Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENGARUH VARIASI RASIO KITOSAN-TRIPOLIFOSFAT TERHADAP UKURAN PARTIKEL NANOPARTIKEL EKSTRAK AIR UMBI BIT (Beta vulgaris L.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Wulandari Eka Putri; Khairunnisa; Mayaranti Wilsya; Sigit Cahyo Hardiansyah; febby ola yolandari; achmad wahyudi
Jurnal Kesehatan : Jurnal Ilmiah Multi Sciences Vol 16 No 1 (2026): JURNAL KESEHATAN : JURNAL ILMIAH MULTI SCIENCES
Publisher : STIK SITI KHADIJAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52395/jkjims.v16i1.544

Abstract

Paparan radiasi ultraviolet (UV) yang berlebihan meningkatkan risiko kerusakan kulit, sehingga diperlukan agen antioksidan fotoprotektif. Umbi bit (Beta vulgaris L.) mengandung betalain yang berpotensi sebagai antioksidan, namun stabilitasnya rendah. Teknologi nanopartikel kitosan-tripolifosfat (TPP) digunakan untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitas penghantaran senyawa bioaktif tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi rasio konsentrasi kitosan terhadap ukuran partikel dan homogenitas nanopartikel ekstrak air umbi bit. Nanopartikel disintesis menggunakan metode gelasi ionik dengan tiga variasi konsentrasi kitosan (0,5%; 1,0%; dan 1,5%). Karakterisasi ukuran partikel dan Polydispersity Index (PI) dilakukan menggunakan Particle Size Analyzer (PSA) HORIBA SZ-100 dengan metode Dynamic Light Scattering (DLS). Hasil pengukuran menunjukkan rata-rata ukuran partikel berada pada rentang 190–240 nm. Formula F3 dengan konsentrasi kitosan 1,5% menunjukkan hasil terbaik dengan nilai Z-Average 190,6 nm dan nilai PI sebesar 0,482, yang mengindikasikan distribusi ukuran partikel paling homogen dan stabil dibandingkan formula lainnya. Variasi rasio kitosan-TPP berpengaruh signifikan terhadap homogenitas nanopartikel, di mana konsentrasi kitosan yang lebih tinggi menghasilkan distribusi partikel yang lebih seragam.
PENGARUH JOYFUL MATH GAME TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI PERKALIAN KELAS III SDN Nila Rutbatul Ulya; Achmad Wahyudi; Ana Christanti; Machfudzil Asror
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14037

Abstract

This study was motivated by the low mathematics learning outcomes of third-grade students at SDN Sudimoro on multiplication material, which was caused by the dominance of conventional teaching methods, resulting in students being less active and experiencing difficulties in understanding multiplication concepts. This study aimed to determine the effect of using the Joyfull Math Game on students’ learning outcomes in multiplication material. The study employed a quantitative approach using a pre-experimental research design with a One Group Pretest–Posttest Design. The research sample consisted of 30 third-grade students at SDN Sudimoro. Data were collected through pretest and posttest instruments that had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using a normality test followed by the Wilcoxon Signed Rank Test because the data were not normally distributed. The results showed an improvement in the students’ mean score from 49.3 in the pretest to 77.66 in the posttest. The hypothesis testing yielded a significance value of 0.000 < 0.05, indicating that Ha was accepted and H₀ was rejected. Therefore, it can be concluded that the use of the Joyfull Math Game had a significant effect on students’ mathematics learning outcomes in multiplication material for third-grade students at SDN Sudimoro. The Joyfull Math Game can therefore be used as an innovative learning medium to improve mathematics learning outcomes in elementary school. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar matematika peserta didik pada materi perkalian di kelas III SDN Sudimoro yang disebabkan oleh pembelajaran yang masih didominasi metode konvensional sehingga peserta didik kurang aktif dan mengalami kesulitan memahami konsep perkalian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Joyfull Math Game terhadap hasil belajar peserta didik pada materi perkalian kelas III SDN Sudimoro. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian pre-experimental dan desain One Group Pretest–Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 30 peserta didik kelas III SDN Sudimoro. Teknik pengumpulan data menggunakan tes berupa pretest dan posttest dengan instrumen yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas dan uji hipotesis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai peserta didik dari 49,3 pada pretest menjadi 77,66 pada posttest. Hasil uji hipotesis memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 sehingga Ha diterima dan H₀ ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan Joyfull Math Game berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar matematika peserta didik pada materi perkalian kelas III SDN Sudimoro dan dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan hasil belajar matematika di sekolah dasar.
Implementasi Model Pembelajaran Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka: Studi Fenomenologis Pengalaman Guru Sekolah Dasar Nur Asitah; Fatkul Anam; Hadi Ismanto; Achmad Wahyudi; Tirto Adi
Nusantara Educational Review Vol 4 No 1 (2026): Nusantara Educational Review
Publisher : LPPM UNUSIDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55732/ghqj5z66

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut transformasi pembelajaran menuju pendekatan yang bermakna, reflektif, dan berpusat pada peserta didik. Model pembelajaran deep learning dipandang relevan untuk menjawab kebutuhan tersebut, namun praktik implementasinya di sekolah dasar masih menunjukkan dinamika yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dan tantangan penerapan deep learning dalam Kurikulum Merdeka berdasarkan pengalaman guru sekolah dasar. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data Google Scholar menggunakan kata kunci “deep learning” dan “kurikulum merdeka”, yang menghasilkan sepuluh artikel terpilih untuk dianalisis secara tematik. Hasil sintesis menunjukkan bahwa implementasi deep learning memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kompetensi pedagogik guru, penguatan pembelajaran reflektif dan kontekstual, peningkatan keterlibatan aktif siswa, serta pengembangan berpikir kritis, kreativitas, dan karakter. Di sisi lain, tantangan utama meliputi keterbatasan pemahaman konseptual guru, minimnya pelatihan dan pendampingan profesional berkelanjutan, kendala infrastruktur dan literasi digital, serta meningkatnya beban administratif. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan sistem pelatihan guru berbasis praktik reflektif, penyediaan sarana pendukung yang memadai, serta kebijakan institusional yang adaptif untuk menjamin keberhasilan implementasi deep learning secara sistematis dan berkelanjutan di sekolah dasar. The implementation of the Independent Curriculum demands a transformation of learning toward a meaningful, reflective, and learner-centered approach. The deep learning model is considered relevant to address these needs, but its implementation in elementary schools still exhibits complex dynamics. This study aims to analyze the impact and challenges of implementing deep learning within the Independent Curriculum based on the experiences of elementary school teachers. The method used was a Systematic Literature Review (SLR) with the PRISMA protocol. A literature search was conducted through the Google Scholar database using the keywords "deep learning" and "independent curriculum," resulting in ten selected articles for thematic analysis. The synthesis results indicate that the implementation of deep learning has a significant impact on improving teachers' pedagogical competence, strengthening reflective and contextual learning, increasing student active engagement, and developing critical thinking, creativity, and character. However, key challenges include teachers' limited conceptual understanding, lack of ongoing professional training and mentoring, infrastructure and digital literacy constraints, and increasing administrative burdens. These findings emphasize the need to strengthen teacher training systems based on reflective practice, provide adequate supporting facilities, and adopt adaptive institutional policies to ensure the successful and sustainable implementation of deep learning in elementary schools.
ANALISIS KUALITATIF POLA PARTISIPASI SISWA KELAS II PADA MATERI NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI PENERAPAN METODE TALKING STICK DI SDN BANJARBENDO Naufal Achmad Fakhruz Syahdam; Achmad Wahyudi
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.63504

Abstract

This study aimed to describe the participation patterns of second-grade students in Pancasila Education learning on the topic of Pancasila Values through the implementation of the Talking Stick method at SDN Banjarbendo. The study was motivated by the varying levels of student participation in classroom learning, particularly in terms of speaking confidence and involvement during learning activities. The Talking Stick method was selected because it provides equal opportunities for students to speak and actively engage in the learning process. This research employed a qualitative approach using a case study design. The participants consisted of second-grade students, the classroom teacher, and the school principal. Data were collected through non-participant observation, semi-structured interviews, and documentation. Data analysis followed the interactive model of Miles and Huberman, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that student participation patterns were manifested in two main forms: verbal and nonverbal participation. Verbal participation was reflected in students’ ability to answer questions, express opinions, and respond to learning materials. Based on the intensity of involvement, verbal participation was categorized into active, moderate, and low levels. Meanwhile, nonverbal participation was demonstrated through attention to teachers and peers, eye contact, enthusiastic expressions, readiness to receive the talking stick, and physical responses during learning activities. The Talking Stick method created a more interactive learning environment, provided equal speaking opportunities, and encouraged students’ engagement in understanding and applying Pancasila values. Therefore, the Talking Stick method contributed to fostering a more participatory and meaningful Pancasila Education learning process.
PENGARUH DIGITAL STORYTELLING TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS TEKS NARASI PADA SISWA KELAS IV Rofi'atul Isti'anah; Mohammad Setyo Wardono; Nur Asitah; Achmad Wahyudi
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.14564

Abstract

The low level of story-writing skills among fourth-grade students served as the background for this study. The problem is evident in students who still struggle to come up with ideas, organize the sequence of events clearly, use capital letters and punctuation correctly, and choose the right words when writing stories. This study examines how the use of digital storytelling can help students in Class 4-B improve their narrative writing skills. This study employed a quantitative method using a One-Group Pretest–Posttest design. The study involved 23 students from Class 4-B. Research data were collected by administering a writing test consisting of narrative questions before the intervention (pretest) and after the intervention (posttest), using digital storytelling as the medium. The collected data were then analyzed for normality using the Shapiro–Wilk test and compared using a paired t-test. The analysis results showed that the mean pretest score was 56.48, which increased to 84.78 on the posttest. The normality test indicated that the data were normally distributed. The significance values were 0.888 for the pretest and 0.248 for the posttest. The results of the Paired t-test showed a Sig. (2-tailed) value of 0.000, which is less than 0.05. This indicates a significant difference between the pretest and posttest results. Therefore, it can be concluded that the use of digital storytelling has an impact on the narrative writing skills of fourth-grade students at SDN Pucang 4 Sidoarjo. ABSTRAK Rendahnya kemampuan menulis cerita di kalangan siswa kelas IV menjadi latar belakang dilakukannya penelitian ini. Masalahnya terlihat dari siswa yang masih mengalami kesulitan dalam menemukan ide, menyusun urutan peristiwa secara jelas, menggunakan huruf kapital dan tanda baca dengan benar, serta memilih kata-kata yang tepat saat menulis cerita. Penelitian ini mengkaji bagaimana penggunaan digital storytelling dapat membantu siswa kelas IV-B meningkatkan kemampuan menulis teks narasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian One Group Pretest-Posttest Design. Penelitian melibatkan 23 siswa dari Kelas IV-B. Data penelitian dikumpulkan dengan memberikan tes menulis berupa soal narasi sebelum intervensi (pretest) dan setelah intervensi (posttest), dengan menggunakan digital storytelling sebagai medianya. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis normalitasnya menggunakan uji Shapiro–Wilk, lalu dibandingkan menggunakan uji t sampel berpasangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata pretest adalah 56,48, dan meningkat menjadi 84,78 saat posttest. Uji normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. Nilai signifikansi sebesar 0,888 untuk pretest dan 0,248 untuk posttest. Hasil dari uji t sampel berpasangan menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) Sebesar 0,000, yaitu lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan posttest. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media digital storytelling berpengaruh terhadap kemampuan menulis teks narasi siswa kelas IV SDN Pucang 4 Sidoarjo.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS PESERTA DIDIK KELAS IV SD PLUS CAHAYA BUDAYA Anzeli Rohmatul Khulud; Nurul Aini; Novaria Lailatul Jannah; Achmad Wahyudi; Arie Widya Murni
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14639

Abstract

IPAS learning on plant reproduction requires active student engagement so that concepts are understood not merely through memorization but through observation, exploration, and discovery. This study aimed to analyze the effect of the Discovery Learning model on the IPAS learning outcomes of fourth-grade students at SD Plus Cahaya Budaya, particularly on the topic of plant reproduction. This quantitative study employed a pre-experimental method with a One Group Pretest-Posttest design. The participants were 14 fourth-grade students selected using a saturated sampling technique. Data were collected through observation and a learning achievement test. The test instrument was subjected to expert validation as well as validity and reliability testing before being administered. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test and a Paired Sample t-Test with the assistance of IBM SPSS Statistics version 24. The results showed that the mean learning outcome increased from 47.1 in the pretest to 74.2 in the posttest, representing an increase of 27.1 points. The Paired Sample t-Test yielded a t value of -6.592 with a significance value of 0.000 < 0.05, indicating a significant difference between students' learning outcomes before and after the implementation of the Discovery Learning model. These findings indicate that Discovery Learning had a positive effect on students' IPAS learning outcomes, although causal interpretation should take into account the limitation of the one-group design without a control group. Therefore, Discovery Learning can be considered an alternative approach to IPAS instruction that encourages active student engagement in discovering and understanding concepts. ABSTRAK Pembelajaran IPAS pada materi perkembangbiakan tumbuhan memerlukan keterlibatan aktif peserta didik agar konsep tidak hanya dipahami melalui hafalan, tetapi melalui proses pengamatan, eksplorasi, dan penemuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran Discovery Learning terhadap hasil belajar IPAS peserta didik kelas IV SD Plus Cahaya Budaya pada materi perkembangbiakan tumbuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain One Group Pretest-Posttest pada jenis penelitian pre-experiment. Subjek penelitian berjumlah 14 peserta didik kelas IV yang ditentukan menggunakan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui observasi dan tes hasil belajar. Instrumen tes telah melalui validasi ahli serta uji validitas dan reliabilitas sebelum digunakan. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan Paired Sample t-Test dengan bantuan IBM SPSS Statistics versi 24. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar meningkat dari 47,1 pada pretest menjadi 74,2 pada posttest, dengan peningkatan sebesar 27,1 poin. Hasil Paired Sample t-Test menunjukkan nilai t = -6,592 dengan signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar sebelum dan sesudah penerapan model Discovery Learning. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan Discovery Learning memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar IPAS peserta didik, meskipun interpretasi kausalitas perlu mempertimbangkan keterbatasan desain tanpa kelompok kontrol. Model Discovery Learning dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran IPAS yang mendorong keterlibatan aktif peserta didik dalam menemukan dan memahami konsep.