nutriology : Jurnal Pangan, Gizi, Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Program Studi Gizi, Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/nutriology.v6i2.5293

Abstract

Oxidative stress indicates an imbalance between free radicals and antioxidants, which can potentially cause health problems. This condition can be prevented through the intake of foods rich in antioxidants, including modifying local foods that use purple sweet potato flour and corn flour in Apem cakes as a composite ingredient for rice flour. The purpose of this study was to determine the effect of purple sweet potato flour and corn flour composites on anthocyanin levels and antioxidant activity in Apem cakes. The research method uses an experiment with a completely randomized design consisting of four types treatment based on the percentage of flour comparison. A: 100% rice flour; B: 15% purple sweet potato flour + 35% corn flour + 50% rice flour; C: 25% purple sweet potato flour + 25% corn flour + 50% rice flour; D: 35% purple sweet potato flour + 15% corn flour + 50% rice flour. Anthocyanin content was tested using the pH differential method, and antioxidant activity was analyzed using the DPPH method. The results of this study showed that there were significant differences in anthocyanin content and antioxidant activity between treatments, with p-values of 0.003 and 0.000, respectively. The conclusion was that the highest anthocyanin content and antioxidant activity were found in Apem Cake treatment D, which was 20.14 ppm and 70.74%.
Pengaruh Pendidikan Gizi terhadap Pengetahuan dan Konsumsi TTD pada Remaja Putri Mayguspin, Giovanni Agnis; Hidayati, Listyani; Puspowati, Susi Dyah; Kisnawaty, Sudrajah Warajati
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 16th University Research Colloquium 2022: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan yang ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin dalam tubuh sehingga menyebabkan kapasitas darah yang dibawa oksigen ke jaringan tubuh menurun. Remaja putri memiliki risiko yang lebih besar terkena anemia yang dibuktikan dengan tingginya prevalensi anemia. Pendidikan gizi merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan gizi terhadap pengetahuan dan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri di Kabupaten Sukoharjo. Metode dalam penelitian ini menggunakan desain Cluster Randomized Trials (CRTs) dengan pengambilan sampel secara multistage sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini masing-masing sebanyak 99 remaja putri pada kelompok perlakuan dan 101 remaja putri pada kelompok kontrol. Pendidikan diberikan secara online selama satu bulan sebanyak 6 kali pertemuan melalui link youtube dan whatsapp group dengan masa refleksi 1 bulan. Metode yang digunakan adalah ceramah dan diskusi dengan media pendidikan berupa video dan narasi powerpoint. Data pengetahuan diambil menggunakan kuesioner pre dan post test sedangkan data konsumsi TTD diambil menggunakan pengisian SQ-FFQ yang divalidasi ulang dengan wawancara secara langsung kepada subjek penelitian. Analisis data menggunakan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok pelakuan kategori pengetahuan baik mengalami kenaikan sebesar 17% dibuktikan dengan hasil pre-test 20,5% dan post-test 37,5%, sedangkan kelompok kontrol mengalami penurunan kategori pengetahuan baik sebesar 3,5% dibuktikan dengan hasil pre-test 28,0% dan post-test 24,5%. Konsumsi TTD kategori patuh terjadi kenaikan sebesar 11% pada kelompok perlakuan dibuktikan dengan hasil pre-test 13% dan post-test 24% sedangkan kelompok kontrol terjadi penurunan kategori patuh sebesar 9% dibuktikan dengan hasil pre-test 21,5% dan post-test 12,5%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh pendidikan gizi terhadap pengetahuan dan konsumsi TTD dibuktikan dengan nilai pvalue 0,041 (pengetahuan) dan 0,000 (konsumsi TTD). Saran berdasarkan penelitian ini adalah diharapkan remaja putri dapat secara rutin untuk mengonsumsi TTD dan metode pendidikan gizi secara online diterapkan disekolah sehingga dapat menurunkan pravelensi anemia di Kabupaten Sukoharjo.
Hubungan Tingkat Pendidikan, Pengetahuan Tentang Anemia, Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Ibu Hamil Minum TTD Yanti, Lidya Mardi; Mahardita, Maurizka Ulfi; Hidayati, Listyani; Firmansyah, F; Warajati, Sudrajah; Isnaeni, I
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 16th University Research Colloquium 2022: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyatakan bahwa, di Indonesia sebesar 48,9% ibu hamil mengalami anemia. Anemia pada ibu hamil masih menjadi salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Berbagai upaya dalam menurunkan angka anemia pada ibu hamil salah satunya dengan memberikan TTD. Berdasarkan data Puskesmas Pajang Kota Surakarta tahun 2021 persentase ibu hamil anemia sebesar 5,45%. Penelitian ini menggunakan desain crossectional dengan jumlah subjek 95 ibu hamil menggunakan teknik consecutive sampling. Data pengetahuan anemia diperoleh dari kuesioner dan kepatuhan mengkonsumsi TTD diperoleh dari wawancara dengan kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan pendidikan ibu kategori tinggi sebesar 76,6%, pengetahuan yang tinggi tentang anemia dengan kategori patuh sebesar 72.3% dan dukungan keluarga dalam kategori rendah maupun tinggi persentasenya hampir sama sebesar 71,6% dan 71,4%. Berdasarkan hasil hipotesis menggunakan uji chi square variabel antara pendidikan ibu dengan kepatuhan minum TTD terdapat hubungan sebesar p=0.049, sedangkan pengetahuan tentang anemia dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan ibu minum TTD tidak terdapat hubungan (p=0.817). Rekomendasi penelitian ini adalah ibu hamil diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan dalam mengkonsumsi TTD
Menciptakan Kemandirian Pangan dan Kesehatan Bagi Anggota Prolanis di Puskesmas Ngemplak 1, Kabupaten Sleman, Yogyakarta Kisnawaty, Sudrajah Warajati; Ariyani, Ima; Kirani, Fahira Diva; Sofyan, Aan; Mustikaningrum, Fitriana
Inovasi Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 3 (2023): IJPM - Desember 2023
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/ijpm.278

Abstract

Anggota prolanis di Puskesmas Ngemplak 1 Kabupaten Sleman sebagian besar menderita Diabetes Melitus (DM). Penyakit tersebut berdampak pada penurunan kualitas hidup dan berpotensi menyebabkan komplikasi. Olahan produk berupa beras analog dari bahan unggulan daerah memiliki manfaat bagi kesehatan, terutama sebagai pengganti makanan pokok beras. Beras analog umbi gembili mengandung tinggi serat yang bermanfaat untuk mengatur kadar glukosa darah. Tujuan kegiatan pengabdian yaitu meningkatkan kemandirian pangan dan kesehatan pada anggota prolanis terkait penyakit DM dengan pelatihan pembuatan beras analog umbi gembili beserta kemasannya. Metode pelaksanaan yaitu survey, identifikasi perumusan masalah, penyuluhan dan pelatihan, evaluasi, serta pemantauan efektivitas kegiatan. Kegiatan pengabdian melibatkan peran mitra mulai tahapan survey hingga tahap akhir pelaksanaan kegiatan, yaitu diskusi rencana pelaksanaan kegiatan, serta penyediaan sarana dan prasarana. Kegiatan yang dilakukan yaitu demonstrasi pembuatan beras analog umbi gembili, pelatihan pembuatan kemasan, label, dan cara pengajuan nomor PIRT produk. Hasil yang diperoleh yaitu produk beras analog umbi gembili, hasil uji organoleptik, label produk, kemasan produk, dan bagaimana ajuan nomor PIRT.
Hubungan Asupan Energi dan Aktifitas Fisik dengan Status Gizi Pada Remaja Putri, Desy Anisa Lasono; Kisnawaty, Sudrajah Warajati; Zulaekah, Siti
NUTRIX Vol 9 No 1 (2025): Volume 9, Issue 1, 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v9i1.1253

Abstract

Asupan energi dan aktivitas fisik erat kaitannya dengan status gizi. Apabila asupan energi dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan dalam jangka waktu lama akan menimbulkan masalah gizi. Selain itu, kurangnya aktivitas fisik dapat menimbulkan permasalahan gizi yang berdampak pada status gizi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan asupan energi dan aktivitas fisik dengan status gizi remaja SMK Muhammadiyah 4 Surakarta. Desain penelitian ini menggunakan observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan proposional random sampling dengan total sampel 54 siswa. Pengumpulan data asupan energi dengan wawancara menggunakan food recall 4×24 jam, aktivitas fisik dengan form recall aktivitas fisik 7×24jam, sedangkan data status gizi dari hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan secara langsung. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji rank spearman. Hasil: 26% siswa memiliki asupan energi lebih, 50% siswa memiliki aktivitas fisik ringan, dan 27,8% siswa memiliki status gizi lebih. Terdapat hubungan signifikan antara asupan energi dengan status gizi (p=0,000), aktivitas fisik dengan status gizi (p=0,000). Energy intake and physical activity are closely related to nutritional status. If energy intake is consumed not according to needs for a long period of time, it will cause nutritional problems. In addition, lack of physical activity can cause nutritional problems that have an impact on nutritional status. The purpose of this study was to determine the relationship between energy intake and physical activity with the nutritional status of adolescents at SMK Muhammadiyah 4 Surakarta. This study design used observational with a cross-sectional approach. The sampling technique used proportional random sampling with a sample size of 54 students. Data collection of energy intake by interview using a 4x24-hour food recall, physical activity with a 7x24-hour physical activity recall form, while nutritional status data from direct measurements of weight and height. Data analysis used univariate and bivariate analysis with the Spearman rank test. The results showed that 26% of students had excess energy intake, 50% of students had light physical activity, and 27.8% of students had excess nutritional status. There was a significant relationship between energy intake and nutritional status (p = 0.000), physical activity with nutritional status (p = 0.000). It is recommended that schools cooperate with the local Health Center or Health Service to provide counseling or outreach on the importance of meeting daily energy intake and the importance of doing physical activity to avoid the impact of nutritional problems.
Moisture Content and Protein Content of Apem Cake Based on a Composite of Purple Sweet Potato and Corn Flour Azzahrah, Fatimah; Kurnia, Pramudya; Warajati Kisnawaty, Sudrajah
JURNAL KESMAS DAN GIZI (JKG) Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Kesmas dan Gizi (JKG)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/07hkzs96

Abstract

Sweet potatoes and corn are local food ingredients with potential as alternative substitutes for rice. Traditionally, apem cakes are made using rice flour as the main ingredient. Partially replacing rice flour with sweet potato flour and corn flour is expected to optimize the utilization of these local ingredients and improve the nutritional value of the resulting apem cake. This study aimed to analyze the effect of using purple sweet potato flour and corn flour on the moisture content and protein content of apem cake. The study employed a completely randomized design (CRD) with four formulations of rice flour, purple sweet potato flour, and corn flour, namely A (100%:0%:0%), B (50%:15%:35%), C (50%:25%:25%), and D (50%:35%:15%). Moisture content was measured using the gravimetric method, while protein content was analyzed using the titrimetric method. Moisture content data were analyzed using Welch’s ANOVA, and protein content was analyzed using One-Way ANOVA followed by Tukey’s HSD test. The results showed that the highest moisture content was 41.42% in the formulation with 15% purple sweet potato flour and 35% corn flour, and the lowest was 40.76% in the 100% rice flour formulation. Welch’s ANOVA indicated no significant difference in moisture content among treatment groups (p = 0.378; p > 0.05). The highest protein content was 4.51% in the 100% rice flour formulation, and the lowest was 4.09% in the formulation with 35% purple sweet potato flour and 15% corn flour. ANOVA results indicated a statistically significant difference in protein content (p = 0.001; p < 0.05). In conclusion, the use of purple sweet potato flour and corn flour in apem cake did not significantly affect moisture content but significantly influenced protein content. Further investigations should focus on optimizing the formulation to evaluate the influence of the treatment on product quality and storage stability.
Co-Authors Aan Sofyan Agus Sudaryanto Alden Ganendra Madhava Priya Hardianto Anggraeni, Mulia Anindita Hasniati Anindya Suryawati Anjalya Pertiwi, Munitya Annur Indra Kusumadani Aprilia, Lisa Aristawidya Dwi Rahmadevi Ariyani, Ima Ariyanto, Fazri Aulia, Khairunnisa Authar, Nada Nailul Azami, Darasyifa Azizy, Sylfira Qothrunnada Cahyono, Dedi Dwi CHOIRUN NISA Cintia, Fadhilla Fatwa Dayanti, Abela Rhestu Desiana, Zahra Ratnawati Dewitasari, Mariska Latifa Dhaifullah, Rifqi Dina Nur Hanifah Dwi Linna Suswardany Dwi Sarbini Dyah Intan Puspitasari Dyah Intan Puspitasari Efri Roziaty Eka Danik Prahastiwi Endang Nur Widiyaningsih Eni Purwani Fadhila, Yusyrifa Farida Nur Isnaeni Fatimah Azzahrah fatimah Fatimah Firmansyah Firmansyah Firmansyah Firmansyah Firmansyah Firmansyah Fito Zuhud Abdillah Fitriana Mustikaningrum Frintia Agma Oktalita Saputri Giovanni Agnis Mayguspin Hani, Nur I Isnaeni Ima Ariyani Ima Aryani Indah Pramitajati Isnaeni, I Izzatul Arifah Jesian Viviandita Jusoh, Tengku Farizan Izzi Che Ku Khairunnisa, Mutiara Zulfaa Khoirunnisa, Ariani Kirana, Garda Sukma Kirani, Fahira Diva Kurnia Dewi, Emilia Larasati, Amelinda Putri Lidya Mardi Yanti Listyani Hidayati Listyani Hidayati Listyani Hidayati Luluk Ria Rakhma Luthfilhadi, Farisin Hanif Mahardita, Maurizka Ulfi Mardiyanti, Nur Lathifah Mardiyati, Nur Lathifah Maurizka Ulfi Mahardita Mayguspin, Giovanni Agnis Meliana, Della Mochammad Imron Awalludin Muhammad Afif Muhammad Masykuri Abdillah Munitya Anjalya Pertiwi Mutiara, Intan Muwakhida, Muwakhida Nariah, Husna nita puspitasari Nur Andriyani Nur Hidayah Nur Hidayati, Intan Nur Lathifah Mardiyati Nur Nabilah, Ajeng Nurul Fatimah Oftasari, Yosi Oktalita Saputri, Frintia Agma Perwithosuci, Winny Pramudya Kurnia Prawesthi, Tiva Eka Prayudhi, Laily Maulidya Kusumaning Puspitasari, Dyah Intan Puspowati, Susi Dyah Putri, Desy Anisa Lasono Putri, Nasva Fadila Eltari Qomarun Qomarun Rahmadani, Vira Annisa Rahmawati, Seli Nur Ramadhani, Virra Putri Rasendria, Aurelia Neisya Sahira, Batrisya Salsabiila Sayida Rohma, Annisa Salsabila, Almeyda Santhyami Santhyami Sari, Rut Mila Shafira Azzahra Siti Zulaekah Styaningsih, Aulia Sudana Fatahillah Pasaribu Sukmawati, Maya Susi Dyah Puspowati Sya'roni, Alfina Fauzia Titik Dwi Noviati Ulfia Fitriyani Viviandita, Jesian Widya Kaharani Putri Wilujeng, Sindy Wulandari, Arita Yanti, Lidya Mardi Yianarfa, Efina Rifi Yolanda, Intania Widi Yuniarti Zulia Setiyaningrum