Claim Missing Document
Check
Articles

Gambaran Tata Cara dan Angka Keberhasilan Penyapihan Ventilasi Mekanik di Ruang Perawatan Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Richard Pahala Sitorus; Iwan Fuadi; Ardi Zulfariansyah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.472 KB) | DOI: 10.15851/jap.v4n3.897

Abstract

Penyapihan ventilasi mekanik adalah suatu proses pelepasan bantuan ventilator yang dilakukan secara bertahap atau langsung oleh seorang dokter Intensive Care Unit (ICU). Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran tata cara dan angka keberhasilan penyapihan ventilasi mekanik yang dilakukan di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Metode penelitian ini adalah deskriptif observasional prospektif dan merupakan studi cross sectional. Penelitian ini melibatkan 50 pasien yang dirawat di ICU RSHS Bandung pada bulan Juli–September 2015. Data dicatat dan dikelompokkan sesuai dengan variabel karakteristik tata cara dan angka keberhasilan penyapihan ventilasi mekanik. Hasil penelitian ini menunjukkan tata cara penyapihan ventilasi mekanik yang paling banyak dilakukan adalah once daily trial of T piece sebanyak 22 pasien (44%) kemudian continous positive airway pressure (CPAP) sebanyak 40%, intermittent trial of T-piece sebanyak 10%, dan pressure support ventilation (PSV) 6%. Angka keberhasilan penyapihan ventilasi mekanik sebanyak 44 orang (88%) dan angka kegagalan penyapihan ventilasi mekanik adalah sebanyak 6 orang (12%) sehingga harus dilakukan re-intubasi. Tata cara penyapihan ventilasi mekanik yang paling banyak digunakan di ICU RSHS Bandung adalah once daily trial of T piece dan angka keberhasilan penyapihan ventilasi mekanik sebesar 88%.Kata kunci: Angka keberhasilan, tata cara penyapihan, ventilasi mekanikProcedures and Success Rate of Mechanical Ventilation Weaning in Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractMechanical ventilation weaning is a process of withdrawing ventilator assistance gradually or immediately by Intensive Care Unit (ICU) physicians. This study aimed to describe the procedure and the success rate of mechanical ventilation weaning performed at the ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) Bandung. This was a cross-sectional descriptive prospective observational and study involving 50 patients treated at the ICU of RSHS Bandung during the period of July to September 2015. Data were recorded and classified in accordance with the variable characteristics of the procedure and the success rate of mechanical ventilation weaning. The results indicated that the most widely used mechanical ventilation weaning procedures were T-piece once daily trial in 22 patients (44%), continous positive airway pressure (CPAP) in 40%, T-piece intermittent trial in 10%, and pressure support ventilation (PSV)in 6%. Mechanical ventilation weaning success rate was 88% and the failure rate was 12% (6 patients) which required re-intubation. The most widely used procedure for mechanical ventilation weaning at the ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung is T-piece once daily trial and the mechanical ventilation weaning success rate is 88%.Key words: Mechanical ventilation, success rate, weaning procedure  
Perbandingan Penambahan PePerbandingan Penambahan Petidin 0,25 mg/kgBB dengan Klonidin 1 µg/kgBB pada Bupivakain 0,25% untuk Blok Infraorbital pada Labioplasti Anak terhadap Lama Analgesia Pascaoperasi Dewi Ramadani; Iwan Fuadi; Abdul Muthalib Nawawi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.194 KB)

Abstract

Nyeri pascalabioplasti dapat dicegah dengan blok infraorbital bilateral. Penelitian bertujuan membandingkan lama analgesi blok infraorbital pascalabioplasti anak antara penambahan petidin 0,25 mg/kgBB dan klonidin 1 µg/kgBB pada bupivakain 0,25% menggunakan skala nyeri skor face, leg, activity, cry, consolability (FLACC). Penelitian prospektif, uji klinis acak terkontrol tersamar tunggal dilakukan bulan Maret–September 2013 pada 30 pasien status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) II, usia 3 bulan–1 tahun yang menjalani labioplasti dengan blok infraorbital bilateral di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek dibagi dua kelompok, masing-masing 15 orang. Kelompok BP menerima blok infraorbital dengan adjuvan petidin dan kelompok BK dengan klonidin. Setelah induksi anestesi, dilakukan blok infraorbital sebanyak 1 mL pada tiap sisi wajah. Analisis data dengan uji t menunjukkan perbedaan lama analgesi pascaoperasi yang sangat bermakna (p<0,01) antara kelompok BP (1.828 menit) dan kelompok BK (1.072 menit). Simpulan penelitian ini adalah penambahan petidin 0,25 mg/kgBB pada bupivakain 0,25% untuk blok infraorbital labioplasti anak memberikan analgesi pascaoperasi lebih lama dibandingkan dengan klonidin 1 µg/kgBB. Kata kunci: Blok infraorbital, bupivakain, klonidin, labioplasti, petidinComparison Addition of  Pethidine 0.25 mg/kgBW  with Clonidine 1 µg/kgBW in Bupivacaine 0.25%  to Infraorbital Block in Paediatric Labioplasty for Duration Post Operative Analgesia Post operative pain for labioplasty can be prevented by bilateral infraorbital block. This study aimed to compare the effectiveness addition of pethidine 0.25 mg/kgBW and clonidine 1 µg/kgBW to bupivacaine 0.25%  for postoperative analgesia using infraorbital block in paediatric labioplasty with a pain scale score face, leg, activity, cry, consolability (FLACC). The study was a single-blind randomized controlled trial from March to September 2013 involving  30 pediatric patients, physical status American Society of Anesthesiologist (ASA) II, ages 3 months–1 year for labioplasty surgery with bilateral infraorbital block  at  Dr. Hasan Sadikin Hospital  Bandung. Subjects were grouped into two groups: 15 subjects using adjuvant pethidine 0.25 mg/kgBW (BP) and 15 subjects using adjuvant clonidine 1 ug/kgBW (BK). After induction of anesthesia, infraorbital block done 1 mL on each side of the face. Data were analyzed by t test, showed a highly significant difference (p<0.01) in BP group compared with BK, the average length of postoperative analgesia 1.828 minutes (30 hours) vs 1072 minutes (18 hours). The conclusions is the addition of pethidine 0.25 mg/kgBW in bupivacaine 0.25%  to infraorbital block in paediatric labioplasty provide postoperative analgesia longer than of clonidine 1 µg/kgBW.Key words: Bupivacaine, clonidine, infraorbital block, labioplasty, pethidine DOI: 10.15851/jap.v2n2.302
Sindrom Burnout pada Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Dessy Sutoyo; Rudi Kurniadi Kadarsah; Iwan Fuadi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.207 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n3.1360

Abstract

Sindrom burnout didefinisikan sebagai kelelahan kronik yang mencakup tiga komponen, yaitu kelelahan emosional, depersonalisasi, dan berkurangnya kepuasan terhadap pencapaian pribadi. Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berisiko tinggi mengalami kelelahan dan sindrom burnout akibat beban kerja yang tinggi yang dihadapi baik dalam hal melakukan pelayanan dalam bidang anestesi dan beban dalam pendidikannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui angka kejadian sindrom burnout pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kuesioner yang dilakukan pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unpad yang masih aktif dan memberikan pelayanan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan April 2018 sebanyak 89 orang. Dilakukan penilaian menggunakan kuesioner yang mencakup data demografik, pendidikan dan pekerjaan, pencapaian prestasi pribadi, serta maslach burnout inventory yang sudah diterjemahkan. Hasil penelitian didapatkan angka kejadian sindrom burnout pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unpad adalah 44%. Simpulan penelitian ini adalah angka kejadian sindrom burnout pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unpad cukup tinggi, yaitu 44%.  Kata kunci: Depersonalisasi, kelelahan emosional, maslach burnout inventory, peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif, sindrom burnoutBurnout Syndrome among Anesthesiology Residents in Universitas PadjadjaranBurnout syndrome is defined as chronic exhaustion that is characterized by emotional exhaustion, depersonalization, and a sense of low professional accomplishment. The main component of this syndrome is emotional exhaustion. Residents who are being trained in anesthesiology and intensive therapy  department have s high risk to exhaustion that will lead to burnout syndrome due to stressful environment and high work load in both medical service and medical education. The purpose of this study was to assess the incidence of burnout syndrome among residents in Anesthesiology and Intensive Therapy Department, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran. This was a cross-sectional descriptive study on 89 residents that was performed in April 2018. Assessment was performed using a questionnaire on demographic, education, personal achievement, and medical service data as well as the translated Maslach Burnout Inventory to reveal the incidence of burnout syndrome among residents of Anesthesiology and Intensive therapy department, faculty of medicine, Universitas Padjadjaran. From the analysis, it was discovered that 44% of the residents experienced burned out syndrom. In conclusion, the incident of burn out syndrome among residents of Anesthesiology and Intensive Therapy Department, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran is high. Key words: Anesthesiology and intensive care residents, burnout syndrome, depersonalization, emotional exhaustion, Maslach burnout inventory
Gambaran Skor Apgar Pada Seksio Sesarea Dengan Anestesi Spinal dan Anestesi Umum di RSUP Dr. Hasan Sadikin Periode Januari – Juni 2019 Muhammad Adjie Pratama; Iwan Fuadi; Dzulfikar D. L. Hakim
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.89 KB) | DOI: 10.15851/jap.v8n1.1822

Abstract

Angka kelahiran melalui tindakan seksio sesarea di Indonesia terus meningkat. Penggunaan anestesi saat dilakukan seksio sesarea dapat memengaruhi luaran bayi yang dilahirkan. Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran skor Apgar pada tindakan seksio sesarea antara anestesi spinal dan anestesi umum di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian dilakukan dengan metode potong lintang deskriptif dengan menggunakan teknik total sampling. Data didapatkan dari rekam medis pasien yang menjalani tindakan seksio sesarea di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada periode 1 Januari 2019 hingga 30 Juni 2019. Hasil penelitian didapatkan 368 bayi dan 345 ibu dengan sebaran 248 (73,4%) ibu menggunakan anestesi spinal dan 90 (26,6%) menggunakan anestesi umum. Skor Apgar 5 menit bayi dengan anestesi spinal pada kategori 0–3 sebanyak 3 (1,1%), 4–7 sebanyak 18 (6,6%), dan 8–10 sebanyak 251 (92,3%). Skor Apgar 5 menit bayi dengan anestesi umum pada kategori 0–3 sebanyak 7 (7,3%), 4–7 sebanyak 14 (14,6%), dan 8–10 sebanyak 75 (78,1%). Simpulan dari penelitian ini adalah persentase skor Apgar bayi yang lahir melalui seksio sesarea dengan ibu diberi anestesi spinal lebih tinggi dibandingkan dengan anestesi umum. Overview of Apgar Score in Cesarean Section between Spinal Anaesthesia and General Anaesthesia at RSUP Dr. Hasan Sadikin inJanuary–June 2019The birth rate through the cesarean section in Indonesia continues to increase. The use of anaesthesia during cesarean section can affect the outcome of the newborns. The purpose of this study was to look at the description of Apgar’s score on the cesarean section between spinal anaesthesia and general anaesthesia at Dr. RSUP. Hasan Sadikin. The study was conducted with a cross-sectional descriptive method using a total sampling technique. Data were obtained from medical records of patients undergoing cesarean section at RSUP Dr. Hasan Sadikin in the period 1 January, 2019, to 30 June, 2019. The results showed 368 infants and 345 mothers with a distribution of 248 (73.4%) mothers using spinal anaesthesia and 90 (26.6%) using general anaesthesia. The 5-minute Apgar score of infants with spinal anaesthesia in the 0–3 category was 3 (1.1%), 4–7 was 18 (6.6%), and 8–10 was 251 (92.3%). Apgar scores for 5 minutes of infants with general anaesthesia in the 0–3 category were 7 (7.3%), 4–7 were 14 (14.6%), and 8–10 were 75 (78.1%). The conclusion of this study is the percentage of Apgar score of babies born through the cesarean section with mothers given spinal anaesthesia is higher compared with those given general anaesthesia.
Perbandingan Efek Pregabalin 150 mg dengan 300 mg Dosis Tunggal terhadap Nilai Numeric Rating Scale dan Kebutuhan Analgetik Pascabedah pada Pasien Histerektomi Abdominal - Elvidiansyah; Iwan Fuadi; Ruli Herman Sitanggang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.561 KB)

Abstract

Pregabalin memiliki efek antihiperalgesia, antialodinia, dan antinosiseptif. Penelitian bertujuan untuk membandingkan pregabalin 150 mg dengan 300 mg dosis tunggal 1 jam prabedah terhadap nyeri pascabedah dan kebutuhan opioid pada operasi histerektomi abdominal dalam anestesi umum. Uji klinik acak terkontrol buta ganda dilakukan terhadap 60 wanita (18–60 tahun) status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I–II di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Mei–Agustus 2013. Pasien dibagi menjadi dua kelompok yang menerima pregabalin 150 mg atau 300 mg. Analisis statistik data hasil penelitian menggunakan uji-t, chi-kuadrat, dan Uji Mann-Whitney. Pada penelitian ini ditemukan nilai numeric rating scale (NRS) saat mobilisasi pada kelompok pregabalin 150 mg dan pregabalin 300 mg  berbeda bermakna (p<0,05). Pemberian analgetik tambahan pascabedah antara kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0,05). Simpulan penelitian adalah pregabalin dosis 150 mg memiliki efek analgesia dan penambahan opioid yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan dosis 300 mg.Kata kunci: Histerektomi abdominal, numeric rating scale, nyeri pascabedah, pregabalinComparison Between the Effect of Single Dose 150 mg and 300 mg Pregabalin of Numeric Rating Scale Value and Post operative Analgesia Requirement  in Abdominal Hysterectomy PatientsPregabalin has the effect of anti hyperalgesia, anti allodynia, and anti nociception. This study aimed to compare single dose of 150 mg pregabalin with 300 mg pregabalin given 1 hour preoperatively in regards to postoperative pain and opioid requirements in abdominal hysterectomy patients. Double blind randomized controlled trial has been conducted on 60 women (18–60 years),  American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status I-II, who underwent abdominal hysterectomy in a double-blind randomized controlled trial under general anesthesia in Dr. Hasan Sadikin Hospital-Bandung within May to August 2013. Patients were divided into two groups whose received 150 mg pregabalin or 300 mg pregabalin pre operatively. Statistical analysis of research data is performed using the student’s t-test, chi square, and Mann-Whitney U-test. This study found that numeric rating scale (NRS) scores during mobilization in the 150 mg pregabalin group and 300 mg pregabalin were significantly different (p<0.05). There was no significant differences in postoperative supplemental analgesic administration between the two groups (p>0.05). The conclusion of the study is preoperative pregabalin dosage 150 mg and 300 mg has insignificant differences in its therapeutic effect and supplemental opioid.Key words: Abdominal hysterectomy, numeric rating scale, postoperative pain, pregabalin DOI: 10.15851/jap.v2n2.308
PENGARUH PEMBERIAN MINUMAN KARBOHIDRAT (MALTODEXTRIN 12,5%) PRAOPERASI TERHADAP KEJADIAN MUAL DAN MUNTAH PASCAMASTEKTOMI Andre Aditya; Iwan Fuadi; Iwan Abdul Rachman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v8n2.2039

Abstract

Mual dan muntah pascaoperasi (postoperative nausea and vomiting, PONV) menjadi masalah yang umum terjadi setelah operasi mastektomi dengan angka kejadian berkisar 21–92%. Pemberian minuman karbohidrat (CHO) praoperasi ditawarkan sebagai sebuah solusi menurunkan PONV dan juga merupakan salah satu komponen penting dan disarankan untuk mencapai enhanced recovery after surgery (ERAS). CHO berhubungan dengan penurunan katabolisme dan resistensi insulin pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian minuman berkarbohidrat (CHO) oral sebelum operasi terhadap tingkat kejadian PONV pascaoperasi mastektomi. Penelitian menggunakan eksperimental uji acak buta tunggal di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada November 2019–Februari 2020. Sebanyak 46 pasien dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok K (kelompok kontrol, air mineral, n=23 subjek) dan kelompok C (kelompok CHO, n=23 subjek). Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan Uji Mann-hitney. Kejadian mual muntah pada kelompok kontrol lebih besar dibanding dengan kelompok CHO pada menit 0–30 (57% vs 22%), pada menit 30–60 (91% vs 61%), dan pada menit 60–120 (78% vs 61%) dengan perbedaan yang bermakna (p<0,05). Simpulan, pemberian minuman karbohidrat praoperasi dapat menurunkan kejadian mual muntah pascamastektomi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Effect of Preoperative Oral Carbohydrate Supplementation (Maltodextrin 12.5%) on Post-Mastectomy Nausea and Vomiting Incidence Postoperative nausea and vomiting (PONV) is a common problem after surgery. Mastectomy is one of surgeries with a high-risk for PONV, which is seen in 21–92% of the patients. Preoperative carbohydrate (CHO) drinks are offered to reduce PONV. The provision of CHO is also important as it is recommended to obtain enhanced recovery after surgery (ERAS). CHO is associated with reduced catabolism and postoperative insulin resistance. This study aimed to determine the effect of oral carbohydrate (CHO) drinks before surgery on the incidence of postoperative PONV in mastectomy. This was an experimental single-blind randomized study conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) Bandung, Indonesia. A total of 46 patients were divided into two groups, namely group K (control group, mineral water, n=23 subjects) and group C (CHO group, n=23 subjects). Data collected were then analyzed using the Mann Whitney test and the results showed that during PONV incidence rates were significantly higher 0–30 minutes after the surgery (57% vs 22%),  30–60 minutes after the surgery (91% vs 61%), and 60–120 minutes (78% vs 61%) (p < 0.05). Therefore, the administration of preoperative carbohydrate drinks can reduce the incidence of postoperative nausea and vomiting in mastectomy. 
Perbandingan Penggunaan Topikal Spray Benzidamin HCl 0,15% dan Gel Lidokain 2% pada Pipa Endotrakeal terhadap Kejadian Nyeri Tenggorok Pascaintubasi Endotrakeal Maulana Muhammad; Iwan Fuadi; Abdul Muthalib Nawawi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1369.815 KB)

Abstract

Nyeri tenggorok setelah operasi sering terjadi dan merupakan hal yang tidak menyenangkan setelah tindakan anestesia dengan intubasi endotrakeal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan benzidamin HCl 0,15% lebih menurunkan angka kejadian nyeri tenggorok dibanding dengan lidokain gel 2% pada pasien pascaintubasi endotrakeal. Penelitian eksperimental secara randomized control trial (RCT) dilakukan pada 90 pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) I–II, usia 18–60 tahun yang menjalani operasi elektif di ruang operasi bedah sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Juni–Agustus 2014. Pasien dibagi dalam kelompok benzidamin, kelompok lidokain, dan kelompok NaCl. Selama operasi dicatat perubahan hemodinamik, tekanan balon pipa endotrakeal dipertahankan di bawah 25 mmHg, dinilai skala nyeri tenggorok pada 2 jam, 6 jam, dan 24 jam (T2, T6, T24) setelah operasi dan dilakukan uji statistik dengan uji-t, Uji Kruskal-Wallis, chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan angka kejadian nyeri tenggorok kelompok benzidamin lebih rendah dibanding dengan kelompok lidokain pada 6 jam setelah operasi (T6) dengan perbedaan yang bermakna (p<0,05). Simpulan penelitian ini menunjukkan spray benzidamin Hcl0,15% mampu mengurangi angka kejadian nyeri tenggorok pasca-anestesia endotrakeal dibanding dengan lidokain gel 2%.Kata kunci:  Anti-inflamasi, benzidamin HCl, lidokain gel, nyeri tenggorok pascaintubasiEffectiveness of Benzydamine HCl 0.15% Spray and Lidocaine 2% Gel on Post-operative Sore Throat IncidencePostoperative sore throat is common and unpleasant after endotracheal anesthesia. This study was conducted to determine whether the use of benzydamine hcl 0.15% can further reduce the incidence of sore throat compared to lidocaine gel 2% in patients under endotracheal anesthesia. This experimental study was a randomized control trial (RCT) in 90 patients with ASA physical status I–II, aged 18–60 years who underwent elective surgery in the central surgical operating room of Dr. Hasan Sadikin General Hospital during the period of June to August 2014. Patients were divided in benzydamine group, lidocaine group, and NaCl group. The hemodynamic changes were noted during surgery. The endotracheal tube cuff pressure was maintained below 25 mmHg and a graded scale for sore throat was performed at 2 hours, 6 hours, and 24 hours (T2, T6, T24) after surgery. Statistical tests using t-test, Kruskal-Wallis, and chi-square test were conducted. From the results, the incidence of sore throat in the benzydamine HCL group was significantly lower than in the lidoccaine HCL  group at 6 hours after surgery (T6; p<0.05). It is concluded that benzydamin HCL  0.15% spray is able to reduce the incidence of postoperative sore throat when compared to lidocaine 2% gel.Key words: Anti-inflammation, benzydamine HCL, lidocaine HCL , postoperative sore throat DOI: 10.15851/jap.v3n2.579
perbandingan excessive daytime sleepiness dengan normal daytime sleepiness terhadap fungsi kognitif serta waktu reaksi peserta ppds anestesiologi dan terapi intensif Army Zaka Anwary; Iwan Fuadi; Ardi Zulfariansyah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v9n2.2391

Abstract

Excessive daytime sleepiness (EDS) adalah ketidakmampuan untuk tetap terjaga pada siang hari yang menghasilkan rasa kantuk berlebih dan tertidur pada waktu yang tidak tepat. Prevalensi EDS yang tinggi ditemukan pada tenaga medis seperti peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif. Kondisi EDS dapat memengaruhi fungsi kognitif dan waktu reaksi. Tujuan penelitian ini adalah  membandingkan EDS dengan normal daytime sleepiness (NDS) terhadap fungsi kognitif serta waktu reaksi peserta PPDS Anestesiologi. Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif numerik dengan rancangan potong lintang yang dilakukan pada peserta PPDS Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran di bulan November 2020. Seluruh PPDS Anestesiologi mengisi kuisioner Epworth Sleepiness Scale (ESS) agar terbagi menjadi dua kelompok, kelompok EDS (n=23) dan kelompok NDS (n=23). Fungsi kognitif diukur menggunakan tes Montreal Cognitive Assessment versi Bahasa Indonesia dan waktu reaksi menggunakan perangkat lunak Personal Computer-Psychomotor Vigilance Task. Hasil penelitian menunjukkan fungsi kognitif lebih rendah pada kelompok EDS (26,74±1,096) dibanding dengan kelompok NDS (28,65±1,191) dan waktu reaksi lebih lambat pada kelompok EDS (337,38±62,021) dibanding dengan kelompok NDS (298,81±34,225). Simpulan penelitian adalah peserta PPDS Anestesiologi kelompok EDS memiliki fungsi kognitif lebih rendah dan waktu reaksi lebih lambat dibanding dengan peserta PPDS Anestesiologi kelompok NDS. Comparison between Excessive Daytime Sleepiness and Normal Daytime Sleepiness on Cognitive Function and Reaction Time of Anesthesiology and Intensive Care Residents Excessive daytime sleepiness (EDS) is the inability to stay alert during the day due to sleepiness during daytime, often associated with the tendency of falling asleep during inappropriate times. High prevalence of EDS was found among medical workers, such as anesthesiology residents. The condition is associated with increased secretion of cathecholamines, cortisol, and inflammatory mediators that may affect the prefrontal cortex, area of the brain that acts as a center for cognitive function and reaction time. The study aimed to compare EDS with normal daytime sleepiness (NDS) on cognitive function and reaction time of anesthesiology residents. The research was a numerical comparative analytic study with a cross-sectional design performed on anesthesiology residents of Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran in November 2020. All residents in the department were instructed to complete the Epworth Sleepiness Scale (ESS) questionnaire. After completion, the respondents were randomized using simple random sampling into two groups: the EDS group (n=23) and NDS group (n=23). Each group was assessed for cognitive function using the Indonesian version of the Montreal Cognitive Assessment and reaction time using the Personal Computer-Psychomotor Vigilance Task software. Lower cognitive function scores were found in EDS group (26.74±1.096) compared to NDS group (28.65±1.191); slower reaction time were found in EDS group (337.38±62.021) compared to NDS group (298,81±34.225). Both variables had shown significant differences between both groups  (p<0.05). The study had concluded that anesthesiology residents with EDS have lower cognitive scores and slower reaction time compared to anesthesiology residents with NDS.     
GAMBARAN ACUTE PHYSIOLOGIC AND CHRONIC HEALTH EVALUATION (APACHE) II, LAMA PERAWATAN, DAN LUARAN PASIEN DI RUANG PERAWATAN INTENSIF RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. HASAN SADIKIN BANDUNG PADA TAHUN 2017 Bramantyo Pamugar; Erwin Pradian; Iwan Fuadi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.438 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n3.1344

Abstract

Skor acute physiologic and chronic health evaluation (APACHE) II, lama perawatan, dan luaran pasien merupakan indikator penting di Intensive Care Unit (ICU). Ketiga indikator ini dapat berbeda dari satu dengan tempat lain. Ketiga indikator ini dapat dibandingkan di tempat lain untuk meningkatkan pelayanan ICU. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran skor APACHE II, lama perawatan, dan angka mortalitas pada pasien yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2017. Metode yang digunakan adalah deskriptif observasional yang dilakukan secara retrospektif terhadap 303 objek penelitian. Objek penelitian diambil di bagian rekam medis pada bulan April 2018. Penelitian ini memperoleh hasil skor APACHE II berkisar 0−56  dengan rerata 16,68, angka mortalitas sebesar 130 (42,3%), dan lama perawatan berkisar 2−79 hari dengan rerata 9,89 hari. Data skor APACHE II terhadap angka kematian berbeda dengan Amerika Serikat yang dapat dikarenakan perbedaan acuan prediksi mortalitas, underestimation derajat keparahan pasien cedera kepala, bias yang disebabkan oleh penatalaksanaan pasien pre-ICU, dan satu waktu pemeriksaan skor APACHE II.Kata kunci: APACHE II, ICU, lama perawatan, luaran pasienOverview of Acute Physiologic and Chronic Health Evaluation (APACHE) II, Length of Stay, and Patient Outcome in the Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital in 2017The APACHE II score, length of stay, and patient outcome are important indicators in Intensive Care Unit (ICU). Those indicators could be different from one place to another and can be compared to increase the quality of health services in ICU. The purpose of this study was to describe acute physiologic and chronic health evaluation (APACHE) II, length of stay, and mortality rate of patients at the ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from January 1 to December 31, 2017. This was a retrospective descriptive observational study on 303 patient medical records. It was revealed that the APACHE score was ranging from 0−56 (mean =16.68); the mortality rate was 42.9% (n=130); and the length of stay was 2−79 days (mean 9.89 days). This suggests a gap in these indicators between Dr. Hasan Sadikin General Hospital and hospitals in the United States of America which may be due to differences in the the standard that is used to predict the mortality rate, underestimation of severity of head injury, treatment before admission to ICU, and single time assessment of APACHE II.Key words: APACHE II, ICU, length of stay, outcome
Functional Status of Stroke Patients at Neurologic Outpatient Clinic Dr. Hasan Sadikin General Hospital Lee Shok Chen; Marina A. Moeliono; Lisda Amalia
Althea Medical Journal Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.992 KB)

Abstract

Background: Functional status refers to the ability of an individual to perform normal daily activity required to meet basic needs, fulfill usual roles, and maintain health and well-being. The objective of this study was to evaluate the level of disability and independency of stroke patients who had undergone rehabilitation therapy as the routine activity using Instrumental Activity of Daily Living (IADLs) and basic Activity of Daily Living (BADLs). Methods: This descriptive study carried out from September to October 2014 at Neurologic outpatient clinic Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung with a total 33 subjects. Barthel index and IADLs questionnaire was used as an instrumental tool. Barthel index was used to measure the level of disability and IADLs was used to measure the level of independency of an individual.Results: From the 33 patients, 20 patients completed their rehabilitation therapy; 5 patients showed a moderate disability and 15 patients showed a mild disability at the Barthel Index of ADLs. The result of IADLs showed that 7 patients who completed the therapy had moderate level of independency, and 3 patients were at the category of high level of independency.Conclusions: Most of the stroke patients have moderate disability in Barthel Index and had low level of independency in IADLs. [AMJ.2016;3(1):126–31] DOI: 10.15850/amj.v3n1.720
Co-Authors - Elvidiansyah - Elvidiansyah A Himendra Wargahadibrata A Himendra Wargahadibrata A. Muthalib Nawawi A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdul Muthalib Nawawi Abdul Muthalib Nawawi Abdul rachman, Iwan Abdul Rahman Adnin Nugroho Adriana Damayanti Afdi Arahim Putra Agnes Rengga Indrati Agus Susanto Agusti Setiabudi Pramata Ahmad Doni ahmad doni Ahmad Rizal ahmad rizal Ahmad Rizal Ahmad Rizal Ahmad Rizal Ganiem Ahmad Rizal Ganiem, Ahmad Rizal Aih Cahyani Aisyah Ummu Fahma Al Rasyid Amanda Diannisa Azzahra Amany Khansa Amaylia Oehadian Aminuyati Anam Ong Anam Ong Ananda Pratama Kesumaningtyas Gunawan Andi Basuki Prima Birawa Andi Basuki Prima Birawa Andi Basuki Prima Birawa Andre Aditya Andre Tanuwijaya, Andre Andy Hutariyus Anindyta Murfia Khairunnisa Ardhana Risworo Anom Yuswono Ardhana Risworo Anom Yuswono Ardi Zulfariansyah Ardi Zulfariansyah Ardi Zulfariansyah Ardiana Ari Saptadi Ari Saptadi Aries Saifudin Ariestian, Erick Army Zaka Anwary, Army Zaka Arna Fransisca Arsy Felisita Dausawati Arsy Felisita Dausawati Arviana Adamantina Putri Asep Nugraha Hermawan Asep Nugraha Hermawan Asep Nugraha Hermawan Asyer Asyer Ayu, Auliya Putri Badriyah, Nur’aini Jamilatul Berliana, Sobaryati Biben, Vitriana Bisri, Tatang https://scholar.google.co.id/citations?u Bramantyo Pamugar Calista, Chandra Cep Juli Chandra Calista Citra Windani Mambang Sari Dedi Fitri Yadi Defri Aryu Dinata Defri Aryu Dinata, Defri Aryu Dessy Sutoyo Dewi Ramadani Dewi Ramadani Dewi Yulianti Bisri Dian Novitasari Doddy Tavianto Dzulfikar D. L. Hakim Eka Damayanti Eko Nofiyanto Eppy Buchori Eppy Buchori Aristiady Eri Surahman Eri Surahman Erick Ariestian Erwin Pradian Eva Srigita Tari Ezra Oktaliansah Fadila Arsanti Fahma, Aisyah Ummu Fauzan Musyaffa Fifi Veronica Firdaus, Riyadh Fithrah, Bona Akhmad Fithrah, Bona Akhmad Fitri Sepviyanti Sumardi Fitri Yanti Gaga Irawan Nugraha Galuh Saputri Ginna Megawati Glenn Mark Togu Gloria Kartika Gunadharma, Suryani Guntur Darmawan Hamzah Hamzah Hanna Goenawan Hanna Goenawan Hansen Wangsa Herman Haqun Baitika Harahap, M Sofyan Harry Galuh Nugraha Hartiah Haroen Hermawan, Asep Nugraha Hidayat, Dede A Hidayat, Faqih Hidayat, Shaffana Hilman Hilman Hunter D. Nainggolan Hunter D. Nainggolan Ida Parwati Ike Sri Redjeki Ike Sri Redjeki Indra Wijaya Indriasari Indriasari Islami, Aditya Iwan Abdul Rachman Jerico Franciscus Pardosi Jimmy Setiadinata Jimmy Setiadinata, Jimmy Jonathan Jeremi Siagian Kartapraja, Roni D. Kartika, Gloria Khairunnisa, Shafa Ayu Khofifah Nurfaisah Lailiyya, Nushrotul Laniyati Hamijoyo, Laniyati Lee Shok Chen Lee Shok Chen, Lee Shok Leni Lismayanti Liunardo Bintang Pratama Lukman Hidayat Lulu Eva Rakhmilla, Lulu Eva M Andy Prihartono M. Erias Erlangga M. Erias Erlangga, M. Erias Maharani, Nurmala Dewi Mariko Gunadi Mariko Gunadi Marina A. Moeliono Marina A. Moeliono, Marina A. Martaria, Nency Martinus, Fardian Martinus, Fardian Maulana Muhammad Maulana Muhammad, Maulana Mayasari, Ferra Mayasari, Ferra Millata Azma Basmala Muhammad Adjie Pratama Muhammad Mustofa Ramadhan Nadya, Siti Fairuz Nandina Oktavia Nani Kurniani Nesyia Tara Restikasari Neti Juniarti Nur Atiik Nurmin, Rahmawati Nurohman Nushrotul Lailiyya Nushrotul Lailiyya Nushrotul Lailiyya Dahlan Oktivia, Wenny Ong, Paulus Anam Pamugar, Bramantyo Pandji Irani Fianza Paranita Utama Paulus Anam Ong Paulus Anam Ong Paulus Anam Ong Pison, Osmond Muvtilof Pramodana, Bintang Prihatno, M. Mukhlis Rudi Putri, Dini Handayani R, Tubagus Yuli R, Tubagus Yuli Radian Ahmad Halimi Rahmadsyah, Teuku Rahmatisa, Dimas Rahordjo, Sri Ramdan Panigoro Reihan Achmad Reza Reza W. Sudjud Ria Bandiara Richard Pahala Sitorus Rico Defryantho,* Lisda Amalia,* Ahmad Rizal,** Suryani Gunadharma,* Siti Aminah,* Nushrotul Lailiyya* Rini Rustini Rita Arsika Fauziah Riyadh Firdaus Rizkia, Fildza Intan Rizky Gimnastiar Roni D. Kartapraja Rudi Kurniadi Kadarsah Ruli Herman Sitanggang S, Achmad Afif Saleh, Siti Chasnak Saleh, Siti Chasnak Saprudin Saprudin Saputra, Gilang Nispu Sari, Kartika Indah Setiawan Setiawan Shenny Dianathasari Santoso Sidabutar, Berliana Sitanggang, Ruli H. Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Siti Aminah Sobana Siti Nur Fatimah Sitorus, Richard Pahala Siuliyanty, Siuliyanty Sobaryati Sobaryati Sobaryati Sobaryati Sobaryati, Sobaryati Sofiati Dian Sri Rahardjo Sri Rahardjo Sudadi Sudadi Sukmawati, Rani Suryadi Suryadi Suryani Gunadharma Suryani Gunadharma Suryani Gunadharma Sutoyo, Dessy Suwarman, S Suwarman, S Syifa, Nadia Syifa, Nadia Tantarto, Tamara Tatang Bisri Tatang Bisri Theresia C. Sipahutar Theresia C. Sipahutar Theresia Monica Rahardjo Thomas Thomas Tiara Pramaesya Tiene Rostini, Tiene Tinni T. Maskoen Tinni T. Maskoen Tinni T. Maskoen Trislawati, Cristina Trully Deti Rose Sitorus Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani Uni Gamayani, Uni Vania Angeline Bachtiar Verolia Yunita Putri Wandira, Rega Dwi Wardhani, Ildzamar Haifa Wardoyo, Chandra Calista Wargahadibrata, A. Hmendra Wargahadibrata, A. Hmendra Widiastuti, Monika - Wildan Firdaus Wirayuga Rizkia Suwahyo Yovita Stevina Yunita Susanto Putri Yunita Susanto Putri Yusuf Wibisono Yusuf Wibisono Zamzami, Nyiemas Moya Zamzami, Nyiemas Moya