Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Penatalaksaan Fisioterapi pada Pasien Pneumothorax Dextra Et Causa Tuberculosis dengan Pemasangan Water Seal Drainage di RS Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga: Case Report Rosyad, Hanif Ar; Wijianto, W; Hartoto, Joko Sri
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Pneumothoraks adalah keadaan di mana terdapat ruang di dalam kantong pleura. Kondisi ini bisa menyebabkan masalah pada pernapasan, pasokan oksigen, atau kedua-duanya. Gejala yang dialami dengan kesulitan untuk bernapas, kulit yang berubah menjadi kebiruan, pernapasan yang cepat, keterbatasan dalam bergerak, serta nyeri di dada yang berasal dari paru-paru akibat adanya udara di ruang pleura. Pneumotoraks terjadi akibat infeksi tuberculosis (TB) pada paru-paru dan pleura serta berdampak pada sekitar 1,5% dari semua pasien. Teknik Pursed Lip Breathing dapat digunakan untuk membantu mengatasi masalah pembersihan saluran pernapasan yang tidak efektif pada pasien pneumotoraks. Latihan Ekspansi Toraks, baik yang dilakukan secara aktif maupun pasif, dapat membantu memperbaiki kondisi dinding dada, dan pijatan lembut dapat digunakan untuk merelaksasi otot-otot pernapasan yang tegang.Case Presentation: Pasien berusia 34 tahun dengan keluhan batuk, sesak, dan saat menarik napas terasa dada sebelah kanan terasa berat dan tidak full mengembang saat menarik napas. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, heart rate 84x/menit, respiratory rate 24x/menit, mMRC dengan skor 2. Ekspansi thoraks pada axilla 1,5 cm, ICS 4 didapati 1,5 cm, processus xipoid 2 cm.Management and Outcome: Setelah pemberian intervensi Pursed Lip Breathing, Thoracic Expansion Exercise dan Gentle Massage selama 3 hari dan dilakukan evaluasi, didapati penurunan derajak sesak dari 5 menjadi 3, peningkatan kemampuan fungsional dengan mMRC dari 2 menjadi 1, dan peningkatan ekspansi sangkar thoraks pada ICS 2, ICS 4 dan prosesus xiphoideus.Discussion: Rehabilitasi paru-paru memiliki manfaat yang signifikan dalam mengurangi gejala sesak napas, serta meningkatkan kekuatan dan stamina otot. PLB dan TEE sering dilakukan dalam program rehabilitasi paru-paru dan selama aktivitas kehidupan sehari-hari karena mengurangi laju pernapasan saat istirahat, meningkatkan saturasi oksigen dan volume tidal. Begitu juga dengan Gentle Massage efektif pada peningkatan aliran darah dan suhu kulit, serta pengaktifan sistem limfatik.Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk pasien yang mengalami Pneumothoraks menunjukkan hasil yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, meningkatkan ekspansi dada, dan memperbaiki kemampuan fungsional paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Management Fisioterapi pada Kasus Tennis Elbow di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Apriyanto, Gusti Dwi; Wijianto, W; Setiawan, Galih Adhi Isak
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Degenerasi tendon yang paling sering terjadi pada siku adalah tennis elbow. Kelainan ini menyebabkan nyeri pada sisi lateral siku. Nyeri ini terutama terjadi pada epicondylus lateralis dan otot ekstensor pergelangan tangan. Kelainan ini terutama terjadi pada pemain tenis lapangan atau pada orang-orang yang sering menggunakan lengan bawah dalam posisi pronasi, seperti ibu rumah tangga, tukang, pemahat, montir, dan orang lain yang sering menggunakan pergelangan tangan dalam posisi ekstensi jari.Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan metode studi kasus bertujuan untuk mengetahui manajemen fisioterapi pada kasus tennis elbow. Penelitian di lakukan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada seorang laki-laki berinisial Tn. NK berusia 31 tahun, merupakan seorang content creator dan beralamatkan Gunung Kidul, Yogyakarta, Jawa Tengah. Pasien masuk ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dengan keluhan nyeri pada area siku pada saat di gerakan.Management and Outcome: Pasien diberikan ultrasound, Tens dan myofascial release selama 4 minggu 4x pertemuan dengan dosis dosis 3 kali dalam 2 minggu setiap sesinya 10-15 menit. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan Range Of Motion (ROM), Manual Muscle Testing, Numeric Rating Scale dan kemampuan fungsional.Conclusion: Setelah diberikan intervensi berupa TENS, ultrasound dan myofascial release sebanyak 4x pertemuan didapatkan hasil perubahan yang cukup signifikan.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Stroke Intracerebral Hemorage di RS Syaiful Anwar Malang Jawa Timur: Case Report Raihani, Ferrarista Nadja; Wijianto, W; Belinda, Melur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Stroke atau biasa dikenal sebagai cerebrovascular accident merupakan suatu penyakit pada sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan defisit neurologis akibat dari adanya permasalahan suplai darah di otak baik berupa sumbatan/iskemik maupun pecahnya pembuluh darah/hemoragik. Menurut WHO stroke menduduki peringkat ke tiga penyebab kecacatan di dunia dengan presentase 42%. Gangguan disabilitas pada stroke dapat berupa penurunan kekuatan otot, gangguan kognitif, gangguan motorik, gangguan sensorik, gangguan komunikasi, gangguan menelan, gangguan keseimbangan dan mobilitas. Tujuan artikel ini untuk memberikan gambaran rehabilitasi fisioterapi pada pasien pasca stroke.Case Presentation: Tn. DM usia 42 tahun dengan diagnosa cerebro vascullar accident intracerebral hemorage sejak bulan Oktober 2024. Pasien mengalami gejala kelemahan separuh badan sisi kanan yang diikuti dengan adanya gangguan sensasi.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan berupa PNF, MRP, Gait training, Strengthening exercise dan NMES. Evaluasi dilakukan dengan mengukur kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT), Range of Motion (ROM) dengan Gonio Isom, dan kemampuan fungsional menggunakan Index Barthel.Discussion: Hasil intervesi fisioterapi yang diberikan sudah menunjukan adanya perbaikan meskipun masih belum signifikan. Hal ini menjadi bukti positif adanya manfaat dari intervensi yang telah diberikan dan sejalan dengan penelitian-penelitian terdahulu pada kasus serupa.Conclusion: Intervensi fisioterapi yang diberikan memberikan efek positif terhadap kondisi pasien meskipun belum signifikan. Intervensi fisioterapi yang dilakukan secara rutin dan diikuti dengan evaluasi yang terstruktur akan mendorong tercapainya hasil yang optimal.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Frozen Shoulder Sinistra Komorbiditas Diabetes Mellitus: A Case Study Ningsih, Fitriya; Wijianto, W; Yanuar, Reza Arshad
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Frozen shoulder adalah gangguan muskuloskeletal yang ditandai dengan nyeri dan keterbatasan mobilitas sendi bahu. Salah satu faktor primer pemicu frozen shoulder adalah diabetes melitus. Prevalensi frozen shoulder pada populasi umum sekitar 0,75%, namun prevalensi frozen shoulder pada penderita diabetes melitus lebih tinggi yaitu sekitar 13,4%.Case Presentation: Seorang pasien laki-laki berusia 44 tahun yang didiagnosis menderita frozen shoulder kiri dan memiliki riwayat diabetes melitus menjalani fisioterapi selama tiga sesi. Pemeriksaan menunjukkan pasien terdapat nyeri, penurunan kekuatan otot, keterbatasan lingkup gerak sendi, dan penurunan aktivitas fungsional.Management and Outcome: Intervensi yang diberikan adalah terapi inframerah (13 menit), US (5 menit), dan terapi latihan (15–30 menit). Penilaian dilakukan dengan NRS, MMT, Goniometer, dan SPADI. Skor nyeri berkurang dari 3 menjadi 2, sementara nyeri akibat gerakan berkurang dari 4 menjadi 3. Rentang gerak sendi membaik dalam fleksi (+5°), ekstensi (+4°), abduksi (+6°), dan rotasi eksternal (+4°). Penilaian disabilitas SPADI turun dari 36,9% menjadi 33,8%.Discussion: Terapi kombinasi yang diberikan berupa terapi inframerah, ultrasound, dan terapi latihan bertujuan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi sendi bahu pada kasus frozen shoulder sinistra.Conclusion: Terapi kombinasi inframerah, ultrasound, dan terapi latihan efektif meredakan nyeri, menjaga stabilisasi kekuatan otot, meningkatkan lingkup gerak sendi, dan kemampuan fungsional pasien frozen shoulder sinistra komorbiditas diabetes melitus.
Efek Pemberian Electrical Stimulation dan Terapi Latihan pada Kasus Drop Foot: Studi Kasus Zahra, Fadhilla Mutiara; Wijianto, W; Purbasasana, P
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Drop foot ditandai oleh ketidakmampuan untuk melakukan dorsifleksi pada bagian depan telapak kaki akibat kelemahan otot dorsifleksi. Kondisi ini dapat mengakibatkan gaya berjalan yang tidak stabil dan kompensasi, serta meningkatkan risiko terjatuh.Case Presentation: Seorang pria berusia 69 tahun, dengan diagnosa medis drop foot sinistra. Pasien datang dengan keluhan kelemahan otot kaki/drop foot pada bagian kaki kiri serta adanya rasa nyeri pada ankle kiri pada saat berjalan.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan yaitu Electrical Stimulation dan Terapi Latihan. Pemberian Electrical Stimulation diberikan 1x/minggu dan Terapi Latihan dilakukan 2x/setiap hari. Hasil yang didapat adalah nyeri gerak sudah berkurang, MMT (Kekuatan otot) meningkat, Range of Motion meningkat, Kemampuan fungsional pasien juga meningkat, serta massa otot pada kaki kiri yang bertambah. Nyeri gerak pada pertemuan kedua sudah berkurang menjadi nilai 1 (nyeri ringan) dari yang sebelumnya nilai 2 (nyeri ringan) dan untuk nyeri diam serta nyeri tekan tetap di nilai 0; MMT (Kekuatan otot) meningkat yaitu untuk gerakan eversi dari nilai 2 menjadi nilai 3, gerakan plantar fleksi dari nilai 3 menjadi nilai 4, gerakan inversi dari nilai 3 menjadi nilai 4 sedangkan untuk gerakan dorsi fleksi belum ada perubahan dari nilai 2 tetap di nilai 2; Range of Motion meningkat pada gerakan dorsi fleksi-plantar fleksi dan untuk gerakan eversi-inversi; Kemampuan fungsional pasien juga meningkat yaitu dari nilai 74 menjadi nilai 75; serta massa otot pada kaki kiri yang bertambah.Conclusion: Setelah di berikan intervensi fisioterapi 2 kali pertemuan terlihat perubahan yaitu nyeri gerak sudah berkurang, MMT (Kekuatan otot) meningkat, Range of Motion meningkat, Kemampuan fungsional pasien juga meningkat, serta massa otot pada kaki kiri yang bertambah.
Penatalaksaan Fisioterapi pada Pasien dengan Kondisi Respiratory Failure di RSUP Surakarta: Case Report Priambodo, Hafid Dito; Wijianto, W; Sulistyowati, Fatonah
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Respiratory failure merupakan situasi dimana sistem pernapasan tidak dapat melaksanakan tugas pertukaran gas, yang meliputi penyerapan oksigen dan pengeluaran karbondioksida. Ketidakberhasilan pembersihan jalan napas merupakan ketidakmampuan untuk menghilangkan lendir atau hambatan pada jalan napas demi menjaga agar jalan napas tetap terbuka. Active Assisted Exercise berfungsi untuk menghindari atrofi dan kontraktur pada otot – otot ektremitas dan Chest Therapy merupakan salah satu tindakan terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi bersihan jalan nafas.Case Presentation: Pasien berusia 68 tahun sudah 3 hari terakhir kedua kaki bengkak, batuk, berdahak. Keluhan utama pasien yaitu sehabis pemasangan alat bantu napas melalui mulut, pasien menjadi memiliki retensi mucus. Heart Rate 94 kali per menit, frekuensi pernapasan tinggi mencapai 45 kali per menit, dan kadar oksigen tercatat sebesar 58%. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, dan mMRC dengan skor 4.Management and Outcome: Setelah menjalani terapi Active Assisted Exercise dan Chest Therapy sebanyak tiga kali, tampak adanya penurunan tingkat kesulitan bernapas dari 5 yang mengindikasikan sesak napas yang sangat parah. Namun, setelah terapi, angka tersebut berkurang menjadi 3, yang menunjukkan adanya sedikit sesak napas tingkat sedang, serta peningkatan dalam kemampuan fungsional dengan mMRC dari 4 turun menjadi 2.Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk kasus gagal napas menunjukkan dampak yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, memperbaiki kapasitas dada, serta meningkatkan fungsi paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien mengalami perbaikan dari keadaan sebelumnya.