Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Ethnomedicine Study of Medicinal Plants for Therapy of Elderly Sleep Disorders in Tengger Tribe Lahardo, Devanus; Ekasari, Wiwied; Widyawaruyanti, Aty
Borneo Journal of Pharmacy Vol. 7 No. 3 (2024): Borneo Journal of Pharmacy
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjop.v7i3.7272

Abstract

Ethnomedicine offers valuable insights into plant-based therapies, potentially leading to the discovery of novel drugs. Sleep disturbances, including difficulty falling asleep, maintaining sleep, and early morning awakening, are prevalent among the elderly population and can significantly worsen Alzheimer's disease progression. This study explores the medicinal plants utilized by the Tengger tribe's elderly population for treating sleep disorders. Employing a mixed-methods approach, the study involved qualitative data collection through snowball sampling and in-depth interviews with 99 elderly participants and three traditional healers of the Tengger tribe. Quantitative data was obtained through questionnaires administered during field surveys. Participants were selected based on specific criteria: elderly individuals over 60 years of age, native Tengger tribe members with a history of using medicinal plants for sleep disorders; traditional healers were required to be native Tengger tribe members with knowledge passed down through generations. The study identified a total of 11 medicinal plants used for sleep disorders. Five plant species emerged as the most dominant based on the highest citation value (FC) analysis: kale (Ipomoea reptans), agarwood (Aquilaria malaccensis), sintok (Cinnamomum sintoc), Broadleaf plantain (Plantago major), and soursop (Annona muricata). The most commonly used plant parts were leaves, bark, and roots. Traditional preparation methods included boiling and burning the plant materials. Notably, knowledge of these medicinal plants is primarily transmitted orally within the community. Our findings highlight five medicinal plants employed by the Tengger elderly to manage sleep disorders, with limited documented evidence of their efficacy.
PENINGKATAN PEMAHAMAN MASYARAKAT TENTANG APLIKASI OBAT TRADISIONAL YANG TEPAT UNTUK MELAWAN COVID-19 Ekasari, Wiwied; Widyowati, Retno; Purwitasari, Neny; Suryadi, A. Mu’thi Andy; Sahu, Ram Kumar
Jurnal Kreativitas dan Inovasi (Jurnal Kreanova) Vol 3 No 1 (2023): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24034/kreanova.v3i1.5420

Abstract

Pemanfaatan tanaman obat untuk melawan COVID-19 menjadi tren di masyarakat beberapa tahun terakhir. informasi mengenai penggunaan tanaman obat untuk melawan COVID-19 menyebar dengan cepat sehingga dikhawatirkan dapat meningkatkan kesalahan informasi dan dapat menimbulkan permasalahan kesehatan baru akibat penggunaan obat tradisional yang kurang tepat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pemanfaatan obat tradisional serta cara pembuatannya yang baik untuk melawan COVID-19. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk ceramah secara daring yang melibatkan 47 orang guru dan pengelola Lembaga Pendidikan Lukman Al Hakim Hidayatullah, Surabaya. Penilaian terhadap tingkat pengetahuan para peserta dilakukan melalui pre-test dan post-test menggunakan instrumen berupa sepuluh pertanyaan pilihan ganda dalam format respons tunggal tentang obat tradisional untuk melawan COVID-19 dan cara pembuatan obat tradisional yang baik. Diperoleh peningkatan nilai rata-rata post-test (75,83) dibanding pre-test (51,39) yang menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan para peserta webinar tentang obat tradisional untuk melawan COVID-19 beserta cara pembuatannya yang baik.
Pelatihan inovasi produk berbahan kulit buah manggis sebagai upaya peningkatan perekonomian masyarakat Desa Songgon Kabupaten Banyuwangi Suciati Suciati; Wiwied Ekasari; Andang Miatmoko; Neny Purwitasari; Fatin Fadhilah Hasib; Hilkatul Ilmi; Firman Wicaksana; Hamizah Haula
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 2 (2025): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i2.28952

Abstract

Abstrak Desa Songgon adalah salah satu desa di Kabupaten Banyuwangi yang dikembangkan sebagai desa wisata. Desa ini memiliki kekayaan alam yang melimpah terutama buah manggis sebagai komoditas unggulan. Masyarakat Desa Songgon memanfaatkan buah manggis untuk konsumsi sehari-hari dan dijual. Harga buah manggis di pasaran sangat fluktuatif terutama saat musimnya harganya sangat murah.  Permasalahan lain yang dihadapi adalah dari kulit buah manggis yang kerap kali hanya menjadi limbah rumah tangga. Oleh karena itu perlu adanya program peningkatan pengetahuan dan keterampilan terkait pengolahan kulit buah manggis menjadi berbagai produk berdaya jual serta strategi pemasarannya kepada warga Desa Songgon. Metode yang dilakukan berupa penyuluhan dan praktek pembuatan produk kepada kader PKK dan karang taruna Desa Songgon. Hasil dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan peserta dilihat dari kenaikan nilai pre-test 54,9 menjadi 83,9 pada post-test. Peserta juga mendapatkan keterampilan dalam pembuatan teh celup dan sabun antibakteri dengan bahan dasar kulit buah manggis.  Hasil uji aktivitas antioksidan dari teh celup mangostana dan mangostana mix yang dibuat menunjukkan bahwa produk teh yang dibuat memiliki aktivitas antioksidan yang baik. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kader PKK dan Karang Taruna diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta belajar bagaimana membuat produk inovatif dari buah manggis sehingga dapat diproduksi secara komersial. Dengan demikian, dalam jangka panjang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Songgon. Kata kunci: Desa Songgon; Banyuwangi; buah manggis; inovasi produk. Abstract Songgon Village is one of the villages in Banyuwangi Regency that is developed as a tourist village. This village is rich in natural resources, with mangosteen being one of the most valuable commodities. The people of Songgon Village use mangosteen for daily consumption and for trade. The price of mangosteen on the market is very fluctuating, especially during mangosteen season, it is very cheap. Another issue faced is the mangosteen rind often becomes household waste. The purpose of this community service is to enhance the knowledge and skills of the residents of Songgon Village regarding the processing of mangosteen rind into a variety of innovative health products as well as the marketing strategy of the product. The method used is counseling and practices for PKK cadres and youth organizations of Songgon Village. The results of this program showed that there was an increase in the knowledge of participants according to the pre-test score (54,9) to 83,9 in post-test. Participants also gain the skill in making tea and soap from mangosteen rinds. The antioxidant activity of the tea products, mangostana and mangostana mix, showed good antioxidant activity of the tea infusion. The knowledge and skill gain by participants related innovative products from mangosteen fruit can be implemented, so that they can be produced commercially. Thus, in the long term it is expected to increase the income of the Songgon Village residents. Keywords: Songgon Village; Banyuwangi; mangosteen; innovative products.
Edukasi kesehatan melalui webinar tentang swamedikasi obat modern dan tradisional untuk menjamin efektivitas pengobatan Wiwied Ekasari; Retno Widyowati; Andang Miatmoko; Achmad Syahrani; Tristiana Erawati Munandar; Aty Widyawaruyanti; Suciati Suciati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.22834

Abstract

AbstrakSwamedikasi merupakan salah satu cara masyarakat untuk mengatasi keluhan penyakit yang tergolong ringan. Tren ini semakin meningkat selama pandemi COVID-19 berlangsung seiring dengan adanya berbagai aturan pembatasan yang membuat hampir seluruh lapisan masyarakat membatasi kegiatan di luar rumah. Sangat penting untuk masyarakat memiliki pengetahuan yang memadai, baik tentang obat modern dan tradisional, untuk menjamin efektivitas obat sehingga kesembuhan atau perbaikan kesehatan yang diharapkan dapat tercapai. Berdasar hal tersebut diselenggarakan  pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk penyuluhan guna meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai swamedikasi obat modern dan tradisional. Penyuluhan berbasis online dengan metode ceramah dan diskusi melalui webinar melibatkan 305 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Penilaian pemahaman masyarakat melalui pre-test sebelum dan post-test setelah materi webinar diberikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat umum meningkat signifikan (p < 0,05) yang ditandai dengan nilai rata-rata pre-test sebesar 54,47 dan nilai rata-rata post-test sebesar 74,89. Sama halnya dengan tingkat pengetahuan tenaga kefarmasian juga meningkat signifikan (p < 0,05) dengan nilai rata-rata pre-test sebesar 75,15 dan nilai rata-rata post-test sebesar 86,59. Berdasar hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pengabdian kepada masyarakat ini berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan masyarakat umum dan tenaga kefarmasian mengenai obat modern dan tradisional sehingga dapat menjamin efektivitas pengobatan dan didapatkan mutu kesehatan yang maksimal. Kata kunci: COVID-19; kesehatan masyarakat; obat modern; obat tradisional. AbstractSelf-medication is one way for the community to deal with complaints of ailments that are classified as mild. This trend has increased during the COVID-19 pandemic along with various restrictions that have made almost all levels of society restrict activities outside the home. It is very important for the community to have adequate knowledge, both about modern and traditional medicine, to ensure the effectiveness of the drug so that the expected recovery or health improvement can be achieved. Based on this main problem, the author provides community service in the form of counseling to increase public understanding regarding modern and traditional drug self-medication. Online-based counseling using lecture and discussion methods via webinars involved 305 participants from various regions in Indonesia. Assessment of public understanding through pre-test before and post-test after the webinar material was given. The results of the analysis show that the level of knowledge of the general public has increased significantly (p < 0.05) as indicated by the average pre-test score of 54.47 and the average post-test score of 74.89. Likewise, the level of knowledge of pharmaceutical staff also increased significantly (p < 0.05) with an average pre-test score of 75.15 and an average post-test score of 86.59. Based on these results, it can be concluded that this community service influences the level of knowledge of the general public and pharmaceutical staff regarding modern and traditional medicine so that it can guarantee the effectiveness of treatment and obtain maximum health quality. Keywords: COVID-19; public health; modern medicine; traditional medicine.
Sosialisasi dan pelatihan inovasi produk berbahan dasar jahe dan sereh sebagai aset ekonomi desa Pulungdowo Wiwied Ekasari; Suciati Suciati; Iswajuni Iswajuni; Devanus Lahardo; Ega Widya Prayogo; Afrida Yunda Nirmala; Fakhrina Fauzul Minnah; Viola Puspa Imelda; Dihan Isro Idayati; Lailatul Pratama Putri; Nindya Tresiana Putri
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.22208

Abstract

AbstrakDesa Pulungdowo yang terletak di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur memiliki sumber daya alam melimpah yakni jahe dan sereh, yang berpotensi dijadikan produk olahan inovatif dan dapat menjadi komoditas unggulan di Desa Pulungdowo, namun sampai saat ini pemanfaatannya belum maksimal karena kurangnya pengetahuan masyarakat dalam pengolahan serta pemasaran produknya di pasaran. Fokus utama program pengabdian adalah memberikan penyuluhan serta pelatihan baik secara teori ataupun aplikasi dalam pengembangan produk olahan berbasis jahe dan sereh, serta pemanfaatan teknologi guna memasarkan produk secara luas serta bernilai jual. Tujuan khusus yang diharapkan tercapai lewat program pengabdian masyarakat ini adalah produk olahan berbasis jahe dan sereh sebagai industri kreatif yang dapat meningkatkan perekonomian Desa Pulungdowo. Adapun materi penyuluhan diberikan dengan metode ceramah mengenai pemanfaatan tanaman jahe, sereh, dan tanaman sekitar untuk kesehatan serta pembuatan produk olahannya; dan teknik pemasaran produk yang baik. Dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan produk yakni sirup JARECANG, permen agar JARECANG, dan stik daun kelor melalui pendampingan fasilitator. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang dianalisis secara kuantitatif diperoleh nilai rata-rata sebesar 57,67 dan 72,67; yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan mitra terhadap materi penyuluhan yang diberikan. Kata kunci: desa pulungdowo; jahe; sereh; kelor. AbstractPulungdowo Village, which is located in Tumpang District, Malang Regency, East Java, had abundant natural resources such as ginger and lemongrass, which had the potential to be developed into innovative processed products and become superior commodities in Pulungdowo Village. However, their utilization was not yet optimal due to the lack of knowledge among the community in processing and marketing of the products in the market. The main focus of the community service program was to provide education and training, both in theory and application, in the development of ginger and lemongrass-based processed products, as well as the use of technology to market the products widely and of high value. The specific goal that was expected to be achieved through this community service program was the development of ginger and lemongrass-based processed products as a creative industry that could improve the economy of Pulungdowo Village. The education materials were provided through lectures on the use of ginger, lemongrass, and other plants for health and the making of processed products, as well as techniques for marketing the products effectively. This was followed by training on the making of JARECANG syrup, JARECANG agar candy, and moringa leaf sticks through facilitator guidance. Based on the results of pre-tests and post-tests analyzed, an average score of 57.67 and 72.67 was obtained, respectively, indicating an increase in participants’ knowledge. Keywords: pulungdowo village; ginger; lemongrass; moringa.
Edukasi tanaman pojok herbal serta pengembangan produk jahe dan sereh untuk peningkatan ekonomi Desa Pulungdowo Wiwied Ekasari; Suciati Suciati; Iswahjuni Iswahjuni; devanus lahardo; Firmansyah Ardian Ramadhani; Annisa Fatmawati; Anisa Tri Hutami; Edbert Rafael Tjandra; Khalifah Yuliana; Putri Ayu Purbiastuti; Novreza Avistha Nugroho; Galuh Candra Wijayanti; Aqila Aqhnia Gerriandi; Andini Putri Rahmadani; Jasmine Aulia Akbar; Nindya Tresiana Putri
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.28178

Abstract

AbstrakDesa Pulungdowo terletak di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur memiliki sumber daya alam melimpah yakni jahe dan sereh. Namun, pemanfaatan sumber daya alam ini belum maksimal, yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai manfaat, pengolahan, serta pemasaran produknya di pasaran. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan Indeks Ketahanan Ekonomi Desa menjadi desa mandiri atau maju dengan pemanfaatan produk jahe dan sereh, serta menjadi desa percontohan Pojok Herbal. Pada tahun ke-1, pengabdi telah memberikan pelatihan pembuatan stik daun kelor, sirup dan permen Jarecang (jahe, sereh dan secang). Untuk mengoptimalkan potensi Desa Pulungdowo, maka pada tahun ke-2 dilanjutkan dengan pembentukan Pojok Herbal yang ditanami berbagai jenis tanaman obat keluarga dilengkapi dengan display produk dan buku-buku terkait obat tradisional, serta diversifikasi produk berupa pelatihan pembuatan teh celup Jarecang dan pembuatan simplisia dengan pendampingan fasilitator. Untuk melengkapi keterampilan mitra dalam produksi produk-produk tersebut, mitra diajarkan mengenai cara perhitungan keuangan untuk produk yang dihasilkan. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan pemberian materi mengenai pemanfaatan tanaman obat untuk kesehatan dan kemasan serta label produk yang baik. Adapun materi pelatihan diberikan dengan metode ceramah dan Experimental Learning (belajar langsung implementasi). Mitra sasaran yang hadir pada saat pelaksanaan kegiatan adalah Kelompok Pemuda, anggota PKK, pelaku usaha dan perangkat desa dimana pada minggu pertama hadir sebanyak 35 orang dan minggu kedua hadir sebanyak 43 orang.  Evaluasi dilakukan dengan cara pemberian pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara kuantitatif. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, diperoleh nilai rata-rata sebesar 52,86 dan 82.43, yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan mitra terhadap materi penyuluhan yang diberikan. Kata kunci: Desa Pulungdowo; pojok herbal; tanaman obat; jahe; sereh AbstractPulungdowo Village is located in Tumpang District, Malang Regency, East Java, has abundant natural resources, namely ginger and lemongrass. However, the utilization of these natural resources has not been maximized, which is caused by the lack of public knowledge about the benefits, processing, andmarketing of the products in the market. This activity aims to increase the Village Economic Resilience Index to become an independent or advanced village by utilizing ginger and lemongrass products, as well as becoming a model village for Herbal Corner. In the 1st year, the community service provided training in making moringa leaf sticks, syrup and JARECANG candy made from ginger, lemongrass and secang, and to optimize the potential of Pulungdowo Village, in the 2nd year it was continued with the establishment of a Herbal Corner planted with various types of medicinal plants equipped with product displays and books related to traditional medicine, as well as product diversification in the form of training in making JARECANG tea bags and making simplicia with facilitator assistance. To complement the skills of participants in the production of these products, participants are also taught how to calculate the selling price of the products produced. This activity is also equipped with the provision of material on the use of medicinal plants for health and good product packaging and labels. The training materials are provided using lecture and Experimental Learning methods. The target partners who attended the activity were Youth Association, PKK members, business owners and village officials, where in the first week 35 people attended and in the second week 43 people attended.The evaluation was conducted by giving pre-test and post-test, then analyzed quantitatively. Based on the results of the pre- test and post-test, the average value obtained was 52,86 and 82.43, which indicated an increase in participants knowledge of the extension materials provided. Keywords: Pulungdowo Village; herbal corner; medicinal plants; ginger; lemongrass
Pelatihan pembuatan pangan fungsional dari jambu merah, mengkudu dan daun kelor untuk meningkatkan kesehatan lansia di desa Pandansari. Poncokusumo, kabupaten Malang Devanus Lahardo; Hilkatul Ilmi; Suryanto Suryanto; Firmansyah Ardian Ramadhani; Agus Pratiwi; Yusuf Alif Pratama; Wiwied Ekasari; Maria Lucia Ardhani Dwi Lestari; Andang Miatmoko; Rosita Handayani; Retno Sari; Aty Widyawaruyanti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.21979

Abstract

AbstrakDesa Pandansari mempunyai potensi hasil pertanian melimpah terutama mengkudu, kelor, jahe, sereh dan jambu biji. Permasalahan yang terjadi adalah hasil panen yang tidak terserap di pasaran yang akan menjadi limbah karena belum dimanfaatkan dengan baik. Pengolahan hasil pertanian menjadi pangan fungsional menjadi peluang karena dapat meningkatkan nilai tambah dan nilai manfaat dari produk tersebut untuk kesehatan terutama bagi penduduk usia lanjut. Tim dosen Fakultas Farmasi UNAIR dengan keahlian dan kompetensi keilmuan yang dimiliki memanfaatkan aneka hasil sumber daya alam itu menjadi produk yang bernilai tinggi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk memberikan pegetahuan dan ketrampilan tentang manfaat hasil pertanian dan bagaiamana mengolahnya menjadi pangan fungsioanal. Tim PkM bekerjasama dengan PKK, Kader Kesehatan dan badan relawan kebakaran dan kebencanaan (BALAKARCANA). Kegiatan dilakukan Minggu, 6 Agustus 2023 di balai desa Pandansari dengan peserta 32 orang. Materi yang disampaikan adalah cara memanfaatkan sumber daya alam , cara memanfaatkan buah atau tanaman herbal yang sudah dipanen dan cara mengemas produk. Untuk praktek yang diberikan adalah beberapa produk hasil inovasi yaitu pembuatan stik daun kelor, simplisia kering mengkudu, jus jambu biji dan sirup jahe plus. Dari hasil pre dan post test, didapatkan bahwa skor rata-rata meningkat dari 63,5 menjadi 77,9. Hal tersebut menunjukkan terjadi penambahan pengetahuan saat dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Saat pelaksanaan peserta terlihat antusias dalam mengikuti praktik, mereka berharap pelatihan seperti ini sering dilakukan supaya semakin banyak warga yang mengetahui bahwa tanaman yang dapat dimanfaatkan terutama untuk pendukung kesehatan lansia. Kata Kunci : lansia; obat tradisional; olahan pangan; pelatihan AbstractPandansari Village has the potential for abundant agricultural products, especially noni, moringa, ginger, lemongrass and guava. The problem that occurs is that the harvest is not absorbed in the market which will become waste because it has not been utilized properly. Processing agricultural products into functional food is an opportunity because it can increase the added value and beneficial value of these products for health, especially for the elderly population. UNAIR Faculty of Pharmacy lecturer team with their expertise and scientific competence utilizes various natural resources into high-value products. This community service activity aims to provide knowledge and skills about the benefits of agricultural products and how to process them into functional food. The PkM team collaborated with PKK, Health Cadres and the fire and disaster volunteer body (BALAKARCANA). The activity was held on Sunday, August 6, 2023 at Pandansari village hall with 32 participants. The material presented was how to utilize natural resources, how to utilize harvested fruit or herbal plants and how to package products. For the practice given are some innovative products, namely the making of moringa leaf sticks, dried noni dried simplisia, guava juice and ginger plus syrup. From the pre and post test results, it was found that the average score increased from 63.5 to 77.9. This shows that there is an increase in knowledge when community service activities are carried out. During the implementation, the participants seemed enthusiastic in participating in the practice, they hoped that training like this was often carried out so that more and more residents knew that plants could be utilized, especially for supporting the health of the elderly..Keywords: elderly; traditional medicine; food processing; training
Co-Authors Abdul Rahman Achmad Fuad Hafid Achmad Toto Poernomo Afrida Yunda Nirmala AGUS HARIANTO Agus Pratiwi Andang Miatmoko Andini Putri Rahmadani Anisa Tri Hutami Anisa Tri Hutami Annisa Fatmawati Apriani Sulu Parubak Aqila Aqhnia Gerriandi Ario Imandiri, Ario Arum Widiyaningsih Aty Widyawaruyanti Ayu Indah Lestari Bertha Mangallo Budi Afriyansyah Budi Afriyansyah Dahri, Baso Devanus Lahardo Devanus Lahardo devanus lahardo Dewi Hariyani Dewi Melani Hariyadi Dihan Isro Idayati Diyah, Nuzul Wahyuning Edbert Rafael Tjandra Ega Widya Prayogo Eko Suhartono Esti Hendradi Faisal Akhmal Muslikh Fakhrina Fauzul Minnah Fatin Fadhilah Hasib Firman Wicaksana Firmansyah Ardian Ramadhani Galuh Candra Wijayanti Hadi Poerwono Hamizah Haula Handayani, Rosita Hanifa Rahma Putri Henny Helmi Heny Arwati Heny Arwaty Herra Studiawan Hilkatul Ilmi I NYOMAN WIJAYA Idha Kusumawati Iis Wahyuningsih Irawati Sholikhah Isnaeni Isnaeni Iswahjuni Iswahjuni Iswajuni, Iswajuni Jasmine Aulia Akbar Juni Ekowati Kasmawati, Henny Khalifah Yuliana Kholis Amalia Nofianti Lahardo, Devanus Lailatul Pratama Putri Lidya Tumewu Malaka, Muhammad Hajrul Marcellino Rudyanto Maria Lucia Ardhani Dwi Lestari Melanny Ika Sulistyowaty Murtihapsari Murtihapsari Nindya Tresiana Nindya Tresiana Putri Nindya Tresiana Putri Nindya Tresiana Putri Novreza Avistha Nugroho Nur Illiyyin Akib Nuriha Marangoh Paramita, Diajeng Putri Puja Adi Priatna Puji Budi Asih Purwitasari, Neny Putri Ayu Purbiastuti Retno Sari Retno Widyowati Rice Disi Oktarina Rini Hamsidi Rosalia Friska Ananda Sabarudin Sabarudin Sahu, Ram Kumar Sri Wahyuni, Tutik Suciati Suciati Suciati Suciati Suciati Suciati Suciati Suciati Sudjarwo Sudjarwo Sudjarwo Sudjarwo Sugijanto Sugijanto Sukardiman Suko Hardjono Suryadi, A. Mu’thi Andy Suryanto, Suryanto Syahrani, Achmad Tri Widiandani Tristiana Erawati Tutiek Purwanti Tutik Sri Wahyuni Viola Puspa Imelda W Wahyuni, W Wahjo Djatmiko Widyowati, Rr. Retno Yanu Andhiarto Yusuf Alif Pratama