Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Jurnal Diskursus Islam

KORELASI ANTARA KEMAMPUAN BAHASA ARAB DENGAN PEMAHAMAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN TERHADAP SISWA KELAS XII MADRSAHALIYAH AL-AMANAH KOTA BAUBAU Karim, Ahmad; Abubakar, Achmad; Kasim, Amrah
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 3 (2018): December
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i3.6546

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tingkat kemampuan bahasa Arab dan tingkat pemahaman ayat-ayat al-Qur’an serta korelasi antara keduanya terhadap siswa kelas XII Madrasah Aliyah (MA) Al-Amanah Baubau. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field reseach) bersifat kuantitatif dalam bentuk ex-post facto atau kasual komparatif karena penelitian ini berusaha mencari informasi tentang hubungan sebab akibat dari suatu peristiwa. Data dikumpulkan melalui tes (soal) dari hasil jawaban Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN). Hasil penelitian dan pembahasan: (1) Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menjawab tes soal bahasa Arab dan al-Qur’an pada Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional. Tingkat pemahaman siswa kelas XII MA Al-Amanah Baubau dapat menerima/menyerap pelajaran al-Qur’an dengan sangat positif dan signifikan; (2) Korelasi antara tingkat kemampuan bahasa Arab dengan tingkat pemahaman ayat-ayat al-Qur’an dipengaruhi oleh kemampuan bahasa Arab siswa kelas XII MA Al-Amanah Baubau. Penelitian ini dapat memberi sumbangsih pemikiran dan pengetahuan bagi siswa dan guru agar lebih giat menguasai dan memahami pembelajaran bahasa Arab dan al-Qur’an, menjadi referensi atau rujukan yang relevan bagi kaum akademisi, lembaga pendidikan atau institusi penelitian lainnya dalam melakukan kajian dan penelitian yang terkait dengan tingkat kemampuan bahasa Arab dan tingkat pemahaman ayat-ayat al-Qur’an di MA Al-Amanah Baubau.
USLUB AL-INSYA DALAM QS. AL-MAIDAH (KAJIAN ANALISIS BALAGAH) Marhaban, Marhaban; Khalid, Rusydi; Kasim, Amrah
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 3 (2018): December
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i3.6557

Abstract

Artikel ini merupakan penilitian terhadap QS al-Maidah dengan memfokuskan kepada bentuk-bentuk analisis uslub insya dengan menjadikan disiplin ilmu balagah sebagai tolak ukur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah: metode kualitatif melalui pendekatan bahasa yaitu kaidah bahasa Arab ilmu balagah untuk dianalisa dalam QS. al-Maidah. Pemilihan apsek ini menjadi fokus penelitian berangkat dari adanya fenomena pemisah kajian nahwu, sharaf dan balagah yang memiliki kemiripan pembahasan pada objek kajian uslub insya. Analisis terhadap qur’an surah al-Maidah tampak sangat memperhatikan makna yang terkandung dibalik uslub insya. Oleh sebab itu, penulis dalam mengkaji uslub tersebut tidak hanya melihat dari aspek struktur dan pola pembentukannya semata, akan tetapi lebih jauh mempertimbangkan aspek makna. Hasil penelitian ini, dapat dikemukakan bahwa uslub insya’  dalam Surat al-Maidah 68 ayat  yaitu  amar (perintah) 27, nahi (larangan) 14 ayat,  istifham (pertanyaan) 9, nida’ (panggilan) 16, dan tamanni (harapan) 2 ayat. Adapun  dilihat dari segi bentuknya,  ayat-ayat Surat al-Maidah terdapat berbagai bentuk uslub insya’ yang meliputi amar (perintah), nahi (larangan), istifham (pertanyaan), nida’ (panggilan), dan tamanni (harapan). Adapun dari segi makna uslub insya’ mempunyai makna haqiqi yaitu makna asli dan makna idhafi di antaranya adalah ta’jiz (melemahkan), iltimas (ungkapan kepada yang sebaya), tahdid (ancaman), irsyad (petunjuk), dan doa (permohonan), taubikh (menghina) dan taqrir (penegasan).ABSTRACTThe purpose of this reseach is to analyse form and meaning of uslub insya’ in surah al-maidah. This reseach is using the descriptive method of content analysis. The procedur of data analysis includes tables and classification of uslub insya’. The result of this reseach reveals that there are 68 verses of uslub insya’  in surah al-Maidah. Those are amar (command) 27 verses, nahi (prohibition) 14 verses, istifham (question) 9 verses, nida’ (call) 16 verses, and tamanni (hope) 2 verses. According to its form, uslub insya’ in surah al-Maidah has several forms including amar (command), nahi (prohibition), istifham (question), nida’ (call), and tamanni (hope). Based on the meaning, uslub insya’ has two meanings. The first is denotative (haqiqi) and the second is connotative (idhafi). Denotative means the sentence expression does not have a certain purpose, while connotative means the sentence has a certain purpose depends on the context and the situation expressed by the sentence. The other meanings of uslub insya’  that can be found in the verses of surah al-maidah are ta’jiz (weaken), iltimas (expression to the same age), tahdid (threat), irsyad (guidance), doa (prayer), taubikh (insult), and taqrir (confirmation).
BENTUK-BENTUK TAKRĀR DALAM AL-QUR’AN MENURUT TINJAUAN BALAGAH (STUDI PADA JUZ AMMA) Amir, Amir; Khalid, M Rusydi; Garancang, Sabaruddin; Kasim, Amrah
Jurnal Diskursus Islam Vol 5 No 3 (2017): December
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v5i3.7060

Abstract

Tulisan ini mengetengahkan mengenai ayat-ayat takrār d dalam Juz ‘Amma suatu  tinjauan  Bala>gah, dalam konteks bentuk-bentuk takrar. Penelitian ini dapat dikatagorikan ke dalam penelitian kepustakaan (libraryresearch). Sumber data primer mencakup buku-buku bala>gah, linguistik, mu’jam-mu’jam leksikal bahasa Arab yang diangap standar, kitab-kitab tafsir, dan bahan-bahan tertulis lainnya yang representatif yang ada relevansinya dengan penelitian. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan interdisipliner dalam penelitian ini, mengingat bahwa ilmu balagah memiliki keterkaitan erat dengan sejumlah sub disiplin ilmu kebahasaan, meliputi ilmu nahwu, s}arf, semantik, linguistik, tafsir, dan sebagainya. Sedangkan pendekatan bala>gah dijadikan sebagai pedoman untuk melihat pola perubahan komunikasi dalam sebuah alur pembicaraan dan efek makna yang ditimbulkan. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan tehnik-tehnik survey kepustakaan, studi literatur, membaca ayat-ayat al-Qur’an secara berulang-ulang, mencatat ayat-ayat al-Qur’an yang dianggap takār dan letaknya dalam surah dan nomor ayat, dan mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang ada pada Juz ‘Amma (Juz 30) yang mengalami perulangan (takrar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat dalam al-Qur’an yang mengalami perulangan (takrar) ternyata mengandung banyak bentuk takrar, Faedah takrar, makna takrar,  dan ide terpenting di dalamnya yang harus dipahami oleh manusia. Takrar pada dasarnya menunjukkan sebuah kata atau kelompok kata yang mendapat perulangan itu dianggap penting, karena merupakan fikiran inti yang harus lebih ditonjolkan dari unsur-unsur teks yang lain. Bentuk-bentuk takrar  yang banyak didapati dalam al-Qur’an adalah pada kisah-kisah.
KONFLIK PERKAWINAN DI KABUPATEN SAMBAS Harjanti, Sri; Amin, Muliaty; Ali, Baharuddin; Kasim, Amrah
Jurnal Diskursus Islam Vol 5 No 2 (2017): August
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v5i2.7285

Abstract

Tulisan ini akan mengurai tentang konflik perkawinan yang terjadi di Kabupaten Sambas. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field Reaseach) dengan sifat penelitian deskriptif-analitik. Tipe pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi, pendekatan dakwah, sosiologi komunikasi dan resolusi konflik. Sumber data primer yaitu pihak Kantor Urusan Agama (KUA), Pengadilan Agama dan pasangan suami istri yang mengalami konflik perkawinan di Kabupaten Sambas. Sedangkan sumber data sekunder adalah berupa buku, arsip, dokumen, catatan-catatan yang berkenaan dengan penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara (interview) dan dokumentasi. Aktivitas dalam analisis data meliputi kualitas instrumen dan pengumpulan data. Teknik pengolahan dan analisis data triangulasi, menggunakan bahan referensi, mengadakan member check. Data diuji keabsahan data dalam penelitian ditekankan pada uji validitas dan reabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis konflik perkawinan dalam  rumah tangga di Kabupaten Sambas yaitu: faktor pertengkaran, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan faktor suami mabuk. Faktor pertengkaran dilatarbelakangi oleh tidak adanya kesepahaman suami dan isteri, suami pemakai oba-obat terlarang dan suka main judi. Kekerasan dalam rumah tangga berakibat penderitaan fisik maupn psikis. Bentuk kata-kata kasar dan jorok dari suami membuat isteri tersinggung,  dilecehkan, tertekan akibat perkataan dan sikap suami; Faktor ekonomi Ekonomi disebabkan tingkat pendapatan suami dibandingkan isteri, isteri tidak dapat mengatur pendapatan suami dengan bijak, ketidakjujuran isteri terhadap suami. Meninggalkan Pasangan, Selingkuh (wanita Idaman Lain/ Pria Idaman Lain) dan Poligami; Faktor  dihukum penjara, murtad dan kawin paksa.
SIMBOL MITOLOGI DALAM KARYA SASTRA TEKS AL-BARZANJI (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA PASAL 4) Mirnawati, Mirnawati; Kasim, Amrah; Aliah, Abd. Rauf
Jurnal Diskursus Islam Vol 4 No 3 (2016)
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v4i3.7330

Abstract

Tulisan ini membahas tentang pendekatan semiotika Roland Barthes terhadap karya sastra al-barzanji. Jenis penelitian ini adalah penelitian library research dengan pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan linguistik dan semiotika. Adapun sumber data penelitian diperoleh langsung dari teks al-barzanji serta penelusuran berbagai literatur atau referensi. Data dikumpulan dengan memilih dari beberapa pasal dalam barzanji kemudian memilah dan menganalisis leksia per leksia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada 5 pasal tersebut, setiap pasalnya dimulai dengan kata وَلَمَّا yang penulis bedah menjadi 87 leksia. Selanjutnya penulis analisis teks tersebut dan mengkategorikan 16 leksia mengandung kode hermeneutika, 13 leksia tergolong kedalam kode gnomik/budaya, 33 leksia yang termasuk kode prioretik/aksi, 11 leksia terkandung kode semik/konotatif dan terakhir kode simbolik terdapat dalam 14 leksia yang ada pada teks tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pendekatan pembacaan semiotik Roland Barthes, bisa katakan bahwa Abu Ja’far Al-Barzanji menulis karya sastra ini tidak sekedar mengungkapkan kekagumannya terhadap Rasulullah saja saw., tapi juga mengisahkan secara tersirat budaya-budaya bangsa Arab khususnya di wilayah Makkah dan Negeri Syam. Simbol mitologi pada 5 pasal yang dikaji masih mengalami eksistensi hingga saat ini, meliputi: hakikat status yatim, Bani Najjar, juru kunci Ka’bah atau Bani Syaibah, usia Rasulullah saw. menginjak 4 tahun, Umur saat pernikahan Rasulullah saw., Umur ketika Nabi saw. diangkat menjadi Rasul Allah, simbol mitologi mimpi, serta Mahallul Qiyam disetiap pembacaan al-barzanji khusunya pada pasal 4, hingga saat ini masih tetap berlaku. Dan juga kata Atthir di setiap awal pasalnya, pada dasarnya kata ini termasuk kinayah yang bisa bermakna asli dan bisa juga tidak, namun jika dijabarkan bahwa keharuman bau harum yang disandarkan kepada Nabi saw. dalam bentuk rahmat. Implikasi dari penelitian ini adalah 1) Al-Barzanji adalah sebuah karya sastra yang paling akrab ditelinga bisa dikaji melalui berbagai pisau pendekatan, baik dari balaghah, Ilmu Arudh, Semantik, Sintaksis, dan berbagai cabang disiplin ilmu kebahasaan dan kesusastraan yang lainnya. Hal tersebut bisa menjadi salah satu sudut pandang bagi kaum intelektual muda di tengah maraknya isu bid’ah dan haram terkait barzanji. 2) Isi teks dari barzanji bukan hanya tentang syair namun juga sirah Rasulullah serta gambaran kondisi budaya Arab saat itu, tentu hal ini bisa juga menjadi bahan perbandingan bagi penggelut sejarah keislaman maupun sirah Nabawiyah. 3) Dengan adanya penelitian ini kedepannya bisa memberi sumbangsih terhadap penelitian selanjutnya, khususnya penelitian dibidang semiotika, bahasa dan sastra. Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih membutuhkan pengkajian yang lebih dalam maka dibutuhkan saran dan masukan yang membangun demi kebaikan penulisan ke depannya.
FUNGSI DAN TUJUAN KEWARISAN MENURUT AL-QUR’AN Suaidah, Idah; Khalid, Rusydi; Abubakar, Achmad; Kasim, Amrah
Jurnal Diskursus Islam Vol 7 No 2 (2019): August
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v7i2.10480

Abstract

Tulisan ini secara spesifik mengkaji tentang urgensi kewarisan menurut al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah kualitatif menggunakan sistem penelitian kepustakaan (library research). Pendekatan yang digunakan adalah ilmu tafsir. Dalam pelaksanaan penelitian ini digunakan  metode mauḍu’i. Sumber primer, yaitu al-Qur’an, yakni ayat-ayat yang berkaitan dengan kewarisan. Sumber sekunder,  yakni kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Ibnu Kas|i>r yang disusun oleh ibnu Kas|i>r, Tafsir al-Mana>r yang disusun oleh Muhammad Rasyid Rid}a>, atau buku-buku yang dipandang sebagai referensi yang representatif,  yang dapat memberikan keterangan dan informasi mengenai persoalan kewarisan. Dari sini kemudian dijelaskan dengan mengemukakan pandangan dan melakukan perbandingan dalam menganalisis serta memberikan interpretasi lebih lanjut. Pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah kualitatif. Data disusun berdasarkan kerangka pembahasan untuk memperoleh gambaran konsep al-Qur’an tentang kewarisan. Teknik interpretasi yang digunakan adalah interpretasi tekstual, sosio historis, teleologis, dan sistemik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Urgensi kewarisan dalam al-Qur’an, yaitu pertama, al-Qur’an mendudukkan anak bersamaan dengan orang tua pewaris serentak sebagai ahli waris. Dalam kewarisan di luar Islam, orang tua baru mungkin mendapat harta warisan jika pewaris meninggal dunia tidak memiliki keturunan. Kedua, al-Qur’an  memberi  kemungkinan saudara beserta orang tua (minimal dengan ibu) pewaris yang meninggal tanpa memiliki keturunan sebagai ahli waris.  Ketiga, suami-istri saling mewarisi. Hal ini bertolak belakang dengan tradisi Arab jahiliyah yang tidak memberikan warisan harta kepada istri, bahkan menjadikan istri sebagai  salah satu bentuk harta warisan. Keempat, adanya perincian  bagian tertentu bagi orang-orang tertentu dalam keadaan tertentu, sebagaimana dijelaskan dalam QS al-Nisa>’/4: 11, 12, dan 176. Kelima, kewarisan berkaitan langsung dengan harta benda yang apabila tidak diberikan ketentuan-ketentuan (rincian bagian masing-masing), maka sangat mudah menimbulkan sengketa bagi ahli waris, sedangkan Islam merupakan agama yang menghendaki perdamaian dalam segala bidang, termasuk mempunyai komitmen preventif dari  segala hal yang dapat merusak persatuan dan kesatuan umat. Keenam, Rasululah saw. berpesan kepada umatnya agar mempelajarinya dan menyebut ilmu ini sebagai separuh ilmu.
أصناف الأفعال المضارعة المقترنة بلفظ الشيطان في القرآن الكريم (دراسة تحليلية دلالية تطبيقية) Fauziah, St; Kasim, Amrah; HS, Najamuddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 8 No 3 (2020): December
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v8i3.17793

Abstract

يبحث هذا البحث عن الأفعال المضارعة المقترنة بلفظ الشيطان في القرآن الكريم. وأما أهداف من هذا البحث فهي لكشف المعاني عن الأفعال المضارعة المقترنة بلفظ الشيطان. وفي الإجابة هذه المشكلة، تستخدم الباحثة تقريب دلالة، يعني دلالة معجمية ودلالة نحوية، ودلالة سياقية. لأن في هذا البحث يدرس عن الكلمات ومعنى الكلمات في الجمل. وهذا البحث فهو البحث المكتبي. تجمع البيانات من المعلومات المختلفة المتصلة بالموضوع أو المشكلات المتعلقة بالبحث، مثلا من الكتب والمجلات والملاحظات وغيرها. وحللت ثم استنتجت من البيانات المتوافرة، واختيار الأشياء الرئيسية مع التركيز على الأشياء المهمة. وأما نتائج هذا البحث هي لخصائص هذا البحث فكما يلي: أما إذا ألفاظ الشيطان والشياطين تصير الفاعل من الأفعال المضارعة فتبحث تلك الآيات عن كيفية الشياطين من الجن والإنس يحثّ الناس إلى الظلمات والنار. واما إذا ألفاظ الشيطان والشياطين تصير المفعول به من الأفعال المضارعة فتبحث تلك الآيات عن منع اتباع الشياطين وخطواتها وعن عبادتها. واما إذا ألفاظ الشيطان تصير المبتدأ من الأفعال المضارعة فتبحث تلك الآيات عن كيفية الشيطان يدعو الناس للفقر والفحشاء، ويُخيف الناس من غير الله. واما الأفعال المضارعة إذا اقترنت بلفظ الشيطان وتكون ألفاظ الشيطان مجرورا بعدها، فتبحث تلك الآيات عن كيفية طريقة ابتداع فتنة الشيطان، وكيفية طريقة استعاذة من الشيطان
THE APPLICATION OF THE SEMIOTICS OF QUR’AN TOWARD THE STORY OF THE CHOSEN SERVANTS IN SURAH MARYAM Soga, Zainuddin; Mardan, Mardan; Tola, Achmad; Kasim, Amrah; Abunawas, Kamaluddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 9 No 2 (2021): August
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v9i2.22868

Abstract

This study elaborates the application of semiotic theory in Surah Maryam (Maryam). This study is library research. The library research was conducted through various literature studies related to the problem investigated. The approach used is a semiotic approach. The data sources are divided into two; primary and secondary data. The primary data source is the Qur'an (surah Maryam) and the secondary data sources are books of interpretation, semiotics and linguistics. The data collection is done by quoting, adapting, and analyzing the representative literature and relevant to the problems discussed, then reviewing and concluding. The study results showed three forms of semiotic application in Surah Maryam: first, semiotics of significance from Ferdinand de Saussure's (synchronic-diachronic theory). Second, semiotics of communication from Charles S. Peirce's includes iconic, indexical, and symbolic theories. Third, connotative semiotics from Roland Barthes' which consists of denotative meaning and connotative meaning. This study implies that the semiotic reading of the Qur’an prioritizes the interpretation of the text in a synchronic and diachronic, denotative and connotative way. Hopefully, by this reading, religious and Islamic moderation could be achieved.