Articles
Manajemen Pendidikan Agama Kristen Sebagai Sarana Pengembangan Karakter Anak
Elsudarma Santi Helena;
Bernadetha Nadeak;
Lamhot Naibaho
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jpdk.v5i1.11624
Pendidikan karakter selalu menjadi tantangan tersendiri. Banyak anak memiliki intelektualitias yang baik tapi mereka tidak punya karakter yang seimbang. Akibatnya, mereka banyak melakukan kesalahan sehingga potensi intelektualitas mereka menjadi tersia siakan. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kepustakaan, penelitian ini dilakukan untuk mengupayakan manajemen PAK dalam pengembangan karakter anak. Penelitian dilakukan dengan mengelaborasikan pendidikan karakter dengan pola manajemen pendidikan. Melalui penelitian ini dihasilkan sebuah projek yang relevan untuk pendidikan karakter membangun Pendidikan agama Kristen yang berdasarkan kurikulum yang sistematis dan mendekatkan anak pada nilai-nilai Kristianitas.
Merancang Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Milenial (Menjawab Tuntutan Kecakapan Abad 21 di Era Milenial)
Esther Bessie;
Bernadetha Nadeak;
Lamhot Naibaho
Journal on Education Vol 5 No 2 (2023): Journal on Education: Volume 5 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/joe.v5i2.962
The millennial era with all its progress presents its own needs and challenges in the field of education, including Christian religious education. Not just needs and challenges, Christian religious education also needs to find opportunities so that its duties towards fulfilling the needs of the millennial generation can still be carried out. It is necessary to design a millennial Christian religious education curriculum that is based on Bible teachings, which can meet the development of 21st century competencies without neglecting all the components that must be integrated in it. This article emphasizes the Christian religious education curriculum to build 21st century skills that are integrated with character building and literacy competence, as well as paying attention to the characteristics of the millennial generation. This research was carried out using descriptive qualitative research methods, by collecting important information from various print and digital sources. The author finds that it is necessary to design a millennial Christian religious education curriculum to answer the challenges of 21st century competence. This curriculum design is useful for preparing meaningful 21st century learning in order to produce a generation of golden Indonesian Christians who are competent in the 21st century and have strong character as a generation who fear God
Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Pola Manajemen POACE untuk Penanganan Menyontek di Sekolah
Emma Monica Siahaan;
Bernadetha Nadeak;
Lamhot Naibaho
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jpdk.v5i1.11773
Menyontek bukanlah budaya yang baik dan seharusnya ada untuk terjadi di sekolah, secara khusus sekolah Kristen yang mengajarkan pembelajaran pendidikan agama Kristen kepada siswa. Selain karena perilaku menyontek tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran pendidikan agama Kristen, perilaku menyontek juga tidak sesuai dengan tujuan pendidikan secara nasional. Akan tetapi perilaku menyontek tidak terhindarkan terjadi di sekolah, siswa melakukannya sebagai pilihan yang dianggap menguntungkan bagi mereka. Maka dari itu sekolah harus melakukan tindakan yang bijak untuk menangani permasalahan ini. Secara khusus pendidikan agama Kristen melakukan perannya dalam pola manajemen POACE (planning, organizing, actuating, controling, evaluating) untuk menangani perilaku menyontek di sekolah Kristen yang sudah menjadi budaya. Pola manajemen POACE ini tidak dapat hanya dikerjakan oleh satu pihak, melainkan harus dikerjakan oleh semua pihak, yaitu Bimbingan Konseling Sekolah, Guru Pendidikan Agama Kristen, Guru bidang studi, Wali kelas dan orangtua siiswa. Sehingga penangan masalah menyontek disekolah dapat efisien dilakukan. Pola manajemen POACE ini efektif untuk diterapkan di sekolah, karena pola ini lengkap, terperinci dan mudah untuk diterapkan.
Supervisi Pendidikan
Debora Inda Violita Praing;
Djoys Anneke Rantung;
Lamhot Naibaho
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jpdk.v5i1.11931
Supervisi adalah suatu kegiatan kepengawasan yang memiliki tujuan untuk membantu memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan pendidikan di sekolah. Sasaran utama dalam kepemimpinan pendidikan adalah mengenai bagaimana seorang pendidik dalam kepemimpinannya dapat megajar peserta didiknya dengan baik, dalam usahanya untuk meningkatkan mutu pengajaran yaitu melaksanakan supervisi pendidikan. Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan pada umumnya dan proses belajar mengajar pada khususnya, maka suupervisi penting untuk dilaksanakan. Akan tetapi mengingat pendidik mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, maka supervisor dalam melaksanakan tugas supervisinya hendaklah memperhatikan perbedaan-perbedaan yang ada pada masing-masing pendidik, baik dalam latar belakang pendidikan, keterampilan maupun pengalaman dalam mengajar dari masing-masing pendidik. Penulisan artikel ini menggunakan jenis penelitiam Library Research atau studi kepustakaan. Dalam melakukan studi kepustakaan, penulis menggunakan berbagai sumber seperti buku, artikel jurnal, prosiding, dan website resmi dari lembaga-lembaga resmi sebagai sumber data dan informasi. Analisis dilakukan dengan sistematis untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpulkan data dengan menggunakan metode tertentu guna mencari dan memperoleh jawaban atas permasalahan yang dihadapi. Supervisi ialah usaha memberi layanan kepada para pendidik dan tenaga kependidikan baik secara individual maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran. Kepala sekolah sebagai supervisor sangat berperan penting dan mempunyai tanggung jawab yang lebih. Supervisi dijalankan oleh seorang supervisor atau atasan untuk membantu seorang pendidik dalam memperbaiki dan meningkatkan cara-cara mengajarnya. memperbaiki dan meningkatkan cara-cara mengajarnya. Pelaksanaan supervise ialah untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dan bagaimana supervisor dapat memanfaatkan tenaga pendidik yang ada di sekolahnya semaksimal mungkin.Tujuan supervisi berkenaan dengan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif adalah membantu memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan sekolah sehingga tercapai kondisi kegiatan belajar mengajar yang sebaik-baiknya. Melalui supervisi ini, guru dibantu dalam mengembangkan potensi dan kemampuannya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan bagi peserta didik. Supervisi diperlukan untuk dapat memperbaiki atau bahkan mengembangkan pengajaran nilai-nilai kristiani masa kini.
Profil Pelajar Pancasila dalam Pendidikan Agama Kristen
Esther Bessie;
Djoys Anneke Rantung;
Lamhot Naibaho
JURNAL KADESI Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4. No. 2. 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54765/ejurnalkadesi.v4i2.41
Pancasila adalah falsafah yang menjadi landasan hidup, berpikir dan berperilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Kelima sila dalam Pancasila mempunyai nilai-nilai luhur yang harus menjadi prinsip dan karakter bangsa; selaras dengan tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia Indonesia manusia Pancasila. Menjadi manusia yang terdidik bukan hanya karena memiliki kemampuan kognitif atau keahlian tertentu tetapi juga memiliki nilai-nilai luhur sebagai kecakapan hidup (life skills). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah mencanangkan Profil Pelajar Pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024. Ini menjadi tujuan pembentukan karakter melalui pembiasaan-pembiasaan di sekolah pada jenjang Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, maupun Perguruan Tinggi. Penanaman dan pembentukan karakter sesuai nilai-nilai luhur Pancasila ini selaras dengan Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Pendidikan Agama Kristen adalah satu dari sejumlah mata pelajaran atau mata kuliah yang harus diterima oleh Pelajar di sekolah maupun Mahasiswa di kampus. Pendidikan Agama Kristen mengajarkan iman Kristen yang berlandaskan pada Wahyu Allah yaitu Alkitab, agar Pelajar maupun Mahasiswa tidak hanya menerima ilmu atau keilmuan keagamaan secara kognitif tetapi juga menjadikan ajaran Alkitab sebagai landasan hidup dan berperilaku secara pribadi. Sekilas terlihat seolah-olah ada dua landasan dengan dua tujuan yang berbeda. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah telah terjadi dikotomi dalam kubuh pendidikan di Indonesia? Apakah Pelajar atau Mahasiswa akan menerima dua landasan yang berbeda? Apakah orang Kristen dapat menjadi manusia Pancasila atau manusia Pancasila dapat menjadi Kristen? Lalu bagaimana seharusnya orang Kristen menyikapi hal ini khususnya dalam pendidikan agama Kristen di sekolah? Penulis melakukan penelitian untuk mendapatkan formula yang tepat tentang kedudukan dan korelasi antara Profil Pelajar Pancasila dengan Pendidikan Agama Kristen dalam pendidikan di era disrupsi saat ini. Ditemukan, bahwa sesungguhnya keduanya tidak saling bertentangan. Sebaliknya, seorang Kristen sejatinya akan hidup sebagai murid Kristus dan pada saat yang sama ia juga akan memiliki dan mengejawantahkan nilai-nilai luhur Pancasila di dalam kehidupannya sehari-hari.
Pengaruh Pandemi Covid 19 terhadap Tata Cara Ibadah serta Penggunaan Media Digital dalam Pelayanan Remaja di HKBP Jatiwaringin
Panuturi Sitompul;
Djoys Anneke Rantung;
Lamhot Naibaho
Journal on Education Vol 5 No 3 (2023): Journal on Education: Volume 5 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
At first we were very sad and concerned because of technological constraints, because it has become a tradition that meetings must be face-to-face and direct. In a pandemic situation this cannot be done so worship must also be carried out remotely and using technology, the atmosphere of fellowship changes with distance and is united in digitalization or online worship and meetings. Specifically with teenagers, the presence of digital worship has made changes in their worship habits. By only using cellphones and laptops as well as television, they can worship anywhere. With digital worship, youth and congregations can praise God in joy, and they are increasingly familiar with online worship. And the focus of this descriptive research will be to examine the benefits of online worship and how it differs from in-person or online worship, then in a new atmosphere, the digitalization system will not be completely abandoned, but has become a necessity for the development of worship, especially for youth and adolescents. The results of observations, experiences and small research as well as descriptions will help youth and the church to make and review models of worship that are more actual in the digital age, so that youth worship is more actual and makes them more enthusiastic and grow in faith.
Implementasi Pendidikan Karakter Menurut Perspektif Thomas Lickona Ditinjau dari Peran Pendidik PAK
Glorya Loloagin;
Djoys Anneke Rantung;
Lamhot Naibaho
Journal on Education Vol 5 No 3 (2023): Journal on Education: Volume 5 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Educators have an important role in helping the success of education in schools. Educators have a great responsibility in producing quality students who also have good and moral character. In education, educators do not only act as teachers but educators must also be good examples and role models for the development of students in schools. According to Lickona there are seven reasons why character education must be delivered. The seven origins referred to are as follows. 1). The best way to ensure children (students) have a good personality in life. 2). Ways to improve academic achievement. 3). Some students cannot form a strong character for themselves elsewhere. 4). Preparing students to respect other parties or people and be able to live in a diverse society. 5). Departing from the root of the problem related to social-moral problems, such as impoliteness, dishonesty, violence, violations of sexual activity, and low work (learning) ethic. 6). Best preparation for behavior in the workplace. And 7). Learning cultural values which are part of civilized work.
KAJIAN PENTINGNYA BELAJAR MENGEVALUASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL EVALUASI CIPP
Puja Devi Sri Raso Tampubolon;
Dyoys Anneke Rantung;
Lamhot Naibaho
PENDIDIKAN SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 10 No 2 (2023)
Publisher : STKIP PGRI Situbondo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47668/edusaintek.v10i2.757
The goal of evaluating the implementation of Christian religious education in schools is to determine the extent to which lesson plans have been implemented. In the absence of learning evaluation activities in schools, teachers will be unaware of deficiencies or even issues arising from their teaching and learning endeavors. These issues, such as the lack of textbooks and instructional aids in learning activities, may prevent students from comprehending the material delivered by the instructor. In order to accomplish this, the teacher must acquire evaluation skills, which entails that he develops his capacity to conduct evaluation tasks. And this is really helpful for identifying gaps in the implementation of learning by the teacher. The CIPP evaluation model is the evaluation model that should be learned. This study aims to persuade PAK teachers to enhance their abilities to evaluate the implementation of learning and to introduce them to the CIPP evaluation paradigm. This is a result of the lack of learning evaluation activities, including PAK, conducted by teachers in schools. The method of research employed is qualitative and literature-based. This study's findings include an explanation of the scope of learning evaluation in general, the CIPP evaluation model, the relevance of evaluating PAK by instructors according to the Bible, and the considerations PAK teachers must make while utilizing the CIPP model to conduct evaluations.
Online Learning Evaluation during Covid-19 using CSE-UCLA Evaluation Model at English Education Department Universitas Kristen Indonesia
Lamhot Naibaho
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 4, No 2 (2021): Budapest International Research and Critics Institute May
Publisher : Budapest International Research and Critics University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33258/birci.v4i2.1887
This research is about the online learning evaluation during covid-19 using the CSE-UCLA evaluation model. It is was aimed to evaluate the implementation of online learning during COVID-19. This research was done at Universitas Kristen Indonesia (UKI) using a qualitative approach with an evaluative study design is the CSE-UCLA evaluation model design. The subjects of this study were lecturers and students and were taken through purposive sampling. The instruments used in this research were questionnaires and interviews, observations, and documentation. The data analysis technique used in evaluating online learning use at the UKI is based on the assessment system components, program planning, program implementation, program improvement, and including good criteria, in terms of quality level improvement programs including good program certification. The study's result was that, in general, the quality level of the online learning used at the UKI is already in good criteria. When viewed from the component system assessment level of quality including good criteria, in terms of quality level planning program including good criteria, in terms of quality level implementation of the program criteria, and when viewed from quality level certification programs also include good criteria.
Pemanfaatan Teknologi Bergerak sebagai Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen pada Anak Usia Dini
Helena, Elsudarma Santi;
Rantung, Djoys Anneke;
Naibaho, Lamhot
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2023): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (206.467 KB)
|
DOI: 10.54371/jiip.v6i2.1591
Salah satu tantangan terbesar di dalam dunia pendidikan anak usia dini adalah bagaimana membuat anak bisa tertarik terhadap pelajaran yang sedang diajarkan, termasuk pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen. Salah satu cara agar guru dan orang tua bisa menarik perhatian anak untuk mau belajar pendidikan agama Kristen adalah dengan memanfaatkan teknologi bergerak pada kegiatan belajar-mengajar baik itu di tingkat PAUD maupun di dalam keluarga. Dengan adanya pemanfaatan teknologi bergerak anak bisa belajar secara optimal dengan memanfaatkan kemampuan audio dan visual mereka yang tengah berkembang dengan cepat. Guru juga perlu mempertimbangkan penggunaan gadget dalam pelajaran pendidikan agama Kristen berdasarkan umur anak agar anak bisa mengikuti pelajaran pendidikan agama Kristen dengan baik. Namun, di saat yang bersamaan, guru beserta orang tua juga harus menggunakan metode belajar konvensional yang tidak menggunakan gadget agar anak juga bisa belajar bersosialisasi secara langsung dan bisa terhindar dari dampak buruk gadget yang membayangi mereka setiap mereka berselancar di internet seperti konten-konten kriminal, kejahatan hingga pornografi yang tersebar luas di internet dan bisa saja diakses oleh anak tanpa disengaja.