Claim Missing Document
Check
Articles

Gambaran Epidemiologi Pasien Stroke Dewasa Muda yang Dirawat di Bangsal Neurologi RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung Periode 20112016 Syifa, Nadia; Amalia, Lisda; Bisri, Dewi Yulianti
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.975 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i3.50

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Kerugian akibat stroke lebih berat pada penderita yang berusia lebih muda dibandingkan usia tua. Insidensi stroke dewasa muda terus meningkat di berbagai negara. Pencegahan yang tepat dapat dilakukan dengan melakukan studi epidemiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi pasien stroke dewasa muda.Subjek dan Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan metode deskriptif. Data yang digunakan adalah resume rekam medis pasien stroke yang dirawat di bangsal neurologi Rumah Sakit Dr.Hasan Sadikin(RSHS) Bandung tahun 20112016. Data kemudian diklasifikasikan berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, tipe stroke, demografi, dan faktor risiko.Hasil: Sampel yang didapatkan sejumlah 450 buah. Jumlah kasus stroke terbanyak berada pada kelompok umur 4245 tahun (45,11%). Kejadian stroke iskemik (50,44%) lebih tinggi dibandingkan kejadian stroke perdarahan (49,56%). Kejadian pada perempuan (56,66%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (43,34%). Pendidikan terakhir penderita paling banyak adalah SMA (32,89%). Kelompok pekerjaan terbanyak adalah kelompok tidak bekerja (56,22%). Faktor risiko terbanyak adalah hipertensi (42,06%). Simpulan: Kejadian stroke dewasa muda di RSHS paling banyak terjadi pada kelompok usia 42-45 tahun, tipe stroke iskemik, jenis kelamin perempuan, pendidikan terakhir SMA, tidak bekerja, dan faktor risiko tertinggi adalah hipertensi.Epidemiological Picture of Young Adult Stroke Patients treated in Neurology Ward of RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung 20112016 PeriodBackground and Objectives: The stroke loss is higher in younger patients compared to the older patients. Stroke incidence is increasing year by year. Epidemiological study can be used as the basis of prevention and reduction of young adult stroke incidence. This study aims to determine the epidemiological picture of young adult stroke patientsSubjects and Method: This study is a quantitative study using descriptive method. The datas were taken from the resume of medical records of patients that are diagnosed as stroke and treated in the neurology ward Dr.Hasan Sadikin Hospital(RSHS) in 2011 - 2016. All samples were taken then classified by its age group, sex, stroke type, demographical characteristic and risk factor. Result: 452 samples were obtained. The highest number of cases are found in the 42-45 year old group (45,11%). Ischemic stroke (50,44%) cases are higher compared to the hemorrhagic stroke (49,56%). Stroke cases in women (56,66%) is higher than in men (43,34%). Most of the patients last education is high school (32,89%). Most of the patients who have stroke are unemployed (56,22%). The most risk factor is hypertension (42,06%). Conclusion: Stroke cases in RSHS happen to be higher in older age group, ischemic stroke type, women, high school as the last education, unemployment and the highest risk factor is hypertension.
Efek Proteksi Otak Erythropoietin Fuadi, Iwan; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2678.354 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol4i2.109

Abstract

Eritropoietin (EPO) adalah hormon ginjal yang berfungsi mempertahankan jumlah eritrosit. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa EPO adalah molekul multifungsi yang dihasilkan dan digunakan oleh berbagai jaringan. Selain eritropoiesis. EPO juga terlibat pada respon biologis kerusakan jaringan akut dan subakut. Eritropoietin tidak hanya berperan dalam eritropoiesis tetapi juga memiliki efek proteksi otak dengan merangsang protein of repair, mengurangi eksitotoksisitas neuron, mengurangi inflamasi, menghambat apoptosis neuron dan merangsang neurogenesis dan angiogenesis pada penelitian eksperimental cedera iskemia, hipoksia dan cedera toksik. EPO juga memperbaiki outcome neurologik dan fungsi mental. Ditemukannnya EPO dan reseptor EPO (EPOR) di organ-organ dan jaringan non eritroid menunjukkan EPO mempunyai fungsi yang lain. Produksi ekstrarenal dari EPO ditemukan pada binatang pengerat dewasa dan pada manusia dengan severely anemic anephric masih ditemukan kadar EPO walau sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi sintesa ekstrarenal dari EPO. Berbagai jenis sel pada sistem saraf pusat memproduksi EPO dan mengkespresikan EPOR. Mekanisme kerja EPO dapat mempengaruhi berbagai langkah dalam kaskade kematian sel. EPO dapat mencegah kematian sel neuron eksitotoksik yang diakibatkan oleh berbagai reseptor glutamat agonis juga melindungi sel neuron dari toksisitas yang diakibatkan oleh kainate, NMDA dan AMPA. EPO dapat melawan efek sitotoksik dari glutamat, meningkatkan ekspresi enzim-enzim antioksidan, mengurangi pembentukan radikal bebas, memperbaiki aliran darah serebral, mempengaruhi pelepasan neurotransmiter, dan meningkatkan angiogenesis. EPO tidak hanya berfungsi dalam proses eritropoiesis tetapi juga mempunyai efek protektor otak. Jalur proteksi otak dari EPO memang masih belum jelas tetapi penelitian-penelitian menunjukkan terdapat perbaikan dari otak baik secara klinis maupun laboratoris setelah pemberian EPO.Brain Protection Effect of ErythropoietinErythropoietin (EPO) has been viewed solely as a renal hormone with a specialized role in maintaining adequate numbers of erythrocytes. However, recent studies have revealed that EPO is a multifunctional molecule produced and utilized by many tissues. In addition to erythropoiesis, EPOs other key roles involve the acute and sub acute biological responses to tissue damage. Studies showed that EPO stimulates proteins of repair, diminishes neuronal excitotoxicity, reduces inflammation, inhibit neuronal apoptosis and stimulates both neurogenesis and angiogenesis. EPO also improved neurological outcomes and mental function. The discovery of EPO and EPOR (erythropoietin receptor) in many non-erythroid organs and tissues suggested that EPO has other roles. Extrarenal production of EPO found in adult rodents and in humans. Different cell types in the nervous system produce EPO and express EPOR. EPO mechanism influence every step in cascade of neuronal cell death. EPO prevents excitotoxic neuronal cell death caused by glutamate receptor agonists that protect neuron from toxicity from kainate, NMDA and AMPA. EPO can resist cytotoxic effect of glutamate, increased antioxidant enzymes expression, reduce free radical formation, repair cerebral blood flow, influence release of neurotransmitter dan angiogenesis. EPO function not only in erythropoiesis but also in brain protection. The brain protection pathway of EPO remains unclear but clinical and laboratory studies showed that good result.
Penatalaksanaan Anestesia pada Pasien Cretin dengan Hipopituitarisme Sekunder Akibat Kraniofaringioma Rahardjo, Theresia Monica; Fuadi, Iwan; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.422 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i3.177

Abstract

Kraniofaringioma adalah tumor sela dan parasela, yang merupakan 6-10% tumor otak pada anak-anak. Gejala umum merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial, seperti sakit kepala, muntah dan gangguan penglihatan. Disfungsi endokrin yang nyata merupakan gambaran umum kraniofaringioma akibat lokasi tumor terhadap kelenjar hipotalamus dan pituitari. Fisik pendek ditemukan pada 50-86% pasien dengan laju pertumbuhan subnormal dan pubertas yang terlambat. Seorang laki-laki, umur 20 tahun, pasien kretin dengan hipopituitarisme sekunder menjalanicraniotomy tumor removal dan penempatan omaya shunt. Dia memiliki riwayat sakit kepala sejak 13 tahun yang lalu disertai dengan gangguan penglihatan yang dimulai dari mata kiri dan saat ini dia buta. Dia juga menderita kegagalan pertumbuhan dan pubertas yang terhambat, memiliki fisik seorang anak laki-laki, dengan tinggi badan 140 cm dan berat badan 40 kg. Dia memiliki TSHs yang meningkat dengan T3 dan fT4 yang normal, LH dan FSH yang menurun, prolaktin yang normal, hormon pertumbuhan yang normal rendah dan kortisol yang menurun. Teknik anestesia yang digunakan adalah anestesia umum. Induksi dengan fentanyl, pentotal, lidocaine dan vecuronium dengan kombinasi N2O/O2 dan isoflurane. Rumatan anestesi dengan isoflurane dan kombinasi O2/udara. Pernapasan pasien dikontrol dengan dosis inkremental vecuronium untuk mempertahankan relaksasi. Mannitol dan furosemide diberikan untuk menurunkan tekanan intrakranial. Operasi berlangsung selama 5 jam. Setelah 5 hari di ICU, pasien dapat kembali keruangannya di Kemuning. Masalah pasien ini adalah peningkatan tekanan intrakranial, disfungsi endokrin dan kemungkinan kesulitan jalan napas akibat bentuk tubuh yang kecil. Kortikosteroid sebagai terapi penggantian hormonal diberikan sebelum operasi. Dosis obat anestesi disesuaikan dengan berat badan. Intubasi menggunakan laryngoscope blade dan endotracheal tube dengan ukuran lebih kecil. Selama operasi dihindari pemakaian nitrous oxide, digunakan konsentrasi rendah anestesi inhalasi dan penggunaan dominan anestesi intravena. Pemantauan post operatif dilakukan di ICU dengan memperhatikan kemungkinan komplikasi hormonal seperti diabetes insipidus dan hiponatremia selain pengelolaan nyeri post operatif. Pasien dengan penyakit pituitari, dalam kasus ini kraniofaringioma, disertai dengan disfungsi endokrin dan pertumbuhan abnormal, membutuhkan penatalaksanaan preoperatif, intraoperatif dan postoperatif yang sangat teliti. Kerjasama yang baik antara bagian anestesi, bedah dan endokrinologi dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas pada penyakit ini.Anesthesia Management In Cretin Patient With Hypopitutarism Secondary Of CraniopharyngiomaCraniopharyngioma is a sellar and parasellar tumor, which accounts to 6-10% of childhood brain tumors. Common symptoms are signs of increase intracranial pressure, like headache, vomiting and visual dysfunction. A significant endocrine dysfunction is an usual feature of craniopharyngioma due to the proximity of the tumor to hypothalamus and pituitary gland. Short statue found in 50-86% patient with subnormal growth rates and delayed puberty. A male, 20 yrs cretin patient with hypopituitarism secondary of craniopharyngioma had a craniotomy tumor removal and placement of omaya shunt. He had a history of headache since 13 yrs ago accompanied by visual disturbance, started from his left eye, now he is totally blind. He also suffered from growth failure and delayed puberty, has a physic of a boy regardless his age as 20 yrs old adult, with height 140 cm and weight 40 kg. He has an elevated TSHs but normal T3 and fT4, a decreased LH and FSH, a normal prolactin, a normal but low growth hormon and a decreased cortisol. Anesthetic technique used was general anesthesia. Induction was done with fentanyl, pentotal, lidocaine and vecuronium with a mixture of N2O/O2 and isoflurane. Anesthesia was maintained with isoflurane and a mixture of O2/air. Patient was in controlled breathing with an incremental dose of vecuronium to maintaine the relaxation. Mannitol and furosemide were given to reduce intracranial pressure. The procedure took about 5 hours. After 5 days ICU stayed, the patient was referred back to his room at Kemuning. The problems in this patient are a raised of intracranial pressure, an endocrine dysfunction and a possibility of airway difficulty related to his short statue. Corticosteroid as hormone replacement therapy was given before the operation. Based on his short statue, induction dose of anesthetic agents were adjusted and smaller laryngoscope blade and endotracheal tube were used for intubation. Avoidance of nitrous oxide, low concentration of volatile agent and dominant used of intravenous anesthetic agent were applied during the operation. Post operative monitoring was done in ICU with specific concern of hormone complications like diabetes insipidus and hyponatremia beside post operative pain control. Patient with pituitary disease, in this case craniopharyngioma, accompanied by endocrine dysfunction and abnormal growth, need a very careful treatment from preoperative, intraoperative to postoperative period. A good management and cooperation between anesthesiologist, surgeon and endocrinologist can reduce the morbidity and mortality in this kind of disease.
Gambaran Faktor Risiko Kejadian Stroke di RSHS Bandung Periode Januari 2015 Desember 2016 ; Amalia, Lisda; Suwarman, S
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.553 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol7i3.18

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Stroke merupakan masalah kesehatan di dunia yang menjadi penyebab kematian kedua tertinggi. Epidemiologi pasien stroke berdasarkan faktor risikonya masih sangat bervariasi dan belum ada data yang melaporkan di Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor risiko kejadian stroke. Subjek dan Metode: Penelitian ini menggunakan studi desain deskriptif dengan rancangan potong lintang. Data diambil secara retrospektif dengan metode total sampling dari rekam medis pasien stroke di bangsal neurologi RSUP Dr. Hasan Sadikin periode Januari 2015Desember 2016 yang memenuhi kriteri inklusi dan eksklusi.Hasil: Didapatkan 1044 subjek terdiri dari 486 laki-laki dan 558 perempuan. Kelompok usia 55-64 tahun (33,3%), pendidikan tamat SD (45,3%), dan tidak bekerja (56,4%) merupakan prevalensi tertinggi dari subjek yang diteliti. Stroke iskemik memiliki prevalensi lebih tinggi dibandingkan stroke perdarahan dengan lokasi sistem karotis lebih tinggi (89,6%) dibandingkan sistem vertebrobasilar (10,4%). Faktor risiko tertinggi yaitu hipertensi. Simpulan: Insidensi pasien stroke lebih tinggi terjadi pada wanita, kelompok usia tua, pendidikan rendah, dan tidak bekerja. Kasus pasien stroke iskemik lebih sering terjadi dibandingkan dengan stroke perdarahan dengan lokasi sistem karotis lebih banyak dibandingkan sistem vertebrobasilar. Hipertensi merupakan faktor risiko paling sering mengakibatkan stroke.Profile of Stroke Risk Factors in Hasan Sadikin General Hospital Bandung During January 2015December 2016Background and Objective: Stroke is an important health issue causing the second most death worldwide. Epidemiology of stroke patients based on risk factors is highly variable without data to report regarding risk factors of stroke in West Java. Aim of this study is to find out profile of stroke risk factor.Subject and Method: This study is a descriptive study with cross section design. Data acquired retrospectively with total sampling method from medical records of stroke patients in Hasan Sadikin General Hospital from January 2015December 2016 that fulfills inclusion criteria and exclusion criteria.Result: Obtained 1044 subjects consisted of 486 males and 558 females. Subjects with age 5564 years old (33.3%), elementary school graduate (45.3%), and no occupation (56.4%) were the highest prevalence of studied subject. Ischaemic stroke had higher prevalence than haemorrhagic stroke with carotid system (89.6%) higher than vertebrobasilar (10.4%). Highest risk factor were hypertension. Conclusion: Incidence of stroke patients are higher in women, older age group, low education, and no occupation. Ischaemic stroke case patients were found more often than haemorrhagic stroke with carotid system more than vertebrobasilar system. Hypertension is the most common risk factor causing stroke.
Blokade Peribulbar dengan Adjuvan Fentanil: Efek Hemodinamik dan Analgetik pada Vitrektomi Yadi, Dedi Fitri; Nadya, Siti Fairuz; Halimi, Radian Ahmad; Tavianto, Doddy; Pradian, Erwin; Fuadi, Iwan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v13n2.4413

Abstract

Operasi vitrektomi membutuhkan analgesia adekuat dan stabilitas hemodinamik, terutama pada pasien usia lanjut dengan komorbiditas. Ropivakain adalah anestesi lokal yang umum digunakan untuk blokade peribulbar, namun kualitas bloknya dapat ditingkatkan dengan penambahan opioid seperti fentanil. Studi ini merupakan penelitian pertama yang membandingkan efektivitas ropivakain 0,75% dengan kombinasi ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/mL pada tekanan darah dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi. Desain penelitian ini adalah single blind randomized controlled trial yang melibatkan 54 pasien yang menjalani vitrektomi. Penelitian dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri 27 pasien: kelompok R yang menerima ropivakain 0,75% dan kelompok RF yang menerima ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/ml. Tekanan darah sistolik, diastolik, MAP, serta kualitas analgesia (NRS) diukur pada tiga waktu yaitu sebelum, selama dan setelah operasi. Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan, Mann Whitney dan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dalam perubahan tekanan darah sistolik, diastolik, dan MAP antara kedua kelompok (p>0,05). Kualitas analgesia yang dinilai menggunakan NRS juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p>0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah kombinasi ropivakain 0,75 % dan fentanil 3 mcg/ml memberikan hasil yang sebanding dengan ropivakain 0,75 % saja dalam hal stabilitas hemodinamik dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi.
Manajemen Anestesi pada Pasien Sindroma Kauda Equina e.c. SOL Ekstrameduler Intradural dengan Kehamilan Mayasari, Ferra; R, Tubagus Yuli; Fuadi, Iwan
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2337.469 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol3i1.133

Abstract

Manajemen anestesi untuk pasien hamil untuk operasi non-obstetrik jarang dilakukan, dan menimbulkan sejumlah tantangan bagi spesialis anestesiologi karena manajemen anestesi harus mempertimbangkan kehidupan ibu dan janin. Pertimbangan anestesi untuk wanita hamil dengan operasi non obstetri meliputi perubahan kardiovaskular dan hematologi, sistem respiratori, sistem gastrointestinal, dan sistem saraf pusat serta perifer serta pada kasus ini adalah posisi yang ekstrim. Seorang wanita berusia 26 tahun dengan sindroma kauda equina e.c. SOL ekstramedula intradural dengan G3P2A0 gravida 25?26 minggu yang dilakukan tindakan laminektomi pengangkatan tumor dalam anestesi umum dengan posisi miring kekiri. Operasi dapat dilaksanakan tanpa adanya komplikasi, pascaoperasi baik ibu maupun janin dalam keadaan sehat. Keberhasilan manajemen anestesi pada operasi non-obstetrik selama kehamilan tergantung kepada kerjasama multidisiplin, penilaian preoperatif yang komprehensif, perhatian terhadap fisiologi maternal dan fetus, serta perawatan suportif periode postoperatif. Mempertahankan stabilitas maternal, waktu optimal melakukan tindakan, dan pemilihan obat serta teknik anestesi yang tepat merupakan hal yang sangat penting diperhatikan untuk keamanan ibu dan fetus.Anesthesia Management of Pregnant Patient with Cauda Equine Syndrome e.c. Extramedulary Intradural SOLAnesthesia management for non-obstetric surgery during pregnancy is relatively uncommon and challenges the anesthesiologist since anesthesia management must consider both mother and fetal safety. Anesthesia management for non-obstetric pregnant women is considered covering difference in cardiovascular and hematologic changes, respiratory system, gastrointestinal system, central nervous system and peripheral nervous system, and in this case extreme position for operation. For this case, a 26 year old woman with Cauda Equina Syndrome e.c. Extramedullary Intradural SOL with G3P2A0 25?26 weeks pregnancy underwent Laminectomy for Tumor Removal under general anesthesia. The surgery was preceded without any complication, both mother and fetal recovered uneventfully. The successful of anesthesia management for non-obstetric surgery during pregnancy depends on multidisciplines coordination, comprehensive preoperative management, careful monitoring on maternal and fetal physiology, and supportive postoperative care. Maintaining maternal stability, determination of the optimal time for surgery, and selection of proper medication and anesthesia technique are the most important things to be considered for mother and fetal safety.
Korelasi antara Rentang Waktu Cedera Otak Traumatik dengan Dimulainya Terapi Pembedahan Kraniotomi terhadap Kejadian dan Beratnya Post Traumatic Headache (PTH) Halimi, Radian Ahmad; Fuadi, Iwan; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2211.563 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol3i3.143

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Keluhan nyeri kepala setelah terjadinya Cedera Otak Traumatik (COT) dikenal sebagai Post Traumatic Headache (PTH) yang dapat terjadi setelah cedera kepala ringan, sedang, atau berat. Tujuan penelitian ini adalah mencari apakah ada korelasi antara rentang waktu kejadian COT hingga dilakukannya terapi pembedahan kraniotomi terhadap angka kejadian dan beratnya PTH. Subjek dan Metode: Penelitian observasional kohort prospektif pada 33 orang pasien COT derajat ringan atau sedang dengan pengambilan data secara consequetif sampling. Parameter yang dicatat dalam penelitian ini antara lain usia, jenis kelamin, berat badan, GCS, rentang waktu dari kejadian COT hingga dilakukannya terapi pembedahan kraniotomi, angka kejadian PTH, derajat berat nyeri dengan menggunakan sistem penilaian Numeric Rating Scale (NRS). Analisis korelasi linear dua variabel dihitung berdasarkan analisis korelasi Spearman. Hubungan korelasi bermakna bila koefisien korelasi (R) 0,4 dan nilai p0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara rentang waktu terhadap kejadian PTH (r = 0,75) dengan korelasi searah dan bermakna (p0,05). Terdapat korelasi yang kuat antara rentang waktu terhadap derajat beratnya PTH (r = 0,82) dengan korelasi searah dan bermakna (p0,05). Simpulan: semakin lama rentang waktu dari kejadian COT hingga dilakukannya terapi pembedahan kraniotomi maka akan semakin banyak angka kejadian dan semakin berat PTH.The Correlation between The Interval of Traumatic Brain Injury with Craniotomy Surgery Start on The Incidence and Severity of Post Traumatic Headache (PTH)Background and Objective: Complaints of headache in the aftermath of Traumatic Brain Injury (TBI) is known as Post Traumatic Headache (PTH), which can occur after mild, moderate, or severe head injury. The purpose of this study is to find a correlation between the time span from the TBI events until the craniotomy surgical therapy was performed with the incidence and severity of PTH.Subject and Method: Prospective observational cohort study in 33 patients with mild or moderate TBI with data retrieval consequetif sampling. The parameters recorded in this study including age, gender, weight, GCS, time interval between the events of TBI until the craniotomy surgical therapy was performed, the incidence of PTH, severity of pain using NRS score. Analysis of linear correlation of two variables calculated by Spearman correlation analysis. Significant correlation when the correlation coefficient (R) 0.4 and p 0.05.Result: The results showed a strong correlation between the interval of the incidence with the incidence of PTH (r = 0.75) with unidirectional and significant correlation (p 0.05). There is a strong correlation between the time span from TBI events until the craniotomy surgical therapy with the severity of PTH (r = 0.82) with unidirectional and significant correlation ( p 0.05).Conclusions: the longer of interval between the TBI events to craniotomy surgical treatment, the more of the incidence and severity of PTH.
Komplikasi Autonomic Dysreflexia Pasca Cedera Medula Spinalis Rahmatisa, Dimas; Fuadi, Iwan; Sudadi, Sudadi
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2754.074 KB) | DOI: 10.24244/jni.v8i3.234

Abstract

Cedera medula spinalis merupakan kejadian yang sering dijumpai di Amerika Serikat, dengan biaya perawatan kesehatan seumur hidup yang tinggi berdasarkan tingkat kecacatan fungsional. Permasalahan yang timbul dapat berupa masalah psikologis, fisik, dan sosial, yang dapat menghabiskan biaya yang sangat besar. Tatalaksana kasus cedera medula spinalis terus menjadi tantangan pada tiap fase perawatan, mulai dari awal terjadinya cedera, hingga perawatan dan pemulihan pasca tindakan operasi, karena angka masuk ulang ke rumah sakit pasca perawatan tetap tinggi. Salah satu komplikasi cedera medula spinalis adalah adanya perubahan sistem saraf autonom dapat terjadi akibat kerusakan pada kontrol simpatis sehingga menyebabkan komplikasi yang dikenal sebagai autonomic dysreflexia (AD), yang muncul selama fase pemulihan. Manifestasinya dapat berupa hipertensi berat dengan bradikardia paradoks, kemerahan kulit, dan sakit kepala, penyakit ini dapat menyebabkan kecacatan jangka panjang dan gangguan kardiovaskular. Terapi untuk pasien dengan AD umumnya bertujuan untuk pemulihan gejala dengan cepat hal ini sangat penting karena karena dapat terjadi komplikasi parah yang mengancam jiwa bila gejala yang ada tidak ditangani dengan segera. Pencegahan yang tepat, pengenalan dini, dan manajemen akut adalah faktor penting dalam tatalaksana AD.Autonomic Dyreflexia Complication after Spinal Cord InjuryAbstractSpinal cord injury is a common occurrence in the United States, with high lifetime health care costs based on the level of functional disability. Problems that arise can be psychological, physical, and social problems, which can cost a lot of money. Management of spinal cord injuries continues to be a challenge in each phase of treatment, from the beginning of the injury, to treatment and recovery after surgery, because the rate of re-entry to the post-treatment hospital remains high. One complication of spinal cord injury is the presence of autonomic nervous system changes that can occur due to damage to sympathetic control resulting in complications known as autonomic dysreflexia (AD), which appears during the recovery phase. The manifestation can be life-threatening hypertension with paradoxical bradycardia, flushing, and headache, this disease can cause further long-term disability and cardiovascular disorders. Therapy for patients with AD generally aims to recover symptoms quickly this is very important because because there can be severe life-threatening complications if the symptoms are not treated immediately. Proper prevention, early recognition, and acute management are important factors in the maangement of AD.
Tatalaksana Anestesi pada Bedah Minimal Invasif Deep Brain Stimulation (DBS) Fithrah, Bona Akhmad; Fuadi, Iwan; Rahardjo, Sri; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.638 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i2.46

Abstract

Otak adalah organ terpenting dalam tubuh manusia. Pada neuroanestesi otak ini dimanipulasi dengan berbagai obat hingga dapat dilakukan pembedahan pada otak itu sendiri. Saat ini berkembang berbagai prosedur bedah syaraf yang bersifat minimal invasif. Dengan hadirnya pembedahan minimal ini diharapkan keluaran bedah syaraf semakin baik dan komplikasi minimal. Salah satu prosedur bedah minimal invasif adalah Deep Brain stimulation (DBS). Prosedur ini memiliki beberapa hal yang harus dipertimbangkan yang bila tidak diperhatikan maka akan menyulitkan operator dan anestesi sendiri. Hal terpenting dari prosedur ini adalah keakuratan untuk menempatkan electrode pada nuclei yang akan dilakukan stimulasi. Anestesi hadir untuk memfasilitasi prosedur minimal invasif ini. Target anestesi pada bedah syaraf minimal invasif tetap sama yaitu perfusi otak yang adekuat. Dan untuk mencapai perfusi otak yang adekuat ini tetap memerlukan persiapan pasien yang baik. Teknik anestesi yang dilakukan berbeda dengan anestesi rutin bedah syaraf. Tekhnik yang umum dikerjakan saat ini adalah monitored anesthesia care dengan local anesthesia, conscious sedation dan anestesi umum. Setiap tekhnik ini memiliki keuntungan, kerugian, pemilihan obat anestesi dan dapat disesuaikan dengan kondisi rumah sakit. DBS sendiri setelah ditanamkan memiliki standar keamanan tersendiri yang harus dipatuhi agar tetap bekerja dengan baik. DBS saat ini dapat ditawarkan sebagai terapi alternatif bagi pasien parkinson yang gagal dengan terapi medikamentosa.Anesthesia for Minimally Invasive Surgery Deep Brain Stimulation (DBS)Brain is the important part from human body. In neuroanesthesia brain is manipulated so surgery can conduct in the brain itsef. Nowadays there are several minimally invasive neurosurgery procedure. What we expect from the minimally invasive surgery is the outcome will be better and or with minimal complication. One of the minimally invasive procedure is Deep Brain Stimulation (DBS). This procedure have some concern to considered if not would complicate the surgeon and the anesthesiologist. Anesthesia come to facilitate this minimally invasive neurosurgery. The goal of anesthesia attending this minimal invasive procedure still the same with routine neurosurgery. which is to make sure adequate cerebral perfusion pressure. Anesthesia procedure litle bit different with common neurosurgery. Anesthesia procedure that recommend nowadays are monitored anesthesia care with local anesthesia, conscious sedation and general anesthesia. All the procedure have advantages and disadvantages, anesthesia drug chosen and customizing with hospital condition. After implanted DBS has certain procedure to be followed if not would endanger or destroyed the DBS itself. Nowadays DBS can be offered as an alternative therapy for the patients which failed with medical therapy.
Angka Kejadian dan Outcome Cedera Otak di RS. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2008-2010 Zamzami, Nyiemas Moya; Fuadi, Iwan; Nawawi, A. Muthalib
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.136 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol2i2.167

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Cedera otak traumatik (COT) merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia terutama negara berkembang dengan angka kematian yang tinggi pada dewasa muda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah angka kejadian COT dan karakteristiknya di RS. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.Subjek dan Metode: Penelitian deskriptif retrospektif dengan subyek pasien COT di Instalansi Gawat Darurat RSHS pada tahun 2008-2010. Pengambilan sampel dilakukan memakai data status pasien dan data elektronik catatan medis. Data dicatat dan dikelompokan sesuai dengan variabel karakteristik, outcome, serta dihitung CFR.Hasil: Angka kejadian COT selama 3 tahun di RSHS 3578 kasus, data yang berhasil dicatat sebanyak 2836 kasus, data yang tidak lengkap 483, dan data yang hilang 259, dengan CFR 3,5%. Kejadian COT ringan 1641 kasus, COT sedang 1086 kasus, COT berat 109 kasus. Kejadian pada laki-laki (79,8%) lebih tinggi dibandingkan perempuan (20,2%) dan tertinggi pada 18-45 tahun. Kecelakaan kendaraan roda dua adalah penyebab utama COT pada pasien RSHS. Jumlah terbanyak yang dilakukan operasi adalah fraktur depres dan cedera otak sedang. Interval waktu kedatangan di IGD sampai dimulainya operasi lebih dari 6 jam sebanyak 410 kejadian (60%) dan 273 kejadian (40%) memerlukan waktu operasi kurang dari 6 jam. Outcome pada pasien COT ringan adalah baik yaitu sebesar 94,7%, sedangkan outcome buruk dijumpai pada COT sedang sebesar 5,3%.Simpulan: Insidensi dan mortalitas COT di RSHS masih sangat tinggi dan tertinggi pada laki-laki, terjadi pada kelompok usia remaja sampai dewasa muda. Penyebab utama COT karena kecelakaan kendaraan roda dua dan mayoritas outcome pascaoperasi baik.Incidence and Outcome of Head Injury at Hasan Sadikin Hospital Bandung 2008-2010 Background and Objective: Traumatic brain injury (TBI) is one of the health problems in the world, especially in developing countries with high mortality rates in young adults. The purpose of this study was to determine the amount of TBI incidence and characteristics at Hasan Sadikin Hospital (RSHS) BandungSubject and Method: This research method is descriptive retrospective subject all patients with TBI at the emergency room RSHS in 2008 to 2010. Sampling was conducted using patient status data and electronic data of medical records. Data were recorded and classified in accordance with variable characteristics, outcome and Case Fatality Rate was calculated.Results: The incidence of TBI in 3 years at the RSHS is 3578 cases. Completed data attained were 2836 cases, with incomplete data in 483 cases and missing data in 259 cases with CFR 3.5%. The incidence of mild head injury were 1641 cases, moderate head injury were 1086 cases and 109 cases of severe head injury and CFR 3.5%. Incidence of TBI occurred in men was 79.8% which was higher compared to female 20.2%, with the age group of 18-45 years old was the highest. Majority were motorcycle accidents as the leading cause of TBI, and the most frequent diagnosis was depressed fracture have surgery. The most cases that underwent surgery were patients with moderate TBI. The more than 6 hours interval from emergency admission to surgery were recorded in 419 cases (60%) and 6 hours interval in 273 cases (40%). Good outcome were recorded in the mild TBI 94.7%, but poor outcome were recorded in moderate TBI as many as 5.3%, 90 Jurnal Neuroanestesia IndonesiaConclusion: The incidence and mortality rate of TBI at RSHS was still very high. TBI occured mostly in men and in adolescent to young adult age group. The cause of head trauma was high due to motorcycle accidents, but most of the cases had a good outcome.
Co-Authors - Elvidiansyah - Elvidiansyah A Himendra Wargahadibrata A Himendra Wargahadibrata A. Muthalib Nawawi A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdul Muthalib Nawawi Abdul Muthalib Nawawi Abdul rachman, Iwan Abdul Rahman Adnin Nugroho Adriana Damayanti Afdi Arahim Putra Agnes Rengga Indrati Agus Susanto Agusti Setiabudi Pramata Ahmad Doni ahmad doni Ahmad Rizal ahmad rizal Ahmad Rizal Ahmad Rizal Ahmad Rizal Ganiem Ahmad Rizal Ganiem, Ahmad Rizal Aih Cahyani Aisyah Ummu Fahma Al Rasyid Amanda Diannisa Azzahra Amany Khansa Amaylia Oehadian Aminuyati Anam Ong Anam Ong Ananda Pratama Kesumaningtyas Gunawan Andi Basuki Prima Birawa Andi Basuki Prima Birawa Andi Basuki Prima Birawa Andre Aditya Andre Tanuwijaya, Andre Andy Hutariyus Anindyta Murfia Khairunnisa Ardhana Risworo Anom Yuswono Ardhana Risworo Anom Yuswono Ardi Zulfariansyah Ardi Zulfariansyah Ardi Zulfariansyah Ardiana Ari Saptadi Ari Saptadi Aries Saifudin Ariestian, Erick Army Zaka Anwary, Army Zaka Arna Fransisca Arsy Felisita Dausawati Arsy Felisita Dausawati Arviana Adamantina Putri Asep Nugraha Hermawan Asep Nugraha Hermawan Asep Nugraha Hermawan Asyer Asyer Ayu, Auliya Putri Badriyah, Nur’aini Jamilatul Berliana, Sobaryati Biben, Vitriana Bisri, Tatang https://scholar.google.co.id/citations?u Bramantyo Pamugar Calista, Chandra Cep Juli Chandra Calista Citra Windani Mambang Sari Dedi Fitri Yadi Defri Aryu Dinata Defri Aryu Dinata, Defri Aryu Dessy Sutoyo Dewi Ramadani Dewi Ramadani Dewi Yulianti Bisri Dian Novitasari Doddy Tavianto Dzulfikar D. L. Hakim Eka Damayanti Eko Nofiyanto Eppy Buchori Eppy Buchori Aristiady Eri Surahman Eri Surahman Erick Ariestian Erwin Pradian Eva Srigita Tari Ezra Oktaliansah Fadila Arsanti Fahma, Aisyah Ummu Fauzan Musyaffa Fifi Veronica Firdaus, Riyadh Fithrah, Bona Akhmad Fithrah, Bona Akhmad Fitri Sepviyanti Sumardi Fitri Yanti Gaga Irawan Nugraha Galuh Saputri Ginna Megawati Glenn Mark Togu Gloria Kartika Gunadharma, Suryani Guntur Darmawan Hamzah Hamzah Hanna Goenawan Hanna Goenawan Hansen Wangsa Herman Haqun Baitika Harahap, M Sofyan Harry Galuh Nugraha Hartiah Haroen Hermawan, Asep Nugraha Hidayat, Dede A Hidayat, Faqih Hidayat, Shaffana Hilman Hilman Hunter D. Nainggolan Hunter D. Nainggolan Ida Parwati Ike Sri Redjeki Ike Sri Redjeki Indra Wijaya Indriasari Indriasari Islami, Aditya Iwan Abdul Rachman Jerico Franciscus Pardosi Jimmy Setiadinata Jimmy Setiadinata, Jimmy Jonathan Jeremi Siagian Kartapraja, Roni D. Kartika, Gloria Khairunnisa, Shafa Ayu Khofifah Nurfaisah Lailiyya, Nushrotul Laniyati Hamijoyo, Laniyati Lee Shok Chen Lee Shok Chen, Lee Shok Leni Lismayanti Liunardo Bintang Pratama Lukman Hidayat Lulu Eva Rakhmilla, Lulu Eva M Andy Prihartono M. Erias Erlangga M. Erias Erlangga, M. Erias Maharani, Nurmala Dewi Mariko Gunadi Mariko Gunadi Marina A. Moeliono Marina A. Moeliono, Marina A. Martaria, Nency Martinus, Fardian Martinus, Fardian Maulana Muhammad Maulana Muhammad, Maulana Mayasari, Ferra Mayasari, Ferra Millata Azma Basmala Muhammad Adjie Pratama Muhammad Mustofa Ramadhan Nadya, Siti Fairuz Nandina Oktavia Nani Kurniani Nesyia Tara Restikasari Neti Juniarti Nur Atiik Nurmin, Rahmawati Nurohman Nushrotul Lailiyya Nushrotul Lailiyya Nushrotul Lailiyya Dahlan Oktivia, Wenny Ong, Paulus Anam Pamugar, Bramantyo Pandji Irani Fianza Paranita Utama Paulus Anam Ong Paulus Anam Ong Paulus Anam Ong Pison, Osmond Muvtilof Pramodana, Bintang Prihatno, M. Mukhlis Rudi Putri, Dini Handayani R, Tubagus Yuli R, Tubagus Yuli Radian Ahmad Halimi Rahmadsyah, Teuku Rahmatisa, Dimas Rahordjo, Sri Ramdan Panigoro Reihan Achmad Reza Reza W. Sudjud Ria Bandiara Richard Pahala Sitorus Rico Defryantho,* Lisda Amalia,* Ahmad Rizal,** Suryani Gunadharma,* Siti Aminah,* Nushrotul Lailiyya* Rini Rustini Rita Arsika Fauziah Riyadh Firdaus Rizkia, Fildza Intan Rizky Gimnastiar Roni D. Kartapraja Rudi Kurniadi Kadarsah Ruli Herman Sitanggang S, Achmad Afif Saleh, Siti Chasnak Saleh, Siti Chasnak Saprudin Saprudin Saputra, Gilang Nispu Sari, Kartika Indah Setiawan Setiawan Shenny Dianathasari Santoso Sidabutar, Berliana Sitanggang, Ruli H. Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Sobana Siti Nur Fatimah Sitorus, Richard Pahala Siuliyanty, Siuliyanty Sobaryati Sobaryati Sobaryati Sobaryati Sobaryati, Sobaryati Sofiati Dian Sri Rahardjo Sri Rahardjo Sudadi Sudadi Sukmawati, Rani Suryadi Suryadi Suryani Gunadharma Suryani Gunadharma Suryani Gunadharma Sutoyo, Dessy Suwarman, S Suwarman, S Syifa, Nadia Syifa, Nadia Tantarto, Tamara Tatang Bisri Tatang Bisri Theresia C. Sipahutar Theresia C. Sipahutar Theresia Monica Rahardjo Thomas Thomas Tiara Pramaesya Tiene Rostini, Tiene Tinni T. Maskoen Tinni T. Maskoen Tinni T. Maskoen Trislawati, Cristina Trully Deti Rose Sitorus Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani, Uni Vania Angeline Bachtiar Verolia Yunita Putri Wandira, Rega Dwi Wardhani, Ildzamar Haifa Wardoyo, Chandra Calista Wargahadibrata, A. Hmendra Wargahadibrata, A. Hmendra Widiastuti, Monika - Wildan Firdaus Wirayuga Rizkia Suwahyo Yovita Stevina Yunita Susanto Putri Yunita Susanto Putri Yusuf Wibisono Yusuf Wibisono Zamzami, Nyiemas Moya Zamzami, Nyiemas Moya