Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

The Effectiveness Of Combining An Electric Belt And Paracetamol For Adolescent Girls Experiencing Mild Primary Dysmenorrhea Sumini, Sumini; Suardi, Achmad; Sastra, Herri; Anwar, Anita Deborah; Sutisna, Ma'mun; Wijayanegara, Hidayat
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 12, No 2 (2026): Volume 12 No 2 Februari 2026
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v12i2.22563

Abstract

Latar Belakang: Menstruasi yang cenderung disertai nyeri (dismenore) adalah kondisi yang terus dialami banyak wanita sejak masa remaja hingga dewasa. Masih dibutuhkan pengembangan lebih lanjut dalam terapi non-farmakologis untuk dijadikan pilihan pengobatan alternatif. Salah satu inovasi yang menjanjikan adalah penggunaan sabuk listrik, yang dirancang untuk memberikan sensasi menenangkan dan meningkatkan sirkulasi darah. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk menganalisis efek dan efektivitas penggunaan sabuk listrik dibandingkan dengan penggunaan parasetamol pada remaja putri di Sekolah Kejuruan Kesehatan Bhakti Kencana Garut.Metode: Penelitian ini disusun sebagai investigasi kuasi-intervensional yang menggunakan kerangka kohort perbandingan yang dialokasikan secara non-acak. Partisipan penelitian terdiri dari 100 remaja putri yang diidentifikasi mengalami ketidaknyamanan menstruasi primer ringan antara tanggal 5 Juli dan 8 Agustus 2025. Partisipan dipisahkan menjadi dua kelompok: kohort pengobatan (sabuk pemanas listrik dikombinasikan dengan parasetamol) dan kohort perbandingan (parasetamol saja). Intensitas nyeri dievaluasi sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Skala Peringkat Numerik (NRS). Pemeriksaan statistik dari informasi yang dikumpulkan menerapkan uji Mann–Whitney bersama dengan skor N-gain.Hasil: Setiap kelompok dipastikan menunjukkan penurunan substansial dalam besarnya ketidaknyamanan (p 0,001). Meskipun demikian, kelompok terapi diamati menunjukkan penurunan yang lebih signifikan pada indeks Kontinum Penilaian Numerik rata-rata dibandingkan dengan kelompok pembanding (0,48 ± 0,58 versus 0,78 ± 0,68; p = 0,024). Kemajuan relatif, yang dinilai melalui indeks Pertumbuhan Standar, ditentukan lebih tinggi dalam kelompok terapi, menunjukkan adanya manfaat pereda nyeri yang lebih intensif.Kesimpulan: Kombinasi sabuk elektrik dan parasetamol dianggap memberikan pengurangan tambahan yang sederhana namun signifikan secara statistik pada nyeri dismenore primer ringan dibandingkan dengan penggunaan parasetamol saja. Meskipun besarnya perbedaan klinis dianggap relatif kecil, pendekatan multimodal ini diyakini telah berfungsi sebagai strategi pelengkap yang mudah diakses untuk meningkatkan kenyamanan dan berpotensi mengurangi kebutuhan akan asupan analgesik berulang di kalangan remaja.Saran: Studi acak berskala besar lebih lanjut direkomendasikan untuk memperkuat bukti yang ada dan mendukung penerapannya sebagai strategi manajemen nyeri pelengkap. Kata kunci: Dismenore Primer Ringan, Parasetamol, Remaja Perempuan, Sabuk Elektrik ABSTRACT Background: Menstruation that tends to have been accompanied by pain (dysmenorrhea) is a condition that many women continue to have experienced from their teenage years into adulthood. There still have to have been further developments in non-pharmacological therapies to have served as alternative treatment options. One promising innovation is the use of an electric belt, which is designed to have provided a soothing sensation and to have improved blood circulation.Objective: This study aimed to have analyzed the effect and effectiveness of using an electric belt compared to have using paracetamol for adolescent girls at Bhakti Kencana Garut Health Vocational School.Methods: This inquiry was structured as a quasi-interventional investigation employing a non-randomly allocated comparison cohort framework. The research participants comprised 100 teenage females identified as experiencing mild primary menstrual discomfort between July 5 and August 8, 2025. The participants were separated into two groups: a treatment cohort (electric heating belt combined with paracetamol) and a comparison cohort (paracetamol alone). Pain intensity was evaluated before and after the intervention using the Numerical Rating Scale (NRS). Statistical examination of the collected information applied the Mann–Whitney test along with the N-gain score.Results: Each assembly was ascertained to have manifested an inferentially substantive diminution in discomfort magnitude (p 0.001). Notwithstanding, the therapeutic assembly was observed to have demonstrated a more accentuated decrease in the mean Numerical Appraisal Continuum indices in comparison with the contrasting assembly (0.48 ± 0.58 versus 0.78 ± 0.68; p = 0.024). The relative progression, appraised through the Standardized-Growth index, was determined to have been more elevated within the remedial grouping, denoting the presence of an intensified pain-alleviating merit.Conclusion: The combination of an electric belt and paracetamol is considered to have provided a modest yet statistically significant additional reduction in mild primary dysmenorrhea pain compared to have using paracetamol alone. Although the clinical magnitude of the difference is regarded to have been relatively small, this multimodal approach is believed to have served as an accessible complementary strategy to have enhanced comfort and to have potentially reduced the need for repeated analgesic intake among adolescents.Suggestions: Further large-scale randomized studies are recommended to have strengthened the existing evidence and to have supported its application as a complementary pain management strategy. Keywords: Mild Primary Dysmenorrhea, Paracetamol, Adolescent Girls, Electric Belt
Precision Chromosomal Surgery before Birth: Allele-Specific CRISPR-Cas9 Editing for Trisomy 21 in Perinatal Medicine Sanjaya, I Nyoman Hariyasa; Andonotopo, Wiku; Bachnas, Muhammad Adrianes; Prabowo, Wisnu; Yuliantara, Eric Edwin; Lukas, Efendi; Dewantiningrum, Julian; Pramono, Mochammad Besari Adi; Wiradnyana, Anak Agung Gede Putra; Mulyana, Ryan Saktika; Kusuma, Anak Agung Ngurah Jaya; Pangkahila, Evert Solomon; Gumilar, Khanisyah Erza; Darmawan, Ernawati; Akbar, Muhammad Ilham Aldika; Yeni, Cut Meurah; Aldiansyah, Dudy; Bernolian, Nuswil; Pribadi, Adhi; Anwar, Anita Deborah; Suryawan, Aloysius; Putra, Ridwan Abdullah; Gondo, Harry Kurniawan; Nugraha, Laksmana Adi Krista; Andanaputra, Waskita Ekamaheswara Kasumba; Dharma, Wibisana Andika Krista; Djanas, Dovy; Stanojevic, Milan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.965

Abstract

Objective: Trisomy 21 remains the most common live-born aneuploidy and a major contributor to perinatal morbidity. Although prenatal screening, particularly non-invasive prenatal testing (NIPT), has advanced substantially, clinical management offers no corrective options. Emerging allele-specific genome-editing approaches propose targeted removal or silencing of the extra chromosome 21. This review summarizes current evidence and evaluates the translational relevance of these technologies in perinatal medicine.Methods: A narrative review was conducted following PRISMA-aligned procedures. A structured search of PubMed, Scopus, and Web of Science (January 2000–July 2025) identified 1,242 records. After duplicate removal, title/abstract screening, and full-text assessment based on predefined inclusion criteria, 54 studies met eligibility requirements. Data were synthesized across four domains: mechanistic strategies, developmental applicability, translational feasibility, and ethical–regulatory considerations.Results: Allele-specific CRISPR-Cas9 studies demonstrated selective cleavage of the supernumerary chromosome 21 in cellular models, with partial restoration of near-euploid transcriptional patterns. Additional approaches—XIST-mediated silencing and centromere destabilization—provided alternative mechanisms with varying stability and specificity. Evidence remains limited to in vitro systems, with no validated embryo or fetal applications. Key challenges include mosaicism, delivery barriers, individualized SNP targeting, and ethical governance.Conclusions: Allele-specific chromosome editing represents a promising but still experimental direction for future perinatal therapeutics. Current findings justify continued multidisciplinary investigation while emphasizing cautious interpretation and rigorous ethical oversight prior to any clinical translation. Abstrak Tujuan: Trisomi 21 tetap menjadi aneuploidi yang paling sering ditemukan pada kelahiran hidup dan merupakan kontributor utama terhadap morbiditas perinatal. Meskipun skrining prenatal—khususnya non-invasive prenatal testing (NIPT)—telah mengalami kemajuan yang signifikan, penatalaksanaan klinis hingga kini belum menawarkan opsi korektif. Pendekatan pengeditan genom spesifik alel yang mulai berkembang mengusulkan penghilangan atau penghambatan terarah terhadap salinan ekstra kromosom 21. Tinjauan ini merangkum bukti terkini serta mengevaluasi relevansi translasional teknologi tersebut dalam kedokteran perinatal.Metode: Tinjauan naratif dilakukan dengan mengikuti prosedur yang selaras dengan PRISMA. Pencarian terstruktur terhadap PubMed, Scopus, dan Web of Science (Januari 2000–Juli 2025) mengidentifikasi 1.242 rekaman. Setelah penghapusan duplikasi, penyaringan judul/abstrak, dan penilaian teks lengkap berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan, sebanyak 54 studi memenuhi persyaratan kelayakan. Data disintesis ke dalam empat domain: strategi mekanistik, aplikabilitas perkembangan, kelayakan translasional, serta pertimbangan etika dan regulasi.Hasil: Studi CRISPR-Cas9 spesifik alel menunjukkan pemotongan selektif terhadap kromosom 21 supernumerari pada model seluler, dengan pemulihan parsial pola transkripsi menuju profil ekspresi gen yang menyerupai kondisi euploid. Pendekatan lain—seperti penghambatan berbasis XIST dan destabilisasi sentromer—menyediakan mekanisme alternatif dengan tingkat kestabilan dan spesifisitas yang bervariasi. Bukti saat ini terbatas pada sistem in vitro, tanpa aplikasi yang tervalidasi pada embrio maupun janin. Tantangan utama meliputi mosaikisme, hambatan pengantaran, kebutuhan penargetan SNP individual, serta tata kelola etis.Kesimpulan: Pengeditan kromosom spesifik alel merupakan arah yang menjanjikan, namun masih bersifat eksperimental bagi terapi perinatal di masa mendatang. Temuan saat ini mendukung keberlanjutan penelitian multidisipliner, sekaligus menekankan perlunya interpretasi yang hati-hati dan pengawasan etika yang ketat sebelum penerapannya dalam praktik klinis.Kata Kunci: Bedah genom janin; CRISPR-Cas9; Penyuntingan gen perinatal; Terapi kromosom; Trisomi 21
Co-Authors Achadiyani Achmad Arifin Adhi Pribadi Ahmad Rizal Aldiansyah, Dudy Aldika Akbar, Muhammad Ilham Alfiah Rahmawati Aloysius Suryawan Ambrosius Purba Amillia Siddiq Andanaputra, Waskita Ekamaheswara Kasumba Andonotopo, Wiku Ani Kusumastuti Arief S. Kartasasmita Atie Rachmiatie Aziz, M. Alamsyah Bachnas, Muhammad Adrianes Bainuan, Lina Darmayanti Benny Hasan Purwara Bony Wiem Lestari Budi Handono Cut Meurah Yeni Dadang Syarif Effendi Dany Hilmanto Darmawan, Ernawati Deni K Sunjaya Deserha, Ranny Dharma, Wibisana Andika Krista Dian Tjahyadi Djanas, Dovy Efendi Lukas Eric Edwin Yuliantara Erni Mayor Evert Solomon Pangkahila Faizal Arif Caropeboka Fajrin, Anita Megawati Farid Husin Farid Husin Firman Fuad Wirakusumah Fitria Prabandari Hadyana Sukandar Hanom Husni Syam Harefa, Umy Darni Harry Kurniawan Gondo Hartiningsih6, Siti Sugih Herlina Simanjutak Herman Susanto Herry Garna Herry Herman Hidayat Wijayanegara Husin, Farid I Nyoman Hariyasa Sanjaya Indah Yulika Indun Lestari Setiono Irene Leha Ishak Abdulhak Ishak Nurihsan Jernihati Krisniat Harefa Johanes C Mose Johanes Cornelius Mose Johannes Cornelius Mose Julaecha Julaecha Julian Dewantiningrum Jusuf S. Effendi Jusuf Sulaeman Effendi Khanisyah Erza Gumilar Kusuma, Anak Agung Ngurah Jaya Leri Septiani Lestari, Lara Santi Indah Linda Rofiasari Lisnawati Lisnawati M. Rizkar Arev Sukarsa Meita Dhamayanti Mira Dyani Dewi Muhammad Nurhalim Shahib Nanan Sekarwana nashriva, Ita Nugraha, Laksmana Adi Krista Nuswil Bernolian Pangaribuan, Roma Berlian Ponpon S Idjradinata Ponpon S Idjradinata Pramono, Mochammad Besari Adi Putra, Ridwan Abdullah R. M. Sonny Sasotya Rachmat Zulkarnain Rachmayanti Nur Raden Tina Dewi Judistiani Rikki Fitriyadi Afandi Rizka Aprilia, Rizka Rochmawati Rochmawati Rovina Ruslami, Rovina Rowawi, Roni Ruswana Anwar Ryan Saktika Mulyana Sadawa, Helena Mariani Sari Puspa Dewi Sasotya, RM Sonny Sastra, Herri Setyorini Irianti Simanjuntak, Herlina Siti Sugih Sofie R. Krisnadi Sophia Sophia Sophia Sophia Sophia, Sophia Stanojevic, Milan Suardi, Achmad Suardi, Achmad Sugiyono, Iis Sumini Sumini, Sumini Supriyatin, Dedeh Suryani Suryani Susiarno, Hadi Sutisna, Ma'mun Sutisna, Ma’mun Tania Novi Tita Husnitawati Madjid Tono Djuwantono Tri Hanggono Achmad Uni Gamayani, Uni Veronica, Yustitio Nora Vita Muniarti Tarawan Vita Murniati Tarawan Widjadjakusumah, Tony Wiradnyana, Anak Agung Gede Putra Wiryawan Permadi WISNU PRABOWO Yanti Herawati Zulvayanti Zulvayanti