Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Criminal Aspects of Corruption Regarding Control of Regional Assets by Foundation X For Commercial Purposes Asep Sapsudin; Asmaidar Asmaidar; Mohamad Dindin Hamam Sidik
RechtIdee Vol 20, No 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Trunojoyo Madura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/ri.v20i2.32230

Abstract

This study examines the criminal aspects of corruption in the control of Regional Government-Owned Assets (BMD) by Foundation X over the land formerly occupied by the Bandung Zoo. The research problem focuses on how the use of regional assets by a foundation for commercial purposes can be classified as a criminal act of corruption and how the law should be enforced. The foundation unlawfully managed and leased the land owned by the Bandung City Government without any formal agreement and failed to deposit the rental income into the regional treasury. This study employs a normative legal research method using a juridical-normative approach. The findings indicate that the actions in question fulfill the elements of a corruption offense: unlawful conduct, enrichment of oneself or others, and financial loss to the state, as stipulated in Articles 2 and 3 of the Anti-Corruption Law. Legal enforcement through criminal prosecution, restitution, asset confiscation, and regulatory harmonization between the Foundation Law and BMD management regulations are crucial steps to prevent the recurrence of public asset misuse. Formulating stricter regulations and strengthening oversight mechanisms in regional asset governance.Keywords: Corruption Crimes; Foundations law; Law Enforcement; Regional                   Assets;
Penemuan Hukum dalam Sistem Peradilan Indonesia: Suatu Kajian Teoretis dan Normatif Berbasis Studi Kepustakaan Slamet Riyadi; Nur Ahmad Fadillah; Ade Hasan Santoso; Asep Sapsudin
Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam Vol. 17 No. 2 (2026): April
Publisher : IAI Darussalam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/darussalam.v17i2.4932

Abstract

Legal discovery (rechtsvinding) by judges has increasingly become a central phenomenon in the Indonesian judicial system, particularly in response to normative gaps, ambiguous regulations, and conflicts of legal norms. This study aims to analyze the characteristics, techniques, and implications of legal discovery in the Indonesian judiciary from a theoretical and normative perspective. The research employs a normative legal research method with a library research approach, examining Indonesian legal literature, doctrines, and court decisions published between 2021 and 2025. The findings indicate that legal discovery is consistently practiced by judges as a mechanism to bridge written law and social reality. Judges apply various interpretative techniques, including grammatical, systematic, teleological interpretation, legal analogy, and value-based approaches, depending on the nature of the case. Legal discovery is generally oriented toward achieving substantive justice while maintaining legal certainty and judicial legitimacy. However, differences in interpretative techniques may potentially affect the consistency of judicial decisions. This study concludes that legal discovery is a legitimate and necessary judicial practice, provided it is carried out within clear normative and methodological boundaries. The implications of this research highlight the importance of strengthening interpretative guidelines and judicial reasoning capacity to ensure accountable and consistent legal discovery in Indonesian courts. Keywords: legal discovery; judicial interpretation; rechtsvinding; Indonesian judiciary; normative legal research
FILSAFAT ILMU EPISTEMOLOGI SEBAGAI PARADIGMA PENGEMBANGAN ILMU HUKUM KESEHATAN DI INDONESIA Asep Sapsudin; Novi Septiani; Muhamad Sidik; Indah Mustika Sari
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 12 (2026): Mei 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Perkembangan ilmu hukum di Indonesia menunjukkan pergeseran dari pendekatan normatif menuju pendekatan yang lebih interdisipliner dan kontekstual, seiring meningkatnya kompleksitas permasalahan hukum modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran filsafat ilmu sebagai landasan dan arah pengembangan ilmu hukum di Indonesia dengan menitikberatkan pada dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual berbasis studi kepustakaan, yang dianalisis secara kualitatif melalui teknik deskriptif-analitis dan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara ontologis, ilmu hukum berkembang dari sekadar norma tertulis menjadi fenomena sosial yang dinamis; secara epistemologis, terjadi perluasan metode penelitian melalui integrasi pendekatan normatif dan empiris; serta secara aksiologis, hukum diarahkan pada pencapaian keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum yang seimbang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa filsafat ilmu memiliki peran fundamental dalam membangun kerangka pengembangan ilmu hukum yang lebih reflektif, kritis, dan kontekstual. Kontribusi utama penelitian ini adalah penyusunan kerangka integratif yang menghubungkan ketiga dimensi filsafat ilmu sebagai dasar pengembangan ilmu hukum nasional berbasis nilai-nilai Pancasila
Kegagalan Tindakan Medis dan Diskursus Malpraktik: Sebuah Tinjauan Filsafat Hukum dalam Etika Biomedik Denni Boy Saragih; Asep Sapsudin; Riswan Marsal; Puspitasari Vivit Puji
Journal Evidence Of Law Vol. 5 No. 1 (2026): Journal Evidence Of Law (April)
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/jel.v5i1.2377

Abstract

 Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi pemahaman tersebut dalam kerangka etika biomedik dan filsafat hukum. Dengan menggunakan pendekatan normatif-filosofis, artikel ini menganalisis konsep tanggung jawab, relasi antara legalitas dan moralitas, serta problem keadilan dalam konteks kegagalan tindakan medis. Kasus-kasus medis di Indonesia digunakan sebagai titik refleksi untuk menunjukkan bahwa kegagalan tidak selalu mencerminkan pelanggaran hukum atau etika. Artikel ini berargumen bahwa reduksi kegagalan menjadi malpraktik mencerminkan dominasi cara berpikir positivistik yang mengabaikan kompleksitas moral dalam praktik medis. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan filsafat hukum yang lebih integratif untuk memahami tanggung jawab dalam etika biomedik.
Dilema Etik dan Hukum Dalam Penyampaian Prognosis Kebutaan: Perspektif Filsafat Hukum Terhadap Prioritas Autonomi dan Batasan Non-Maleficence Mohammad Aulia Molid Ogest Putra Calisanie Calisanie; Asep Sapsudin; Kadarusman; Sobri
Jurnal Siber Multi Disiplin Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Siber Multi Disiplin (April - Juni 2026)
Publisher : Siber Nusantara Research & Yayasan Sinergi Inovasi Bersama (SIBER)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jsmd.v4i1.853

Abstract

Dokter spesialis mata di Indonesia menghadapi dilema nyata ketika harus menyampaikan prognosis kebutaan kepada pasien. Di satu sisi, hukum positif mewajibkan penyampaian prognosis sebagai bagian dari informed consent yang sah. Di sisi lain, Pasal 9 ayat (3) Permenkes 290/2008 membuka ruang bagi therapeutic privilege yang memungkinkan dokter menahan informasi demi melindungi pasien. Ketegangan ini mencerminkan konflik mendasar antara prinsip autonomi dan non-maleficence dalam bioetika medis. Penelitian ini bertujuan menganalisis konflik tersebut dari perspektif filsafat hukum dan merumuskan rekonstruksi norma berbasis prioritas autonomi. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan empat pendekatan: perundang-undangan, konseptual, filsafat hukum, dan perbandingan hukum. Hasil analisis menunjukkan bahwa penahanan informasi prognosis justru merupakan bentuk maleficence jangka panjang yang lebih serius. Rekonstruksi norma yang diusulkan mencakup penegasan kewajiban fundamental penyampaian prognosis dengan pengecualian yang sangat terbatas, penetapan standar minimum substansi, mekanisme penyampaian bertahap disertai dukungan psikologis, serta kewajiban dokumentasi yang terverifikasi.
Co-Authors Abda Abda Abdullah, Merwan Ade Hasan Santoso Agustin, Hilma Aulia Agustina, Amelia Anindya Putri Permatasari, Anindya Putri Arfiyah, Gemah Ariyanto, Cepi Asmaidar Asmaidar Aswan Atmaja, Deni Auliansyah, Dicky Dadang Kusdinar Daniyati, Nuryahyania Deden Ardiansyah Denni Boy Saragih Dewangga, Ridho Cahya Dilaga, Ramadhani Kurnia Ekarini, Dessy Faisal Adam, Faisal Fariska, Nurshela Fauzi Rahman Firma, Fuji Restu Fitria Fitria Giman, Anggit Wicaksono Ginting, Dedy Gunawan Gumay, Febrianti Hamdi, Fakhri Hendri Abdul Qohar Hertanto, Yudhi Indah Mustika Sari IRMA DEWI Jafar, Faozi Jollis Jusri, Elim Kadarusman Karunia, Cindy Armelia Korompot, Sitti Nariman Kristianti, Nunul Lismiati, Iseu Maisyaroh, Sitti Mansyur, Suriyani Mardianti, Alis Margaretha Meirianna, Esa Susanthy Mikael Tonni S Mohamad Dindin Hamam Sidik Mohammad Aulia Molid Ogest Putra Calisanie Calisanie Muhafid, Muhafid Muhamad Ramdani Muhamad Sidik Muhammad Rifani, Muhammad Muhammad Yusuf Nobel, Raden Muhammad Novi Septiani Nur Ahmad Fadillah Parikesit, Kiagus Handrian Patriajaya, Bianda Adeti Prajany, Joshua Jonah Pratama, Perdana Akbar Priyanto Priyanto Purawijaya, Handrian Rahman Puspitasari Vivit Puji Putri, Mega Amanda R. Arif Hermawan Rahmat, Sandy Marzuqi Respati, H. Radea Riswan Marsal Rubiyanti, Dora Sandiyana Kertawijaya Sari, Sabrina Nuraini Sartono Sartono, Sartono Satrio, Andri Putro Setiawan, Eko Wahyuddin Silitonga, Lamria Slamet Riyadi Sobri Suade, Nella Septyani Sukmajaya, Lusiana Pratiwi Tamon, Oktavian Triana, Gallant Akmal Wibisono, Muhammad Yusuf Widyansyah, Aliffiani Wildan Wildan Yanuar, Ferdian Yuyut Prayuti Zahrah, Halimah