Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Efektivitas Biaya Konseling Apoteker Pada Pasien Program Pengelolaan Penyakit Kronis Diabetes Melitus Tipe 2 Fajriansyah, Fajriansyah; Lestari, Keri; Puspitasari, Irma Melyani; Iskandarsyah, Aulia
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 18 No 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfionline.v18i1.800

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) imposes a substantial economic burden on healthcare systems. Evidence indicates that pharmacist involvement in medication management can improve glycemic control, adherence, quality of life, and reduce drug-related problems. However, the cost-effectiveness of pharmacist participation within the Prolanis program remains unclear. This study aimed to evaluate the cost-effectiveness of pharmacist counseling in managing T2DM under the Prolanis scheme compared with standard care. A cluster randomized clinical trial was conducted from 2017 to 2018 across four primary health centers in Makassar City. Eligible patients were allocated to an intervention group receiving structured pharmacist counseling or a control group receiving standard Prolanis services. Economic evaluation was performed from the payer and healthcare provider perspectives. A total of 220 patients met the inclusion criteria (109 intervention, 111 control). In the control group, the Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) based on direct medical costs was IDR –1.852.391,24 per 1% HbA1c reduction and IDR –9.725.054 per 1-point MMAS-8 improvement. Under capitation costs, ACERs were IDR –14.285,71 and IDR –75,000. In the intervention group, ACERs for direct medical costs were IDR 1.632.355,45 per 1% HbA1c reduction and IDR 1.300.783,25 per MMAS-8 point increase; for capitation costs, ACERs were IDR 11.764,71 and IDR 9.375. Cost-effectiveness mapping showed the intervention group in Quadrant II, indicating improved effectiveness with acceptable incremental costs. These findings support the economic value of integrating pharmacist counseling into Prolanis T2DM management.
Pengetahuan Orang Tua Mengenai ASI Eksklusif dan MP-ASI di Indonesia Salsabilla, Rifa Alya; Sinuraya, Rano Kurnia; Puspitasari, Irma Melyani
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2026.v15i1.69032

Abstract

Pemenuhan nutrisi pada seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan faktor kunci dalam pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Pengetahuan orang tua mengenai praktik pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif dan makanan pendamping ASI (MP-ASI) berperan penting dalam memastikan kecukupan gizi anak sejak dini. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat pengetahuan orang tua tentang ASI eksklusif dan MP-ASI di Indonesia serta hubungannya dengan karakteristik demografis dan wilayah tempat tinggal. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan melibatkan 853 responden dari 27 provinsi, menggunakan data High-Frequency Monitoring of COVID-19 Impacts (HiFy) yang dilaksanakan oleh World Bank, ronde ke-8 (Maret–April 2023). Analisis dilakukan dengan pembobotan sampel untuk memperoleh hasil yang representatif secara nasional. Hasil menunjukkan bahwa setelah pembobotan, data mewakili sekitar 17,17 juta orang tua yang memiliki anak usia 0–4 tahun di Indonesia. Sebanyak 52,4% responden mengetahui bahwa ASI eksklusif sebaiknya diberikan selama enam bulan, sedangkan 89,9% memiliki pengetahuan baik mengenai MP-ASI. Namun, masih terdapat kesenjangan pada aspek waktu mulai pemberian MP-ASI (54,8%) dan pemahaman terhadap sumber protein hewani (47%). Uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ASI eksklusif maupun MP-ASI dengan wilayah tempat tinggal, wilayah geografis, maupun status pekerjaan (p>0,05). Pengetahuan orang tua mengenai MP-ASI tergolong baik, sedangkan pengetahuan tentang ASI eksklusif relatif lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dasar gizi anak telah relatif merata di masyarakat, namun masih diperlukan edukasi gizi yang lebih komprehensif, kontekstual, dan berkelanjutan untuk meningkatkan praktik pemberian makan anak di Indonesia.