cover
Contact Name
Zulkarnain
Contact Email
dzul9787@gmail.com
Phone
+6287832631987
Journal Mail Official
selaparang.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Ahmad Dahlan No.1, Pagesangan, Kec. Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Bar. 83115
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan
ISSN : 26145251     EISSN : 2614526X     DOI : https://doi.org/10.31764/jpmb.v5i1.6393
SELAPARANG : Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan merupakan jurnal yang mendiseminasikan setiap pemikiran dan ide gagasan atas hasil penelitian dan pemanfaatan teknologi untuk diimplementasikan kepada masyarakat mencakup ; (1). Bidang ilmu pengetahuan ; MIPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi), Terapan, Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Kesehatan, (2). Pelatihan dan peningkatan hasil pendidikan dan (3). Pengembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 3,006 Documents
Menumbuhkan cinta hukum dan politik di kalangan pemuda Gen Z melalui sosialisasi edukatif Dodik Wahyono; Irma Mangar; Pingkan Widya Pangestika; Nico Ferdian
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39608

Abstract

Abstrak    Perkembangan teknologi dan arus informasi yang pesat di era digital memberikan pengaruh besar terhadap pola pikir pemuda Generasi Z. Namun, kemudahan akses informasi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan tingginya minat dan pemahaman terhadap hukum dan politik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta hukum dan politik di kalangan pemuda Gen Z melalui sosialisasi edukatif. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif-partisipatif dengan teknik ceramah interaktif, diskusi, dan studi kasus. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sosialisasi edukatif efektif dalam meningkatkan pemahaman, kesadaran, serta partisipasi pemuda terhadap isu hukum dan politik. Peserta menunjukkan antusiasme dan perubahan sikap menjadi lebih peduli, kritis, dan aktif dalam kehidupan demokrasi. Meskipun demikian, masih terdapat kendala seperti perbedaan minat peserta dan keterbatasan waktu pelaksanaan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi metode serta keberlanjutan program agar dampak kegiatan dapat lebih optimal. Kata Kunci: Sosialisasi edukatif; Generasi Z; hukum; politik; partisipasi pemuda. Abstract  The development of technology and the rapid flow of information in the digital era have a great influence on the mindset of Generation Z youth. This service activity aims to foster a sense of love for law and politics among Gen Z youth through educational socialization. The method used is an educational-participatory approach with interactive lecture techniques, discussions, and case studies. The results of the activity show that educational socialization is effective in increasing the understanding, awareness, and participation of youth on legal and political issues. Participants showed enthusiasm and changed attitudes to become more caring, critical, and active in democratic life. However, there are still obstacles such as differences in participants' interests and limited implementation time. Therefore, it is necessary to innovate methods and program sustainability so that the impact of activities can be more optimal.  Keywords: educational socialization; generation z; law; politics; youth participation.
Sosialisasi tentang undang-undang tindak pidana kekerasan seksual pada Orang Muda Katolik (OMK) St. Petrus TDM Maria Fransiska Owa da Santo; Dwityas Witarti Rabawati; Filemon Fridolino Ngebos; Yustinus Pedo; Teresia Din; Ernesta Uba Wohon
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39463

Abstract

Abstrak Kekerasan seksual di kalangan anak muda kerap tidak disadari karena rendahnya literasi hukum dan kuatnya budaya permisif dalam pergaulan sehari-hari. Anggota Orang Muda Katolik (OMK) St. Petrus Rasul TDM, Kota Kupang, teridentifikasi memiliki pemahaman terbatas mengenai bentuk-bentuk tindak pidana kekerasan seksual sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan literasi hukum peserta melalui sosialisasi partisipatif yang dilaksanakan pada 7 Februari 2026, melibatkan 22 anggota OMK. Metode yang digunakan meliputi pemaparan materi, sesi tanya jawab interaktif, dan refleksi lisan sebagai evaluasi kualitatif. Berdasarkan hasil refleksi dan observasi partisipasi, peserta menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap bentuk kekerasan seksual yang sering tidak disadari, meliputi pelecehan nonfisik, kekerasan berbasis elektronik, dan pemaksaan seksual dalam hubungan pacaran. Sosialisasi berbasis pendekatan partisipatif terbukti efektif membangun literasi hukum kaum muda terkait UU TPKS. Kata kunci: sosialisasi hukum; UU TPKS; kekerasan seksual; literasi hukum; OMK. Abstract Sexual violence among youth often goes unrecognized due to low legal literacy and permissive social norms. Members of the Catholic Youth Organization (Orang Muda Katolik/OMK) of St. Petrus Rasul TDM Parish, Kupang City, were identified as having limited understanding of sexual violence offenses under Law Number 12 of 2022 on Sexual Violence Crimes (UU TPKS). This community service activity aimed to improve participants' legal awareness through participatory socialization conducted on February 7, 2026, involving 22 OMK members. Methods included material presentation, interactive discussion, and verbal feedback as qualitative evaluation. Based on reflections and participation observation, participants showed improved understanding of commonly unrecognized forms of sexual violence, including non-physical harassment, electronic-based violence, and sexual coercion in romantic relationships. The participatory approach proved effective in building youth legal literacy regarding UU TPKS. Keywords: legal socialization; sexual violence law; sexual violence; legal literacy; youth community.
Optimalisasi pengelompokan buku perpustakaan sekolah oleh mahasiswa PLP sebagai upaya meningkatkan minat baca siswa di SDN 38 Mataram Hidayati Hidayati; Muhammad Hudri; Dian Eka Mayasari Sri Wahyuni; Harry Irawan Johari; Wiwik D. Angreani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v%vi%i.38160

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengoptimalkan fungsi perpustakaan sekolah melalui pengelompokan buku yang dilakukan oleh mahasiswa Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di SDN 38 Mataram sebagai upaya meningkatkan minat baca siswa. Kondisi awal perpustakaan menunjukkan buku-buku yang tersusun dalam tumpukan tanpa pengelompokan berdasarkan kelas, tema, maupun mata pelajaran sehingga siswa mengalami kesulitan dalam menemukan bahan bacaan. Mahasiswa PLP melakukan intervensi berupa pengelompokan buku berdasarkan kelas, jenis buku (cerita dan pelajaran), mata pelajaran, pelabelan rak, serta pembuatan kartu peminjaman berwarna yang menarik dan mudah dipahami siswa. Kegiatan dilaksanakan selama satu pekan dengan memanfaatkan waktu sela kegiatan PLP setelah melalui tahap observasi kondisi perpustakaan dan kultur sekolah. Hasil kegiatan menunjukkan perubahan signifikan pada keteraturan koleksi, kemudahan akses siswa terhadap buku, serta peningkatan kunjungan siswa ke perpustakaan. Temuan ini selaras dengan teori pengelompokan koleksi berbasis minat pembaca (genrefication) dan praktik pelabelan visual yang direkomendasikan dalam literatur perpustakaan sekolah lima tahun terakhir. Intervensi sederhana namun kontekstual ini terbukti mampu meningkatkan fungsi perpustakaan sebagai pusat literasi sekolah dan dapat direplikasi pada sekolah lain dengan kondisi serupa. Kata kunci: pengelompokan buku; perpustakaan sekolah; minat baca; PLP; literasi. Abstract This community service activity aims to optimize the function of the school library through book grouping carried out by students of the School Field Introduction Program (PLP) at SDN 38 Mataram as an effort to increase student reading interest. The initial condition of the library showed books arranged in piles without grouping by class, theme, or subject, so students had difficulty finding reading materials. PLP students conducted an intervention in the form of grouping books by class, type of book (story and lesson), subject, shelf labeling, and creating colorful loan cards that were attractive and easy for students to understand. The activity was carried out for one week by utilizing the time between PLP activities after going through the observation stage of the library condition and school culture. The results of the activity showed significant changes in the order of the collection, ease of student access to books, and an increase in student visits to the library. These findings are in line with the theory of grouping collections based on reader interest (genrefication) and visual labeling practices recommended in school library literature over the past five years. This simple yet contextual intervention has been proven to be able to improve the library's function as a center of school literacy and can be replicated in other schools with similar conditions. Keywords: book grouping; school library; reading interest; PLP; literacy.
Pemuda cerdas dan bijak bermedia sosialisasi pencegahan hoaks di era digital Bukhori Yasin; Gunawan Hadi Purwanto; Irma Mangar; Nico Ferdian
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39614

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital telah mengubah cara masyarakat dalam mengakses dan menyebarkan informasi, khususnya melalui media sosial yang banyak digunakan oleh kalangan pemuda. Kemudahan ini di satu sisi memberikan manfaat besar, namun di sisi lain memunculkan tantangan berupa maraknya penyebaran hoaks yang dapat menimbulkan dampak negatif seperti keresahan sosial, konflik, dan menurunnya kepercayaan publik. Pemuda sebagai pengguna aktif media sosial memiliki peran strategis, baik sebagai penyebar informasi maupun agen perubahan. Oleh karena itu, literasi digital menjadi kunci penting untuk membekali pemuda dengan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan etis dalam bermedia sosial. Kegiatan sosialisasi “Pemuda Cerdas dan Bijak Bermedia Sosial dalam Pencegahan Hoaks di Era Digital” bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran pemuda mengenai bahaya hoaks serta cara pencegahannya. Metode yang digunakan meliputi ceramah, diskusi interaktif, studi kasus, tanya jawab, serta simulasi praktik verifikasi informasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terkait ciri-ciri hoaks, pentingnya verifikasi informasi, serta penerapan prinsip “saring sebelum sharing”. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan literasi digital dan kesadaran pemuda dalam bermedia sosial secara bijak. Meskipun terdapat beberapa kendala teknis, kegiatan berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan. Diperlukan upaya berkelanjutan dan kolaborasi berbagai pihak untuk menciptakan lingkungan digital yang sehat, aman, dan produktif serta meminimalisir penyebaran hoaks di masyarakat.  Kata Kunci: literasi digital; media social; pemuda; pencegahan hoaks; era digital. Abstract  The development of information and communication technology in the digital era has changed the way people access and disseminate information, especially through social media which is widely used by young people. On the one hand, this convenience provides great benefits, but on the other hand, it raises challenges in the form of the rampant spread of hoaxes that can have negative impacts such as social unrest, conflicts, and declining public trust. Youth as active users of social media have a strategic role, both as disseminators of information and agents of change. Therefore, digital literacy is an important key to equipping youth with critical, analytical, and ethical thinking skills in social media. The socialization activity "Smart and Wise Youth with Social Media in the Prevention of Hoaxes in the Digital Era" aims to increase youth understanding and awareness of the dangers of hoaxes and how to prevent them. The methods used include lectures, interactive discussions, case studies, questions and answers, and simulations of information verification practices. The results of the activity showed an increase in participants' understanding of the characteristics of hoaxes, the importance of information verification, and the application of the principle of "filter before sharing". Overall, this activity has a positive impact on increasing digital literacy and youth awareness in using social media wisely. Despite some technical obstacles, the activity went well and achieved the expected goal. Continuous efforts and collaboration of various parties are needed to create a healthy, safe, and productive digital environment and minimize the spread of hoaxes in the community.  Keywords: digital literacy; social media; youth; hoax prevention; digital era.
Pemanfaatan teknologi informasi melalui pembuatan sistem informasi manajemen dalam mendukung kegiatan belajar dan administrasi di SD Kota Tanjungpinang Novrizal Fattah Fahmitra; Nerfita Nikentari; Feri Irawan; Nolan Efranda; Rifaldi Herikson; Berta Erwin SLAM; Muhamad Fadli
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39619

Abstract

AbstrakPerkembangan teknologi digital menuntut transformasi signifikan dalam sistem manajemen pendidikan untuk meningkatkan efektivitas administrasi dan transparansi informasi. SD Negeri 010 Tanjung Siambang di Kota Tanjungpinang menghadapi tantangan dalam hal ini karena belum memiliki website akademik resmi dan terbatasnya kompetensi tenaga pendidik dalam mengelola sistem informasi berbasis digital. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan pada bulan Juni hingga bulan Oktober 2025.  Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mendukung transformasi digital di sekolah tersebut melalui pengembangan website akademik serta peningkatan kapasitas guru dan staf dalam pengelolaannya. Metode yang digunakan bersifat partisipatif, edukatif, dan aplikatif, yang mencakup tahapan observasi, perancangan, pengembangan, pelatihan pengelolaan website, hingga pendampingan intensif. Hasil evaluasi terhadap 19 responden menggunakan indikator usabilitas menunjukkan tingkat keberhasilan yang tinggi, dengan nilai rata-rata pada aspek learnability sebesar 4,79, memorability 4,73, efficiency 4,95, dan satisfaction 4,73 dari skala 5. Berdasarkan hasil tersebut, kegiatan ini berhasil meningkatkan keterampilan digital mitra sehingga mereka mampu mengelola website secara mandiri. Keberadaan website ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan informasi pendidikan, memperkuat dokumentasi kegiatan sekolah, serta membangun komunikasi yang lebih transparan dengan masyarakat Kata kunci: pengabdian; pelatihan; sistem informasi manajemen; website. AbstractThe rapid development of digital technology requires a significant transformation in education management systems to improve administrative effectiveness and information transparency. SD Negeri 010 Tanjung Siambang in Tanjungpinang City faced challenges in this regard, as it did not yet have an official academic website and had limited digital competence among its teaching staff and personnel. The implementation of this activity was carried out from June to October 2025. This community service activity aims to support digital transformation at the school by developing an academic website and increasing the capacity of teachers and staff in its management. The methods used were participatory, educational, and applicative, which included stages of observation, design, development, website management training, and intensive mentoring. Evaluation results from 19 respondents using usability indicators showed high success rates, with average scores for learnability (4.79), memorability (4.73), efficiency (4.95), and satisfaction (4.73) on a 5-point scale. Based on these results, this activity successfully enhanced the digital skills of the partners, enabling them to manage the website independently. This website is expected to improve the quality of educational information services, strengthen school activity documentation, and build more transparent communication with the community. Keywords: community services; training; management information system; website.
Peningkatan berat badan balita gizi kurang melalui intervensi serbuk taburia di puskesmas Sukatani Musmundiroh Musmundiroh; Herlina Simanjuntak; Rosi Kurnia Sugiharti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39884

Abstract

AbstrakGizi kurang pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu upaya penanganannya adalah pemberian serbuk Taburia sebagai suplemen zat gizi mikro untuk membantu meningkatkan berat badan balita gizi kurang. Berbagai program telah dilakukan pemerintah, seperti pemberian makanan tambahan, edukasi gizi, pemantauan pertumbuhan melalui posyandu, serta suplementasi gizi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu melalui edukasi gizi serta mengoptimalkan pemberian serbuk Taburia sebagai upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan berat badan balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Sukatani. Kegiatan pengabdian masyarakat ini ditujukan kepada ibu yang memiliki balita sebagai mitra sasaran utama dengan responden 30 orang ibu yang mempunyai balita  secara data yang diperoleh dari 18  balita (60%) gizi kurang sedangkan 12 balita gizi normal sebesar 40%. Metode yang digunakan kegiatan dengan pretes, penyuluhan, edukasi pemberian taburia dan  Post test, Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi balita yang terlihat dari kemampuan peserta dalam memahami manfaat dan pola makan sehat. Sebelum penyuluhan, 60% berpengetahuan kurang dan 40% berpengetahuan baik. Setelah edukasi pengetahuan baik meningkat menjadi 80% dan pengetahuan kurang menjadi 20% di wilayah kerja Puskesmas Sukatani. Selain itu, para ibu menunjukkan antusiasme dan kepatuhan yang baik selama proses pendampingan gizi. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah promotif dan preventif yang berkelanjutan dalam penanganan balita gizi kurang di masyarakat. Kata kunci: taburia; balita; gizi kurang AbstractMalnutrition in toddlers remains a public health problem that impacts the growth and development of children. One of the efforts to address it is the provision of Taburia powder as a micronutrient supplement to help increase the weight of malnourished toddlers. Various programs have been carried out by the government, such as providing additional food, nutrition education, growth monitoring through integrated health posts (posyandu), and nutritional supplementation. This community service activity aims to increase maternal knowledge through nutrition education and optimize the provision of Taburia powder as a promotive and preventive effort in increasing the weight of malnourished toddlers in the Sukatani Community Health Center work area. This community service activity is aimed at mothers who have toddlers as the main target partners with respondents of 30 mothers who have toddlers. Data obtained from 18 toddlers (60%) are malnourished while 12 toddlers have normal nutrition amounting to 40%. The method used is a pre-test, counseling, education on providing Taburia and Post-test. The results of the activity show an increase in maternal knowledge about fulfilling toddler nutrition as seen from the ability of participants in understanding the benefits and patterns of healthy eating. Before the counseling, 60% had poor knowledge and 40% had good knowledge. After the education, good knowledge increased to 80% and poor knowledge to 20% in the Sukatani Community Health Center work area. Furthermore, mothers demonstrated enthusiasm and good compliance during the nutrition mentoring process. This activity is expected to become a sustainable promotional and preventive measure in managing malnourished toddlers in the community. Keywords: taburia powder; malnutrioused; toddlers
Pelatihan pembuatan mikroskop smartphone berbasis STEM untuk meningkatkan kompetensi dan literasi matematis siswa Samsuar Samsuar; Rahmi Rahmi; Ema Dauyah; Rachmah Putri Salsabila; Nurul Qolbiya
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39771

Abstract

Abstrak Pemanfaatan laboratorium biologi dan pengembangan literasi matematis di SMA Negeri 1 Indrapuri belum berjalan optimal. Keterbatasan mikroskop menyebabkan kegiatan praktikum biologi tidak pernah dilaksanakan berdampak terbatasnya aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sementara kemampuan literasi matematis siswa juga masih rendah karena metode belajar tidak kontekstual. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa dan literasi matematis melalui pelatihan pembuatan mikroskop smartphone berbasis STEM (MS-STEM). Kegiatan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Indrapuri, Aceh Besar, pada Juni–Agustus 2025 dengan melibatkan 30 siswa kelas XII IPA. Metode yang digunakan adalah pendampingan partisipatif berbasis pelatihan melalui tahapan sosialisasi, identifikasi permasalahan, pelatihan dan pendampingan, evaluasi, serta refleksi dan tindak lanjut. Data dikumpulkan menggunakan tes (pretest–posttest), lembar observasi, dan rubrik penilaian produk, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan N-gain dan persentase. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan kognitif siswa dengan nilai N-gain 0,73 (kategori tinggi) dan literasi matematis dengan nilai N-gain 0,72 (kategori tinggi). Sikap ilmiah siswa didominasi kategori tinggi hingga sangat tinggi (73%), keterampilan psikomotorik berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi (93%), dan kualitas produk mikroskop smartphone yang dihasilkan berada pada kategori baik hingga sangat baik (83%). Mikroskop yang dihasilkan layak digunakan sebagai media praktikum alternatif. Dengan demikian, pelatihan pembuatan MS-STEM efektif meningkatkan kompetensi siswa dan literasi matematis sekaligus menghasilkan solusi praktis terhadap keterbatasan sarana laboratorium. Kata kunci: mikroskop smartphone; STEM; kompetensi; literasi matematika; praktikum. AbstractThe utilization of the biology laboratory and the development of students’ mathematical literacy at SMA Negeri 1 Indrapuri have not been optimal. The limited availability of functional microscopes has prevented biology practical activities from being conducted, resulting in suboptimal development of students’ cognitive, affective, and psychomotor competencies. In addition, students’ mathematical literacy remains low because learning has not been implemented in a contextual manner. This community service program aimed to improve students’ competencies and mathematical literacy through training in the construction of STEM-based smartphone microscopes (MS-STEM). The program was conducted at SMA Negeri 1 Indrapuri, Aceh Besar, from June to August 2025 and involved 30 twelfth-grade science students. The method employed was participatory training and mentoring, consisting of the stages of socialization, problem identification, training and assistance, evaluation, reflection, and follow-up. Data were collected using pretest–posttest assessments, observation sheets, and product evaluation rubrics, and were analyzed descriptively using N-gain and percentage analysis. The results showed that students’ cognitive achievement improved with an N-gain score of 0.73 (high category), while mathematical literacy improved with an N-gain score of 0.72 (high category). Students’ scientific attitudes were predominantly in the high to very high categories (73%), psychomotor skills were in the high to very high categories (93%), and the quality of the smartphone microscope products was categorized as good to very good (83%). The microscopes produced were feasible to use as alternative practicum media. In conclusion, MS-STEM training was effective in enhancing students’ competencies and mathematical literacy while providing a practical solution to limited laboratory facilities. Keywords: smartphone microscope; STEM; competence; mathematical literacy; practical learning.
Skrining dan edukasi kesehatan mental kepada siswa SMPN 2 Poncol menggunakan instrumen SRQ (Self Reporting Questionnaire) Yuke Petricia; Fatimatul Zahrok; Muhammad Ilyas Baihaqi; Oktavia Nikmatul Wahyuningtyas; Walfi Prabuligiaro; Ichsan Maulidy Ahmad; Fatasya Aulya; Sefia Nur Dea Anjelina; Sudarno Sudarno
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39082

Abstract

AbstrakPermasalahan kesehatan mental pada remaja menjadi salah satu isu yang perlu mendapat perhatian, terutama di lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil observasi dan koordinasi dengan pihak SMPN 2 Poncol, belum pernah dilakukan skrining kesehatan mental secara rutin sehingga kondisi psikologis siswa belum teridentifikasi secara optimal. Selain itu, pengetahuan siswa mengenai kesehatan mental dan cara mengelola stres masih terbatas. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan masalah psikologis tidak terdeteksi sejak dini dan berdampak pada proses belajar maupun perkembangan sosial siswa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengidentifikasi kondisi kesehatan mental siswa SMPN 2 Poncol melalui skrining awal menggunakan Self Reporting Questionnaire (SRQ) serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga kesehatan mental. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan secara sistematis melalui empat tahap, yaitu persiapan dan koordinasi dengan pihak sekolah, pelaksanaan skrining menggunakan instrumen SRQ, wawancara lanjutan pada siswa yang menunjukkan indikasi gangguan psikologis, serta edukasi kesehatan mental mengenai pengelolaan stres, kecemasan, dan pentingnya dukungan sosial. Kegiatan dilaksanakan pada 34 siswa SMPN 2 Poncol dari total 37 siswa yang terdaftar. Hasil skrining menunjukkan bahwa 17 siswa (50%) terindikasi mengalami gejala psikologis, sedangkan 17 siswa lainnya (50%) tidak menunjukkan gejala psikologis. Berdasarkan jenis kelamin, gejala psikologis ditemukan pada 6 siswa laki-laki (30%) dan 11 siswa perempuan (78,6%). Hasil wawancara menunjukkan bahwa tekanan akademik, hubungan dengan teman sebaya, dan kondisi keluarga menjadi beberapa faktor yang memengaruhi kondisi psikologis siswa. Kegiatan ini berhasil memberikan gambaran awal mengenai kondisi kesehatan mental siswa sekaligus meningkatkan kesadaran mereka terhadap pentingnya menjaga kesehatan jiwa. Temuan ini menunjukkan perlunya skrining kesehatan mental secara berkala serta kolaborasi antara sekolah dan tenaga kesehatan dalam upaya promotif dan preventif untuk mendukung kesehatan mental siswa. Kata kunci: skrining; kesehatan_mental; self_reporting_questionnaire. Abstract Mental health issues among adolescents are a pressing issue, particularly within the school environment. Based on observations and coordination with SMPN 2 Poncol, routine mental health screenings have not been conducted, resulting in inadequate identification of students' psychological well-being. Furthermore, students' knowledge of mental health and stress management remains limited. This situation can potentially lead to early undetected psychological problems, impacting their learning and social development.This activity aims to conduct initial mental health screenings for students at SMPN 2 Poncol. This community service activity aims to identify students' mental health conditions through initial screening using the Self-Reporting Questionnaire (SRQ) and increase students' knowledge about the importance of maintaining mental health. The activity was implemented systematically through four stages: preparation and coordination with the school, screening using the SRQ instrument, follow-up interviews with students who exhibited psychological disorders, and mental health education on stress management and anxiety management, as well as the importance of social support. The activity was conducted with 34 of the 37 registered students at SMPN 2 Poncol. The screening results showed that 17 students (50%) were indicated to be experiencing psychological symptoms, while the other 17 students (50%) did not show any psychological symptoms. Based on gender, psychological symptoms were found in 6 male students (30%) and 11 female students (78.6%). Interview results indicated that academic pressure, peer relationships, and family conditions were some of the factors that influenced students' psychological conditions. This activity succeeded in providing an initial overview of students' mental health conditions while raising their awareness of the importance of maintaining mental health. These findings demonstrate the need for regular mental health screenings and collaboration between schools and health professionals in promotive and preventive efforts to support students' mental health. Keywords: screening; mental health; SRQ.
Peningkatan literasi digital melalui pelatihan penggunaan Mendeley di SMA Negeri 14 Palembang Abdul Halim; Ahmad Mujaddid Fachrurreza; Larasati Larasati; Yuni Permatasari
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39225

Abstract

AbstrakKemajuan teknologi digital telah membawa dampak besar dalam dunia pendidikan, termasuk pada aspek literasi akademik. Namun, keterampilan literasi digital di kalangan siswa SMA masih tergolong rendah, khususnya dalam pengelolaan referensi ilmiah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi digital akademik melalui pelatihan penggunaan aplikasi Mendeley bagi guru dan siswa di SMA Negeri 14 Palembang. Metode kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan intensif, pendampingan teknis, dan evaluasi berbasis pre-test dan post-test. Kegiatan diikuti oleh 26 siswa kelas XII serta sejumlah guru pendamping. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 84,4% dalam penguasaan fungsi dasar Mendeley, di mana sebanyak 96% peserta telah mampu membuat sitasi otomatis secara mandiri dan seluruh peserta (100%) memahami fungsi dasar Mendeley sebagai alat bantu akademik. Selain itu, sebanyak 92% siswa menilai pelatihan ini sangat bermanfaat dan 81% guru pendamping berkomitmen untuk melanjutkan bimbingan literasi digital di sekolah. Kegiatan ini berkontribusi terhadap peningkatan literasi digital sekolah dan mendorong integrasi teknologi dalam pembelajaran. Hasil kegiatan ini diharapkan menjadi model replikasi untuk sekolah menengah lain dalam upaya memperkuat budaya literasi digital di era pendidikan 4.0. Kata kunci: pengabdian; pelatihan; literasi digital; mendeley; SMAN 14 Palembang. AbstractThe advancement of digital technology has significantly influenced education, particularly in academic literacy. However, digital literacy skills among high school students remain relatively low, especially in managing scientific references. This community service program aimed to enhance academic digital literacy through Mendeley training for teachers and students at SMA Negeri 14 Palembang. The methods included socialization, intensive workshops, technical assistance, and evaluation using pre-test and post-test instruments. The activity involved 26 twelfth-grade students and several teachers. The evaluation results showed an average improvement of 84.4% in mastering core Mendeley functions, with 96% of participants able to independently create automatic citations and all participants (100%) understanding the basic functions of Mendeley as an academic tool. Additionally, 92% of students rated the training as highly beneficial and 81% of accompanying teachers committed to continuing digital literacy guidance at school. This activity successfully enhanced the school’s digital literacy capacity and supported the integration of technology in learning. The results are expected to serve as a model for replication by other secondary schools in their efforts to strengthen digital literacy culture in the era of education 4.0. Keywords: community service; training; digital literacy; mendeley; SMAN 14 Palembang.
Sekolah hijau: implementasi hidroponik berbasis teknologi sebagai media pembelajaran dan kewirausahaan berkelanjutan Samsul Ma'arif; Asifa Asifa; Muhammad Yusuf Ibrahim; Asha Sembiring; Alfan Ramadhan Sembiring
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39507

Abstract

Abstrak Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengimplementasikan sistem hidroponik sederhana berbasis daur ulang, meningkatkan literasi digital melalui pemanfaatan QR code dan logbook digital, menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa, serta mengembangkan model pembelajaran terpadu berbasis Project-Based Learning (PjBL) di MTs Nahdhatul Muslimin, Desa Denai Lama, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Permasalahan yang diidentifikasi meliputi rendahnya minat siswa terhadap pertanian, minimnya fasilitas praktik, serta terbatasnya literasi digital guru dan siswa. Metode pelaksanaan melibatkan participatory action approach dengan tahapan: analisis kebutuhan mitra, sosialisasi pertanian modern, praktik instalasi hidroponik sederhana, pemanfaatan QR code untuk identifikasi tanaman, pencatatan logbook digital melalui Google Sheets, serta edukasi kewirausahaan dan promosi digital. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 15 November 2025 dan diikuti oleh siswa kelas IX dan guru pendamping. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa seluruh instalasi hidroponik berfungsi dengan baik, tanaman kangkung, sawi, dan selada tumbuh dengan rata-rata tinggi 12–18 cm pada minggu ke-2 dengan kondisi daun hijau segar tanpa bercak penyakit, dan siswa mampu mengoperasikan QR code serta logbook digital secara mandiri. Program ini berhasil mengintegrasikan aspek sains (IPA), teknologi informasi (Informatika), dan kewirausahaan dalam satu kegiatan berbasis proyek yang berkelanjutan. Kegiatan ini telah mendapat liputan media massa nasional dan menjadi model sekolah hijau pertanian digital yang potensial untuk direplikasi di sekolah lain. Kata kunci: hidroponik; kewirausahaan; pembelajaran; pengabdian; teknologi QR Code. Abstract  This community service aims to introduce a technology-based hydroponic cultivation system as an integrated learning medium and foster an entrepreneurial spirit among students at MTs Nahdhatul Muslimin, Denai Lama Village, Deli Serdang Regency, North Sumatra. The identified issues include low student interest in agriculture, limited practical facilities, and insufficient digital literacy among teachers and students. The implementation method involves a participatory action approach with the following stages: needs assessment with partners, socialization of modern agriculture, practical training in simple hydroponic installations, use of QR codes for plant identification, digital logbook recording via Google Sheets, and entrepreneurship education and digital promotion. The activity was conducted on November 15, 2025, and involved ninth-grade students and supervising teachers. The results show that all hydroponic installations functioned properly; water spinach, mustard greens, and lettuce plants grew to an average height of 12–18 cm by the second week, with healthy green leaves free from disease spots, and students were able to independently operate QR codes and digital logbooks. This program successfully integrated aspects of science, information technology, and entrepreneurship into a single, sustainable project-based activity. The activity received national media coverage and became a model of a green school for digital agriculture, with the potential to be replicated in other schools. Keywords: hydroponics; entrepreneurship; learning; community service; QR code technology.