Claim Missing Document
Check
Articles

Pembuatan Saus Cabai Menggunakan Bahan Pengawet Alami Kitosan Rauzatun Jannah; Suryati Suryati; Masrullita Masrullita; Sulhatun Sulhatun; Ishak Ishak; Raudhatul Ulfa
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 1 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - April 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i1.9129

Abstract

Saus merupakan salah satu bahan penyedap dan penambah cita rasa pada makanan yang diolah dari bahan utama maupun bahan pendukung lainnya. Kualitas produk saus dapat dilihat dari pengolahan cabai yang matang berkualitas baik sehingga didapatkan suatu produk yang berbentuk cairang kental seperti pasta, bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan saus sambal ini ialah cabai merah yang segar, tomat,bawang putih, gula, air, asam cuka dan bahan pengental seperti tepung maizena. Adapun bahan tambahan yang digunakan sebagai bahan pendukung dalam pengolahan saus sambal yaitu kitosan dari kulit udang sebagai bahan pengawet alami, buah pepaya sebagai bahan pengental dan wortel yang digunakan sebagai pewarna alami, penelitian ini dilakukan selama 1 bulan, dalam pembuatan saus sambal ini menggunakan empat variabel yaitu dengan membedakan masing-masing kosentrasi kitosan ; 0,5 %, 1%, 1,5%, dan 2 %. Untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan pengawet  kitosan dalam saus sambal dan ketahan daya simpan suatu produk, maka diperlukan analisa kadar air, analisa derajat keasaman (pH), analisa viskositas, analisa jamur ( angka kapang dan khamir)dan analisa bakteri(angka lempemg total). Kandungan kadar air terendah pada saus cabai menggunakan kosentrasi kitosan 2% yaitu pada minggu ketiga yaitu 20,53%. Nilai pH terbaik yang diperoleh terdapat pada kosentrasi kitosan 2% yaitu 3,11. Kitosan mampu menekan pertumbuhan bakteri serta dapat memperpanjang umur simpan saus sampai dengan 21 hari pada kosentrasi 1,5 % dan 2% yang disimpan pada suhu ruangan.
Synthesis and Characterization of Chitosan-Pectin-Citric Acid-Based Hydrogels for Biomedical Applications (Primary Wound Dressings) Suryati Suryati; Rizka Mulyawan; Sulhatun Sulhatun; Muhammad Muhammad; Nikmat Wanda
International Journal of Engineering, Science and Information Technology Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Department of Information Technology, Universitas Malikussaleh, Aceh Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52088/ijesty.v3i2.447

Abstract

This study aims to analyze the processing of chitosan-pectin biocomposite hydrogel with the addition of citric acid to improve the quality of the biocomposite for primary wound dressing applications. The method is printing the biopolymer solution in a glass mold, then drying at 50oC. Chitosan 90.2% DD and pectin dissolved in 1% acetic acid with a ratio (w/w) of 50:50. The two ingredients were mixed using a magnetic stirrer at room temperature for 30 minutes until completely dissolved, then added citric acid crosslinking agent with various concentrations of 2,4, 6,8,10 (%). The test results for the characteristics of the chitosan-pectin-acid biocomposite Citrate obtained the best thickness in the composition variation (50:50:8) of 0.31 mm. The analysis results of the best absorption of the chitosan-pectin-citric acid biocomposite on the composition variation (50:50:6) were 185%. In the swelling analysis of the chitosan-pectin-citric acid biocomposite, the variation in composition (50:50:10) was 403%. The tensile strength test results of the chitosan-pectin-citric acid biocomposite decreased with the addition of citric acid, the best obtained was 20.76 MPa, and the best elongation was 76.0%. Test results for the functional group of the chitosan-pectin-CaCl2 biocomposite for the presence of O-H, C-H, N-H bonds in the fact of O-H, C-H, N-H bonds at a wavelength of 4000-2500 cm-1, C=O, C=N, C=C at a wavelength of 2000 -1500, and the specific absorption of the chitosan-pectin-citric acid biocomposite 400-1400 cm-1 indicates that the resulting membrane tends to be polar, hydrophilic and environmentally friendly because it can be degraded. Based on the expected test results, it was shown that the chitosan-pectin-CaCl2 biocomposite has the potential to be applied as an ideal primary wound dressing for wound healing and protection.
Sosialisasi Asap Cair sebagai Bahan Koagulasi Getah Karet di Kecamatan Nisam Antara Kabupaten Aceh Utara Sulhatun Sulhatun; Syamsul Bahri; Ishak Ibrahim; Khalsiah Khalsiah; Taufiq Taufiq; Novi Sylvia
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 3 No 4 (2023): JAMSI - Juli 2023
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.809

Abstract

Asap cair (liquid smoke) merupakan hasil kondensasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung lignin, selulosa, hemiselulosa serta senyawa karbon lainnya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk mendapatkan teknologi pengolahan getah karet berkualitas ditingkat masyarakat petani karet yang memenuhi standar mutu, dan dapat meningkatkan nilai tambah serta aman untuk digunakan oleh petani karet. Untuk mencapai solusi yang ditawarkan maka langkah-langkah yang dilakukan dimulai tahapan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi, pelatihan, serta monitoring dan evaluasi. Berdasarkan hasil pengabdian yang dilakukan kondisi terbaik untuk asap cair dengan getah karet pada perbandingan 1 : 10. Luaran dari kegiatan ini menghasilkan jurnal penggunaan asap cair untuk pengawet getah alam.
EFFECT OF SOLVENT AND EXTRACTION TIME VARIATION ON THE COFFEE OIL EXTRACTION RESULTS Marisa Fitria; Rizka Mulyawan; Sulhatun Sulhatun; Agam Muarif; Syamsul Bahri
Chimica Didactica Acta Vol 11, No 1: June 2023
Publisher : FKIP USK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jcd.v11i1.32550

Abstract

The traditional coffee with the greatest taste is called arabica. One of the ingredients made from coffee beans and used for air freshener is coffee oil. The Soxhlet extraction method, a separation technique that is often used to separate one or more compounds from a solid or liquid by adding a solvent, is one of the processes for making coffee oil. This research has been done before, but a comparison of different types of solvents and inclusion of differences in extraction time has not been done. The purpose of this research is to understand how the difference in extraction time and the comparison of solvent types affect the yield, density, and acid number produced. Extraction of hexane and ethanol by distillation for 120 minutes is a research technique. Extraction times were 90, 120, 150 and 180 minutes. In this study, the largest extraction with ethanol solvent was produced within 120 minutes of 25.75%, while the highest percent yield of coffee oil with hexane solvent was obtained within 120 minutes of 17.3%. The maximum specific gravity for 180 minutes with ethanol solvent is 0.94 gr/ml, while for 180 minutes with hexane solvent is 0.91 g/mL. Coffee oil with hexane solvent produced an acid value between 3.2 and 7 mg KOH/g, while coffee oil with ethanol solvent produced an acid value between 4.6 and 11.2 mg KOH/g.
Data Sharing Technique for Electronic Health Record (EHR) Classification using Support Vector Machine Algorithm Moh. Erkamim; Said Thaufik Rizaldi; Sepriano Sepriano; Khoirun Nisa; Sulhatun Sulhatun; Zilrahmi Zilrahmi; Winalia Agwil
Indonesian Journal of Artificial Intelligence and Data Mining Vol 6, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/ijaidm.v6i1.24794

Abstract

The Electronic Health Record (EHR) integrates information about medical history in patients, complications, and history of drug use efficiently, which demands optimality and speed of service for efficiency and effectiveness of services, especially in determining outpatient and inpatient services on accurate patient history data. In efforts to improve data accuracy, this study combined the c, γ, and degree kernels in the Linear, Polynomial, and Radial Basis Function (RBF) kernels as well as data sharing techniques 10-fold cross-validation, k-medoids, and Hold- out (70 % 30%) resulted in superior K-Medoids data sharing techniques for each Polynomial kernel with an accuracy of 75.76% and a Radial Basis Function (RBF) kernel with an accuracy of 75.56% so that it can be said that the combination of K-Medoids and Polynominal kernel in the algorithm Support Vector Machine (SVM) can be used in this research case
PRODUKSI GLUKOSA CAIR MENGGUNAKAN METODE HIDROLISIS ASAM KLORIDA DARI BAHAN DASAR SINGKONG (MANIHOT ESCULENTA) Wiza Ulfa Fibarzi; Rizka Nurlaila; Fitriyani Sirait; Sulhatun Sulhatun; Ishak Ibrahim
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11624

Abstract

Singkong (Manihot esculenta) merupakan sumber bahan makanan ketiga di Indonesia sestelah padi dan jagung. Singkong merupakan salah satu umbi-umbian yang memiliki sumber karbohidrat lokal Indonesia. Singkong sebagai sumber pati selama ini diketahui masyarakat hanya sebagai sumber karbohidrat, sampai munculnya inovasi proses yang dapat memproses singkong menjadi berbagai produk lain salah satunya glukosa cair. Glukosa cair merupakan cairan jernih dan kental yang mengandung D-glukosa, maltose, dan polimer D-glukosa yang diperoleh dari hidrolisis pati. Penelitian ini sudah pernah dilakukan dengan menggunakan variasi suhu hidrolisis dibawah 100oC, oleh karena itu pada penelitian ini menggunakan variasi suhu diatas 100oC untuk mendapatkan kadar glukosa yang terbaik. Pati singkong dapat dibuat menjadi glukosa cair dengan metode hidrolisis asam menggunakan asam klorida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar glukosa tertinggi pada suhu 125oC dan waktu hidrolisis 100 menit yaitu sesbesar 29,3%. Kadar air yang terendah diperoleh pada suhu 125oC dan waktu hidrolisis 100 menit yaitu sebesar 3,62%. Yield yang tertinggi diperoleh pada suhu 105oC dan waktu hidrolisis 80 menit yaitu sebesar 64,20%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu dan waktu hidrolisis maka produk glukosa cair yang dihasilkan akan semakin bagus.
PEMANFAATAN PRODUK SAMPING DARI PROSES PIROLISIS PADA LIMBAH PADAT HASIL PENYULINGAN MINYAK NILAM UNTUK PEMBUATAN BRIKET BIOARANG Zainuddin Ginting; Faisal Faisal; Syamsul Bahri; Zulnazri Zulnazri; Sulhatun Sulhatun; Mutiara Pujana Pujana
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11672

Abstract

Ketersediaan bahan bakar minyak bumi yang berasal dari fosil kian menipis seiring dengan bertambahnya populasi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan bioarang yang berasal dari limbah padat pemyulingan minyak nilam dengan temperatur dan waktu karbonisasi yang optimum sehingga diperoleh bioarang dengan nilai kalor yang tinggi. Bioarang adalah arang yang diciptakan dari biomassa. Penelitian pemanfaatan produk samping dari proses pirolisis pada limbah padat hasil penyulingan minyak nilam untuk pembuatan briket bioarang memiliki variabel suhu 300°C, 350°C, 400°C dan berat bahan baku 600 kg, 1200 kg, dan 1800 kg dengan variabel waktu 60, 90 dan 120 menit. Limbah padat yang terlebih dahulu telah dipotong menjadi ukuran yang kecil dan dikeringkan dibawah sinar matahari terlebih dahulu kemudian dimasukkan kedalam alat pirolisis untuk dikarbonisasi sesuai dengan variabel yang telah ditentukan, hasil dari pirolisis kemudian dimasukkan kedalam desikator untuk didinginkan selama 30 menit lalu dilakukan uji kadar air, uji kadar abu, uji kadar zat terbang, uji kadar karbon terikat, uji nilai kalor, uji SEM, dan juga uji laju pembakaran. Adapun hasil penelitian terbaik yang diperoleh adalah pada temperature 350°C dan waktu 120 menit dengan nilai kalor sebesar 5291 kal/g, kadar air sebesar 5,88 %, kadar abu sebesar 6,97 %, kadar zat terbang sebesar 11,28 %, dan kadar karbon terikat sebesar 75,87 %. Sedangkan pada berat bahan baku diperoleh nilai terbaik pada berat 1200 kg dan waktu 120 menit dengan nilai kalor sebesar 5291 kal/g, kadar air sebesar 5,86 %, kadar abu sebesar 6,55%, kadar zat terbang sebesar 10,60 %, dan kadar karbon terikat sebesar 76,93 %. Kalor yang diperoleh menunjukkan bahwa bioarang limbah padat nilam dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif yang dapat diperbaharui.Kata kunci:bioarang dan karakteristik, limbah padat nilam, pirolisis.
PENGARUH PERBANDINGAN MINYAK KEMIRI DAN MINYAK BUNGA LAVENDER TERHADAP SIFAT LILIN AROMATERAPI FORMULASI LILIN AROMATERAPI BERBASIS MINYAK KEMIRI DENGAN PENAMBAHAN MINYAK BUNGA LAVENDER Sulhatun Sulhatun; Sarah Sarah; Masrullita Masrullita; Novi Sylvia; Zainuddin Ginting
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11610

Abstract

Minyak kemiri (candlenut oil) yang berarti candle yaitu lilin dan nut yaitu kacang. Sesuai dengan namanya, kemiri juga dapat dijadikan bahan dasar lilin karena kemiri mengandung 55-66% minyak dari berat bijinya. Berbagai penelitian yang berkaitan dengan lilin aromaterapi telah banyak dilakukan terutama dalam memformulasikan essential oil. Namun dalam  memformulasikan minyak kemiri sebagai basis lilin belum pernah dilakukan sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh dari perbedaan formula minyak kemiri dan minyak bunga lavender terhadap basis lilin aromaterapi yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan dengan menimbang soy wax sesuai dengan berat yang sudah ditentukan lalu dilelehkan sempurna. Kemudian, ditambahkan variasi minyak kemiri ( 5,7,10 dan 12 gram ) dan variasi essential lavender oil ( 2, 3, 4 dan 5 gram ) diaduk hingga homogen. Terakhir, dituangkan lilin cair kedalam gelas lilin yang telah dipasangkan sumbu. Pengujian lilin aromaterapi berupa organoleptik, waktu bakar, titik leleh dan kesukaan terhadap aroma. Dari hasil pengujian lilin aromaterapi diperoleh, untuk organoleptik lilin dengan bentuk padat, tidak retak, tidak cacat dan warna yang merata yaitu lilin A1 ( 5 : 2 ), A2 ( 5 : 3 ), A3 ( 5 : 4 ), A4 ( 5 : 5 ), B1 ( 7 : 2 ), B2 ( 7 : 3 ), B3 ( 7 : 4 ), B4 ( 7 : 5 ) dan C1 ( 10 : 2 ). Untuk titik leleh, titik leleh tertinggi yaitu pada formula A1 ( 5 : 2 )  yaitu 44,8⁰C sedangkan titik leleh terendah yaitu formula D4 ( 12 : 5 ) yaitu 38,8⁰C. Untuk waktu bakar, lilin dengan waktu bakar terlama adalah lilin D1 ( 12 : 2)  yaitu 12 jam 10 menit. Sedangkan lilin dengan waktu bakar paling singkat adalah lilin A4  ( 5 : 5 )  yaitu 8 jam 26 menit. Dapat disimpulkan bahwa, berdasarkan hasil dari perbandingan formula lilin, semakin banyak minyak kemiri dan minyak bunga lavender yang digunakan maka tekstur lilin akan semakin lunak dan titik leleh lilin akan semakin rendah begitupula sebaliknya. Dan semakin banyak minyak kemiri dan semakin sedikit minyak bunga lavender yang digunakan maka waktu bakar lilin akan semakin lama. 
PEMBUATAN BRIKET BIOARANG DARI LIMBAH PADAT HASIL PENYULINGAN MINYAK NILAM TERHADAP BERAT BAHAN BAKU DAN TEMPERATUR PIROLISIS DENGAN METODE PIROLISIS Sri Santika; Zainuddin Ginting; Sulhatun sulhatun; Rizka Nurlaila; Masrullita Masrullita
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 5 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Oktober 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i5.9909

Abstract

Limbah dari hasil penyulingan minyak nilam jumlahnya berkisar 98-98,5%  dari bahan baku. Limbah padat hasil penyulingan  minyak nilam memiliki potensi untuk dijadikan sebagai bahan baku untuk memperoleh bahan bakar alternatif melalui proses pirolisis dan proses pengempaan seperti briket. Briket merupakan material mudah terbakar yang terbentuk dari proses pengempaan atau pemampatan material menjadi bentuk padatan dan digunakan sebagai bahan bakar, dimana briket yang dihasilkan harus memiliki sifat kuat dan saling merekat satu sama lain sehingga briket tidak mudah hancur. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, yang belum pernah dilakukan yaitu pembuatan briket bioarang dengan menggunakan  limbah padat hasil penyulingan minyak nilam terhadap berat bahan baku dan temperatur pirolisis menggunakan metode pirolisis. Pada penelitian ini, diamati pengaruh berat bahan baku dan suhu pirolisis pada pembuatan briket bioarang dari limbah padat hasil penyulingan minyak nilam. Proses pirolisis dilakukan pada berat bahan baku 600 gr, 1200 gr dan 1800 gr serta pada  suhu pirolisis  300 ºC, 350 ºC dan 400 ºC dengan waktu pirolisis 90 menit. Analisa yang dilakukan adalah analisis proksimat dan nilai kalor. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan kadar air briket bioarang yang terbaik terletak pada berat bahan baku 1800 dan suhu 400oC yaitu  5,0%, kadar abu briket bioarang yaitu  3,5%, kadar zat terbang yaitu  8,3% dan kadar karbon terikat yaitu  83,19%, dan nilai kalor sebesar 5.291 kal/g. 
PENGARUH WAKTU FERMENTASI DAN MASSA BIOAKTIVATOR TRICO-G PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR DARI AIR CUCIAN BERAS Josua Lorent Barus; Rizka Mulyawan; Azhari Azhari; Sulhatun Sulhatun; Zulnazri Zulnazri
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 2 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Mei 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i2.10090

Abstract

Pupuk merupakan bahan-bahan yang mengandung satu atau lebih zat senyawa yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Selain dibutuhkan oleh tanaman pupuk juga bertujuan untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologis tanah. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan air cucian beras yang banyak dibuang begitu saja dan tidak dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik cair. Penelitian ini sudah pernah dilakukan seperti uraian diatas, yang belum pernah dilakukan adalah menggunakan Bioaktifvator Trico g dengan variasi waktu fermentasi. Pada penelitian ini yang ingin diketahui adalah unsur hara makro yaitu nitrogen, phosfor, kalium serta kandungan pH dari air cucian beras yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan unsur hara yang sangat diperlukan oleh tanaman dengan cara memfermentasikan dengan bantuan bioaktivator Tricoderma sp dan Gliocladium sp (Trico-G). Pada penelitian ini yang divariasikan adalah massa bioaktivator Tricoderma sp dan Gliocladium sp (Trico-G)  yaitu 30 gr, 40 gr, 50 gr, dan 60 gr dan waktu untuk proses fermentasi yaitu, 5 hari, 10 hari, 15 hari, dan 20 hari. Kandungan N, P, K pada pupuk organik cair yang terbaik ialah dengan waktu fermentasi 15 hari dan volume Trico-G 50 gr untuk Nitrogen 3,2%, Fosfor 2,7%, dan Kalium 3, 1% dan sudah sesuai dengan PERMENTAN Nomor 70/SR. 140/10/2011.
Co-Authors Adriyan Jondra Afifa Luthfia Afra, Khalida Agam Muarif Ahmad Fikri Allawiyah, Annisa Zaen Almia Permata Putri Ariski Saina Ariski Saina Ayu Sutia Amanda Azhari Azhari Azhari Azhari Azril Fahmi Cut Rika Saffira Desriani, Chintiara Dewi Lestari Dina Nasution, Zukhrufi dwi ayu lestari, dwi ayu Eddy Kurniawan Emil Izmilia Eva Nurmaidah Nurmaidah Evi Juliati Faisal Faisal Fibarzi, Wiza Ulfa Fikri Hasfita Firman Maulana, Firman Fitria, Lisa Fitriyani Sirait Frandica, Dandy Giffary, Muhammad Hajijah Hajijah Halimah, Mustika Ridhatul Hanif, Hanif Hijratul Izzati Ibrahim, Ishak Ida Riski Indah Aprilla Intan Sulastri Irma Yani, Irma Ishak Ishak Ishak Ishak Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Josua Lorent Barus Julinawati, Julinawati Kamar, Iqbal Khalsiah Khalsiah Khoirun Nisa Kuswandi Kuswandi Leni Maulinda, Leni Likdanawati Lina Sari Silalahi Lirinzha, Rizkha Lukman Hakim Lukman Hakim Marisa Fitria Maryanti Maryanti Masrullita Masrullita Masrullita Masrullita Masrullita, Masrullita Meliyani Harahap, Nazwa Meriatna Meriatna Mira Aulia Moh. Erkamim Muammar Khadafi Muhammad Fazlunnazar Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad nur Ichsan Tamiogy Muhammad, Muhammad Muliadi Mulyawan, Rizka Mutiara Pujana Pujana Mutiawati Mutiawati Nadiratun Nabiwa Nasrul ZA Nasrul ZA Nasrul ZA, Nasrul Nasrul Za, Nasrul Za Nia Sagita Lestari Nikmat Wanda Nissah, Khairun Nita Sari Novi Sylvia Novita Dewi Nur rizqi Fattah Lubis Nurdina Hayati Nurlaila, Rizka Nurlian Nurlian Nurlian Nurmalita Nurmalita Nurul Fadhillah Nurul Khumaida Nyimas Yanqoritha Pane, Nurul Anisa Pelawi, Erisantana pradana, ardie surya Purwoko, Agus Rahmadhani, Rahmadhani Rati Halimatussakdiyah Raudhatul Ulfa Rauzatun Jannah Reza Abdillah Harahap Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Nurlaila Rozanna Dewi Safira, Riska Dwi Safrina Melya Said Thaufik Rizaldi Sarah Sarah Sari, Ava Komala Seli Novianna Brutu Sepriano Sepriano Sinta Morina siregar, annisa febrianti Sitorus, Sarifah Sri Awalin Marpaung Sri Rahayu Retnowulan Sri Santika Suryati Suryati Suryati Suryati Suryati Suryati Suryati Suryati Syamsul Bahri Syamsul Bahri Syamsul Bahri Sylvia, Novy Taufiq Taufiq Tisara Tisara Ulfa, Raudhatul Utari, Paramita Veithzal Rivai Zainal Wan Rafly Wibowo, Rofiq Imam Winalia Agwil Wiza Ulfa Fibarzi Wiza Ulfa Fibarzi Wusnah Wusnah, Wusnah Zahrol Hilmi Zainuddin Ginting Zilrahmi, Zilrahmi Zulmiardi, Zulmiardi Zulnazri, Z Zurrahmi, Zurrahmi