Claim Missing Document
Check
Articles

PENGEMBANGAN APLIKASI PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) DALAM UPAYA MENINGKATKAN ANGKA BEBAS JENTIK (ABJ) Emilia Chandra; Supriadi; Mei Ahyanti
SCIENTIA JOURNAL Vol. 10 No. 2 (2021): SCIENTIA JOURNAL
Publisher : Universitas Adiwangsa Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemantau jentik (Jumantik) rumah yang aktif diharapkan akan mempengaruhi menurunkan angka kasus DBD, oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan keaktifan jumantik rumah melalui motivasi yang dilakukan oleh dinas kesehatan. Faktor yang mempengaruhi upaya pencegahan DBD adalah tindakan masyarakat, tingkat pendidikan, informasi dan partisipasi sosial menunjukan angka yang signifikan terhadap pengaruh masyarakat dalam pencegahan DBD. Salah satu faktor yang mendorong peningkatan kasus DBD adalah keterbatasan petugas-petugas kesehatan untuk melakukan penyuluhan secara berkesinambungan dan kepedulian masyarakyat terhadap hal tersebut, sehingga perlu adanya peningkatan penyuluhan dari petugas kesehatan kapada masyarakat baik perorangan, keluarga dan masyarakat agar terlaksananya program pembudayaan PSN 3M Plu sehingga ABJ Meningkat Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan jumantik rumah dalam PSN sebelum dan sesudah menggunakan aplikasi berbasis android, untuk menganalisa efektivitas dari aplikasi berbasis android dalam peningkatan budaya PSN 3M Plus. Jenis penelitian ini adalah Kuantitatif. Penelitian ini melihat pengaruh penggunaan aplikasi android pada jumantik rumah terhadap Angka Bebas Jentik . Populasi dalam penelitian ini adalah jumantik rumah yang ada di Kel. Legok Kec. Danau Sipin Kota Jambi, dan sampel nya adalah menggunakan metode pengambilan sampel.
Keselamatan Kesehatan Kerja Menggunakan Pestisida bagi Petani Hortikultura Kabupaten Lampung Barat Mei Ahyanti; Prayudhy Yushananta; Yetti Angraini; Iwan Sariyanto; Enro Sujito; Dina Dwi Nuryani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 8 (2022): Volume 5 No 8 Agustus 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i8.6582

Abstract

ABSTRAK Pemeriksaan kesehatan dilakukan terhadap 155 wanita usia subur (WUS) petani hortikultura di Kabupaten Lampung Barat berkaitan dengan aktivitas enzim cholinesterase, Hb, status gizi, lamanya paparan, dan penggunaan pelindung. Sebanyak 13 petani dinyatakan keracunan dan 35 orang menderita anemia. Hasil statistik menunjukkan risiko paparan pestisida terhadap anemia sebesar 6,12 kali (95%CI=1,81 - 20,73), dan penggunaan alat pelindung sebesar 3,17 kali (95%CI=1,12 - 8,98). Paparan pestisida akan meningkatkan risiko anemia pada WUS yang bekerja pada pertanian hortikultura. Penggunaan pestisida secara sembarangan harus dinilai secara berkala dan petani harus dilatih dalam penggunaan pestisida yang aman. kegiatan pengabdian ini dikemas untuk memberikan pemahaman dan meningkatkan keterampilan petani, tata nilai kesehatan masyarakat akan meningkat. pelaksanaan kegiatan di Kecamatan Belalau, Balik Bukit dan Sukau Kabupaten Lampung Barat pada bulan September – November 2020. Sasaran kegiatan adalah wanita usia subur petani hortikultura. penyuluhan dan pelatihan menunjukkan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan petani terhadap penggunaan pestisida yang aman.masyarakat memiliki kemandirian dalam bidang kesehatan yaitu perubahan mindset perilaku pengelolaan pestisida melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan. Kata kunci: Hortikultura, Pestisida, Petani, Risiko anemia, WUS  ABSTRACT Health checks were carried out on 155 WUS horticultural farmers in West Lampung Regency related to cholinesterase enzyme activity, Hb, nutritional status, duration of exposure, and use of protectors. A total of 13 farmers were declared poisoned and 35 people suffered from anemia. Statistical results showed the risk of pesticide exposure to anemia was 6.12 times (95%CI=1.81 - 20.73), and the use of protective equipment was 3.17 times (95%CI=1.12 - 8.98). Exposure to pesticides will increase the risk of anemia in WUS who work in horticultural agriculture. Indiscriminate use of pesticides should be assessed periodically and farm workers should be trained on the safe use of pesticides. this service activity is packaged to provide the understanding and improve farmer skills, and public health values will increase. Implementation of activities in Belalau, Balik Bukit, and Sukau sub-districts, West Lampung regency in September – November 2020. The target of the activity is women of childbearing age horticultural farmers.extension and training showed increased knowledge and skills of farmers on the safe use of pesticides. the community has independence in the health sector, namely changing the mindset of pesticide management behavior through counseling and training activities. Key Word : Horticulture, risk of anemia, pesticide, farmer, WUS
Pelatihan Pengelola Penyelamatan Kecelakaan Wisata Air Lifeguard Area Wisata Bendungan Tirta Gangga Desa Swastika Buana Lampung Tengah Efa Trisna; Anita; Aprina; Mei Ahyanti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari Vol. 1 No. 6 (2022): September 2022
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/jpmb.v1i6.1170

Abstract

Kecelakaan yang mungkin terjadi pada daerah wisata adalah HMJ (henti jantung mendadak)   Kemungkinan buruk dapat diantisipasi dengan menyiapkan pengelola atau petugas yang terlatih sehingga kecelakaan diair dapat diminimalisir. Lifeguard adalah petugas dalam penyelamatan kecelakaan di air yang kegiatanya mengawasi wisatawan ,melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan di air seperti HMJ dengan melakukan  BHD/ CPR. BHD merupakan tindakan yang dapat dilakukan oleh orang awam yang terlatih. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah terlatihnya pengelola dalam melakukan BHD. Poltekkes Tanjungkarang bekerjasama dengan masyarakat Swastika Buana melakukan pelatihan terhadap pengelola Wisata Air Tirta Tangga sehingga pengelola siap menolong jika ada korban pada area wisata terutama korban yang mengalami HMJ.Partisipan dalam pelatihan berjumlah 10 orang yang merupakan pengelola wisata. Kegiatan dilakukan pada mei 2020. Hasil pelatihan BHD terlatihnya pengelola wisata dalam melakukan BHD.
Jamban dan SPAL Percontohan bagi Masyarakat Swastika Buana Mei Ahyanti; Efa Trisna; Anita Anita; Aprina Aprina
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 5 (2023): Volume 6 No 5 Mei 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i5.9234

Abstract

ABSTRAK Jamban dan SPAL merupakan kebutuhan manusia yang penting karena dapat memutus rantai penularan penyakit. Kotoran dari manusia dan rumah tangga yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi tempat perkembangbiakan vektor penular penyakit seperti diare. Pengabdian ini bertujuan memberikan pemahaman dan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam membangun jamban sederhana sehat dan SPAL, sehingga dapat meningkatkan tata nilai kesehatan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan di Kampung Swastika Buana Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah, pada bulan Juni – Agustus 2022. Sasaran kegiatan adalah seluruh masyarakat. Pengabdian ini membangun 1 unit jamban sederhana sehat dan 1 unit SPAL percontohan. Pemerintah akan meneruskan program STBM yang dituangkan dalam nota kerjasama dengan tim pengabdi. Penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan dinilai efektif, mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pembuangan kotoran dan air limbah yang aman. Pengabdian dapat dilanjutkan dengan memicu masyarakat yang belum memiliki sarana pembuangan limbah. Kata Kunci: Jamban, Penyuluhan, Pemicuan, SPAL, STBM  ABSTRACT Toilets and sewerage channels are important human needs because they can break the chain of disease transmission. Feces from humans and households that are not properly managed can become breeding grounds for disease-transmitting vectors such as diarrhea. This service aims to provide the understanding and improve community skills in building healthy simple latrines and SPAL, to improve public health values. Implementation of activities in Swastika Buana Village, Seputih Banyak District, Central Lampung Regency, in June - August 2022. The target of the activity is the entire community. There has been an increase in community knowledge, and 1 unit of simple healthy latrines and 1 pilot SPAL unit have been built. The government will continue the STBM program as outlined in the memorandum of cooperation with the service team. The counseling and training conducted were considered effective, and capable of increasing the community’s knowledge and skills in the safe disposal of sewage and wastewater. Community services can be continued by triggering communities that do not yet have waste disposal facilities. Key word: Latrines, counseling, triggering, SPAL, STBM
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PERUBAHAN PERILAKU BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN Prayudhy Yushananta; Mei Ahyanti; Bambang Murwanto; Enro Sujito
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2021): Mei
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.215 KB) | DOI: 10.29303/jppm.v4i2.2644

Abstract

Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan yang penting, karena menyumbang sekitar 4.800 kematian anak-anak balita di seluruh dunia. Dengan incidence 11%, diare menjadi penyebab kematian kedua pada anak balita di Indonesia. Pencegahan dan pengendalian diare utamanya melalui intervensi air minum dan jamban sehat. Pengabdian masyarakat bertujuan melakukan perubahan perilaku BABS, dengan empat tahap: membangun kesepahaman, persamaan persepsi, penyuluhan, dan pendampingan rumah tangga sasaran. Pada akhir tahapan, dilakukan evaluasi untuk menilai keberhasilan, hambatan, dan rencana tindak lanjut. Dikembangkan juga konsep ”berbagi peran” terhadap seluruh mitra pengabdian. Kegiatan pengabdian masyarakat menghasilkan jamban sehat sebanyak 16 buah, dan diakses 21 rumah tangga. Hasil ini menandakan bahwa seluruh rumah tangga di Kelurahan Segala Mider telah terakses jamban sehat. Penerapan konsep “berbagi peran” mampu menghasilkan luaran sesuai target, membentuk sistem kerja gotong royong pada penerima manfaat, dan perbaikan tata nilai. Diperlukan komitmen bersama dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat, dan pelibatan pihak-pihak lain secara luas.
Anemia and its Associated Factors Among Women of Reproductive Age in Horticulture Area Yushananta, Prayudhy; Anggraini, Yetti; Ahyanti, Mei; Sariyanto, Iwan
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 6, No 2: June 2021
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1402.425 KB) | DOI: 10.30604/jika.v6i2.498

Abstract

Anemia continues to be an important and widespread public health problem, so it must be addressed. About 1.74 (1.72-1.76) billion people worldwide suffer from anemia, especially children under five, women of reproductive age (WRA), and pregnant women. As many as 500 million WRA suffer from anemia; this will impact the loss of productivity due to decreased work capacity, cognitive impairment, susceptibility to infections, and increased risk of complications in pregnancy and childbirth. This study analyzes the risk factors for anemia in women of reproductive age (15-59) who work in horticultural agriculture. The study was conducted with a cross-sectional design involving 160 participants from three main centers of horticultural agriculture in West Lampung Regency. SPSS was used for Chi-square analysis, Odds Ratio, and Logistic Regression (alpha = 0.05). The results showed that the prevalence of anemia in women of reproductive age who worked in horticultural agriculture was 27.5%. The study also identified three risk factors for anemia: poor nutritional status (AOR = 24.53; 95% CI 5.59-107.70), lack of protein intake (AOR = 28.01; 95% CI 6.97- 112.52), and less intake of high iron vegetables (AOR = 6.13; 95% CI 1.79-21.01). Nutritional interventions should emphasize increasing protein, iron, and vitamins through improved diet, fortification efforts, and iron supplementation.Abstrak: Anemia masih terus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting dan meluas, sehingga harus ditangani. Sekitar 1,74 (1,72-1,76) miliar penduduk dunia menderita anemia, terutama anak balita, wanita usia subur (WUS) dan wanita hamil. Sebanyak 500 juta WUS menderita anemia, iniakanberdampak pada hilangnya produktivitas karena penurunan kapasitas kerja, gangguan kognitif, dan kerentanan terhadap infeksi, serta meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan persalinan. Penelitian bertujuan menganalisis faktor risiko anemia pada wanita usia subur (15-59) yang bekerja pada pertanian hortikultura. Penelitian dilakukan dengan rancangan cross sectional, melibatkan 160 orang partisipan dari tiga sentra utama pertanian hortikultura di Kabupaten Lampung Barat. SPSS digunakan untuk analisis Chi-square, Odds Ratio, dan Logistic Regression (alpha=0,05). Hasil penelitian mendapatkan prevalensi anemia pada wanita usia subur yang bekerja pada pertanian hortikultura sebesar 27,5%. Penelitian juga mendapatkan tiga faktor risiko untuk anemia: status gizi yang kurang baik (AOR=24,53; 95%CI 5,59-107,70), kurang asupan protein (AOR=28,01; 95%CI 6,97-112,52), dan kurang asupan sayuran tinggi zat besi (AOR=6,13; 95%CI 1,79-21,01). Intervensi gizi harus menekankan pada peningkatan asupan protein, zat besi dan vitamin, baik melalui perbaikan menu makanan, upaya fortifikasi dan suplementasi tablet Fe.
Pelatihan dan Pembuatan Spal Sebagai Upaya Pencegahan dan Penurunan Stunting di Pekon Kanoman, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Lampung Mei Ahyanti; Amrul Hasan; Aprina Aprina; Titi Astuti; Gustop Amatiria; Arie Nugroho; Annasari Mustafa
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 12 (2023): Volume 6 No 12 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i12.12731

Abstract

ABSTRAK Stunting dapat terjadi karena penyakit infeksi terjadi secara berulang. Penyakit infeksi yang sering terjadi pada balita adalah diare. Sehingga fokus stunting dititikberatkan pada 2 titik yaitu pada bayi usia 6-11 bulan dan anak usia 12-23 bulan. Diare dapat terjadi karena sanitasi lingkungan yang tidak memadai. Upaya ini dilakukan dengan pengendalikan penyakit infeksi dengan memutuskan rantai penularan. Sarana sanitasi yang layak seperti jamban dan SPAL dapat memutus mata rantai penularan penyakit infeksi. Pengabdian bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pembuatan SPAL. Pelaksanaan kegiatan secara bergotong royong di Desa Kanoman Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus, pada bulan Oktober 2023. Sasaran kegiatan adalah 10 keluarga yang meiliki balita stunting. Kegiatan diawali dengan pelatihan, keberhasilan pelatihan diukur dengan membandingkan hasil pretest dan posttest dan dianalisa menggunakan uji T. Hasil analisis mendapatkan ada pengaruh yang signifikan antara pelatihan dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Peningkatan pengetahuan peserta sebanyak 30 point, dan telah terbangun 10 unit SPAL sederhana sehat. Pemerintah akan meneruskan program STBM yang dituangkan dalam nota kerjasama dengan tim pengabdi. Kata Kunci: Limbah, SPAL, Stunting, STBM  ABSTRACT Stunting can occur because infectious diseases occur repeatedly. An infectious disease that often occurs in toddlers is diarrhea. So the focus on stunting is focused on 2 points, namely babies aged 6-11 months and children aged 12-23 months. Diarrhea can occur due to inadequate environmental sanitation. This effort is carried out by controlling infectious diseases by breaking the chain of transmission. Proper sanitation facilities such as latrines and SPALs can break the chain of transmission of infectious diseases. The service aims to increase community knowledge and skills in making SPAL. Carrying out activities in mutual cooperation in Kanoman Village, Semaka District, Tanggamus Regency, in October 2023. The target of the activity is 10 families who have stunted toddlers. The activity began with training, the success of the training was measured by comparing the results of the pretest and posttest and analyzed using the T test. The results of the analysis showed that there was a significant influence between training and increasing participants' knowledge and skills. The participants' knowledge increased by 30 points, and 10 simple healthy SPAL units were built. The government will continue the STBM program as outlined in a memorandum of cooperation with the service team. Keywords: Waste, SPAL, Stunting, STBM
FAKTOR RISIKO KERACUNAN PESTISIDA PADA PETANI HORTIKULTURA DI KABUPATEN LAMPUNG BARAT Yushananta, Prayudhy; Melinda, Nia; Mahendra, Arif; Ahyanti, Mei; Anggraini, Yetti
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 14 No. 1 (2020)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v14i1.2138

Abstract

Pesticide poisoning is still an important health problem in agricultural areas, especially horticultural agriculture. Various chronic health effects can be caused by long-term exposure to pesticides. This study aims to determine the risk factor of pesticide poisoning in horticultural farmers in West Lampung Regency.The study used a cross sectional design which was conducted in four different areas as the center of horticulture agriculture, West Lampung Regency, Lampung Province. The study involved 289 participants by interviewing, observing and examining blood samples to measure cholinesterase levels as an indicator of pesticide poisoning. In this section, we have applied research ethical procedures. The obtained data were analyzed using Chi squre test, Odds Ratio test and Logistic Regression.The results showed that the risk factors for pesticide poisoning were incomplete use of personal protected equipment (PPE), spraying with the wrong dose and spraying frequency. Unwearing a complete PPE had a 4.54 times (OR = 4.54; 95% CI 2.09-9.83) higher risk of experiencing pesticide poisoning, and statistically suggested, a very significant relationship (p = 0.0001). While the use of excessive dosage has a risk of 4.39 times (OR = 4.39; 95% CI 1.87-10.33; p = 0.001); and the frequency of spraying more than twice a week had a 2.33 times higher risk of experiencing pesticide poisoning (OR = 2.33; 95% CI 1.24-4.40; p = 0.009).Excessive use of pesticide dosage and the frequency of spraying with the cover blanked method are the main factors of pesticide exposure to farmers. On the other hand, the use of PPE is a method of protection from exposure. It needs joint efforts through increasing knowledge about the dangers of pesticides, pesticide management, how to work safely, and the use of PPE.
RISIKO CEDERA MATA PADA PEKERJA INDUSTRI PIPA BAJA Bakara, Arnold Maruli; Ahyanti, Mei; Yushananta, Prayudhy
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 14 No. 1 (2020)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v14i1.2172

Abstract

An eye injury is a trauma to the eye that can result in damage to the eyeball, eyelids, eye nerves and orbital cavity. Eye injuries can occur due to work processes in various industries, especially in the metal industry. PT. Bakrie Pipe Industry (BPI) is a metal industry that produces steel pipes by changing steel plate sheets into pipe shapes. One of the risks of work accidents in the production process is eye injury due to exposure to particles/gram of iron during the cutting process. This study aims to determine the risk factors for eye injury in workers in the Production Department of PT. Bakrie Pipe Industries, Bekasi, West Java.This study used a cross-sectional design involving all workers in the Production Department as research subjects, as many as 36 people. Data collection was carried out by interview and observation, then the data were analyzed using the chi-square test. The risk factors assessed were age, knowledge, attitude, noise and personal protective equipment against eye injury.The results showed that the risk factors for eye injury were knowledge (OR = 280.00; p value = 0,000), age (OR = 61.75; p value = 0,000), noise (OR = 39.00; p value = 0,000). , and the use of PPE (OR = 17.00; p value = 0.001).Increasing workers' knowledge about work risks is an effort that must be continuously carried out to avoid eye injuries, in addition to the necessity of using Personal Protective Equipment (PPE), and to carry out more intensive supervision. 
HUBUNGAN PENERAPAN 5 PILAR SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) DAN KEJADIAN DIARE DI DESA TAMAN BARU KECAMATAN PENENGAHAN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Monica, Deta Zalva; Ahyanti, Mei; Prianto, Nawan
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 14 No. 2 (2020)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v14i2.2183

Abstract

Diarrhea affects the death of several people around the world. In Lampung Province, the morbidity rate for all age groups tended to increase in 2005-2014. The increase in cases also occurred in South Lampung Regency from 2016-2018, and the most in Taman Baru Village, Penengah District.The study used a cross-sectional design with a sample of 267 households, which are all households in Taman Baru Village. Primary data were collected through a survey using a questionnaire and checklist. The collected data were processed and analyzed in a bivariate manner with the help of a computer program.The results showed a relationship between knowledge and application of the five pillars of STBM and the incidence of diarrhea. Community leaders and village officials fully support STBM activities. The people of Taman Baru Village have not carried out liquid waste management and household waste management, this factor can be the cause of the increasing incidence of diarrhea.