Claim Missing Document
Check
Articles

Situasi dan kondisi umat Islam pada awal kepemimpinan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Fatmatu Haerunnisa; Achmad Maftuh Sujana; Qoulan Sadida; Siti Nuria Hidayati; Adhika Abdu Nuryanditra
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 5 No. 4 (2025): Fourteenth Edition
Publisher : Departemen Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Hukum Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v5i4.893

Abstract

Penelitian ini membahas tentang situasi dan kondisi umat Islam pada awal kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang menjadi fase paling krusial dalam sejarah Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, penelitian ini mengkaji secara mendalam dinamika politik, sosial, dan keagamaan pada masa tersebut. Fokus utama kajian meliputi krisis internal umat setelah wafat Nabi, munculnya gerakan riddah atau kemurtadan, langkah konsolidasi dan penguatan struktur umat, pembukuan Al-Qur’an sebagai bentuk pelestarian wahyu, serta ekspedisi dakwah terbatas yang dilakukan secara diplomatis. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan Abu Bakar tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kebijaksanaan spiritual dan ketegasan prinsip akidah dalam memelihara keutuhan umat. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan Abu Bakar menjadi fondasi penting bagi stabilitas dan perluasan dakwah Islam pada masa Khulafaur Rasyidin.
Peran Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Membangun Stabilitas Politik dan Agama Islam Apriani Sri Mulyani; Achmad Maftuh Sujana; Rani Wulandari; Ade Ika Ahadiyah
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3203

Abstract

Pada dasarnya manusia dilahirkan sebagai pemimpin, semenjak Nabi Adam diciptakan sebagai khalifah untuk ditugaskan mengurus bumi, kata khalifah itu sendiri dapat diartikan sebagai penghubung atau pemimpin untuk menyampaikan memimpin sesuatu. Sebagai pemimpin dituntut keahliannya dalam mengatur perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Pemimpin mempunyai hak kekuasaan untuk mengarahkan, mengerahkan, dan mempengaruhi orang yang dipimpinya untuk melaksanakan titah-titah yang harus dilaksanakan dalam mencapai suatu tujuan yang dinginkan. Maka dari itu seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan seni memimpin yang baik, sehingga akan tercapai keselarasan dalam sebuah kepemimpinan, dan tercapai pula tujuan tujuan yang telah digariskan. Berkaitan dengan kepemimpinan ini, Islam memulai sebuah kepemimpinananya dengan diutusnya Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul untuk mengajak manusia ke arah kebenaran, memeluk Islam sebagai suatu keyakinan. Dalam perjalanan perjuangan dan penyebaran Islam, nabi Muhammad secara otomatis sebagai pemimpin kaum muslimin sampai akhir hayatnya. Setelah Nabi Muhammad wafat, kaum muslimin dirundung kesedihan yang mendalam, mereka kehilangan sosok pemimpin yang dicintai, sosok pemimpin yang mempunyai kepribadian yang unik dan kompleks, berwawasan luas, dan bersifat amanah.
RUWETAN LAUT DI TANJUNG KAIT: TRADISI SEDEKAH LAUT MASYARAKAT NELAYAN DI PESISIR TANGERANG, BANTEN Shelsie Amalia Putri; Achmad Maftuh Sujana; Aisyah Zahratunnisa; Zahroni Zahroni
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji tradisi ruwetan laut atau sedekah laut yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di Tanjung Kait, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat nelayan atas hasil tangkapan laut yang mereka peroleh sepanjang tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi pelaksanaan tradisi ruwetan laut, menganalisis makna dan fungsi sosial-religius yang terkandung di dalamnya, serta mengidentifikasi tantangan pelestarian tradisi di era modern. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi langsung, wawancara mendalam dengan para pelaku tradisi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ruwetan laut di Tanjung Kait telah mengalami akulturasi antara kepercayaan lokal dengan nilai-nilai Islam, tercermin dari prosesi yang diawali dengan tahlilan dan doa-doa Islami. Tradisi ini memiliki fungsi penting dalam memperkuat kohesi sosial masyarakat melalui semangat gotong royong dan kebersamaan. Namun, tradisi ini menghadapi tantangan berupa berkurangnya partisipasi generasi muda akibat urbanisasi dan perubahan orientasi mata pencaharian. Upaya pelestarian perlu dilakukan melalui pendekatan yang melibatkan generasi muda dan dukungan pemerintah daerah tanpa mengubah esensi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi ini.
Kiprah Suryani Thahir dalam Pemberdayaan Perempuan Betawi melalui Majelis Taklim (1970–2006) Muhammad Rafli Zakaria; Achmad Maftuh Sujana
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 7 No. 7 (2025): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v7i7.8695

Abstract

This article examines the role and contributions of Ustadzah Suryani Thahir in empowering Betawi women through Majelis Taklim (Islamic study groups) in South Jakarta between 1970 and 2006. The study employs historical research methodology, consisting of five main stages: topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. Primary sources were obtained through interviews with the subject’s family members and authentic written documents, while secondary sources were collected through literature review. The findings reveal that Suryani Thahir played a dual role as both a religious preacher and a social mobilizer, actively guiding women in religious, educational, and self-development matters. The Majelis Taklim she led served as a strategic platform for Betawi women to gain religious knowledge and expand their social roles amid the dynamics of an urban society. This study highlights the significance of local female figures in the socio-religious history of Jakarta, particularly in elevating the position of women in public spaces through cultural and religious approaches.
The Role of Ahlussunnah Wal Jama'ah in Building a Moderate Islamic Civilization Mutia Fadhilah; Achmad Maftuh Sujana; Dian Kartika; Haliza Alifia Ifada; Ahmad Lathif
Edusoshum : Journal of Islamic Education and Social Humanities Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Ikatan Cendikiawan Ilmu Pendidikan Islam (ICIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52366/edusoshum.v5i3.265

Abstract

The development of socio-religious dynamics in Indonesia today faces the challenge of polarization between religious radicalism and liberalism that has the potential to undermine the foundations of moderate Islam. This research aims to comprehensively describe the strategic role of Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) in building a moderate Islamic civilization through theological, institutional, and cultural pillars. The method used is a qualitative approach with an analytical descriptive design, which utilizes content analysis techniques against credible national and international scientific literature in the last ten years. The results of the study show that Aswaja functions as a theological instrument through the principles  of tawasuth, tawazun, i'tidal, and tasamuh which are filters for extreme ideologies. Institutionally, Aswaja values are transformed into habitus in Islamic boarding schools and universities to ensure inclusive social behavior. In conclusion, the cultural flexibility of Aswaja through the rules of al-muhafadzah 'ala al-qadim as-shalih allows Islam to remain relevant in the face of digital disruption and the post-truth era. The sustainability of moderate civilization is highly dependent on the resilience of the thinking methodology (manhaj al-fikr) and the strategy of digitizing Aswaja values in the future
RAMPANG BEDUG SEBAGAI WARISAN BUDAYA BANTEN KAJIAN HISTORIS : KABUPATEN PANDEGLANG Bella Amelia; Ilma Yuliyana; Dea Safitri; Tuti Alawiyah; Reyinita Damayanti; Ahmad Maftuh Sujana
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6621

Abstract

Rampag Bedug merupakan salah satu seni budaya khas Banten yang berkembang menjadi pertunjukan berskala besar, khususnya di Kabupaten Pandeglang. Tradisi ini berakar pada praktik keagamaan Islam dan identitas sosial masyarakat setempat yang kemudian bertransformasi menjadi warisan budaya yang bernilai historis. Artikel ini bertujuan mengkaji perkembangan sejarah Rampag Bedug, nilai budaya yang terkandung di dalamnya, serta perannya dalam memperkuat identitas daerah dan kohesi sosial masyarakat Pandeglang. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan metode historis-kultural, penelitian ini menganalisis tradisi lisan, praktik budaya, serta narasi masyarakat terkait Rampag Bedug. Hasil kajian menunjukkan bahwa Rampag Bedug tidak hanya menjadi ekspresi religius, tetapi juga simbol ketangguhan, kreativitas, dan religiusitas masyarakat Banten, sehingga penting untuk dilestarikan dan direvitalisasi.
TRADISI BAYAR LIUR DI KAMPUNG CISASAH CIJAKU KAB. LEBAK Burhanuddin; Muhamad Kosim; Aditya Firmansyah; Haidar Syadad; Muhamad Zainal Arifin; Yunan Fahri R; Aidil Fitra L; Raditya Pangestu; Maftuh Ajmain; Ahmad Maftuh Sujana
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6649

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena tradisi Bayar Liur yang dipraktikkan oleh masyarakat di Desa Cisasah, Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Tradisi Bayar Liur merupakan bentuk kearifan lokal yang bermanifestasi sebagai ritual atau kompensasi simbolis terkait interaksi sosial, khususnya dalam konteks pemenuhan janji, penyembuhan penyakit psikologis atau fisik ringan yang diyakini akibat "kabuhulan" (gangguan yang disebabkan oleh kata-kata atau keinginan yang tidak terpenuhi), serta sebagai bentuk penebusan atas kegelisahan sosial dalam hubungan tetangga. ​Fokus utama penelitian ini adalah mendeskripsikan prosedur pelaksanaan tradisi Bayar Liur dan menganalisis makna simbolis serta fungsi sosial yang terkandung di dalamnya bagi keberlangsungan masyarakat agraris di Lebak. Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif di lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, sesepuh desa, dan praktisi tradisi, serta studi dokumentasi terkait sejarah lokal Cijaku. ​Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bayar Liur bukan sekadar transaksi material, melainkan sebuah mekanisme untuk memulihkan keseimbangan sosial dan spiritual. Secara prosedural, tradisi ini melibatkan pemberian barang-barang tertentu atau sejumlah kecil uang sebagai simbol "pembersihan" atau pencucian dampak negatif dari ucapan yang tidak terpenuhi. Masyarakat Cisasah percaya bahwa kata-kata atau keinginan yang tertunda dapat mendatangkan kesialan jika tidak segera "dibayar" melalui ritual ini. ​Lebih lanjut, tradisi Bayar Liur berfungsi sebagai instrumen resolusi konflik tingkat rendah dan penguat ikatan komunal (solidaritas mekanik). Di tengah arus modernisasi dan pengaruh nilai-nilai eksternal, masyarakat Desa Cisasah tetap mempertahankan tradisi ini sebagai identitas budaya yang membedakan mereka dengan wilayah lain. Studi ini menyimpulkan bahwa tradisi Bayar Liur mengandung nilai pendidikan moral mengenai pentingnya integritas antara ucapan dan tindakan. Keberadaan tradisi ini membuktikan bahwa komunitas lokal memiliki mekanisme mandiri dalam menjaga harmoni psikis dan sosial tanpa selalu bergantung pada pendekatan medis formal maupun modern.  
KUE JEJORONG SEBAGAI WARISAN KULINER TRADISIONAL BANTEN Dian Falahdita; Hanifa Rahmatunnisa; Rosyidah; Abel Octavia Suman; Ahmad Maftuh Sujana
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6670

Abstract

Wisata kuliner merupakan salah satu daya tarik penting dalam pengembangan pariwisata daerah karena mampu merepresentasikan identitas budaya lokal. Kue Jojorong merupakan salah satu kuliner tradisional khas Banten, khususnya berasal dari wilayah Pandeglang dan Lebak, yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang signifikan. Penelitian ini membahas perkembangan kue Jojorong, proses pembuatannya, sejarah, filosofi, serta peran dan nilai ekonominya bagi masyarakat lokal. Jojorong telah dikenal sejak masa Kesultanan Banten dan awalnya disajikan dalam acara adat dan keagamaan, sebelum kemudian berkembang menjadi produk kuliner yang diperdagangkan secara luas. Proses pembuatannya masih mempertahankan teknik tradisional dengan bahan-bahan lokal seperti tepung beras, tepung tapioka, santan, gula merah, dan daun pisang, yang memberikan cita rasa serta identitas khas. Secara filosofis, Jojorong melambangkan kesederhanaan, kebersamaan, dan kekayaan budaya masyarakat Banten. Dalam konteks ekonomi modern, Jojorong berperan sebagai produk unggulan UMKM yang berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, serta pelestarian budaya lokal. Dengan demikian, kue Jojorong tidak hanya berfungsi sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai aset budaya dan ekonomi yang potensial untuk dikembangkan dalam mendukung pariwisata dan ekonomi kerakyatan di Provinsi Banten.
NILAI SPIRITUAL DAN KEARIFAN LOKAL DALAM PELESTARIAN NASKAH ARAB PEGON WARISAN KELUARGA DI PONTANG LEGON, BANTEN Ahmad Maftuh Sujana; Adnan Naufal Rahman; Tubagus Gafar Akas; Danang Syaifullah; Fajar Fajar; Alvin Syarif Maulana; Pipin Safinah
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi pelestarian naskah Arab Pegon yang diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga di Desa Pontang Legon, Banten. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara langsung kepada narasumber utama, yaitu Ibu Qurrotul Ummi (54 tahun), penjaga naskah Arab Pegon keluarga. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa naskah Arab Pegon ditemukan secara tidak sengaja ketika narasumber merapikan buku-buku lama, kemudian dijaga dan dirawat dengan penuh tanggung jawab untuk diwariskan kepada anaknya. Naskah ini mengandung nilai-nilai spiritual yang berkaitan dengan ajaran keagamaan, kesadaran moral, serta kearifan lokal masyarakat Pontang Legon. Selain itu, pelestarian naskah ini memiliki relevansi terhadap penguatan identitas budaya dan pembelajaran keagamaan di lembaga pendidikan lokal seperti Madrasatul Awal/Diniyah. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik pelestarian naskah Arab Pegon bukan hanya bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur, tetapi juga merupakan manifestasi dari hubungan antara budaya, spiritualitas, dan pendidikan masyarakat pesisir Banten.
The Leadership of Prophet Muhammad: A Role Model of Politics and Ethics in the Modern Era Rifal Saefudin; Ahmad Maftuh Sujana; Dini Handayani; Nurelizah Nurelizah; Muhammad Azka Nabhan
Edusoshum : Journal of Islamic Education and Social Humanities Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Ikatan Cendikiawan Ilmu Pendidikan Islam (ICIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52366/edusoshum.v6i1.238

Abstract

The leadership of Prophet Muhammad SAW is a perfect illustration of how to harmoniously blend political, moral, and spiritual strength. In addition to guiding the community in religious matters, the Prophet organized social, economic, and political life in accordance with divine principles. His values as a leader justice, integrity, accountability, and consultation demonstrate that power should be used to serve, not to control. This article discusses the leadership of Prophet Muhammad SAW as a moral and political example that remains relevant today. The Prophet was known as a statesman who successfully created a moral and just society, as well as a spiritual leader. His moral and ethical leadership was based on fundamental leadership values including social responsibility, justice, consideration, and honesty. By applying a historical perspective and examining prophetic values, this article demonstrates how the Prophet's teachings on leadership can address various contemporary issues, including declining integrity, abuse of power, and the rise of individualism. The application of these principles will result in leadership that is humane, honest, and focused on society. The leadership of Prophet Muhammad SAW emphasized the use of authority to advance and protect justice rather than to suppress or control. These principles serve as important guidance for leaders in our century to create moral, open governance that supports truth while upholding human and spiritual values
Co-Authors Abdilah, Aida Abdiyatuzzahro, Devi Abel Octavia Suman Abel Octavia Suman Ade Ika Ahadiyah Adhika Abdu Nuryanditra Aditya Firmansyah Adnan Naufal Rahman Ahmad Lathif Aidil Fitra L Aidil Fitra Lubis Aisyah Zahratunnisa Al Ayyubi, Shalahuddin Alawiah, Tuti Alifa Nayla Alfarafisyah, Nayla Alvin Syarif Maulana Amalia, Aam Ananda Josafi, Khairi Anisa Fitriani Annisa Ainurrohmah Apdilla, Raya Apriani Sri Mulyani Asih Purnama Aufal Syahrul Abror, Muhammad Aziz, Muhammad Ijlal Azwa Naila Fath Bella Amelia Burhanuddin Burhanudin Burhanudin Chaerul Rahman, Muhammad Danang Syaifullah Dayani, Subhan Rizki Dea Safitri Dea Safitri Desi Dahliani Desty Malika Devia Awaliah Zahrani, Devia Dian Falahdita Dian Kartika Dini Handayani Dwi Rachmi Ramadhani, Dwi Ernike Fatih EVA SYARIFAH WARDAH Fajar Fajar Fakhrudin, Irfan Fatiyatur Rahmah Fatmatu Haerunnisa Firda Hidayah Fitriyani Haidar Syadad Hailala Najwa Isba Hakim, Faiha Kamila Kharisma Haliza Alifia Ifada Hanifa Rahmatunnisa Hanifa Rahmatunnisa Hanifara Dyasti Rahayu Hasna Humairoh Heni Fitrotul Zulhizah Hikam, Muhammad Wifqil Ikram Barman Maulana Sya'ban Illa Rohillah Ilma Yuliyana Ira Septi Sulistiana Irfan Khaeruji Isabela Khoirul Anisa Latifah Fitria Leni Amelia Lestari Lia Anggraeni, Lia Lilis Sulistiani M, Iqbal Hidayat M. Raihanuddin M. Yogi Riyantama Isjoni Maftuh Ajmain Maharani Salsabila Makhbul Hudori, Raudho Maretha Nur Fadilah Mildan, Jidan Mufidah Hayati Nufus Muflihah, Elya Muhamad Kosim Muhamad Rezky Muhamad Wildan Septiana Muhamad Zainal Arifin Muhammad Azka Nabhan Muhammad Eka Anwaril Ikhsan Muhammad Fardan Rabbani Muhammad Ilham Fani, Ilham Muhammad Rafli Zakaria Mutia Fadhilah Nabil, M. Hasbi Nadiyatu Rahmah Nafisa Dwi Suryaningtias Nailah Rahmania Najmudin Nasywa Khairunnisa Nawawi, Taosyekh Nita Nirmalasari Nurelizah Nurelizah Pipin Safinah Puput Sri Sukmana Putra Panjalu Putri, Eka Dalilah Qoulan Sadida Raditya Pangestu Rahma Azhar Karania Ramadhan, Fairuz Kenzy Rani Wulandari Ratu Mustarsyiddah Reyinita Damayanti Rifal Saefudin Riffati Hikmi Mori Rosyidah Sabila Khaerani Putri Sabila Sofiannisa Saeful Iskandar Seliyana Heryani Shelsie Amalia Putri Siti Khofifah Siti Maysarah Siti Nuria Hidayati Siti Salsabila Kamilia Siti Yuniawati Sofiatunnaziah, Sofiatunnaziah Sri Soimah Suhanda, Iyu Ibda Amaria Syifaul Kolbi TATI ROHAYATI Tausiyah, Dalilah Tubagus Gafar Akas Tuti Alawiyah Ummu Salamah Yunan Fahri R Zahroni Zahroni Zainul Arifin