Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

The Food Mafia as Food Cartels under Competition Law:An Analysis of KPPU Decisions in the Staple Food Sector Tanudjaja; Arief Budiman; Golkar Pangarso Rahardjo Winarsadi
YURISDIKSI : Jurnal Wacana Hukum dan Sains Vol. 21 No. 3 (2025): December
Publisher : Faculty of Law, Merdeka University Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55173/yurisdiksi.v21i3.338

Abstract

The term food mafia is a popular expression that refers to the control of supply chains and prices of essential food commodities by a coordinated group of business actors. From the perspective of competition law in Indonesia, this practice closely resembles the structure and behavior of a cartel, which is clearly prohibited under Law Number 5 of 1999. This article examines the extent to which food mafia practices can be classified as food cartels within the legal framework of competition law, and how the Business Competition Supervisory Commission (KPPU) has proven and addressed these practices in its decisions. Using a normative juridical method with a legal and case study approach, this research focuses on two major decisions: Number 24 KPPU I 2009 on the cooking oil cartel and Number 05 KPPU I 2013 on garlic importation. The analysis shows that food mafia practices can be legally framed as cartels when evidence of agreement or coordinated conduct among business actors is established. However, complex regulations and limited evidentiary tools pose challenges for law enforcement. The study concludes that the cartel framework is important for explaining the food mafia phenomenon, but its effectiveness depends on the strength of economic and legal proof built by KPPU, as well as more coherent regulations to support consumer protection and food security.
Peningkatan Kompetensi dan Produktivitas Karyawan 86 Production melalui Program Pelatihan DreamCamp 2025 Muhammad Muzakky Abd Harits; Arief Budiman
POTENSI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Ekonomi dan Bisnis Vol. 1 No. 3: September 2025
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/potensi.v1i3.37

Abstract

The Event Organizer (EO) industry is experiencing very rapid development, and human resource capabilities are a determining factor in competition. 86 Production, a company in the EO sector, realized the need to improve employee capabilities and launched the DreamCamp training program. This program includes socialization of event flow and performance techniques, kick off of the company's target program, and team building. The implementation of DreamCamp, which is a training for employees and freel ancers of 86 Production, took place at the Kusuma Agrowisata Resort & Convention Hotel, Batu, East Java. This program was attended by 50 participants and the 86 Production internship team as the organizer. The results of this program showed high enthusiasm and participation from the participants, as evidenced by the activeness of the participants during the material session, pretest-posttest which showed increased understanding, and appreciation for the best participants. This program also includes a kick off program in the form of company targets for next year and team building to improve team collaboration. However, there were obstacles in the form of increasing the duration of the material presentation which had an impact on the next agenda. Overall, DreamCamp was considered successful in increasing knowledge and collaboration potential. However, further evaluation is needed to improve time management and operational readiness. Industri Event Organizer (EO) telah mengalami pengembangan yang cepat, dan kemampuan sumber daya manusia adalah faktor penting dalam persaingan. 86 Production, sebuah perusahaan dibidang EO, telah mengidentifikasi kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan karyawan dan meluncurkan program pelatihan DreamCamp. Program ini mencakup sosialisasi flow event dan teknis kinerja, kick off program target perusahaan dan team building. Pelaksanaan DreamCamp yang berupa pelatihan karyawan dan pekerja lepas 86 Production berada di Kusuma Agrowisata Resort & Convention Hotel, Batu, Jawa Timur. Program ini dihadiri oleh 50 peserta dan tim magang 86 Production sebagai penyelenggara. Hasil program menunjukkan antusiasme dan partisipasi tinggi peserta, yang dibuktikan dengan keaktifan peserta selama sesi materi, pretest-posttest yang mengindikasikan peningkatan pemahaman, dan apresiasi peserta terbaik. Program ini juga mencakup kick off program berupa tujuan perusahaan untuk tahun depan dan team building untuk meningkatkan kolaborasi tim. Meskipun demikian, terdapat kendala berupa bertambah panjangnya waktu pemaparan materi yang mempengaruhi pada agenda berikutnya. Secara keseluruhan, DreamCamp dianggap berhasil meningkatkan pengetahuan dan potensi kolaborasi. Namun, evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan manajemen waktu dan kesiapan operasional.
PERANCANGAN 2D ANIMATE DALAM FILM ANIMASI BERJUDUL “TURNING POINT” TENTANG DAMPAK POSITIF DARI FENOMENA FOMO OLAHRAGA LARI Benly Ridwan; Arief Budiman; Muhammad Adharamadinka
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan fisik masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah, di mana sebagian besartermasuk dalam kategori tidak bugar. Namun, situasi ini mulai berubah setelah munculnya fenomenaFear of Missing Out, atau FOMO. Dalam konteks olahraga, FOMO ternyata memberikan dampakpositif, seperti meningkatkan semangat untuk berolahraga di kalangan usia 18 hingga 25 tahun danmendorong seseorang untuk mencoba aktivitas fisik baru, misalnya lari. Penelitian ini akan membuatsebuah animasi pendek yang menggambarkan dampak positif dari FOMO sebagai cerita utamanya.Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan edukasi sekaligus inspirasi bagi orang-orang yang sedangdalam usia produktif untuk mulai mengubah gaya hidup yang kurang aktif menjadi gaya hidup lebihsehat, dengan memanfaatkan adanya fenomena FOMO. Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan studi literatur. Data dianalisissecara deskriptif untuk mengetahui pola perilaku seseorang terkait FOMO dalam olahraga sertaefektivitas animasi sebagai media dalam mengubah persepsi mereka. Hasil penelitian menunjukkanbahwa media sosial memiliki peran penting dalam membentuk tren lari berbasis FOMO. Selain itu,penelitian juga menemukan bahwa pemahaman tentang audiens target, penggunaan cerita yangmenarik dan padat, serta teknik visualisasi animasi yang tepat sangat penting dalam membuat filmanimasi sebagai media edukasi mengenai fenomena FOMO dalam olahraga lari.Kata Kunci: FOMO, olahraga lari, animasi, media edukasi, dewasa awal
PERANCANGAN ANIMATING ANIMASI 2D “CAKRAWALA” SEBAGAI MEDIA INFORMASI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL POSTPARTUM BLUES Misella Anandita Savira; Arief Budiman; Tiara Radinska Deanda
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pospartum Blues merupakan tahap pertama dalam gangguan kesehatan mental wanitapasca melahirkan yang memicu terjadinya perasaan tak nyaman bagi sang ibu akibatpengaruh perubahan mood, hormon, lingkungan, dan bisa juga bayi yang dilahirkannya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perancangan animasi, khususnyadi tahap animating sebagai media informasi mengenai gangguan mental pada wanitasetelah melahirkan tepatnya pada tahap Postpartum blues, agar dapat meminimalisirkemungkinan terburuk yang akan terjadi akibat gangguan mental ini. Sehingga dengananimasi yang dikemas dengan teknik yang tepat diharapkan bisa menjadi sarana informasiuntuk disebarluaskan ke ranah masyarakat umum demi menumbuhkan rasa simpati.Penelitian ini mengadopsi metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melaluiwawancara, observasi, dan kajian pustaka. Analisis data dilakukan dengan pendekatankualitatif yang diusulkan oleh Moleong, dengan pengolahan data dilakukan secaraberkelanjutan hingga mencapai kejenuhan. Penelitian ini akan berupa pemahamantentang penggarapan animasi 2D dengan teknik frame-to-frame dan motion graphic yangmengaplikasikan 12 prinsip Animasi. Penggarapan ini diharapkan dapat berguna untukpenyampaian pesan awareness di setiap tekniknya.Kata kunci: Animasi, Animate, Mental, Depresi Pasca Melahirkan, Hamil, Postpartum,Baby Blues
PERANCANGAN BACKGROUND 3D DALAM FILM ANIMASI BERJUDUL “TURNING POINT” TENTANG DAMPAK POSITIF DARI FENOMENA FOMO OLAHRAGA LARI Umar Jawad Mushoddiq; Arief Budiman; Muhammad Adharamadinka
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingkat kebugaran masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, dengan mayoritas beradadalam kategori tidak bugar. Namun di tengah kondisi tersebut, fenomena Fear of Missing Out ( FOMO)justru muncul sebagai pemicu positif dalam membentuk kebiasaan olahraga, terutama di kalanganusia produktif 18-25 tahun. Media sosial memainkan peran besar dalam menyebarkan tren olahraga,khususnya lari, yang memicu motivasi audiens muda untuk ikut serta agar tidak tertinggal secarasosial. Penelitian ini merancang sebuah film animasi pendek yang mengangkat fenomena FOMOolahraga sebagai narasi utama, dengan pendekatan visual yang komunikatif dan background yangrepresentatif. Animasi dipilih sebagai media karena kemampuannya menyampaikan pesan komplekssecara ringan dan efektif kepada target audiens muda. Perancangan ini bertujuan untukmengedukasi sekaligus menginspirasi generasi muda agar mulai menerapkan gaya hidup aktif dansehatmelalui pengaruh sosial yang positif.Kata Kunci: FOMO, olahraga lari, animasi, gaya hidup sehat, background 3D, generasi muda.
PERANCANGAN BACKGROUND ANIMASI 2D “CAKRAWALA” SEBAGAI MEDIA INFORMASI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL POSTPARTUM BLUES Sophie Aisya Cahyadin; Arief Budiman; Tiara Radinska Deanda
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan Psikologis pada Ibu pasca melahirkan Postpartum Blues merupakan hal yangawam terjadi pada ibu pasca melahirkan, didorong dengan berbagai faktor seperti adaptasikehidupan baru sebagai ibu hingga perubahan hormon pasca melahirkan. Namun, bila tidakditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi Depresi Pasca Melahirkan dan dalamkondisi terburuk menjadi Psikosis Pasca Melahirkan. Postpartum blues terjadi karena beberapamacam faktor, salah satunya yaitu kurangnya dukungan dari lingkaran sosial ibu seperti dari suamidan keluarga, juga ketidaksiapan menghadapi adaptasi ke kehidupan sebagai orang tua. Olehkarena itu, dibutuhkan media informasi bagi perempuan berusia 18-27 tahun yang memilikirencana untuk memiliki anak, berbasis dari data yang telah dianalisis untuk dijadikan sebuah acuandalam perancangan Background dalam film Animasi 2D. Animasi 2D memiliki kemampuan untukmenciptakan visual yang imajinatif dan dapat menghibur sekaligus memberikan informasi kepadakhalayak mengenai gejala dan dampak postpartum blues. Penelitian ini menggunakan metodepenelitian kualitatif, dengan pengumpulan data metode observasi, wawancara, dan studi pustaka.Penelitian ini diharapkan dapat membantu peneliti sebagai background artist dalam perancanganbackground yang dapat mendukung visual animasi 2D bertemakan Postpartum blues.Kata Kunci: Postpartum Blues, Animasi 2D, Background Artist
PERANCANGAN DESAIN KARAKTER ANIMASI 2D “CAKRAWALA” SEBAGAI MEDIA INFORMASI GEJALA POSTPARTUM BLUES Hasna Naila Martya Putri; Arief Budiman; Tiara Radinska Deanda
eProceedings of Art & Design Vol. 13 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurangnya media informasi mengenai kondisi mental ibu pasca melahirkan dapat meningkatkan risikoterjadinya gangguan mental seperti postpartum blues, postpartum depression, hingga postpartum psychosis. Kondisiini dipicu oleh kombinasi faktor seperti perubahan hormonal, lingkungan yang kurang suportif, tekanan ekonomi, danstres emosional. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan desain dari karakter yang mengalami tekanan mentalakibat gangguan postpartum, khususnya melalui fenomena postpartum blues. Melalui perancangan ini, ciri-cirikarakter yang mengalami gejala tersebut dianalisis untuk menginformasikan pengalaman mengenai depresi pascamelahirkan postpartum blues dan orang sekitar yang berpengaruh. Hasil perancangan menunjukkan bahwa desainkarakter yang realistis, didukung oleh narasi emosional serta teknik animasi 2D yang tepat, mampu meningkatkanempati serta kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami dan menangani gangguan postpartum blues. Dengandemikian, media visual seperti animasi dapat menjadi alat komunikasi yang efektif dalam menyampaikan isukesehatan mental ibu kepada khalayak luas secara menyentuh dan informatif. Harapannya, media ini juga dapatmembuka ruang diskusi yang lebih terbuka mengenai pentingnya dukungan mental bagi ibu.Kata kunci: animasi 2D, desain karakter, melahirkan, media informasi, postpartum blues.
Analysis of Crossword Puzzle Therapy to Control Auditory Hallucinations in Sensory Perception Disorder Patients Jihan Nabilah Yusuf; Arief Budiman; Dwi Rahmah Fitriani; Linda Dwi Novial
Jurnal Kesehatan Cendikia Jenius Vol. 3 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : CV. CENDIKIA JENIUS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70920/jenius.v3i2.394

Abstract

Auditory hallucinations are one of the most common and disruptive symptoms experienced by individuals with schizophrenia, often impairing concentration, emotional regulation, and daily functioning. Non-pharmacological interventions, such as cognitive distraction techniques, are increasingly needed to complement medication in managing these symptoms. This study aimed to analyze the effectiveness of crossword puzzle distraction therapy in improving the ability of patients to control auditory hallucinations. A case study design was used involving one patient diagnosed with schizophrenia who received crossword puzzle therapy for three consecutive days. Data were collected through observation, interviews, and the Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS), and analyzed descriptively to assess changes before and after the intervention. The patient showed a marked reduction in hallucination intensity, improved focus, and increased ability to redirect attention away from hallucinatory voices. AHRS scores decreased significantly from severe to mild levels, accompanied by behavioral improvements such as calmness, cooperation, and self-control. These findings suggest that crossword puzzle distraction therapy can serve as a practical and effective non-pharmacological strategy in psychiatric nursing care. The study recommends the integration of cognitive activity-based distraction techniques into routine nursing interventions for patients experiencing auditory hallucinations.
Analysis of Nursing Clinical Practice Using Relating Therapy Intervention to Reduce Auditory Hallucination Symptoms Nuraini Yulianti; Arief Budiman; Linda Dwi Novial; Dwi Rahmah Fitriani
Jurnal Kesehatan Cendikia Jenius Vol. 3 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : CV. CENDIKIA JENIUS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70920/jenius.v3i2.395

Abstract

Auditory hallucinations are one of the most common and disruptive symptoms experienced by individuals Auditory hallucinations are one of the positive symptoms of schizophrenia that significantly affect patients’ cognitive processes, emotional stability, and social interactions, making comprehensive nursing care essential. This study aims to analyze the effectiveness of Relating Therapy (RT) as an innovative intervention in reducing the signs and symptoms of auditory hallucinations among patients in the Elang Ward of Atma Husada Mahakam Samarinda Mental Hospital. This research employed a case study design using a psychiatric nursing care approach on a patient diagnosed with paranoid schizophrenia. Data were collected through clinical observation, interviews, and the Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS) over a nine-day intervention period, then analyzed descriptively to identify changes in frequency, intensity, and emotional distress related to hallucinations. The results demonstrated a significant decrease in AHRS scores from 24 (severe hallucinations) to 5 (mild hallucinations) after six sessions of Relating Therapy, along with improved self-control, reduced psychological distress, and more assertive responses toward hallucinatory voices. This study concludes that Relating Therapy is effective as a non-pharmacological intervention in reducing auditory hallucination symptoms and is recommended for integration into clinical psychiatric nursing practice, with a suggestion for its continued application to enhance patient outcomes.
Analysis of Nursing Clinical Practice Using Ecoprint Occupational Therapy to Reduce Auditory Hallucination Symptoms Lulu Khairiyah; Arief Budiman; Dwi Rahmah Fitriani; Linda Dwi Novial
Jurnal Kesehatan Cendikia Jenius Vol. 3 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : CV. CENDIKIA JENIUS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70920/jenius.v3i2.396

Abstract

Auditory hallucinations are a major symptom experienced by patients with schizophrenia and can disrupt cognitive, emotional, and social functioning, thus requiring comprehensive therapeutic management. This study is necessary because pharmacological therapy alone is not sufficient to optimize patients’ ability to control hallucinations, making meaningful non-pharmacological interventions essential. This study aimed to determine the effectiveness of ecoprint occupational therapy in reducing signs and symptoms of auditory hallucinations in Mr. I. The research employed a case study design involving one patient, with data collected using the Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS), conducted over two consecutive days. The ecoprint intervention was implemented for approximately 60 minutes per session and analyzed descriptively. The results demonstrated a reduction in AHRS scores from 23 to 21 on the first day and from 17 to 11 on the second day, with improvements observed in frequency, intensity, negative voice content, disturbance to activities, and control over hallucinations. The patient also showed increased focus and engagement during the activity. In conclusion, ecoprint occupational therapy is effective as a supportive intervention for helping patients control auditory hallucinations. It is recommended for continued implementation with expanded duration and activity variations to enhance therapeutic outcomes.