p-Index From 2021 - 2026
10.476
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Model Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani di Kedaung Depok Sebagai Daerah Urban Melalui Kampung Caraka Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi; Avliya Quratul Marjan; Kery Utami; Khoirul Anwar
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52450

Abstract

Kegiatan urban farming menjadi solusi strategis untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan di daerah perkotaan. Kelompok Wanita Tani (KWT) memegang peran sentral sebagai aktor utama, seperti yang diimplementasikan oleh KWT Asri di Kelurahan Kedaung, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, yang merupakan wilayah dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di bawah rata-rata kota. KWT Asri merupakan bagian dari inisiatif Pemerintah Kota Depok, yaitu program Kampung Cerdas Ramah Keluarga (CARAKA) yang mengintegrasikan berbagai permasalahan, termasuk Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model pemberdayaan KWT Asri dalam pemenuhan kebutuhan pangan lokal. Riset ini mengadopsi pendekatan kualitatif melalui studi lapangan dengan teknik pengumpulan data triangulasi: wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis menggunakan model CIPOO (Content, Input, Process, Output, dan Outcome). Hasilnya menunjukkan bahwa proses pemberdayaan KWT Asri melibatkan kolaborasi antara Kelurahan Kedaung, Mitra Perguruan Tinggi (UPN Veteran Jakarta dan Universitas Sahid Jakarta), dan anggota KWT sendiri. Input mencakup penyediaan sarana dan prasarana (lahan, rumah pembibitan, kolam ikan, benih), serta pelatihan P2L dan pembuatan pupuk organik. Output yang dihasilkan beragam, seperti kangkung (50 ikat), bayam (15 ikat), terong (12 kg), timun suri (15,2 kg), kacang panjang (75 ikat), cabai (15 kg), dan pepaya (10 kg). Outcome utama kegiatan ini adalah pendistribusian sebagian besar hasil panen kepada keluarga yang memiliki bayi dan balita, sebagai upaya nyata intervensi gizi dan pencegahan stunting. Hasil panen sisanya dijual untuk modal kerja KWT. Dengan demikian, model pemberdayaan ini berhasil meningkatkan ketahanan pangan lokal, ketersediaan pangan segar, dan menciptakan model ekonomi sirkular berbasis komunitas di wilayah urban.
Evolusi Kebijakan Gizi dalam Manajemen Bencana, Studi Kasus Gempa Cianjur Yessi Crosita Octaria; Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi; Iin Fatmawati; Nanang Nasrulah; Nur Intania Sofianita; Avliya Quratul Marjan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53802

Abstract

Latar Belakang: Integrasi layanan gizi dalam manajemen bencana merupakan komponen penting untuk mencegah peningkatan malnutrisi pada kelompok rentan. Namun di Indonesia, integrasi Nutrition in Emergency (NiE) dalam kebijakan daerah belum optimal. Gempa bumi Cianjur 2022 memberikan konteks penting untuk memberikan gambaran sejauh mana kebijakan terkait bencana di daerah telah mengakomodasi aspek gizi. Metode: Analisis konten dilakukan terhadap 4.816 dokumen Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Kabupaten Cianjur (2022–2023). Seleksi bertahap menghasilkan 15 dokumen yang relevan. Analisis isi menggunakan lima domain: struktur kelembagaan, mandat fungsi, panduan operasional, integrasi gizi, dan pembiayaan. Data diperkuat dengan temuan lapangan dan wawancara pemangku kepentingan terkait respons gizi pasca-gempa. Hasil: Analisa dokumen menemukan bahwa meskipun terjadi penguatan struktur kelembagaan bencana, tidak ada regulasi yang secara eksplisit mengatur layanan gizi darurat, termasuk Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) dalam situasi bencana, maupun manajemen wasting. Dokumen tanggap darurat mengatur logistik dan komando, tetapi tidak memuat standar pelayanan gizi minimum. Implementasi gizi di lapangan berlangsung secara ad-hoc dan bergantung pada inisiatif tenaga kesehatan, bukan sebagai mandat kebijakan formal. Kesimpulan: Evolusi kebijakan kebencanaan di Cianjur belum mengintegrasikan NiE secara sistematis. Diperlukan peraturan daerah yang menetapkan layanan gizi darurat, struktur koordinasi, panduan operasional, dan pembiayaan untuk meningkatkan kesiapsiagaan gizi pada bencana mendatang
Potensi Kefir Susu Kambing dengan Penambahan Madu Randu dalam Mencegah Stress Oksidatif pada Tikus Diabetes : Potential of Randu Honey Kefir to Prevent Oxidative Stress in Diabetic Rats Ilmi, Ibnu Malkan Bakhrul; Marjan, Avliya Quratul; Harfiani, Erna; Kusuma, Indra; Wahyuningsih, Utami; Fikriana, Chika Nur; Mulyadewi, Amelia Luthfiyah
Amerta Nutrition Vol. 9 No. 1SP (2025): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 5th Amerta Nutrition Conferenc
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v9i1SP.2025.31-40

Abstract

Background: More than 90% of adults with type 2 diabetes are overweight or obese. This condition is known to increase oxidative stress, which contributes to cellular damage and disease complications. As a functional food, kefir has long been recognized for its various health benefits, including anti-inflammatory, antioxidant, and antidiabetic properties. Objectives: This study aimed to analyze the potential of randu honey kefir in preventing oxidative stress in diabetic rats. Methods: This study employed a randomized block design with a 21-day intervention period. A total of 42 male Sprague Dawley rats aged 6–8 weeks were divided into six groups: KS (standard), KN (negative control), K1 (quercetin), K2 (metformin), P1 (randu honey kefir 1.8 mL/200g BW), and P2 (preventive group). Diabetes was induced using streptozotocin at 40 mg/kgBW combined with a high-fat diet. Malondialdehyde (MDA) levels were analyzed using spectrophotometry, while interleukin-6 (IL-6) and tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) levels were measured using ELISA kits. Results: Significant differences (p-value<0.05) were observed in MDA, TNF-α, and IL-6 levels between the P1 and P2 groups compared with the KN group. Randu honey kefir groups showed mean oxidative stress marker levels comparable to those of quercetin and metformin treatments, including MDA (P1: 32.9 ± 29.35 nmol/mL; P2: 23.77 ± 11.63 nmol/mL), TNF-α (P1: 45.37 ± 31.25 pg/mL; P2: 37.81 ± 27.00 pg/mL), and IL-6 (P1: 64.81 ± 21.35 pg/mL; P2: 59.23 ± 14.95 pg/mL). Conclusions: Randu honey kefir intervention demonstrates potential in suppressing oxidative stress in diabetic rats.
Pengembangan dan Evaluasi Minuman Sereal Sarapan Kaya Zat Gizi Berbasis Kedelai, Oat, Kelor, dan Madu untuk Remaja: Development and Evaluation of a Nutrient-Rich Breakfast Cereal Beverage Based on Soybeans, Oats, Moringa, and Honey for Adolescents Hartanti, Puspaningrum Dwi; Ilmi, Ibnu Malkan Bakhrul
Amerta Nutrition Vol. 9 No. 1SP (2025): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 5th Amerta Nutrition Conferenc
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v9i1SP.2025.41-54

Abstract

Background: Adolescence is a period of growth spurt, requiring optimal nutrient intake to support physical and cognitive development. Skipping breakfast increases the risk of growth faltering and reduced academic performance. In West Java, 6.1% of adolescents aged 13-15 years are underweight and 29.6% exhibit poor breakfast habits, which may hinder the achievement of the SDGs, particularly Zero Hunger and Good Health and Well-Being. Objectives: To analyze the organoleptic acceptability and nutritional content of cereal beverage formulated from soybeans, rolled oats, moringa leaves, and randu honey as a potential nutrient source for adolescents. Methods: A completely randomized design with three formulations was used. The ratio of soybean powder to rolled oats were F1 (20g:10g), F2 (15g:15g), and F3 (10g:20g). Each formulation was supplemented with 5 g of moringa leaf powder and 10 g honey. Organoleptic data were analyzed using Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests, while nutritional content from proximate and mineral analysis were evaluated using ANOVA and Duncan tests. Results: Significant differences were observed in color(p-value=0.048) and texture (p-value=0.012), while aroma and taste did not differ significantly (p-value>0.05). Nutritional analysis showed significant differences in ash (p-value=0.002), moisture (p-value=0.003), energy (p-value=0.002), protein (p-value<0.001), fat (p-value=0.001), carbohydrates (p-value<0.001), and calcium (p-value<0.001), whereas iron content showed no significant difference (p-value=0.102). Conclusions: F1 was selected as the best formulation, containing 23,79 g of protein per 100 g, making it a high-protein product. This cereal beverage shows potential as a practical and nutritious breakfast alternative for adolescents.
Analisis Indeks Glikemik dan Beban Glikemik Minuman Sereal Berbasis Kedelai, Oat dan Madu Randu dengan Penambahan Bubuk Daun Kelor Mumtaz, Hilmy; Ilmi, Ibnu Malkan Bakhrul
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55676

Abstract

Type 2 diabetes melitus is a chronic disease caused by insulin resistance. In 2023, the prevalence of type 2 DM in Indonesia among people aged ≥15 years continued to increase, reaching 11.7% among people of productive age. e implementation of a natural food-based diet with high fiber and low glycemic index is important in controlling blood glucose in people with type 2 diabetes. This study aims to describe the glycemic index and glycemic load values of test cereal drinks with added moringa leaves and compare them with commercial products. The study used a true experimental design with a crossover design on 10 subjects who met the inclusion and exclusion criteria. The treatment was given three times in the form of pure glucose, commercial cereal, and moringa leaf test cereal with a minimum washout period of three days. Blood glucose was collected at 0, 15, 30, 45, 60, 90, and 120 minutes, followed by the calculation of the glycemic index using IAUC method and glycemic load. The results showed that the moringa leaf test cereal had a GI value of 50.71% (low category), while the commercial cereal had a value of 61.06% (moderate category). Both BG values were in the moderate category, at 12.67 and 15.26, respectively. It was concluded that the moringa leaf test cereal effectively provided more stable postprandial blood glucose control due to its high fiber content and low glycemic index value.
Overview of dietary patterns and vegetable/fish preferences among autistic children Ilmi, Ibnu Malkan Bakhrul; Octaria, Yessi Crosita; Majida, Lia Awwalia; Olivia, Monica Viorafanti
Nursing and Health Sciences Journal (NHSJ) Vol. 6 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : KHD-Production

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53713/nhsj.v6i1.661

Abstract

Global autism prevalence is rising, necessitating specialized dietary management. While gluten-free and casein-free (GFCF) diets, along with Omega-3 and antioxidant-rich foods, are recommended to manage symptoms and support brain development, many children with ASD still face significant nutritional challenges. This study aims to describe dietary patterns and preferences for vegetables and fish among children with autism in the Jabodetabek area. This mixed-methods cross-sectional study involved 112 parents of children with autism, selected via cluster random sampling. Data were collected using Food Frequency Questionnaires (FFQ), 2x24-hour food recalls, and in-depth interviews. White rice, tempeh, chicken, and spinach were the primary food sources consumed. Notably, 97% of children still consumed gluten and casein. While a majority expressed a preference for vegetables (61.6%) and fish (81.25%), driven by daily consumption habits, significant macronutrient deficiencies were identified. Specifically, 76.7% of children had insufficient carbohydrate intake, 60.7% lacked adequate fat, and 46.4% were protein-deficient. Autistic children exhibit substantial macronutrient deficits and low adherence to GFCF diets. These findings highlight a critical need for improved dietary education and nutritional interventions for this population.
EDUKASI PROBIOTIK DAN PEMANFAATAN KOMBUCHA SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN KELOMPOK WANITA TANI DAN WARGA KELURAHAN KEDAUNG Avliya Quratul Marjan; Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi; Khoirul Anwar; Andrian Maulana Sungsang Widisantosa; Shofeea Aqeela Hoeda; Putri Mardiyah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.37411

Abstract

Abstrak: (1) Probiotik merupakan mikroorganisme menguntungkan yang berperan dalam menjaga keseimbangan mikroflora usus, meningkatkan imunitas, serta mendukung metabolisme tubuh. salah satu upaya untuk mencegah terjadinya diabetes melitus adalah melalui konsumsi probiotik melalui pemanfaatan minuman fermentasi kombucha. Kota Depok menjadi wilayah sasaran karena angka diabetes melitus masih cukup tinggi. (2) Untuk meningkatkan pengetahuan kelompok wanita tani (KWT) dan warga Kelurahan Kedaung mengenai probiotik dan pemanfaatan kombucha melalui edukasi dan praktik sederhana. (3) Kegiatan dilakukan dengan ceramah dan praktik pembuatan kombucha pada anggota Kelompok Wanita Tani dan warga. Sebanyak 16 peserta mengikuti pre-test dan post-test (4) Terdapat peningkatan skor pengetahuan dari 71,25 menjadi 78,75. Mayoritas responden (62,5%) mengalami peningkatan pengetahuan. Sehingga edukasi probiotik dan pelatihan pembuatan kombucha efektif meningkatkan pengetahuan peserta serta mendukung pemanfaatan minuman fermentasi sebagai upaya pencegahan diabetesAbstract: (1) Probiotics are beneficial microorganisms that maintaining intestinal microflora balance, boosting immunity, and supporting the body's metabolism. one of the ways to prevent diabetes mellitus is through the consumption of probiotics by utilizing kombucha fermented drinks. Kedaung, Depok City, is the target area because the rate of diabetes mellitus is still quite high. (2) To increase the knowledge of the women farmers group (KWT) and residents of Kedaung Village about probiotics and the use of kombucha through education and simple practices. (3) The activity was conducted through lectures and kombucha-making practices for members of the KWT and residents of Kedaung. A total of 16 participants took the pre-test and post-test. (4) There was an increase in knowledge scores from 71.25 to 78.75. The majority of respondents (62.5%) experienced an increase in knowledge. Thus, probiotic education and kombucha-making training effectively increased participants' knowledge and supported the use of fermented beverages as a diabetes prevention measure.
Co-Authors A'immatul Fauziyah Abby, Sekarmirah Octila Adrianto, Bayu Agung Kurniawan Aisyah, Yonita Laty Alfida Aziz Ali Khomsan Alvia, Ovie Rifdha Amanda, Defita Andini, Shafa Andrian Maulana Sungsang Widisantosa Angestya Verani Fahriza Angga Hardiansyah Aprilian Tri Wbowo Ardian, Ikhwan Luthfi Arga Buntara Arief Wahyudi Jadmiko Arini, Firlia Ayu Arrahman, Risma Fitri Ayu Asriadi Masnar Aulia Adha Arzaqina Avliya Quratul Marjan Avliya Quratul Marjan Avliya Quratul Marjan Avliya Quratul Marjan Avrilian, Putri Aria Azmi, Haikal Rizky Bintang Fachri Elnady Bunga, Bunga Camila, Faiza Daniel Happy Putra Darmadi, Ruri Firliani Darmuin, Darmuin Dewi, Elisa Aprilia Dian Luthfiana Sufyan Dina Sugiyanti, Dina Dinda Latifa Rinarto Dora Samaria Dwi Wahyuningtyas Elthon Gabriel Erna Harfiani Ezra Luga Fadhli Suko Wiryanto Fathiya Andara Fatmawati, Iin Fikriana, Chika Nur Fira Firgicinia Firlia Ayu Arini Gendis Fathia Fajarina Habieb, Salsabila Firdausiyah Nur Handini, Kania Noviyanti Hannanti, Herdara Hardiansyah, Angga Hartanti, Puspaningrum Dwi Herbawani, Chahya Kharin Inayatul Fajriyah Indra Kusuma Intania Sofianita, Nur Iwenda Nalendrya Jasmine Ramadina Djumantara Jevon, Ariel Bintang Jihan Juzailah Karamoy, Fernando Gabriel Katrin Roosita Kencanaputri, Salma Aulia Khairunnisa, Najwa Kharisma Wati Gusti Kharisma Wiati Gusti Khodijah Khodijah Khoirul Anwar Khoirul Anwar Khoirul Anwar Kineisha, Phoebe Krisanti Nurbaiti Krisdiani, Ade Fatma Laila, Indah Mutiara Sab'a Lia Awalia Majida Luailiya, Nikmatul Marjan, Avliya Quratul Mayrlnn Trifosa Veronica Mayrlnn Trifosa Veronica Mohammad Syarrafah Muhammad Rizki Purnama Mulyadewi, Amelia Luthfiyah Mumtaz, Hilmy Nadine Nadine Nanang Nasrulah Nanang Nasrullah Nasrulloh, Nanang Naufal, Fandra Raditya Niken Meldy Puryanti Nilamwati Adelia Noviana, Virnanda Rahma Nuchar, Regina Ekidika Nur Hayati Nur Intania Sofianita Octaria, Yessi Crosita Olivia, Monica Viorafanti Olla Wilda Nasyiba Pamungkas, Rizqy Amanatul Husna Prasetyo Hadi Priyatno, Prima Dwi Purnama, Muhammad Rizki Puspareni, Luh Desi Putri Mardiyah Putri Ramadhani, Syafhara Putri, Devia Amanda Quratul Marjan, Avliya Radiansyah Badrani Nursalam Rahayu, Sri Rahma, Farah Fitri Ramzy Arif Satriyo Bima Anggara Razi, Muhamad Alif Reza Mehdi Fauzi Rimbawan , Ririn Puspita Tutiasri Riskika, Febiani Ruri Firliani Rustiarini, Fabiola Shania Alicia Salsabila Firdausiyah Nur Habieb Serli Marlina Shofeea Aqeela Hoeda Simajorang, Chandrayani Sintha Fransiske Sintha Fransiske Simanungkalit Sintha Fransiske Simanungkalit Siska Fransiske Simanungkalit Siti Sania Bilqis Sony, Aurelia Gracia Chiquita Sri Anna Marliyati Sri Sulaminingsih Sufyan, Dian Luthfiana Sufyan, Dian Luthfiana Sufyan, Dian Luthfiana Sulistiadi, Wahyu Syah, Muh Nur Hasan Taufik Maryusman Utami Wahyuningsih Utami Wahyuningsih Utami, Kery Wahyudi, Chandra Tri Wibowo, Aprilian Tri Wibowo Widayani Wahyuningtyas Widisantosa, Andrian Maulana Sungsang Wilis, Sekar Woro Wirayudha, Gibran Woro Nimas Gusti Nugraheni Yanda Bara Kusuma Yasmin, Salwa Yessi Crosita Octaria Yessi Crosita Octaria Yonita Laty Aisyah Zahra, Raisa Siti Zakiudin Munasir Zakiudin Munasir