cover
Contact Name
Priyo Sambodo
Contact Email
igkojei@unipa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
igkojei@unipa.ac.id
Editorial Address
Fakultas Peternakan, Universitas Papua Jalan Gunung Salju, Amban, Manokwari, Papua Barat - 98314
Location
Kab. manokwari,
Papua barat
INDONESIA
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Published by Universitas Papua
ISSN : 27468656     EISSN : 27468666     DOI : https://doi.org/10.46549/igkojei
Articles cover the results of community service and empowerment activities related to the application of science and technology (IPTEK) from various fields of sciences and have relevance to the fields of human development, management of rural and coastal areas with local wisdom, economic development, entrepreneurship, cooperatives, creative industries, micro small and medium enterprises (UMKM) including agriculture and veterinary, engineering, education, social humanities, socio-economics, computers, and health. This journal was first published in 2020. This journal was published 3 times a year, in February, June and October.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 143 Documents
Pelatihan identifikasi herpetofauna bagi Mahasiswa Kehutanan Universitas Papua: Herpetofauna identification training for Forestry Students of the University of Papua Taran, Denisa M. K.; Anggrianto, Rusdy; Worabai, Meliza Sartje; Beljai, Mathius; Mansyur, Fadhilah I.; Arobaya, Agustina Y. S.
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i2.536

Abstract

ABSTRACT  A herpetofauna identification training was conducted at the Faculty of Forestry, University of Papua, aimed at enhancing students' skills in species recognition, morphological understanding, and scientific specimen preservation. The activity served as an implementation of the Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) curriculum, which emphasizes experiential learning. The four-day training involved 17 students from the Diploma (D3) Conservation and Undergraduate (S1) Forestry programs. The methods included lectures, laboratory specimen observation, field exploration, morphological identification, and preservation using 70% alcohol. The results showed that participants successfully identified approximately 20 herpetofauna species from over 50 collected and preserved samples. Evaluation revealed high satisfaction levels: 80% of students were very satisfied with the training materials, 85% with the instructional methods, and 75% with the available facilities. This training not only improved practical competencies but also produced curated specimens that now serve as active learning materials in forest ecology and wildlife conservation courses. The initiative serves as a replicable model for field and laboratory-based capacity building in biodiversity conservation, particularly in eastern Indonesia. Keywords: Biodiversity; Conservation; Herpetofauna; Morphology; Practicum   ABSTRAK  Pelatihan identifikasi herpetofauna (reptil dan amfibi) dilaksanakan di Fakultas Kehutanan Universitas Papua dengan tujuan meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam mengenali spesies, memahami karakter morfologis, serta melakukan pengawetan spesimen secara ilmiah. Kegiatan ini merupakan bentuk implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang menekankan pada pembelajaran berbasis pengalaman langsung. Pelatihan berlangsung selama empat hari dan diikuti oleh 17 mahasiswa dari program D3 Konservasi dan S1 Kehutanan. Metode pelatihan meliputi ceramah, observasi koleksi laboratorium, eksplorasi lapangan, identifikasi morfologi spesimen, serta praktik pengawetan menggunakan alkohol 70%. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa peserta mampu mengidentifikasi sekitar 20 spesies herpetofauna dari lebih dari 50 sampel yang berhasil dikoleksi dan diawetkan. Evaluasi menunjukkan tingkat kepuasan sangat tinggi: 80% peserta sangat puas terhadap materi pelatihan, 85% terhadap metode penyampaian, dan 75% terhadap fasilitas. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat kompetensi praktis mahasiswa, tetapi juga menghasilkan koleksi spesimen yang digunakan sebagai media pembelajaran aktif dalam mata kuliah konservasi dan ekologi hutan. Pelatihan ini menjadi model penguatan kapasitas sumber daya manusia berbasis laboratorium dan lapangan, khususnya dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati di wilayah timur Indonesia. Kata kunci: Biodiversitas; Herpetofauna; Konservasi; Morfologi; Praktikum
Bimbingan teknis digitalisasi kampung di Kampung Sumber Boga Distrik Masni, Kabupaten Manokwari: Technical guidance on village digitalization in Sumber Boga Village Masni District, Manokwari Regency Jeni, Jeni; Santoso, Budi; Nunaki, Jan H.; Rumatumia, Zainudin; Inggesi, Barsalina J.
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i2.537

Abstract

ABSTRACT  Digital village is a concept that implements a government service system, community service, and community empowerment based on the use of information technology connected to a wireless network. The purpose of this technical guidance  activity is to introduce and independently operate the application features contained in Opensid to the head and staff of Sumber Boga Village and improve public services for village officials to the community. The technical guidance  activity was carried out in Sumber Boga Village, Masni District, Manokwari Regency in the third week of August 2024. Participants in the activity consisted of the Head of Sumber Boga Village and staff, residents and KKN members. The stages of the activity include (a) Preparation and Coordination with the Head of Sumber Boga Village; (b) Socialization of the Introduction to Campus Digitalization; (c) Introduction and Practice of Customizing the OpenSID Dashboard. The results of the activity showed that the bimtek activity attended by the Head and staff of Sumberboga Village went well. The village head gave full support to this activity because the results of this activity would help village officials in providing services to the community. The village website has been functioning well and has been used to disseminate the potential of the village. In addition, it is also used for village administration services. Technical guidance for village digitalization implemented in Bogasari Village has been going well and has provided benefits for village officials in terms of community service.  Keywords:  Digital; OpenSID; Sumber Boga; Technical Guidance; Village   ABSTRAK  Kampung digital adalah suatu konsep yang menerapkan sistem pelayanan pemerintahan, pelayanan masyarakat, dan pemberdayaan masyarakat berbasis pemanfaatan teknologi informasi yang terhubung dengan jaringan nirkabel.  Tujuan kegiatan bimbingan teknis (bimtek) ini yaitu  memperkenalkan dan mengopersikan secara mandiri fitur-fitur aplikasi yang terdapat pada Opensid kepada kepala dan staf Kampung Sumber Boga dan meningkatkan pelayanan publik aparat kampung kepada masyarakat.  Kegiatan bimbingan teknis  dilaksanakan di Kampung sumber Boga, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari pada minggu ketiga bulan Agustus 2024.  Peserta kegiatan terdiri atas Kepala Kampung Sumber Boga dan staf, warga dan peserta Kuliah Kerja Nyata.  Tahapan kegiatan meliputi (a) Persiapan dan Koordinasi dengan Kepala Kampung Sumber Boga; (b) Sosialisasi Pengantar Digitalisasi Kampu; (c) Pengenalan dan Praktik Customisasi Dashboard OpenSID.  Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kegiatan bimtek yang dikuti oleh Kepala dan staf Kampung Sumberboga berjalan dengan baik. Kepala kampung memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini karena hasil kegiatan ini akan membantu aparat kampung dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.  Website kampung telah berfungsi dengan baik dan telah digunakan untuk menyebarluaskan potensi kampung. Selain itu juga digunakan untuk pelayanan administrasi kampung.  Bimbingan teknis digitalisasi kampung yang dilaksanakan di Kampung Bogasari, telah berlangsung dengan baik dan telah memberi manfaat bagi aparat kampung dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.  Kata kunci: Bimbingan Teknis; Digital; Kampung; OpenSID; Sumber Boga          
Konsep pengembangan agrowisata kakao di PT. Ebier Suth Cokran Ransiki dengan pendekatan ekologi dan agronomi: Cocoa agrotourism development concept at PT. Ebier Suth Cokran Ransiki with an ecological and agronomic approach Ruimassa, Reymas M.R.; Sarungallo, Zita L.; Mawikere, Nouke L.; Hartini, Sri; Noya, Alce I.; Musaad, Ishak; Boli, Paulus; Sinaga, Nurhaida I.; Syufi, Yafed; Purba, Gandy Y. S.; Mogea, Rina A.; Panjaitan, Rawati; Suawa, Elfira K.; Wibawati, Zarima; Sabariah, Vera; Patimah, Ai Siti; Suparno, Antonius
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i2.538

Abstract

ABSTRACT Ebier-Suth Cokran has a land area of 6,200 hectares, with 200 hectares currently being managed to produce dried cocoa beans, which are processed into cocoa powder and chocolate bars. As a company that cares about society, PT. Ebier-Suth Cokran applies an organic farming system in its operations, in line with the company's motto "The social and green company PT. Ebier-Suth Cokran, agroforestry cocoa plantations (by the community for the community)." One of the company's achievements is the Cacao of Excellence Gold Award, an international recognition of the quality of the products produced. However, the results of the FGD indicate several challenges that need to be addressed to maintain the company's productivity in the future. Some of the issues that need to be tackled include: expanding planting areas to meet market demand, planting superior clones with high production potential, rejuvenating cocoa plants and protective trees, using organic fertilizers, and controlling pests and diseases organically without relying on inorganic fertilizers and pesticides. In addition, training programs for youth and women in cocoa bean processing need to be strengthened to support the sustainability of the company.  Keywords: Chocolate; Cocoa; Disease; Fermentation; Organic ABSTRAK PT. Ebier-Suth Cokran memiliki luas lahan sebesar 6.200 ha, dengan 200 ha di antaranya saat ini dikelola untuk menghasilkan biji kakao kering yang diolah menjadi tepung kakao dan cokelat batangan. Sebagai perusahaan yang peduli terhadap masyarakat, PT. Ebier-Suth Cokran menerapkan sistem pertanian organik dalam operasionalnya, sesuai moto perusahaan "Perusahaan sosial dan hijau PT. Ebier-Suth Cokran, perkebunan kakao agroforestry (oleh masyarakat untuk masyarakat)". Salah satu prestasi yang diraih perusahaan adalah penghargaan Cacao of Excellence Gold Award, yang merupakan pengakuan internasional terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Meskipun demikian, hasil dari FGD menunjukkan adanya beberapa tantangan yang perlu diatasi agar produktivitas perusahaan tetap terjaga di masa mendatang. Beberapa hal yang perlu ditangani antara lain: perluasan areal penanaman untuk memenuhi permintaan pasar, penanaman klon-klon unggul yang memiliki potensi produksi tinggi, peremajaan tanaman kakao dan pohon pelindung, penggunaan pupuk organik, serta pengendalian hama dan penyakit secara organik tanpa mengandalkan pupuk dan pestisida anorganik. Selain itu, pelatihan keterampilan untuk pemuda dan wanita dalam pengolahan biji kakao perlu diperkuat untuk mendukung keberlanjutan perusahaan. Kata kunci: Cokelat; Fermentasi; Kakao; Organik; Penyakit    
Peran juleha dalam pemantauan qurban di Masjid Darul Ulum Amban Manowari: The role of certified halal slaughterers (Juleha) in monitoring qurban slaughter at Darul Ulum Mosque, Amban, Manokwari Wajo, Mohamad Jen; Widayati , Trisiwi W.; Widayati, Isti; Nurhayati, Dwi; Tethool, Angelina N.; Baaka, Alnita; Purwaningsih, Purwaningsih; Noviyanti, Noviyanti; Inriani, Noveling; Arizona, Rizki; Palulungan, John A.; Sumpe, Iriani; Rumetor, Sientje D.; Saragih , Evi W.; Lekitoo, Merlyn N.; Manik, Hotlan
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i2.549

Abstract

ABSTRACT  This community service activity aimed to improve the technical compliance of qurban animal slaughter based on halal principles and animal welfare standards at Darul Ulum Mosque, Amban Village, West Manokwari District, Manokwari Regency. A case study approach with participatory techniques was employed, involving certified Halal Slaughterers (Juleha), qurban committees, university students, and experts. The activities covered antemortem inspection, slaughtering, postmortem examination, and meat distribution. The results showed that the slaughtering process was conducted in accordance with Islamic Sharia principles, ensuring the proper severance of the three main channels efficiently and swiftly. Postmortem inspection revealed parasitic infestations (fasciola hepatica and parampistomon) in several organs, which were handled appropriately following established protocols. Improvements are still needed in animal holding facilities, particularly regarding feed, water supply, and sanitation prior to slaughter. This program significantly enhanced the technical capacity of Juleha and the qurban committee, strengthening the implementation of halalan thayyiban and animal welfare principles at the mosque community level. Keywords: Animal welfare; halal slaughter; Juleha; postmortem inspection; qurban   ABSTRAK Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan teknis penyembelihan hewan qurban sesuai prinsip halal dan kesejahteraan hewan (animal welfare) di Masjid Darul Ulum, Kelurahan Amban, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari. Pendekatan yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik partisipatif, melibatkan Juru Sembelih Halal (Juleha), panitia qurban, mahasiswa, dan tenaga ahli. Kegiatan dimulai dari pemeriksaan antemortem, penyembelihan, pemeriksaan postmortem, hingga distribusi daging. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh proses penyembelihan telah dilakukan sesuai prinsip syariat Islam, dengan memastikan pemotongan tiga saluran utama secara cepat dan efisien. Pemeriksaan postmortem menemukan infestasi parasit (fasciola hepatica dan parampistomon) pada beberapa organ, yang ditangani sesuai protokol. Faktor sanitasi dan ketersediaan pakan serta air di penampungan ternak sebelum pemotongan masih perlu ditingkatkan. Kegiatan ini berkontribusi nyata dalam meningkatkan kapasitas teknis Juleha dan panitia qurban serta memperkuat implementasi prinsip halalan thayyiban dan animal welfare di tingkat komunitas masjid. Kata kunci: Juleha; kesejahteraan hewan; pemeriksaan postmortem; penyembelihan halal; qurban
Edukasi pengolahan limbah kulit buah menjadi eco-enzim bagi masyarakat di Desa Petrus Kafiar: Education on making eco-enzimes from fruit peels in Petrus Kafiar Village Kilmaskossu, Johanis P.; Nebore, Idola D. Y.; Rumalolas, Nuryanti; Iwan, Iwan; Sirait, Silvia H. K.; Erari, Semuel S.; Tuririday, Helena T.; Yohanita, Aksamina M.; Wambrauw, Hengky L.; Pramudita, Windi; Luarwan, Jakob R.; Manihuruk, Dina L. D.; Resilay, Edelina M.; Wanaha, Falentina G.; Rumatan, Saidah; Sawor, Yohanes S.; Ayomi, Carnela; Kambu, Anastasya Y.; Sangkek, Norce T.; Dewi, Novira F. K.; Hanafi, Ririn I. A. A.; Rimosan, Muhammad F. B. R.; Apriyani, Rahma; Tagi, Fiktor; Wabia, Hosin
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i2.551

Abstract

ABSTRACT  Household organic waste management remains a challenge in many regions, including Petrus Kafiar Village, Manokwari Regency, West Papua Province. The main issue faced by the local community is the lack of habits and knowledge in processing organic waste into useful products. This community service program aimed to improve public awareness, knowledge, and skills through training on eco-enzyme production—an environmentally friendly and multifunctional liquid produced by fermenting organic waste. The activities included a briefing, brochure distribution, interactive discussion, and direct practice by participants guided by the service team. Evaluation was conducted using a Likert-scale questionnaire administered to 15 respondents. The results showed that 93.33% of participants became more aware of the importance of organic waste management, 89.33% felt capable of independently producing eco-enzyme, and the average usefulness score reached 89.73%, categorized as "very beneficial." This program proved effective in promoting ecological behavior through community-based empowerment.  Keywords: Community Participation; Eco-enzyme; Education; Organic Waste; Service   ABSTRAK  Pengelolaan sampah organik rumah tangga masih menjadi tantangan di berbagai wilayah, termasuk Desa Petrus Kafiar, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat setempat adalah belum adanya kebiasaan atau pengetahuan dalam mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat melalui pelatihan pembuatan eco-enzim—cairan hasil fermentasi limbah organik yang ramah lingkungan dan multifungsi. Pelaksanaan kegiatan mencakup penyuluhan, pembagian brosur, diskusi interaktif, serta praktik langsung pembuatan eco-enzim oleh peserta dengan pendampingan tim. Evaluasi dilakukan melalui kuisioner skala Likert terhadap 15 responden. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 93,33% peserta merasa lebih sadar akan pentingnya pengelolaan sampah organik, 89,33% merasa mampu memproduksi eco-enzim secara mandiri, dan rata-rata kebermanfaatan kegiatan mencapai 89,73% dengan kategori “sangat bermanfaat”. Kegiatan ini terbukti efektif dalam membentuk perilaku ekologis berbasis pemberdayaan masyarakat. Kata kunci: Edukasi, Eco-enzim, Limbah Organik, Partisipasi Masyarakat, Pengabdian
Pendampingan teknik pengendalian organisme pengganggu tanaman secara organik pada budidaya tanaman di Kampung Kwau: Technical guidance on plant pest control organisms organically in plant cultivation in Kwau Village Ruimassa, Reymas; Purnomo, Wasgito D.; Sutiharni, Sutiharni; Ningtias, Nandini A.; Nurlailah, Nurlailah; Pribadi, Hayu S.; Karamang, Syukur; Wibawati, Zarima
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i3.558

Abstract

ABSTRACT Plant disease control using biological agents such as Trichoderma spp., and groups of bacteria that are members of Plant Growth Promoting Rhizobacteria or PGPR is an organic farming method, which only uses ingredients that come from the surrounding environment. The purpose of implementing this PKM is to introduce farmers to an alternative control method that is safer for the environment, cheaper because it comes from their own residential environment so that it does not cost more but is effective in controlling plant pests or OPT. Another goal is that farmers can reduce the frequency of using non-organic pesticides in their daily cultivation systems. The delivery method is carried out in the mentoring method through the presentation of recipes, procedures and manufacturing techniques carried out at the Kwau Village Hall; while the training is carried out in farmers' gardens with the presentation of the parts of the sprayer used, how to mix organic pesticides, the dosage size used and the best spraying time. This training and mentoring received a warm welcome from the farming community which was marked by not only being attended by the farming community in Kwau but also by farmers from other villages around Kwau village such as Maybrij and Soubrij. Another thing that shows high enthusiasm is the curiosity about the material during the discussion and training in the farmer's garden. We hope that the material presented can add insight into the agrotourism cultivation system.  Keywords: Bamboo, Plant Pest Organisms, Plant Growth Promoting Rhizobacteria, Kwau, Trichoderma spp   ABSTRAK  Pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan agensia hayati seperti Trichoderma spp., dan kelompok bakteri yang tergabung pada Plant Growth Promoting Rhizobacteria atau PGPR merupakan cara bertani secara organik, yang hanya menggunakan bahan-bahan pembuat yang berasal dari alam sekitar. Tujuan pelaksanaan PKM ini adalah memperkenalkan kepada petani suatu metode pengendalian alternatif yang lebih aman terhadap lingkungan, murah karena berasal dari lingkungan tempat tinggal sendiri sehingga tidak mengeluarkan biaya lebih tetapi efektif dalam mengendalikan Organisme pengganggu tumbuhan atau OPT. Tujuan lainnya lagi adalah petani dapat mengurangi frekuensi penggunaan pestisida non-organik dalam sistem budidaya sehari-hari. Metode penyampaian dilaksanakan dalam metode pendampingan melalui pemaparan resep, prosedur dan teknik pembuatan yang dilaksanakan di Balai Kampung Kwau; sedangkan pelatihan dilaksanakan di kebun milik petani dengan pemaparan bagian-bagian alat sprayer yang digunakan, cara pencampuran pestisida organik, ukuran dosis yang digunakan dan waktu penyemprotan terbaik. Pelatihan dan pendampingan ini mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat petani yang ditandai oleh bukan hanya dihadiri oleh masyarakat petani di Kwau juga dihadiri oleh petani yang berasal dari kampung lainnya di sekitar kampung Kwau seperti Maybrij dan Soubrij. Hal lainnya yang menunjukkan animo yang tinggi adalah keingintahuan terhadap materi pada saat diskusi dan pelatihan di kebun petani dilakukan. Harapan kami materi yang disampaikan dapat menambah wawasan dalam sistem budidaya agrowisata.  Kata kunci:  Bambu, Organisme Pengganggu Tumbuhan, Plant Growth Promoting Rhizobacteria, Kwau, Trichoderma spp
Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan bagi pemuda GMIST Jemaat Kuma tentang budidaya lele di sistem akuaponik: Enhancing Knowledge and Skills of GMIST Kuma Youth on Catfish Farming in an Aquaponics System Mose, Iske; Ulaan, Magdalin
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i3.565

Abstract

ABSTRACT  Church youth hold strategic potential in fostering community-based economic independence, particularly in island regions with limited access to technology and entrepreneurial training. This community service program aimed to enhance the knowledge and skills of GMIST Jemaat Kuma youth in catfish farming using an aquaponics system. Aquaponics integrates fish farming and plant cultivation into a closed-loop ecosystem that is land-efficient, sustainable, and environmentally friendly. The activity employed a combination of theoretical training, practical installation workshops, and field mentoring. The program was conducted in Tabukan Tengah District, Sangihe Islands Regency, and involved youth participants from Kuma and Kuma I villages. Results showed increased participants’ understanding of aquaponics concepts, improved skills in assembling simple systems, and strong enthusiasm for adopting the technology sustainably. A stimulus package in the form of one complete aquaponics unit supported continued application and served as an ongoing learning resource. This initiative demonstrates a tangible contribution to local capacity building, household food security, and youth empowerment through resource-based social entrepreneurship.  Keywords: Church youth, Aquaponics, Catfish, Empowerment, Fish farming   ABSTRAK  Pemuda gereja memiliki potensi strategis dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis komunitas, terutama di daerah kepulauan yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi dan pelatihan wirausaha. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pemuda GMIST Jemaat Kuma dalam budidaya ikan lele menggunakan sistem akuaponik. Sistem ini mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman secara simultan dalam satu ekosistem tertutup yang efisien, hemat lahan, dan ramah lingkungan. Metode pelaksanaan meliputi pelatihan teori, praktik pemasangan instalasi akuaponik, serta pendampingan teknis di lapangan. Kegiatan dilaksanakan di Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan melibatkan pemuda dari Kampung Kuma dan Kuma I. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep akuaponik, kemampuan merakit sistem sederhana, serta antusiasme tinggi dalam menerapkan teknologi tersebut secara berkelanjutan. Stimulus bantuan berupa satu set sistem akuaponik mendukung keberlanjutan praktik dan menjadi sarana edukasi lanjutan. Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kapasitas lokal, ketahanan pangan keluarga, serta pemberdayaan pemuda gereja dalam kewirausahaan berbasis sumber daya lokal. Kata kunci: Pemuda gereja, Akuaponik, Lele, Pemberdayaan, Budidaya ikan
Integrasi stem dan etnomatematika dalam desain Rumah Kaki Seribu: STEM and ethnomathematics integration in the design of Rumah Kaki Seribu Pasaribu, Haryanto Pandapotan; Likumahwa, Fervin Mayos; de Queljoe, Winda Sary; Pasinggi, Adonia
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i3.572

Abstract

ABSTRACT  This community service program aimed to improve students’ understanding of geometry concepts by integrating STEM principles with local wisdom in West Papua, particularly through the traditional structure Rumah Kaki Seribu. The activity was conducted in Class VIII-E at SMP Negeri 01 Manokwari using a contextual ethnomathematics-based approach. Learning materials were delivered through interactive lectures, video presentations, model explorations, and group tasks using student worksheets. The results showed that students were able to accurately identify geometric elements in the traditional house structure. Student engagement significantly increased, as evidenced by active participation in discussions and task accuracy. This approach also fostered critical thinking and appreciation of local culture. The main limitation was the short duration of the program. Continuous mentoring through thematic activities and broader school involvement is recommended. This model can be replicated for teaching other mathematical topics in culturally rich regions.  Keywords: Geometry; STEM; Ethnomathematics; Rumah kaki seribu; Local culture   ABSTRAK  Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap konsep geometri melalui integrasi prinsip STEM dan kearifan lokal Papua Barat, khususnya struktur Rumah Kaki Seribu. Kegiatan dilaksanakan di kelas VIII-E SMP Negeri 01 Manokwari dengan pendekatan kontekstual berbasis etnomatematika. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif, tayangan video, eksplorasi maket, dan tugas kelompok berbasis lembar kerja. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta didik mampu mengidentifikasi unsur bangun datar dan bangun ruang dalam struktur rumah adat secara tepat. Partisipasi siswa meningkat signifikan, ditunjukkan melalui keterlibatan aktif dalam diskusi dan ketepatan penyelesaian tugas. Pendekatan ini juga mendorong kemampuan berpikir kritis serta menumbuhkan apresiasi terhadap budaya lokal. Kendala utama terletak pada durasi kegiatan yang terbatas. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan berkelanjutan melalui kegiatan tematik serupa dan perluasan cakupan ke kelas atau sekolah lain. Kegiatan ini dapat dijadikan model pembelajaran kontekstual untuk topik matematika lainnya di wilayah dengan potensi budaya yang kuat. Kata kunci: Geometri; STEM; Etnomatematika; Rumah kaki seribu; Budaya lokal
Pengelolaan hutan berkelanjutan: menuju daerah tujuan wisata Kampung Mosso di wilayah perbatasan: Sustainable forest management: towards tiusrism destination Village of Mosso at the border zoness Mandibodibo, Paulus; Apituley, Frank Leo; Wanaputra, Amadion Andika; Utami, Galuh Putri Windhani; Bukorpioper, Ira Iriani; Ilindamon, Amsal; Rante Tasak, Albida; Arief, Geraldy; Pattiselanno, Freddy
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i3.575

Abstract

ABSTRACT  The development plan of Mosso Village as a tourist destination in the border area of Jayapura city needs to involve the local communities (Community Based-Ecotourism). In addition to the potential of hot water, Mosso Village has other Environmental Service Potentials that may contribute to the development of ecotourism areas. Community service activities were carried out from 4 to 7 September 2023 in Mosso village. Identification of the determining factors for the development of tourism areas was carried out using scoring for each variable according to the determining factors based on the opinions of respondents. We found that, community participation was quite good, and the community voluntarily involved themselves in the activity. Mosso village ecotourism has a diverse natural landscape including lowland tropical rainforests, rivers, mountain peaks and hot springs and waterfalls. This has become a major attraction for tourists seeking an authentic nature exploration experience. Variables identified as inhibiting factors need serious attention to be upgraded to moderate status or even become supporting variables for the development of Mosso village as a tourist destination. Infrastructure is indeed very much needed to support the development of the tourist area in Mosso village. The available minimum requirements, such as accommodation and communication facilities, are good. Non-timber forest product species – NTFPs, which exist and have not been optimally utilized, play an important role in supporting the development of Mosso village as a tourist destination. Economically, the development of Mosso village as a tourist destination is quite promising, because it can create jobs for the local population.  Keywords: Border zones Ecotourism; Mosso Vilage; Sustainable Forest Management;   ABSTRAK  Rencana pengembangan Kampung Mosso sebagai daerah tujuan wisata di wilayah perbatasan kota Jayapura perlu melibatkan masyarakat adat setempat (Communty Based- Ecotourism).  Selain potensi air panas, Kampung Mosso memiliki Potensi Jasa Lingkungan lainnya yang diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kawasan ekowisata. Kegiatan pengabdian pada masyarakat dilaksanakan dari tanggal 4 sampai dengan 7 September  2023 di kampung Mosso. Identifikasi terhadap faktor penentu pengembangan kawasan wisata dilakukan dengan menggunakan skoring terhadap setiap variabel sesuai dengan faktor yang menentukan berdasarkan pendapat para responden. Dalam kegiatan pengabdian ini, peran serta masyarakat cukup baik, dan masyarakat yang secara sukarela melibatkan diri dalam kegiatan pengabdian. Ekowisata kampung Mosso memiliki lanskap alam yang beragam termasuk hutan hujan tropis dataran rendah, sungai, puncak gunung serta sumber air panas dan air terjun. Hal ini menjadi menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman menjalajahi alam yang otentik. Variabel yang teridentifikasi sebagai faktor penghambat, perlu mendapat perhatian serius untuk ditingkatkan statusnya menjadi moderat atau bahkan menjadi variabel pendukung pengembangan kampung Mosso sebagai daerah tujuan wisata di wilayah perbatasan. Infrastruktur memang sangat dibutuhkan dalam menunjang pengembangan kawasan wisata di kampung Mosso. Persyaratan minimal yang sudah tersedia misalnya penginapan dan sarana komunikasi merupakan hal yang baik. Spesies hasil hutan bukan kayu – HHBK, yang ada dan belum dimanfaatkan secara optimal memainkan peranan penting menunjang pengembangan kampung Mosso sebagai daerah tujuan wisata wilayah perbatasan. Secara ekonomi, pengembangan kampung Mosso sebagai destinasi wisata di wilayah perbatasan cukup menjanjikan, karena mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi penduduk setempat.  Kata kunci: Ekowisata; Kampung Mosso; Pengelolaan hutan berkelanjutan; Wilayah perbatasan
Kolaborasi perguruan tinggi, gereja, dan masyarakat adat dalam advokasi isu lingkungan dan tenurial di Lembah Kebar Kabupaten Tambrauw: Collaboration of universities, spirituall organization and indigenous peoples in advocacy for environmental and tenure issues in Kebar Valley, Tambrauw Regency Padang, Dina Arung; Runtuboi, Yubelince Y.; Nebore , Idola Dian Y.; Tampang, Ana; Sebayang, Sri Rosepda; Ayomi, Adomina; Mambraku , Selviana; Bauw, Naswa Anissa Az Zahra Sanusi; Fatem, Sepus M.
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i3.578

Abstract

ABSTRACT  Natural resources, environmental sustainability, and tenure rights represent complex and persistent challenges faced by Indigenous communities across Indonesia, including in Kebar Valley, Tambrauw Regency, West Papua. This region has been under growing pressure from oil palm plantation expansion, leading to land conflicts, violence, and ecological degradation. This study explores the strategic collaboration among universities, churches, and Indigenous communities in advancing advocacy rooted in ecological justice and tenure recognition. A descriptive qualitative approach with a naturalistic paradigm and ethnographic methods was employed to uncover local narratives, social practices, and customary values that shape collective strategies in addressing structural inequalities. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation of advocacy activities. The findings reveal that such cross-sector collaboration has successfully mobilized socio-political strength to promote ulayat land rights, environmental preservation, and community-based economic resilience. The 2024 Declaration of Kebar Valley as the Land of the Gospel marks both a symbolic and strategic milestone, reinforcing solidarity among actors. This partnership has created momentum for progressive policy development, including both regulatory and non-regulatory frameworks at local and national levels. The study underscores the critical role of participatory approaches, recognition of Indigenous knowledge, and integration of spiritual values in empowering Indigenous peoples in resource governance. Future advocacy efforts must encompass sociocultural, economic, and legal dimensions to ensure the sustainability of Indigenous territories and the well-being of local communities.  Keywords: Advocacy; Collaboration; Community; Kebar; Tambrauw   ABSTRAK  Isu sumber daya alam, lingkungan, dan hak tenurial merupakan permasalahan kompleks yang dihadapi masyarakat adat di Indonesia, termasuk di Lembah Kebar, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Kawasan ini mengalami tekanan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit yang menimbulkan konflik lahan, kekerasan, dan degradasi ekologis. Penelitian ini mengkaji kolaborasi antara perguruan tinggi, gereja, dan masyarakat adat dalam upaya advokasi berbasis keadilan ekologis dan hak tenurial. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma naturalistik dan metode etnografi digunakan untuk menggali narasi lokal, praktik sosial, dan nilai-nilai adat yang membentuk strategi kolektif komunitas dalam menghadapi ketimpangan struktural. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi aktivitas advokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi lintas aktor ini mampu membangun kekuatan sosial-politik dalam mendorong pengakuan hak ulayat, pelestarian lingkungan, serta penguatan ekonomi komunitas. Deklarasi Lembah Kebar sebagai Tanah Injil (2024) menjadi tonggak simbolik sekaligus strategis dalam memperkuat solidaritas antar aktor. Kolaborasi tersebut membuka ruang bagi terobosan kebijakan baik dalam bentuk regulasi maupun non-regulasi di tingkat lokal dan nasional. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan partisipatif, pengakuan terhadap kearifan lokal, dan integrasi nilai spiritual dalam memperkuat posisi masyarakat adat dalam tata kelola sumber daya alam. Advokasi ke depan harus mencakup dimensi sosial-budaya, ekonomi, dan hukum untuk menjamin keberlanjutan ruang hidup dan kesejahteraan komunitas adat secara menyeluruh. Kata kunci: Advokasi;  Kebar;  Kolaborasi; Mayarakat; Tambrauw