cover
Contact Name
Syafriani
Contact Email
syafrianifani@gmail.com
Phone
+6281276299789
Journal Mail Official
syafrianifani@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tuanku Tambusai No 23 Bangkinang Kota, Kampar
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Medika: Medika
ISSN : -     EISSN : 29857295     DOI : https://doi.org/10.31004/t6azja17
Core Subject : Health,
Jurnal Medika: Medika adalah jurnal yang mempublikasikan hasil pengabdian masyarakat bidang kesehatan. Jurnal pengabdian masyarakat Medika di terbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Pahlwan Tuanku Tambusai. Jurnal ini berisikan artikel berkenaan dengan hasil kegiatan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Jurnal Medika ini terbit dua kali selama setahun pada bulan Januari dan Juni. Jurnal ini bertujuan untuk menyebarluaskan ide maupun gagasan hasil dari penelitian dan pengabdian itu sendiri. Jurnal Medika adalah jurnal nasional dengan E-ISSN: 2985-7295. Jurnal Medika mempublikasikan artikel hasil pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat dengan terbitan sebanyak 2 nomor dalam setahun.
Articles 106 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 3 (2025)" : 106 Documents clear
Cegah GTM Melalui Peningkatan Kapasitas Ibu Mengolah Bahan Lokal Menjadi Menu Sehat Balita Julianto, Errix Kristian; Abidin, Ahmad Zainal; Ardianti, Ikha; K, Fitria Rizky; A, Niken Yuli; F, Yuzita Nur
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/wd1f0n18

Abstract

Fenomena Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada balita menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering dihadapi oleh keluarga di desa tersebut. Fenomena ini menggambarkan kondisi di mana balita menolak makan, memilih makanan tertentu, atau hanya makan dalam jumlah yang sangat sedikit. Hal ini berisiko menyebabkan masalah malnutrisi pada anak, yang dapat mengganggu tumbuh kembang fisik dan kognitif mereka. GTM pada Balita sering kali dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingnya gizi seimbang dan kebiasaan makan yang kurang baik. Sehingga pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk pemberdayaan ibu-ibu agar mereka mampu memanfaatkan bahan pangan lokal yang tersedia untuk membuat makanan yang sehat dan menarik bagi balita mereka. Kegiatan ini dilaksanakan di desa Pagerwesi Trucuk Bojonegoro oleh ISTeK ICsada Bojonegoro pada 31 ibu yang memiliki anak balita. Metode yang digunakan dengan memberikan pemberdayaan kepada para ibu dengan anak balita berbasis binaan dan pelatihan yang meliputi persiapan kegiatan, pelaksanaan, partisipasi mitra, evaluasi dan keberlanjutan program. Hasil dari kegiatan ini didapatkan terdapat 11 ibu yang masih memiliki pemahaman dalam kategori kurang, 15 ibu dalam kategori cukup, dan 5 ibu dalam kategori baik. Untuk menjaga kesinambungan program ini, dibutuhkan dukungan lanjutan dari pemerintah desa dan mitra agar edukasi gizi dapat diterapkan secara berkelanjutan. Selain itu, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat bagi tumbuh kembang anak, sehingga berdampak pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Peran Apoteker Dalam Edukasi Obat Untuk Lansia di Desa Belabori Kab. Gowa Awaluddin, Nurhikma; Basir, Nasrawati; Sadsyam, Sriyanty; Awaluddin, Akbar
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/c3qm7k08

Abstract

Di Indonesia, populasi usia lanjut terus meningkat seiring dengan tingginya angka harapan hidup. Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan mencapai lebih dari 26 juta orang. Lansia sering kali menghadapi berbagai tantangan kesehatan yang kompleks, termasuk penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung. Selain itu, mereka juga cenderung menggunakan beberapa jenis obat secara bersamaan, yang dikenal sebagai polifarmasi. Polifarmasi dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping, interaksi antar obat, serta kesalahan penggunaan obat, yang semuanya dapat berdampak negatif pada kesehatan lansia. Dalam konteks ini, peran apoteker menjadi sangat vital. Apoteker memiliki pengetahuan mendalam tentang farmakologi, termasuk mekanisme kerja obat, interaksi obat, dan efek samping yang mungkin terjadi. Dengan pengetahuan ini, apoteker dapat memberikan edukasi yang tepat kepada lansia mengenai cara penggunaan obat yang aman dan efektif. Edukasi ini meliputi informasi mengenai dosis yang benar, waktu yang tepat untuk mengonsumsi obat, serta tanda-tanda efek samping yang perlu diwaspadai. Selain itu, apoteker juga dapat membantu lansia dalam memahami pentingnya mematuhi regimen pengobatan yang telah ditentukan oleh dokter, sehingga dapat mencegah komplikasi yang lebih serius. Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga merupakan aspek penting dalam pengelolaan kesehatan lansia. Melalui pemeriksaan rutin, masalah kesehatan dapat terdeteksi lebih awal, sehingga penanganan yang tepat dapat dilakukan. Apoteker dapat berkontribusi dalam hal ini dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan dan bagaimana cara mengakses layanan kesehatan yang ada. Dengan memberikan informasi yang akurat dan mudah dipahami, apoteker dapat memberdayakan lansia untuk mengambil keputusan yang lebih baik terkait kesehatan mereka.
Implementasi Pembelajaran Bahasa dengan Metode Mind Mapping dan Tpack (Technological Pedagogical Content Knowledge) Pada Siswa SMA Nu Gombengsari Kalipuro Banyuwangi Khoiruman, Muhamad Alfi; Irawan, Doni Hadi; Istiari, Nina Ruly
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/4bqk8521

Abstract

Kebutuhan akan inovasi metode pembelajaran bahasa yang mampu meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan retensi siswa, terutama di tengah tantangan pembelajaran konvensional dan keterbatasan fasilitas teknologi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, serta analisis produk belajar siswa (hasil Mind Mapping). Tujuan kegiatan ini untuk mengimplementasikan dan mengevaluasi efektivitas metode Mind Mapping yang terintegrasi dengan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) dalam pembelajaran bahasa pada siswa SMA NU Gombengsari Kalipuro Banyuwangi. Hasil menunjukkan bahwa pada tahap awal, siswa mengalami sedikit kesulitan adaptasi terhadap Mind Mapping, namun setelah bimbingan dan praktik berulang, mereka mampu memanfaatkan metode ini secara efektif untuk memvisualisasikan dan mengorganisasi materi, seperti terlihat dari peningkatan pemahaman konsep dan retensi kosakata. Integrasi TPACK juga berjalan baik; meskipun fasilitas teknologi terbatas, guru menunjukkan inisiatif tinggi dalam menggunakan proyektor dan aplikasi sederhana untuk memperkaya penyampaian materi, yang membuat pembelajaran lebih menarik dan interaktif. Respons siswa secara umum sangat positif dan antusias, mereka merasa pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, mudah dipahami, dan relevan. Simpulannya, implementasi kombinasi metode Mind Mapping dan TPACK berhasil menciptakan lingkungan belajar bahasa yang lebih dinamis dan efektif, dengan potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah tersebut, meskipun perlu peningkatan dukungan infrastruktur teknologi di masa mendatang.
Sosialisasi Keamanan Pangan: Mengenal Kandungan Zat Kimia Berbahaya pada Jajanan di Sekolah Dasar Pahlawan Tuanku Tambusai Febria, Dessyka; Syafriani, Syafriani; Afiah, Afiah; Lestari, Rizki Rahmawati; Hardianti, Sri; Ananda, Lusi Septia; Wulandari, Amelia
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/dgm00m35

Abstract

Kebiasaan jajan pada anak sekolah dasar seperti dua sisi mata uang. Baik dan buruknya berjalan beriringan karena banyak kandungan zat kimia yang digunakan bertentangan dengan tubuh seperti boraks, formalin, MSG dan masih banyak zat-zat yang lain. Dilain sisi, jajanan ini diperlukan sebagai makanan tambahan anak. Keterampilan anak dalam memilih jajanan di sekolah merupakan faktor kritis untuk mendapatkan makanan yang sesuai kebutuhan dan memenuhi syarat Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa kelas 2,3 dan 4 di Sekolah Dasar Pahlawan Tuanku Tambusai mengenai kandungan zat kimia pada jajanan serta efektivitas edukasi dalam meningkatkan kesadaran mereka. Metode yang digunakan adalah observasi perilaku konsumsi jajanan dan penyuluhan edukasi keamanan pangan kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum edukasi, pengetahuan siswa mengenai zat kimia berbahaya masih rendah. Setelah dilakukan penyuluhan, terjadi peningkatan kesadaran dan pemahaman siswa dalam memilih jajanan yang lebih sehat dan aman. Sekolah juga telah menerapkan kebijakan pembatasan jenis jajanan yang dijual untuk mengurangi risiko paparan zat kimia berbahaya. Kesimpulannya, edukasi keamanan pangan sangat diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa dalam memilih jajanan yang aman, serta mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang sehat dan bebas dari jajanan berbahayaKata kunci: edukasi, makanan jajanan, zat kimia
Training on The Use of Telang Flowers as Food Coloring for Women Who Sell Traditional Foods in Kotagede Setyawati , Herni; Alfakihuddin , Muhammad Lukman Baihaqi; Nurhidayati; Heriani; Hidayani , Wuri Ratna; Oktavera , Rini; Maulidiana , Lina; Diawati , Prety; Nurhayati , Siti; Nirawati , Resy
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/9mypw495

Abstract

This community engagement project aimed to empower ten traditional food vendors in Kotagede, Yogyakarta, by training them to utilize butterfly pea (Clitoria ternatea) flowers as natural food coloring. Employing a participatory approach, the training covered health risks of synthetic dyes, the benefits and cultivation of butterfly pea plants, natural dye extraction techniques, and basic product branding. Data were collected through pre- and post-tests, observation, and semi-structured interviews. Results showed a significant increase in participants’ knowledge and practical skills, with post-test scores rising across all indicators. Most participants successfully applied the extract in traditional dishes and reported improved consumer interest due to the natural and visually appealing color. Some began cultivating the plants and branding their products with natural labels. Despite minor challenges regarding shelf life and packaging, the training effectively promoted innovation, health awareness, and entrepreneurship among women food vendors. This program highlights the potential of locally sourced natural ingredients in supporting sustainable, health-conscious food businesses.
Pelatihan Budidaya Jamur Keberuntungan Abadi (JAKABA) Sebagai Pupuk Tanaman di Sekolah Dasar Dharta , Firdaus Yuni; Khalik , Suhartini; Lukma , Hazairin Nikmatul; Khairas , Eri Ester; Widarwati , Estu; Nurhayati , Siti; Wardani , Riastuti Kusuma; Nurdiansyah , Nana Meily; Sari , Ika Purnama
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/3y8jxw44

Abstract

This community service project aimed to educate elementary school students on sustainable agriculture through hands-on training in cultivating oyster mushrooms (Pleurotus ostreatus) using JAKABA—a fermented mixture of coconut water and banana stem—as an organic growing medium and fertilizer. The training involved 15 students from grades 4 and 5 at Budi Mulya Elementary School and was conducted over two weeks using participatory and experiential learning methods. Results from pre- and post-training assessments indicated a significant increase in students’ knowledge about organic waste utilization, mushroom cultivation, and the benefits of JAKABA. The students showed high engagement and enthusiasm, with over 90% expressing interest in continuing the practice at home. Mushroom growth success reached 90%, demonstrating the effectiveness of JAKABA as a sustainable medium.The program successfully integrated environmental awareness, scientific learning, and life skills education. It also promoted character development and entrepreneurship among young learners. This initiative serves as a replicable model for environmentally-based learning in elementary education.
Training in Making Tempeh in Character Molds to Increase Elementary School Students' Interest in Consuming Tempeh As’ad , Ihwana; Martriwati; Nugraha, Satriya; Muljo , Ariyani; Sari , Ika Purnama; Dhania , Hanrezi; Mose, Yuliana; Setiawan , Zunan; Jasiah; Kushayati, Nuris
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/xtyfkb47

Abstract

Tempeh, a traditional Indonesian fermented soybean product, is highly nutritious but under-consumed by children due to its bland appearance and unfamiliar texture. This community service program aimed to enhance elementary school students’ interest in consuming tempeh through a participatory training that introduced character molds into the tempeh-making process. Conducted with 20 students aged 9–11 years, the intervention employed a pretest-posttest design to assess changes in tempeh preferences, knowledge, and willingness to consume and prepare tempeh. Results indicated significant improvements across all indicators: students’ liking of tempeh increased from 35% to 85%, their perception of its visual appeal rose from 25% to 90%, and willingness to try character-shaped tempeh reached 95%. The program not only improved students’ understanding of tempeh’s nutritional benefits but also engaged them in creative, hands-on food preparation that enhanced motivation and enjoyment. The findings support the use of experiential learning and visual food design in child nutrition education. This initiative effectively combined cultural food preservation with innovative teaching strategies. It demonstrates that integrating fun and creativity into traditional food education can promote healthier eating habits and strengthen local food identity among young learners. Future programs should consider scaling up and incorporating family and school-level involvement to achieve a broader and more sustainable impact.
Strengthening the Role of PKK Members in Maintaining Family Health in Jomblangan Village Setiawati, Ai Sumirah; Ciptaningtyas, Ratri; Setyawati, Sri Panca; Sari, Kurnia Indriyanti Purnama; Maulidiana, Lina; Pakaya, Marina; Hanum, Lathifah; Sugiharto, Bambang; Ninsiana, Widhiya; Yulianingsih, Lilik
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/mtvz8z78

Abstract

The role of PKK members is crucial in promoting health at the family and community levels in Indonesia. This community service project aimed to strengthen the role of 17 PKK members in Jomblangan Village through structured health education and empowerment training. Utilizing a participatory action approach, the program focused on five thematic areas: balanced nutrition, stunting prevention, hygiene and sanitation, maternal and child health, and home-based first aid. Data were collected through pre- and post-tests, observation, and focus group discussions. The average knowledge score increased by 29%, and participants demonstrated behavioral changes such as improved dietary practices, regular growth monitoring, and proper hygiene habits. Qualitative data also revealed enhanced motivation and willingness to share knowledge within the community. The findings confirm that PKK members, when equipped with appropriate knowledge and skills, can become effective grassroots health promoters. The program proved effective, acceptable, and replicable, providing a scalable model for similar communities. Continuous mentoring and digital engagement are recommended for long-term sustainability.
Training on the Utilization of Green Grass Jelly For Food and Beverage Ingredients: Participatory Training-Based Intervention Sutiharni, Sutiharni; Handayani, Dewi; Indriyani, Indriyani; Umar, Najirah; Apriyanto, Mulono; Indriyati, Citra; Anitasar, Bestfy; Lubis, Siti Rahmah Hidayatullah; Handoko, Lukman
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/8z0kh213

Abstract

This community service program aimed to empower local communities by enhancing their knowledge and skills in utilizing green grass jelly (Cyclea barbata Miers) as an alternative ingredient for healthy food and beverage products. Conducted over three days, the training involved 12 participants with diverse backgrounds, including homemakers, youth, and micro-entrepreneurs. The program adopted a participatory training approach that combined theoretical knowledge with hands-on practice, including plant identification, jelly extraction techniques, hygiene practices, and product innovation. Pre- and post-training assessments revealed significant improvement in participants’ understanding and abilities. Initially, only 25% of participants were familiar with the plant's benefits and usage. After the training, 100% of participants demonstrated comprehension of the nutritional value and processing methods, and 75% successfully created product variants such as fruit-infused jelly drinks and herbal puddings. The training encouraged creativity and showed the potential of green grass jelly as a sustainable, low-cost, and health-promoting ingredient suitable for micro-entrepreneurial ventures. The program concluded that community-based food innovation training can serve as an effective model for promoting local resources, enhancing food security, and developing rural economies. It also emphasized the importance of combining traditional knowledge with modern food processing techniques to generate added value and marketable products.
Penyegaran Work Ethic Skill of Student (WESS) Dukungan Kualitas Lulusan SMKN 1 Tarakan Berkarir di Kihi Kaltara Sovayunanto, Riski; Rahmi, Siti; Suprianto, Suprianto
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/0y6gct37

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan kerja siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melalui penguatan etos kerja dalam menyongsong pembangunan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Kalimantan Utara. Program bertajuk Work Ethic Skill of Students (WESS) dilaksanakan selama delapan hari dengan melibatkan siswa kelas XI SMKN 1 Tarakan sebagai peserta. Pendekatan yang digunakan adalah student-centered learning berbasis partisipatif yang mengintegrasikan metode diskusi, simulasi, refleksi diri, permainan edukatif, dan konseling. Materi kegiatan difokuskan pada sembilan aspek etos kerja, yaitu motivasi, inisiatif, kerjasama, kontrol diri, komitmen, stabilitas emosi, hubungan interpersonal positif, disiplin kerja, dan ketahanan kerja. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, serta observasi dan refleksi peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman dan sikap siswa terhadap nilai-nilai etos kerja. Sesi reflektif seperti “Siapa Aku di Masa Depan”, “Simulasi Masa Depan”, dan “Konseling KIPAS” memperkuat kesadaran diri siswa terhadap pentingnya membangun karakter yang siap menghadapi dunia kerja. Selain berdampak pada siswa, kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari guru bimbingan konseling dan mitra industri karena dinilai kontekstual dan relevan dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini. Dengan demikian, program WESS menjadi model penguatan karakter yang dapat direplikasi di sekolah lain sebagai upaya kolaboratif antara pendidikan dan dunia industri dalam membangun sumber daya manusia unggul di wilayah strategis seperti Kalimantan Utara.

Page 2 of 11 | Total Record : 106