Claim Missing Document
Check
Articles

Metode Pemicuan dalam Upaya Meningkatkan Budaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) pada Masyarakat Chandra, Emilia; Zunidra, Zunidra; Ariyadi, Bambang; Ahyanti, Mei
Journal of Telenursing (JOTING) Vol 5 No 2 (2023): Journal of Telenursing (JOTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/joting.v5i2.7733

Abstract

This study aims to produce a triggering method to improve the culture of eradicating mosquito nests (PSN) in the community. The method used is quantitative research with research and development (R&D) design. The research results show that the PSN Mobile Triggering education model, namely the field triggering model followed by Android-based triggering, was declared feasible after the validation stage with 100% health promotion experts, 94.55% IT experts, 92% educational technology experts, and 80 practitioners. % and 93.85% one-on-one trials, 95% small group trials, and 96% large group trials. The PSN Mobile Trigger product effectively increases household mosquitoes' knowledge, attitudes, and behavior by up to 100% in eradicating mosquito nests. In conclusion, the educational model is feasible and effective to use to increase the knowledge, attitudes, and behavior of Jumantik Rumah in destroying mosquito nests. Keywords: Android Based Application; Dengue Hemorrhagic Fever; Trigger Education; Eradication of Mosquito Nests, Mosquito Breeding Sites
HUBUNGAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN ISPA PADA MAHASISWA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN TANJUNGKARANG Mei Ahyanti; Artha Budi Susila Duarsa
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas Vol 7 No 2 (2013): Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas
Publisher : Faculty of Public Health, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24893/jkma.v7i2.108

Abstract

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah di Indonesia karena kasusnya masih cukup tinggi. Meski pada orang dewasa tidak menimbulkan kesakitan yang parah, namun para orang tertentu menimbulkan masalah kesehatan yang lebih besar. ISPA juga paling sering menjadi penyebab anak bolos sekolah atau orang dewasa bolos kantor, artinya mengganggu dan menurunkan produktifitas. Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi merokok pada mahasiswa dan hubungan merokok dengan kejadian ISPA pada mahasiswa setelah mengontrol status gizi, jenis kelamin, olahraga, lingkungan fisik rumah, ada pencemar dalam rumah dan kepadatan hunian. Penelitian dengan jenis analitik menggunakan rancangan case control dilakukan di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Tanjungkarang dengan populasi kasus mahasiswa yang menderita ISPA pada bulan Januari sampai April 2012, dan populasi control adalah mahasiswa yang berobat ke klinik terpadu pada bulan yang sama tetapi tidak menderita ISPA dan tidak menunjukkan gejala ISPA saat penelitian dilaksanakan. Sampel berjumlah 172 mahasiswa namun yang dapat diwawancarai hanya 162 mahasiswa terdiri dari 81 kasus dan 81 kontrol. Hasil penelitian diketahui proporsi mahasiswa merokok 29,6%, ada hubungan merokok dengan kejadian ISPA pada mahasiswa setelah mengontrol jenis kelamin, status gizi, pencemaran dalam rumah, lingkungan fisik rumah dan interaksi antara jenis kelamin dengan merokok. Perlu dilakukan upaya primary prevention oleh pihak Poltekkes dan Klinik Terpadu untuk memberikan penyuluhan kepada mahasiswa dan menjadi trendsetter dalam bidang kesehatan, dan spesifik protection oleh mahasiswa dengan tidak menyediakan asbak didalam rumah
Determining Stunting Risk Areas Using a Combined AHP-GIS approach: A Case Study of Pesawaran Regency, Lampung, Indonesia Yushananta, Prayudhy; Ahyanti, Mei
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v19i1.5046

Abstract

Considering the highly detrimental future impacts of stunting, a risk map is needed. It will serve as a basis to design stunting control strategies. This study aims to determine stunting risk areas by combining the Analytical Hierarchy Process (AHP) and Geographic Information System (GIS). This study used ecological design, with a case being studied was Pesawaran Regency, Lampung Province. All secondary data were aggregate, and used sub-districts as spatial boundaries. Study variables comprised access to safe drinking water, healthy sanitation, exclusive breastfeeding, complete immunization, diarrhea, number of health facilities, fourth visit during pregnancy (ANC-K4), and child growth and development monitoring. The map was developed by employing Weighted Sum Overlay (WSO) technique. Determining weights involving multiple criteria was conducted by using AHP. The AHP yielded weighted values for each variable, namely exclusive breastfeeding (22.9%), ANC-K4 (14.4%), monitoring of child growth and development (11.7%), access to safe drinking water (11.0%), diarrhea (10.8%), number of health facilities (10.1%), complete basic immunization (10.1%), and healthy sanitation (9.0%). WSO technique revealed that three out of eleven sub-districts were included in the high-risk category for stunting (Tegineneng, Kedondong, and Padang Cermin). Meanwhile, the remaining areas were included in the medium category (Way Khilau, Marga Punduh, and Punduh Pedada) and low category (Negara Katon, Gedong Tataan, Way Lima, Way Ratai, and Teluk Pandan). GIS and AHP methods were applied to determine stunting risk areas. Areas with a high risk of stunting category are Tegineneng, Kedondong, and Padang Cermin. Suggested fundamental programs to control stunting are improvement in exclusive breastfeeding, ANC-K4 visit, monitoring of children growth and development, access to drinking water, and prevention of diarrhea.
Toxicological Exploration of Tapak Dara Catharanthus roseus as Bioinsecticide Ahyanti, Mei
Jurnal Kesehatan Vol 16 No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jk.v16i1.4773

Abstract

Mosquito control efforts have been done physically, chemically, and through environmental management. However, the use of synthetic chemical insecticides has various negative impacts. Therefore, plant-based alternatives are a solution that needs to be developed. This study explores the toxicological potential of Catharanthus roseus as a botanical bioinsecticide. This systematic review study takes data from the literature in the form of published articles obtained via the internet from Google Scholar, Semantic Sholar, Garuda, PubMed, and Science Direct databases. The subjects of the study were 12 articles that focused on using Catharanthus roseus as a larvicide. The selected journals were eligible based on the study of LC50, zero value, and No Observed Adverse (NOA) of Catharanthus roseus plant extract against mosquito larvae. The data are presented in tabular form. Several studies provided different results regarding LC50 and zero value, but only 1 study reported on NOA. Further research is needed to improve data consistency, especially on LC50 values ​​and control effects, including against non-target organisms.
ANALISIS EFEKTIVITAS EDUKASI PILAR STBM DI WILAYAH SUMBER AGUNG, KECAMATAN KEMILING KOTA BANDAR LAMPUNG Rosita, Yeni; Ahyanti, Mei
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.50371

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, yang erat kaitannya dengan sanitasi yang kurang memadai serta keterbatasan akses terhadap air bersih. Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, memiliki 1.020 kepala keluarga, dengan 305 jiwa berisiko stunting dan 246 kepala keluarga belum memiliki akses sumber air bersih utama. Penguatan pengetahuan dan perilaku masyarakat melalui edukasi kesehatan yang efektif sangat penting untuk mengatasi permasalahan ini. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif yang dilaksanakan di Kelurahan Sumber Agung dengan fokus pada dua kelompok masyarakat. Sebanyak 109 kepala keluarga di RT 1 diberikan edukasi dengan metode door to door, sedangkan 137 kepala keluarga di RT 2 mendapatkan penyuluhan kelompok. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam untuk mengevaluasi pemahaman keluarga terhadap lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Triangulasi dan validasi informan kunci dilakukan untuk memastikan keabsahan data. Metode door to door terbukti lebih efektif dibandingkan penyuluhan kelompok dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap terkait STBM. Warga RT 1 menunjukkan tingkat pemahaman yang lebih baik serta perubahan perilaku yang lebih konsisten dibandingkan RT 2. Penyuluhan kelompok relatif kurang efektif dengan pemahaman yang terbatas dan penerapan pilar sanitasi yang belum konsisten. Edukasi personal melalui kunjungan door to door memberikan kesempatan komunikasi yang lebih interaktif, penjelasan yang lebih sesuai dengan kebutuhan keluarga, serta penguatan perilaku secara langsung. Hal ini menjadikan metode door to door lebih efektif dalam mendorong perubahan perilaku dibandingkan metode kelompok.
Analisis Pengelolaan Limbah Medis Padat di Puskesmas Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2025 Sekar Ayu, Anisa Panca; Gultom, Tati Baina; Ahyanti, Mei; Yushananta, Prayudhy; Santosa, Imam; Murwanto, Bambang
Jurnal Dunia Kesmas Vol 14, No 3 (2025): Volume 14 Nomor 3
Publisher : Persatuan Dosen Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah medis padat merupakan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan dari kegiatan pelayanan kesehatan dan dapat membahayakan kesehatan serta mencemari lingkungan jika tidak dikelola sesuai standar. Kabupaten Lampung Tengah memiliki 39 Puskesmas yang tersebar di wilayah dengan karakteristik campuran antara perkotaan dan pedesaan. Observasi awal menunjukkan bahwa masih ditemukan praktik pengelolaan limbah medis padat yang tidak sesuai, seperti pewadahan tanpa kode warna, serta penyimpanan lebih dari 2×24 jam tanpa fasilitas cold storage. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang dilakukan pada delapan Puskesmas di Kabupaten Lampung Tengah yang dipilih berdasarkan tingkat akreditasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan checklist berdasarkan Permenkes No. 18 Tahun 2020, dengan fokus pada tahap pemilahan, pengangkutan internal, dan penyimpanan sementara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilahan limbah medis telah dilaksanakan sesuai standar di seluruh Puskesmas Madya dan Paripurna, namun belum sepenuhnya di Puskesmas Utama. Seluruh Puskesmas belum memenuhi standar dalam pengangkutan internal dan penyimpanan sementara.Kata Kunci : akreditasi, Lampung Tengah, pengelolaan limbah medis padat
Optimalisasi Kapasitas Kader dalam Pemantauan MP-ASI dan Pmba sebagai Upaya Peningkatan Status Gizi Balita Anita, Anita; Ahyanti, Mei; Sutrio, Sutrio
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 10 (2025): Volume 8 No 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i10.22677

Abstract

ABSTRAK Pertumbuhan balita dipengaruhi oleh praktik pemberian gizi yang tepat, terutama pada masa transisi dari ASI eksklusif ke MP-ASI dan praktik PMBA. Kader Posyandu memiliki peran strategis dalam edukasi, pemantauan, dan pendampingan keluarga. Memperkuat peran kader melalui kegiatan pelatihan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Posyandu wilayah kerja Puskesmas Bandar Agung, Lampung Tengah pada 28 Agustus 2025 dengan sasaran 38 kader Posyandu. Metode pelaksanaan meliputi ceramah interaktif, demonstrasi, simulasi, dan praktik lapangan, dengan tahapan persiapan modul pelatihan, penyampaian materi MP-ASI dan PMBA, pendampingan praktik pemantauan dan konseling, serta evaluasi menggunakan pre-test, post-test, dan observasi keterampilan. Menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan kader dalam pemantauan gizi balita serta penerapan praktik MP-ASI dan PMBA. Meskipun dampak jangka pendek terhadap status gizi balita belum optimal, keberhasilan program ini menegaskan pentingnya monitoring berkelanjutan, evaluasi berkala, dan dukungan sistemik untuk mencapai tujuan jangka panjang perbaikan gizi anak secara berkesinambungan. Kata Kunci: Edukasi, Kader, MP-ASI, Pemantauan  ABSTRACT Toddler growth is strongly influenced by proper nutritional practices, particularly during the transition from exclusive breastfeeding to complementary feeding (MP-ASI) and infant and young child feeding (PMBA) practices. Posyandu cadres play a strategic role in providing education, monitoring growth, and supporting families. To strengthen the role of cadres through structured training activities. This community service activity was conducted at Posyandu within the working area of Bandar Agung Health Center, Central Lampung, on August 28, 2025, involving 38 Posyandu cadres. The implementation methods included interactive lectures, demonstrations, simulations, and field practice. The stages consisted of training module preparation, delivery of MP-ASI and PMBA materials, assistance in monitoring and counseling practice, and evaluation using pre-tests, post-tests, and skills observation. The program showed an increase in cadres’ knowledge, attitudes, and skills in monitoring toddler nutrition and implementing MP-ASI and PMBA practices. Although the short-term impact on toddler nutritional status was not optimal, the program’s success highlights the importance of continuous monitoring, periodic evaluation, and systemic support to sustainably achieve long-term improvements in child nutrition. Keywords: Education, Cadres, Complementary Feeding, Monitoring
Kemampuan Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes) Sebagai Fitoremediasi Dalam Pengolahan Limbah Cair Industri Tempe Putri, Wilda Nindia; Barus, Linda; Ahyanti, Mei; Prianto, Nawan; Masra, Ferizal; Indarwati, Suami
MIDWIFERY JOURNAL Vol 3, No 3 (2023): Volume 3 Nomor 3 September 2023
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v3i3.12318

Abstract

Background: This research is a Quasi-Experimental Design using a pretest-posttest with control group design with 3 repetitions. Objective: To determine the ability of 1 kg water hyacinth plants as phytoremediation in processing tempe liquid waste.Methods: This research is in the form of a Quasi-Experimental Design with the independent variables in the research, namely variations in wastewater volume of 20, 25, 30 liters and the dependent variable, namely reducing BOD, COD, TSS levels and neutralizing pH. This research was conducted at the Environmental Health Department Laboratory of the Tanjung Karang Health Polytechnic in March-May 2023. The sample used was tempeh liquid waste from a household industry located on Jalan Catur Tunggal, Kemiling District, Bandar Lampung.Results: From the research results, it was found that phytoremediation using water hyacinth plants weighing 1kg in a wastewater volume of 20 liters could reduce BOD levels by 57.13%, COD by 67.74%, TSS by 80.82%, and increase pH levels by 20.51%. . In accordance with Governor Regulation No. 7 Governor of 2010 concerning Waste Water Quality Standards for Soybean Processing Activities, only BOD with a waste water volume of 20 liters meets the requirements, other waste water volumes do not meet the standards.Conclusion and Recommendations: With the above results, phytoremediation using 1kg water hyacinth plants in a wastewater volume of 20 liters can reduce BOD levels by 57.13%, COD by 67.74%, TSS by 80.82%, and increase pH levels by 20.51%. A repeat study of similar phytoremediation is needed to get a better grade from this research. Keyword : Water Hyacinth Plants, Tempe Waste, BOD, COD, pH ABSTRAK Latar Belakang: Penelitian ini berupa Quasi-Experimental Design menggunakan rancangan pretest-posttest with control group dengan 3 kali pengulangan.Tujuan: Untuk mengetahui  kemampuan tanaman eceng gondok 1 kg sebagai fitoremediasi dalam pengolahan limbah cair tempe.Metode: Penelitian ini berupa Quasi-Experimental Design dengan Variabel bebas pada penelitian yaitu variasi volume air limbah 20, 25, 30 liter dan variabel terikat yaitu penurunan kadar BOD, COD, TSS dan menetralkan pH. Penelitian ini di lakukan di Laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang pada bulan Maret-Mei 2023. Sampel yang digunakan adalah limbah cair tempe dari industri rumah tangga yang berada di Jalan Catur Tunggal Kecamatan Kemiling Bandar Lampung.Hasil: Dari Hasil penelitian diperoleh hasil fitoremediasi menggunakan tanaman eceng gondok berat 1kg dalam volume air limbah 20 liter dapat menurunkan kadar BOD 57,13%, COD sebesar 67,74 %, TSS sebesar 80,82%, dan meningkatkan kadar pH sebesar 20,51%. Sesuai dengan Peraturan Gubernur Lampung No 7 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu Air Limbah Kegiatan Pengolahan Kedelai yang memenuhi syarat hanya BOD dengan volume air limbah 20 liter, pada volume air limbah lainnya belum memenuhi standar.Kesimpulan dan Saran: Dengan hasil di atas fitoremediasi menggunakan tanaman eceng             gondok berat 1kg dalam volume air limbah 20 liter dapat menurunkan kadar BOD 57,13%, COD sebesar 67,74 %, TSS sebesar 80,82%, dan meningkatkan kadar pH sebesar 20,51%. Diperlukan kajian ulang tentang fitoremediasi serupa untuk mendapatkan grade yang lebih baik dari penelitian ini. Kata Kunci: Tanaman Eceng Gondok , Limbah Tempe, BOD, COD, pH
Utilization of Banana Pith Starch From Agricultural Waste As A Cationic Coagulant Yushananta, Prayudhy; Ahyanti, Mei
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 7, No 1: March, 2022
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.169 KB) | DOI: 10.30604/jika.v7i1.856

Abstract

The coagulation method is the most commonly used in water treatment. However, long-term use of chemical coagulants can increase the risk of Alzheimer's disease and neurotoxicity, in addition to harming organisms, lowering the pH of the water, corrosion of pipes, and the use of high doses of chlorine. The study synthesized banana pith starch from agricultural waste as a cationic coagulant for river water treatment. Banana pith starch was modified by grafting cations from GTA (3-Chloro-2-hydroxypropyl trimethyl ammonium chloride) into the backbone structure of starch using microwave radiation. Performance tests were carried out on variations in dose (4), speed (3), and stirring time (3). Parameters tested were turbidity, TDS, and color, with four replications. The study found that the synthetic cationic coagulant could reduce turbidity up to 94.4%, while the color and TDS were 87.46% and 57.33%, respectively. The various treatments seemed to work on all test parameters (p less than 0.05). However, the most effective treatment was at a dose of 300 ppm, a stirring speed of 200 rpm, for 5 minutes. Research has proved that banana pith starch can be modified into an effective cationic coagulant to remove colloid compounds in water.Abstrak: Saat ini metode koagulasi merupakan metode yang paling umum digunakan dalam pengolahan air. Namun, penggunaan koagulan kimia jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer danneurotoksik, selain juga merugikan organisme, pH air menjadi rendah, korosi pipa, penggunaan clorin dosis tinggi. Penelitian bertujuan memanfaatkan pati empulur pisang dari limbah pertanian, sebagai koagulan kationik untuk pengolahan air sungai. Modifikasi pati empulur pisang dilakukan dengan cara mencangkokkan kation dari GTA (3-Chloro-2-hydroxypropyl trimetil amonium klorida) ke dalam struktur tulang punggung pati, menggunakan radiasi gelombang mikro. Pengujian kinerja dilakukan pada variasi dosis (4), kecepatan (3), dan waktu pengadukan (3). Parameter yang diuji adalah kekeruhan, TDS, dan warna, dengan empat kali ulangan. Penelitian mendapatkan bahwa koagulan kationik hasil sintesis mampu mereduksi kekeruhan hingga 94,4%, sedangkan warna dan TDS sebesar 87,46% dan 57,33%. Ragam perlakuan terlihat bekerja pada semua parameter uji (p kurang dari 0,05). Namun begitu, perlakuan paling efektif pada dosis 300 ppm, kecepatan pengadukan 200 rpm, selama 5 menit. Penelitian telah berhasil membuktikan bahwa pati empulur pisang dapat dimodifikasi menjadi koagulan kationik yang efektif untuk menghilangkan senyawa koloid dalam air.
Formulation, Dosage, and Exposure Time of Natural Substances in Controlling Aedes aegypti Larvae Ahyanti, Mei; Yushananta, Prayudhy
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 17 No. 3 (2023): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v17i3.3353

Abstract

The incidence of vector-borne diseases in Indonesia, particularly Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), continues to escalate. This surge correlates with climate change, the extreme transition from hot to rainy seasons. The use of synthetic chemicals for control measures can also poses environmental risks; hence, there is a necessity to explore natural control methods by harnessing the biodiversity of plant species within the environment. This research aims to assess the effectiveness of botanical extract mixture on the mortality of Aedes aegypti larvae.  Method: This study utilizes an experimental design with a complete factorial random arrangement, which aimed at elucidating the effectiveness of plant extract as a bio-larvacide against Aedes aegypti mosquitoes. The effectiveness is measured through larval mortality rates based on a formulated equation, with dosage and exposure time as the research variables. The research was conducted in the Environmental Health Departement Laboratory at Health Polytechnic of Tanjungkarang from March to July 2023. The observational sheet serves as the instrument The collected data are processed and analysed using ANOVA to discern variations in larva mortality based on the formula, linear regression is applied to explore the influence of dosage and exposure time on larva mortality. Result: The result of this study exhibits that the most efficacious formulations to terminate larvaes  were determined to be the 9th, 10th, and 11th formulations.  Furthermore, an extended exposure time correlates with the escalating rate of larval demise. The statistical model prosperously accounts for 88,59% of the variability in the response pertaining to Aedes larval mortality.  Conclusion: This study discerns that individually, the formula, dosage, and exposure time, also demonstrates an impact on larval death. This study unveils that an insecticidal formula derived from soursop leaves yields a higher mortality effect compared to formulations based on other materials.