p-Index From 2021 - 2026
2.887
P-Index
This Author published in this journals
All Journal HAYATI Journal of Biosciences Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Jurnal Akuakultur Indonesia Buletin PSP Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Forum Pasca Sarjana AGRISAINS Biospecies JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences AL KAUNIYAH Jurnal Harpodon Borneo ECSOFiM (Economic and Social of Fisheries and Marine Journal) Jurnal Perikanan dan Kelautan Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Jurnal Bisnis Perikanan Aquahayati Forum Geografi Jurnal Tataloka Jurnal Sains dan Inovasi Perikanan/Journal of Fishery and Innovation (JSIPi) Masyarakat, Kebudayaan dan Politik AGRIKAN Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Omni-Akuatika Jurnal Biologi Tropis Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management) Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Indonesian Fisheries Research Journal Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Jurnal Kelautan Nasional Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Techno-Fish Habitus Aquatica : Journal of Aquatic Resources and Fisheries Management COJ (Coastal and Ocean Journal) Pattimura Proceeding : Conference of Science and Technology Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Manfish Journal Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Jurnal Manusia dan Lingkungan Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Journal of Fisheries & Marine
Claim Missing Document
Check
Articles

POLA PEMANFAATAN SUMBER DAYA UDANG DOGOL lnetapenaeus ersis de Haan) SECARA BERKELANJUTAN DI PERAIRAN CILACAP DAN SEKITARNYA Ali Suman; Daniel R. Monintja; John Haluan; Mennofatria Boer
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4304.48 KB) | DOI: 10.15578/jppi.12.1.2006.47-56

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi pemarfaatan sumber daya udang dogol (Metapenaeus ensis de Haan) secara berkelanjutan di perairan Cilacap dan sekitarrrya.
ANALISIS PRODUKTIVITAS DAN SUSEPTIBILITAS PADA TUNA NERITIK DI PERAIRAN PELABUHANRATU Eva Suryaman; Mennofatria Boer; Luky Adrianto; Lilis Sadiyah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.194 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.1.2017.19-28

Abstract

Pada perikanan tuna, tuna neritik merupakan kelompok ikan yang dominan tertangkap pada perikanan pantai, termasuk perikanan skala kecil dan bersifat artisanal. Penangkapan ikan tuna neritik di perairan Palabuhanratu yang semakin intensif setiap tahunnya tanpa didasari pengelolaan yang tepat, diduga akan mengakibatkan terjadinya penurunan stok sumberdaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa keberlanjutan spesies neritik tuna menggunakan analisis produktivitas dan suseptibilitas / Productivity and Susceptibility Analysis (PSA). Penelitian ini dilaksanakan dari Februari hingga Mei 2016 di perairan Palabuhanratu. Hasil penelitian menunjukan nilai kerentanan tuna neritik berturut-turut untuk ikan tenggiri 1.25, tongkol krai 1.37, tongkol abu-abu 0.91, tongkol komo 1.49, dan tongkol lisong 1.41. Hal ini menunjukan bahwa tingkat kerentanan ikan tuna neritik terhadap overfishing saat ini masih rendah karena nilainya masih dibawah 1,8, sehingga aktivitas penangkapan masih dapat ditingkatkan terutama untuk ikan tenggiri dan tongkol abu-abu yang memiliki kerentanan terendah.Neritic tuna are mainly caught by coastal fisheries, including small scale fisheries and artisanal fisheries. The continuous absence of proper management for neritic tuna, will result in a decline in the stock of fish. This study aims to analyze the sustainability of neritic tuna species by analyzing the productivity and susceptibility (PSA). The research was conducted from February to May 2016 in Palabuhanratu waters. Vulnerability indexs for narrow-barred Spanish mackerel (Scomberomorus commerson) 1.25, frigate tuna (Auxis thazard) 1.37, longtail tuna (Thunnus tonggol) 0.91, kawakawa (Euthynnus affinis) 1.49, and bullet tuna (Auxis rochei) 1.41. These vulnerability indexs shows that level of vulnerability for overfishing for neritic tuna is low because the vulnerability index still below the maximum limit vulnerability index (1.8), fishing activities can still be increased, particularly for narrowbarred Spanish mackerel and longtail tuna that has the lowest vurnerability.
KOMPOSISI DAN UKURAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) YANG TERTANGKAP PADA BEBERAPA STRATIFIKASI BATIMETRI DI PERAIRAN LAMPUNG TIMUR Zairion Zairion; Mennofatria Boer; Yusli Wardiatno; Achmad Fahrudin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.009 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.4.2014.199-206

Abstract

Perairan pesisir Lampung Timur merupakan salah satu daerah yang potensial untuk produksi rajungan (Portunus pelagicus) dari alam di Indonesia, namun produktivitas dan ukuran hasil tangkapan cenderung semakin menurun yang diduga akibat tingginya intensitas eksploitasi. Pada penelitian ini diinvestigasi komposisi kelamin dan ukuran rajungan yang tertangkap dengan jaring insang dasar (set gill-net) pada beberapa stratifikasi batimetri dari Maret 2012−Februari 2013.  Area kajian dibagi menjadi 3 stratifikasi: S1, S2 dan S3 dengan kedalaman air masing-masing kurang dari 5 m, 5−10 m, dan lebih dari 10 m.  Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Rajungan jantan dominan tertangkap di seluruh stratifikasi area pengamatan. Ukuran rata-rata lebar karapas (CW) dan bobot tubuh (BW) rajungan [±SD] di strata S1 adalah 108,57 ± 13,39 mm dan 89,22 ± 35,33 g serta berbeda nyata dengan S2 dan S3 (P<0,05). Peningkatan ukuran lebar karapas dari S1 hingga S3 masing-masing 17,59% dan 14,62% serta bobot tubuh masing-masing 66,25% dan 57,24%. Terdapat sekitar 34% rajungan yang berukuran kecil dari Lm50 dan 24% dewasa kurang reproduktif yang tertangkap di S1. Perairan pesisir di S1 juga tampak sebagai daerah tangkapan utama rajungan, sehingga diperlukan strategi pengelolaan dengan mengimplementasikan perlindungan daerah asuhan dan pemanfaatan yang sangat selektif di area ini. The East Lampung coastal waters is one of potential area for the blue swimming crab (Portunus pelagicus) wild catch production in Indonesia. However, catch productivity and sizes of caught crabs tend to be decrease and might be related to high exploitation rate. In present study, we investigated the sex compositions and size distribution of this crab caught by the set gill-net at several bathimetric stratifications from March 2012 to February 2013. The study area was divided into three stratifications, i.e., S1, S2, and S3, which have had water depth less than 5 m, 5−10 m and more than 10 m, respectively.  Data was analysed by descriptive statistics. The high proportion of males found in all stratification areas. Mean carapace width (CW) and body weight (BW) [±SD] of crabs were 108.57 ± 13.39 mm and 89.22 ± 35.33 g in S1and it was significantly different to that of S2 and S3 (P<0.05). An increasing of mean carapace width throughout S1 to S3 was 17.59% and 14.62%, whiles body weight was 66.25% and 57.24%, respectively. There were approximately 34% of immature crabs (less than Lm50) and 24% of less reproductive adults caught within S1. The coastal waters at S1 seem to be main fishing ground and management strategy by implementing a nursery ground protection and most selective fishing is required in this area.
STATUS STOK IKAN KARANG TARGET DI KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Ernik Yuliana; Mennofatria Boer; Achmad Fahrudin; M Mukhlis Kamal; Efin Muttaqin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.754 KB) | DOI: 10.15578/jppi.22.1.2016.9-16

Abstract

Sumber daya ikan karang di Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) mengalami tekanan eksploitasi seiring dengan peningkatan permintaan sumber daya ikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis status stok ikan karang target di TNKJ. Penelitian dilakukan di TNKJ Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, pada April-Agustus 2015. Pengumpulan data menggunakan metode survei dan observasi, mencakup data primer dan sekunder. Empat jenis ikan karang dipilih untuk mewakili ikan karang, yaitu ekor kuning, pisang-pisang, sunu macan, dan jenggot. Hasil tangkapan dianalisis dengan CPUE dan indeks musim. Mortalitas diduga dengan kurva penangkapan yang dilinierkan berdasarkan data komposisi panjang ikan. Penilaian status stok menggunakan metode analitik dengan menghitung laju eksploitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CPUE ikan karang mempunyai tren yang meningkat. Ikan karang secara agregat tersedia pada setiap bulan sepanjang tahun, tidak ada musim puncak penangkapan dan musim paceklik. Ikan pisang-pisang dan sunu macan telah dieksploitasi melebihi batas kelestariannya, yaitu 114,50% dan 154,00%.Coral reef fish resources in Karimunjawa National Park (KNP) are under exploitation pressure with increasing demand of fish for human consumption. This study is aimed to analyze the status of target reef fishes in KNP. Field survey was conducted in KNP District of Jepara, Central Java, in April-August 2015. Data consists of primary and secondary data was obtained by using survey and observation method.    Four species of reef fishes were chosen to represent reef fish, namely yellow tail fusilier (Caesio cuning), blue and gold fusilier (Caesio caerulaurea), highfin coral grouper (Plectropomus oligocanthus), and dash-and-dot goatfish (Parupeneus barberinus). Reef fish catch data was analyzed using catch per unit effort (CPUE) and seasonal index. Fish mortality was predicted by catch curve based on length-converted. The results indicate increasing trend of reef fishes CPUE. Reef fishes in aggregate are available every month in year-round and there is no seasonality trend. Fish length analysis reveals that status of blue and gold fusilier and highfin coral grouper have been exploited over maximum sustainable limit, with the rate of exploitation 114.50% and 154.00%, respectively. 
ASPEK BIOLOGI IKAN KURISI (Nemipterus japonicus) DI PERAIRAN TELUK BANTEN Selvi Oktaviyani; Mennofatria Boer; Yonvitner Yonvitner
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 1 (2016): (April 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.793 KB) | DOI: 10.15578/bawal.8.1.2016.21-28

Abstract

Ikan kurisi (Nemipterus japonicus) merupakan salah satu sumber daya ikan ekonomis penting di Perairan Teluk Banten dan banyak didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu, Banten. Intensitas penangkapan yang tinggi akan menyebabkan tangkap lebih (overfishing), sehingga mengancam kelestarian ikan kurisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa aspek biologi ikan kurisi di Perairan Teluk Banten, seperti struktur ukuran panjang, rasio kelamin, hubungan panjang berat, tingkat kematangan gonad, ukuran panjang rata-rata tertangkap (Lc) dan ukuran pertama kali matang gonad (Lm). Informasi yang diperoleh dapat menjadi bahan pertimbangan dalam kegiatan pengelolaan perikanan. Lokasi pengambilan contoh dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu, Banten dari bulan Mei hingga Agustus 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran panjang total ikan kurisi berkisar antara 98 dan 211 mm. Perbandingan kelamin jantan dan betina dalam keadaan seimbang dan memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif yang menunjukkan pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan beratnya. Lebih dari 50% ikan-ikan yang diamati baik jantan maupun betina selama bulan pengamatan belum matang gonad (immature).  Ukuran pertama kali matang gonad adalah 196 mm sedangkan ukuran panjang rata-rata tertangkap adalah 146 mm. Banyaknya ikan yang tertangkap dalam ukuran kecil (kurang dari panjang pertama kali matang gonad) akan mengganggu kelestarian ikan kurisi.Japanese threadfin bream (Nemipterus japonicus) is one of the most important economical fish resources in the Gulf of Banten and many landed at Archipelago Fishing Port (PPN) of Karangantu. High intensity of fishing activity can cause an overfihing, and threat sustainability of japanese threadfin bream. The research was aimed to determine some biological aspects of japanese threadfin bream in the Gulf of Banten, such as structure of the length, sex ratio, length-weight relationship, gonad maturity stage, the average length of captured (Lc) and the length of first maturity (Lm). It is believed that the collected information can be taken into consideration in the fisheries management activities. The sample was collected at PPN Karangantu, Banten from May to August 2012. The result showed that the length of this fish ranged between 98 and 211 mm. Ratio of male and female is balance and have negative allometric growth pattern show that the length of growth is more faster than the weight of growth. More than 50% of fish sample both males and females were immature gonads. During observation, length of  first maturity was 196 mm and the average length of captured was 146 mm. Many fishes caught was smaller than Lm, It will interfere the sustainability of japanese threadfin bream.
BIOLOGI POPULASI RAJUNGAN(Portunus pelagicus) DI PERAIRANSEKITARWILAYAHPATI, JAWATENGAH Tri Ernawati; Mennofatria Boer; Yonvitner Yonvitner
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.32 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.1.2014.31-40

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus) adalah salah satu komoditas perikanan yang sudah banyak dieksploitasi oleh nelayan tradisional. Penangkapan yang berlebihan merupakan salah satu penyebab menurunnya populasi alamidari rajungan. Kondisi tersebut dikhawatirkan akanmengancamkelestarian dan keberlanjutan pemanfaatannya, sehingga perlu dilakukan penelitian tentang aspek biologi populasi rajungan untuk tujuan pengelolaan yang rasional di wilayah Pati. Penelitian dilakukan di perairan Pati dan sekitarnya sejak bulan Januari 2012 sampai dengan Maret 2013. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui rata-rata ukuran pertama kali tertangkap (Lc) dan matang gonad (Lm), sifat pertumbuhan, musim pemijahan dan jumlah telur individu betina rajungan. Data biologi rajungan yang dikumpulkan terdiri dari: ukuran lebar karapas, berat, jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad betina. Hasil penelitian diperoleh bahwa sebaran hasil tangkapan pada substrat yang berbeda relatif sama (ñ > 0.05). Ukuran rata-rata lebar karapas rajungan pertama kali tertangkap (Lc) oleh bubu lipat adalah 108 mm. Ukuran rata-rata lebar karapas rajungan pertama kali matang gonad (Lm) adalah 107 mm. Sifat pertumbuhanrajungan jantan dan betina adalah lebih cepat pertambahan bobot dibandingkan lebar karapasnya.Nisbah kelamin pada musim barat relatif seimbang (ñ < 0.05). Nisbah kelamin pada musim timur relatif tidak seimbang (ñ < 0.05). Reproduks terjadi sepanjang tahun. Jumlah total telur individu betina berkisar antara 351.214 sampai 1.347.029 butir dengan rata-rata 957.196 butir.Blue Swimming crab (Portunus pelagicus) was one of fisheries commodity, intensively exploited by artisanal fisheries. Overfishing was caused of declining natural populations of crabs. Its was feared to threaten the preservation and sustainability of utilization. So it was necessary doing research on biological aspects of crab populations for the purpose of rational management in the region Pati. The study was conducted in Pati and surrounding waters from January 2012 toMarch 2013. The research were aimed to determine the mean size at first capture (Lc) and mean size at gonad maturity (Lm), growth characteristic, spawning season and fecundity of individual females crabs. Collecting crab biological data consists of: carapace width, weight, sex and maturity stage female gonads. The result showed that catch distribution on different substrates was not different (ñ>0,05). The mean size of crabs’s carapace width at first capture (Lc) by collapsible traps was 108 mm. The meansize at first mature of female crabs (Lm) was 107 mm. The growth type of male and female crab were positive allometric. Its means that gain of weight was rapidly than carapace width of crabs. Sex ratio between male andfemale inWest season was relative balanced but in East season was not balanced (ñ < 0.05). Spawning season of blue swimming crab is throughout the year. The total fecundity ranged from 351,214 – 1,347,029 eggs whichmean 957,196 eggs.
PERTUMBUHAN, FAKTOR KONDISI, DAN BEBERAPA ASPEK REPRODUKSI IKAN LEMURU (Amblygaster sirm, Walbaum 1792) DI PERAIRAN SELAT SUNDA Nidya Kartini; Mennofatria Boer; Ridwan Affandi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1166.719 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.1.2017.43-56

Abstract

Ikan lemuru (Amblygaster sirm) merupakan salah satu komiditas utama di Selat Sunda yang menjadi target nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai Lebuan. Informasi biologi dibutuhkan untuk menyusun langkah konservasi ikan lemuru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi biologis ikan lemuru di perairan Selat Sunda melalui pengkajian parameter pertumbuhan, faktor kondisi, dan beberapa aspek reproduksi. Pengambilan ikan contoh dilakukan pada bulan April-Agustus 2015 dari hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di PPP Labuan, Banten menggunakan teknik Penarikan Contoh Acak Berlapis. Jumlah ikan contoh yang diambil selama penelitian sebanyak 527 ekor ikan jantan dan 245 ekor ikan betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan lemuru jantan dan betina adalah isometrik, nilai faktor kondisi ikan lemuru jantan berkisar 0,9346 – 1,0294 dan betina berkisar 0,9401 – 1,0738, parameter pertumbuhan L∞, K, dan t0 pada ikan jantan adalah 248,80 mm; 0,24/tahun;dan -0,38. Adapun parameter (L∞, K, dan t0) pada ikan betina adalah 235,26 mm; 0,46/tahun, dan -0,20. Nisbah kelamin ikan lemuru jantan dan betina TKG IV adalah 0,75:1. Ukuran pertama kali matang gonad (Lm) ikan lemuru jantan dan betina adalah 188 mm dan 186 mm. Sedangkan ukuran pertama kali tertangkap (Lc) ikan lemuru jantan dan betina adalah 172 mm dan 173 mm. Musim pemijahan ikan lemuru diduga terjadi pada bulan Mei dan Juli.The spotted sardinella (Amblygaster sirm) was one of main commodities in the Sunda Strait that maily targeted by fishers in Labuan Coastal Fishing Port, Banten. The biological  information  needed to setup conservation measure of the spotted sardinella. This research aims to analyse the biological conditions of spotted sardinella in the Sunda Strait by reviewing parameters of growth, condition factor, and some reproduction aspect. Research was conducted in April-August 2015 in Labuan Coastal Fishing Port, Banten by using Random Stratified Sampling technique. About 700 samples (527 male and 245 female fishes) collected during study. The results showed that the growth pattern of male and female were isometric, value of condition factor for male ranged from 0,9346 – 1,0294 and for female ranged from 0,9401 – 1,0738. The estimated growth parameters (L∞, K, and t0) for male were 248,80 mm; 0,24 year-1;and -0,38 respectively. While, the parameters (L∞, K, and t0) of female were 235,26 mm; 0,46 year-1;and -0,20 respectively. The sex ratio between males and females for spotted sardinella was 0,75:1. The size at first maturity (Lm) of male and female were 188 mm and 186 mm, respectively. In addition, the size a first caught (Lc) of male and female was 172 mm and 173 mm, respectively. Thespawning season spotted sardinella possibly occurs in May and July.
DISTRIBUSI SPASIO-TEMPORAL POPULASI RAJUNGAN (Portunus pelagicus) BETINA MENGERAMI TELUR DI PERAIRAN PESISIR LAMPUNG TIMUR Zairion Zairion; Yusli Wardianto; Achmad Fahrudin; Mennofatria Boer
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.481 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.2.2014.95-102

Abstract

Distribusi spasio-temporal populasi rajungan betina yang mengerami telur (BEF) telah dikaji di perairan pesisir Lampung Timur. Penelitian dilakukan pada tiga stratifikasi kedalaman perairan: <5 m (strata S1), antara 5-10 m (strata S2), dan >10 m (strata S3) serta empat sub-area (A1-A4) di setiap stratum dari bulan Maret 2012-Februari 2013. Kelimpahan populasi rajungan BEF diindikasikan dengan proporsi rajungan BEF/betina tidak mengerami telur (NBF) dan BEF/total individu. Perbedaan proporsi dianalisis dengan uji ANOVA satu arah. Hasil penelitian menunjukan bahwa proporsi rajungan BEF bervariasi secara spasial, ditemukan mulai dari strata S1 dan meningkat ke strata S3. Daerah pemijahan dan pembiakan yang dominan terdapat pada kedalaman air >5 m dan di sub-area A2 dan A3. Secara agregat, BEF ditemukan sepanjang tahun dengan dua puncak kelimpahan (Mei dan September-Oktober) sebagai puncakmusimpemijahan dan pembiakan. Proporsi rajungan BEF secara spasio temporal tumpang tindih dengan daerah penangkapan rajungan pada hampir semua musim. Diperlukan strategi pengelolaan pemanfataan yang sesuai untukmenunjang keberhasilan reproduksi, diantaranya penangkapan menggunakan alat yang dapat mempertahankan BEF dalam keadaan hidup selama terperangkap, kemudian melepaskannya atau memeliharanya di area tertentu sampai menetaskan telurnya sehingga dapat meningkatkan produksi larva dan pada akhirnya dapat mempertahankan populasi dan stok.Spatial-temporal distribution of berried females (BEFs) Portunus pelagicus was studied in East Lampung coastal waters. An investigation was conducted at three water depth stratifications, i.e., less than 5 m (stratum S1), between 5-10 m (stratum S2) and more than 10 m (stratum S3), as well as four sub-areas (A1 A4) in each of stratifications from March 2012 to February 2013. The abundance of BEF population was indicated by their proportion to non-berried females (NBFs) and to the total individual crabs, while the differences among the results were tested by one-way ANOVA test. The results showed that the proportions of BEFs varied spatially, increased from stratum S1 to S3. Spawning and breeding seemed to dominantly occur at water depth more than 5 m and A2 and A3 sub-areas. BEFs were found throughout the year with two peaks of its occurrence, i.e. in May and in September to October, and those months were considered as peak of spawning and breeding seasons. The spatial and temporal occurrence of BEFs overlapped with crab fishing grounds in most fishing seasons. An appropriate fisheries management strategy is required for their reproduction success. Capturing crab by using eco-friendly fishing gear that render caught BEFs alive and releasing them or keeping them in certain area for hatching their eggs would enhance larvae production to maintain population and stock.
KAJIAN TINGKAT EFEKTIFITAS PERIKANAN UNTUK PENGEMBANGAN SECARA BERKELANJUTAN DI PROVINSI BANTEN Yonvitner Yonvitner; Mennofatria Boer; Rahmat Kurnia
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2020): (Mei) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.1.2020.35-46

Abstract

Efektifitas pengelolaan perikanan harus mempertimbangkan pola produksi dan produktivitas usaha penangkapan. Untuk itu penilaian terhadap efektivitas alat perlu dilakukan untuk menjamin keberlanjutan pengelolaan perikanan. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Banten pada tahun 2018 dengan menggunakan data tahun 2003-2017. Analisis efektivitas penangkapan dengan mengunakan matrik analisis antara produksi dan produktivitas. Dan juga didukung dengan analisis statistik deskriptif terhadap sebaran hasil tangkapan. Hasil penelitian untuk kategori alat tangkap yang lebih efektif adalah Payang, Pukat Cincin, Jaring Insang, dan Bagan Perahu. Payang memiliki tingkat produksi 280.560 kg per tahun dan produktivitas 31.612 ton per tahun, Pukat Cincin memiliki produksi sebesar 517,341 ton per tahun dan produktivitas 44.986 per tahun, dan Jaring Insang pada tingkat produksi sebesar 1074.311 ton per tahun dan produktivitas 9.231 ton per tahun. Alat tangkap yang termasuk kategori tidak efektif adalah Sero, Jaring Udang, Rawai Hanyut dan Perangkap. Program rekonstruksi alat tangkap penting untuk mengurangi kapasitas penangkapan ikan dan meningkatkan ekonomi. Dalam hal ini, penelitian ini belum melibatkan skala ekonomi nelayan dalam aktivitas operasi sehari-hari.The effectiveness of fisheries management must consider the pattern of production and productivity of fishing businesses. For this reason, an assessment of the effectiveness of the tools needs to be carried out to ensure the sustainability of fisheries management. This research was conducted in Banten Province in 2018 using data from 2003-2017. Fishing effectiveness analysis using a matrix analysis between production and productivity. And also supported by using statistical analysis of the average value and distribution of catches. The results of the research for the more effective categories of fishing gear were Payang, Pure Seine, Gillnet Drift, and Boat Liftnet. Payang has a production rate of 280,560 kg per year and productivity of 31,612 tons per year, Purse seine has a production of 517,341 tons per year and productivity of 44,986 per year, and Gillnet Drift at a production rate of 1074,311 tons per year and productivity of 9,231 tons per year. The fishing gear included in the ineffective category is Sero, Shrimp net, Drifting Rawai and traps. The reconstruction program is important to reduce fishing capacity and improve the economic community. In this case, this study has not involved the economies of scale of fishermen in daily operations.
KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN BIOLOGI REPRODUKSI IKAN KUNIRAN (Upeneus sulphureus, Cuvier 1829) DI PERAIRAN SELAT SUNDA Lindawati Lindawati; Achmad Fahrudin; Mennofatria Boer
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 2 (2019): Juli - Desember
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v19i2.1293

Abstract

Abstrak : Ikan kuniran termasuk jenis ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis. Tingginya permintaan terhadap ikan kuniran akan menyebabkan intensitas penangkapan terhadap ikan tersebut semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek pertumbuhan dan biologi reproduksi ikan kuniran.  Pengambilan sampel dilakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Banten dan dilakukan pada bulan Mei-Oktober 2018.  Metode pengumpulan sampel dilakukan melalui pendekatan penarikan contoh acak sederhana.  Total ikan contoh yang diperoleh selama penelitian berjumlah 620 ekor yang terdiri dari 297 ekor ikan jantan dan 323 ekor ikan betina.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan kuniran bersifat allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,9109 dan panjang berkisar antara 71-188 mm.   Hasil analisis nisbah kelamin menunjukkan bahwa ikan jantan dan betina dalam kondisi yang tidak seimbang (dengan nilai perbandingan 1:1,09) atau didominasi ikan betina. Musim pemijahan diduga terjadi selama periode pengamatan dengan puncak pemijahan terjadi pada bulan Juli dan Oktober. Tipe pemijahan ikan kuniran adalah total spawner.  Ikan kuniran diduga pertama kali matang gonad pada ukuran panjang 130,35 mm untuk ikan jantan dan 138,69 mm untuk ikan betina.  Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk merumuskan pengelolaan sumber daya ikan kuniran yang tepat dan berkelanjutan.Kata Kunci : Ikan Kuniran (Upeneus sulphureus), Pertumbuhan, Reproduksi, Selat Sunda Abstract : Sulphur goatfish is considered a demersal fish with economic value. The high demand for sulphur goatfish will increase the fishing intensity for this fish. This study aims to analyze growth and reproductive biology aspects of sulphur goatfish. Sampling was carried out at the Coastal Fishing Port (PPP) at Labuan, Banten in May-October 2018. Sample collection was done through a simple random sampling approach. Total fish samples collected during the study are 620, consisted of 297 males and 323 females. Results showed that the growth patterns of sulphur goatfish were negative allometric with b value of 2,9109 and lengths ranging from 71-188 mm. Sex ratio analysis showed that male and female were in an unbalanced condition (with a ratio of 1: 1.09), dominated by female fish. The spawning season is suspected to occur during the observation period with spawning peaks occurring in July and October. The spawning type of sulphur goatfish is total spawner. Sulphur goatfish was suspected to reach first gonads maturity at a length of 130.35 mm for male fish and 138.69 mm for female fish. The results of this study could be considered to formulate appropriate and sustainable management of sulphur goatfish resources.Keywords : Sulphur Goatfish (Upeneus sulphureus), Growth, Reproduction, Sunda Strait
Co-Authors . Khairunnisa . Theresia . Zairion A. Aman Damai Abubakar, Salma Achmad Fachrudin Achmad Fachrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin ACHMAD FARAJALLAH Achmadi, Muhammad Rifqi Adibrata, Sudirman Afiyatus sholihah Agus Alim Hakim Ahmad Muhtadi Ahmad, Aditiyawan Akhmad Fauzi Ali Mashar Ali Suman Ali Suman Ali Suman Ali Suman Amiruddin Tahir Anandinta permatachani Andi Irwan Nur, Andi Irwan Andin H Taryoto Angga Airlangga Ani Mardiastuti Aria Damar Ario Damar Auliah, Armi Awal . Subandar, Awal . Awal Subandar Azizah, Hikmatul Bahtiar, . Beatrix M. Rehatta Cecep Kusmana Daniel R . Monintja Daniel R Monintja Daniel R. Monintja Daniel R. Monintja David Hermawan de la Rosa, Emilio Dedi Soedarma Dedi Soedharma DEDI SOEDHARMA Dedi Soedharma Desniar - - Desrita Destilawati Destilawati Destilawaty, Destilawaty Dewayani Soetrisno Dewayani Sutrisno Didik Wahju Hendro Tjahjo Dietriech G Bengen Dietriech Geoffrey Bengen Dori Rachmawani Edy Supriyono Efin Muttaqin Ermayanti Ishak Ernan Rustiadi Ernik Yuliana Ety Parwati Eva Suryaman Farid Ma’ruf, Widodo Fredinan Yulianda Gani, M. Jarier Abdillah Gatot Yulianto Gatot Yulianto Georgina M. Tinungki Gladys Peuru H Eidman Habibi, A Haeruddin . Handaka, Asep Agus Handoko Adi Hanif Wafi Hanif Wafi Harpasis S . Sanusi Helmy Akbar Helmy Akbar Hermawan, David Hikmatul Azizah Hikmatul Azizah I Made Dwi Ismawan I Nyoman Suyasa I Wayan Nurjaya Ida Bagus Jelantik Swasta Ikhlas Yati Iman Wahyudin Indra . Indra Jaya Inggrid Wahyuni Eviasta Irwan Muliawan Isdradjad Setyobudi Andi Isdradjad Setyobudi Andi Isdradjad Setyobudiandi Isdradjad Setyobudiandi Isdradjad Setyobudiandi Isdradjad Setyobudiandi Isdradjad Setyobudiandi Isdradjat Setyobudiandi Ismudi Muchsin Jabbar, Meuthia Aula Johanes Widodo John Haluan John Haluan Joko Santoso Julia Syahriani Hasibuan Kadarwan Soewardi Kadarwan Suwandi Kadarwan Suwardi Kardiyo Prapto Kardiyo Kardiyo Praptokardiyo Kiagus Abdul Aziz Kiagus Abdul Aziz Kusumo, Suryo Lilis Sadiyah Lindawati Lindawati Luky Adrianto M Mukhlis Kamal M. Mukhlis Kamal Maizan Sharfina Majariana Krisanti Marimin , Martini Djamhur Martini Djamhur Martini Djamhur Masykur Tamanyira Mochammad Riyanto Mohammad Muhklis Kamal Mohammad Mukhlis Kamal Mr. Suharsono Muarif Muarif Muarif Muarif Muh. Rasman Manafi Muhammad Kasnir Mulyono S Baskoro Munawar Munawar Munirah Tuli Nandi Sukri Ngurah N . Wiadnyana Nidya Kartini Nidya Kartini Nidya KARTINI Niken T.M Pratiwi Nufaiza Fitri Chandra Utami Nurfajar, Nurfajar Nurlisa Alias Butet Nurul Khakhim Nurul Khakhim Nurul Najmi Omega Raya Simarangkir Parwinia . Rahmat Kurnia Reny Puspasari Reza Alnanda Riana Faiza Ridwan Affandi RIDWAN AFFANDI Riska Puspita Rodearni Simarmata Rokhmin Dahuri Rokhmin Dahuri Rokhmin Dahuri Rokhmin Dahuri Romy Ketjulan, Romy Rudi Alek Wahyudin Rumagia, Faizal Sadikin Amir Salma Abubakar Sapda Putri Sadewi Selvi Oktaviyani Selvia Oktaviyani Setyo Budi Susilo Shifa Fauziah Sigid Hariyadi Sigid Hariyadi Sugeng Budiharsono Sugeng Budiharsono Suharsono, Mr. Sulistiono Sulistiono Sulistiono Suradi Wijaya Saputra Surya Genta Akmal Surya Gentha Akmal Suryo Kusumo Susanto, Handoko Adi Sutaman, Sutaman Sutrisno Sukimin Tamanyira, Masykur Taryono Taryono Thomas Hidayat Tri Ernawati Tridoyo Kusumastanto Unstain NWJ Rembet Vera Ardelia Vera Ardelia Vera Ardelia Vincentius P Siregar Viska Donita Prahadina Wafi, Hanif Widodo Farid Ma’ruf Wulandari Sarasati Yon Vitner Yonvitner - Yunizar Ernawati Yunizar Ernawati Yunizar Ernawati Yusli Wardianto Yusli Wardiatno Zenty Islamiati Zulfikar, Andi Zulhamsyah Imran