Claim Missing Document
Check
Articles

Stroke pada Usia Muda Birawa, Andi Basuki Prima; Amalia, Lisda
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.878 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.955

Abstract

Hampir 10% stroke terjadi pada usia relatif muda (kurang dari 45 tahun). Angka kejadian stroke pada usia di bawah 45 tahun diperkirakan 7 – 15 kasus/100.000 penduduk/tahun dan lebih jarang pada kelompok anak-anak, yaitu 1 – 8 kasus/100.000/tahun. Faktor risiko terjadinya stroke pada usia muda berbeda-beda, antara lain: (1) Migren, (2) Sickle-cell disease, (3) Penyakit jantung, (4) Abnormalitas pembuluh darah serebral, (5) Focal cerebral arteriopathy of childhood (FCA), (6) Ensefalopati pasca-varisela, (7) Mitochondrial encephalopathy with lactic acidosis and stroke-like episodes (MELAS), (8) Diseksi arteri, (9) Penyalahgunaan obat, (10) Vaskulitis serebral seperti arteritis temporal, arteritis Takayasu, polyarteritis nodosa (PAN), Wegener’s granulomatosis, (11) Systemic lupus erythematosus (SLE), (12) Cerebral autosomal dominant arteropathy with subcortical infarcts
and leucoencephalopathy (CADASIL), (13) Fabry’s disease, dan (14) Trombofilia. Khusus pada wanita usia muda, beberapa faktor risiko lainnya antara lain: (1) Penggunaan kontrasepsi oral terutama pada wanita perokok, migren dengan aura, dan hipertensi; (2) Kehamilan, terutama jika terdapat preeklampsi, eklampsi, dan sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes, and low platelets). Stroke pada usia muda memiliki karakteristik tersendiri, sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda. Faktor risiko perlu diidentifikasi untuk penatalaksanaan dan pencegahan terjadinya stroke berulang. Penelitian berbasis populasi dengan metodologi yang baik penting untuk lebih mengetahui besaran masalah stroke pada usia muda.Nearly 10 % strokes occur at a relatively young age (less than 45 years old). The incidence of stroke in under 45 year-old is between 7-15 cases/100,000 persons/year and 1-8 cases /100,000/year in children. Disorders or diseases related or suspected as risk factors are: (1) Migraine, (2) Sickle - cell disease, (3) Heart disease, (4) Cerebral blood vessels abnormality,
Perbandingan Chula Formula dengan Auskultasi 5 Titik terhadap Kedalaman Optimal Pipa Endotracheal pada Anestesi Umum di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Erick Ariestian; Iwan Fuadi; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.176 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1286

Abstract

Kedalaman pipa endotracheal (ETT) yang optimal menjadi salah satu perhatian utama karena komplikasi terkait dengan malposisi ETT. Auskultasi 5 titik merupakan metode yang digunakan dalam menentukan kedalaman ETT. Namun, teknik tersebut masih memiliki potensi  malposisi ETT. Penggunaan chula formula terbukti dapat digunakan untuk menentukan kedalaman ETT yang optimal. Penelitian ini bermaksud menilai ketepatan kedalaman yang optimal penempatan ETT setelah dilakukan intubasi endotrakea menggunakan chula formula dibanding dengan tektik auskultasi 5 titik. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif analitik komparatif yang dilakukan pada 48 orang pasien berusia ≥18 tahun, status fisik American Society of Anesthesiology (ASA) I–II di ruang bedah terjadwal RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Oktober 2017. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan, yaitu kelompok penentuan kedalaman ETT menggunakan teknik auskultasi 5 titik dan kelompok yang dilakukan menggunakan chula formula. Dilakukan penilaian jarak ujung ETT terhadap carina menggunakan fiberoptic bronchoscope (FOB). Hasil penelitian ini menunjukkan kedalaman optimal ETT menggunakan chula formula lebih baik dibanding dengan teknik auskultasi 5 titik. Analisis statistik menggunakan uji Exact Fisher.  Hasil analisis menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah penggunaan chula formula menghasilkan kedalaman ETT yang lebih optimal.Kata kunci: Auskultasi 5 titik, bronkoskopi fiberoptik, chula formula, intubasi endotrakea, kedalaman ETT
Insidensi dan Faktor Risiko Hipotensi pada Pasien yang Menjalani Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Rini Rustini; Iwan Fuadi; Eri Surahman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.485 KB) | DOI: 10.15851/jap.v4n1.745

Abstract

Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan anestesi spinal pada pasien seksio sesarea. Hipotensi terjadi akibat blokade simpatis terhadap aktivitas vasomotor pembuluh darah serta penekanan aorta dan vena kava inferior oleh uterus yang membesar terutama pada saat pasien telentang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui insidensi hipotensi dan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian observasional potong lintang (cross sectional) ini dilakukan pada 90 subjek pasien yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal pada periode bulan April–Mei 2015. Pengolahan data dengan analisis univariabel untuk melihat gambaran proporsi variabel masing-masing yang disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan insidensi hipotensi 49%. Faktor risiko yang menyebabkan hipotensi maternal menunjukkan hasil yang tidak signifikan berhubungan dengan kejadian hipotensi (p>0,05). Perbedaan insidensi hipotensi maternal setelah tindakan anestesi spinal dan faktor risiko yang memengaruhinya dengan penelitian sebelumnya karena perbedaan jumlah sampel penelitian, perbedaan definisi hasil yang digunakan, perbedaan tempat penelitian, dan perbedaan metode pengumpulan data.Kata kunci: Anestesi spinal, faktor risiko, hipotensi, insidensi, seksio sesareaIncidence and Risk Factors of Hypotension in Patients Undergoing Cesarean Section with Spinal Anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractThe most common serious complication associated with spinal anesthesia for C-section is hypotension. These hemodynamic changes result from a blockade of sympathetic vasomotor activity that is accentuated by the compression of the aorta and inferior vena cava by the gravid uterus when the patient is in the supine position. The purpose of this study was to describe the incidence of hypotension in patients undergoing cesarean section with spinal anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung and to obtain a description of risk factors associated with the incidence of hypotension. A cross–sectional observational study was conducted on 90 subjects consisting of patients undergoing cesarean section with spinal anesthesia during the period of April–May 2015. The data processing performed was the univariable analysis to see the picture of the proportion of each variable, which were presented descriptively. The results showed 49% incidence of hypotension. There was an insignificant association between the risk factors of maternal hypotension after spinal anesthesia for cesarean section insignificant association with the incidence of hypotension (p>0.05). Differences in the incidence of maternal hypotension after spinal anesthesia and risk factors as stated in this study when compared to previous studies are due to differences sample size, definitions, place, and data collection methods.Key words: Cesarean section, hypotension, incidence, risk factors, spinal anesthesia DOI: 10.15851/jap.v4n1.745
Perbandingan Efek Analgesia antara Fentanil dan Oksikodon Intravena untuk Pengelolaan Nyeri Pascabedah Laparotomi Kolesistektomi Thomas Thomas; Iwan Fuadi; Iwan Abdul Rachman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v9n1.2386

Abstract

Nyeri pascabedah harus diatasi dengan baik menggunakan analgetik yang memiliki efek analgesia adekuat dengan efek samping minimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan nyeri pascabedah laparotomi kolesistekomi yang dinilai dengan numeric rating score (NRS) antara pasien yang menggunakan continuous intravenous patient controlled analgesia (IV-PCA) fentanil dan oksikodon. Penelitian dilakukan pada periode Agustus–November 2020 di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian randomized control trial (RCT) dilakukan terhadap 32 subjek status fisik ASA I–II yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapat continuous IV-PCA fentanil 0,5 µg/kgBB/jam dan kelompok dengan continuous IV-PCA oksikodon 30 µg/kgBB/jam. Nyeri pascabedah dinilai dengan NRS pada jam pertama, ke-6, ke-12, dan ke-24. Analisis statistik data numerik dengan Uji Mann-Whitney, data kategorik dengan uji chi-square dan alternatif Uji Fisher’s Exact. Nilai NRS pada kelompok oksikodon lebih rendah dibanding dengan fentanil pada jam pertama hingga jam ke-24 (p=0,001). Kebutuhan rescue analgetik pada jam pertama dan ke-6 juga lebih rendah pada kelompok oksikodon (p=0,012; p=0,022, berurutan). Penelitian dengan rasio fentanil:oksikodon 1:60 ini tidak menunjukkan perbedaan efek samping kejadian mual, muntah, pusing, sakit kepala, dan pruritus antara kedua kelompok. Pemberian analgesia oksikodon intravena pada pasien pascabedah laparotomi kolesistektomi lebih baik dibanding dengan fentanil intravena.Comparison of Analgesia Effect between Intravenous Fentanyl and Oxycodone for Postoperative Pain Management after Laparotomy CholecystectomyPostoperative pain must be addressed properly with adequate analgetic drugs and minimal side effects. This study aimed to determine the differences in postoperative cholecystecomy laparotomy pain assessed by NRS in patients receiving continuous PCA fentanyl or oxycodone. This was a randomized clinical trial on 32 subjects between August-November 2020 at dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. These subjects were divided into two groups: the group that received continuous intravenous infusion of PCA fentanyl 0.5 µg/kgBW/hour and the group with continuous intravenous infusion of PCA oxycodone 30 µg/kgBW/hr. Thepostoperative pain was assessed by NRS at the 1st, 6th, 12th, and 24th hours. Statistical analysis of numerical data was performed using the Mann-Whitney test while the categorical data were analyzed using Chi-Square test with alternative uji Fisher’s Exact test. Results showed that NRS was lower in the oxycodone group than in the fentanyl group at the first to 24 hours (p=0.001). The need for analgesic rescue at the first and sixth hours was also lower in the oxycodone group (p=0.012; p=0.022, respectively). The observation of opioid side effects on fentanyl:oxycodone with a ratio of 1:60 did not present any difference in the incidence of nausea, vomiting, dizziness, headache, and pruritus in both groups. The administration of intravenous oxycodone in postoperative cholecystectomy laparotomy patients gives better analgesia effect than intravenous fentanyl.
Perbandingan Aromaterapi Pepermin dengan Ondansetron Intravena sebagai Terapi Rescue Mual Muntah Pascaoperasi Mastektomi Arna Fransisca; Iwan Fuadi; Dewi Yulianti Bisri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.107 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n1.1587

Abstract

Mual muntah pascaoperasi merupakan salah satu komplikasi anestesi dan operasi yang menjadi perhatian khusus karena memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan, memperpanjang lama perawatan, dan meningkatkan angka morbiditas perioperatif. Pascaoperasi payudara berkaitan dengan angka kejadian mual muntah pascaoperasi yang tinggi. Beberapa konsensus penatalaksanaan mual muntah pascaoperasi merekomendasikan pemberian terapi nonfarmakologi dengan aromaterapi sebagai terapi rescue untuk mengatasi mual muntah pascaoperasi. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan aromaterapi pepermin dengan ondansetron sebagai terapi rescue dalam menurunkan kejadian mual muntah pascaoperasi mastektomi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan secara prospektif dengan desain penelitian double blind randomized controlled trial dan consecutive sampling terhadap 32 subjek penelitian yang menjalani operasi mastektomi elektif dan memenuhi kriteria inklusi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juli–September 2018. Pada penelitian ini, data ordinal diuji dengan Uji Mann Whitney dan untuk data kategorik diuji dengan uji chi-square. Hasil penelitian ini didapatkan penurunan kejadian mual muntah pascaoperasi yang signifikan pada kelompok pepermin dibanding dengan kelompok ondansetron dengan perbedaan yang bermakna (p<0,05) pada penilaian menit kedua dan menit kelima setelah perlakuan. Simpulan, aromaterapi pepermin efektif menurunkan kejadian mual muntah pascaoperasi mastektomi dan dapat digunakan sebagai alternatif terapi atau terapi tambahan untuk penatalaksanaan mual muntah pascaoperasi.Comparison of Peppermint Aromatherapy with Ondansetron Intravenous as a Rescue for Postoperative Nausea Vomiting after Mastectomy SurgeryPostoperative nausea and vomiting are among anesthesia and surgery  complications that receive special considerations as it affects the quality of healthcare services, prolongs care, and increases perioperative morbidities. The incidence of postoperative nausea and vomiting is high in patients that have undergone breast surgery. The consensus for postoperative nausea and vomiting management recommends non-pharmacological treatments, one of which is through the use of aromatherapy as a rescue to resolve postoperative nausea and vomiting. This study aimed to compare the effects of peppermint aromatherapy and ondansetron as a rescue in reducing the incidence of postoperative nausea and vomiting after elective mastectomies. This was a prospective experimental double blind randomized controlled trial study with consecutive sampling on 32 research subjects underwent elective mastectomies and met the inclusion criteria in Dr. Hasan Sadikin General Hospital in July–September 2018. The ordinal data were tested using the Mann Whitney statistics test and the categorical data using the chi square test. The results show a significant decrease in nausea and vomiting incidence in the peppermint group compared to the ondansetron group with significant difference (p<0.05) in two minutes and five minutes after treatment. In conclusion, peppermint aromatherapy is effective in reducing the incidence of postoperative nausea and vomiting after mastectomies and can be used as an alternative or additional treatment in managing postoperative nausea and vomiting.
Efek Penggunaan Leg Wrapping terhadap Kejadian Hipotensi Selama Anestesi Spinal pada Pasien Seksio Sesarea Yunita Susanto Putri; Iwan Fuadi; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.829 KB)

Abstract

Hipotensi merupakan komplikasi tersering selama anestesi spinal dengan insidensi >80% meskipun telah diberikan cairan preloading, posisi ibu left lateral tilt, dan penggunaan vasopresor. Terdapat teknik lain untuk mencegah terjadi hipotensi, yaitu penggunaan leg wrapping yang dapat memperbaiki aliran balik vena dengan meningkatkan volume darah sentral. Penelitian ini bertujuan menilai efek penggunaan leg wrapping terhadap kejadian hipotensi selama anestesi spinal pada pasien seksio sesarea. Penelitian bersifat eksperimental acak terkontrol buta tunggal dengan randomisasi secara acak sederhana yang melibatkan 40 ibu hamil American Society of Anesthesiologists (ASA) II yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal di Central Operating Theatre (COT) lantai 3, Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni–Juli 2015. Subjek penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu 20 subjek dengan leg wrapping dan 20 subjek tanpa leg wrapping. Tekanan darah dan laju nadi diperiksa setiap dua menit sampai bayi lahir. Data dianalisis dengan uji-t tidak berpasangan dan chi-kuadrat, nilai p<0,05 dianggap bermakna. Analisis statistik menunjukkan kejadian hipotensi pada kelompok tanpa leg wrapping 95% (19 orang) dan 0% pada kelompok dengan leg wrapping dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Secara keseluruhan, hemodinamik kelompok dengan leg wrapping lebih stabil dibanding dengan kelompok tanpa leg wrapping. Simpulan, penggunaan leg wrapping sebelum dilakukan anestesi spinal pada pasien yang menjalani seksio sesarea menurunkan angka kejadian hipotensi.Kata kunci: Anestesi spinal, hipotensi, leg wrapping, seksio sesareaEffect of Leg Wrapping on Hypotension Incidence in Cesarean Section with Spinal AnesthesiaAbstractHypotension is the most common complication of spinal anesthesia. The incidence remains high despite adequate fluid preloading, left lateral tilt positioning, and vasopressors use. There is a technique that can be used to prevent hypotension, which is referred as leg wrapping. Leg wrapping can improve venous return by increasing central blood volume. This study aimed to compare the hypotension incidence between with and without leg wrapping during spinal anesthesia for caesarean section. The method used was single blind randomized controlled trial with simple randomization, involving 40 pregnant women ASA II, who underwent cesarean section with spinal anesthesia in COT 3rd floor Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of June–July 2015. Subjects were grouped into with leg wrapping and without leg wrapping groups with 20 subjects in each group. Blood pressure and heart rate were recorded every two minutes until the baby was born. Data were then analyzed using t-test and chi-square test with p values <0.05 considered significant. The statistical analysis showed that there were significant differences in the incidence of hypotension (p<0.05) in the group without leg wrapping , i.e. 95% (19 people), and the group with leg wrapping, i.e. 0%. Overall, hemodynamics of the leg wrapping group was more stable than the group without leg wrapping. In conclusion, leg wrapping prior to spinal anesthesia in patients undergoing cesarean section will reduce incidence of hypotension.Key words: Cesarean section, hypotension, leg wrapping, spinal anesthesia DOI: 10.15851/jap.v4n3.903
Perbandingan Efek Pemberian Analgesia Pre-emtif Parecoxib dengan Parasetamol terhadap Nyeri Pascaoperasi Radikal Mastektomi Menggunakan Numeric Rating Scale Roni D. Kartapraja; Iwan Fuadi; Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.994 KB)

Abstract

Mastektomi merupakan prosedur operasi pengangkatan kanker payudara yang dapat menimbulkan nyeri akut pascaoperasi, bahkan pada 20–30% pasien berlanjut menjadi sindrom nyeri kronik pascamastektomi sehingga diperlukan penatalaksanaan nyeri secara adekuat agar pasien tidak mengalami episode nyeri yang dapat mengganggu produktivitas. Tujuan penelitian ini membandingkan efek pemberian analgesia pre-emtif parecoxib dengan parasetamol dalam menurunkan nyeri pascaoperasi radikal mastektomi. Penelitian dilakukan secara prospektif single blind randomized controlled trial terhadap 30 pasien dewasa yang menjalani operasi radikal mastektomi di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode September–November 2014. Subjek dibagi dalam dua kelompok, analgesia pre-emtif parasetamol 1 g dan parecoxib 40 mg diberikan 30 menit sebelum sayatan pertama dilakukan. Setelah operasi selesai dicatat skala nyeri berdasarkan numeric rating scale (NRS) hingga 12 jam pascaoperasi di ruang perawatan. Analisis data menggunakan uji-t dan diolah dengan program statistical package for social science (SPSS) versi 21.0 for windows. Kelompok analgesia pre-emtif parecoxib 40 mg lebih lama membutuhkan analgetik pertolongan dan menurunkan NRS lebih rendah dibanding dengan kelompok analgesia preemtif parasetamol 1 g (p<0,05). Simpulan, parecoxib 40 mg lebih baik dibanding dengan analgesia pre-emtif parasetamol 1 g dalam menurunkan nyeri pascaoperasi radikal mastektomi berdasarkan NRS.Kata kunci: Analgesia pre-emtif, numeric rating scale, nyeri pascaoperasi, parasetamol, parecoxib, radikal mastektomiComparative Effect of Preemptive Analgesia Parecoxib with Paracetamol against Postoperative Radical Mastectomy Pain Using Numeric Rating ScaleMastectomy is a breast cancer surgery procedure that can lead to acute postoperative pain with 20–30% of patients may progress to postmastectomy chronic pain syndrome (PMPS). Therefore, it is necessary provide an adequate pain management so patients will not experience episodes of pain that can disrupt their productivity. The purpose of this study was to compare the effect of preemptive analgesia parecoxib with paracetamol in reducing radical mastectomy postoperative pain.The study was a prospective single blinded randomized controlled clinical trials on 30 adult patients who underwent radical mastectomy surgery in Dr. Hasan Sadikin General Hospital between September and November 2014. Subjects were divided randomly into two groups, 1 gram paracetamol preemptive analgesia and 40 miligram parecoxib which given 30 minutes before the first incision has been made. After the surgery was completed, we record the pain scale using the numeric rating scale (NRS). The data were recorded starting from the recovery room to 12 hours postoperative in the ward. Statistical analysis was performed using the t-test with statistical package for social science (SPSS) version 21.0 for Windows software. The results showed that the 40 miligram parecoxib preemptive analgesia group required longer rescue analgesics and lowerNRS than 1 gram paracetamol preemptive analgesia (p<0.05). In conclusion, 40 miligram parecoxib preemptive analgesia is better than 1 gram paracetamol preemptive analgesia in reducing radical mastectomy postoperative pain according to numeric rating scale.Key words: Numeric rating scale, paracetamol, parecoxib, postoperative pain, preemptive analgesia, radical mastectomy DOI: 10.15851/jap.v4n2.825
Perbandingan Peningkatan Laju Nadi dan MAP antara Laringoskopi Menggunakan Bilah Laringoskop Macintosh dan McCoy Andy Hutariyus; Iwan Fuadi; Dewi Yulianti Bisri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.76 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n1.1509

Abstract

Tindakan laringoskopi dan intubasi dapat menyebabkan peningkatan kadar katekolamin di dalam darah sehingga meningkatkan respons hemodinamik seperti takikardia, peningkatan tekanan darah, peningkatan tekanan intrakranial, aritmia, dan perubahan segmen ST. Respons ini bergantung pada seberapa banyak manipulasi di daerah lidah, faring, laring, dan epiglotis pada saat laringoskopi direk. Tujuan penelitian ini membandingkan peningkatan laju nadi dan mean arterial pressure (MAP) antara laringoskopi intubasi menggunakan bilah Macintosh dan McCoy. Metode penelitian ini adalah uji klinis acak terkontrol buta tunggal pada 40 pasien yang menjalani operasi dengan anestesi umum di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari bulan Juli hingga Agustus 2018. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok, kelompok MI laringoskopi intubasi dengan Macintosh dan kelompok MC laringoskopi intubasi dengan McCoy. Data hasil penelitian diuji secara statistik menggunakan uji t tidak berpasangan dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan laju nadi dan MAP setelah intubasi pada kelompok McCoy lebih rendah dibanding dengan Macintosh pada menit ke-1, menit ke-2,5, dan menit ke-5 dengan perbedaan signifikan (p˂0,05). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa laringoskopi dengan bilah laringoscop McCoy dapat mengurangi peningkatan laju nadi dan MAP dibanding dengan Macintosh.  Comparison between Laryngoscopy Using Macintosh and McCoy Laryngoscope Blades in Increasing Heart Rate and Mean Arterial PressureLaryngoscopy and intubation often increase hemodynamic responses such as tachycardia, increased blood pressure, increased intracranial pressure, arrhythmia, and changes on the ST segment due to increased blood catecholamines. This response depends on how much the tongue, pharynx, larynx, and epiglottis are manipulated during a direct laryngoscopy. This study was a single blinded randomized controlled trial on 40 patients who underwent surgery under general anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital from July to August 2018. Subjects of study were randomly divided into two groups, Macintosh (MI) and McCoy (MC) groups. Data were analyzed using t-test and Mann-Whitney test. Results of this study found that lower heart rate and MAP increases were identified in McCoy group when compared to the Macintosh group in minute 1, minute 2,5, and minute 5 after intubation. Both variables had statistically significant differences (p<0.05). This study concludes that laryngoscopy using McCoy laryngoscope blade was is able to prevent increase in heart rate and MAP compared to Macintosh.
Perbandingan Ketepatan Ukuran Classic Laryngeal Mask Airway antara Metode Berat Badan dan Lebar Lidah Abdul Rahman; Iwan Fuadi; Iwan Abdul Rachman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.958 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n3.1338

Abstract

Classic laryngeal mask airway (CLMA) merupakan alat yang digunakan untuk manajemen jalan napas, baik  untuk pengganti ventilasi sungkup wajah maupun intubasi endotrakeal. Pemilihan ukuran yang tepat penting untuk efektivitas penggunaan CLMA. Saat ini pemilihan ukuran berdasar atas metode berat badan. Menurut sebuah studi terbaru metode pengukuran lebar lidah lebik baik daripada metode berat badan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui ketepatan ukuran CLMA antara metode berat badan dan lebar lidah yang dinilai dengan skor fiberoptik dan oropharyngeal leak pressure di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2018 menggunakan uji eksperimental analitik crossection setiap subjek mendapat dua perlakuan yang berbeda antara kedua metode. Uji statistik menggunakan uji chi-square untuk skor fiberoptik dan uji t berpasangan untuk oropharyngeal leak pressure. Hasil penelitian skor fiberoptik lebih optimal daripada metode lebar lidah. Oropharyngeal leak pressure pada metode berat badan rerata 23,00±1,732 CmH20 sedangkan metode lebar lidah rerata 19,13±1,684 CmH20. Secara statistik diperoleh nilai p<0,05. Simpulan, metode pengukuran lebar lidah adalah alternatif yang mudah dan baik dalam pemilihan ukuran CLMA pasien dewasa.Kata kunci: Classic laryngeal mask airway, pemilihan ukuran CLMA, metode berat badan, metode lebar lidahComparison of Classic Laryngeal Mask Airway Size Accuracy between Body Weight Method and Tongue width MethodClassic laryngeal mask airway (CLMA) is an airway management device that can be used to replace bag valve mask ventilation or endotracheal intubation. Choosing the right size of CLMA is important for the effectiveness of CLMA. Currently, the size of CLMA is selected based on the body weight. However, a recent study suggested that tongue width is a better indicator for size selection than the body weight. The purpose of this study was to assess the accuracy of CLMA size selection using the body weight method and tongue-width method. The assessment was performed using the fiberoptic score and oropharyngeal leak pressure. This was an experimental analytic cross-sectional study conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in February 2018. Each subject in this study received two different treatments using the two methods. The results were analyzed using chi-square for the fiberoptic score and paired t test for the oropharyngeal leak pressure. The fiberoptic score was more optimum when tongue width method was used when compared to the weight method. The oropharyngeal leak pressure in the weight method group was 23.00±1.732 CmH20 while the pressure in the tongue-width method was 19.13±1.684 CmH20 (p value <0.05). In conclusion, the tongue width measurement is an easy and good alternative in the selecting the CLMA size in adult patients.Key words: Classic laryngeal mask airway, size selection CLMA, body weight method, tongue width method
Perbandingan Efek Pencegahan Magnesium Sulfat dengan Petidin Intravena terhadap Kejadian Menggigil Selama Operasi Reseksi Prostat Transuretra dengan Anestesi Spinal Mariko Gunadi; Iwan Fuadi; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.096 KB)

Abstract

Gangguan termoregulasi berupa menggigil sering terjadi selama operasi dengan anestesi spinal. Tujuan penelitian ini membandingkan efek pencegahan kejadian menggigil selama operasi reseksi prostat transuretra dalam anestesi spinal antara MgSO4 dan petidin. Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol tersamar ganda pada 42 pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) II atau III, usia 60−70 tahun yang menjalani operasi reseksi prostat transuretra di kamar operasi bedah sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Maret–September 2014. Pasien dibagi dalam kelompok MgSO4 dan kelompok  petidin. Data karakteristik, kejadian menggigil, suhu tubuh inti, monitoring tanda vital, dan efek samping dicatat. Hasil penelitian menunjukkan efek pencegahan kejadian menggigil kelompok MgSO4 lebih baik dibanding dengan kelompok petidin dan kejadian menggigil di kamar operasi 4/21 vs 9/21, sedangkan di ruang pemulihan kejadian menggigil sama pada kedua kelompok (1/21). Simpulan penelitian ini menunjukkan pemberian MgSO4 intravena sebelum anestesi spinal secara klinis mengurangi kejadian menggigil selama operasi dan memiliki efek pencegahan menggigil yang lebih baik dibanding dengan petidin.Kata kunci: Anestesi spinal, menggigil, MgSO4, petidinComparison of Anti-Shivering Effect of Intravenous Magnesium Sulfate with Pethidine during Transurethral Resection of the Prostate under Spinal AnesthesiaShivering, as a result of impaired thermoregulatory, is frequent during surgery under spinal anesthesia. The purpose of this study was to compare the anti-shivering effect between intravenous MgSO4 and pethidine during transurethral resection of the prostate under spinal anesthesia.This study was a randomized double-blind controlled trial in 42 patients with American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status II or III, aged 60−70 years who underwent transurethral resection of the prostate at the central operating theater of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung within March–September 2014. The patients were divided into MgSO4 group and pethidine group. Characteristics of data, the incidence of shivering, body core temperature, vital signs monitoring, and adverse events were recorded. Antishivering effect of MgSO4 was better compared to pethidine, with the incidence of shivering in operating theatre was 4/21 vs 9/21. However, in the recovery room, the incidence of shivering was the same for both groups (1/21). It is concluded that the administration of intravenous MgSO4 before spinal anesthesia clinically reduces the incidence of shivering during surgery and has a better anti-shivering effect compared to intravenous pethidine.Key words: MgSO4, pethidine, shivering, spinal anesthesia DOI: 10.15851/jap.v3n3.609
Co-Authors - Elvidiansyah - Elvidiansyah A Himendra Wargahadibrata A Himendra Wargahadibrata A. Muthalib Nawawi A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdul Muthalib Nawawi Abdul Muthalib Nawawi Abdul rachman, Iwan Abdul Rahman Adnin Nugroho Adriana Damayanti Afdi Arahim Putra Agnes Rengga Indrati Agus Susanto Agusti Setiabudi Pramata Ahmad Doni ahmad doni Ahmad Rizal Ahmad Rizal Ahmad Rizal ahmad rizal Ahmad Rizal Ganiem Ahmad Rizal Ganiem, Ahmad Rizal Aih Cahyani Aisyah Ummu Fahma Al Rasyid Amanda Diannisa Azzahra Amany Khansa Amaylia Oehadian Aminuyati Anam Ong Anam Ong Ananda Pratama Kesumaningtyas Gunawan Andi Basuki Prima Birawa Andi Basuki Prima Birawa Andi Basuki Prima Birawa Andre Aditya Andre Tanuwijaya, Andre Andy Hutariyus Anindyta Murfia Khairunnisa Ardhana Risworo Anom Yuswono Ardhana Risworo Anom Yuswono Ardi Zulfariansyah Ardi Zulfariansyah Ardi Zulfariansyah Ardiana Ari Saptadi Ari Saptadi Aries Saifudin Ariestian, Erick Army Zaka Anwary, Army Zaka Arna Fransisca Arsy Felisita Dausawati Arsy Felisita Dausawati Arviana Adamantina Putri Asep Nugraha Hermawan Asep Nugraha Hermawan Asep Nugraha Hermawan Asyer Asyer Ayu, Auliya Putri Badriyah, Nur’aini Jamilatul Berliana, Sobaryati Biben, Vitriana Bisri, Tatang https://scholar.google.co.id/citations?u Bramantyo Pamugar Calista, Chandra Cep Juli Chandra Calista Citra Windani Mambang Sari Dedi Fitri Yadi Defri Aryu Dinata Defri Aryu Dinata, Defri Aryu Dessy Sutoyo Dewi Ramadani Dewi Ramadani Dewi Yulianti Bisri Dian Novitasari Doddy Tavianto Dzulfikar D. L. Hakim Eka Damayanti Eko Nofiyanto Eppy Buchori Eppy Buchori Aristiady Eri Surahman Eri Surahman Erick Ariestian Erwin Pradian Eva Srigita Tari Ezra Oktaliansah Fadila Arsanti Fahma, Aisyah Ummu Fauzan Musyaffa Fifi Veronica Firdaus, Riyadh Fithrah, Bona Akhmad Fithrah, Bona Akhmad Fitri Sepviyanti Sumardi Fitri Yanti Gaga Irawan Nugraha Galuh Saputri Ginna Megawati Glenn Mark Togu Gloria Kartika Gunadharma, Suryani Guntur Darmawan Hamzah Hamzah Hanna Goenawan Hanna Goenawan Hansen Wangsa Herman Haqun Baitika Harahap, M Sofyan Harry Galuh Nugraha Hartiah Haroen Hermawan, Asep Nugraha Hidayat, Dede A Hidayat, Faqih Hidayat, Shaffana Hilman Hilman Hunter D. Nainggolan Hunter D. Nainggolan Ida Parwati Ike Sri Redjeki Ike Sri Redjeki Indra Wijaya Indriasari Indriasari Islami, Aditya Iwan Abdul Rachman Jerico Franciscus Pardosi Jimmy Setiadinata Jimmy Setiadinata, Jimmy Jonathan Jeremi Siagian Kartapraja, Roni D. Kartika, Gloria Khairunnisa, Shafa Ayu Khofifah Nurfaisah Lailiyya, Nushrotul Laniyati Hamijoyo, Laniyati Lee Shok Chen Lee Shok Chen, Lee Shok Leni Lismayanti Liunardo Bintang Pratama Lukman Hidayat Lulu Eva Rakhmilla, Lulu Eva M Andy Prihartono M. Erias Erlangga M. Erias Erlangga, M. Erias Maharani, Nurmala Dewi Mariko Gunadi Mariko Gunadi Marina A. Moeliono Marina A. Moeliono, Marina A. Martaria, Nency Martinus, Fardian Martinus, Fardian Maulana Muhammad Maulana Muhammad, Maulana Mayasari, Ferra Mayasari, Ferra Millata Azma Basmala Muhammad Adjie Pratama Muhammad Mustofa Ramadhan Nadya, Siti Fairuz Nandina Oktavia Nani Kurniani Nesyia Tara Restikasari Neti Juniarti Nur Atiik Nurmin, Rahmawati Nurohman Nushrotul Lailiyya Nushrotul Lailiyya Nushrotul Lailiyya Dahlan Oktivia, Wenny Ong, Paulus Anam Pamugar, Bramantyo Pandji Irani Fianza Paranita Utama Paulus Anam Ong Paulus Anam Ong Paulus Anam Ong Pison, Osmond Muvtilof Pramodana, Bintang Prihatno, M. Mukhlis Rudi Putri, Dini Handayani R, Tubagus Yuli R, Tubagus Yuli Radian Ahmad Halimi Rahmadsyah, Teuku Rahmatisa, Dimas Rahordjo, Sri Ramdan Panigoro Reihan Achmad Reza Reza W. Sudjud Ria Bandiara Richard Pahala Sitorus Rico Defryantho,* Lisda Amalia,* Ahmad Rizal,** Suryani Gunadharma,* Siti Aminah,* Nushrotul Lailiyya* Rini Rustini Rita Arsika Fauziah Riyadh Firdaus Rizkia, Fildza Intan Rizky Gimnastiar Roni D. Kartapraja Rudi Kurniadi Kadarsah Ruli Herman Sitanggang S, Achmad Afif Saleh, Siti Chasnak Saleh, Siti Chasnak Saprudin Saprudin Saputra, Gilang Nispu Sari, Kartika Indah Setiawan Setiawan Shenny Dianathasari Santoso Sidabutar, Berliana Sitanggang, Ruli H. Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Sobana Siti Nur Fatimah Sitorus, Richard Pahala Siuliyanty, Siuliyanty Sobaryati Sobaryati Sobaryati Sobaryati Sobaryati, Sobaryati Sofiati Dian Sri Rahardjo Sri Rahardjo Sudadi Sudadi Sukmawati, Rani Suryadi Suryadi Suryani Gunadharma Suryani Gunadharma Suryani Gunadharma Sutoyo, Dessy Suwarman, S Suwarman, S Syifa, Nadia Syifa, Nadia Tantarto, Tamara Tatang Bisri Tatang Bisri Theresia C. Sipahutar Theresia C. Sipahutar Theresia Monica Rahardjo Thomas Thomas Tiara Pramaesya Tiene Rostini, Tiene Tinni T. Maskoen Tinni T. Maskoen Tinni T. Maskoen Trislawati, Cristina Trully Deti Rose Sitorus Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani, Uni Vania Angeline Bachtiar Verolia Yunita Putri Wandira, Rega Dwi Wardhani, Ildzamar Haifa Wardoyo, Chandra Calista Wargahadibrata, A. Hmendra Wargahadibrata, A. Hmendra Widiastuti, Monika - Wildan Firdaus Wirayuga Rizkia Suwahyo Yovita Stevina Yunita Susanto Putri Yunita Susanto Putri Yusuf Wibisono Yusuf Wibisono Zamzami, Nyiemas Moya Zamzami, Nyiemas Moya